Flasback Chapter 1:
"Alice, namaku Alice yoroshiku uhuk uhuk." Jawab di selinggi dengan batuk yang menyerangku.
"Kau sepertinya sakit Alicechan, wajahmu memerah."
"A-aku baik-baik saja sensei sungguh uhuk." Ais batuk ini benar-benar mengangguku dan juga kenapa kepalaku berkunang-kunang.
Bruk…
"ALICECHAN."
.
OWARI NO SERAPH © KAGAMI TAYAKA
INTO THE WORLD OWARI NO SERAPH © SHERRYSAKURA99
.
WARNING: OC, OOC (mungkin), jika ada yang kurang mengerti jalan ceritanya atau banyak kesalahan Typo mohon di maklumi, cerita mengikuti timeline dari ONS dengan sedikit tambahan dari saya.
Genre: Friendship, Humor (mungkin, walau humornya agak garing), Hurt/Comfort, Romance
Rate:T
Pair: Hyakuya Yuuichirou X OC (Alexandra Alice)
Hyakuya Mikaela X OC (Miwa Hanabi)
.
Chapter 2: Jadian.
.
Hanabi Pov~
Aku melihat tubuh Alice yang terbaring lemah diatas kasur dan dalam pemeriksaan dokter, apa gara-gara Alice memberiku jaket dia jadi sakit seperti itu?.
"Bagaimana keadaannya sensei?." Tanpa ibu pengasuh pada dokter.
"Dia terkena asma." Jawab dokter, eh apa?, dia kena asma?.
"Tapi selama aku mengenalnya dia tidak pernah bercerita kalau dia punya asma?." Tanyaku.
"Mungkin saja penyakitnya sudah sembuh tapi ketikah dia strees atau kedinginan dan terkena flu kadang bisa kambuh."
"Benar juga, tadi dia sempat kedinginan dan terkena flu karena hujan-hujanan." Komentar ibu pengasuh.
"Souka, mungkin itu yang menjadi penyebab penyakitnya kembali kambuh, dan juga karena panasnya belum turun mungkin dia akan mengalami halusinasi, jadi usahakan untuk mengompresnya hingga panasnya turun dan dia berhenti batuk-batuk." Ucap dokter itu sambil membersikan alat-alat yang tadi dia gunakan lalu memberikan beberapa obat pada ibu pengasuh sedangkan aku sendiri segera mendekat kearah Alice. Wajahnya sangat merah dan juga dia terlihat sulit bernafas, ini semua salahku, seharusnya aku menolak saat dia memberiku jaket, dan bagaimana bisa aku tidak mengetahui dia punya penyakit asma?.
"Hanabichan, ayo keluar sebentar kita biarkan saja Alicechan istirahat, kau juga pasti lapar kan." Ucap ibu pengasuh tersenyum kearahku.
"A-aku tidak lapar, aku ingin disini saja menjaga Alicechan."
"Tapi kan-."
"Onegai Alicechan sudah aku anggap sebagai keluargaku dan kakakku sendiri aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja." Pintaku pada ibu pengasuh.
"Wakatta, tapi jangan paksakan dirimu ya."
"Hai." Ibu pengasuh itu keluar dari kamar sedangkan aku memutuskan untuk tidur disampingnya dan memeluk tubuh Alice.
"Aku berharap kau cepat sembuh Alicechan." Doaku sebelum aku mulai terlelap di sampingnya.
~Into The World Owari No Seraph~
"Hei bangun, mau sampai kapan kau tidur?." Ucap sebuah suara dan aku bisa merasakan seseorang itu mengguncang-guncang pelan tubuhku, dengan malas aku membuka mataku dan melihat warna biru, eh biru?, iie lebih tepatnya ini seperti rambut seseorang.
"Akhirnya kau bangun juga putri tidur, ini sudah pagi tau." Lanjutnya dan aku baru sadar kalau yang membangunkanku adalah Alice.
"Alicechan…Alicechan." Ucapku sambil memeluknya dengan sangat erat.
"Syukurlah, syukurlah kau sudah bangun."
