Flashback Chapter 2
"Tentu saja."
"Kalau begitu Michan bisa pasangkan jepit ini di rambutku?." Pintaku yang dijawab kekehan olehnya.
"Baiklah aku akan memasangkannya." Mika mengambil jepit itu dari tanganku dan menyematkannya di poni sebelah kiriku.
"Sudah, kau terlihat sangat cantik memakai jepit itu." Pujinya membuat wajahku langsung bersemu merah.
"A-arigato."
"Kalau begitu ayo kita pergi hime-sama."
.
OWARI NO SERAPH © KAGAMI TAYAKA
INTO THE WORLD OWARI NO SERAPH © SHERRYSAKURA99
.
WARNING: OC, OOC (mungkin), jika ada yang kurang mengerti jalan ceritanya atau banyak kesalahan Typo mohon di maklumi, cerita mengikuti timeline dari ONS dengan sedikit tambahan dari saya.
Genre: Friendship, Humor (mungkin, walau humornya agak garing), Hurt/Comfort, Romance
Rate:T
Pair: Hyakuya Yuuichirou X OC (Alexandra Alice)
Hyakuya Mikaela X OC (Miwa Hanabi)
.
Chapter 3: Kematian.
.
*Alice Pov*
Hari yang dinantikan datang juga.
"Hah…hah…hah…"
Hari dimana virus itu mulai menyebar dan membunuh sebagian umat manusia.
"Hah…hah…ayo cepat kita harus segera sampai ke rumah."
Hanya anak-anak dibawah usia 13th saja yang bisa bertahan dari serangan virus itu. Sempat terjadi kepanikan serta suara teriakan dimana-mana, tapi sekarang mungkin yang terdegar hanya suara alarm mobil, para hewan yang masih hidup, serta langkah kaki kami. Aku sempat menoleh kearah Yuu yang tiba-tiba saja berhenti dan melihat kearah seorang pria yang muntah darah dan tewas ditempat.
"Yuu ikuh." Ucapku menarik tangan Yuu menjauh dari tempat itu.
Aku juga mendengar pengumuman yang aku yakini merupakan suara dari ratu para vampire Krul Tepes saat kami sudah sampai di panti asuhan, hanya saja aku tidak terlalu memperdulikan dan segera masuk kedalam, toh aku sudah tau keseluruhan isi dari pengumuman itu. Sesampainya didalam aku melihat ibu pengasuh tergeletak tak bernyawa di depan Akane dan satu anak lagi disampingnya, segera aku mendekat kearah ibu pengasuh dan mengecek denyut nadinya.
"Dia sudah tewas." Ucapku membuat mereka semua sempat terkejut dengan ucapanku.
Tepat saat itu aku mendengar suara seseorang masuk kedalam panti asuhan dan mendekat kearah ruangan tempat kami berada. Lalu seperti dicerita aslinya, dua vampire mendekat kearah kami dan menggiring kami kedalam sebuah truk yang mana banyak sekali anak-anak kecil berada didalamnya. Aku terus menggenggam tangan Yuu selama diperjalanan karena dia sendiri juga tidak berniat melepas genggaman tanganku, aku hanya bisa berharap kalau semua akan baik-baik saja, ya setidaknya sampai takdir Yuu dan Mika dimulai nanti.
.
4 tahun kemudian~
Tak terasa sudah 4 tahun kami berada di Sanguinem, kota para vampire tempat dimana kami tinggal untuk dijadikan hewan ternak, itu bisa dilihat dari pakaian yang kami kenakan walau aku dan Hanabi sedikit memodif pakaian ini karena bagiku terlihat sedikit kuno, jadi aku memutuskan untuk memodif bagian rok dengan memberi sedikit lipatan dibeberapa bagian juga membuat roknya sedikit mengembang lalu kami juga memberi sabuk dibagian pinggang warna hitam untukku dan warna putih untuk Hanabi.
Dan saat ini kami sedang di absen untuk diambil darahnya. Hah kadang aku tak habis pikir memang apa enaknya darah manusia itu?, aku saja mencicipi darahku sedikit rasanya sangat tidak enak tapi bagi para vampire itu adalah sumber kehidupan mereka. Aku juga penasaran apa vampire di sini takut dengan matahari, salip, dan bawang putih?, lalu apa mereka selalu mengatakan bla…bla…bla…bla…ya?, ups salah cerita kayaknya, kalau itu mah Cound Dracula yang mengucapkannya.
"Berikutnya."
"Hyakuya Yuuichiro."
"Hyakuya Alice."
"Hyakuya Hanabi."
"Hyakuya Mikaela."
Setelah di absen kami memasuki sebuah ruangan yang mana diruangan inilah kami akan di ambil darahnya secara gratis, kalau aku bisa protes aku ingin menarif biaya atas pengambilan darah kami, hey kami kaum manusia juga butuh darah kali.
Baiklah diambil darah sudah, diberi minuman penambah darah sudah, sekarang tinggal istirahat dulu sejenak mengembalikan cairan tubuh dari meminum minuman yang diberi para vampire itu walau harus aku akui rasanya tidak enak, bahkan jus buatan Kayano temanku yang tidak pandai memasakpun masih lebih baik dari pada minuman ini.
