Love Unilateral

Author : Naruhina Sri Alwas
Naruto milik Masashi Kishimoto Sensei
Pairing : NaruHina
Rated : T+ semi M
Ganre : -
Warninga : Typo(s), EYD, OOC, AU, dll.

"Apa sebuah cinta harus ada alasannya?"

"Cinta harus memiliki alasan yang jelas."

"Tapi aku tak tahu alasan kenapa aku mencintaimu Hyuuga Hinata."

Chapter 3

Pagi menjelang burung-burung berkicau dengan merdu, sebuah kediaman yang telah lama kosong bertuliskan Hyuuga Mension didatangi seseorang kerabat yang baru tiba DiKonoha.
"Rumah ini disita?" heran pemuda yang melihat tulisan di depan gerbang Mension Hyuuga.
"Ayah..." gumamnya lagi.
"Apa yang terjadi selama aku pergi?" tanyanya lagi entah pada siapa.
Pemuda itu mengeluarkan handphonnya dan mencoba menghubungi ayahnya.
/Mosi-mosi/ ujar suara disebrang.
"Ayah... Ini aku Sasuke!" seru pemuda yang bernama Sasuke.
/Owh... Sasuke ada apa kau menelphon?/ tanya suara disebrang.
"Aku sudah pulang, aku datang kerumah." ujar Sasuke lagi menatap bangunan didepannya.

/Kau sudah tau yah... Padahal Ayah ingin sedikit saja merahasiakannya./ ujar suara disebrang.

"Dimana kalian tinggal?" tanya Sasuke lagi.

/Kau jangan kesini./ ujar Suara disebrang tegas.

"Kenapa?" tanya heran Sasuke karena dia tidak boleh tahu alamat keluargannya.

/Kau tinggallah sementara ditempat adikmu./ ujar suara disebrang menyuruh putra keduannya agar tinggal sementara bersama adiknya.

"Hinata?" ujar Sasuke heran.
"Bukankah Hinata bersama ayah?" taya Sasuke lagi heran.

/Tidak... Hinata sudah menikah, jadi dia sudah tinggal bersama keluarga barunya./ ujar suara disebrang menjelaskan.

"Apa?" kaget Sasuke lagi. "Ayah sudah gila!" bentak Sasuke yang kaget.

/Tenanglah Sasuke./ ujar suara disebrang menenagkan.

"Tidak-tidak... Bagaimana aku bisa tenang kaau adikku sudah menikah tanpa sepengetahuan ku." ujar Sasuke pelan dan mengeluarkan aura-aura tidak mengenakan.

/Kami juga terpaksa menikahkan adikmu dengan pemuda yang dicintainya./ ujar suara disebrang.

Sasuke berdiri didepan pintu gerbang Hyuuga Mansion, menatap penuh rindu, mengingat kenangan masa kanak-kanaknya dulu.

"Aku mengerti... Berikan aku alamat Hinata." ujar Sasuke lagi sambil menutup matannya. 'Apa yang aku lakukan, kenapa aku merasa akan terjadi sesuatu.' pikir Sasuke lagi sambil membuka matanya pelan dan mengusap sekilas air mata yang entah sejak kenapa keluar dari bola matanya.

/Iya... Nanti ayah kirim alamat adikmu./ ujar suara disebrang, dan pembicaraanpun selesai.

"Aku tak mengerti..." ujar Sasuke lagi sambil menunduk menahan tangis. "Kenapa semua orang tidak pernah memberi tahu ku." ujarnya pelan sambil terisak menahan perasaan yang menyakitkan.

Kediaman Namikaze, diruang Makan

"Maaf Nyonya, diluar ada tamu." ujar pelayan saat berhadapan dengan nyonya muda di keluarga Namikaze a.k.a Hinata.

"Tamu?" heran Hinata, selama dia tinggal disini tidak ada yang bertamu, karena Hinata tidak pernah memberikan alamat rumahnya sekarang.

"Dia mengatakan, dia kenal dengan anda, dan ingin menemui anda segera." ujar pelayan perempuan itu lagi seolah mengerti akan keheranan nyonya mudanya.

"Siapa? tamunya Tenten." ujar Naruto yang merasa heran.

"Dia mengatakan... Bernama Uchiha Sasuke." ujar pelayan itu lagi sambil menunduk ditatap oleh sang tuan dengan geram.