"Hee perkataanmu seolah mengatakan aku sudah tidur selama bertahun-tahun."
"Habisnya aku senang kau sudah bangun, kenapa kau tidak mengatakan kalau kau punya penyakit asma?."
"Kau tidak bertanya, lagipula aku pikir penyakit itu sudah sembuh jadi aku tidak mengatakannya padamu."
"Mou tidak adil, kau tau semua tentangku tapi aku tidak tau apapun tentangmu."
"Kalau begitu kau harus mencari tau ne, saa bersikan dirimu dulu dan makan sana, nanti kau tertular lagi." Ucapnya mencoba mengusirku.
"Hai, hai." Aku turun dari atas kasur lalu keluar dari kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Ah ohayo Hanabichan." Sapa ibu pengasuh ketikah aku sudah keluar dari kamar mandi.
"Ohayo sensei."
"Bagaimana keadaan Alicechan?."
"Sudah lebih baik, setidaknya panasnya sudah turun."
"Souka, kalau begitu kau makan bersama yang lainnya ya, sensei mau mengantar makanan ini pada Alicechan." Ucap ibu pengasuh sambil membawa nampan ditangannya. Aku hanya menganggukan kepalaku sebegai jawaban dan pergi keruang makan, ternyata disana sudah berkumpul anak-anak penghuni panti asuhan.
"Ah Hanabichan duduklah disini." Pinta Mika sambil menepuk-nepuk kursi yang ada disampingnya dengan senyuman khasnya. Aku membalas senyumannya walau sebatas senyuman poker face, soalnya aku lagi malas senyum juga karena Alice tidak ada disampingku. Aku memutuskan untuk duduk di antara Mika dan Yuuichiro.
"Jadi bagaimana keadaan Alice-san?." Tanya Mika sambil memakan makanan miliknya.
"Sudah lebih baik aku rasa, tapi tetap saja aku mengkawatirkannya."
"Kalian terlihat sangat dekat." Komentar Yuuichiro.
"Tentu saja, soalnya dia satu-satunya sahabat, iie dia sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri."
"Hee manisnya saat kau mengatakan aku seperti kakakmu sendiri." Ucap seseorang di telinga kananku membuatku langsung menoleh kearahnya yang ternyata adalah Alice.
"Alicechan, cotto bukannya kau harus istirahat?."
"Aku bosan jadi aku putuskan untuk ke sini."
"Tidak boleh kau harus istirahat Alicechan."
"Hai hai kau jadi seperti okaa-san, tenang saja selama aku tidak kedinginan aku tidak akan apa-apa." Jawab Alice sambil megacak-ngacak rambutku, sedangkan aku hanya menatap sebal kearahnya. Selesai makan, aku dan Alice langsung ditarik oleh anak-anak itu keruang bermain, ya bisa dikatakan kami menjadi baby sister disini.
Alice Pov~
"Jadi kau Alice?." Tanya Yuuichiro yang kebetulan duduk disampingku.
"Ya dan kau?." Tanyaku walau aku sudah tau tapi akan terasa aneh kalau aku langsung memanggil namanya, hey kita baru saja ketemu kemarin kan?, entar dikira aku stalker lagi.
"Yuuichiro desu."
"Yuuichiro-san, boleh aku memaggilmu Yuu?."
"Y-ya terserah kau saja."
"Kau sudah lama disini?."
"Baru dua bulan yang lalu."
"Souka, kau terlihat betah ya." Godaku yang langsung mendapat tatapan 'kau sedang bercanda denganku?' olehnya.
"Hehehehe bukannya mereka tampak menyenangkan?."
"Tapi tetap saja mereka orang asing bagiku."
"Kau hanya belum mengenal mereka saja, cobalah berbaur, ya walau aku sendiri juga tidak suka berbaur sih."
"Ehem, ehem ada yang lagi PDKT nih." Komentar Hanabi menatap kami dengan seringai lebar diwajahnya.
"Chi-chigauyo, aku hanya memberikan saran itu saja."
"Hee tsundere."
"Aku tidak tsundere, bisa kau hentikan itu."
"Orang tsundere tidak pernah mengakui dirinya tsundere."