"Hyaaaa." Teriak Yuu sambil meremas minuman ditangannya hingga isinya keluar semua.
"Kau tidak meminumnya lagi Yuuchan, nanti kau bisa sakit loh." Komentar Hanabi.
"Aku tidak mau meminum minuman menjijikan ini."
"Aku tau minuman ini tidak enak, bahkan minuman buatan Kayano masih lebih baik dari minuman ini." Komentarku membuat Hanabi sweetdrop.
"Aku pikir kau tidak menyukai masakan Kayachan?."
"Memang enggak, siapa yang mau makan makanan gak jelas bentuknya seperti itu."
"Alicechan kata-katamu kejam juga ya."
(Kayano: Hasyuu)
(Rei: Doushita Kayano?)
(Kayano: Iie, aku hanya merasa kalau ada yang membicarakanku)
"Tapi kau terlalu pilih-pilih ne Yuu, jika kau tidak meminumnya kau tidak bisa mengalahkan para vampire itu loh." Ucapku mengerling kearah Yuu yang duduk disampingku.
"Cih lagipula minuman ini tidak bisa menjaminnya kan, dan juga jangan terus-terusan menuruti mereka Alice."
"Hmm aku tidak pernah menuruti mereka kok, aku hanya mengikuti alur cerita yang telah dibuat, benarkan Hanachan?."
"Benar sekali Alicechan."
"Tapi aku rasa itu tidak buruk juga." Komentar Mika berdiri dari posisi duduknya.
"Serius?." Tanya Yuu.
"Kita tak akan dibunuh disini, dan yang paling penting kita bisa hidup bersama dengan keluarga kita, bukankah itu sudah cukup?." Ucap Mika berjalan kearah tempat sampah dan membuang bungkus minumannya disana lalu menoleh kearah kami bertiga.
"Aku bukan stok makanan." Ucap Yuu.
"Dan juga aku bukan hewan ternak, lagipula itu tidak menjamin kita bisa terus hidup disini kan." Timpalku.
"Mou kalian berdua ini sudah mengetahuinya kan?, keras kepala tidak akan banyak membantu-." Ucap Mika terhenti begitu Yuu melempar minuman itu padanya tapi untungnya dapat dihindarinya.
Tiba-tiba saja datang dua orang vampire yang berjalan melewati dua orang anak yang saat ini tengah menggambar dilantai dan mereka juga sempat menginjak tangan mereka berdua. Yuu yang marah langsung berlari kearah vampire itu dan vampire itu dengan mudahnya mengangkat tubuh kecil Yuu. Aku, Mika dan Hanabi mendekati dua vampire itu, memohon agar melepaskan Yuu, tapi sayangnya tidak diperdulikan, kalau saja suara seseorang tidak menghentikan aksi vampire itu Yuu pasti sudah mati gegara dijatuhkan dari tempat yang tinggi.
"Konichiwa." Ucap salah satu vampire bangsawan yang sudah sangat dikenal dengan kemisteriusannya juga orang yang menyebalkan dan aku sempat berpikir kalau dia juga seorang pedofil karena mengincar anak-anak imut kayak Mika, siapa lagi kalau bukan Ferid Bathory mendekat kearah kami ditemani dua pengawal vampire dibelakangnya. Vampire yang masih memegang Yuu segera melemparnya ketanah, sedangkan aku langsung menghampirinya untuk melihat kondisinya.
"Yuu daijoubu?."
"Y-ya aku tidak apa-apa uhuk uhuk." Jawabnya lalu melihat kearah Ferid.
"Dia seorang bangsawan ya?." Tanya Yuu.
"Dilihat dari pakaiannya sepertinya begitu." Jawabku tepat saat Mika dan Hanabi mendekat kearah Ferid, cotto Hanabi juga masakah?.
"Yo Mika-kun, Hanabichan, apa yang kalian lakukan?." Tanya Ferid pada Mika dan Hanabi.
"Bukan apa-apa." Jawab Mika.
"Salah satu keluargaku menyebabkan masalah." Timpal Hanabi.
"Kalian pasti kerepotan ya, ngomong-ngomong apa kalian akan datang lagi kerumahku malam ini?." Tanya Ferid sambil mengelus surai Hanabi.
"Dengan senang hati." Jawab mereka berdua dengan senyuman pokerface diwajah Hanabi.
"Anak baik, kalian sangat diterima karena rasa darah kalian sangat enak, apa dua anak itu juga ingin datang?." Tanya Ferid mengerling kearahku dan Yuu.
"Hah?, tentu saja ti-." Jawab Yuu terputus begitu Mika memeluknya sedangkan Hanabi langsung memelukku.
"Mereka sangat pemalu mungkin lain kali saja." Jawab Mika.
"Sou, sayang sekali ya." Dan dengan begitu kami diperbolehkan pergi oleh Ferid dari tempat itu, sepanjang perjalanan Yuu sempat mengomeli Mika atau lebih tepatnya sih mereka bertengkar. Aku menghela nafas dan lebih memilih menarik Hanabi kesuatu tempat yang sepi, aku ingin mengintrogasinya sebentar.
