" Apa semuanya sudah beres?"

" Sudah bos, bocah itu juga sudah masuk penjara "

" Oke.. kerja bagus, jangan lupa urus sisanya "

" Siap bos! "

*gubraaakkk*

Namjoon yang sedang menguping pembicaraan itu tak sengaja menjatuhkan tong sampah didekatnya.

" Aduh.. Mati aku! " Namjoon panik

" HEY ... SIAPA ITU ? " teriak salah satu preman, mereka mulai mencari sumber suara.

Disana ada sekitar enam orang preman. Namjoon yang habis mengantarkan salah satu tamu hotel, tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Karna dia merasa topik yang dibicarakan ada kaitannya dengan kasus yang juga sempat menyeretnya. Diapun memutuskan untuk menguping. Dan sialnya dia malah menyenggol tong sampah.

Para preman itu mulai mendekatinya

Mulai dekat...

Semakin dekat...

Namjoon mulai keringat dingin, bahkan dia tak sanggup hanya sekedar bergerak.

Dekat...

dan...

GREPP!

Preman itu berhasil menemukannya dan segera menyeretnya dari tempatnya bersembunyi
' gawat.. gawat... gawattt' batin Namjoon.

" Apa yang sudah kau dengar, hah? " tanya salah satu preman. Lebih tepatnya membentak. Namjoon sendiri sudah babak belur. Oh god, kasihanilah Namjoon!

" hanya mendengar sedikit, hanya sedikit " Namjoon gemetaran. Wajahnya sudah biru lebam, juga darah menetes di pelipis kirinya

" Kalau sampai orang lain tahu, akan kubunuh kau"

DOPE

by VMINHO

ONESHOOT / TWOSHOOT / THREE SHOOT/ NGESHOOT XD

RATE : T

WARNING : CRIMINAL, MYSTERY, HOROR (?)

ALUR BERANTAKAN GAK JELAS, TIDAK MENGGUNAKAN EJAAN YANG BENAR

TYPO BERTEBARAN SEPANJANG JALAN KENANGAN (?)

TERINSPIRASI DARI MV "DOPE"- BTS

CAST :

KIM TAEHYUNG as DETECTIVE

JEON JUNGKOOK as POLISI

KIM SEOK JIN as DOKTER

PARK JIMIN as KARYAWAN SWASTA

KIM NAMJOON as PELAYAN HOTEL

MIN YOONGI as PILOT

JUNG HO SEOK as PEMBALAP

And Other Cast

SO, HAPPY READING GUYS ^^

CHAPTER III

THE END

Drrrtttt...Drrrttt...

Handphone Jungkook bergetar tanda adanya panggilan masuk. 'Ini sudah hampir subuh, siapa yg menelpon pagi-pagi begini' batin Jungkook.

" Yoboseo?"

" Yak Jungkook? Apa kau sedang bersama Detective Kim?" Tanya si penelpon.

" Iya, dia sedang disampingku sekarang. Ini siapa? " ucap Jungkook. Taehyung yang duduk disamping Jungkook pun menoleh kearah si polisi tampan itu, merasa bahwa yg dimaksud itu adalah dirinya.

" Aku Jin, kau ingat aku? "

" Ah.. Dokter Jin! Ada perlu apa pagi-pagi begini? " Tanya Jungkook. Taehyung makin serius mendengarkan.

" Aku ada perlu dengan Detective Kim, aku telpon handphonenya tapi tidak diangkat-angkat -" Jungkook menoleh kearah Taehyung, memberikan isyarat bahwa Jin mencarinya dan tidak bisa menghubungi nomor handphonenya. Taehyung baru ingat kalau handphone nya sedang di charger, dia pun bergegas mengambil handponenya daan taraa! 20 kali panggilan tak terjawab, juga 10 pesan masuk dan semuanya dari Jin. 'Astaga! Ada apa?' batin Taehyung

"- Bisa kau berikan telpon ini kedia? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya" lanjut Jin menggebu-gebu, seolah-olah jika tidak segara disampaikan dia akan kehilangan jatah makan -.-

" Oh baiklah, tunggu sebentar " Jungkook menghampiri Taehyung dan menyodorkankan telponnya

" Dokter Jin ingin bicara denganmu, detektif kim " Taehyungpun menerima telpon dari Jin

" Halo, Jin. Ini aku Taehyung, maaf telponmu tidak ku angkat, handphone ku sedang di charger tadi. Ada apa ?"

" Bisa kau ketempatku sekarang? Ada yang ingin aku berikan padamu. Mungkin ini bisa membantu mengungkap kasus mu itu " jelas Jin.

" Kau menemukan apa? " jawab Taehyung penuh semangat.

" Kau kesini saja dulu, nanti akan aku beritahu "

" Baiklah aku akan kesana " Taehyungpun bergegas meninggalkan Kantor Kepolisian dengan sebelumnya mengembalikan Handphone ke Jungkook. Jungkook yang melihat itu menawarkan diri untuk menemani. Dan mereka pun pergi bersama.

.

.

.

Di lain tempat, Hoseok dan Yoongi mendekati sumber suara yang mencurigakan tersebut. Dan dilihatnya Namjoon tengah dikelilingi pria-pria berjas yang sudah jelas itu adalah preman suruhan.

" Bukankah itu si pelayan hotel sini? Apa yang sedang mereka lakukan? " bisik Hoseok

" Aku juga tidak tahu. Apa mungkin si pelayan itu sedaaangg..." Jawaban Yoongi mengambang dan

" Aaahh... mereka bersekongkol? " ucap mereka bersamaan.

