"Wah papa tellihat kelen saat belpidato tadi." Pujiku pada papa sesaat setelah dia selesai berpidato saat apel pagi karena papa sendiri juga ketua osis.

"Menurutmu begitu Aichan?."

"Tentu saja, oh ya bagaimana calanya agal tidak gugup ketikah kita akan belpidato pa?."

"Oh itu mudah, anggap saja tidak ada orang lain dihadapanmu, dan hanya kau yang berkuasa disana, ini seperti seorang raja berpidato pada rakyatnya."

"Souka, kalena Ai pelempuan, belalti Ai seolang latu ya?."

"Ya, kau bayangkan saja sepelti itu."

"Souka, baiklah suatu hali nanti Ai akan belpidato sepelti papa didepan banyak olang."

"Ya dan aku yakin kau pasti bisa melakukannya." Jawab papa mengusap suraiku sayang sambil tersenyum, yang aku balas dengan senyuman diwajahnku.

.

BROTHER CONFLICT © Bukan Milik Saya

CROSSOVER: KUROKO NO BASUKE © FUJIMAKI TADATOSHI

AMAZING GRACE © SHERRYSAKURA99

.

WARNING: OC, OOC (mungkin), Crossover, jika ada yang kurang mengerti jalan ceritanya atau banyak kesalahan Typo mohon di maklumi, cerita mengikuti alur anime Brother Conflict dengan tambahan dari saya.

Genre: Romance, Friendship, Humor (mungkin, walau humornya agak garing), Hurt/Comfort

Rate:T

.

Conflict 8: Photo?

.

*Ai Pov*

"Aichan." Panggil Ebihara yang merupakan sahabatku sekaligus bendahara osis memelukku dengan sangat erat hingga aku sulit untuk bernafas.

"E-Ebichan, tolong lepaskan pelukanmu, a-aku tidak bisa bernafas."

"Hehehe gomen-gomen, habisnya aku merindukanmu, kau sangat sibuk sekali akhir-akhir ini."

"Ya mau bagaimana lagi, aku ketua osis dan karena bulan ini merupakan bulan penerimaan siswa baru, aku begitu sibuk hingga lupa waktu, bahkan aku jadi sering menginap disekolah."

"Hah, sekali-kali istirahatlah, kau membutuhkannya."

"Hai hai, kalau begitu mau menemaniku berkeliling, aku ingin jalan-jalan sebentar."

"Tentu saja." Jawab Ebihara sembari memeluk lengan kananku dan kamipun mulai berjalan-jalan disekitar sekolah.

Aku bisa mendengar bisikan-bisikan dari anak baru disepanjang perjalanan kami seperti "bukankah itu Ai senpai" atau "kyaa Ai senpai kawaii, apalagi Ebihara senpai juga sangat cantik" atau "ah andai aku bisa jadian dengan salah satu dari mereka" begitu, banyak juga yang mempunyai keberanian menyapa kami berdua yang aku balas dengan sapaan serta senyuman bisnis, kalau Ebihara jangan tanya, dia selalu memberikan senyuman manisnya, maklum dia itu model jadi penggemarnya cukup banyak di sekolah ini. Hingga akhirnya kami sampai dipintu masuk yang mana disana telah berjaga beberapa orang termasuk Ema senpai dan Yusuke senpai, tapi aku dikejutkan dengan kedatangan Azusa-san yang berdiri didepan stand tempat Yusuke senpai dan Ema senpai berjaga, ngomong-ngomong penampilan Azusa-san tampak berbeda dan menurutku dia sangat tampan.

"Eh Azusa-san, ohayo." Sapaku begitu aku sudah berada didepan Azusa-san.

"Ah Aichan ohayo." Jawabnya sambil tersenyum.

"Ne ne Aichan dia siapa?." Tanya Ebihara padaku.

"Dia ini kakak dari Yusuke senpai dan Ema senpai, lebih tepatnya putra keenam namanya Asahina Azusa seorang seiyuu."

"Ah masakah anda itu orang yang disu-emmm." Ucap Ebihara terputus karena buru-buru aku membekap mulutnya dan menatap tajam kearahnya.

"Ebichan, bukanya aku sudah mengatakan padamu kalau itu rahasia, kalau kau sampai membocorkannya aku jamin kau tidak akan melihat masa depan." Bisikku dengan suara berat dan aura-aura hitam yang menguar dari tubuhku yang langsung membuat Ebihara bergidik ngeri lalu menganggukan kepalanya dengan cepat, Ebihara sudah tau kalau aku menyukai Azusa-san.

"Bagus, oh ya sedang apa Azusa-san disini?." Tanyaku melepas tanganku dari mulut Ebihara dan mengerling kearah Azusa-san.

"Ah soal itu, karena semuanya sedang sibuk, jadi aku harus datang kemari sebagai wali." Jawabnya menoleh kearah pintu masuk.

"Sebagai wali?, aku tidak mengerti."

