Love Unilateral

Author : Naruhina Sri Alwas
Naruto milik Masashi Kishimoto Sensei
Pair : NaruHina
Rated : T+
Ganre : -
Warning : Typo, OOT, EYD, AU, dll.

.

.

.

.

Sebuah pernikahan adalah sesuatu hal yang sakral, apa aku menghancurkan pernikahan ini?

"Mencinta seseorang tidak harus memiliki."

"Tapi rasannya menyakitkan."

###

Chapter 4

Diruangan pengantin

seorang pemuda menunduk memikirkan sesuatu yang beberapa hari ini terus menggangunya, menatap pantulan tubuhnya dicermin yang memperlihatkan betapa gagah dan tampan dirinya.

"Apa saat aku menikah dengan Sakura..." ujar Naruto terdiam sejenak berbicara pada cermin besar melihat tubuhnya, dan berharap gadis yang pergi darinya, ada didapan matanya sekarang.

"Kau akan terluka?" tanyannya lagi pada pantulan wajahnya yang menyiratkan luka.

Naruto baru mengetahui perihal pernikahannya yang benar-benar dilakukan oleh orang tuannya, dan selama itu pun Naruto tidak mengeluarkan kata-kata penolokan ataupun kata-kata mengiyakan, sehingga ibu dari Naruto langsung membuat pesta pernikahan tiga hari setelah mengatakan niat untuk menikahkan putranya dengan Putri dari Haruno.

Naruto akhirnya menangis, dia sadar bahwa saat itu Hinata tidak berbohong, gadisnya terluka, apa hanya dia saja yang selalu telat mendapatkan informasi sepenting ini, apakah takdir ini begitu kejam untuknya.

"Aghhhhh..." jerit Naruto dari dalam ruangan dan membuat ibunya yang diluar ruangan mendengarnya.

Prang

Tes

Tes

setelah jeritan itu tidak terdengar dari dalam, terdengarlah suara kaca yang pecah atau dipecahkan dari dalam ruangan, dan lagi-lagi orang yang berada diluar mulai cemas karena ruangan pengantin pria dikunci dari dalam, sehingga sang ibu yang diluar segera memanggil petugas keamanan untuk membuka pintu ruangan itu dengan kunci cadangan.

"Naruto." ujar Ibu Naruto mulai menangis memikirkan pikiran buruk tentan putrannya.

"Ibu mohon, jangan berbuat ulah." ujar kushina lagi sambil menggedor-gedor pintu ruangan itu. Tetap tidak ada jawaban yang berarti dari dalam ruangan pengantin pria, hanya kesunyian dan putus asa yang terpancar jelas diwajah perempuan paruh baya ini.

Tangisan terus terdengar didalam ruangan yang memperlihatkan seorang pemuda yang tengah sekarat, yang hampir dijemput malaikat pencabut nyawa. Tangisan yang dikeluarkan oleh seorang wanita yang menyesal dan memohon pada Kami-sama agar putranya bisa ditolong,

Tangan kanan putrannya penuh dengan luka karena memecahkan kaca besar dipojok ruangan. Tangan Kiringa terdapat goresan panjang dan banyak mengeluarkan darah, sehingga siapa pun yang melihatnya akan merasa perasaan yang mengerikan. Pencobaan bunuh diri yang dilakukan oleh pemuda Naruto Namikaze ini, membuat hati sang ibu teriris sakit, melihat ketidak berdayaan putrannya, yang tersenyum kepadannya, membuat hatinya semakin menjerit menyalahkan pada dirinya sendiri.

"Maafkan ibu Naruto." ujar Suara ibu Naruto bergetar hebat, ambulan datang saat petugas yang membuka pintu menelphon rumah sakit untuk segera datang ke Hotel Konoha yang sedang mengadakan pesta pernikahan, kabar sang pengantin mencoba bunuh diri tersebut tersebar dengan cepat, sehingga calon pengantin perempuan yang mendengarnya merasa 'Sakit' itulah yang mungkin dirasakan pengantin perempuan yang tengah menahan tangisannya.

###

"Aku..." ucup lirih seorang calon pengantin cantik berambut pink didepan ruangan yang bertuliskan UGD.

"Sa-Sakura." ujar seseorang dibalik punggu sang calon pengantin.

"Ibu." ujarnya lagi yang tidak bisa membendung air matanya.

