Love Unilateral
"Kenapa harus saat ini?"
"Ku harap dia melupakanku, atau amnesia?!"
Author : Naruhina Sri Alwas
Naruto milik Masashi Kishimoto sensei
Pair : NaruHina
Ganre : Romance/Family
Rated : T+ semi M
Warning : Typo(s), EYD, OOC, AU, Dll.
.
.
.
Chapter 5
Hari sudah sore, menandakan semua karyawan yang tidak lembur diperbolehkan untuk pulang kerumah masing-masing.
Seorang wanita muda tengah berkutat dengan bertumpuk-tumpuk kertas yang seharusnya dia selesaikan besok, namun sang bos memaksanya menyelesaikan hari ini.
Helaan nafas lelah saat melihat tumpukan yang tak kunjung menipis, menatap kesal kearah tumpukan itu, dan melirik bosnya yang masih berkutat dengan pekerjaannya yang entah sejak kapan melihat kearahnya, Hinata yang menyadari kebodohannya yang melirik bosnya segera memalingkan mukanya kearah lain.
'Kami-sama, selamatkanlah aku.' pikir Hinata nelangsa, karena dilihat oleh bosnya dengan tajam.
Sudah sebulan Hinata bekerja di perusahaan Namikaze, selama itu juga Hinata harus tahan dengan perintah-perintah bosnya itu, karena sungguh kalau boleh Hinata mengeluh dia ingin mengeluh bahwa bosnya-Naruto Namikaze- sangat-sangat tidak berprikemanusiaan, masa dia harus bekerja dimalam hari sampai larut dan kembali besok pagi, dan akibat selama 2 minggu terakhir lembur mata nya menjadi seperti mata panda, dan sunggu Hinata ingin menenggelamkan wajahnya saat melihat karyawati yang segar dan cantik-cantik diperjalanannya kekantor ini.
'Aku ingin tidur.' sambil menaruh kepalannya di atas kertas-kertas, perlahan-lahan dirinya tertidur dengan lelap.
.
"Hai, Bangun." tanpa berprikemanusiaan seseorang yang sangat mengganggu Hinata akhir-akhir ini, telah membangunkannya, catat membangunkannya dengan seges teh, tunggu Hinata bisa merasakan rasa manis diteh itu, sambil mengedipkan matanya berulang-ulang, Hinata menoleh kanan dan Kiri memastikan dirinya berada di atas kursi, dan berbaring di bangku kerjanya, Hinata tidak melindur atau mimpikan? Dia sekarang dimana? Setelah tersedar cukup lama dia melihat kedepan, melihat bosnya yang tengah memegang cangkir kosong ditangannya, Hinata berani bertaruh sipelempar teh hangat diwajahnya itu pria muda didepannya, pria yang tidak ingin dia lihat saat bangun dan tunggu.
"Kenapa aku meliha, Namikaze-sama disini." Hinata mengedipkan matanya berulang kali, sambil menggosok-gosokan matanya meyakini dia sedang tidak bermimpi.
"Hn."
"Kyaaaa." Hinata yang menyadari bahwa ini bukan mimpi, dia segera mundur kebelakang dan sialnya tidak ada sandaran disana sehingga dia terjatuh dengan tangannya yang dulu jatuh kelantai.
"Hai, apa aku ini seperti hantu sampai kau berprilaku seperti ini kepadaku!?" hardik sang pria, lalu duduk ditempat sang wanita tadi tidur, dan tunggu sejak kapan Hinata tidur disofa, dan dimana dia sekarang.
Mengedarkan pandangan, Hinata mencoba mencari tahu dimana dirinya berada, mengenyakan pikiran negatif diotaknya, Hinata mencoba mencari pintu yang menghubungkan dengan dunia luar.
"Maaf." sambil menunduk Hinata mengucapkan permohonan maaf yang sedikit tidak rela dia lakukan. "Ta-tapi bolehkah saya tahu dimana saya sekarang, Namikaze-san." sangat formal, membuat yang mendengarkannya merasa sebal.
"Kenapa?"
"Eh? Maksudnya Namikaze-san."
"Kemana panggilan yang dulu pernah kau pakai." saat Naruto mengatakan itu Hinata hanya bisa membulatkan kedua matanya tidak percaya.
"Maaf, saya tidak mengerti maksud anda." berpura-pura tidak tahu, padahal dalam hatinya Hinata merasakan gejolak yang dulu ingin dia buang, ingin dia maki dirinya yang lemah, ingin dia bunuh Hinata yang tidak bisa merelakan pemuda yang dia cintai, Hinata Hyuuga 26 tahun, status Mengajukan cerai.