"Hanachan."
"Hihihi Alicechan kalau sedang tsun-tsun manis deh, tapi lebih manis lagi kalau dare-darenya keluar."
"Hoo kau mau merasakan pedang kayu milikku Hanachan?." Tanyaku mengambil pedang kayuku yang entah kudapat darimana dan memesang seringai menakutkan diwajahku.
"I-iie Alicechan aku hanya bercanda, dan jauhkan pedang itu."
Ya kira-kira seperti itulah keseharianku dan Hanabi, kami bermain, bercanda, ngobrol, menggosip, nonton tv, bermain music, membaca cerita atau bercerita dan lain sebagainya. Aku serasa punya keluarga baru disini dan ini sangat menyenangkan, kalian tau Hanabi semakin dekat saja dengan Mika, mereka terlihat sering mengobrol bersama, bercanda, kadang Mika menunjukan sisi manisnya pada Hanabi. Kalau aku sih bisa dibilang juga cukup dekat dengan Yuuichiro walau kedekatan kami selalu diisi dengan pertengkaran ataupun kata-kata sarkas dariku, tapi meskipun begitu terkadang dia bisa bersikap lembut padaku, seperti memberiku sekuntum bunga lyly kesukaanku. Kami berempat sangat dekat sudah seperti keluarga walaupun aku yakin lebih dari itu.
"Kau melamun lagi Alicechan." Ucap Hanabi ikut duduk disampingku.
"Iie aku hanya sedang mengenang sesuatu?."
"Apa?."
"Bukan apa-apa?, hei Hanachan mau berlatih pedang denganku sebentar?." Ucapku berdiri dari posisi dudukku dan mengambil pedang kayu disampingku.
"Boleh saja, tapi tumben sekali kau mau berlatih denganku?." Tanya Hanabi juga mengambil pedang kayu.
"Soalnya hanya kau yang bisa aku ajak latihan, mau pakai pelindung?."
"Tidak perlu, ikuh." Jawab Hanabi mengambil posisi bertarung begitu juga denganku yang telah memasang kuda-kuda.
"Majulah Hanabi."
"Baiklah terima ini." Ucapnya berlari kearahku dan mengarahkan pedang kayunya kearahku, tetunya dengan mudah aku bisa menahan serangannya tersebut.
"Seranganmu lemah Hanachan."
"Ini masih belum." Jawabnya mencoba menendangku dari sebelah kanan tapi aku bisa menahannya dengan tangan kiriku, diapun melompat dan kembali mencoba menyerangku hanya saja aku bisa menghindari semua serangannya dengan mudah, ya iyalah Hanabi bukan petarung jarak dekat jadinya semua serangannya bisa aku hindari. Lihat saja wajahnya yang sudah sangat kelelahan padahal kami baru saja berlatih selama 10 menit.
"Saa sepertinya harus aku yang mengakhirinya." Aku berlari dengan cepat kearahnya dan dengan sekali hentakan pedang kayu miliknya lepas dari tangannya sedangkan aku langsung mengarahkan pedang kayuku kelehernya.
"Baiklah-baiklah aku menyerah, sasuga pemain kendo pro memang tidak bisa dikalahkan ya." Ucap Hanabi sembari mengangkat kedua tangannya keatas tanda dia menyerah. Aku tersenyum dan menarik kembali pedang kayuku dari leher Hanabi tepat saat suara tepuk tangan terdengar dari arah balkon.
"Sugoii neechan gerakanmu tadi benar-benar keren." Puji salah satu anak-anak penghuni panti yang ternyata melihat pertarungan tadi.
"Benar seperti seorang samurai."
"Darimana kau mempelajarinya?." Tanya anak perempuan bersurai coklat yang dikepang menyamping bernama Ayane.
"Ayahku megajariku sedikit, selanjutnya aku belajar sendiri." Jawabku, meletakan pedang kayu kembali keasalnya.
"Tapi kau seperti sudah menguasainya selama bertahun-tahun."
"Hehehe jangan salah, dia itu seperti titisan Masamune Date." Komentar Hanabi.