" Ahh, hyung. Bagaimana ini? berarti benar si mimin atau siapa itu namanya, dia tidak bersalah kan? dia di jebak hyung!" Hoseok nampak terkejut dengan pernyataannya sendiri. 'sungguh malang pemuda itu' batin hoseok.

" Sepertinya kau benar. Tapi lihat! Si pelayan itu sudah babak belur, itu berarti dia juga sedang diancam " sahut Yoongi penuh selidik. Posisi mereka berdua tidak jauh dari Namjoon juga para preman itu, hanya berjarak 5 pintu kamar. Mereka bersembunyi di sebuah lorong yang menurut mereka aman.

" Apa yang harus kita lakukan, hyung? Apa perlu kita beritahu polisi? "

" Tunggu dulu. Kita tidak boleh gegabah "

" Lalu kita harus apa? Kita tidak mungkin diam saja kan, hyung? Aku merasa kasihan dengan bocah itu. Dia dipenjara untuk hal yang tidak pernah dilakukannya" ucap Hoseok dengan penuh prihatin

" Iya sih kau bener -" jawab Yoongi dengan pandangan serius, dia penasaran sebenarnya apa yang membuat mereka sampai hati memfitnah pemuda itu

" Mereka pergi " ucap yoongi yang melihat para gerombolan preman itu pergi yang juga membawa namjoon bersama mereka. Yoongipun mencoba untuk mengikuti mereka

" Hyung, kau mau pergi kemana? " cegah hoseok.

" Tentu saja untuk mengikuti mereka " jawab yoongi santai dan melanjutkan langkahnya.

" Kau bercanda, hyung? Kau mau kita berdua mati, hah?" hoseok berdiri tepat didepan yoongi, mencoba menghentikannya 'gila, apa yg dipikirkan hyung ini sih' batin hoseok

" Aku tidak memaksamu untuk ikut. Kau bisa kembali kekamar hotelmu "

" Ahh jinjja! Mana bisa aku kembali ke hotel. Ishh" hoseok mengacak-acak rambutnya kesal sedangkan yoongi ? dia tetap pergi mengikuti gelombolan tersebut, takut jika kehilangan jejak. Akan sangat sia-sia bukan? Sempat berfikir beberapa saat akhirnya hoseok memutuskan untuk pergi mengikuti yoongi.

.

.

.

" Ini.. aku menemukan ini saat pemeriksaan mayat beberapa hari lalu, aku lupa memberitahukanmu kemarin, maaf " Ucap jin seraya menyerahkan benda kecil tersebut ke taehyung

" Ini alat perekam ? " taehyung memperhatikan benda tersebut dengan teliti

" Sepertinya itu memang alat perekam, aku pernah melihatnya sekali -" sahut jungkook

" Coba berikan padaku, biar aku coba " lanjut Jungkook. Taehyungpun hanya menurut, benda berukuran tidak lebih kecil dari tutup pulpen itupun berpindah ke tangan jungkook. Jungkook membolak balikan benda tersebut, mencari tombol yang mungkin berfungsi.

" Mau apa kalian kesini?"

" Kami hanya mengunjungimu saja, apa tidak boleh"

Ternyata perekam itu masih berfungsi. Taehyung, Jungkook dan Jin hanya saling pandang mendengarkan semua isi rekaman tersebut. Rekaman itu berisi percakapan Hyun Joong dengan beberapa orang saat kejadian, lebih tepatnya beberapa saat setelah jimin meninggalkan sang Direkturnya tersebut.

" Ini bukti yang kuat " ucap Jungkook yang langsung di iyakan oleh taehyung. Taehyung saling pandang dengan jin, dan langsung memeluk jin dengan paksa(?),

" Aish.. Aku sesak nafas Detective kim, tolong lepaskan " mendengar ucapan jin malah membuat Taehyung makin mengencangkan pelukannya dan berulang ulang mengucap terimakasih padanya. Alat ini sudah sangat kuat untuk meringkus pelaku sebenarnya,bukan? Taehyung sangat senang. Bukti ini dan bukti2 lain yang ia miliki dapat menbebaskan Jimin, Temannya dari sel mengerikan itu. Lepas itu, Taehyung pamit dengan tetap berulang-ulang menucapkan terimakasih pada jin.

" Aku akan mengurus ini lagi, Terimakasih atas bantuanmu jin. Terimakasih !" Taehyung membungkuk hormat ke jin, dan berlalu keluar ruangan yang disusul juga oleh jungkook. Jin yang ditinggal sendiri hanya bisa bengong.

" Aku pikir aku akan kena marah, karna telat memberitahukannya? Tapi kok?... ahh sudahlah. Semoga kasusnya cepat selesai " Ucap jin sepeninggalnya Taehyung dan Jungkook.

.

.

.

Yoongi dan Hoseok tiba disebuah gedung tua yang nampak.. mengerikan. Hoseok memegang lengan Yoongi erat. Sangat erat hingga Yoongi merasa terganggu.

" Bisa kau kendorkan sedikit peganganmu? lenganku sakit " ucap Yoongi. Yang ditanya malah tak memperdulikannya sama sekali. Sudah sangat jelas, Hoseok ketakutan setengah mati.

" Siapa suruh menyeretku kesini, heum? aku benar-benar ketakutan sekarang, kau tahu!" Hoseok masih tampak bergidig.

Sebenernya apa sih yang sedang mereka lakukan sekarang? mengikuti gerombolan preman sangar pelaku dari kasus pembunuhan sadis? yang tidak menutup kemungkinan, jika ketahuan mereka juga akan mati. 'uh, god. lindungi kami' batin Hoseok.