"Kau masih istri sahku, Hinata." pandangan yang lembut, namun menyiratkan luka, membuat Hinata menunduk tak mampu mengucapkan kata-kata maaf lainnya. "Tak bisakah kau memaafkanku." lanjutnya, yang membuat Hinata menatap mata yang terluka itu dengan terkejut. Siapa yang salah disini, dia atau pria itu.
"A-Ak-" lagi-lagi suara Hinata parau dan untuk mengatakan bahwa dia yang salahpun dia tak mampu. Lagi-lagi dia hanya menundukan wajahnya, memandang wajah yang melihatnya kebelakang, karena tubuh sang pria masih duduk membelakanginya.
"Aku tahu aku tidak bisa dimaafkan, tapi bisakah kau selalu disampingku, dengan seluruh keegoisanku." Naruto berdiri, berjalan memutar untuk bertemu muka dengan wanita yang sampai sekarang selalu menghantuinya disaat sendiri maupun banyak orang yang berlalu lalang di hidupnya, hanya wanita inilah dia bertahan hidup, hanya wanita yang berada dihadapannyalah dia ingin menjalani hidup, tanpa harapan yang jelas, dengan penantian yang panjan selama bertahun-tahun dia menunggu, menunggu sang wanita datang kekehidupannya yang sepi dengan suara-suara merdu sang wanita, dengan rangkulan yang sering dia dapat dulu, dia merindukan sang wanita yang dulu selalu mengisi waktunya dengan celotehan yang tidak ada hentinya, hingga tangisan yang memilukan sang pria mengingatnya, sampai dirinya tak bisa bernafas. "Hinata." tangan Naruto terulur mengambil dagu Hinata, sehingga pandangan mereka kembali bertemu.
"Na-Na-hiks." suara isakan terdengar dari sang wanita. Naruto yang menyadarinya, langsung saja memeluknya.
"Sudahlah." suara lembut Naruto ucapkan untuk menenangkan Hinata, namun Hinata semakin terisak didalam pelukan Naruto.
.
.
.
Waktu telah menunjukan pukul 23:59 namun dua orang yang tengah berpelukan, karena sang pria masih betah memeluk sang wanita yang kini sedang duduk diatas sofa empuk apartemen Naruto. Dan Naruto menjelaskan bahwa Hinata dibawa olehnya saat Hinata tertidur dengan pulasnya.
"Be-benarkah." wajah Hinata memerah, dia tidak bisa mengatakan bahwa dia sangat bahagia bisa bersama dengan Naruto, dia malu, malu mengakui bahwa dia masih begitu mencintai sang pria yang tambah tampan, dan berwibawa dibelakangnya, yang tengah memeluk posesif pinggang rampingnya dari belakang.
Agak risi, dan Hinata bersumpah saat ini Naruto sedang menjilat, menjilat tunggu. "A-apa yang Naruto-kun lakukan, ngh?!" tak dapat menahan desahannya, Hinata menahan wajah sang pria dengan kedua tangannya, agak sedikit kesulitan karena kepala Naruto tidak bergeser dari tengkuknya yang sangat sensitif.
"Melakukan?" seringai diwajah tampannya tidak bisa dilihat Hinata, namun instingnya mengatakan dia dalam bahaya.
"Na-Na... Kyaaaa." tubuh Hinata dihempaskan diatas sofa, Naruto menindihnya dan mengepitnya dengan tubuh kekarnya. Menghadap sang wanita yang ditunggunya, selama satu bulan menahan kerinduan, selama waktu itu juga Naruto terus bermimpi ingin dimanja dan dibelai dikehidupan nyata bukan didalam mampinya saja.
"Hinata." suara Naruto seperti berbisik, namun masih bisa didengar Hinata yang berada dalam kurungannya dibawah tubuhnya.
"I-Iya." ragu, Hinata ragu untuk menjawab, jantungnya sepertinya akan copot kalau Naruto terus diposisi seperti ini. Detak jantung yang semakin mengencang, dan warna pipi Hinata yang tengah memerah sampai telinga sangat manis dimata Naruto, membuat sang pria ingin segera melahapnya bulat-bulat. Namun, sang pemuda mengurungkan niatnya, ada yang lebih penting dari itu semua.
