Love Unilateral
Author : Naruhina Sri Alwas
Naruto milik Masashi Kishimoto sensei
Pair : NaruHina
Ganre : Romance/Family
Rated : T+ semi M
Warning : Typo(s), EYD, OOC, AU, Dll.
.
.
.
"Kuharap kau bisa bahagia."
"Kuharap kau dan aku bisa selamanya bersama."
Chapter 2
Taman bermain Konoha land sangat ramai pada akhir pekan, tapi tidak menyurutkan semangat pasangan muda dan mudi disana.
"Hai, Hinata." ujar Naruto yang masih memandang wajah Hinata yang murung, Walaupun Naruto tidak tau apa yang membuat Hinata murung, tapi Naruto tidak ingin Hinata memikirkan sesuatu yang membuat gadis itu sedih, dan akhirnya Naruto mengajak Hinata ketempat bianglala.
"Hinata, ayo ikut aku." Naruto membawa boneka beruang sebesar tubuh orang dewasa itu sambil menarik tangan gadis yang dari tadi murung kearah bianglala disebelah ujung arena permainan.
"Na-Naruto-kun." ujar lirih Hinata menatap punggu pemuda itu, rasanya sesak.
"Iya." ujar Naruto menoleh kebelakan sebentar namun tidak dia lepaskan genggaman tangannya dari tangan Hinata.
"Kita mau kemana?" tanya Hinata lagi, yang masih belum tau apa yang dipikirkan pemuda didepannya, melihat Naruto berada didepannya, semakin hatinya sakit.
"Sudah sampai." ujar Naruto menghentikan langkahnya melihat antrian yang mulai sedikit didepannya.
"Bianglala." ujar Hinata sambil melirik pemuda didepannya dengan ekor matanya.
"Yap, matahari tenggelam sangat indah kalau dilihat dari atas." ujar Naruto sambil tersenyum dan mempererat pegangan tangannya dengan tangan Hinata.
"Benarkah?" gumam Hinata sambil melihat Bianglala diatasnya.
"Wah indahnya." ujar Hinata takjub karena beru pertama kalinya dia menaiki benda seperti ini.
"Dasar... Lihatlah kesini." ujar Naruto cemburu karena Hinata lebih takjub dengan pemandangan diluar dari pada dirinya.
"Eh," ujar Hinata refleks menoleh Kearah Naruto.
Cup
Satu kecupan mendarat dibibir cary Hinata,
Blus
Blus
Wajah Hinata seperti kepiting rebus
"Na-Naruto-kun." ujar Hinata menyembunyikan wajahnya dibalik dada bidang Naruto, dan san pelaku hanya tertawa kecil saat melihat tingkah Hinata yang malu-malu.
"Kita Sudah selesai." ujar Hinata sambil menatap mata Naruto.
"Iya." ujar Naruto semangat dan menggandeng tangan Hinata lagi menuju parkiran Mobil.
"Hinata." ujar Naruto menghentikkan langkahnya membuat Hinata ikut berhenti.
"I-Iya!" seru Hinata pada Naruto yang menatapnya serius.
"Kau ada masalah?" tanya Naruto lagi sambil menaruh boneka beruang yang didapatnya.
"Kau tau, aku merasa kau akan pergi." ujar Naruto lagi seolah dia tidak tau apa-apa. 'Aku ingin Hinata bergantung padaku.' pikir Naruto sambil menatap mata bulan Hinata.
"Ti-Tidak ada masalah apa-apa." ujar Hinata lagi menatap lembut mata Naruto.
"Ku pikir kau punya masalah." ujar Naruto yang terlihat lega, Hinata tidak memiliki masalah. 'Kau pikir aku ini bodoh!' lanjut Naruto dalam hati menatap diam wajah Hinata, yang tersenyum palsu.
Di kediaman Namikaze
"Wah, kalian sudah tiba." ujar Kushina menatap keluarga Sakura.
"Iya, Kushi-chan, maaf yah kami telat." ujar Ibu Sakura memeluk Kushina.
"Iya, tak apa, lagi pula putra kami belum datang." ujar Kushina mempersilahkan tamunya untuk masuk.
"Tak ku sangka bahwa kita aan berbesanan yah Kushi-chan." ujar Ibu Sakura mengobrol kecil.
Sakura adalah anak piatu yang dibesarkan seorang diri oleh seorang ibu yang sangat tegar, kehidupannya bisa dibilang sempurna walau tidak memiliki seorang ayah, dia memiliki kasih sayang dari ibunya yang begitu besar, sehingga menjadi anak yang patuh dan disiplin.
"Yah, begitulah, ku pikir Sakura pantas mendampingi Naruto calon pewaris Namikaze." ujar Kushina dengan lancar.
Diarah pintu masuk satu pasang muda mudi memasuki ruangan dan mendengar ucapan Kushina dengan rasa sakit.