Dihadapan merek, para gerombolan preman itu masuk kedalam gedung tersebut dengan tidak lupa menyeret Namjoon. Mereka menguntitnya secara hati-hati. Yoongi dan Hoseok melihat dari cela-cela lobang untuk melihat apa saja yang preman-preman itu lakukan.

" Dia menguping pembicaraan kami tadi, enaknya kita apakan dia, tuan? " Tanya salah seorang preman tersebut. Sepertinya dia berbicara dengan ketuanya, terlihat dari gaya orang yang ditanya tadi memang sangat angkuh. Dan lihat! bahkan ada seorang wanita cantik disampingnya.

" Hyung.. Hyung.. " bisik Hoseok, ia menyenggol lengan Yoongi pelan. Dia juga penasaran apa yang terjadi didalam, maklum sejak tadi dia hanya melihat keadaan sekitar, dan Yoongi yang mengintip kedalam.

" Apa sih?" jawab Yoongi

" Gantian. Aku juga ingin lihat, hyung "

" Bukannya tadi kau bilang kau takut? " Yoongi masih belum mau melepaskan matanya dari celah lobang pengintipan mereka.

" Ahh... itu kan tadi, aku juga penasaran, Hyung. Ayo, gantian " Hoseok mulai merajuk. Kepo akut XD

Tapi lagi-lagi Yoongi mengabaikan permintaannya, matanya tak pernah lepas dari pengamatannya

" Hyuunggg... " Hoseok mulai jengkel

" Sstttt... jangan berisik " Ucap Yoongi. Yoongi menghentikan acara pengintipannya dan menatap Hoseok serius

" Pelayan itu dalam bahaya " Lanjut Yoongi masih dengan tampang seriusnya.

" Bahaya? maksudmu ? " yang ditanya bingung

" Kau bawa handphone? " tanya Yoongi lagi. Hoseok mengecek saku mantelnya. Tidak ada.

" Aku meninggalkannya di Hotel, kenapa? " sahut Hoseok

" Aku juga tidak bawa handphone. Sekarang kau pergi ke hotel, dan cepat telpon polisi untuk datang kesini. Jika tidak, pelayan itu akan mati. Cepat sana pergi! " Yoongi sedikit mendorong tubuh Hoseok untuk segera pergi.

" Lalu kau? " Hoseok masih belum mau beranjak. Jadi dia kembali ke hotel seorang diri?

" Aku tetap disini. Menolongnya sebisaku " jawab Yoongi dengan nada tegas.

'Apa dia bilang? menolong sebisanya? apa dia gila?' batin Hoseok.

" Maksudnya apa, hyung? " Ucap Hoseok mencari jawaban.

" Sudah sana pergi, bodoh. Kau mau lihat aku mati juga, hah !" sahut Yoongi dengan sedikit berteriak. Ups! tidak terlalu keras juga. Ingat mereka dalam mode pengintaian.

Yoongi berjalan santai kearah pintu gedung itu. Hoseok hanya bisa bengong.

'Sebenarnya manusia jenis apa dia itu? tubuh kecil begitu memangnya bisa apa? '

Mau tidak mau Hoseok mengikuti perintah Yoongi tadi. Dia pun pergi dari tempat tersebut, berlari sekencang yang ia bisa dengan sesekali menoleh kebelakang melihat punggung Yoongi yang terlihat mulai memasuki gedung tua itu

"Yoongi hyung apa akan baik-baik saja? tunggu aku hyung. Aku akan segera kembali' ujarnya

.
.

- SKIP TIME -

Terik matahari siang ini menyilaukan pandangan seorang pemuda yang tengah berdiri di depan kantor kepolisian. Pemuda berambut merah ini nampak lusuh dengan pakaian yang sudah tak jelas warnanya. Dia baru saja keluar dari tahanan yang sejak semalam dihuninya. Senyum terlukis lembut dari bibir manisnya saat ekor matanya melihat sosok ayah tercinta.

Sang ayah yang bernama Park Yoochun pun tersenyum manis sambil berjalan perlahan menghampiri pemuda itu. Park Jimin, anak semata wayangnya.
Pemuda itu tak kuasa menahan haru juga bahagia. Dia mulai mengeluarkan air mata dan berlari menghampiri sang ayah, memeluknya erat.

" Appa, maafkan aku " ucap Jimin dengan terisak. Ia sungguh tak kuasa untuk melepas pelukannya, ia telah membuat ayahnya sangat khawatir.

" Kenapa kau menangis? bukankah harusnya kau bahagia? " jawab Yoochun sambil melepaskan pelukannya. Menatap anak kesayangannya dengan penuh kasih. Jimin memang pantas untuk bahagia, karena kasus yang telah menyeretnya kepenjara ini telah usai. Pelaku pembunuhan yang asli telah tertangkap, jimin patut bersyukur. Dia sungguh tak sanggup jika harus berlama-lama di dalam sana untuk hal yang tidak pernah dia lakukan.

Tak jauh dari mereka, Detective Kim menyaksikan adegan mengharukan antara anak dan ayah itu dengan senyum yang mengembang.

" Syukurlah, semua kembali seperti semula " ucapnya pelan. Taehyung bersyukur dia dapat menyelesaikan kasus ini dengan baik berkat bantuan juga kerja sama teman-teman barunya.

" Kau tidak menghampirinya, Hyung? " ucap salah seorang yang entah sejak kapan berada di belakang Taehyung. Dia Jungkook, yang juga tengah memperhatikan Jimin juga ayahnya.