"Eh Aichan tidak tau?, bukannya kau ketua osis ya, seharusnya kau sudah tau kan?."

"Ah gomen, aku belum membaca daftar nama murid baru yang masuk karena disibukan dengan laporan-laporan jadi aku tidak tau, memang siapa yang akan masuk kesekolah ini?." Tanyaku dan pertanyaanku terjawab begitu muncul seorang pemuda dari dalam taxi yang memiliki surai sama sepertiku dengan iris yang senada dengan surainya, siapa lagi kalau bukan Asakura Futto atau lebih tepatnya Asahina Futto. Sorak sorai para fans perempuan langsung menggema begitu dia berjalan kearah kami.

"Ini yang aku maksud." Bisik Azusa-san padaku.

*Normal Pov*

"Fu-Futto-kun?." Ucap Ema terkejut mendapati Futto masuk kesekolah ini.

"Ke-kenapa kau kemari?." Tanya Yusuke.

"Ohayo gozaimasu, mulai hari ini aku pindah ke SMA Hinade, aku Asahina Futto desu, yoroshiku onegaishimasu senpai." Ucap Futto sedikit membungkukkan badannya kearah mereka semua.

"Hah aku tidak menyangkah kau akan masuk kemari Futto-kun." Ucap Ai menghela nafas berat karena sepertinya pekerjaannya akan bertambah.

"Tentu saja, senang bisa bertemu denganmu, aku harap aku bisa satu kelas dengan Aichan." Ucap Futto mendekatkan wajahnya kearah Ai sambil tersenyum.

"Ya semoga saja kita bisa satu kelas mungkin." Jawab Ai tersenyum pokerface.

"Ngomong-ngomong aku baru sadar kalau Aichan sedikit mirip dengan Futto-kun, apalagi rambut kalian sama-sama coklat, mungkin dibagian mata saja yang berbeda." Komentar Ebihara saat membandingkan Ai dengan Futto yang memang pada dasarnya agak mirip.

"Apa kalian punya hubungan darah?."

"Itu tidak mungkin Ebichan, kami memang mirip tapi tidak ada hubungan darah diantara kami." Jawab Ai.

"Eh siapa tau kalian sebenarnya saudara, tapi harus berpisah karena suatu alasan dan dipertemukan kembali setelah sekian lama, benar-benar pertemuan yang dramatis dan penuh air mata, aku bahkan bisa melihat ending-i-ittai." Ucap Ebihara terputus karena buru-buru Ai menjitak kepalanya, sedangkan yang lainnya hanya bisa faceplam mendengar cerita yang dikarang oleh Ebihara, apalagi dia menceritakan dengan sangat menghayati sekali.

"Aichan disini kau rupanya." Ucap seseorang dari arah belakang, reflex mereka semua mengerling kesumber suara dan mendapati seorang pemuda bersurai hitam pendek yang cukup tampan dengan iris sama seperti surainya dan merupakan wakil ketua osis Kazuya Tomoru, mendekat kearah Ai dan teman-temannya.

"Doushita Kazu senpai?." Tanya Ai begitu Kazuya sudah sampai didepannya.

"Kau dicari oleh kepala sekolah, sebentar lagi apelnya mau dimulai."

"Ah souka benar juga, kalau begitu aku permisi dulu, kita akan bertemu lagi diaula nanti." Ucap Ai memberikan gesture hormat kearah Azusa dan Futto kemudian pergi meninggalkan mereka semua menuju aula.

"Dia pekerja keras ya dan sangat kompeten dengan tugasnya." Komentar Ebihara saat Ai sudah jauh dari mereka.

"Tentu saja kalau tidak dia tidak akan menjadi ketua osis untuk kedua kalinya, bahkan aku sempat berpikir kalau selama dia sekolah disini, posisi ketua osis tidak akan pernah bergeser." Komentar Kazuya.

"Eh kenapa kalian bisa bilang seperti itu?."

"Kau tidak tau ya Ema-san, Aichan itu bisa dibilang begitu menjanjikan dan tidak suka kalah, tapi memang kenyataannya dia tidak pernah kalah sih." Jawab Kazuya memasang pose berpikir, sedangkan Azusa hanya diam saja sembari menatap sendu kearah jalan terakhir kali Ai terlihat.

'Demo dia pernah sekali mengalami kekalahan kan?, dan itu sangat menyakitkan.' Batin Azusa.

"Lebih baik kau juga pergi ke aula Futto-kun, karena sebentar lagi apel akan dimulai, ayo ikuti aku." Usul Ebihara pada Futto dan Azusa yang ditanggapi dengan anggukan kepala dan mereka mulai meninggalkan tempat itu menuju Aula.

