.

.

.

I Love my boyfriend..

But I can't deny that you starts to gain your place in my heart..

I Love my boyfriend..

But I can't avoid the fact that you completed me..

I love my boyfriend..

But I love you more than I love him now..

But you are my friend's boyfriend..

It's so...complicated..

.

.

.

Author Ela JungShim presents

An Alternate Universe fanfiction

"Complicated in Love" ch 11

Pairing : HoMin (Jung Yunho X Shim Changmin) and WonKyu (Choi Siwon X Cho Kyuhyun)

Rate : sementara T

Length : 11 of ?

Desclaimer : They're belongs to GOD, themselves and DBSK-SuperJunior

Warn : TYPO's! , alur lambat, broken!WonChang , broken!YunKyu

This is HOMIN-WONKYU Fanfiction. Jadi pair utamanya adalah HOMIN dan WONKYU. Bagi yang tidak suka, silahkan angkat kaki dari fanfic ini.

.

.

.

.oOWonKyuHoMinOo.

.

.

.

Satu detik..

Dua detik...

Tiga-

"YAH! Menjauh! Menjauh! Aku masih bau dan berkeringat!" teriak namja bungsu keluarga Cho yang langsung melepaskan diri dari dekapan Siwon dan berlari ke kamarnya.

.

.

.

Kyuhyun menghela nafas dalam-dalam. Berusaha menenangkan dirinya dan juga degupan jantungnya yang sedari ia mandi sampai sekarang masih saja berdetak begitu cepat. Apalagi kalau ia kembali teringat saat tadi Siwon mendekapnya dengan begitu erat. Melindunginya dengan begitu cepat saat ia nyaris celaka.

Tak ayal rona merah kembali menghiasi wajah manis Kyuhyun, dan cengiran lebar yang nampak bodoh terpampang di bibirnya.

"Siwon hyung..." desahnya lirih.

Rasanya baru kali ini dia begitu di terombang-ambing oleh perasaannya sendiri. Dengan beberapa kekasihnya sebelum ini—termasuk Yunho—ia tak pernah merasa ingin meledak bahagia hanya karena di dekap erat. Tak pernah merasakan begitu panik, bingung, gugup tapi juga sangat tak sabar saat akan didatangi di rumahnya.

"..seperti inikah kalau benar-benar jatuh cinta..."

"Aaahhh, jadi namdongsaengku ini benar-benar sedang jatuh cinta ya~ "

Dengan panik Kyuhyun langsung menoleh ke arah pintu kamarnya, dan menemukan sang noona yang tengah bersandar di pintu dengan senyum usilnya.

"Noona! Ketuk pintu dulu sebelum masuk!" seru Kyuhyun menutupi perasaan malunya karena ucapan memalukannya di dengar sang kakak.

"Aku sudah mengetuk pintunya berkali-kali kok. Kau saja yang tak mendengarnya. Karena tak ada jawaban, ya aku masuk saja." sahut Ahra dengan santainya. "Dan yang kulihat ternyata adikku satu-satunya ini sedang melamunkan tunangannya yang sedang ada dibawah~ " lanjutnya dengan nada menggoda.

"Noonaaaaaaaaa..." rengek Kyuhyun manja karena sedari tadi kakaknya itu usil menggodanya. "Sudah, noona keluar saja kalau kesini cuma mau menggangguku!" usirnya dengan tega.

Ahra hanya mengangkat bahunya santai. "Benar ya kau mengusir noona. Padahal noona kesini karena noona-mu yang baik hati ini ingin memperingatkanmu."

Rasa penasaran Kyuhyun langsung terusik mendengar kalimat sang kakak. "Memperingatkanku? Memangnya ada apa noona?"

Senyum usil Ahra langsung berubah jadi seringaian. "Siwon hyung-mu sedang di bawah, bersama Appa dan Umma, dan mereka sedang melihat-lihat album keluarga kita."

Kedua mata Kyuhyun langsung melebar tak percaya.