" Untuk apa? Biarkan saja.. Mereka sedang bahagia..." jawab Taehyung dengan mata yang tetap focus pada Jimin yang mulai berjalan menjauh dari tempatnya tadi.

"...Eh tunggu,, apa tadi kau memanggilku hyung? " Taehyung seakan baru tersadar jika tadi Jungkook memanggilnya hyung bukan Detective Kim lagi seperti biasanya.

" Iya,hyung. Aku memanggilmu, hyung. Apa tidak boleh? " jawab Jungkook santai. Lagipula apa salahnya dia memanggil Taehyung dengan sebutan hyung, toh Taehyung memang lebih tua dua tahun darinya. Tidak ada salahnya kan?.

" Tentu saja boleh. Hanya saja aku masih belum terbiasa hehe" Taehyung tersenyum canggung tak jelas. Ini pertama kali baginya ada seseorang yang memanggilnya Hyung.
Jujur saja dia adalah anak tunggal,otomatis tidak mempunyai adik, sepupunyapun semuanya lebih tua darinya. Wajar jika dia merasa agak sedikit asing

" Kau harus mulai terbiasa dengan panggilan itu, hyung. Karna aku akan memanggilmu hyung mulai dari sekarang" ujar Jungkook sambil tersenyum memperlihatkan gigi kelincinya yang menambah kesan manis diwajahnya.

" Baiklah-baiklah.. terserah kookie saja " jawab Taehyung santai. Dia mulai berjalan meninggalkan Jungkook.

" APA!? Kau panggil aku apa tadi? " Jungkook mengejar Taehyung dan menyamakan langkahnya

" Kookie.. aku memanggilmu kookie. Kau suka? "

" Tidak sama sekali. Itu terdengar kekanakan, hyung. Apa tidak ada panggilan yang laen?" Jungkook mempoutkan bibirnya kesal. Ya ampun, si polisi ini keluar juga tingkah imutnya. itu membuat Taehyung gemas minta ampun.

" Bukankah itu panggilan yang imut? cocok untukmu yang juga imut. Kiyoowooooo " Taehyung mencubit pipi Jungkook gemas. Iya, Jungkook diluarnya saja tampak Manly, tapi sikapnya bahkan masih kekanakan XD. Seperti saat ini.

" Hentikan hyung. Itu menggelikan " Jungkook berjalan cepat mendahului Taehyung. Marah sepertinya.

" Yak! Jungkookie... Kau mau kemana? tunggu aku! " Taehyungpun mengejar Jungkook yg entah sudah kemana.

.

.

.

.

Dikediaman keluarga Park.

Yoochun tengah menyiapkan makan siang untuknya juga Jimin. Jimin baru selesai mandi. Dia terlihat jauh lebih baik daripada beberapa jam lalu. Wajahnya jauh lebih bersih, rambut merahnya menambah kesan seksi di dirinya. Perfect! Jimin telah kembali XD

"Appa sedang membuat apa? " Tanya Jimin dengan masih berusaha mengeringkan rambutnya dengan handuk. ( SEGEERR!Maygat.. cuma ngebayangin jimin begitu aja pikiran gue langsung seger haha *ignore please* XD). Jimin berjalan ke dapur dimana ayahnya berada.

"Hanya masak mie untuk kita dan juga bubur" jawab Yoochun singkat. Yoochun masih sibuk dengan masakannya.

" Bubur? " tanya Jimin. Bubur untuk siapa? untuknya? bukankah ayahnya tau kalau dia benci bubur?.

" Iya sayaang, bubur. Memangnya kau dengarnya apa?" Yoochun merapihkan meja makan dan menata mie masakannya disana. Jimin duduk dengan masih memperhatikan terlihat berkali-kali mengecek bubur buatannya. Belum matang.

" Tapi untuk siapa? aku tidak suka bubur"

" Yang bilang bubur ini untukmu siapa? Ini untuk orang yg sudah membantumu. Kamu bisa bebaspun karna bantuannya"

" Siapa? "

" Siapa ya namanya? Yoon.. yoon.. ah appa lupa namanya. Setelah ini kita besuk dia dirumah sakit ya?" Jimin makin heran. Yoon? siapa Yoon? Setaunya dia tidak punya teman bernama Yoon. Paling ada juga Yoon teman SMPnya dulu. Tapi tidak mungkin Yoon yang itu. Mustahil.

Yoochun sudah duduk di kursi meja makan. Dengan perhatiannya dia mengambilkan nasi untuk Jimin. Jimin masih saja bengong.

"Ayo dimakan.. Kita harus bergegas kesana."

" Tolong ceritakan semuanya padaku, appa. Aku benar benar tidak mengerti? orang yg menyelamatkanku? rumah sakit ? Yoon? apa itu maksudnya" tanya Jimin panjang lebar.

- FLASHBACK -

Namjoon sudah terikat tali dengan mata tertutup dikelilingi para preman menyeramkan itu.

" Ya sudah, tembak saja dia. Tidak usah diberi ampun. Aku tidak mau rencanaku ketahuan dan gagal begitu saja " ujar seseorang didalam gedung tersebut. Itu suara wanita. Wanita mana yang punya pemikiran sekeji itu? Fix, namjoon benar-benar dalam bahaya.

" Aku mohon. Selamatkan aku. Aku benar-benar tidak akan memberitahukan siapapun. Aku mohon. Aku masih ingin hidup, tuan? Aku mohon!" ucap Namjoon dengan terisak. Nyawanya benar-benar terancam. Tidak lucu jika dia mati sekarang, Ayah, ibu juga adik-adiknya masih sangat membutuhkannya. Dia tidak mau mati konyol seperti ini.