~Amazing Grace~

"…aku harap kalian bisa mematuhi semua peraturan yang ada, dan semoga kalian semua bisa betah berada disekolah ini, terima kasih." Ucap Ai mengakhiri pidatonya yang langsung mendapat aplouse dari murid-murid baru serta para wali yang datang hari ini. Apel penerimaan murid barupun selesai dan Ai memutuskan untuk pergi keruang osis terlebih dahulu sebelum bertemu dengan para murid, tapi dia dikejutkan dengan Ema dan Futto yang posisinya sedikit err intim karena Futto berada didepan Ema yang sedang terpojok diantara pohon dan tubuh Futto, lalu mereka berciuman. Seketikah perempatan langsung muncul dikening Ai dan dia segera mendekat kearah Futto dan Ema.

"Ehem, apa yang sedang kalian lakukan disini?." Tanya Ai tersenyum manis kearah mereka yang sontak membuat mereka terkejut mendapati Ai ada disana.

"A-Aichan."

"Ema senpai kau dipanggil oleh Hara senpai untuk membantunya, jadi tolong pergilah."

"Ha-hai." Jawab Ema yang langsung pergi meninggalkan Futto, sedangkan Futto sendiri juga memutuskan untuk pergi tapi segera dicegah oleh Ai.

"Kau mau kamana Futto-kun?." Tanya Ai membuat Futto langsung menghentikan langkah kakinya dan mengerling kearahnya.

"Tentu saja kambali keaula." Jawabnya sambil tersenyum.

"Sayang sekali apelnya sudah selesai, demo aku akan mengatakan ini sekali, jangan pernah melakukan kesalahan seperti ini lagi, seharusnya aku sudah memberikanmu hukuman karena tidak mengikuti upacara, tapi ini akan menjadi peringatan dan jika kau melakukannya lagi tanpa alasan, aku pastikan kau mendapat hukuman, aku tidak peduli kau artis atau apa tapi peraturan tetap peraturan, jadi aku harap kau tidak melanggarnya, hah aku tidak percaya kalau seorang artis sepertimu bisa berulah seperti ini, apa pantas ya kau disebut sebagai pro." Ucap Ai berjalan melewati Futto. Dengan cepat Futto mencengkram lengan Ai dan menghempaskannya ketembok yang ada dibelakangnya lalu memerangkap Ai dengan kedua tangannya yang dia letakan di samping kepala Ai.

"Mulutmu cukup tajam juga ya Aichan, tapi aku tidak suka kau menjelek-jelekkanku seperti itu."

"Iie aku tidak menjelek-jelekanmu, aku berbicara kenyataan." Jawab Ai dengan wajah datar tanpa takut sekalipun pada Futto yang sedang menyeringai kearahnya.

"Hee kau benar-benar berbeda dengan oneechan ya, dia pasti hanya akan diam saja ketikah aku berbicara seperti itu."

"Maaf saja ya aku memang berbeda dengan Ema senpai, aku akan mengatakan kalau memang itu harus dikatakan, lagipula aku bukan seorang wanita yang ketakutan hanya karena ini, aku yakin kau tadi menggoda Ema senpai dan menyuruhnya untuk lari tapi dia tidak bisa karena kau mencengkram lengannya, dasar tipe-tipe lelaki penggoda."

"Apa kau bilang, jaa bagaimana kalau kau juga merasakannya." Ucap Futto mendekatkan wajahnya berniat mencium bibir Ai, tapi dengan cepat Ai langsung menjitak kepala Futto hingga membuatnya meringis kesakitan dan melepas Ai dari kurungan yang dibuatnya.

"I-ittai, apa yang kau lakukan bodoh."

"Itu salahmu karena berani-beraninya kau menggodaku, apa kau ingin mendapat hukuman dariku karena menggoda ketua osis, sudahlah lebih baik kau pergi ke aula, aku masih sibuk." Ucap Ai berniat meninggalkan Futto, tapi lagi-lagi ditahan oleh Futto karena dia langsung memeluk tubuh kecil Ai cukup erat.

"A-apa yang kau lakukan, lepaskan aku." Maki Ai mencoba untuk melepas pelukan Futto, tapi bukannya dilepas dia malah memeluknya semakin erat.

"Iie kau harus membayarnya Aichan." Bisik Futto seduktif tepat dielingah kiri Ai, Futtopun memegang kepala Ai dan kembali mencoba untuk menciumnya.

"Futto apa yang kau lakukan, lepaskan dia." Omel sebuah suara dari belakang Futto, reflex mereka berdua mengerling keasal suara, sempat terkejut mendapati Azusa berdiri disana dengan wajah kesal dan Ai bersyukur Azusa datang menyelamatkannya.

"Azusa-san/nii." Ucap mereka bersamaan, Aichan segera melepaskan pelukan Futto dan berlari kearah Azusa lalu bersembunyi dibelakangnya.

"Hah Azusa nii, kau mengganggu saja, padahal tinggal sedikit lagi aku bisa menciumnya." Keluh Futto yang langsung membuat perempatan tercetak dikening mereka berdua.