"Tenanglah, Nak." ujar ibu Sakura berusaha menenangkan putrinya, yang tengah berdiri menghadap pintu ruangan tanpa sedikitpun merasa lelah, walau dengan sepatu berhak yang dipakainya. Dan sang anak pun tidak bergeming, mengintip kearah dalam ruangan melalui kaca kecil yang sengaja dibuat untuk melihat keadaan didalam ruangan saat oprasi sedang berlangsung.

Seorang dokter keluar mengenakan masker putih, memperhatikan seluruh keluarga yang sedang berduka, menanti penjelasan sang dokter.

"Kami... Mohon maaf." ujar Dokter itu lagi dan suara tangisan menjadi terdengar dari seorang ibu yang merasa bersalah karena memaksakan kehendaknya.

"Tidakkkkk..." jerit Kushina semakin menjadi saat mendengar putrannya tidak tertolong. "A-Aku mohon selamatkan putraku." ujar parau seorang ibu, yang berlutut didepan seorang dokter yang telah memberi kabar yang mengecewakan.

"Maaf, kami tidak bisa berbuat apa-apa, putra anda mengalami koma, seandainya dia bisa bertahan dalam waktu 24 jam, dia bisa diselamatkan." ujar Dokter itu melanjutkan, tidak tega dengan seorang ibu yang menangis karena putrannya diambang kematian.

"Naru..." ujar lirih kushina yang sudah terduduk dilantai koridor rumah sakit didepan ruangan UGD tempat anaknya menjalin operasi karena percobaan bunuh diri yang dilakukan pemuda itu.

"Su-Sudahlah Kushina." ujar seorang pria menenagkan istrinya, supaya bisa lebih tegar.

"Ta-Tapi, Minato." ujar parau Kushina, menatap suaminya dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung, dan rasa sakit dibagian dada sebelah kirinya.

"Bibi." ujar suara lembut mengintrupsi obrolan dua orang pria dan wanita.

"Iya." ujar Minato mewakili istrinya yang sekarang sangat sulit untuk mengeluarkan suarannya karena terlalu banyak menangis histeris dari mulai Naruto ditemukan sampai oprasi yang berlangsung selama 7 jam, hingga sekarang setelah pemberitahuan dari Dokter yang menangani putranya, bahwa putrannya sedang mengalami masa kritis atau koma.

"Aku, minta maaf." ujar Sakura lagi menundung menahan suara tangisnya dengan cara menggigit bibirnya pelan.

"Sudahlah, Sakura." ujar Minato tak ingin masalah sebenarnya diungkin, yang terpenting sekarang Naruto harus selamat dari masa kritisnya, kalau Naruto masih menolok untuk menikah dengan Sakura, Minato pasti akan membiarkan putrannya tidak menikah, itu adalah janji dalam hati seorang Minato Namikaze yang sombong dan arogan.

***

Masa kritis Naruto sudah lewat, keluarga Naruto selalu datang setiap hari ketempat ruangan Mawar yang ditempati Naruto selama Komanya.

Kata dokter walaupun Naruto sudah terbebas dari masa kritisnya, tapi Naruto akan mengalami yang namannya Koma, menurut dokter lagi tidak bisa dipastikan kapan pemuda pirang itu akan membuka matannya, satu hari? Dua hari? Seminggu ? Dua minggu? Sebulan? Dua bulan? Setahun? Dua tahun, entah kapan pemuda pirang itu akan tersadar dari komannya.

Namun sedikit harapan itulah yang membuat ibu dan ayah dari Naruto Namikaze terus berharap putrannya akan kembali sehat seperti sebelumnya.

###

"Penerbangan jurusan Suna akan segera berangkat, dimohon para penumpang memasuki badan pesawat" ujar suara bising dipengeras suara yang memberi tanda bahwa penerbangan Kesuna akan segera lepas landas.

"Selamat tinggal." ujar Hinata lirih saat Hinata mulai menginjak satu demi satu tangga untuk masuk kedalam pesawat. Tapi Hinata berhenti dan menoleh kearah belakang, seolah ada perasaan yang menyakitkan didalam dadannya membuat dirinya sesak sesaat saat memikirkan pemuda pirang yang dicintainnya.

"Kuharap kau bahagia." gumamnya pelan, melanjutkan berjalan kedalam pesawat.