"Hinata..." ujar Naruto pelan dan menusuk.

"Na-Naruto aku bi-bisa jelaskan." ujar Hinata takut-takut karena Naruto marah.

"Menjelaskan... Aku ingin dengar." ujar Naruto lagi yang merasa kesal ada pemuda lain yang dekat dengan Hinata.

"Hinata..." ujar suara seorang lelaki yang tiba-tiba datang.

"Sasuke-kun." ujar Hinata lagi yang benar-benar kaget.

"Ya, aku datang." ujar pemuda itu lagi sambil memiringkan kepalanya, membuat semua orang disana terpesona, namu tidak dengan Naruto yang tampak kesal.

"Siapa kau?" tanya Naruto sambil menggerbrak meja makan.

"Aku!" pemuda itu menunjuk dirinya sendiri.
"Iya." ujar geram Naruto.

"Aku Kekasih Hinata." ujar Sasuke lagi, dan membuat orang yang berada diruangan itu kaget, termasuk Hinata.

"Bu-Bukan!" seru Hinata sambil menunduk, semua orang menatap padanya.

"Mana ada maling yang mengaku, kalau ada penjara bisa penuh." ujar sinis Kushina.

"A-Aku..." Hinata tidak bisa mengeluarkan suara-suarannya, dadanya sakit, seperti ditusuk beribu-ribu jarum tak kasat mata saat mendengar sinisan dari ibu mertuannya.

Diruangan Makan terdiri dari, keluarga Haruno yaitu Sakura dan Ibunya, Kushina, Minato, Naruto, Hinata dan pemuda yang datang tanpa diundang.

"Hahaha..." ujar pemuda itu tertawa.

"Kau." ujar Kushina kesal, sambil menujuk pemuda tidak sopan.

"Apa?" tanya pemuda itu lagi sambil menatap meremehkan.

"Berani sekali kau tidak sopan." ujar Kushina menggebrak meja.

"Cih, anak dan Orang tua sama saja." gumam Pemuda itu lagi masih bisa didengar semua orang yang berada diruang Makan.

"Apa? Maksudmu bocah." ujar kesal Kushina lagi.

"Aku tidak bermaksud apa-apa!" seru Pemuda itu lagi, dan menatap Hinata. "Ayo Hinata-chan, kita pergi dari sini." ujar Pemuda itu lagi berjalan menghampiri Hinata, dan membuat Naruto kaget sampai matanya melotot.

"Enak saja." ujar Naruto menarik lengan Hinata agar kebelakang tubuhnya.

"Kenapa?" tanya Pemuda itu meremehkan.

"Kenapa kau bilang!" seru Naruto yang marah. "Cih, asal kau tahu... Hinata sudah jadi istriku." ujar Naruto tersenyum meremehkan balik.

"Hahh... Kalian bisa berpisah." ujar Pemuda itu dengan santai, dan membuat pemuda didepannya geram.

"Berpisah, kau pikir siapa kau!" ujar Naruto sambil menarik kerah pemuda didepannya, yang membuat orang-orang disana kaget, karena Naruto tidak pernah semarah ini.

"Aku calon suaminya." ujar Sasuke lagi masih tersenyum meremehkan.

"Jangan pernah bermimpi." ujar Naruto lagi, yang akan menghajar pemuda didepannya, tapi tangan Hinata cepat-cepat mencegahnya.

"Kenapa kau membelanya Hinata." ujar kesal Naruto yang tidak terima kalau Hinata menolong pemuda itu.
"Na-Naruto-kun." ujar Hinata menunduk karena lagi-lagi Naruto memarahinya, taukah kau Hinata suami tercintamu akhirnya merasakan cemburu?

"Cih, jadi kau ingin bersama dia." ujar Naruto lagi, dan Hinata tidak bisa membendung air matanya.
"Ya, sudah pergi sana bersama kekasihmu." ujar Naruto lagi, berlalu dengan kekesalan yang sangat dalam, dan taukah kau Naruto, kau akan menyesali keputusan mu seumur hidup.

Pemuda itu menatap Hinata dengan sedih, semenjak Hinata keluar dari keluarga Namikaze seminggu yang lalu, sikap Hinata berubah, dia banyak diam dan jarang mengeluarkan suaranya. Setidaknya Hinata marah atau memukulnya, tapi Hinata diam dan membisu, membuat pemuda yang telah menciptakan kekacauan menyesal.