"Futto seharusnya kau tidak melakukan hal itu selama dilingkungan sekolah, dia ini ketua osis setidaknya kau bisa sedikit sopan terhadapnya, dan aku harap kau tidak melakukannya lagi karena aku bisa menghukummu nanti." Ucap Azusa sambil menyeringai dengan aura-aura hitam yang menguar ditubuhnya, jujur saja dia tidak suka Futto memeluk Ai seperti itu dan hampir saja menciumnya, untung dia datang tepat waktu, sedangkan Futto sendiri hanya bisa berdecih dan mulai pergi meninggalkan mereka berdua, tapi dia sempat membisikan sesuatu kepada Ai sebelum dia benar-benar pergi.

"Aku masih belum selesai denganmu Aichan, kita akan lanjutkan lagi nanti." Dan dengan begitu dia pergi dari hadapan mereka berdua.

"Maafkan sikap Futto ya, dia memang kekanak-kanakan." Ucap Azusa mengerling kearah Ai yang bersembunyi dibelakangnya.

"Daijoubu desu, aku sudah mulai terbiasa dengan sikapnya, aku hanya berharap dia tidak membuat masalah disekolah."

"Ya aku harap juga begitu."

"Kalau begitu aku permisi dulu ya Azusa-san."

"Matte, ada yang ingin kutanyakan?."

"Ya ada apa Azusa-san?."

"Kau tidak ada hubungan apa-apa kan dengan Futto?."

"Futto-kun?, tidak ada hubungan apa-apa kok, memangnya kenapa?."

"I-iie nandemonai, kau bisa pergi."

"Baiklah, jaa Azusa-san." Ucap Aichan meninggalkan Azusa sendirian ditempat itu, sedangkan Azusa langsung bernafas lega mendapat jawaban dari Ai.

"Yokattane, aku sempat khawatir ada hubungan diantara kalian." Guman Azusa mulai melangkahkan kakinya kembali menuju Aula.

Malamnya~

"Kardus ini berat juga." Keluh Ai yang saat ini sedang membawa kardus ukuran sedang pemberian dari papanya yang kebetulan bertemu dengannya waktu berada disekolah, isinya hanya beberapa novel dan manga yang dia pesan dari ayahnya, mulai dari novel yang tebalnya hingga ratusan dengan kata-kata yang cukup sulit dimengerti hingga LN, lalu manga yang bergenre romance, action, gore dll. Alasan kenapa Ai memesan semua itu karena dia butuh refrensi untuk manga yang dia buat karena dia merasa kalau manganya masih ada kekurangan. Ai memutuskan untuk pergi kedapur sebentar untuk istirahat yang ternyata disana sudah ada beberapa orang sedang melihat foto album, Ai yang penasaran memutuskan untuk mendekati mereka.

*Ai Pov*

"Kalian sedang melihat apa?." Tanyaku meletakan kardus itu diatas kursi lalu mendekat kearah mereka.

"Ah Aichan okairi, kami sedang melihat-lihat foto album." Jawab Ema senpai tersenyum kearahku.

"Foto album?." Aku mendekat untuk melihat foto album tersebut yang kebetulan menunjukan foto Yusuke senpai sewaktu kecil.

"Eh ini Yusuke senpai?." Tanyaku.

"Ya begitulah."

"Yusuke senpai kawaii, lihat betapa tembemnya pipi Yusuke senpai waktu kecil, anak-anak memang sangat lucu ya." Komentarku soalnya Yusuke senpai dalam foto ini benar-benar imut.

"A-apa yang kau bicarakan Ai, jangan lihat foto itu." Omel Yusuke senpai dengan wajah seperti kepiting rebus dan langsung menyambar foto album yang ada ditanganku.

"Hee kenapa, kan Yusuke senpai terlihat imut."

"Po-pokoknya jangan mengatakan aku imut, dan berhentilah menggodaku."

"Hehehehe, justru Yusuke senpai terlihat sangat imut saat tersipu malu seperti itu." Godaku yang sukses membuat wajahnya semakin memerah sedangkan yang lainnya hanya bisa terkekeh pelan melihatku menggoda Yusuke minus Tsubaki-san yang sudah tertawa terbahak-bahak. Mataku kembali menelusuri foto salah satu foto album yang sudah terbuka dan mendapati foto Subaru-san dengan Nantsume-san, dari background dibelakangnya seperti di sebuah lapangan dan mereka terlihat sangat dekat, berbeda dengan kemarin yang mana mereka seperti bermusuhan satu sama lain.

"Apa ini terselip di album, apa ini Tsuba-nii?." Tanya Yusuke senpai mengambil selembar foto dari foto album dan meletakannya dimeja. Terlihat seorang anak bersurai hitam dengan iris mata ungu dan sedikit kabur mungkin karena kurang fokus.

"Bukannya ini foto Azusa-san ya?." Terkaku memperhatikan foto itu baik-baik karena memang anak ini mirip seperti versi muda dari Azusa-san.

"Ini memang foto Azusa, dia jarang mengambil photonya sendiri." Jawab Kaname-san.

