Holalala~ Lyra Halmeoni is back! Hohoho, akhirnya setelah sekian lama sejak zaman purba, Lyra bisa update chap 1 dari The One, fanfic aneh dengan segala kegajeannya. Chap 1 ini tentu saja ada karena review dari reader. GUMAWO! Lyra seneng banget ff abal ini ada yang mau review. Yaah, walopun SiDers bejibun sih…
Eumm, curhat dikit ya? Sebenarnya Lyra gak PD banget buat publish ni ff, malah sempet pengen lari lagi#plak! Ehehe, gak, gak, Lyra gak bakalan discontinue lagi. GAK AKAN!
Kemarin Lyra kena musibah, masih ingat ff 'Never Stop' Lyra? Iya, Lyra tahu, ff itu jelek banget, sadar banget malah. Buat baca aja Lyra gak sudi. Jadi Lyra maklum waktu ada yang FLAME Lyra. Catat, ini FLAME! Ternyata rasanya di Bash itu gak enak ya? Untuk pertama kalinya, Lyra ngerasa pengen ninggalin dunia menulis. Cengeng banget ya? Tapi ga ah. Yang salah kan bukan Lyra. Lyra cume pengen asah kemampuan, salah dia sendiri buat baca. Hohoho….
WAJIB BACA:
. FF ini sebenarnya gk terinspirasi dari apapun. Tapi kalo gak salah mungkin agak sama dengan DramKor City Hunter. Entahlah, Lyra gak terlalu tertarik sama DramKor, cuma sempet curi dengar sama sepupu Lyra yang maniak DramKor. Lyra Cuma tau City Hunter bercerita soal balas dendam, tapi nonton langsung gk pernah. Cuma sering sekilas liat kalo mama lagi kena demam dramkor. Lyra juga males cari tau. Jadi mianhe kalo sama ya? Lyra gk pernah bermaksud menjiplak.
Buat yang pernah nanya soal EXO, entah siapa itu, Lyra lupa. Lyra bukan fans buta banget kalo soal K-Pop, Lyra Cuma fans SuJu. Itu doang. Malah jujur, tapi jangan marah ya? Lyra cenderung gak suka EXO. Tapi Lyra gak ngebash loh. Cuma gak terlalu klop kalo soal EXO. Buat para fans EXO, jangan marah ya? Lyra turut berduka juga buat keluarnya Luhan, Kris, dan Baekhyun.
Lyra Cuma pernah sekali baca ff EXO, kalo gak salah judulnya 'Goodbye Saranghae'. Lyra mewek sih bacanya, tapi itu karena Lyra nganggap castnya WonKyu. Jahat banget ya?
Sahabat Lyra fans banget sama EXO, menggilai lebih tepatnya. Dia maksa Lyra buat bikin ff EXO, tapi please deh. Kenal EXO aja buram banget. Hahaha…
Yang pengen kenal lebih dekat. Ini acc fb Lyra. FB Lyra: L Frolight. Cari aja yang picnya anak sekolahan aneh sama tas pink. Ah, buat balasan review bisa diliat di bawah TBC.
Udah ah. Sebenarnya banyak banget yang pengen Lyra bilang, Cuma takutnya malah pada bosan sama author cerewet ini.
WARNING: GaJe, bahasa gak tentu, ngebosenin, alur aneh. BL, Typo, feel gagal. Cat, kalo baca, tolong bayangin setiap potong adegan ya? Siip.
…
Title: The One
Cast : Kyuhyun, Jonghyun, Siwon, and other.
Genre : Tentuin sendiri ya..
Disclaimer : SuJu milik SMent, membernya punya Tuhan. BabyKyu punya Lyra seorang #Plak!
Rate : T-M
Enjoy the story…
THE ONE
Chapter 1
.
.
.
.
"Bertaruh. Hari ini dia akan memakai area merah! Ckckck, Yeoja yang malang."
Changmin merengut mendengar perkataan Yoona sebelum kembali menggigit donat coklatnya hikmat. "Mungkin saja Yeoja kali ini beruntung."
"Haahh… kau sudah mengatakannya berulang kali. Percayalah, tak akan ada yeoja ataupun namja yang beruntung. Baby hanya milik Jonghyun! Benar 'kan Prince?"
Jonghyun mengangguk angkuh, setuju dengan pernyataan Jessica. Manik kelamnya bergulir melirik Yeoja yang kini sedang memeluk sebuah kado gugup dengan mata yang menatap Kyuhyun sembunyi-sembunyi. 'Haah, satu lagi. Kasihan.'