"Hinata, kalau kau ingin kembali... Kita bisa kembali." ujar seorang pemuda yang melihat Hinata yang melamun, dan orang yang ditanya seperti itu pun langsung tersadar dari alam bawah sadarnya.

"Eh?" kaget Hinata yang baru saja sadar, tidak mendengarkan ucapan Sasuke. "Apa yang Sasuke-kun biang tadi?" tanya Hinata penasaran, karena hanya sekilas dia mendengar Kakaknya bergumam tapi dia tidak bisa mendengarkan apa-apa, hanya suara jantungnya saja yan bisa didengarnya

Deg

Deg

Deg

'Kenapa ini?' pikir Hinata meremas baju bagian luarnya disebelah kiri dadanya.

"Hinata!" ujar kaget Sasuke dan dengan sigap dia menahan tubuh Hinata yang jatuh.

"Nii..." ujar Lemas Hinata dan pandangannya mulai kabur dan akhirnnya gelap tanpa ada setitik cahaya pun.

Gelap

"Hinata." ujar Pemuda itu tambah kaget dan cemas, adiknya pingsan saat-saat pesawat akan lepas landar.

"Tolong..." Sasuke berteriak meminta pertolongan, kepada siapa pun.

###

"Hinata...hikz..." Sasuke menangis melihat adiknya terbaring tak berdaya dibansal bandara Konoha yang sudah disiapkan oleh pihak bandara.

"Maaf." ujar lirihnya dan memegang salah satu tangan Hinata, mencoba menguatkan dirinya sendiri.

"Sadarlah." ujarnya lagi sambil membisikan kata-kata 'Bertahanlah.' Dokter yang memeriksa Hinata tidak bisa berbuat apa-apa selain memberikan masukan kepada pemuda yang ada didepannya a.k.a Sasuke.

"Maafkan saya tuan..." ujar dokter itu menjeda ucapannya.

"Uchiha Sasuke." ujar Sasuke pelan karena suaranya hampir hilang.

"Sebenarnya Nona ini hanya setres berat." ujar dokter itu lagi, Sasuke tidak kaget akan ucapan dokter itu tapi dia melirik Hinata yang tengah tidur terlelap karena diberi obat tidur oleh sang dokter yang memeriksannya.

"Dan sepertinya anda sudah tau bahwa Nona ini mengalami beban pikiran." ujar Dokter itu lagi yang bisa kita tahu bernama tag Kabuto.

"Iya, dan itu karena aku." ujar lirih Sasuke membalik tubuhnya kearah Hinata, menatap wajah Hinata dengan senyum miris.

"Kalau begitu saya permisi." pamit dokter itu lagi pergi dari ruangan itu.

"Kau akan baik-baik saja Hinata-chan." ujar Sasuke dan lagi-lagi air matanya tidak dapat dibendung.

"Nii-chan." ujar lirih Hinata mencoba meraih tangan kakaknya yang tengah tertidur pulas, karena sehari semalam menjaga Hinata.

"Ngg..." Sasuke menggeliat dalam tidurnya yang sedang duduk, dan mencoba membuka matannya.

"Nii-chan." ujar lirih Hinata sambil menunduk menyembunyikan wajahnya.

"Hinata kau sudah sadar... Syukurah." ujar Sasuke terharu melihat adiknya bisa tersadar dengan cepat.

"Gomen... Membuat kakak Sasuke khawatir." ujar Hinata menyesal dan pandangan Hinata teralih oleh suasana luar gedung yang cerah.

Melihat awan yang biru mengingatkannya kepada mata sang suami, yang seharusnya 5 hari lagi mengadakan pernikahan.

"Jangan berpikir yang aneh-aneh, sekarang kau harus istirahat." ujar Sasuke mengetahui pikiran sang adik yang pasti sedang memikirkan pemuda pirang itu.

"Ah." ujar Hinata kaget kembali kealam nyata. "Hehe... Gomen." ujar Hinata tertawa kaku, walaupun sakit pasti menyenangkan.

Memikirkan masa depan tidak akan pernah melihat masa lalu, jadi aku tak akan memilih masa lalu untuk ku jalani. Masa depan didepan sana membentang seluas samudra.

Tidak akan menoleh kemasa lalu yang menyedihkan.

Cinta hanya ada satu alasannya... Karena aku mencintai mu...