"Tsubaki dan Azusa selalu bersama." Timpal Hikaru-san.

"Kalau itu Tsubaki yang mengambilnya, lihat fotonya agak buram karena itu kami menaruhnya disamping." Ucap Azusa-san mengerling kearah Tsubaki-san yang ada dibelakangnya.

"Apa benar begitu?."

"Bahkan kami tak bisa membuangnya."

"Cotto jangan perlakukan foto yang kuambil seperti sampah Hikaru nii." Omel Tsubaki-san pada Hikaru-san.

"Benar, aku juga tidak punya foto masa kecil yang masih tersisa, jadi aku tidak pernah punya album, mangkannya aku jadi iri, sangat indah mengabadikan saat-saat menyenangkan seperti ini kesebuah foto." Komentar Ema senpai menatap sendu kearah foto Azusa-san, aku bisa tau bagaimana perasaannya soalnya aku juga mengalami hal yang sama.

"Apa harus kuberikan foto itu padamu?." Tanya Azusa-san tersenyum lembut pada Ema senpai membuat kami semua langsung mengerling kearahnya.

"Eh?."

"Tunggu sepertinya itu bukan ide yang bagus, maaf sudah mengatakan hal yang aneh."

"Ano sebenarnya aku mau, apa aku boleh menyimpanya?." Tanya Ema senpai tersenyum manis kearah Azusa-san membuat semburat merah tipis muncul diwajah Azusa-san.

"Tentu saja kalau kau mau." Jawab Azusa-san membalas senyuman Ema senpai, entah kenapa aku tidak suka saat Azusa-san tersenyum seperti itu pada Ema senpai bahkan aku sampai mengepalkan tangan kiriku cukup kuat sampai rasanya kuku-kuku jariku memutih. Tsubaki-san yang melihat hal itu langsung merangkul leher Azusa-san berniat untuk menggodanya.

"Nani nani, apa kau berusaha mendahului kami?." Tanyanya.

"Hah, kau ini bicara apa?."

"Sepertinya aku juga tidak bisa membiarkanmu."

"Tsubaki-san."

"Hahahaha."

"Ne ne Ai neechan, apa kau juga punya foto album?." Tanya Wataru padaku.

"Tentu, aku hanya punya foto waktu SMP dan SMA saja."

"Boleh aku melihatnya, boleh ya boleh ya." Pinta Wataru antusias yang kujawab dengan anggukan kepala, aku berjalan kearah kardus karena tadi aku sempat melihat sepertinya otousan menyelipkan album foto bersampul merah disana, mengambil foto album tersebut lalu meletakannya dimeja sedangkan mereka segera bergerombol mengelilingiku. Aku membuka foto album tersebut dan terlihatlah foto seorang gadis yaitu aku sendiri sedang berdiri didepan gerbang dengan plank nama bertuliskan Sekolah Menengah Pertama Teiko.

"Kau benar-benar lulusan dari SMP Teiko ya." Komentar Yusuke senpai ketikah melihat foto tersebut.

"Ya begitulah, sekolah yang cukup bergengsi baik dibidang akademik maupun non akademik selalu menjadi juara, otousan yang menyuruhku untuk masuk kesana."

"Souka, ne neechan kenapa tidak ada foto masa kecilmu disini?." Tanya Wataru padaku.

"Padahal aku ingin lihat loh foto waktu Aichan masih kecil seperti apa, pasti sangat imut." Timpal Tsubaki-san.

"Aku juga penasaran loh Aichan." Ucap Ema senpai memandangku dengan mata berbinar-binar. Aku mengambil selembar foto dimana gambar itu menampilkan fotoku dan papa sewaktu kelulusan dan menatapnya dengan pandangan sendu.

"Aku punya satu sih tapi itupun foto bersama, aku akan memperlihatkannya pada kalian." Ucapku mengambil ipad didalam tasku lalu membuka galerynya, saat aku menemukan foto yang aku cari, aku segera memperlihatkannya pada mereka. Difoto itu terlihat banyak orang yang didominasi oleh laki-laki dan hanya ada empat wanita termasuk aku disana yang sedang digendong oleh papa dan tersenyum manis kearah kamera.

"Wah apa anak kecil yang digendong itu oneechan?." Tanya Wataru menunjuk kearah anak kecil yang ada difoto tersebut.

"Ya itu aku, ini foto yang diambil setelah acara Basket Junior."

"Waahh, apa mereka semua pemain basket Aichan?." Tanya Ema senpai.

"Ya begitulah, lihat barisan depan ini semuanya anggota Kiseki No Sedai, ini waktu mereka masih kelas 1 SMA."

"Benar juga, ale ini Mayuzumi-san ya?." Tanya Tsubaki-san menunjuk foto seorang pemuda bersurai abu-abu yang berada persis dibelakangku yang tersenyum tipis kearah kamera.

"Hai, ini paman Chi, yang disebelahnya paman Reo."