"Kudengar kemarin Key juga jadi korban Kyunnie, menyusul dua temannya yang juga patah hati minggu lalu. Haaah, padahal dia lumayan tampan."
"Key. Anak kelas satu. Eummh… 409." Krystal tampak menuliskan sesuatu dengan semangat pada sebuah buku yang tampak seperti album.
"Whoaa! DAEBAK! Apa sudah sebanyak itu?! Kurasa tidak ada yang bisa menolak pesonannya. Feromonnya yang paling kuat! Ckckck." Changmin berseru heboh. Takjub dengan rekor Kyuhyun. Dan 5 gadis itu mengangguk serempak. "Andai saja aku mengenalnya lebih awal. Hhh… kurasa dia benar-benar bisa mencatat rekor dunia." Taeyon mendesah kecewa.
"Umm! Kyuhyun benar-benar daebak! Apa dia memang menyukaimu sampai-sampai menolak semua namja dan yeoja? Bahkan Key yang tampan tak dapat meluluhkannya." Taemin yang sedari tadi diam sebagai pihak 'Oh-ah' akhirnya buka suara. Tapi keningnya berkerut bingung ketika tak seorangpun dalam kelompok itu yang merespon. 7 pasang mata itu kini malah seakan menelanjanginya.
Taemin menelan salivanya sulit. "Euum. Apa aku salah bicara? Bukankah Key memang tampan?"
Hening sejenak…
.
"Mwahaha! BAIKLAH! Sudah kupustuskan! Mulai sekarang kau adalah Uke dari Key!" Sebagai ketua, Yoona tiba-tiba memukul meja dengan mata berapi-api. Memvonis seenaknya. 4 gadis lainnya mengangguk-angguk dengan mata yang ikut berbinar semangat. Hohoho, jiwa fujoshi mereka membara.
"Um! Kurasa kalian memang cocok!" Jessica mengiyakan.
"Akhirnya… club kita memiliki pair baru." Taeyeon mendesah bahagia.
"Ternyata firasatku tak salah! Kau memang seorang Uke yang agresif!" Seohyun menepuk dadanya bangga. Krystal malah sibuk memotret wajah imut Taemin. Mempostingnya dengan kalimat 'Uke Agresif' berhuruf capital.
"Kupikir kau straight?" Changmin berbisik setelah bangkit dari mode kaget-bodohnya. Taemin cengo.
"MWO! UKE?! AGRESIF?! Yakk! Aku tak mau terlibat dalam kelompok fujoshi gila seperti kalian! ANDWEE!" Taemin segera bangkit dan berseru histeris. Jelas dia tak rela!
"Terimalah, Minnie. Kau ma-" Dan perkataan bijak Yoona terhenti ketika matanya menangkap yeoja tadi yang kini sudah berdiri dihadapan Kyuhyun.
"Sudah dimulai!" Bisiknya dalam bin semangat. "Abadikan! Abadikan!" lanjutnya. Seohyun segera menghidupkan handy camnya dengan terburu-buru. Mereka tak akan melewatkan satu lagi bukti nyata kesaktian pesona Kyuhyun! Tidak akan!
.
"Oppa…" cicit yeoja itu di depan meja Kyuhyun. Menatap Kyuhyun yang bertopang dagu menatap ke luar jendela. Datar dan beku.
"Oppa…" ulangnya lebih keras.
"Kau bicara padaku?" Kyuhyun berucap pelan. Masih menatap deretan pohon yang dibelai angin musim gugur.
"N-nde. Eumm, aku ingin memberikan ini." Yeoja manis itu berucap merona. Tak berani menatap hazel lembut yang kini beralih menyorotnya datar. Ugh, bahkan tatapannya saja serasa dapat membekukan sendi!
"Aku membuatnya dengan sungguh-sungguh. Kuharap oppa su-suka." Tangannya terangkat menyodorkan sebuah kotak berpita merah. Jelas tampak bergetar gugup.
"Untukku? Kau yakin aku akan suka?" Dengan cuek Kyuhyun bertanya meremehkan. Yoona di ujung sana menyeringai menang, menatap Changmin dengan tatapan apa-aku-bilang.
Senyap, yeoja itu diam. Hingga saat Kyuhyun akhirnya meraih kotak itu, tanpa sadar dia melompat kecil. Dan kini semua pasang mata di kelas itu membulat. Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya Frozen Angel itu mau menerima kadonya? Apa ini kiamat?!
"Gotcha! Apa aku bilang!" Kini balas Changmin yang menyeringai menang. Menatap ke lima fujoshi gila yang kini seakan kehilangan jiwa dengan mulut menganga.
