Love Unilateral

Author : Naruhina Alwas
Naruto milik masashi kishimoto sensai
Reted : T
Genre : Friendship/ Family
Pair : NaruHina always
warning: OOC, abal, typo, newbie, geje

.

.

.

Chapter 6

Khusus Flasback

Tujuh tahun yang lalu sebelum Hinata pergi.

"Na-Naruto-kun." panggil pelan Hinata saat melihat Naruto tidur disampingnya, dan apa semalam dia tidak bermimpi, dicubitnya lagi pipi kanannya, dan sakit, ternyara semalam dia tak bermimpi, benarkah ini Naruto. Benarkah mereka semalam melakukannya, benarkah ini kenyataan.

Ada rasa senang dan ada juga rasa khawatir, apa mereka bisa seperti ini, apa kah orang tua Naruto memperbolehkannya.

"Eng," sang pemuda coret pria yang tertidur bergerak gelisah, sambil mencari-cari kehangatan yang sempat dia rasakan, namun dicari-caripun dia tidak menemukannya, dipaksannya untuk membuka kedua matanya, namun samar dia melihat tubuh seorang wanita yang diyakini adalah istrinya. "Hinata." suara serak khas bangun, membuat Hinata menoleh dari lamunannya.

"I-Iya ada apa?" tanya Hinata gugup, mengingat pergulatan mereka semalam, membuatnya merasa malu, benarkah Naruto sudah menyukaianya atau dia masih bertepuk sebelah tangan, tapi yang masih Hinata khawatirkan adalah dirinya yang telah berjanji kepada ayah Naruto untuk meninggalkan Naruto. Apakah keputusannya adalah hal yang tepat, apakah yang dia lakukan adalah keputusan yang terbaik untuk mereka, memandang lagi pemuda yang mencoba duduk diatas ranjang, sambil menyenderkan bahunya kebelakang, memandang Hinata dengan senyum lembut dan tulus.

"Kau sudah bangun? Kenapa tidak membangunkanku?!" tanya Naruto yang cemberut dan memalingkan wajahnya berpura-pura ngambek.

"Eh? A-aku juga baru bangun kok." sangkal Hinata yang tidak ingin dituduh tidak membangunkan sang pria.

"Benarkah?!"

"Be-Benar Na-Naruto-kun." ditatap sedekat ini membuat Hinata gugup, dan hidung Naruto menempel dengan Hidung Hinata membuat Hinata menahan nafas, dan lupa akan bernafas, ini mimpi pikir Hinata yang tidak bisa menerima kenyataan.

"Hm." beranjak menjauh, Naruto hanya tertawa tertahan melihat ekspresi Hinata yang menurutnya sangat manis dan sangat menggoda, sebenarnya dia ingin memakannya lagi, namun dia urungkan, bisa-bisa Hinata pingsan lagi seperti semalam, apa kata dunia bila dia ditinggal tidur lagi saat setelah puncak kenikmatannya.

"Na-Naruto-kun." panggil pelan Hinata saat melihat Naruto bangun.

"Ada apa?"

"Em, Aku ingin bertanya."

"Tanya apa?" Naruto kembali duduk dan menatap Hinata yang tengah terduduk.

"Anu, itu semalam-" Hinata ragu untuk meneruskan ucapannya, namun Naruto yang menyadari apa yang akan Hinata katakan menyeringai kejam.

"Semalam?" seringai diwajah Naruto makin terlihat dimata Hinata, membuat Hinata bergidik ngeri dan menarik kain yang menempel ditubuhnya.

"Bu-Bukan apa-apa." setelah berkata seperti itu, Hinata langsung melesat kekamar mandi dikamar mereka. Dan Naruto hanya tertawa melihat Hinata yang buru-buru memasuki kamar mandi dan sepertinya dirinya terlalu keterlaluan menggoda sang istri.

Waktu telah menunjukan pukul 8 pagi, dan mereka baru turun kabawah untuk sarapan, membuat kedua orang tua Naruto merasa heran dan curiga, Hinata yang tau akan kecurigaan orang tua Narutopun hanya menunduk dan menyembunyikan bekas kejadian semalam dengan rapi dibalik pakaian dan rambutnya yang panjang.