"Hanachan jelaskan padaku, apa kau memberi darahmu pada Ferid?." Tanyaku menatap tajam padanya.
"Y-ya seperti yang Alicechan lihat tadi."
"Kenapa?."
"Aku tidak tega melihat Michan melakukannya sendirian, jadi aku membantunya, lagipula kami punya rencana untuk-."
"Kabur dari tempat ini kan, hah kau tau itu akan menjadi hari terakhir bagi anak-anak itu."
"Aku tau tapi mau bagaimanapun juga hal itu harus terjadi atau kisah ini tak akan jalan nantinya."
"Baiklah baiklah, tapi jangan paksakan dirimu ya." Ucapku menyentil keningnya membuatnya sempat mengaduh kesakitan.
"Itte, hai hai aku tidak akan memaksakan diri kok oneechan."
"Ja-jangan memanggilku dengan nama itu ba-baka."
"Hee kenapa?, kan kau sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri." Ucapnya sambil memeluk lenganku.
"Te-terserah kau sajalah."
"Tsundere."
"Aku tidak tsundere."
.
Malamnya aku memasak kare dengan bahan yang dibawakan Mika dan Hanabi, aku yakin kalau ini pemberian dari Ferid. Aku memasak tidak sendirian karena Akane membantuku mengupas kentang maupun memotong sayuran.
"Aku sejak tadi tidak melihat Yuu, dimana dia?." Tanya Akane yang saat ini sedang memotong-motong kentangnya.
"Aku pikir dia sudah pulang."
"Gak ada kok neechan."
"Hah mungkin dia ada ditempat itu, biar aku cari dulu, tolong awasi karenya ya." Pintaku dan segera pergi mencari Yuu, seperti dugaanku kalau dia sedang tiduran disalah satu atap rumah.
"Tenyata benar kau ada disini Yuu." Ucapku mendekat kearahnya dan duduk disampingnya, sedangkan dia langsung mengubah posisi menjadi duduk.
"Alice."
"Sedang apa sendirian disini?."
"Istirahat."
"Bohong, kau pasti sedang memikirkan sesuatu kan?, apa ini tentang Mika?."
"Urusaina, aku sedang tidak ingin membicarakannya."
"Hah kau benar-benar keras kepala ne Yuu." Ucapku memukul pelan kepala Yuu.
"Jika ada sesuatu kau bisa mengatakannya padaku." Lanjutku tersenyum kearahnya membuat wajahnya sempat bersemu merah.
"Ja-jangan mengatakan hal bodoh seperti itu ba-baka."
"Hee sejak kapan Yuu jadi tsundere kayak gini?."
"U-urusaina mo-mou."
"Hehehe, saa ikuh kita pulang, aku sudah memasakkan sesuatu yang enak loh." Ucapku mengulurkan tanganku pada Yuu yang langsung diterima olehnya dan kamipun pulang kerumah kami.
Sepanjang perjalanan, Yuu tak henti-hentinya bercerita tentang kekesalannya pada Mika yang sempat membuatku tertawa, dia kayak cewek yang lagi PMS kalau mengomel seperti ini benar-benar lucu. Sesampainya dirumah, kami disambut oleh anak-anak yang juga tinggal disini tapi aku langsung menuju kedapur dan membantu Akane melanjutkan acara memasakku yang sempat tertunda, setelah jadi kami memakan kari itu diselingi dengan obrolan diantara kami semua, ya walau rumah ini tak sebesar kamar kami di panti asuhan dulu tapi setidaknya aku mendapat kehangatan disini.
Selesai makan anak-anak itupun aku suruh untuk tidur, tentunya aku menyanyikan lagu untuk mereka agar segera tidur dan pilihanku jatuh pada lagu Summer Tears ciptaan Hiroyuki Sawano. Tepat saat aku menyelesaikan lagu itu, seseorang naik keatas tempat kami semua tidur dan ternyata itu Hanabi bersama dengan Mika dibelakangnya.
"Oh tadaima Yuuchan, oneechan." Ucap Hanabi mendekat kearahku dan Yuu yang memang belum tidur diikuti oleh Mika.
"Okairi Hanachan, Mika, kalian berdua terlihat jauh lebih pucat dari para vampire itu ya." Komentarku sarkas.
"Mou neechan kau nyindir kami ya."
"Memang."
"Hehehe Alicechan jangan seperti itu, ne Yuuchan kau tidak mengucapkan 'okairi' seperti Alicechan?." Tanya Mika menoleh kearah Yuu yang sejak tadi tiduran disampingku.
"Ngomong-ngomong aku memakan jatah kari milik kalian berdua." Ucap Yuu tanpa menoleh kearah Hanabi dan Mika.
"Uso."
"Memang bencanda, semuanya menikmati kari pemberian kalian, lalu apa yang kau lakukan demi mendapat kari itu?, dasar, lain kali aku yang akan menjual darahku." Ucap Yuu mengubah posisinya menjadi duduk.