"Wah mereka tampak lebih muda, aku tidak menyangkah kalau mereka berdua pemain basket juga." Komentar Azusa-san.

"Mereka berdua pemain basket yang berbakat, bahkan paman Reo juga dijuluki sebagai salah satu anggota dari raja tak bermahkota."

"Salah satu grup basket yang juga memiliki bakat hanya saja tertutupi dengan bakat Kiseki No Sedai, kalau mereka tidak lahir lebih dulu mungkin merekalah yang akan disebut Kiseki No Sedai." Jelas Masaomi-san.

"Eh Masaomi-san tau ya?."

"Tentu saja, Natsume pernah menceritakannya padaku."

"Oh ya wanita berambut pink ini siapa?." Tanya Kaname-san menunjuk kearah foto seorang wanita bersurai pink dengan ukuran ehemdadaehem agak besar dari yang lain sedang tersenyum kearah kamera.

"Ah dia bibiku, namanya Aomine Satsuki, beliau yang mengajariku kemampuan analisis bersama bibi Hyuuga Riko."

"Souka, apa dia masih sendiri, dia tampak cantik."

"Sayangnya dia sudah menikah dengan paman Daiki, kau terlambat dua tahun Kaname-san." Jawabku membuatnya sempat menampilkan wajah kecewa.

"Kau hanya punya satu foto ini saja?, tidak kau cetak?."

"Ya hanya ini saja foto saat aku masih berusia 5th, dan aku memang sudah mencetaknya tapi tidak kuletakan difoto album, melainkan difigura yang letaknya dimeja belajarku, jadi saat aku merindukan mereka aku bisa melihat foto mereka disana Azusa-san."

"Souka ternyata Aichan juga tidak suka berfoto ya waktu masih kecil, sama seperti Azusa." Komentar Tsubaki-san mengerling kearah Azusa-san.

"Iie chigauyo desu, ada alasan kenapa aku tidak punya foto waktu masih kecil."

"Alasan?, alasan apa?." Tanya Yusuke senpai.

"Ra-ha-sia."

"Heeee."

"Aichan curang, aku kan penasaran." Rengek Tsubaki-san sembari menunjuk kearahku.

"Gomene Tsubaki-san, demo masa kecilku sudah kututup rapat-rapat jadi aku tidak akan menceritakannya." Jawabku menutup album fotoku dan meletakannya kembali kedalam kardus.

"Memang apa yang terjadi saat kau masih kecil?." Tanya Azusa-san membuatku menghentikan aktifitasku mengangkat kardus lalu mengerling kearahnya sambil tersenyum.

"Tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial kok, karena ini sudah malam dan aku juga sudah lelah, aku pergi kekamar duluan ya, oyasuminasai." Pamitku yang dijawab "oyasumi" oleh mereka semua dan aku segera pergi meninggalkan mereka. Setelah dirasa jauh dari pandangan mereka, aku menghela nafas berat dan menatap datar kearah lorong yang ada didepanku.

'Andai kalian tau tentang masa laluku, kira-kira apa ya pendapat mereka.' Pikirku membuka pintu kamarku dan terlihat Serafina yang sudah tertidur dikasur sembari menggulung tubuhnya menjadi bola bulu. Aku tersenyum lalu mendekat kearah kasur setelah terlebih dulu meletakan kardus yang cukup berat tadi dilantai dan mengelus bulu dari Serafina. Entah kenapa sekelebat ingatan tentang Serafina sewaktu pertama kali aku menemukannya muncul begitu saja diingatanku.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, aku berjanji."

"Aku juga tidak akan meninggalkanmu Serafina, karena kau adalah teman pertamaku, dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, tidak akan." Gumanku ikut berbaring disamping Serafina dan tak lama kemudian aku mulai tertidur.

~Amazing Grace~

"Aichan bagaimana kalau setelah sekolah kita pergi membeli creep?." Ajak Ebihara saat aku sedang memeriksa beberapa laporan dari setiap bidang dikantor osis.

"Gomen Ebichan, hari ini aku ada dateline untuk key animation." Jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari kertas-kertas yang ada ditanganku, aku bisa merasakan kalau Ebihara sekarang sedang menggembungkan pipinya tanda dia kesal .

"Mou Aichan selalu saja sibuk bahkan lebih sibuk daripada aku yang seorang model ini, padahal aku kan ingin mengajakmu kencan."

"Memang hari ini kau tidak ada jadwal?."

"Aku diberi libur oleh manager, karena itu aku bosan tidak melakukan apa-apa."

"Bagaimana kalau kau membantuku saja."

"Membantu?, membantu apa?."

"Kau bisa melakukan beta?."

"Itu pekerjaan mudah."

"Bagus, tolong bantu aku melakukan beta pada mangaku bisa."

"Tentu saja, bagaimana kalau sekarang saja?."