"Appa! Umma! STOOOPPPP!" teriak anak bungsu keluarga Cho yang langsung berlari dengan cepat ke ruang keluarga, di iringi dengan tawa keras sang kakak.

.

.

.

Siwon tak henti-hentinya tersenyum lebar. Sedari pagi sudah begitu semangat untuk menginap di rumah keluarga Cho selama weekend. Dan ia sama sekali tak kecewa. Begitu masuk ke kediaman keluarga Cho, langsung di sambut dengan kalimat dan tingkah lucu Kyuhyun.

Dan sekarang, di dampingi ayah dan ibu Kyuhyun di samping kanan-kirinya, ia tengah melihat-lihat album keluarga Cho, dan senyumnya makin mengembang melihat foto-foto imut dan cute Kyuhyun semasa kecil.

"Lihat ini, nak Siwon, ini waktu Kyu menang lomba lari sewaktu SD.. Gigi depannya patah satu karena waktu latihan ia terjerembab jatuh. Tapi sewaktu menang, ia kelihatan lucu sekali tersenyum lebar dengan gigi depannya yang hilang.."

"Appa! Umma! STOOOOPPP!"

Teriakan nyaring penuh nada panik itu membuat tiga orang disana menoleh ke asal suara. Cengiran lebar merekah di bibir Siwon saat ia melihat kedatangan Kyuhyun. Namun cengiran itu berganti dengan cemberut saat Kyuhyun langsung meraih abum foto yang ada di pangkuannya. Menutupnya dengan keras dan mnyembunyikannya di balik punggungnya.

"Sudah. Jangan lihat-lihat ini lagi!"

"Wae, Kyuhyun-ah? Itu kan berisi foto-fotomu jugaaa.."

"Justru karena ini berisi fotoku, makanya jangan dilihat-lihat. Memalukan tahu."

"Tapi kan Kyuhyun-ah..."

"Jangan khawatir nak Siwon, Umma masih punya koleksi foto yang lain kok. Album yang ini malah isinya foto-foto bayi Kyu. Lucu-lucu deh."

Bola mata Kyuhyun seolah mau lepas keluar saat Umma-nya mengeluarkan album foto lainnya dan menujukkannya pada Siwon.

"Umma!" seru Kyuhyun tak percaya melihat sikap Umma-nya. Ia langsung berusaha meraih album foto itu, namun Siwon kali ini lebih sigap. Ia menjauhkan album foto itu dari jangkauan tangan Kyuhyun, sambil tak lepas memandangi isi foto di album itu.

"Ternyata kau imut sekali waktu bayi ya Kyuhyun-ah." ucapnya sambil memperhatikan terus foto telanjang baby Kyuhyun yang memperlihatkan pantat putih baby Kyuhyun yang terlihat begitu lembut dan kenyal.

Benar-benar menggemaskan.

"Loh, kau punya tanda lahir di pantat kananmu, Kyuhyun-ah?" tanya Siwon saat ia tengah asyik memperhatikan foto telanjang baby Kyuhyun.

Namja yang namanya di panggil itu tanpa sadar menangkupkan tangannya di bagian tanda lahirnya. Dan dengan horor ia menatap namja berlesung pipi di depannya itu. "A-ap-apa...foto apa yang kau lihat itu Siwon hyung?!" seru Kyuhyun sambil langsung menerjang namja tampan yang kini tertawa keras itu.

"Hahahaha... ternyata benar... hihihi... jadi tandanya masih ada disitu ya..."

Andaikan bisa, pasti wajah Kyuhyun akan menjadi lebih merah dari sang buah tomat ketika mendengar ucapan Siwon.

"Yah! Siwon hyung mesum! Yadong! Pervy!" seru Kyuhyun sambil berusaha menggapai album foto memalukannya.

"Aniya. Apanya yang yadong, ini kan fotomu waktu bayi." elak Siwon yang terus memundurkan tubuh atasnya ke belakang dan tangannya menjauhi Kyuhyun agar album foto itu tak terambil.