"Aku sangat-sangat mencintaimu." bisikan lembut ditelinga kanan Hinata, membuat Hinata membulat, sumpah demi apa pemuda yang dulu mengutuknya, memakinya murahan mengatakan bahwa 'dia mencintainya' katakan itu hanya ilusi diotak Hinata, katakan itu hanya mimpi ditengah malam dan Hinata akan bangun dengan kecewa karena itu mimpi. Kami-sama, benarkah orang yang diatasnya ini Namikaze Naruto, bukan orang lain. Kalau mungkin orang lain mungkin Hinata akan cepat mempercayai ini adalah kenyataan, namun ini yang mengatakannya adalah sang pujaan hatinya dari dulu hingga sekarang.
"Na-Naruto-kun apa kau sakit?" sambil menggerakan tangan kanannya dan menyentuh kening Naruto, Hinata dengan ragu menanyakan lagi. "Apa kepala mu terbentur sesuatu?" lagi-lagi sebuah penolakan kenyataan Hinata lakukan, mencoba menyakini diri sendiri bahwa semua yang diucapkan sang pemuda adalah kebohongan yang manis, atau mimpi yang indah dimalam hari, bukan mimpi buruk yang dia dengar bahwa sang pria akan menikah dan mungkin berbahagia dengan sang pujaan hatinya.
"Hinata." suaranya terdengar terkejut ditelinga Hinata, namun Hinata meyakini bahwa Naruto didepannya mungkin hanya iba atau yang lebih parahnya dia sedang mempermainkan dirinya yang dulu pernah menghancurkan hidupnya dengan pernikahan yang dia paksakan. Dan apabila yang diucapkan Naruto benar dan tidak ada kebohongan didalamnya, maka akan ada yang menentang percintaan mereka, dan Hinata tidak ingin mendengar gara-gara dia, Naruto akan terluka lagi, bahkan dia tidak ingin Naruto kehilangan apapun lagi karena dirinya. "Aku tak tahu apa yang kau pikirkan, namun aku tak ingin kau berfikir aku tidak tahu apa-apa tentangmu, tentang kehidupan barumu, tentang anak kita yang telah kau lahirkan tanpa adanya aku disisimu," pria itu menatap dalam kedua mata Hinata memastikanketerkejutan Hinata didalamnya. "Tapi, aku pastikan aku tidak mengasihanimu, atau ingin bertanggung jawab saja, walaupun salah satunya adalah itu. Tapi, aku benar-benar sangat merindukan mu sangan ingin kau selalu dipelukanku, apa aku egois?" dengan ucapan itu, Naruto mencium Hinata dengan lembut, tanpa paksaan dan juga nafsu, hanya sentuhan yang sedikit lama namun Naruto memutuskan mendengar ucapan apa yang akan dijawab oleh Hinata. Membalaskah atau bertepuk sebelah tangan.
"A-aku." sambil menghirup nafas dalam, Hinata memutuskan kontak mata dengan Naruto, menoleh kemana saja asal bukan menatap mata pria diatasnya. "Bisakah kau menyingkir diatasku?" mengalihkan pertanyaan, Hinata bersumpah dia melakukan kebodohan yang bisa dibilang sangat bodoh didunia ini.
"Kau belum menjawabku, Hinata?!"
"Jawaban apa yang kau inginkan, dan tolong Na-Namikaze-san, anakku sedang menungguku dirumah." ujar Hinata kemudian, namun Naruto masih betah menahannya diposisi yang sama. "Nami-" kata-kata Hinata terputus oleh bibir lembut Naruto yang menyumpal bibir menggoda miliknya, membuat kaget sang wanita dan mencoba memaksa tubuh pria itu menjauh, bukannya menjauh sang pria malahan makin melancarkan kecupan-kecupan yang merangsang sang wanita untuk mendesah, dan malam itu, malam sebelum ulang tahun Hinata, Naruto memaksa Hinata untuk melakukan hubungan yang pernah mereka lakukan dulu sekali, dengan dimulai sedikit paksaan, namun lama kelamaan Hinata mulai menyukai sentuhan-sentuhan lembut sang pemuda dimalam setelah natal, dimusim salju yang sangat dingin, dikehangatan pelukan sang pria yang telah mengisi separuh hidupnya dengan namanya, yang terukir apik dimemorinya, Naruto Namikaze.
.
.
.
"Engh," lenguhan Hinata keluarkan saat merasakan pinggulnya sakit akibat aktifitasnya semalam dengan Naruto.