"Boleh aku juga sudah selesai dengan semua tugasku." Jawabku merapikan semua kertas yang ada dimejaku kemudian mengambil tas yang tak jauh dari tepatku lalu bersiap akan meninggalkan ruangan diikuti oleh Ebihara yang mengekor dibelakang. Kami terus berjalan, sesekali menaiki kereta untuk sampai di Sunrise Recident, dan sesampainya disana, aku melihat Iori-san sedang menyirami bunga ditemani Serafina yang berdiri disampingnya.

"Tadaima Iori-san, Serafina." Sapaku tersenyum pokerface kearah Iori-san dan Serafina yang langsung mengerling kearahku.

"Ah okairi Aichan." Jawab mereka bersamaan.

"Kau baru pulang."

"Ya seperti itulah, hari ini tugasku tidak terlalu banyak."

"Souka."

"Ehem Aichan kau melupakan aku." Ucap Ebihara yang sepertinya kesal karena sedikit terlupakan disini.

"Ah gomen, Iori-san perkenalkan ini temanku namanya Kanzaki Ebihara, dan ini adalah Iori-san putra kesepuluh." Ucapku memperkenalkan mereka satu sama lain.

"Yoroshikune Iori-san." Ucap Ebihara tersenyum manis kearah Iori-san.

"Yoroshiku Kanzaki-san."

"Panggil saja aku Ebihara, itu lebih baik."

"Wakatta Ebihara-san."

"Ano Iori-san, Ebichan akan tidur disini malam ini, bolehkah?, soalnya aku membutuhkan bantuannya." Pintaku pada Iori-san.

"Tentu saja kenapa tidak, kami senang kok jika ada teman Aichan yang menginap." Jawabnya sembari tersenyum kearahku.

"Arigato Iori-san kau yang terbaik, jaa aku masuk kedalam dulu ya."

"Matte Aichan, ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu." Ucap Iori-san mengambil sesuatu dari dalam keranjang lalu memberikannya padaku dan ternyata itu adalah sebuket bunga tulip dan bunga mawar merah yang dihias sangat rapi.

"Waah, arigato Iori-san hontouni, demo dalam rangka apa Iori-san memberikanku bunga ini?, dan juga darimana Iori-san tau aku suka bunga mawar?."

"Tidak ada, aku hanya ingin memberikanmu saja, aku tau soalnya waktu aku membersikan kamarmu sewaktu kau sakit, ada vas bunga yang berisi mawar tapi sudah tampak layu."

"Ah masakah yang mengganti bunga mawar waktu itu Iori-san?."

"Ya begitulah, mulai sekarang aku akan selalu mengirimimu bunga mawar untuk mengisi vas yang ada dikamarmu."

"Eh kau tidak perlu melakukannya Iori-san, aku jadi merepotkanmu."

"Iie daijoubu desu, selama itu untuk Aichan tidak masalah."

"Arigato Iori-san aku tidak tau harus bagaimana untuk membalasnya, bagaimana kalau kapan-kapan aku mentraktirmu makan diluar?."

"Tidak usah Aichan-."

"Aku tidak menerima penolakan Iori-san, kalau begitu aku pergi dulu, sekali lagi arigato Iori-san." Ucapku melambaikan tanganku sebentar kearah Iori-san kemudian masuk kedalam mansion diikuti Ebihara yang mengekor dibelakang.

"Ne sepertinya Iori-san menyukaimu." Ucap Ebihara saat kami berdua plus Serafina sedang bearada didalam lift.

"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu Ebichan?."

"Kau tidak melihat sorot matanya begitu lembut saat berbicara padamu, lagipula bunga mawar berarti tanda sayang pada seseorang dan bunga tulip artinya pernyataan cinta."

"Bukankah sorot matanya juga melembut saat berbicara denganmu?."

"Chigauyo desu, saat berbicara denganku sorot matanya sedikit keras seperti menganggapku hanya sebagai teman saja."

"Entahlah Ebichan, aku rasa dia sudah menyukai orang lain."

"Tapi aku yakin kalau orang yang disukainya itu adalah kau Aichan."

"Hah terserah kau saja-." Ucapku terputus karena buru-buru Ebihara menarikku untuk bersembunyi dibalik tembok membuatku sempat heran dengan kelakuannya.

"Doushita Ebi-."

"Sttt, lihat disana." Ucap Ebihara menunjuk kearah dua orang yang sedang ngobrol, aku melihat kearah mereka berdua dan baru mengerti kenapa Ebihara mengajakku bersembunyi, pasalnya dua orang itu adalah Ema senpai dan Azusa-san, tapi ada perlu apa Azusa-san dengan Ema senpai?. Penasaran akupun mulai mempertajam pendengaranku mencoba untuk mencuri dengar apa yang sedang mereka bicarakan.

"Kemarin kau mengatakan kalau tidak punya album?, jadi tolong terimalah." Ucap Azusa-san tersenyum kearah Ema senpai, dan aku bisa melihat Ema senpai sedang memegang sebuah album foto bersampul warna pink yang sepertinya pemberian Azusa-san.