"Sudah! Sudah! Jangan lihat foto-fotoku lag—HYAAA!" jerit Kyuhyun panik saat lututnya tersandung sofa yang diduduki Siwon dan ia hilang keseimbangan.

"UPPHH!" pekiknya saat ia jatuh dan menindih sesuatu yang agak keras namun terasa hangat.

"Hei, hei Kyuhyun-ah, kau tak apa-apa kan?"

Namja yang barusan terjatuh itu mendongak ke atas dan menemukan wajah khawatir Siwon hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, dan hampir 90% dari tubuh mereka menempel satu sama lain.

"A-ah... a-aku tak apa.." ucapnya agak linglung.

"Huufthh, syukurlah. Barusan kau benar-benar membuat jantungku nyaris copot. Kejadian yang tadi pagi juga. Kau selalu membuatku khawatir setiap waktu." ucap Siwon sambil melingkarkan lengan kekarnya ke tubuh Kyuhyun.

"...Siwon hyung..."

"EKHEM!"

"Aduh yeobo, kenapa disini rasanya tiba-tiba jadi panas ya? Apa AC rumah kita sedang ada masalah?"

"Iya chagiya, tiba-tiba saja aku butuh udara segar. Ayo kita keluar saja, daripada kita jadi nyamuk disini."

Dan begitu saja, kedua orang paruh baya disana langsung melenggang pergi. Meninggalkan Siwon dan Kyuhyun dalam posisi masih berpelukan mesra di atas sofa.

"Aigooo, senangnya. Ternyata Appa dan Umma Cho pengertian sekali." ucap Siwon senang sambil memperat pelukannya pada tubuh sintal Kyuhyun.

"Y-yah! Le-lepaskan aku Siwon hyungg~!" tolak Kyuhyun sambil berusaha menggeliat dari pelukan Siwon.

Namun dengan tubuh kekar Siwon, ditambah geliatan yang cuma dilakukan dengan setengah hati dari Kyuhyun, jelas keduanya tetap berada dalam posisi mesra itu dalam waktu yang lama.

.

.

.

Apalagi karena ditambah dengan Siwon yang gemas melihat Kyuhyun, ia jadi melayangkan kecupan-kecupan ringan di sepanjang wajah Kyuhyun.

.

.

.

.oOWonKyuHoMinOo.

.

.

.

Sore harinya setelah sesiangan bermesraan dengan Kyuhyun, Siwon menemukan dirinya duduk berdua dengan Appa Cho. Dengan penuh seksama Siwon benar-benar mendengarkan cerita yang keluar dari bibir pria paruh baya kepala keluarga Cho tersebut.

Mendengarkan mengenai bagaimana dahulu ia hanyalah anak orang yang miskin dan tak berada. Nekat menikahi umma Cho dan hidup dengan sederhana dengan ia yang membanting tulang setiap hari dari pagi hingga sore.

"Waktu itu aku kerja serabutan, nak Siwon. Pagi-pagi mengantar koran dan susu ke rumah-rumah. Siangnya bekerja di minimarket, dan malamnya berkutat dengan pekerjaan pembangunan jalan. Tidur hanya sebentar, dan paginya sudah harus kembali bekerja lagi." cerita appa Cho

"Appa, apa kau menceritakan kisah basi itu pada Siwon hyung?" ucap Kyuhyun tiba-tiba yang datang sambil membawakan camilan dan minuman dingin.

"Dasar anak nakal. Kau ini, apa kau tak menghargai perjuangan Appamu ini yang tadinya tak punya apa-apa, sampai bisa sanggup membesarkanmu begini?" balas pria paruh baya itu tak terima.

"Tidak. Tentu saja aku tak menghargainya." Ucap Kyuhyun santai, sebelum ia nyengir tak bersalah sambil kemudian melingkarkan kedua tangannya ke leher sang ayah. "Aku tak menghargainya karena apa yang Appa lakukan itu tak bisa ternilai harganya." tambahnya yang membuat senyum terukir di wajah sang Ayah.