Ditempat lain waktu berbeda

Naruto P.o.v

Pagi yang sangat kelam bagi ku, hari ini aku harus menghadapi kenyataan bahwa dia sudah pergi, gadis itu pergi meninggalkanku karena aku terlalu bodoh untuk mempertahankannya.

"Hinata." gumamku menatap jendela disamping kanan kasur dan menatap air hujan dibalik jendela kamar.

"Naruto." ujar suara disampingku, memanggilku.

End Naruto p.o.v

Normal p.o.v

"Naruto." ujar lirih seorang ibu yang tengah menahan tangis, setelah kejadian hampir mati pemuda itu, Naruto lebih banyak melamun, dan menatap luar rumah, berharap kekasih hatinya datang dan menemuinya.

"Ibu..." ujar Naruto masih memandang jendela kamarnya tanpa merasa risih dengan tangisan Ibunya yang sudah pecah.

"I-Iya, Nak." ujar Kushina tidak bisa menahan tangisannya.

"Hinata mana?" tanyanya lagi sambil melirik Ibunya yang tengah ditenangkan oleh Ayahnya.

"Naruto." ujar Ibu Naruto memeluk tubuh suaminya, meredam tangisan yang akan pecah lagi melihat putranya begitu menyedihkan.

Perempuan itu menyesal, sangat menyesal karena membuat putranya seperti ini. Seandainya waktu bisa diputar kembali, dia tidak akan pernah membuat putranya sangat menyedihkan seperti ini.

"Maaf... Hikz... Hikz..." ujar Kushina menangis membasahi pakaian santai suaminya, semenjak Naruto keluar daru rumah sakit, Kushina selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan Minato hanya bisa menatap keluarganya dengan penyesalan yang sangat besar.

'Seandainya aku tidak membuat gadis itu pergi, Naruto tidak akan seterpuruk ini.' pikirnya lagi sambil menunduk melihat Istrinya yang tengah menangis dipelukannya.

"Kushina, kau jangan terus-terusan seperti ini." bisik lelaki yang tengah memeluk Istrinya dengan rasa pilu dan sesak didalam sanu barinya.

"A-Aku..." ujar Kushina masih dengan isakan karena dia tidak bisa berpikir lagi untuk kesekian kalinya. "Maaf..." ujarnya lagi sambil meneteskan air matanya.

"Sudahlah." ujar Minato menenangkan Istrinya.

"T-Tapi..." ujar Kushina sambil memandang suaminya dengan air mata sedih.

"Sudahlah, kita tidak bisa memutar waktu," ujar Minato tegas dan membawa Istrinya keluar dari kamar putra semata wayang mereka dengan mengangkat tubuh Istrinya ala pengantin.

"Minato." ujar lirih Kushina saat melewati pintu keluar.

"Iya, Kushi-chan." ujar Minato lagi melirik Kushina sejenak dan melanjutkan lagi perjalanan kekamar mereka.

"Naruto." gumamnya lirih dan menyembunyikan wajahnya kedalam dada bidang suaminya.

"Aku tahu." ujar Minato memotong ucapan Istrinya, dan membuka perlahan pintu kamar mereka.

"Aku menyesal... Aku akan melakukan apapun untuk Naruto, asalkan Naruto mau memaafkanku." sekian lama Kushina menahan rasa sakit karena melihat putranya yang rentan dan rapuh.

"Iya, aku tahu." ujar Minato sambil membaringkan Kushina diatas kasur mereka. "Jadi, berhentilah menangis." lanjut Minato sambil menghapus air mata Kushina dan tersenyum lembut kearah Istri tercintanya.

Minato menemani Kushina sampai istrinya tertidur, memandang langit-langit kamarnya, mengingat kenangan sebulan yang lalu, mengingat betapa bodohnya dia membuat putra sematawayangnya hampir mati.

"Aku terlalu keras padanya Kushina... Maafkan aku." gumam Minato lagi sambil melihat wajah istrinya yang tengah tertidur lelap, terlihat damai dan menenagkan. Sambil membelai wajah Istrinya Minato mengingat potongan-potongan kronologi berdarah tempo hari yang membuat Istrinya terus-terusan menangis dan menyalahkan dirinya.

###

"Hinata... Aku rindu padamu." gumam Naruto sambil melihat jendela kamarnya.