"Ya dan kau Nobunaga Oda."
"Chigau, aku lebih memilih Sanada Yukimura karena dia jauh lebih tampan, ah benar juga kenapa tidak di pairkan saja, Sanada Yukimura dan Masamu-auch." Ucapnya terputus begitu aku memukul kepalanya.
"Jangan merusak pikiran polos anak-anak ini dengan hal itu." Ancamku dengan aura-aura hitam yang menguar dari tubuhku, sedangkan Hanabi sempat menelan ludahnya sendiri dan beringsut mundur bersembunyi di belakang Mika yang tak jauh darinya.
"Wa-wakatta wakatta."
"Hah kau ini, kalau kau berbicara masalah itu hanya padaku sih boleh saja, tapi jangan pernah menularkan virus fujo itu pada anak-anak yang lain."
"Iya iya aku tau kok." Jawabnya memasang wajah cemberut.
"Hehehe kadang-kadang kalian tidak terlihat seperti anak-anak ya, lebih seperti orang dewasa malah." Komentar ibu pengasuh sembari membawa beberapa miuman di nampan yang dia bawah. 'Tentu saja kami kan sudah dewasa', maunya sih ngomong kayak gitu tapi aku urungkan soalnya mereka pasti tidak akan percaya.
"Itu hanya perasaan sensei saja kok." Jawab Hanabi tersenyum kearah ibu pengasuh.
"Ah sudah saatnya tidur siang, sebaiknya kalian semua tidur ya."
"Heee."
"Demo sensei kami belum mengantuk." Jawab salah satu anak-anak itu.
"Iya kami belum lelah sensei." Timpal yang lain.
"Hmm bagaimana kalau kami berdua menyanyikan sesuatu agar kalian semua bisa tidur." Usul Hanabi mengerling kearahku.
"Hee kau mau bernyanyi?." Tanyaku.
"Bukan aku tapi kita Alicechan, kau yang bermain gitar ya."
"Eh kau bisa bermain gitar Alice?." Tanya Yuu menatap kaget kearahku.
"Tentu saja itu mudah." Jawabku mengambil gitar disudut ruangan.
Kamipun pindah kesebuah ruangan tempat kami biasanya istirahat, anak-anak itu mulai memposisikan diri mereka di tempat tidur masing-masing begitu juga dengan Yuuichiro dan Mika. Sedangkan aku dan Hanabi duduk di lantai depan mereka semua, kami memutuskan untuk menyanyikan lagu ost dari SAO II yang berjudul Courage, sudah lama sekali aku tidak berduet dengan Hanabi. Hoo jangan salah gini-gini kami bisa bernyanyi dan sempat ditawari oleh beberapa produser yang kebetulan mendengar suara emas kami, tapi kami menolak dengan alasan masih sekolah, walau alasan sesungguhnya kami tidak mau melakukan hal yang merepotkan, hei jadi seorang entertainer itu merepotkan.
Selesai menyanyikan lagu itu aku melihat sekeliling, hee ternyata mereka semua sudah tertidur bahkan Mika dan Yuu juga sudah tidur. Dengan mengendap-endap kami keluar dari dalam kamar menuju taman disamping rumah.
"Mereka cepat sekali tidurnya." Komentar Hanabi sambil meregangkan tubuhnya.
"Mungkin karena kita melantunkan lagu slow jadi mereka cepat tidur, coba kalau rock, mereka pasti sudah loncat-loncat gak karuan sekarang." Komentarku yang sempat membuat Hanabi tertawa.
"Hahaha kau benar Alicechan, ne sebentar lagi waktunya kan?." Ucapnya dengan wajah serius.
"Apa maksudmu waktu-ah yang itu ya, ya aku rasa sebentar lagi waktunya." Komentarku memandang kearah langit biru yang ada diatas kami.
"Tidak akan ada kebebasan."
"Tidak akan ada kebahagian."
"Yang ada hanyalah kegelapan." Ucap kami bersamaan lalu menghela nafas. Benar, hari itu semakin dekat, hari dimana sebagian dari orang dewasa akan musnah dari dunia ini. Hari dimana para vampire menginvansi para manusia dan menjadikannya hewan ternak. Hari yang akan mengubah segalanya.