"Kau ini, selalu saja pandai bermain kata. Appa sampai kalah." gerutu Appa Cho sambil mengusap surai lembut Kyuhyun dengan penuh sayang.

Cengiran Kyuhyun makin lebar mendengar kalimat sang Ayah. "Tentu saja, aku kan anak Appa~!"

Mendengar itu, appa Cho dan Siwon tak bisa menahan diri untuk tak tertawa kecil.

"Yah! Apa yang kalian tertawakan coba," cemberut Kyuhyun karena dua namja yang lebih tua darinya itu sama-sama menertawainya.

"Sudah, sudah, masuk ke dalam saja sana. Appa masih mau melanjutkan cerita Appa pada nak Siwon ini." usir sang Appa.

"Huuuuu, ya terserah saja. Lagipula aku juga sudah sering mendengarnya. Sampai sudah hapal diluar kepala. Hati-hati Siwon hyung, minum kopinya kalau cerita Appa membuatmu mengantuk," peringat Kyuhyun sambil melenggang masuk ke dalam rumah.

"Dasar bocah nakal." Ucap appa Cho sambil meraih kopi yang dibawakan Kyuhyun dan menyesapnya pelan.

Siwon tersenyum lembut sambil membatin, 'Keluarga yang hangat dan menyenangkan.'

Selesai meletakkan kopinya, appa Cho menatap Siwon dengan serius, dan entah mengapa tatapan itu membuat hatinya agak deg-deg'an.

"Nah, nak Siwon, aku ini sudah membesarkan kedua anakku dengan sepenuh hati. Yang kuinginkan hanya agar selalu membuat keduanya bahagia. Pekerjaanmu itu, model kan nak Siwon. Apa dengan itu kau bisa selalu membuat Kyuhyun hidup berkecukupan seperti yang sudah selama ini aku lakukan? Apa kau bisa selalu membahagiakan Kyuhyun jika nanti aku setuju menikahkanmu dengannya?"

.

.

.

.oOHoMinWonKyuOo.

.

.

.

Dengan wajah super memerah, Changmin langsung melempar benda di sekitarnya ke arah pintu kamarnya sambil berterak,

"YAH! KELUAARR!"

.

.

.

"Huuufthh, tenangkan dirimu Shim Changmin... tenangkan dirimu."

Namja bertubuh tinggi semampai itu memegang handel pintu kamarnya sambil berkomat-kamit untuk menenangkan dirinya. Sesekali ia melirik penampilannya di cermin besar di kamarnya, dan saat merasa sudah puas, ia mengangguk.

"Yosh! Sudah oke, semua pasti lancar Shim Changmin!" ucapnya sambil membuka pintu kamarnya dan berjalan keluar sambil menarik satu buah koper miliknya.

"Yunho oppa, apa Yunho oppa mengenal Hyunbin oppa? Bisakah Yunho oppa memintakan tanda tangan Hyunbin oppa untukku?"

Changmin mengerutkan alisnya saat sayup-sayup suara adiknya, Jiyeon, terdengar di telinganya.

"Tentu saja calon adik ipar, nanti akan kumintakan saat kami bertemu."

"Kyaa~! Yunho oppa, kau yang terbaik! Changmin oppa beruntung sekali bisa mendapatkanmuuuu.."

Dan alis Changmin makin berkerut dalam saat ia melihat Jiyeon memeluk leher Yunho. Di sebelah kanan Yunho, ada Sooyeon yang menatap Yunho dengan dreamy eyes.

"Andai saja Oppa straight, pasti menyenangkan sekali kalau bisa mendapatkan Oppa sebagai suamiku."

Dan api cemburu langsung berkobar hebat di dada Changmin saat ia mendengar ucapan Sooyeon. Apalagi mengingat kalau sebenarnya Sooyeon-lah yang awalnya di pertunangkan dengan Yunho.

