"Come Back"
Cerita Naruto milik Masashi Kishimoto
Cerita ini murni karangan saya .
Saya hanya meminjam karakter dan tidak mendapatkan keuntungan berupa materi dari hal ini.
...
Enjoy
.
.
-Lima tahun kemudian..
.
Jalanan Konoha lenggang sore ini. Awannya sedang mendung dan angin menjadi dingin. Sakura punya firasat akan turun hujan lagi, tapi untunglah dia sudah pergi belanja. Di sebelahnya Sarada sedang duduk tenang dengan membaca sebuah buku. Sakura tertawa kecil melihat kacamata merah Sarada yang sedikit melorot saat gadis itu menunduk. Mereka saat ini sedang berada di dalam mobil setelah hampir dua jam berkutat di pasar untuk belanja.
"Sarada, kita mampir sebentar ya." Kata sakura pelan sambil melirik putrinya. Sarada menoleh kepada ibunya dan menutup bukunya.
"Kemana?" Tanyanya singkat sambil membenarkan posisi kacamatanya.
"Ke tempat kakek dan nenek." Jawab Sakura dengan sebuah senyum kecil. Sarada mengangguk sebagai jawaban dan membuka kembali bukunya. Sakura menatap putrinya sekali lagi dan menghembuskan nafas pelan. Menatap Sarada selalu membuatnya teringat pada masa lalu, dan itu tidak membuatnya merasa nyaman, tapi bagaimanapun juga Sarada adalah putrinya dan Sakura sangat menyayangi gadis kecilnya itu.
Mobil mereka berhenti di bawah pohon besar. Sakura mematikan mesin mobilnya dan merangkak ke jok belakang untuk mengambil karangan bunga. Di sebelahnya Saraa meletakan bukunya dan kembali menata kacamatanya. Gadis itu melirik pada ibunya yang sedang merapikan karangan bunga yang mereka beli tadi.
"Baiklah, ayo kita keluar."
Sebelah tangan Sarada menggenggam tangan Sakura, dan sebelahnya lagi mendekap karangan bunga di dadanya. Gadis itu berjalan pelan, matanya menatap tenang ke depan, tapi sesekali juga melirik pada ibunya yang hanya terdiam.
Mereka berhenti di dua buah gundukan tanah yang berdampingan. Sarada sekali lagi menatap pada ibunya. Sakura tidak mengatakan apapun, tubuhnya berjongkok dan dia meletakan sebuah karangan bunga di atas gundukan tanah itu.
"Apa kabar ayah..ibu.."
Wanita itu tersenyum kecil, di sebelahnya Sarada ikut berjongkok dan meletakan karangan bunganya di gundukan tanah satunya.
"Apa kabar kakek, nenek.."
Sarada tidak pernah menyukai suasana pemakaman, dan dia tahu ibunya juga tidak menyukai hal itu. Tapi ibunya selalu rutin mengunjungi makam kakek dan neneknya, membawa karangan bunga, membersihkan makamnya dan membacakan doa disana. Wanita itu selalu hampir menangis, tapi dia selalu menahannya dengan baik di depan Sarada. Sarada tidak tau wajah kakek dan neneknya, dia hanya tau namanya, dan hal itu kadang membuatnya tidak nyaman saat harus mengunjungi makamnya, rasanya hampir seperti mengunjungi makam orang asing.
Sakura menatap putrinya yang sedang menunduk memberi doa, bibirnya tersenyum sedih dan sebelah tangannya mengusap cepat air mata yang lolos dari matanya.
.
.
.
Sasuke menatap hujan dari kaca jendela ruang kerjanya. Dihadapannya masih ada setumpuk berkas yang belum dia lihat, tapi fikirannya sudah tidak bisa lagi fokus. Ini sudah hampir malam, dan dia ingat mendapat undangan makan malam di rumah orang tuanya, tapi tubuh dan fikirannya sudah lelah, selain itu dia juga sudah tidak mau lagi kembali ke sana. Tapi dari semua itu dia paling enggan untuk kembali ke rumah. Mungkin lembur sampai tengah malam adalah alasan yang bagus untuk melarikan diri.
Sasuke menunduk membuka laci paling bawah di meja kerjanya. Hanya ada satu lembar foto disana, foto seorang balita kecil berambut hitam legam sedang tersenyum menghadap kamera. Diambilnya foto itu dan dipandanginya dengan sebuah senyum tulus. Dia sedang merindukan putrinya. Satu-satunya anak yang dia anggap nyata dalam hidupnya.
"Sarada.."
.
.
.
Sakura mengangkat dua kantong besar belanjaannya, Sarada membantunya dengan mengangkat satu kantong besar berisi tomat. Gadis itu berjalan terhuyung dan berakhir dengan menjatuhkan seluruh tomatnya. Tomat-tomat itu menggelinding dan bertebaran di halaman rumah, Sakura tertawa kecil, Sarada menatapanya dengan cemberut dan memunguti tomatnya satu-persatu.