"Nde, aku suka. Aku suka… melihat kotak ini dibuang." Masih dengan wajah tembok, Kyuhyun tiba-tiba membuang kado itu dengan mudahnya lewat jendela. Tak peduli meski dengan cepat mata yeoja itu memerah.
"Hancur dan rusak. Menjadi sampah yang tidak berguna. Neomu choae…" Dengan seringai kecil Kyuhyun beranjak bangkit. "Tidak apa-apa 'kan?" Bisiknya sebelum melenggang pergi. Membuat seluruh penghuni kelas akhirnya ingat untuk bernafas lega. Ternyata belum kiamat.
"Siapa?! Siapa nama yeoja tadi?!" Krystal bertanya semangat.
"Yuri. Kwon Yuri." Jawab Yoona sambil mengusap air mata harunya. Bahagia uke manis mereka ternyata tetap setia.
"Kwon Yuri. 410. Wow… Aku selalu suka sensasi ini."
.
.
.
Siwon berjalan santai di koridor panjang itu, mengabaikan berlusin-lusin pasang mata yang menatapnya lapar. Terbiasa. Sudah terlalu banyak Uke dan Yeoja yang menatapnya seperti itu selama hidupnya. Wajar, siapa yang tak akan terpana dengan ukiran sempurna itu?
Ia menarik selengkung kurva sebelum mempercepat langkahnya menuju toilet. Meninggalkan rona parah di pipi para haksaeng itu.
.
"Yeobseo?"
"…"
"Nde. Aku baru saja sampai 10 menit yang lalu."
"…"
"Tenanglah. Kupikir di sini aman. Kapan kau akan datang?"
"…"
"0704. Seperti biasa. Hubungi aku jika kau butuh sesuatu."
Klik. Sambungan berakhir. Kakinya melangkah ke deretan westafel di sudut toilet setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku. Seseorang tampak berdiri membelakanginya. Berpostur ramping dengan surai almond. Setidaknya itu kesan yang dicatat otaknya pertama kali.
Siwon memutar keran westafel tepat di sisi namja itu. Matanya melirik sekilas ketika namja itu terus menunduk.
"Hey, Siapa namamu?" Tanya Siwon memulai percakapan. Tangannya terangkat menyisir asal rambut spike hitamnya.
"Hey, aku bicara padamu. Siapa namamu?" ulang Siwon agak keras, kesal ketika namja itu tetap diam. Masih menunduk.
"Apa itu penting untukmu?" Akhirnya namja itu bersuara, membuat Siwon tertegun ketika suara lembut dan jernih itu menelusup di telinganya pelan. Namun Siwon tak pernah mendengar nada sedingin dan sedatar itu. Terasa hampa dan tanpa warna. Sangat menusuk. Sejenak Siwon merasa tubuhnya merinding.
"Hey, aku baru saja pindah. Aku hanya ingin berkenalan. Itu saja." Setelah terdiam beberapa detik, Siwon menjawab gugup. Ingin rasanya dia terbahak sekarang, sejak kapan seorang Choi Siwon gugup hanya karena mendengar suara dengan nada datar? Rekor terbaru.
"Apa itu penting untukku?" Namja itu akhirnya mendongkak. Menatap Siwon dengan mata hazel yang indah. Dan untuk kedua kalinya Siwon tertegun.
'cantik…'
Mata itu menguncinya dalam sekejap. Mata kebanyakan orang korea berwarna coklat tua. Tapi namja di depannya memiliki iris sewarna hazel cerah yang lembut.
Mengingatkannya pada seseorang. Mereka memiliki wajah manis yang sama, juga iris sewarna hazel yang sama, namun tatapan mereka jelas jauh berbeda. Seseorang dalam bingkai memori Siwon memiliki tatapan hangat dan jahil meski dengan setitik binar sendu. Namun hazel di hadapannya tampak mati. Beku dan tak tertembus.
Dan dia yakin hazel itu kembali menjeratnya.
"Apa itu soft lens?"
"Pabbo."
Pintu toilet berderit pelan sebelum tubuh mungil itu menghilang. Menyisakan Siwon yang terpaku, menyelami ingatannya yang semakin berkabut.
.
.
.
Bayang-bayang mulai memanjang merayapi tanah ketika dentang jam pulang akhirnya berbunyi. Kyuhyun tetap duduk di dalam kelas, enggan beranjak. Sudah menjadi kebiasaannya untuk pulang tepat 15 menit sebelum gerbang ditutup. Bersembunyi. Well, dia benci menjadi pusat perhatian.