"Tidak ada yang mau menukar apapun dengan darahmu yang tidak enak itu." Komentar Hanabi.
"Oi."
"Bercanda kok, tidak usah dipikirkan." Lanjut Hanabi.
"Benar kata Hanachan, kau akan menghajar vampire-vampire itu bukan? , sampai saat itu tiba kami akan-."
"Jangan bercanda, kalian tidak bisa melakukan hanya berdua, aku…aku ini tidak bodoh, aku tau bahwa untuk mengalahkan vampire-vampire itu-."
"Jangan mengatakan apa-apa lagi, anak-anak itu percaya pada kata-kata Yuuchan, kita bisa mengalahkan para vampire itu, kita tidak akan kalah, tetap katakan itu berulang-ulang." Ucap Mika dengan air mata yang mengalir diwajahnya tapi buru-buru dihapus oleh Hanabi dengan sapu tangan yang dia bawah.
"Aku tau kalau kalian melakukannya demi kami semua." Ucapku berjalan menuju tangga.
"Tapi kita adalah keluarga, sudah sewajarnya kalau kita harus saling membantu kan, jadi kalau kalian butuh bantuan katakan saja, saa lebih baik kalian makan dulu biar aku siapkan karinya." Aku turun menuju kearah dapur dan menyiapkan dua piring kari serta satu mangkuk yang juga berisi kari diatas nampan lalu menghidangkan kari itu pada Mika, Hanabi dan Yuu yang telah duduk di meja makan.
"Hai ini untuk kalian bertiga."
"Wah sepertinya enak, apa kau yang memasaknya neechan?." Tanya Hanabi.
"Ya aku dan Akane yang memasaknya."
"Tapi kenapa aku juga di kasih, ini kan jatah Mika dan Hanabi?." Protes Yuu.
"Kau tadi hanya makan sedikit Yuu."
"Aku tidak mau."
"Kau harus mau, ini bukan permintaan tapi perintah."
"Maa maa Yuuchan dengarkan saja apa kata Alicechan." Ucap Mika membelaku sedangkan Yuu hanya bisa berdecih tapi tetap memakan kari itu.
"Oh ya aku ada sesuatu untuk Yuuchan, tada kau perlu ini untuk melawan para vampire itu." Ucap Mika mengeluarkan sebuah pistol dari balik bajunya yang segera diterima oleh Yuu.
"Ah aku juga punya sesuatu loh buat neechan." Ucap Hanabi mengambil sebuah bungkusan yang tergeletak dipojok ruangan, dari panjangnya bungkusan itu terlihat seperti pedang. Dia lantas memberikan bungkusan itu padaku dan tenyata benar kalau itu adalah sebuah pedang, lebih tepatnya adalah sebuah katana.
"Co-darimana kau mendapat pedang ini?."
"Hmm aku mengambilnya dari salah satu ruang persenjataan milik Ferid-san, aku harap kau mau menggunakannya ne oneechan."
"Tapi bukan itu saja loh yang kami dapatkan." Timpal Mika mengeluarkan sebuah kertas dari sakunya dan meletakannya diatas meja.
"Ini adalah peta kota ini." Lanjutnya.
"Bahkan pintu keluarnya di gambar dengan jelas." Komentar Hanabi.
"Apa kalian mendapatkan semua ini dari bangsawan itu?." Tanya Yuu.
"Tentu saja, butuh waktu untuk menemukannya karena rumah Ferid-sama sangat besar." Jawab Hanabi sambil memakan kari miliknya.
"Benar, lagipula Mikaela-sama yang hebat ini tidak sebodoh itu untuk memberikan darahnya pada para vampire itu secara cuma-cuma, ya itu sudah berakhir untuk hari ini, ayo kita melarikan diri." Ucap Mika membuat Yuu sempat tersedak makanannya, sedangkan aku tetap stay clam.
"De-."
"Daijoubu-daijoubu, semuanya sudah kami rencanakan, serahkan saja pada Mikaela-sama."
"Tapi bagaimana dengan virusnya?, orang-orang mengatakan hanya ada kematian yang menunggu diluar sana." Tanya Yuu.
"Manusia yang berumur 13 tahun kebawah tidak akan terinfeksi bukan?, berapa umur kalian sekarang?."
"12 tahun." Jawab Yuu.
"Sama seperti Yuu." Timpalku.
"Coba pikirkan kembali satu tahun yang telah kita lalui ini, jika kita berempat…iie jika keluarga panti asuhan Hyakuya sama-sama memikirkannya maka semuanya mungkin akan berhasil."
"Tapi entah kenapa aku merasa kalau virus itu harusnya sudah menghilang, lagipula ini sudah empat tahun berlaru semenjak virus itu menyebar." Komentarku memasang pose berpikir.
"Eh kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?." Tanya Yuu menoleh kearahku yang duduk disampingnya.
"Ini seperti halnya pandemic flu Spanyol tahun 1918."
"Ah wabah yang hampir menewaskan 50 juta penduduk itu ya." Timpal Hanabi yang sempat membua Yuu dan Mika terkejut.