Harusnya selama natal mereka libur, karena dengan seenak jidatnya Naruto memerintahnya untuk masuk, dan karena dia kelelahan karena jarang tidur selama 2 minggu terakhir, akhirnya Hinata tumbang dan dibawa Naruto keapartemennya, entah bagaimana pria itu membawannya, Hinata sungguh sangat malu. Mengambil selembar selimut dibawah selimut tebal yang mereka pakai, melirik sebentar kearah sang pria yang memaksanya membuka pakaian pria itu, wajahnya sangat mengingat betapa panasnya mereka melakukannya, dari mulai jam 1 pagi sampai jam 4 pagi, dan dia terbangun di jam 10 pagi di tanggal 26 Desember, satu hari sebelum dirinya berulang tahun, apakah Kami-sama mengabulkan permohonannya, apa ini sebuah mimpi dan saat terbangun dirinya akan merasakan kecewa yang teramat menyakitkan.
"Kau sudah bangun Hinata." sang pria meringkarkan kedua tangannya dipinggang Hinata dari arah belakang yang terbalut hanya sehelai benang saja yang dipakainya.
"Na-Naruto-kun!" jerit Hinata, karena terkejut tiba-tiba ada tangan kekar meringkar dipinggangnya.
"Kenapa." hembusan nafas Naruto menggelitik tengkuk Hinata.
"Ja-jangan."
"Jangan? Jangan kenapa Hinata?!" menyeringai dari belakang, Hinata yang merasa firasat buruk segera mencari topik lain.
"Aku mau pulang, Baruto sudah kutinggalkan dari kemarin, mungkin dia kelaparan, Na-Naruto-kun."
"Kalau kau mengatakan itu, makan kau akan terus disini semalam lagi, karena aku sudah meminta ibuku untuk menemui cucunya." sambil mengeratkan pinggangnya, Naruto tersenyum tulus dari belakang namun Hinata tidak bisa melihatnya.
"EH?"
"Kau terkejut?" satu kecupan didaratkan pada pipi Hinata.
"Ehm." sambil mengangguk Hinata tidak percaya bahwa ibu mertuannya yang dulu membencinya mau saja disuruh menjaga anaknya, yah walaupun Baruto adalah cucunya sendiri.
"Emm, Hinata." panggil Naruto sambil mengelus perut Hinata yang rata, walaupun sudah melahirkan anak satu Hinata masih terlihat kencang dan masih sangat muda.
"Ada apa?" sambil mencoba menahan tangan Naruto, Hinata mencoba melepaskan diri dari jeratan sang pria yang sudah seenaknya memperangkapnya, namun usahanya sia-sia karena Hinata gagal melepaskan tubuhnya dari jeratan Naruto yang sangat kuat.
"Satu ronde lagi." dan Hinata yang mendengarnya langsung menyikut Naruto dengan sikutnya, dan terlepaslah kekangan Naruto. Hinata langsung berlari kearah kamar mandi didalam kamar apartemen Naruto.
"Hai,!" panggil Naruto sambil kesakitan tidak diindahkan Hinata. Dan begitulah akhirnya Hinata yang pulang diantar oleh Naruto karena Hinata sudah mengancam Naruto saat keluar dari kamar mandi, tubuhnya sakit, apa lagi bagian pinggangnya. Akibat kelakuan mesum calon mantan suaminya itu. Kenapa calon mantan, karena Hinata gagal bercerai dengan Naruto. Dengan kata lain Hinata masih bersetatus sebagai istrinya dimata hukum.
T.B.C
Kyaaaa,,, akhirnya kelar juga,,, #ceile
Dan maaf untuk adegan ehemdiatasehemranjang diskip aja, kasian narunya yang masih dibawah umur yang belum nyicipin... stoooop kok jadi melenceng,,,, oke deh naru akhiri aja.
Makasih minna yang udah baca, nyempetin baca, review, favorit, folow ini fanfic, suatu kesenangan buat naru karena masih ada yang nunggu ini fanfic, #nyari tisu *terhura
Dan naru nggak pernah bosen buat bilang makasih semuannya, terutama yang punya leptop ini a.k.a paman naru, walau dia gak tau naru nulis fic nista kaya gini, yah pokoknya makasih aja, thanks so much yang masih mau baca fanfic lanjutan ini, dan mohon maaf kalau ada keanehan dalam jalan cerita, udah lama gak nulis lagi, jadi gini deh tambah geje sama kena WB selama berbulan-bulan, dan sedikit down sih, tapi karena ada yang menunggu jadi naru mulai menulis lagi, dan maafkan naru yang tidak bisa menulis dengan baik, banyak kata-kata yang nggak naru cek lagi, malahan langsung dipublis, tapi naru gak akan mengatakan apapun atau menampik dengan alasan-alasan kalau dapet kritik, naru akan memperbaiki kesalahan naru dichapter depan, dan semoga cepet tamat ini fanfic, aamiin.
Sebentar lagi ultah Hinata-chan,,, kyaaaaaa...
Happy NaruHina Shipper