"Hinata," panggil suara pelan seorang wanita, yang membuat Hinata mendongak sekejap dan menunduk lagi.

"I-Iya Oka-san." jawab Hinata gugup, seperti biasa dia mulai canggung dengan keluarga Naruto, dulu memang dirinya selalu berani namun setelah keluarganya bangkrut dan Hinata hanya mampu menerima kebaikan coret penindasan dari keluarga Naruto, dan dulu bahkan Naruto selalu menghindari Hinata, walau sampai sekarangpun Hinata berani bertaruh bahwa sang suami tidak tahu menahu tentang keluarga Hinata yang telah bangkrut.

"Kau bahkan bangun siang, bagaimana kau ingin membahagiakan suamimu." sinis, itulah yang Hinata dengar dari mertuanya, mereka membenci dirinya, membenci apa yang selalu Hinata lakukan, bahkan hal-hal yang baikpun akan mereka benci dari dirinya yang mengandalkan Naruto yang tidak mencintainya, dulu dan entah sekarang, tidak ada kata cinta yang terucap dari bibir Naruto, namun bolehkah Hinata berharap lebih.

"Maaf." Hinata hanya menunduk saat berkata seperti itu, menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang teramat menyakitkan, menahan tangisan yang akan mengalir keluar, mencoba menyemangati dirinya sendiri bahwa dia baik-baik saja.

"Kaa-chan, Hinata-chan aku yang memintanya untuk menemani Naru, jadi jangan marahin Hinata-chan." ujar suara kekanak-kanakan terdengar ditelinga Hinata, walau suara yang sedikit ngambek itu sedang membelanya, Hinata tau bahwa dia tidak boleh terus bergantung pada lelaki yang harus dia lepas untuk kebahagiaannya, dan semalam adalah malam untuk hadiahnya karena akan melepaskannya.

"Naruto!" geram Kushina melihat putranya membela wanita yang bisa saja berpotensi menghancurkan masa depan Naruto itu, walau kenyataannya masa depan Naruto belum tentu hancur karena Hinata.

"Kaa-chan!" kali ini Naruto menatap ibunya dengan cemberut dan menatap ayahnya. "Tou-san, bisakah, tou-san bantu Naru." Naruto yang tidak bisa menghadapi ibunya, lalu minta bantuan kepada ayahnya, seolah ayahna menulikan pendengarannya, dia hanya melanjukan sarapannya. "Tou-san!" lagi-lagi Naruto dibuat kesal oleh tingkah ayahnya yang acuh itu.

"Na-Naruto-kun, sudahlah." suara lembut mampir digendang telunga Naruto, membuat sang pemuda memandang Hinata dengan cepat.

"Iya...iya." kata Naruto dengan terpaksa, dan dia lebih memilih makan ketimbang mendapatkan protes dari Hinata.

Suasana menjadi sepi, hanya suara bantingan sendok dan garpu terdengar diruangan itu, sebelum suara seorang wanita terdengar.

"Kushina." suara orang yang datang dari pintu ruang tengah itu langsung menghambur kedalam pelukan Kushina.

"Mibuki." ujar pelan Kushina, langsung membalas pelukannya. "Wah, kenapa tidak memberitahukan kalian akan datang kemari." ujar Kushina yang langsung menyuruh Hinata berpindah, dan Hinata mengikuti apa yang mertuannya suruh. Dan Naruto hanya bisa protes tertahan saat Hinata bilang tidak apa-apa dengan gerakan bibirnya.

Dulu Naruto ingin selalu bertemu dengan gadis yang duduk disampingnya, namun sekarang dia merasa tidak enak dengan Hinata yang tengah duduk disamping gadis bernama sakura. Dan dia berada dibangku yang terpaut satu bangku dari Hinata, Naruto menarik kursinya, dan memandang ibunya yang bertanya mau apa, dan dijawab mau kekamar mandi. Dan setelah itu dia pergi keluar ruang makan.