"Me-memangnya ada wabah seperti itu ya?." Tanya Mika.
"Tentu saja Michan, kau belum membaca sejaranya sih."
"Lalu bagaimana virus itu bisa berhenti?." Tanya Yuu.
"Ada beberapa teori, dan salah satunya adalah karena tidak ada orang lagi yang terjangkit virus itu." Jawabku.
"Dan virus itu mati bersama dengan orang yang terakhir kali terinveksi oleh virus tersebut, jadi itu yang membuat oneechan berpikir kalau virus itu sudah menghilang?." Tanya Hanabi.
"Ya karena tidak adanya orang dewasa lagi disana, lagipula virus itu juga bisa saja menghilang karena proses alami yang dilakukan oleh bumi."
"Kalau memang itu benar, berarti kita tidak perlu mengkhawatirkannya lagi kan." Ucap Mika.
"A-aku tidak yakin apa kalian sudah merencanakan ini dari sebelumnya atau tidak, memutuskan semuanya sendirian, tapi baiklah ayo kita pergi." Ucap Yuu tersenyum kearah Mika.
"Hai ikuh, Hanachan dan Alicechan tolong bangunkan yang lainnya ya, kita akan mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini." Jawab Mika dengan semangat.
Akhirnya kami semua keluar dari rumah itu setelah memastikan tidak ada yang melihat kami, menelusuri gorong-gorong dan bersembunyi dari para penjaga. Hingga sampailah kami di hall yang mana menghubungkan jalan keluar menuju kedunia manusia dan juga merupakan tempat pembantaian keluarga kami nantinya. Aku terus menggenggam tangan Yuu selama kami mendekat kearah pintu keluar itu, tapi terhenti begitu kami mendengar suara seseorang.
"Hee aku sudah menunggu kalian, domba-domba kecilku yang malang." Ucap pria bersurai putih yang diikat ponytail kebawah ya siapa lagi kalau bukan Ferid.
"Ya ekspresi itu, ekspresi wajah manusia saat mereka kehilangan harapannya, karena itulah aku tidak pernah bosan memainkan permainan ini." Lanjutnya membuat Mika sempat syok dan langsung melihat peta yang berada di tangannya, tapi belum sempat dia melihat peta itu sudah terbang terbawa angin bersamaan dengan Ferid yang mengambil salah satu anak dan mengisap darahnya hingga dia tewas.
"Arara dia sudah mati." Ucapnya menjatuhkan tubuh anak itu. Yuu yang sudah geram mengeluarkan pistolnya dan mencoba menembak Ferid tapi dengan mudah dia bisa menghindarinya.
"Are bukankah itu senjataku?, tidak hanya mencuri peta tapi kau juga mencuri senjataku?, kalian memang hebat ya, tapi kalian masih punya keberanian untuk melawan?, kalau begitu biar aku katakan sesuatu untuk membakar semangat kalian, sebenarnya peta itu memang asli, artinya jika terus berjalan kedepan maka kalian akan bisa kembali kedunia kalian, sekali kalian keluar maka akan sulit bagiku untuk mengejar kalian, aku ingin tau bagaimana teriakan kalian terperangkap diantara harapan dan keputusasaan." Jelas Ferid. Yuupun segera memerintahkan mereka semua untuk lari tapi dengan cepat Ferid membunuh mereka semua dalam sekali serang sampai dia berada didepan Hanabi yang berdiri tak jauh dariku.
"HANABI." Teriak Mika begitu melihat Ferid akan membunuhnya. Aku sendiri langsung menarik pedang dari sarungnya dan menahan serangan Ferid dengan pedang itu.
"Hee ini juga pedang milikku kan, sasugana aku tidak menyangkah kalau kalian bisa mencuri salah satu koleksi pedangku." Ucap Ferid menyeringai senang kearahku.
"Hanachan cepat pergi kearah Mika." Perintahku pada Hanabi.
"Ta-tapi."
"Sekarang." Bentakku yang segera dituruti olehnya. Aku mulai mundur beberapa langkah dari Ferid dan mulai memasang kuda-kuda.
"Hoo kau ingin bermain-main denganku nona manis."
"Iie aku akan membunuhmu sekarang." Jawabku berlari kearahnya lalu menyerangnya dengan katana itu, tapi dia terus menghindari seranganku dengan mudah, cih aku tidak mungkin bisa menyerangnya dengan tenaga anak kecil seperti ini.
"Kau hebat juga dalam bertarung ne nona manis, tapi sayangnya permainan ini akan berakhir." Ucapnya yang langsung menusuk dadaku dengan tangannya tepat saat aku menusuk perutnya dengan katana itu.
"Pfttt, hahahaha biar aku beritau satu hal nona senjata seperti ini tidak akan bisa membunuhku." Ucapnya melemparkan tubuhku dengan mudah seperti melemparkan sebuah kertas ketanah.
*Normal Pov*
Mata Yuu melebar begitu melihat Ferid menusuk dada Alice dan melemparkannya begitu saja ketanah.