" DIAM!" bentak pria disampingnya. Dia memegang pistol dan mengarahkannya ke kening Namjoon. OH NO!

Yoongi menghela nafas dalam, bersiap memasuki ruangan itu, namun dia juga tidak mau gegabah. Dia melirik disekitarnya dan melihat ada sebuah batang besi tak jauh dari tempatnya berdiri. Mungkin bisa digunakan sebagai senjata. Tapi tunggu, apa dia sanggup melawan mereka semua? Yoongi sempat bimbang. Sebelum akhirnya ia mendengar teriakan minta tolong dari Namjoon . Dan Yoongi pun memberanikan diri untuk mulai memasuki gedung itu.

.

.

.

.

Hoseok masih terus berlari menuju hotelnya, dengan sesekali melihat kesekitar berhadap ada telpon umum disekitar sini, dan tidak lama kemudian dia menemukannya. Dia pun memutuskan untuk menggunakan itu, dari pada harus kembali kehotel mengambil handpohonenya. Itu terlalu lama, guys. Terlalu beresiko.

" Hallo, dengan Kantor Kepolisian Seoul, ada yang bisa kami bantu ?"

" Hallo... aku... aku Jung Hoseok, tolooong... tolong temanku " Hoseok menarik nafas dalam, sesak efek berlari tadi.

" Bisa anda jelaskan lebih mendetail, tuan? " Hoseokpun menjelaskan semua kronologi apa yang baru dia alami.

" Aku disekitar hotel ARMYNISTY, tolong lah cepat. Temanku dalam bahaya " Hoseokpun menutup telponnya dan berharap polisi-polisi itu segera datang.

Drrrttt... Drrrt

" Hallo.. "

" Hallo, tuan Jeon Jungkook ?"

" Iya, ada apa? "

" Kami menerima laporan terbaru tentang kasus pembunuhan yang di Armynisty hotel. Pelakunya menyekap seseorang, bisa anda segera kesini? "

" Oh, baiklah, aku akan segera kesana " Jungkook yang sedang berada bersama Taehyung setelah dari tempat Dr. Jin. Iapun mengatakan pada taehyung untuk memutar arah dan pergi menuju Armynisty hotel. Taehyung yang mendengar penjelasan Jungkookpun dengan semangat membawa mobilnya dan pergi ketempat yang dibilang tadi.

Anak buah Jungkook sudah tiba terlebih dahulu di tempat yang Hoseok tunjuk. Selang beberapa waktu, Taehyung dan Jungkookpun tiba di gedung tua yang dimaksud.

Disekitar gedung itu sudah diberi garis polisi.

" Sepertinya kita datang terlambat,hyung? " ucap Jungkook dan taehyungpun mengangguk mengiyakan. Mereka berdua masuk kedalam gedung tersebut dan mendapati banyak darah.

"Apa ada korban jiwa?" tanya Taehyung kesalah satu polisi disana

"Tidak ada, tuan. Hanya saja ada 2 orang yg terluka parah terkena beberapa tembakan. Mereka berdua sudah dibawa kerumah sakit sekarang " tutur sang polisi

"Bagaimana dengan pelakunya?" tanya taehyung lagi

"Sudah kami amankan,tuan "

"Baguslah. Kerja bagus!" Taehyung menepuk pundak polisi tersebut.

"Terimakasih, tuan" Dan Taehyungpun berlalu memasuki gedung itu lebih dalam. Terlihat Jungkook tengah berbincang dengan salah seorang polisi. Mereka tampak serius.

Disisi lain Taehyung melihat seseorang tengah menangis terisak. Dia sangat familiar dengan wajah orang itu. Dia adalah Jung Hoseok. Taehyungpun mendekatinya. Hoseok tengah bersama manajernya, wajahnya masih tampak syok.

" Bagaimana kalau Yoongi hyung dan pelayan itu mati, hyung? Huwaaaaaaa... Aku merasa sangat bersalah" ucap Hoseok menangis keras dengan memeluk manajer kesayangannya itu.

"Tidak apa-apa, mereka pasti akan baik-baik saja. Percayalah" ucap manajer hoseok menenangkan.

Taehyung tidak jadi menghampiri Hoseok. Dipikirnya, Hoseok masih sangat shock jadi akan sulit dimintai keterangan lebih lanjut.

Hari sudah mulai pagi, Taehyung sudah kembali ke kantor polisi. Ia tengah merapikan beberapa berkas sebagai barang bukti pelengkap untuk membebaskan sahabatnya, Jimin.

Otak pelaku sebenarnya dari kasus ini tidak lain dan tidak bukan adalah keluarga korban sendiri. Adik dan juga kakak korban, Kim Hyun Myun dan Kim Seul gi. Mereka merencanakan pembunuhan ini atas dasar harta. Mereka geram karna harta ayahnya semuanya jatuh ke tangan Hyun Joong.

[Ohhh jadi begitu toh. Oke! Flasback end] ^_^

.

.

.

Yoochun dan Jimin sudah tiba di Pelataran rumah sakit, mereka berniat membesuk Yoongi yang sempat terluka saat menyelamatkan Namjoon, namun untung saja polisi cepat datang. Kalau tidak? Tamat riwayat Yoongi.

Dan kini tibalah mereka didepan pintu ruangan dimana Yoongi dirawat, dengan hati-hati Jimin masuk kedalam. Yoochun tidak ikut serta karena mendadak menerima telpon dari rekan kerjanya, jadilah Jimin masuk terlebih dahulu.