Suasana menjadi tegang saat Kushina meminta Hinata untuk membeli sesuatu, dan Hinata hanya bisa mengangguk meng iya kan, walaupun Hinata tau bahwa mertuanya tidak ingin dirinya ada disana, saat itu Hinata belum melihat Naruto datang, dan Hinata tidak sempat bilang dia akan pergi kesupermarket terdekat untuk mencari barang yang ibu Naruto inginkan, sehingga dia hanya pergi dan mencari taksi, karena mertuannya bilang supir dirumah sedang libur, dan Hinata harus berjalan kaki untuk kedepan gerbang, diperjalanan Hinata meneteskan air matanya, dia sadar dia telah diusir, dia sadar dia hanya mengganggu, dia sadar dia hanya wanita bodoh, dan dia sadar dia tidak bisa apa-apa. Namun, dia menyesali apa yang terjadi, seandainya waktu bisa diulang.

.

.

.

"Dimana Hinata?" suara Naruto terdengar, saat Naruto menginjakan kakinya diruang makan, dan melihat bangku Hinata yang kosong.

"Owh, katanya dia ada urusan, mungkin bertemu teman-temannya." ujar Kushina santai, dan membuat Naruto terkejut.

"Tapi Hinata-chan tidak bilang-bilang pada Naru, aku akan menelphonnya." dan setelah itu Naruto langsung mencari ponselnya namun nihil, dia sepertinya lupa menaruh ponselnya disaku. "Dimana ponselku." tanya Naruto entah pada siapa.

"Sudahlah Naru-chan, kan ada tamu disini, kau seharusnya menghormati mereka." marah Kushina saat melihat putranya masih mencari ponselnya, padahal ponselnya disembunyikan oleh Kushina saat Naruto pergi kekamar mandi tadi.

"Ta-"

"Tidak ada tapi-tapian." sekarang ayahnya yang bersuara. "Kita ada tamu, yang pergi yah pergi, kau harus menghormati orang yang telah bertamu dikeluarga kita

Jawab cepat Minato kepada putranya yang akan protes.

Hari sudah malam, dan Hinata belum pulang, Naruto melirik jam sudah menunjukan pukul 7 malam, dan rasa khawatir merasuk kedalam pikirannya, apa lagi Hinata tida mengangkat panggilannya pakai nomor Sakura. Dan Naruto bertaruh dirinya sekarang tengah uring-uringan.

"Hi-Hinata." saat melihat Hinata, Naruto langsung melihat penampilan Hinata, pakaian sama, dan wajahnya terlihat kelelahan.

"Na-Naruto-kun aku lelah, nanti saja bertanyanya." menyingkirkan sepatu yang dikenakannya, Hinata langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur king size milik Naruto, dan lelaki yang ingin bertanya mengurungkan niatnya, apakah dia kelelahan, satu kalimat itulah yang terlintas dikepala pirang yang tengah memandang Hinata yang tengkurep diatas kasur.

"Tapi kau harus ganti pakaianmu, nanti kau sakit." berjalan pelan dan melihat kaki Hinata yang lecet membuat Naruto bergeming. "Apa yang kau lakukan dari siang." hanya dengkuran halus yang didengar Naruto, sepertinya Naruto tak akan dapat jawaban dia hanya ikut berbaring sambil melihat wajah tidur Hinata yang kelelahan. "Kau kelelahan sekali Hinata." sambil mengusap wajah Hinata pelan dan mengecup bibir Hinata sekilas, sambil tersenyum Naruto berkata "Aku mencintaimu Hinata." namun Hinata yang tertidur tidak mendengar suara sang pemuda, dan apakah kehidupan mereka akan berjalan seperti seharusnya.

.

.

.

"Hi-Hinata kemana." sambil membanting barang yang terdekat, menanyakan Hinata kemana, namun tidak ada satu suarapun yang mau menjawab sang lelaki yang tengah marah didepan orang tuannya.

"Na-Naru-chan, Hinata-chan sudah pergi, bersama lelak lain, kau tau dia telah menghianati mu, dia menduakanmu." isakan terdengar dari wanita yang telah melahirkannya namun Naruto masih saja terus bertanya.

T.B.C

Yeah,,, tebar bunga updet super kilat, sama super ngebut dar semalem nulis 5 jdu buat 1 chapter dan cuman bisa 3 judul yang bisa di updet dan layak dipublis #menurut naru sih :v

Maaf chapter pendek lagi, udah nggak keburu karena mau publis buat Hinata-chan ultah nih,,, #bunguk badan

Happy NaruHina Shipper