Matanya menantang matahari di balik siluet pohon oak tepat 3 meter di depannya. Dengan dingin hazel itu membidik seseorang di lapangan basket di sana.
Matahari sore itu mengingatkannya kembali pada luka lama. Dengan separuh yang hilang, atau dia memang tak pernah hidup di dunia ini? Sepenggal nama itu palsu.
. . . . . . . . .
Punggung mungil itu bergetar, perkataan ayahnya tadi merobek hatinya terlalu dalam. Kyuhyun hanya berbeda 15 menit dengan Kibum, tapi kenapa hanya Kibum yang mendapat ucapan selamat itu? Kenapa hanya Kibum yang bisa meniup lilin harapan? Kenapa hanya Kibum yang mendapat kecupan pada kedua pipinya. Kyuhyun juga ingin. Ini ulang tahunnya. Dia juga ingin hadir dalam pesta meriah itu. Tapi dia tahu, berpasang-pasang mata itu menghalanginya. Ketika Kibum ada, maka dia harus menghilang.
Meski dia tahu dia dan Kibum memang berbeda terlalu jauh, tapi tak bisakah mereka menyayanginya hari ini saja? Pura-pura pun tak apa.
Kyuhyun hanya ingin tahu, bagaimana rasanya dianggap di tengah keluarga. Jika lilin harapan itu memang ada, dia ingin meminta. Sekali saja, dia ingin tidur dalam dekapan ibunya ketika demam, mendapat senyuman ayahnya tanpa letupan peluru, dan mendengar Kibum memanggil namanya. Dia ingin dilirik, bukan sebagai tameng tak berharga, bukan sebagai boneka perang, bukan sebagai bayangan. Hanya seorang Cho Kyuhyun, bukan Kibum.
Bolehkah?
"Hey. Gwenchana?" Suara itu membuat punggungnya berjengit. Seketika dia mendongkak, membuatnya berhadapan langsung dengan onyx 3 cm di depannya. Terlalu dekat. Matanya melebar, onyx itu juga membesar. Saling mengunci.
"Woaah! Aku suka matamu. Sukaaaa sekalii…" Kagumnya ketika Kyuhyun mundur menjauh sebelum mengusap kasar matanya.
"Kenapa? Berhentilah menangis. Wajah manismu jadi sangat jelek."
Tepat ketika jemarinya berhenti mengusap mata, wajah sembab itu berubah sinis dengan seringai jahil. "Kau merayuku?"
Namja kecil itu malah balas terkekeh jahil. "Mungkin. Menurutmu?"
"Kau aneh."
"Yaak! Setidaknya hargai aku yang sudah menghiburmu!" Serunya agak kesal.
"Aku tidak meminta."
"Itu karena aku memiliki hati yang baik!"
"Ani. Kau menyukaiku."
What the?!
Namja kecil itu membulatkan matanya kaget bin heran. Please deh, paras manis bocah di depannya ini benar-benar menipu. Dengan kata-kata menyebalkan dan tingkat narsis yang menghawatirkan. Ck, dia berani bertaruh dengan suluruh magnet kulkas yang dimilikinya, wajah manis itu telah menipu banyak orang.
"Hhh… Nde. Aku mencintaimu. Apa kau puas, iblis?"
Bibir plum itu menyeringai tipis. "Aku tidak mencintaimu, kuda."
Dengan wajah memerah, namja kecil itu mendengus gusar. 67 detik yang lalu bocah cantik, di depannya tampak menyedihkan dengan mata basah dan hidung memerah. And see? Sekarang dia menjelma jadi iblis yang memuakkan. Masa sih dia berkepribadian ganda? Ok, dia bersumpah tak akan kalah.
"Baiklah! Kau yang meminta. Kuputuskan mulai sekarang kita berperang dan kau adalah istriku! Titik!" cerocosnya asal.
Bocah manis itu mendelik meremehkan. "Aku tak ingat pernah menikah dengan ahjussi sepertimu."
"Yaak! Umurku 9 tahun! Aku bukan ahjussi!, iblis!"
"Kau di bawah umur. Pernikahan ini tidak sah. Dan iblis tampan sepertiku tidak mungkin menikah dengan kuda buruk rupa sepertimu."
Buruk rupa? Hell, bahkan terlalu banyak kontrak pemotretan dan syuting yang diterimanya.
"Terserah! Kau tetap istriku dan aku tidak peduli jika anak kita menjadi iblis kuda yang tampan dan buruk rupa!" gusarnya mulai miring.