"ALICE." Teriaknya dengan air mata yang mengalir diwajahnya, sedangkan Hanabi tak mampu berkata apapun melihat sahabat yang begitu disayanginya tergeletak tak berdaya disana. Mikapun langsung mendekat kearah Yuu.
"Jangan pernah melupakannya Yuuchan, Hanachan, kita adalah keluarga." Ucap Mika sebelum akhirnya merebut pistol dari tangan Yuu dan berlari menuju kearah Ferid berniat akan menyerangnya, tapi namanya juga vampire jadi Ferid dengan mudah menusuk dada Mika lalu memotong tangan kanan Mika yang memegang pistol. Melihat hal itu Yuu segera mengambil pistol itu lalu menembak kepala Ferid sembari berucap.
"Shine." Tubuh vampire itu terjatuh bersamaan dengan jatuhnya tubuh Mika. Hanabi pun segera berlari menuju tubuh Mika dan memeluknya dengan sangat erat membuat darah dari Mika menetes dipakaian Hanabi, sedangkan Yuu langsung mendekat kearah Alice.
"Alice, Alice bangun, aku mohon bangunlah, bukankah kita sudah berjanji akan selalu bersama?." Ucap Yuu sembari mengguncang-uncang pelan tubuh Alice, perlahan matanya mulai terbuka menampakan iris biru velvet dibalik kelopak matanya menatap kearah Yuu dengan pandangan lemah.
"Yo-yokatta, a-aku akan segera membawamu pergi dari sini bersama Mika dan Hanabi."
"I-iie Y-Yuu, k-kau harus pergi se-sekarang, b-bawa Hanachan be-bersamamu."
"Tidak hiks, aku tidak akan meninggalkanmu hiks, kita sudah berjanji akan selalu bersama hiks."
"Ssttt, Yuu a-aku selalu bersamamu, d-disini." Ucap Alice menunjuk kearah dada Yuu dengan jari telunjuknya, lalu dia mengambil katana disampingnya dan memberikannya pada Yuu.
"Be-berjanjilah padaku, k-kau akan me-menjadi kuat ju-juga lindungi a-apa yang harus kau lindungi uhuk uhuk."
"Alice."
"A-aku selalu mencintai Yuu dari dulu hi-hingga sekarang, d-dan rasa itu tidak akan pe-pernah berubah sampai kapanpun." Ucap Alice memegang pipi Yuu lalu menciumnya tepat dibibirnya, Yuu sendiri sempat kaget dengan apa yang di lakukan Alice tapi dia tetap memejamkan matanya merasakan kehangatan dari sang kekasih di saat terakhirnya sebelum akhirnya Alice melepaskan ciuman itu.
"A-aku juga mencintaimu, selamanya, dan rasa itu tidak akan pernah berubah."
"A-arigato Y-Yuu, kalau begitu ce-cepatlah pergi."
"Ta-tapi-."
"HYAKUYA YUUICHIRO CEPATLAH PERGI DAN BAWA HANABI SEKARANG." Teriak Alice dan dengan sisa kekuatan terakhirnya dia mendorong Yuu menjauh darinya. Yuu hanya bisa menangis lalu menarik tangan Hanabi menjauh dari tempat itu, sempat Hanabi meneriakan nama Alice sebelum mereka menghilang dari hadapan mereka. Alice pun menoleh kearah Mika yang juga menoleh kearahnya lalu tersenyum.
"Mi-Mika k-kau akan te-tetap hidup, ka-karena itu to-tolong jaga Ha-Hanachan d-dan Yu-Yuu untukku ya."
"A-apa maksudmu a-aku akan tetap hidup."
"K-kau akan tau na-nanti, sayonara Mi…ka." Ucap Alice sebelum akhirnya dia menutup matanya, Mika hanya bisa menangis melihat sahabat terdekatnya mati begitu saja dihadapannya. Seandainya dia tidak terburu-buru dalam membuat rencana, seandainya dia jauh lebih kuat saat ini, pasti tidak akan seperti ini, tapi pada akhirnya nasi sudah menjadi bubur, tidak ada gunanya menyesali hal yang sudah terjadi, toh sebentar lagi dirinya juga akan menyusul Alice dialam sana, itu yang dia pikirkan saat ini. Sampai sebuah suara membuat pertanyaan yang diajukannya pada Alice terjawab sudah.
"Apa kau mau hidup abadi?, aku bisa memberikannya padamu."
.
*Alice Pov*
'Aku ada dimana?, apa aku sudah mati?.' Batinku melihat sekeliling karena tempat ini terlihat kosong juga seperti tidak ada ujungnya.
"Ah kau sudah bangun putri tidur." Ucap seseorang dibelakangku dan aku terkejut mendapati pria berparas mirip Sebastian Michaelis mengenakan baju adat Jawa sedang berdiri dibelakangku.
"Om jin sedang apa kau disini?." Tanyaku menunjuk kearah om jin (aku memutuskan memanggilnya om karena dia memang mirip om-om pedofil) membuat beberapa perempatan tercetak dikeningnya.
"Jangan panggil aku om, aku ini masih mudah tau."
"Ya ya terserah, jadi kenapa kau ada disini?, dan dimana aku sebenarnya?."
