"Come Back"
Cerita Naruto milik Masashi Kishimoto
Cerita ini murni karangan saya .
Saya hanya meminjam karakter dan tidak mendapatkan keuntungan berupa materi dari hal ini.
...
Enjoy
.
.
Sasuke menatap sekelilingnya dalam diam. Rumah besarnya terasa begitu sepi dan semakin dingin pagi ini, entah itu karena hujan, atau karena hal lain. Meja makan tempatnya sekarang hanya diisi tiga orang beserta dirinya. Seorang anak kecil duduk di sebelah kirinya sedang makan dengan perlahan, lalu di kanannya ada seorang wanita yang memakan sarapannya dengan tenang dan anggun. Sasuke sendiri sedang menyeruput kopinya yang sudah jadi rutinitas pagi. Baginya, sarapan yang dingin ini juga sudah jadi rutinitasnya.
"Papa, hari ini bolehkah aku ikut kerja bersamamu?"
Sasuke menoleh dan menatap anak kecil pirang di sebelahnya. Anak itu menatapanya dengan mata abu-abu beningnya yang menyala, sangat kontras dengan keadaan pagi ini yang terasa suram dan dingin di rumah besarnya. Tapi Sasuke buru-buru mengalihkan pandangannya dan melihat jam ditangannya.
"Tidak."
Jawabnya tegas dan singkat. Ada sendok yang diletakan cukup keras hingga berdenting setelah Sasuke mengucapkannya, dan dia bisa melihat mata abu-abu yang memandangnya mulai berkabut.
"Sasuke-kun, Shiki hanya ingin bersamamu saja, tidak bisakah kau membiarkannya?"
Wanita di kanannya berkata cukup keras. Sasuke tahu akan mendapat respon seperti ini lagi, dia sudah sadar saat mendengar dentingan sendok di kanannya tapi, Sasuke tidak mau mendengarkannya, lebih tepatnya dia tidak pernah mendengarkannya.
"Aku berangkat."
Katanya singkat dan datar lalu mulai berdiri dan meninggalkan ruang makannya. Wanita di kanannya mendorong kursi begitu keras saat berdiri dan menarik lengan Sasuke. Sasuke tidak melawan, dia hanya berdiri diam dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Aku ingin kau membawa Shiki ke kantormu hari ini dan aku tidak menerima penolakan!"
Ada nada tegas dan menuntut dalam ucapan wanita itu. Ini membuat Sasuke sedikit heran hingga mendengus, karena baru pertama kalinya wanita itu mendukung dengan keras kemauan anaknya hingga seperti ini.
"Jika dia mendapat nilai sempurna hari ini, aku akan membawanya."
Sasuke bisa mendengar nada terkejut dari bocah kecil yabg masih duduk di kursinya, tapi kemudian dia mendengar lagi kata-kata protes keras dari wanita yang masih menahan lengannya.
"Apa-apaan itu! Apakah membawa anakmu sendiri ke kantormu adalah sebuah hadiah kompetisi! Berhentilah menekan Shiki!"
Sasuke mendengus dan menatap dingin pada wanita yang sudah berteriak padanya. Lelaki itu merasa semakin hari paginya jadi semakin buruk dari pada biasanya.
"Dia harus. Jika dia adalah seorang Uchiha."
Ada penekanan di setiap kata-katanya saat Sasuke mengucapkan itu, kata-kata yang dulu juga pernah diucapkan padanya. Sasuke memandang datar pada Shiki yang masih duduk dan menunduk, meremas gelas susunya erat-erat. Sasuke yakin anak itu sedang menahan tangis mati-matian, dan mungkin akan mengutuknya saat dia sudah muak dengan segala perilaku Sasuke. Tapi Sasuke tidak peduli dengan dua orang itu. Dia sudah tidak lagi peduli pada apapun. Tidak sejak saat itu.
.
.
.
Sarada duduk dengan nyaman di kursi bus nya. Dia sedang bersandar di kursi dan menatap gerimis dari jendela bis yang berjalan. Hari ini ibunya tampak cemas dan tidak tenang saat dia mau berangkat. Ibunya bahkan belum menyiapkan apapun yang diperlukannya padahal hari sebelumnya mereka sudah ke pasar dan Sarada mengingatkan ibunya sekali lagi untuk membeli perlengkapannya, tapi ibunya tidak membeli apapun dan mereka harus jatuh bangun untuk menyiapkannya secara mendadak pagi ini. Sarada heran, karena ibunya tidak pernah bersikap seperti ini dan dia juga sudah memberitahu ibunya soal kunjungan museum sejak seminggu sebelumnya. Gadis kecil itu menghela nafas pelan dan memilih untuk menikmati gerimis pagi ini.
Konoha adalah desa kecil makmur yang terletak di pinggir kota besar Tokyo. Perjalanan untuk sampai ke Tokyo membutuhkan waktu paling lama dua jam jika mereka tidak mendapat halangan di jalan. Karena wilayah Konoha masih di kelilingi hutan dengan kayu-kayu tua yang sering tumbang apalagi di musim hujan begini. Sarada berfikir mungkin ibunya terlalu khawatir karena hal itu. Gurunya sendiri juga berkata bahwa dia lebih senang ke Tokyo saat musim panas atau semi, tapi kunjungan ini adalah kunjungan wajib yang menjadi progam pemerintah kota Tokyo tahun ini dan sekolah Sarada tidak mungkin bisa memberikan usulan untuk kunjungan di musim panas atau semi.