~Into The World Owari No Seraph~
"Ikuh-ikuh ayo cepat."
"Cotto kita mau kemana Alice, Hanabi?."
"Sudahlah kalian berdua ikut saja."
Kalian pasti penasaran kan dengan kejadian barusan, sebenarnya aku dan Hanabi punya rencana akan mengajak Yuu dan Mika melihat festifal terakhir musim panas sebelum memasuki musim gugur, ya hanya kami berempat saja, untungnya ibu pengasuh mengijinkan kami untuk pergi walau kami sempat mendapat ceramah panjang dari beliau sih.
"Baiklah kita sudah sampai." Ucap Hanabi begitu kami sampai didepan gerbang festival.
"Festival musim panas?." Tanya Yuu.
"Waah ini pertama kalinya aku pergi ke festival, harusnya kita mengajak yang lainnya." Komentar Mika.
"Kapan-kapan kita ajak mereka kemari, ikuh kita berkeliling dulu." Ucapku menarik tangan Yuu masuk kedalam festival begitu juga Hanabi.
Pertama-tama kami mengunjungi kuil untuk berdoa, setelah itu kami mulai menjelajai tempat itu. Mulai dari ke stand permainan, membeli permen kapas dan lain sebagainya, sampai kami berhenti disebuah stand aksesoris.
"Wah lihat-lihat Alicechan, gelang ini cantik kan, ayo kita beli." Ucap Hanabi mengambil sebuah gelang berhiaskan manik-manik yang tidak terlalu girly dan ini bisa dipakai oleh segala gender.
"Memang cantik kok, kalau kau mau beli, beli saja."
"Arigato Alicechan, yosh ayo kita beli sekalian beli untuk yang lainnya juga." Ucap Hanabi kelewat semangat. Pada akhirnya kami membeli gelang itu, gelangku berwarna biru, milik Yuu hijau, Mika warna putih, sedangkan Hanabi warna abu-abu, kalau untuk yang lain sih kami membelinya secara acak. Saat kembang api akan dimulai, kami memutuskan untuk berpisah, aku langsung menggandeng Yuu menuju sebuah bukit tak jauh dari festival.
"Kenapa kau mengajakku kesini?." Tanya Yuu menatapku dengan wajah penasaran. Sedangkan aku mengambil tempat duduk dibawah pohon diikuti oleh Yuu yang duduk disampingku.
"Kita bisa melihat kembang api dengan jelas dari sini." Tak lama kemudian kembang api mulai bermunculan menghiasi langit malam dengan warna-warna yang mereka hasilkan, terlihat sangat cantik dan begitu indah, lagipula mungkin ini akan menjadi festival musim panas terakhir kami.
"Cantik ya." Komentarku masih menatap kearah kembang api itu.
"Ya kau benar, tapi aku rasa kau lebih cantik dari kembang api itu." Ucap Yuu tanpa dia sadari membuat wajahku langsung bersemu merah begitu juga dengannya, e-eh apa dia bilang tadi?.
"K-kau mengatakan apa barusan?."
"Bu-bukan apa-apa lupakan saja." Jawabnya mengalihkan pandangannya dariku, jujur aku sedikit kecewa sih dia tidak mengatakannya lagi, ta-tapi bukannya aku peduli.
"Hei."
"A-apa?."
"Bisa pinjam tanganmu sebentar?."
"U-untuk apa."
"Sudahlah lakukan saja." Paksanya, dengan wajah kesal aku mengulurkan tangan kiriku padanya dan ternyata dia menyematkan sebuah cincin perak dijari manisku.
"I-ini."
"Sebenarnya kalau boleh jujur aku sudah tertarik denganmu sejak kau pertama kali muncul, lalu lama kelamaan ada perasaan yang aneh datang ketikah aku bersamamu, saat aku menanyakannya pada ibu pengasuh beliau mengatakan kalau aku menyukaimu tapi aku rasa ini lebih dari sekedar rasa suka, ne walau kita masih kecil apa k-kau mau jadi pacarku, a-aku bukan orang yang romantis jadi aku hanya bisa memberimu cincin itu." Ucap Yuu dengan malu-malu, ais dia lucu sekali.