" Hyung.." panggil Jimin pelan mulai memasuki ruang rawat. Didalam ada beberapa pasien lain, Jimin mencari dimana Yoongi, hingga matanya menemukan sosok orang yang tak asing baginya.

' Yoongi? Pilot itu? ' gumam Jimin. Mereka pernah menjadi saksi sama-sama, wajar jika Jimin sangat mengingat wajahnya, walaupun kini sudah tampak jauh dari kata baik. Kepalanya terbalut perban, juga diwajah putih mulusnya terdapat luka lebam yang sangat kontrak.

JLEB!

Jimin merasa sangat bersalah. demi menangkap pelakunya, orang ini rela mengorbankan nyawanya. Tak terasa air matanya mulai menetes, dia berjalan secara perlahan kearah yoongi yang berada diujung ruangan. Yoongi tengah membaca sebuah buku hingga dia tidak menyadari Jimin sudah berada di pinggir kasur tidurnya.

" Hyung?" ucap Jimin dengan air mata berlinang. Yoongi menoleh

" Oh kau rupanya -" Yoongi menutup bukunya dan menatap Jimin dari atas ke bawah.

" Kau tampak jauh lebih baik ya sekarang?" lanjut Yoongi. Yoongi mengingat jelas pertama kali ia melihat jimin, sangat kacau, tak terawat dan memprihatinkan. Dan lihatlah sekarang? dia tampak seperti orang yang berbeda

Brukk...

Jimin memeluk Yoongi tiba-tiba. Dia terus menangis dan mengumamkan kata terima kasih dan maaf.

" Sudahlah sudah, kau berlebihan " ucap Yoongi berusaha melepaskan pelukan Jimin.

" Terimakasih Hyung, terima kasih. Dan maaf, karena aku kau jadi seperti ini " Jimin melepaskan pelukkanya dan menatap beberapa luka yang terdapat ditubuh Yoongi.

" Ah sudahlah. Ini tidak seberapa "

" Tidak seberapa apanya? Lihat! Kepalamu.. Wajahmu... tubuhmu.. kakimu.. semuanya luka, hyung " Yoongi hanya bisa bengong mendengar ucapan Jimin.

" Lagi pula, kau ini sok kuat sekali. Menghadapi preman itu sendirian? Kau pikir kau super hero, hah!"

Pletaaakkk...

" Auwhh.. " rintih Jimin, ada seseorang yang menggetok kepalanya

" Anak nakal.. Bukannya terima kasih malah ngebentak, bagaimana kau ini? -" ucap Yoochun, yang entah sejak kapan sudah berada diruangan itu

" Yoongi-shi.. Maafkan bocah tengil ini, ne? Dia memang tidak tahu sopan santun" Lanjut Yoochun ke Yoongi dengan mengacak rambut Jimin sayang.

" Ne.. tidak apa apa kok " Yoongi tersenyum manis, manisss sekali. Kalah gula jawa mah *eh XD
Jimin yang melihat senyum Yoongipun tak tersadar ikut tersenyum, senyum yang membuat matanya hilang. *lol*

" Nah Yoongi-shi, aku membawakan bubur untukmu " Yoochun mengeluarkan bubur buatannya tadi, dan dihidangkan dihadapan Yoongi.

" Ya ampun, anda tidak perlu serepot ini " ucap Yoongi sungkan.

" Tak apa, hyung. Appa ku ini pandai sekali memasak, kau harus memakannya, aku yakin rasanya pasti enak. Tidak kalah dengan bubur yg ada direstoran-restoran. Serius! " puji Jimin.

" Jangan didengar, bocah ini terlalu berlebihan" sahut Yoochun mengasak rambut Jimin gemas

" Baiklah kalau begitu, aku akan memakannya " Yoongi mengambil bubur tersebut dari tangan Yoochun dan menyuapkan kemulutnya.

" Bagaimana, Hyung? Enakkan? " tanya Jimin. Jimin duduk dipinggiran kasur Yoongi. Tepat disamping Yoongi.

" Emm.. Ini enak. Enak sekali. Terimakasih, ahjusshi " Yoongi tersenyum haru. Ya bubur ini mengingatkannya pada sosok ibunya. Mendiang ibunya dulu sering sekali membuatkannya bubur saat dirinya sakit. Sekarang dia sangat bersyukur bahwa ada orang lain yang peduli padanya.

" Tidak perlu memanggilku, Ahjusshi. Kau boleh panggil ku Appa, Yoongi-shi " ujar Yoochun yang langsung disetujui oleh Jimin.

" Iya panggil Appa saja, jadi sekarang kau kakakku, hyung. Ah jinjja! " jimin memeluk Yoongi girang.

" Auwhh" Yoongi mengaduh kesakitan. Pelukan Jimin terlalu kuat, hingga mengenai luka tembak di perut bagian kiri Yoongi.

" Maaf hyung aku terlalu excited " ucap jimin khawatir.

" Kau harusnya menjaga dia baik-baik, Jimin. Bukan malah menyakitinya" Yoochun mengecek luka Yoongi. Dan syukurlah baik-baik saja.

" Aku tidak sengaja " jawab Jimin sendu.

" Aku tidak apa-apa kok. Kau tidak perlu murung begitu? " Yoongi menenangkan Jimin.

Selain menjenguk Yoongi, Jimin dan Yoochun juga membesuk Namjoon yang tengah dirawat di rumah sakit yang sama. Namun karna lukanya yg cukup parah, Namjoon masih dirawat di ruang ICU dan belum sadarkan diri. Dan mengenai Hoseok, setelah kejadian tadi pagi dia dan manajernya telah pergi meninggalkan korea karena ada pertandingan yg harus diikuti Hoseok malam nanti.