"Kau baik-baik saja Hinata." ujar pemuda itu yang khawatir melihat adiknya terus diam selama seminggu ini.

Dan lagi-lagi pemuda itu mendapat senyuman yang entah kenapa membuat pemuda itu merasa sakit. 'Seandainya.' pikir pemuda itu lagi sedih berpikir bahwa kejadian seminggu yang lalu tidak terjadi, dia tidak akan melihat adiknya seperti ini.

"Aku..." ujar Hinata pelan, dan membuat pemuda yang selama seminggu ini uring-uringan karena sikap Hinata, bisa tersenyum sejenak.

"Iya, ada apa?" tanya pemuda itu senang, sambil melihat apa yang dipandangi Hinata dari tadi.

Mereka sekarang ada dibalkon apartemen milik pemuda itu, yang dibelinya tiga hari yang lalu.

"Aku, berterima kasih Kakak." ujar pelan Hinata.

"Berterima kasih?" heran Pemuda itu.

"Karena kau sudah membantuku, untuk keluar dari keluarga Namikaze." ujar Hinata lagi sambil menatap Kakaknya dengan mata yang kehilangan cahaya dalam hidupnya.

"Kalau aku tahu akan jadi seperti ini, lebih baik aku tidak pernah mengatakan kata-kata itu." ujar Pemuda itu lagi, menyesali apa yang telah ia perbuat.

"Tidak... Kau menyelamatkanku." ujar Hinata mencoba menahan air matanya.
"Naruto-kun akan menikah 1 minggu lagi." ujar Hinata sambil menundung menyembunyikan air matanya dan menahan isakan kecil yang lolos.
"Harusnya kau mencegahnya bukan!" ujar Pemuda itu lagi masih dengan kesalan, karena adiknya terlalu bodoh, dan rapuhnya.

"Aku tak apa." ujar Hinata lagi mengalihkan pandangan kearah taman yang terlihat dari balkon apartemen Hinata tinggal.

"Aku akan telphon Kakak Neji, kau bisa tinggal diSuna untuk sementara waktu." ujar pemuda itu lagi berlalu meninggalkan Hinata dengan perasaan yang menyesakan. 'Ku harap kau bisa melupakan pemuda itu Hinata.' pikir pemuda itu a.k.a Sasuke.

"Apa ini tidak terlalu cepat Ibu." gumam pemuda yang tengah berdiri memandang pantulan wajahnya dicermin, dengan wajah pucat karena selama seminggu ini dia tidak bisa tidur nyenyak setelah Istri yang mulai dicintainya pergi bersama lelaki lain.

"Tidak, hanyak mempercepat 1 minggu dari acara lalu." ujar ibu Naruto a.k.a Kushina tersenyum dan tidak menyadari putranya yang rapuh.

"Aku..." ujar Naruto pelan, namun tidak ada kata-kata lanjutan untuk mengutarakan perasaan yang menyakitkan, pemuda itu menaruh tangan kanannya disebelah dada kiri dan meremas pakaian yang dikenakannya untuk menghilangkan rasa sakit yang selama seminggu ini dia rasakan.

"Sudahlah, cepat atau lambat kau akan melupakannya." ujar Kushina lagi dan beranjak dari ruangan pengantin pria.

Pemuda yang ditinggalkan menatap dirinya yang memakai pakaian putih dan mengingat kejadian satu tahun yang lalu. Saat pernikahan dirinya dan Hinata yang dilakukan secara sederhana, hanya menggunakan setelan jas biasa tidak semewah ini, dan Hinata hanya memakai dress terusan selutut, terlihat manis dan imut.

Hal yang Naruto ingat... Hinata tidak pernah menyembunyikan senyum indahnya saat gadis itu berhasil membuat Naruto menikahinnya.

Mengingat hal itu Naruto menatap pintu keluar dan memandang dirinya lagi dari cermin.

"Kalau aku melakukan ini." gumamnya pelan. "Apakah kau akan semakin jauh." ujar Naruto lagi memikirkan gadis yang disadarinya sudah merebut semua hatinya dari semua gadis didunia ini.

Tok Tok Tok

"Naruto." ujar suara diluar.

t.b.c

gomen gak bisa bales review... tapi naru akan selalu membaca review kalian... dan maaf mengecewakan dichapter ini.