"Demo."

"Aku ingin kau memilikinya, ini adalah tanda terima kasihku."

"Terima kasih?."

"Animenya sangat laris."

"Eh benarkah?."

"Aku sudah membuatmu khawatir, karena itu aku ingin berterima kasih padamu."

"Itu, aku tidak melakukan apa-apa kok."

"Tidak, jika bukan karena kau, pasti aku sudah menolak peran itu, kupikir itu pasti akan menyakiti Tsubaki, berkat kau aku jadi berubah, arigato."

"Tidak kok, terima kasih albumnya, aku sangat senang." Ucap Ema senpai tersenyum kearah Azusa-san dan aku bisa melihat semburat merah itu lagi diwajah Azusa-san.

"Ngomong-ngomong ini pertama kalinya aku berbicara denganmu seperti ini, biasanya kita selalu bersama orang yang berisik, meski kita sudah lama hidup bersama sih." Ucap Azusa-san ikut tersenyum kearah Ema senpai.

"Hihihi, sepertinya Ema senpai sudah mendahuluimu Aichan, apa yang akan kau lakukan?." Tanya Ebihara tersenyum atau mungkin menyeringai kearahku, sedangkan aku hanya menatapnya dengan wajah datar dan memutuskan untuk pergi kekamarku yang letaknya disamping kamar Ema senpai, tentu saja aku harus melewati mereka terlebih dahulu mengingat mereka berada didepan kamar Ema senpai.

"Ah Aichan kau sudah pulang?." Sapa Azusa-san padaku.

"Ya begitulah, hari ini aku menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat." Jawabku tersenyum pokerface kearah Azusa-san.

"Azusa-san, Ema senpai konichiwa." Ucap Ebihara tersenyum manis kearah Ema senpai dan Azusa-san.

"Konichiwa Ebichan, kau ada disini juga?." Tanya Ema senpai.

"Hai, aku akan menginap disini malam ini untuk membantu Aichan."

"Souka, ale bunganya bagus sekali Aichan?, dimana kau membelinya?." Tanya Ema senpai mengerling kearah sebuket bunga mawar dan tulip yang ada ditanganku.

"Ah ini aku diberi oleh Iori-san."

"Iori memberimu bunga?, untuk apa?." Tanya Azusa-san, entah kenapa aku bisa mendengar nada tidak suka dari perkataan Azusa-san, dan aku bisa merasakan Ebihara menyeringai semakin lebar disampingku.

"Iori-san bilang kalau dia hanya ingin memberi Aichan bunga, dan dia juga mengatakan kalau Iori-san akan mengiriminya bunga setiap hari untuk mengisi vas bunga yang ada dikamarnya." Jawab Ebihara yang sempat membuat Azusa-san maupun Ema senpai terkejut dengan perkataannya, sedangkan aku langsung menyenggol lengan Ebihara.

"Ebichan, tidak seharusnya kau mengatakan hal seperti itu."

"Heee kenapa, kan Azusa-san bertanya jadi aku jawab saja."

"Hah sudahlah, kalau begitu aku permisi dulu ya Azusa-san, Ema senpai." Pamitku pada mereka berdua dan bersiap akan pergi kalau saja Azusa-san tidak menahan lenganku.

"Doushitano Azusa-san?." Tanyaku mengerling kearahnya yang menatapku dengan wajah serius tapi langsung melunak begitu dia sadar telah mencengkram lenganku cukup erat dan segera melepas cengkramannya.

"I-iie nandemonai, aku juga akan pergi dulu, jaa~." Ucap Azusa pergi meninggalkan kami, aku sempat memegang bekas cengkraman Azusa-san dan memutuskan untuk pergi menuju kamarku sendiri bersama Ebihara yang sepertinya masih menyeringai kearahku.

.

To Be Continue

.

Author: Yosh, sekarang waktunya jawab review yang masuk. Tolong ya Sechan, Techan.

Akashi: Review pertama dari Akaisora hikari, soalnya Aichan kan memang anakku walau gak kandung sih tapi karena dia merupakan salah satu keluarga Akashi aku mengajarinya untuk mempertahankan diri. Sebenarnya aku ingin membekalinya dengan pisau lipat, tapi Author tak mengizinkan.

Author: Iyalah, nanti jadinya cerita gore Sechan.

Akashi: Hah, untuk kapan om-om yang lainnya keluar silahkan ditunggu saja ya, tapi kayaknya selain aku dan Shintaro, Himuro-san juga sudah pernah keluar kan?.

Kuroko: Review kedua dan yang terakhir dari Akuro. Terojima, ini sudah lanjut silahkan dinikmati :).

Ai: Terus ikuti cerita ini ya, dan jangan lupa REVIEW PLEASE…!, atau gunting merah cantik akan melayang padamu *senyum menyeringai*

.

See You Next Conflict 9: Sisi Lain?