"Yunho hyung. Sooyeon. Jiyeon." ucap Changmin dengan nada sedingin es dan dengan tatapan yang memendam kecemburuannya.

"Ah! Changmin-ah, kau sudah selesai? Sini, sini, aku bawakan barang bawaanmu." seru Yunho yang dengan semangat langsung menghampiri Changmin. Entah kenapa, sekilas Changmin membayangkan kalau yang ada didepannya ini siberian husky yang semangat menghampiri majikannya sambil menggoyang-goyangkan ekornya. Tanpa sadar semua emosi yang bergelut dalam hatinya menghilang begitu saja, dan ia tersenyum kecil menanggapi sikap Yunho yang selalu ceria dan semangat.

"Barang bawaanku cuma ini saja kok. Aku bisa membawanya sendiri, Yunho hyung."

"Nonsense. Biarpun cuma satu koper atau cuma satu tas kecil, aku akan selalu siap membawakan barang bawaanmu, Changmin-ah. Ayo kemarikan. Akan aku masukkan langsung ke bagasi mobilku."

Mengalah, Changmin akhirnya membiarkan Yunho membawa kopernya.

"Aigooooo~ Yunho oppa benar-benar sempurna..." lirih Sooyeon yang melihat sikap gentleman Yunho pada oppa-nya itu.

Hanya dengan kalimat itu saja, dalam sekejap rasa cemburu yang tadi menghilang kembali menampakkan dirinya lagi di hati Changmin.

"Benar sekali, sayang sekali Sooyeonnie tak jadi mendapatkan Yunho oppa. Yunho oppa benar-benar lelaki idaman. Andaikan ada lagi namja seperti Yunho oppa, aku pasti juga mau menjadi istrinya."

"Sooyeon. Jiyeon." panggil Changmin dengan nada rendah yang mencekam.

"Ups!"

"Changmin oppa, jangan salah paham. Kami kan hanya mengapresiasi tunangan oppa."

"Hmm? Begitukah?" ucap Changmin dengan nada yang jelas-jelas menunjukkan kalau ia tak mempercayai ucapan kedua yeodongsaengnya.

Kedua putri keluarga Shim itu sama-sama mengeluarkan cengirannya mendengar nada suara Oppa mereka.

"Tentu saja begitu. Kami kan ikut senang karena Oppa mendapatnya namja gentleman seperti Yunho oppa."

"Benar, benar. Yunho oppa yang sempurna itu cocok sekali dengan Oppa. Apalagi Yunho oppa bisa membuat Oppa langsung luluh dalam sekejap."

"Betul sekali Jiyeonnie. Tadi aku juga melihatnya! Yunho oppa memang sempurna. Sempurna untuk mendampingi Oppa yang memang kadang moodswingnya tak menentu. Hahahahahahaa.."

Tawa kedua yeoja keluarga Shim itu menghiasi ruangan, dan membuat Changmin merasa lebih rileks.

"Yah! Yeonnie!" seru Changmin memanggil kedua adiknya dengan nama panggilannya sayangnya.

"Hihihihi. Oppa tak bisa menyembunyikannya dari kami. Tadi Oppa cemburu kan?" goda Sooyeon.

"Yup. Oppa tadi jelas-jelas cemburu saat turun dari tangga tadi. Pasti karena komentar Sooyeonnie soal Yunho oppa sebagai suami. Hihihi, Oppa gampang ditebak."

Semburat merah mulai menghiasi wajah Changmin karena tiba-tiba saja ia merasa tingkahnya tadi begitu bodoh dan memalukan. Cemburu pada adiknya sendiri? Entahlah, sepertinya dirinya mulai gila. "Yah! Aku tadi tak cemburu. Sudah kalian berdua. Jangan usil."

"Wah? Ada apa ini? Siapa yang cemburu, Changmin-ah?" tanya Yunho yang baru masuk dan mendengarkan ucapan Changmin.