"IBU..." bentak Seorang pemuda yang mendengarkan kata demi kata yang keluar dari bibir ibunya.
"Ah... Naruto, kau sudah datang." ujar Kushina tersenyum melihat putranya datang, dan tidak peduli ada seorang gadis yang merasakan sakit hati.
"Ayo, Hinata." ujar Naruto mencoba menarik tangan Hinata untuk pergi dari ruangan ini.
Hinata menoleh kearah Naruto, tersenyum dan menahan Naruto agar tidak pergi.
"Kenapa?" heran Naruto karena Hinata tidak beranjak dari tempatnya.
"Tidak ada apa-apa." ucap Hinata tersenyum kecil menahan rasa yang menyakitkan.
"Aku ingin kekamar, bolehkan?" Hinata melepaskan tangan Naruto dengan pelan, berjalan kelantai dua dengan perlahan, menaruh tangan dikedua dadanya sambil sejenak menutup mata.
"Aku..." ujarnya lirih berjalan pelan, menuju kamarnya dilantai dua.
"Selalu tidak pantas untuk Namikaze Naruto." ujarnya lagi berjalan dan mengeluarkan air mata mengingat kenangan bersama pemuda pujaan hatinya.
Diruang Keluarga
"Ibu..." ujar pelan Naruto tapi memiliki atmosfir kemarahan yang sangat jelas terasa diruangan itu.
"Iya." ujar Kushina yang menanggapi santai,
"Sudahlah, ibu malas meladeni mu." ujar Kushina lagi sambil melirik ibu Sakura.
"Kau jangan seperti itu." ujar ibu Sakura mencoba menasehati.
Keluarga Sakura mengetahui bahwa Naruto sudah menikah dan masih mau menerima lamaran dari keluarga Namikaze.
"Aku tak akan menikah lagi." ujar Naruto berteriak kesal. "Hinata adalah istriku sekarang, jadi bila ibu ingin memisahkan ku. Ibu harus membunuhku dulu." ujar Naruto kesal dan membanting pintu saat dia keluar ruangan yang menyebalkan.
Ceklek
"Hinata!" ujar Naruto diluar kamar.
"Iya." ujar Hinata dari dalam kamar.
"Buka pintunya." ujar Naruto lagi.
"Iya, sebentar." ujar Hinata sambil menghapus air mata yang sudah turun membasuh pipinya.
"Kau tak apa?" tanya Naruto saat Hinata membuka pintu kamar.
"Ti-Tidak apa-apa!" ujar Hinata menunduk menyembunyikan kenyataan bahwa dia habis menangis.
"Tidak apa-apanya, bagaimana?" heran Naruto karena Hinata tidak mau terus terang kepadanya.
"Benar... Aku tak apa-apa." ujar Hinata mencoba menolak perhatian Naruto kepadanya.
"Lihatlah." ujar Naruto yang telah berhasil mengangkat dagu Hinata supaya pemuda itu bisa melihat mata bulan Hinata berbohong.
"Na-" Ucapan Hinata terputus karena Naruto mencium bibir merah Hinata dengan pelan.
Naruto melepaskan ciuman terhadap Hinata dan memandang mata Hinata sayang.
"Aku mencintaimu Namikaze Hinata." ujar Naruto sambil tersenyum dan meraih pinggul Hinata agar tubuh mereka lebih dekat lagi.
"A-Aku juga Mencintaimu Namikaze Naruto." ujar Hinata lagi sambil menatap Mata pemuda didepannya.
"Aku tak bisa menjanjikan apapun untuk mu, aku tau ayahmu sudah bangkrut, tapi jangan pernah merasa kau sendirian." ujar Naruto sambil mengusap-usap pundak Hinata dan membuat Hinata terharu dan menahan isakan keluar dari mulutnya.
"A-Arigatou Naruto-kun." ujar Hinata memeluk Naruto dengan erat.
"Kalau kau menangis, sangat cantik deh." ujar Naruto mencoba menggoda Hinata, supaya tersenyu lagi.
"Ahhh... Naruto-kun." ujar Hinata manja sambil memukul-mukul kecil dada bidang pemuda yang lebih tinggi darinya beberapa centi meter itu.
"Kenapa?" tanya Naruto jail dan mendaratkan kecupan-kecupan sayang terhadap Hinata.
"He-Hentikan Naruto." ujar Hinata mencoba menghalau bibir Naruto untuk mendarat di area wajahnya.
"Tidak bisa," ujar Naruto menatap tajam mata Hinata.
"Ta-Tapi..." ujar Hinata lagi dan ucapanya langsung dipotong oleh Naruto.
"Tidak ada penolakan." ujar Naruto sambil terus menciumi tubuh Hinata yang sangat indah.
t.b.c