Hujan sebenarnya tidak begitu lebat, sepanjang jalan Sarada hanya menemukan gerimis yang kian mereda, tapi meskipun begitu Konoha masih terasa lembab dan dingin. Sarada ingat ibunya memberinya payung saat dia mau masuk bus tadi, padahal Sarada sudah membawa jas hujan. Dia sempat mengeluh pada ibunya tentang tasnya yang berat, tapi Sakura berkata jika dia melihat berita cuaca buruk Tokyo dari TV.
'Lebih baik berat dari pada sakit.'
Itu yang dikatakan ibunya pagi tadi. Sarada tidak bisa membantah, entah kenapa dia jadi sering kalah berdebat melawan ibunya padahal dia sudah sekolah jadi harusnya dia sudah jauh lebih pintar, bahkan dia yang terpintar di kelasnya. Tapi tiba-tiba Sarada ingat kata-kata gurunya jika seorang anak tidak boleh melawan kata-kata orang tuanya. Sarada mendengus mengalihkan matanya dari hujan dan tiba-tiba merasa konyol dengan apa yang sedang dipikirkannya.
Teman duduk di sebelahnya menoleh pada Sarada yang sejak tadi hanya diam tapi tiba-tiba mendengus.
"Ada apa Sarada? Apa kau lapar?"
Tanyanya sambil menunjukan kotak bekalnya, memberi isyarat pada Sarada untuk mengambil jika dia mau. Sarada menatapnya sejenak, dia juga punya bekal di tasnya buatan Ayame-nee karena ibunya tidak sempat membuatnya.
"Makanlah Sarada, hari ini ayahku membuat sandwich sayuran yang sangat enak. Ibu bahkan memujinya."
Sarada menatap Ageha yang tersenyum lebar dengan tangan yang masih menjulurkan kotak bekalnya. Tapi Sarada sama sekali tidak mengatakan apapun atau sedikit memberinya senyuman sebagai respon. Gadis itu hanya diam dan menatap makanan di hadapannya dengan kosong. Otaknya terus mengulang apa yang baru saja didengarnya hingga terasa pusing. Sarada menggeleng pelan dan memutuskan kembali menatap gerimis yang sepenuhnya hilang tapi masih menyisakan bulir air di jendela busnya, sementara otaknya masih terus mengulang apa yang didengarnya tadi.
Hari ini ayahku membuat sandwich..
Hari ini ayahku..
Ayahku..
Ayah.
Itu adalah kata yang asing bagi Sarada.
.
.
.
Siang begitu cepat berlalu dan Tokyo menjadi semakin dingin karena hujan. Jalanannya begitu padat dan hujan sangat deras mengguyur Tokyo. Tepat seperti kata-kata ibunya. Sarada sedang berjalan keluar museum bersama gerombolan teman-temannya. Gadis itu menatap Otoha-sensei yang dengan telaten dan sabar membimbing mereka keluar dari museum.
Sarada berhasil keluar dari museum setelah mengantri cukup lama dengan teman-temannya. Dia mengambil payungnya yang ada di rak dan membukanya. Matanya memandang sedikit takut pada hujan di Tokyo yang mulai berangin. Ingin Sarada memakai jas hujannya tapi semua temannya sudah siap menyebrang untuk kembali ke bis dan Otoha-sensei yang dibantu Inaho-sensei dan Oukei-sensei sudah siap menyebrangkan semua murid dan Sarada tidak mau menghambat mereka.
Gadis itu berjalan takut-takut menuruni tangga dengan memegang erat pada payungnya. Angin dan suara hujan deras langsung menyergapnya saat gadis itu berhasil turun. Sarada bergidik merasakan dinginnya angin, dia berhenti sebentar saat merasa angin itu menarik cukup kuat pada payungnya. Teman-temannya sudah sampai di pinggir jalan dan menyebrang dengan hati-hati di sana. Sarada berjalan cepat untuk menyusul mereka. Mulutnya menghembuskan nafas lega saat berhasil menyusul temannya dan ikut menyebrang. Hujan semakin deras dan Sarada merasa pundak kirinya basah karena payungnya lagi-lagi hampir terbawa angin.
"Huaa!"
Gadis itu berteriak kaget saat payungnya benar-benar lepas dan terseret jauh ke jalan raya. Hujan langsung menerpa tubuhnya dan dingin langsung terasa. Kaca matanya basah tertutup hujan dan dia tidak bisa melihat apapun.
"Tiinn!"
Sarada menoleh dan melihat samar sebuah cahaya menyilaukan menyorot matanya dengan cepat sebelum semuanya menjadi gelap.
Brakk!
.
.
.
AN
Halo..
Terimakasih readers yang sudah berkenan membaca. Semoga kalian bisa menikmatinya. Syukurlah saya bisa menyelesaikan ch ini. Semoga gak membosankan. Saya bersyukur beli data book Naruto jadi bisa lihat banyak karakter asing yang bisa saya munculin disini.
Untuk kemarin yang ch.2 tidak bisa di buka saya tidak tau penyebabnya apa, tapi waktu saya cek lagi saya bisa membukanya. Mungkin ada kesalahan di browser atau apa saya kurang mengerti. Saya mohon maaf atas ketidak nyamanannya. Semoga gak terlulang lagi ya.. :D
Sekian untuk chapter ini. Kritik, saran dan tanggapan kalian sangat saya nanti untuk memperbaiki kesalahan dan kekurangan saya serta kemajuan cerita ini.
Terimakasih.