"Tidak, tidak. Tidak ada yang cemburu disini. Yunho hyung salah dengar saja. Semua sudah siap? Kita mau berangkat sekarang?" elak Changmin cepat-cepat berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Yunho oppa, tadi Oppa cemburu saat kita mengobrol." ucap Sooyeon yang tak mau melewatkan kesempatan mengganggu Oppa-nya. Habisnya, Oppanya itu sering usil pada mereka, dan ketika ada kesempatan seperti ini, mana mungkin ia dan Jiyeon melewatkannya?

"Iya Yunho oppa. Min oppa tadi cemburu karena Sooyeonnie kan tadinya yang akan di tunangkan dengan Yunho oppa. Jadi saat Sooyeonnie bilang kalau dia berharap Yunho oppa jadi suaminya, Changmin oppa langsung cemburu."

"Yah! Yah! Yeonnie! Jangan bicara yang tidak-tid—HYAA!"

Kedua tangan Changmin langsung berusaha mencari pegangan saat tiba-tiba saja kakinya tak lagi menapak lantai dan menopang tubuhnya. Dan saat tubuhnya menempel pada sesuatu yang tegap dan stabil, langsung saja Changmin melingkarkan tangannya disana.

"Changmin-ah, jadi kau cemburu? Benarkah?"

Changmin yang tak siap karena tiba-tiba saja mendapati wajah Yunho berjarak begitu dekat dengannya, tak sanggup berkata-kata.

Melihat Changmin tak menyangkal, Yunho menyengir lebar sambil mulai berjalan sambil menggendong Changmin tanpa kesulitan. "Tak perlu cemburu begitu Changmin-ah. Biarpun tadinya aku akan ditunangkan dengan Sooyeon, tapi itukan keputusan sepihak dari orangtua kita. Di depan mereka, aku sendiri kan yang bilang kalau lebih memilih di pertunangkan denganmu." ucap Yunho lembut sambil perlahan mendudukkan Changmin ke kursi penumpang di mobilnya yang memang sengaja ia biarkan terbuka untuk Changmin.

"Lagipula, jika sampai aku bersama dengan orang lain, kurasa aku akan menjadi kekasih paling buruk. Karena hanya denganmu saja aku yang tak sempurna ini jadi bisa sempurna. Kau yang menyempurnakanmu, Changmin-ah." imbuh Yunho yang menatap Changmin dengan penuh sayang, sambil mendaratkan satu kecupan mesra di bibir Changmin yang sedikit terbuka. "Nah, ayo berangkat sekarang, keluargaku sudah tak sabar untuk mengenalmu lebih jauh."

.

.

.

.oOHoMinWonKyuOo.

.

.

.

Memasuki kediaman keluarga Jung dan langsung disambut oleh tiga anggota keluarga Jung yang lain dengan ramah dan dengan tangan terbuka membuat kekhawatirannya mulai menghilang. Dan saat Umma Jung berkata akan menyiapkan makanan, Changmin dengan sigap langsung menawarkan diri untuk membantu.

"Tidak usah nak Changmin, kau kan tamu disini. Masa tamu membantu memasak." tolak Umma Jung.

"Aku juga sudah biasa membantu memasak di rumah kok. Tidak masalah." ucap Changmin meyakinkan.

"Tak apa-apa, Umma. Changmin-ah ini juga pintar memasak loh. Aku pernah di masakkan oleh Changmin-ah, dan rasanya enak." tambah Yunho.

Umma Jung memandangi putranya dan calon menantunya itu, sebelum mengangguk. "Baiklah kalau kalian berkata begitu. Ayo nak Changmin, Umma ingin tahu resep keluarga Shim. Dan nanti Umma akan beri tahu resep rahasia masakanku, jadi nanti kalau Yunho tiba-tiba ingin rasa masakan rumah, kau bisa membuatkannya."

Wajah Changmin langsung berbinar-binar mendengarnya. "Kalau begitu, ayo cepat Umma, ajarkan aku." ucap Changmin semangat sambil tanpa sadar ia menggandeng lengan Umma Jung dan keduanya berjalan bersama menuju dapur.