"Pfftt hahahaha." Tanpa bisa ditahan aku langsung tertawa melihat ekspresi wajah Yuu yang baru pertama kali ini aku melihat ekspresi wajah seperti itu, tentunya hal itu membuat Yuu sempat kebingungan.
"Ke-kenapa kau tertawa?."
"Hahahaha wajahmu lucu sekali Yuu."
"Jangan tertawa, a-aku sudah memberanikan diriku untuk mengatakan itu." Omelnya mengalihkan wajahnya dariku.
"Hahaha gomen, gomen, darimana kau dapat kata-kata seperti itu?."
"Hanabi desu." Jawabnya lirih tapi masih bisa aku dengar.
"Souka, Hanachan ya, baiklah aku menerimanya."
"Be-benarkah?."
"Apa aku terlihat seperti bercanda?." Jawabku dan tiba-tiba saja dia langsung memelukku, untungnya aku menahan tsun-tsunku untuk sementara waktu, soalnya tadi aku hampir memukul perutnya loh.
"Arigato, hountoni arigato, aku janji aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku akan selalu melindungimu, aku janji." Ucapnya mempererat pelukannya.
"Ba-baka jangan mengatakan hal yang bodoh, ka-kau seperti akan melamarku saja." Jawabku membalas pelukannya dan membenamkan wajahku diperpotongan lehernya, ukh aku benar-benar malu saat ini, pasti wajahku sudah sangat merah sekarang.
"Hehehe, sepertinya itu ide yang bagus, kalau aku sudah dewasa aku akan melamarmu."
"Su-sudah aku bilang jangan mengatakan hal yang bodoh."
"Aku serius, itu janjiku dan aku akan menepatinya pasti." Ucapnya melepas pelukannya dan menatap kearahku dengan wajah serius.
"Te-terserah kau sajalah, ta-tapi kau berjanji tidak akan meninggalkanku kan?."
"Tentu saja, aku akan selalu bersamamu." Jawabnya sambil mengecup keningku, haduh kenapa Yuu jadi ooc gini sih?, hah mungkin benar kata orang-orang, cinta bisa mengubah seseorang pria yang dingin sekalipun menjadi romantis.
"Oh ya ngomong-ngomong di cincin itu ada ukiran namamu dan namaku, aku juga pakai cincin yang sama jadi kita bisa couple." Ucapnya tersenyum lebar kearahku sambil menunjukan cincin dijari manisnya yang menurutku cukup kebesaran, sama kayak punyaku yang juga kebesaran.
"Gomen kalau misalnya cincin itu kebesaran." Lanjutnya.
"I-iie ti-tidak masalah, lagipula kalau begini aku bisa memakainya sampai dewasa kan?, ta-tapi bukannya aku peduli loh ya."
"Hehehe ternyata benar apa kata Hanabi kalau kau itu tsundere ya."
"A-aku tidak tsundere."
"Orang tsundere tidak akan mengakui dirinya tsundere."
"Kau ini, cotto darimana kau tau istilah tsundere?." Tanyaku penasaran, hey anak sekecil Yuu tidak mungkin mengerti arti kata tsundere.
"Hanabi yang menjelasakannya padaku." Jawabnya memasang pose berpikir, seketikah aura-aura hitam langsung menguar dari tubuhku.
"Apa saja yang dia katakan padamu?."
"Dia hanya menjelaskan macam-macam dare saja tidak lebih."
"Souka." Dalam hati aku bersyukur dia tidak menjelaskan apapun pada Yuu lebih dari itu, aku tidak ingin otak polos Yuu tercemari dengan otak fujo Hanabi.
"Sepertinya kembang apinya akan selesai, bagaimana kalau kita temui yang lainnya?." Ucap Yuu berdiri dari posisi duduknya lalu mengulurkan tangannya padaku. Aku sempat ragu tapi akhirnya aku menerima uluran tangannya dan kami kembali ke festival dengan tangan yang saling bertautan, walau ini cukup memalukan tapi aku senang bisa menggandeng tangan Yuu seperti ini, aku harap waktu bisa berhenti agar aku bisa selamanya seperti ini dengan Yuu.