Hari sudah sore, Yoochun dan Jiminpun pamit untuk kembali kerumahnya. Mereka pergi meninggalkan rumah sakit, dan jimin sudah berjanji pada Yoongi bahwa ia akan kembali lagi esok hari

" Jimin... " ucap Yoochun tiba-tiba, dia merangkul pundak anaknya

" Iya " sahut jimin

" Bagaimana kalau nanti malam kita adakan makan-makan? Kau undang Taehyung yah? "

" Taehyung? "

" Iya. Taehyung. Temanmu yang aneh itu " Jimin tampak murung. Malas mendengar nama Taehyung. Walaupun sekarang ia sudah bebas, tapi dia masih belum lupa saat Taehyung tak membelanya saat ia dijebloskan kepenjara. Sakit. Hati jimin seolah terluka, saat teman kesayangannya tidak mempercayainya.

" Aku tidak mau. Lebih baik tidak usah diadakan. " Jimin pergi meninggalkan Yoochun. Yoochun bingung. Ada apa dengan anaknya? Bukankah biasa dia yng paling semangat jika membicarakan Taehyung. Ada apa sekarang?

Yoochun pun mengejar Jimin yang sepertinya masih sangat kesal. Terlihat Jimin duduk disalah satu bangku taman di jalan arah kerumahnya.

" Kau kenapa? Sedang ada masalah dengan Taehyung, heum? " Yoochun duduk disamping Jimin. Jimin masih tampak murung. Dia menunduk dalam.

" Aku hanya kecewa, appa "

" Kecawa? " jimin mengangguk

" Dia tidak mempercayaiku, dan diam saja saat aku dijebloskan ke penjara. Aku kira aku dan dia itu teman "

" Hey.. Park Jimin, anak appa yang paling ganteng dan paling seksi. Dengarkan appa, sayang " Yoochun mengangkat wajah Jimin dan menyuruh jimin menatapnya.

" Kau tahu kan Taehyung itu seorang detective ? " Jimin menggiyakan. Ia tau sangat jelas itu

" Seorang detective itu tidak diperbolehkan untuk mudah mempercayai orang lain sekalipun dia keluarga atau temannya, apa kau lupa tentang itu? " Jimin kembali menunduk. Benar. Sepertinya dia yang tidak mengerti Taehyung, dan dia yang egois.

" Dan asal kau tahu, Taehyung juga yg berusaha keras membebaskanmu dari segala tuntutan. Dia mengurus semua kebebasanmu, nak. Bahkan appa tidak yakin kalau dia sudah tidur? " Jimin tampak berfikir.

" Kau sudah paham sekarang ? " tanya Yoochun

" "

" Baguslah, itu baru anak appa. Ayo kita pulang " Yoochun dan Jiminpun melanjutkan perjalanan mereka.

.

.

.

" Hoaaammm... "
Nampak Taehyung sedang bermalas-malas ria di salah satu meja dengan tampang yang sulit diartikan.

" Membosankan... Apa tidak ada pekerjaan yg bisa aku lakukan? " wajah Taehyung glosoran(?) diatas meja.

" Kau baru saja menyelesaikan tugasmu, hyung. Lebih baik kau pulang, dan beristirahat " sahut Jungkook disebrang meja. Dia tengah sibuk mengerjakan sesuatu.

" Aku malas " jawab taehyung dengan wajah yang sangat sulit terangkat dari meja. Sepertinya sudah tertempel XD.

" Kau itu aneh, hyung. Pulang kerumah sendiri saja malas. Aku heran " Jungkook masih sibuk mengotak-ngetik komputernya.

" Yaaahh... aku memang sudah terkenal aneh. Jadi kau tak perlu heran " jawab Taehyung sekenanya. Dia memangku dagu dengan kedua tangannya. Jungkook hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Taehyung. Ada orang aneh bangga dipanggil aneh, hanya Kim Taehyung yang begini *kekekee XD

" Bagaimana kalau kita cari makan? Aku sudah mulai lapar nih " ucap Jungkook. Dia menghentikan acara ketik mengetiknya. Dan menatap kearah taehyung dengan posisi yang sama. Memangku dagu dengan tangan.

" Waahh... ide bagus " Taehyung sumringah.

" Bagaimana kalau kita beli pizza? " lanjut taehyung

" Ani... Aku ingin burger "

" AH! Bagaimana kalau beli keduanya? "

" Aku tidak serakus itu, hyung " Jungkook memicingkan matanya

" Kau memang tidak, Kalau aku ?" Jawab Taehyung dengan eyesmile kebangsaannya XD

" Oke baiklah "

" Yasudah, Kajja! " Taehyung bangkit dari kursinya dengan wajah yang mendadak segar mendengar kata makanan.
Jungkookpun mengangguk dan sedikit merapihkan meja kerjanya.

" Kajja! " Taehyung merangkul Jungkook dan berjalan keluar dari ruangan tersebut,

.

.

.

" Kook? "

" Heum? " sahut jungkook dengan mulut penuh burger

" Menurutmu Jimin marah tidak padaku? " lanjut Taehyung

" Marah? Mana mungkin? Kau kan sudah menyelesaikan kasusnya, hyung "

" Iya sih, tapi saat dia melewatiku tadi seperti orang tidak kenal. Aku sungguh menyesal pernah meragukannya " Taehyung murung

" Itu hanya perasaan hyung saja. Aku yakin Jimin bisa mengerti posisimu. Bukankah kalian teman? " Jungkook mencoba meyakinkan Taehyung

" Iya kami memang teman. Tapi kami belum pernah mengalami hal serumit ini "

" Ayolah hyung. Aku yakin Jimin tipe yang pengertian. Percayalah padaku. Pulang dari sini kau mampir saja kerumahnya, hyung ?" Jungkook mengusap punggung Taehyung menenangkannya. Taehyung tampak berfikir

" Itu tidak terlalu buruk. Mungkin besok aku main kerumahnya " Taehyung mulai berseri kembali.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan jam 7 malam, Taehyung dan Jungkook berpisah dipersimpangan jalan dan pulang kerumah masing-masing.