Seorang lelaki tua datang dan membantu Sarada, lelaki itu tersenyum ramah dan mengambil alih kantong di tangan Sarada.
"Biar saya saja nona."
Sarada menyerah dan memberikan kantongnya, dia sebenarnya sudah tidak tahan mendapat tertawaan ibunya.
"Sakura-sama, biar saya panggilkan Ayame untuk membantu." Kata lelaki itu dengan suara seraknya.
"Tidak perlu ji-san, aku bisa mengatasinya." Sakura membalas dengan tersenyum dan melangkah pelan memasuki rumah sekaligus kedai miliknya. Kedai itu tidak terlalu besar dan sangat sederhana, makanan yang dijual pun tidak terlalu beragam hanya beberapa makanan seperti ramen dan okonomiyaki dengan dua pekerja yang membantunya.
Hari sudah hampir gelap ketika Sakura sampai di rumah, kedainya juga tutup lebih awal hari ini karena harus mengisi ulang persediaan bahan. Paman Teuchi, salah satu pekerjanya sudah membantu Sakura menata rapi semua persedian bahan makanan. Sakura melirik jam tangannya lalu berpindah pada kalender di sampingnya.
"Besok tanggal sepuluh ya.., Sarada ada kunjungan ke museum di Tokyo." Katanya sambil bergumam pelan dan memandang kalender di depannya dengan cemas.
"Kenapa harus Tokyo.."
.
.
Malam ini turun hujan di Konoha dan hawanya jadi semakin dingin saja. Sakura duduk di sofanya dengan segelas ocha hangat, jam sudah menunjukan pukul sepuluh tapi wanita itu masih duduk diam menatap televisi menyala dihadapannya dengan tatapan kosong. Dia lelah, tapi lagi-lagi dia tidak bisa tidur. Rasanya terlalu takut untuk naik ke atas ranjang ketika bayangan masa lalu selalu datang menghantuinya. Sakura lebih suka tertidur di atas sofanya dan kedinginan dari pada berbaring nyaman di kamarnya yang hangat. Baginya dia sudah tidak bisa lagi merasakan kenyamanan dan kehangatan dari kamarnya yang terlalu sesak dengan kenangan masa lalu.
"Ibu.."
Sakura menoleh kaget pada Sarada yang sedang menatapnya dari tangga. Gadis itu menggenakan piyama kuning dan memeluk bantalnya. Kacamatanya dilepas membuat matanya menatap Sakura dengan menyipit. Dengan pelan gadis itu berjalan ke arah ibunya dan duduk di samping Sakura.
"Kenapa bangun?" Tanya Sakura lembut dengan mengelus pelan rambut hitam putrinya.
"Kenapa ibu belum tidur?" Sarada tidak menjawabnya tapi balik bertanya pada ibunya. Sebelah tangannya mengusap pelan matanya yang masih mengantuk. Gadis itu merasa dingin dan mengeratkan pelukan pada bantalnya.
"Emm, kamar ibu sepertinya bocor." Sakura menjawab dengan tertawa kecil, dia tau berbohong bukanlah hal yang baik, tapi dia juga tidak mungkin menceritakannya pada Sarada, masalahnya terlalu rumit, dan dia tidak mau putrinya memikirkan masalah-masalah rumit di usianya yang masih tujuh tahun.
"Kalau begitu tidur di kamarku saja."
Sakura tersenyum haru, putrinya begitu polos dan baik. Dia sangat menyayangi Sarada, hanya Sarada yang selama ini menjadi semangatnya untuk terus hidup. Putrinya, bidadari kecilnya, dia sudah berjanji akan melindungi dan membahagiakan Sarada.
"Baiklah, ayo kita tidur."
Dalam gelapnya malam dan dinginnya hawa hujan, ibu dan anak itu meringkuk di tempat tidur dengan berbalut selimut tebal. Sakura memeluk putrinya, menyalurkan kehangatan tubuhnya, dan merasa sangat bersyukur bisa tidur dengan hangat dan nyaman di samping putrinya.
.
.
AN
semoga gak ngebosenin ya.. awalnya saya langsung update ini barengan sma ch. 1 malah mau dijadiin satu tapi rasanya terlalu panjang banget, tapi akhirnya saya pisah dan saya hapus ch 2 karena ada sedikit tambahan.
Saya memutuskan untuk tetap menggunakan sebutan 'ayah-ibu' bukan 'papa-mama' karena itu terasa lebih halus dan lebih sayang banget menurut saya. Semoga reader bisa menerimanya.
Terimakasih yang sudah berkenan untuk membaca, dan maaf klo msih banyak kesalahan dan kekurangan di dalamnya. Saya akan terus belajar dan memperbaiki tulisan saya.
Agak heran sebenarnya bisa nulis dikondisi saya yg lagi gak enak banget.. hhh kehidupan nyata memang berat..
Sekali lagi terimakasih dan saya berharap pendapat, kritik dan sarannya untuk membangun saya dan cerita ini.
Terimakasih.