Yunho mengekor di belakang dengan senyum yang tak pernah pudar.

"Yunho-yah, kau kan tak bisa memasak. Pergi sana." usir Umma Jung yang melihat putra sulungnya mengikuti mereka berdua ke dapur, dan kini duduk di kursi tinggi di depan meja dapur.

"Tak apa-apa kan Umma. Aku kan disini mau melihat Umma dan calon pendamping hidupku memasak. Aku tak akan mengganggu kok." ucap Yunho yang menyedekapkan tangannya di atas meja dan duduk dengan diam dan tenang.

.

Lima menit berlalu, dan Changmin benar-benar tak bisa konsentrasi sama sekali. Bagaimana ia bisa berkonsentrasi kalau ia bisa merasakan tatapan mata Yunho mengamati setiap gerakannya?

Apalagi terkadang Yunho melakukan atau mengucapkan sesuatu yang membuat konsentrasinya langsung buyar.

"Aigooo, Changmin-ah, makin lama melihatmu memakai celemek itu, aku jadi semakin terpesona.." ucap Yunho yang langsung membuat Changmin lupa ia harus melakukan apa karena rona merah menjalari wajahnya.

"Haaaaahhh... beruntungnya jadi aku. Mendapatkan Changmin-ah yang begitu telaten dan pintar memasak," ucap Yunho saat melihat Changmin dengan lihat memotong-motong cabai dan bawang. Untungnya saat itu Changmin sudah selesai memotong, karena konsentrasinya langsung buyar dalam sekejap.

Ia sedang akan mencampur telur yang ia pegang dengan adonan tepung dan bumbu saat ia melirik kearah Yunho. Namja yang ia lirik itu tersenyum lebar, mengedipkan mata padanya dan melempar ciuman jauh ke arahnya—yang jelas-jelas langsung membuatnya salah tingkah dan memerah, hingga telur yang ia pegang terjatuh dan pecah.

"Ah! Telurnya!" panik Changmin melihat satu telur yang ia bawa pecah sia-sia.

"Yunho-yah, pergi sana." ucap Umma Jung yang sepertinya ikutan gerah melihat tingkah konyol Yunho. Ia tahu sih, kalau Yunho m,engeluarkan pujian itu dari hati, dan melihat anaknya merayu Changmin dengan memberinya pujian-pujian itu cara yang benar. Ia sendiri juga terhibur mendengar cara anaknya merayu Changmin, dan juga melihat reaksi salah tingkah Changmin mendengar pujian dari anaknya.

Tapi, kalau ini terus-terusan di biarkan, bisa-bisa terjadi kecelakaan tak diinginkan kalau Yunho terus-terusan mengalihkan perhatian Changmin, dan ia sendiri juga ingin mengobrol dengan calon menantunya tanpa ada Yunho yang terkadang suka berkomentar.

"Tapi Umma, aku kan cuma duduk disini dan tak mengganggu kalian.." pinta Yunho yang tak rela diusir dari dapur.

"Kau itu jelas-jelas mengganggu. Sudah, pergi sana. Umma mau memasak berdua saja dengan nak Changmin. Hush, hush.."

Dengan wajah memelas dan kalah, Yunho akhirnya bangkit dan berjalan keluar dengan muka menunduk. Ia menoleh ke belakang dengan wajah memelas, sebelum nyengir tak bersalah dan berlari pergi ketika di beri tatapan tajam oleh sang Umma.

"Hihihihi.." Changmin tanpa sadar terkikik geli melihat kejadian yang barusan berlangsung itu.

Umma Jung yang mendengar tawa kecil Changmin menghembuskan nafasnya. "Aku sudah kebal dengan wajah memelasnya. Jadi tingkahnya tadi tak lagi mempan padaku, dan ia tahu itu. Dasar bocah nakal." gerutu Umma Jung meski ekspresi wajahnya sama sekali tak menunjukkan kekesalan seperti yang ia ucapkan.