' Ternyata bocah itu menyenangkan juga ' gumam Taehyung.

' Hati-hati, hyung ! " teriak Jungkook dari sebrang jalan melambaikan tangan tanda perpisahan. Tinggallah Taehyung sendiri, menelusuri jalan malam yang lumayan sepi untuk ukuran jam 7 malam. Kemana perginya orang-orang?

" HEH... MANUSIA ANEH!"

baru beberapa langkah, Taehyung mendengar seseorang berteriak lumayan keras

" HEH, ALIEN SARAP! "

'eh alien? Apa dia memanggil ku?' batin Taehyung.
Karena penasaran, Taehyungpun menoleh mencari sumber suara. Dan terlihatlah sosok pemuda yang tidak terlalu tinggi cenderung bantet(?) berdiri tak jauh dibelakangnya. Itu Jimin.

" Dari mana saja kau, jam segini masih berkeliaran? " Jimin mendekati Taehyung, dan melemparkan sebagian belanjaannya ke Taehyung. Taehyungpun dengan cekatan menangkapnya.

" Appa ku membuat acara makan-makan malam ini, untuk merayakan kebebasanku. Ayo ikut kerumahku? " Jimin merangkul pundak Taehyung akrab seolah tak terjadi apa-apa diantara mereka. Jimin bersikap seperti jimin biasanya. Taehyung senang dengan sikap Jimin ini, berarti kekhawatirannya soal Jimin yang marah padanya salah besar.

" Makan-makan? " Taehyung menghentikan langkahnya

" Iya, makan-makan. Kenapa? Kau tidak mau ikut? Ayah dan ibumu sudah ada dirumahku, jadi tidak alasan untuk menolak " jawab Jimin otoriter.

" Eh? Apa-apaan itu ? asal kau tahu saja, aku baru saja pergi makan tadi "

" Dengan siapa? Apa dengan Pemuda yang tadi ? " Tanya Jimin dengan ekspresi kaget yang dilebih-lebihkan. Taehyung mengangguk mengiyakan.

" Sepertinya dia polisi yg bersamamu saat itu kan? Saat kau mengintrogasiku waktu itu, ya kan? Siapa namanya? "

" Iya, namanya Jeon Jungkook. Dia polisi untuk daerah Seoul " ujar Taehyung

" Ohh... Dia cukup manis, tae. Kau punya hubungan apa dengannya? Apa kau ada 'sesuatu' dengannya? " Jimin menyipitkan matanya dengan menekankan kata sesuatu, menelisik sok jadi detective gadungan. Taehyung yang mengerti dengan apa yang Jimin maksud hanya bisa menghela nafas dalam.

" Dia laki-laki, Park Jimin " balas Taehyung dengan menekankan kata Laki-laki

" Memangnya kenapa? Bukannya sekarang lagi ngetren hubungan sesama jenis " jawab Jimin santai. Taehyung bengong,

" Aisshh.. Jinjja! AKU MASIH SUKA MELON, PARK JIMIIIIN!" taehyung geram

" HAHAHAHAHAAA... "

" DASAR JIMINIE PABOOO! " teriak Taehyung tepat ditelinga Jimin. Namun Jimin sudah lebih dulu lari sekencangnya dengan tawa yang sangat amat ngeledek. Taehyung yang kesal pun mengejarnya. Mereka rusuh disepanjang jalan yang mereka lewati.

SEMOGA PERSAHABATAN TAEHYUNG-JIMIN ABADI

(THE END)

Author's say :

Akhirnyaaaaaaa...
Setelah berjutajuta(?) tahun, Kelar juga ini cerita wkwkw...
Ngaret banget ya? iya gue tau #plak

mian mian miaaaaaaan banget, terlalu banyak halangannya ini haduh xD

sebenernya gue udah update chapter ini di wattpad, ciee udah punya wattpad ciee #hahay

iya, gue udah punya akun Wattpad sekarang. Namanya sama kok v_minho juga

gue udah update chapter ini disana duluan,

soalnya lebih mudah dan lebih fleksibel menulis disana dibanding disini

*digamparFFNlovers* haha

Gue pribadi masih belom puas sama chapter ini,

tapi segini aja udah sampe 4k word, hampir 20 page word

BAZEEEENG!

Keasikan nambahin gue wkwkw
Padahal awalnya gak sebanyak ini, betewe -.-

Semoga pada suka ya ^0^
Terimakasih banyak buat yg udah mau nyempetin baca cerita khayalan gaje gue ini, maaf kalo kurang memuaskan(?).

Terimakasih juga buat yang udah ngefollow dan memfavoritkan cerita ini

juga semua komentar-komentar manis kalian

KAMSAHAMNIDA Chingu~ya

SAMPAI KETEMU DICERITA KHAYALAN GUE YANG LAIN YA,
SEE YOU /ketjupbathah/ :*

MIANHEE

SARANGHAE

GOMAWOO
/bow sedalamdalamnya/

Best Regard,

MayVee sayang alien :v

SEE YOU BYE.. BYE..