"Apa kau merindukanku?" tanyanya lagi sambil melihat atap kamarnya. Membaringkan tubuhnya yang mulai lelah dan mencoba memejamkan mata berharap Hinatanya akan kembali saat dia membuka matanya.

"Hinata... Hinata..." gumam Naruto saat tidurnya.

"Hinata... Mau kemana." Naruto masih bergumam seolah sedang berbicara dengan Hinata.

"Naruto." gumam seorang lelaki yang mirip dengan Naruto, menatap nanar putranya yang sedang tertiidur. 'Setidaknya kau masih melihat Hinata dalam mimpimu.' pikir Lelaki itu lagi sambil duduk disebelah kiri ranjang putranya.

"Hinata, kapan kau kembali?" ucap pemuda itu sambil tersenyum didalam mimpinya. Seolah Hinatanya telah kembali kedalam pelukannya.

Lelaki itu masih saja menatap putranya walaupun waktu tengah menunjukan pukul 12 malam, memandang setiap hari putrannya yang rapuh dan terganggu pikirannya karena seorang gadis yang mulai dicintainnya.

"Kau harus bertahan, ayah hampir menemukan Gadismu Naruto." bisik lelaki yang mirip pemuda yang tengah berbaring nyaman di kasur king sizenya. "Dan ingat kalau kau seperti ini terus, ayah tidak akan memberikan 'gadis' mu kembali kepelukan mu." gumamnya lagi dan menatap wajah damai putranya, tanpa sadar lelaki itu mengeluarkan air matanya.

Waktu sudah menunjukan pukul 3 pagi, lelaki pirang itu masih saja menjaga putranya dikamar yang bernuansa orange itu, membuat siapa pun pasti mengira pemuda yang di jaga oleh orang tuanya tengah demam, sehingga harus dijaga selama demamnya turun, namun pemuda yang sedang berbaring itu tidak sedang demam, tapi pemuda itu mengalami gangguan kejiwaan karena setres ditinggal Istrinya.

Sudah empat puluh hari Hinata pergi, dan sudah satu bulan Naruto mengalami gangguan jiwa, namun lambat laun Naruto akan pulih, begitu kata dokter yang sudah melayani keluarga Namikaze. Dia hanya mengalami setres paska Hinatanya benar-benar pergi dari kehidupannya.

"Naruto, lihat ibu." ujar Kushina yang sudah datang pagi-pagi kekamar anaknya, saat ini pukul 5 pagi, semuanya tampak biasa selama 1 bulan ini, belum ada perubahan yang membuat Pemuda itu sadar dari dunianya.

"Iya." ujarnya pelan, tapi masih bisa didengar Kushina. Dan kushina tersenyum sejenak, menatap putranya dengan pandangan menyesal.

"Ibu punya kabar untukmu." ujar Kushina lagi sambil melirik suaminya yang berdiri dibelakangnya.

"Kabar?" beo Naruto yang masih binggung.

"Apa kau ingin bertemu Hinata?" tanya pelan Kushina takut putranya akan terganggu atau matah.

"Hinata?" tanyanya heran dan melihat mata ibunya heran.

"Iya, kau tau Hinata tidak pergi bersama pacarnya." ujar Kushina lagi sambil memandang putranya dengan senyum tulus.

Beberapa jam sebelumnya.

"Jadi kau sudah menemukannya." ujar suara lelaki yang tengah menjaga putranya dikamar bernuansa orange itu.

"Segera kirim semua info tentang pemuda misterius itu." ujar Minato lagi berbicara melalui handphonenya.

"Aku tunggu." ujar Minato mengakhiri percakapan dengan pelayang kepercayaannya a.k.a Kakashi.

"Kau dengar Naruto, dan Ibumu pasti akan senang melihatmu tersenyum lagi seperti dulu." ujar lelaki pirang itu beranjak pergi dari kamar bernuansa orange itu, berjalan menyusuri lorong kediaman Namikaze dilantai dua, memasuki kamarnya dengan sang istri, melirik jam yang masih pukul 4 pagi. 'Rasanya tidak sabar.' pikir Minato sambil duduk ditepi ranjang, dan memandang wajah ayu sang istri yang masih terbuai dengan mimpi indahnya.

"Kushina..." ujar pelan lelaki itu takut membuat wanita dihadapannya kaget dan kecewa.