'Keluarga ini... menyenangkan sekali,' batin Changmin dengan hati yang kini seringan kapas.

Namun kelegaan hatinya itu tak bertahan lama, karena tiba-tiba saja Umma Jung menatapnya dengan tatapan yang dingin dan tak terbaca—yang membuat hatinya jadi ragu dan waspada.

"Yunho sudah tak ada disini lagi. Jadi aku bisa bebas bertanya. Changmin-ah, apa kau yakin kau siap hidup bersama Yunho? Tinggal bersama dan saling mengurus, apa kau yakin kau sanggup untuk terus bertahan di samping Yunho dan membahagiakan putra sulungku?"

.

.

.

.

.

~TBC~

Annyeooongg~

Sesuai janji Ela datang bawa lanjutan fanfic ini, dan fanfic ini juga 2xlipat lebihpanjang dari chap kemarin~

Hmmm, sedikit sedih sih ya, karena makin lama yang review semakin sedikit.. Apa makin lama fanfic ini jadi kurang bagus ya? T_T

Tapi BIG THANKS buat yang sudah review di chap kemarin~

AninArlunerz, JiJoonie, Guest, luvhomin, L, Wie, Changru Minru, babymoomoo1013, GaemGyu92, loezia, hyunnie02 , ajib4ff, rismamalmul, evakyungsoo, kak angel , kimfida62, Melqbunny gak login, Juma park ,semua review kalian adalah penyemangatku dalam melanjutkan fanfic ini~

Trus buat cha yeoja hongki yang mereview "Eohh iyaa ella Kamu ko bisa buat pair na homin Krn kan mereka ngga ada cemistry sbg couplle sedikitpun dlm cinta .. Mereka slllu cocok jadi ayah anak ato kaka adik .. plleeaaseee jwb dooonnkkk .."

Ela jawab ya : Shipper itu kan tegantung selera orang masing-masing dan tergantung sudut pandang masing-masing. Aku ini kenal TVXQ dari jaman Doushite, dan dari perjalanan waktu itu, (dari sudut pandangku) Aku bisa jelas melihat bagiamana perubahan sikap Yunho-Changmin yang tadinya bandmate, sekarang kelihatan begitu mesra dalam setiap tatap, ucapan. tindak dan tingkah lakunya. Apalagi sekarang yang masih membuat nama TVXQ tetap harum dan semakin tenar kan Cuma tinggal berdua, jadi hubungan/ikatan yg kuat itu sudah nggak bisa diibaratkan lagi sebagai hubungan ayah-anak ataupun kakak-adik, tapi seperti soulmate sehidup-semati yang percaya kalo mereka bisa menghadapi dunia dengan hanya berdua. Aku tak tahu cha yeoja hongki ini berkomentar seperti ini hanya karena sering membawa ff yang menjadikan HoMin sebagai ayah/anak atau kakak/adik, tapi kalau iya, coba saja mengenali TVXQ(Yunho+Changmin) lebih jauh. Tapi kalau memang cha yeoja hongki ini memang penyuka TVXQ dan merasa tak ada chemistry dengan couple HoMin sebagai sepasang kekasih, tolong lihat warningku di atas. Ini fanfic HOMIN dan WONKYU, kalau memang tak suka, tak perlu dibaca dan silahkan angkat kaki, karena aku sudah nggak ingin berurusan dengan orang yang nggak suka couple yg aku tulis.

Ela menulis fanfic dan mempostingnya dengan Warning tentang couple yang Ela tulis yang jelas. Jadi kalau tidak suka, silahkan angkat kaki. It's so simple.

Dan disini semua fanfic dengan couple apapun adalah fairplay. Unleash your imagination adalah motto ini.

Udah ah cuap-cuapnya nggak jelasnya. Buat chap depan, hmmm, apa ya kira-kira jawaban Siwon dan Changmin buat pertanyaan yang diajukan itu?

Last, review kalian adalah upah capek buat Ela~