"Ini ada dialam bawa sadarmu, kau sebenarnya belum mati tapi mungkin kau akan berubah menjadi vampire nantinya." Jawab om jin dengan tenang tidak memperdulikan wajah syok dariku.
"Co-cotto kau bilang kalau aku akan berubah jadi vampire tapi bagaimana-, masakah Krul yang-."
"Chigau, bukan ratu para vampire itu yang mengubah dirimu menjadi vampire."
"Eh?, lalu siapa?."
"Kau akan tau nanti, yang jelas dia masih punya hubungan darah dengan Krul dan jauh lebih kuat dari sang ratu itu." Jawabnya, sebentar-sebentar memang siapa vampire yang jauh lebih kuat dari Krul?.
"Ah sepertinya sudah waktunya kau bangun, kita akan bertemu lagi ne nona." Ucap om jin mencium punggung tanganku kemudian menghilang dari hadapanku tepat saat kepalaku mendadak pusing dan aku kehilangan kesadaran.
Saat aku membuka kembali mataku, kali ini aku berada ditempat yang cukup gelap juga minim sekali penerangan. Aku mengambil posisi duduk dan mulai mencermati ruangan tempat aku istirahat, hmm ini lebih mirip seperti laboratorium.
"Kau sudah bangun rupanya." Ucap seseorang dari arah pintu masuk, ya seorang wanita bersurai merah bergelombang dengan iris merah darah serta poni yang menutupi mata kirinya memakai jas laboratorium ditubuhnya. Dia mirip seperti professor wanita yang ada di anime Black Bullet kecuali dibagian rambut, mata, dan ehemdadaehem yang sedikit lebih besar. Dia mendekat kearahku sembari membawa segelas cairan berwarna merah ditangan kanannya yang aku yakini adalah darah, melihat darah di gelas itu entah kenapa membuatku begitu haus.
"Dimana aku?, dan siapa kau?." Tanyaku menatap tajam kearah wanita itu.
"Namaku asliku Suzy Tepes kakak dari Krul Tepes tapi aku sudah mengganti namaku menjadi professor Zy, kau ada dilaboratoriumku sekarang." Jawabnya tersenyum kearahku.
"Tapi bukannya aku seharusnya sudah-."
"Mati memang, tapi aku tidak bisa membiarkan manusia pure sepertimu mati sia-sia jadi aku mengambilmu dan merubahmu menjadi vampire."
"Co-a-apa?, tapi aku tidak mau diubah menjadi vampire, lebih baik aku mati dari pada harus berubah menjadi vampire, uhuk uhuk." Ukh tenggorokanku kering sekali.
"Tidakkah kau ingin bertemu dengan keluargamu lagi?, aku yakin kalau mereka berempat masih hidup saat ini, minumlah ini kau pasti sangat haus kan, minum darah manusia ini dan kau akan menjadi vampire seutuhnya." Ucap professor Zy menyerahkan gelas berisi darah itu padaku tapi segera aku menepis darah itu dari tangannya hingga tumpah kemana-mana.
"A-aku tidak ingin menjadi seperti kalian, sudah kubilang kan lebih baik aku mati saja."
"Kau tau kalau kau sudah menjadi vampire kau tidak akan bisa mati secara normal, saat kau kehausan maka kau akan menjadi iblis bodoh yang hanya menyerang manusia sesukanya, tapi aku senang kau malah menolak darah yang aku berikan, sebagai gantinya minum cairan ini." Ucap professor Zy mengambil gelas yang telah terisi cairan berwarna merah tapi ini lebih bening dan juga aku tidak mencium bau darah dari cairan ini.
"Apa ini?."
"Itu minuman pengganti darah hasil dari campuran buah dan sayuran segar juga buah cranberry, tenang itu tidak beracun, lagipula aku juga meminum minuman itu, ini jauh lebih baik daripada darah." Jawab prof Zx, ya ini masih lebih mending sih daripada darah. Menghela nafas aku mulai meminum cairan yang katanya merupakan minuman pengganti darah dan rasanya enak, lebih enak dari minuman penambah darah yang aku minum sehari-hari, juga entah kenapa aku sudah tidak merasa haus lagi seolah aku baru saja meminum darah.
"A-arigato, ta-tapi bukannya aku suka loh."
"Hehehe aku tidak menyangkah kalau kau tsundere ya."
"Te-terserah saja, sebenarnya aku masih penasaran, bukankah seharusnya aku sudah-."
"Awalnya aku berpikir kalau kau sudah mati, saat aku akan pergi meninggalkanmu, kau bernafas kembali tapi keadaanmu sangat lemah, terlalu lemah malah, satu-satunya jalan agar kau bisa bertahan hidup adalah dengan mengubahmu menjadi vampire."
"So-souka, apa ada imbalan untuk hal ini?, kau pasti punya alasan mengubahku menjadi vampire kan?."
"Iie aku hanya kasihan padamu saja kok." Ucapnya berjalan kesebuah meja yang mana terdapat beberapa tube berjejer dengan warna cairan yang berbeda-beda disetiap tubenya.