"Ng..." ujar Kushina yang perlahan-lahan membuka matanya. "Apa apa?" tanya heran Kushina yang melihat suamnya sedang tersenyum lembut padanya. "Kenapa?" tanya heran Kushina dan mulai bangun dan duduk diatas kasur, heran melihat suaminya yang berwajah ceria.

"Aku punya kabar gembira." ujar Minato tidak bisa lepas dari senyuman yang membuat Kushina heran. 'Kabar?' anehnya dan berharap bisa dapat langsung Informasi dari suaminya.

Saat ini Kushina menceritakan bahwa Hinata pergi bersama Kakak kembar Hinata yang dulu pernah tinggal disuna bersama keluarga Uchiha yang telah mengangkat Sasuke sebagai putra kedua mereka.

Dan keluarga Uchiha dan Hyuuga masih ada hubungan kerabat, sehingga orang tua dari Sasuke a.k.a Hirashi dan istrinya melepas putra kedua mereka untuk dibesarkan oleh keluarga Uchiha.

Setelah Kushina selesai bercerita, Naruto menangis memandang tidak percaya dengan cerita yang telah dia dengar dari Ibunya.

Hinata? Tidak pergi dengan kekasihnya. Tapi dengan Kakaknya. Tanpa diduga Naruto tersenyum dan memandang keluar kamarnya.

"Kau senangkan Naruto?" tanya Kushina sambil mengguncang pelan tubuh lemah putranya.

"I-Iya," ujar Naruto agak terbata seolah baru dibangukan dari lamunannya sejenak. Menatap Ibunya yang memandang cemas padanya. "Aku baik'baik saja." ujar Naruto yang mambuat Kushina menangis terharu, karena akhirnya Putranya merespon ucapannya dengan sadar, tanpa pandangan kosong selama sebulan mereka merawat Naruto.

"Baguslah... Hikz..." ujar Kushina tidak bisa melepaskan rasa syukur karena Naruto perlahan-lahan mulai pulih dari sakitnya.

"Sudalah Kushina, Naruto pasti lelah." ujar Minato menasehati Istrinya. "Dan istirahatlah Naruto, Hinata pasti akan sedih melihatmu seperti ini." ujar Minato menatap putranya lembut, untuk pertama kalinya dia membuang semua ego dan keras kepala dalah Hidupnya, hanya demi melihat putranya bisa pulih dari keterpurukan.

"Iya." ujar Naruto tersenyum dan berbaring dikasurnya seperti anak kecil yang langsung menuruti ucapan orang tuanya. Dia mencoba menutup mata dan menyamankan tubuhnya dengan selimut yang hangat.

5 tahun kemudian

"Namikaze-san, maaf saya terlambat." ujar seorang karyawan baru yang baru dipindahkan dari kota Suna ke Konoha, seorang gadis cantik, yang mamiliki rambut indigo panjang.

"Owh." ujar Naruto menatap sekretarisnya dengan intens.

"Maaf." ujar gadis itu lagi sambil menyembunyikan wajahnya dibalik poni ratanya.

"Berhenti minta maaf." ujar Naruto memerintah dan menyuruh Gadis itu untuk agak dekat dengan dirinya. "Dan cepat kesini." ujar Naruto ketus.

"I-iya." ujar gadis berambut indigo itu kaget dan buru-buru menghampiri pemuda yang akan menjadi Bosnya.

Gadis itu bernama Hyuuga Hinata, yang dipindahkan karena prestasinya yang gemilang, dan satuhal yang Hinata tidak tahu menahu, bahwa dia akan menjadi sekretaris dari pengusaha Namikaze, dan benar-benar membuat gadis itu ingin pergi dari sini adalah karena Namikaze didepannya bukan Namikaze Minato melainkan Namikaze Naruto putra dari Minato yang artinya dia akan bekerja dibawah kekuasaan sang pamuda yang dulu pernah dia hancurkan masa depannya, karena merebut pemuda itu dari kekasihnya, dan meninggalkan pemuda itu.

Apa Hinata akan bertahan?

Seperti biasa kurang memuaskan...

Naru gak kuat buat nulis fic ini, dan lumayan juga nguras air mata, ditambah kesibukan naru diduta sehingga naru nggak bisa serius buat edit mengedit semua fanfic naru #hehe

Maaf #bungkuk-bungkuk badan

Dan tidak lupa minta reviewnya #digampar

.

.

.

R

I

V

E

I

w