~Into The World Owari No Seraph~
Hanabi Pov~
Saat kami berpisah, aku menarik Mika kesebuah danau yang tak jauh dari tempat festival dan terlihat ada beberapa pasangan juga berada disini. Aku memutuskan duduk didekat danau sedangkan Mika duduk disampingku.
"Kenapa kita disini?." Tanya Mika.
"Soalnya dari sini kita bisa lihat kembang apinya dengan jelas." Jawabku bersamaan dengan kembang api yang muncul di langit, ngomong-ngomong aku sangat suka kembang api seperti namaku Hanabi yang berarti kembang api, soalnya mereka tampak cantik saat dinyalakan.
"Wah cantik sekali, aku selalu suka saat kembang api muncul." Komentarku menatap kearah langit dengan mata berbinar-binar.
"Mereka memang tampak cantik." Timpal Mika juga menatap kearah langit dengan senyuman khasnya.
"Oh ya ada sesuatu yang ingin aku berikan pada Mika-sama." Ucapku mengambil sesuatu dari dalam sakuku yang ternayata adalah sebuah cincin perak, ya cincin yang tadi sempat aku beli bersama dengan Yuu, disana juga ada ukiran namaku dan Mika. Mika hanya diam saja menatapku dengan wajah terkejut.
"Se-sebenarnya a-aku menyukaimu, iie a-aku mencintaimu sangat, ja-jadi maukah kau menerima pernyataan cintaku, a-aku tau kalau ini terlalu tiba-tiba tapi-." Ucapku terputus begitu merasakan sebuah pelukan dari Mika.
"Tentu saja aku menerimanya, soalnya aku juga menyukai Hanabichan, tapi tidakkah ini terlalu cepat?." Tanya Mika melepas pelukannya dan menatap kearahku.
"A-aku tau, aku hanya ingin mengatakannya saja kok, ti-tidak apa-apa kan?." Tanyaku sambil menundukan kepalaku, aku tidak bisa menatapnya dengan wajah memerah seperti ini.
"Aku mengerti, sebagai gantinya aku juga akan memberikan sesuatu." Ucap Mika mengambil cincin itu dari tanganku lalu memakainya dijari manis tangan kirinya dan terlihat kalau itu cukup kebesaran, dia juga mengambil sesuatu dari sakunya dan meletakan benda yang ternyata adalah jepit rambut berbentuk bunga mawar warna merah ditanganku yang masih terulur.
"Ca-cantiknya, arigato Mika-sama hountoni, aku akan menjaganya."
"Mou panggil aku Mika saja tidak perlu pakek –sama, kau tau itu sedikit mengangguku."
"Souka, jaa kalau begitu Michan saja boleh."
"Tentu saja."
"Kalau begitu Michan bisa pasangkan jepit ini di rambutku?." Pintaku yang dijawab kekehan olehnya.
"Baiklah aku akan memasangkannya." Mika mengambil jepit itu dari tanganku dan menyematkannya di poni sebelah kiriku.
"Sudah, kau terlihat sangat cantik memakai jepit itu." Pujinya membuat wajahku langsung bersemu merah.
"A-arigato."
"Kalau begitu ayo kita pergi hime-sama." Ucap Mika sambil mencium punggung tanganku persis seperti pangeran, ya dia memang pangeranku sih. Kami pergi dari tempat itu dengan Mika yang terus menggandeng tanganku sepanjang perjalanan, aku tersenyum dan memutuskan untuk memeluk lengan Mika, hah aku berharap ini tidak cepat berakhir karena aku masih ingin terus bersamanya.
.
To Be Continue
.
Baiklah saya akan langsung menjawab review yang masuk.
Marry: Ini sudah lanjut, dan mereka berdua memang imut kok :D.
Terus ikuti cerita ini dan jangan lupa REVIEW PLEASE…!.
.
See You Next Chapter 3: Kematian