"Lagipula aku tidaklah seperti Krul yang akan meminta imbalan, aku yakin kalau temanmu yang satunya itu akan dijadikan pliharaan olehnya." Lanjutnya tanpa menoleh kearahku. Tapi aku masih penasaran dengan wanita ini, soalnya di manganya sendiri tidak dijelaskan kalau Krul punya seorang kakak, apa dia karakter baru atau karakter ciptaan seseorang?, mungkin nanti aku akan menanyakannya pada om jin kalau aku bertemu lagi dengannya.
"Ne kau bilang kalau kau kakak dari Krul tepes kan?."
"Benar?."
"Lalu keapa bukan kau yang menjadi ratu dari para vampire?." Tanyaku membuatnya sempat menghentikan kegiatannya sejenak.
"Kau ingin tau?."
"Ti-tidak juga, jika tidak mau kau tidak perlu-."
"Ya aku akan mengatakannya padamu, lagipula ini pertama kalinya aku berbicara dengan orang luar selain orang kepercayaanku." Potongnya mendekat kearahku sembari membawa sebuah mangkuk yang berisi spagety dengan bakso diatasnya dan memberikannya padaku.
"Makanlah dulu, kau pasti lapar kan." Aku menerima spagety itu dan mulai memakannya sedangkan dia duduk disampingku.
"Alasan kenapa bukan aku yang menjadi ratu cukup sederhana, soalnya seharusnya aku memang sudah tidak ada didunia ini lagi." Ucapnya membuatku langsung tersedak makananku dan cepat-cepat meminum air yang diberikan oleh Prof Zy.
"C-cotto kau apa?, bagaimana bisa?."
"Mudah saja, ayah kami berdua raja dari para vampire memberiku kuasa menjadi ratu, aku menolak dan ingin Krul saja yang menjadi ratunya, tapi ayah bersikeras menjadikanku ratu bagi para vampire dan saat aku menanyakannya pada ayah apa alasannya dia hanya menjawab.
"Krul belum siap memimpin karena sifatnya masih kekanakan, aku yakin kalau dia memimpin perpecahan antar manusia dan vampire akan semakin melebar dan pastinya cita-cita mendiang ibumu tidak akan tersampaikan"
Setelah mengatakan itu ayahpun wafat dan aku diangkat menjadi ratu, tapi di malam saat hari penobatan Krul mendatangiku, awalnya aku berpikir dia akan mengucapkan selamat atau apapun itu tapi dugaanku salah, dia mendatangi dengan membawa sebuah pedang iblis dan menusukku tepat saat aku lengah lalu menjatuhkanku dari balkon kamarku yang berada dilantai lima, untungnya sebelum dia menusukku aku sempat membaca mantra penyegel kekuatan iblis jadi lukaku tak begitu fatal, dari situ aku tau satu hal kalau sebenarnya Krul ingin merebut tatahku."
"Lalu bagaimana denganmu?, maksudku bagaimana kau masih bisa hidup?."
"Aku punya kekasih seorang half vampire, dia yang menyelamatkanku waktu itu, membawaku pergi dari sana dan menyembuhkan lukaku, juga memanipulasi kematianku atas permintaanku sendiri, aku berganti nama menjadi Prof Zy lalu masuk kembali ke Sanguinem dengan bantuan orang kepercayaanku, satu-satunya orang masih menghormatiku sampai sekarang, dan ya aku berakhir disini menjadi ilmuan rahasia dan bekerja dibawah adikku sendiri."
"Jadi intinya kau bersembunyi dari adikmu?."
"Bisa dibilang seperti itu."
"Tapi kenapa?, bukankah lebih baik kalau kau keluar kesana dan mengatakan kau masih hidup dengan begitu para vampire dan manusia bisa berdamai kan?."
"Itu tidak bisa Alice, walau aku keluar ataupun tidak mereka tetap akan bertarung, pada dasarnya manusia itu lebih lemah dan para vampire terlalu berbesar hati menganggap manusia itu lemah dan hal itu diperparah dengan virus yang melandah 4th yang lalu, sebenarnya itu bukan kesalahan para vampire tapi para manusia sendiri yang membuat virus itu menyebar, tapi bukan berarti aku membela para vampire ya hanya saja itulah kenyataannya, hanya saja aku masih penasaran karena ada beberapa hal yang janggal dan hal itu juga yang masih aku selidiki." Jawabnya beridri dari posisi duduknya dan berjalan kearah pintu keluar.
"Oh ya bisa kau rahasiakan semua yang baru saja aku ceritakan?."
"Ba-baiklah."
"Bagus, sebaiknya kau habiskan makanan itu dan istirahatlah, besok akan menjadi hari yang berat untukmu." Ucapnya kemudian keluar dari kamarku. Hah jadi sekarang aku sudah menjadi vampire ya?, walaupun sepertinya masih half karena aku masih bisa menjernikan pikiran, tapi apa Yuu masih mau menerimaku ya?.
.
To Be Continue
.
Terus ikuti cerita ini dan jangan lupa REVIEW PLEASE…!
.
See You Next Chapter 4: Pergi