"Sudah kuduga kau gila, Siwon. Perlu kupanggilkan ambulance?"
"Aku tidak gi-… Tunggu! Dari mana kau tahu namaku?"
"Hhh… apa papan namamu tersangkut diotakmu hingga kau jadi sinting?" Bocah manis itu memutar tubuhnya dan berjalan menjauh. Dengan pose –sok- cool yang menyebalkan.
"Aku gila karenamu, Kyu." Balas Siwon geli dengan seringai meremehkan.
Langkah Kyuhyun terhenti dengan perut mual seketika. First, dia tak ingat pernah memberitahukan namanya yang itu pada kuda sinting ini. Second, Oooh! Anak kuda itu perlu ikut kursus merayu. Rayuannya membuat Kyuhyun benar-benar ingin muntah.
"Hei! Kenapa kau tahu namaku?!" Kyuhyun menjerit dan berbalik gusar menatap Siwon.
"Karena papan namamu tersangkut di otakku. Hahaha! Wajahmu benar-benar konyol tadi!" Diakhir kalimatnya, Siwon tertawa keras. Kyuhyun terpaku. Dia benar-benar ingin marah. Tapi melihat tawa itu, tanpa sadar bibirnya tertarik naik dan mulai ikut tertawa.
"Whoaa… Daebak! Yeobo, kau benar-benar cantik!" Siwon berseru heboh. Tawa Kyuhyun segera terhenti.
"Yaak! Aku namja!"
"Terserah. Kau tetap istriku."
.
.
.
Rasanya berbeda sekali.
Seperti mimpi. Kyuhyun tak ingat pernah memiliki kenangan menyenangkan sebelumnya. Tertawapun terasa seperti larangan mutlak baginya. Ultimatum yang tidak dapat dillanggarnya. Seperti kata Kibum, karena kebahagiaan membenci Cho Kyuhyun.
Tapi Kyuhyun ingin membuktikan bahwa dia bisa bahagia. Hidupnya kini sudah normal meski Kyuhyun bahkan tak tau seperti apa normal itu. Dia hanya berharap, dengan bernafas tanpa aroma mesiu artinya dia bisa bahagia. Dan kini hidup yang berusaha Kyuhyun cap normal didatangi Choi Siwon dengan segala ketidak normalannya. Membuatnya jungkir balik dengan hanya dalam waktu 5 menit ketika mereka bertatapan.
Bahkan 8 tahun tak cukup untuk mengubah debaran menyebalkan dalam dadanya. Kyuhyun mendesah lelah, berharap semua akan tetap normal dan baik-baik saja.
Manik hazelnya akhirnya perih karena menatap matahari. Kyuhyun memejamkan matanya ketika merasakan matanya perih dan memanas, kebiasaan lama yang tak dapat dia ubah. Menatap matahari memang menyakitkan, tapi setidaknya Kyuhyun berharap rasa sakit itu dapat mengalahkan rasa sakitnya yang lain. Yang mengoyak dan membuat hatinya berdarah. Kadang luka tak harus diobati tanpa berbekas, Kyuhyun lebih suka menutupi luka itu dengan luka lainnya. Karena dia terlalu terbiasa terluka. Terbiasa terluka tanpa terobati.
Ponselnya tiba-tiba bergetar, nama familiar tertera di sana.
"Aku segera kesana. Tunggulah sebentar lagi, hyung." Dalam deringan pertama, Kyuhyun menjawab dan menutupnya secepat dia berbicara. Namja manis itu segera meraih tasnya dan berlari keluar kelas. Suara seseorang tadi terdengar serak, dan itu bukan pertanda baik.
Dieratkannya scarf yang melilit rapat lehernya. Meski belum memasuki musim dingin, tapi udara hari ini tergolong dingin. Dan dingin adalah musuh terbaik yang bisa menumbangkannya.
.
.
.
Dari tengah lapangan, Siwon tertawa keras ketika berhasil membobol ring. Diteguknya air dari botol yang disodorkan Changmin sebelum menyiram kepalanya dengan sisa air itu. Mereka semua tertawa. Mendapat anggota dengan skill sebagus Siwon adalah keberuntungan besar bagi club basket SM high School. Jelas saja Siwon langsung mendapat posisi inti, meski tidak bisa menduduki posisi kapten karena jenjang kelasnya. Permainannya ringan, hebat, dan menakjubkan dengan berbagai teknik yang mengagumkan.
"Wow! Permainanmu ganas, Siwon. Look! Bahkan Taeyang menyerah!" Changmin kembali terbahak, mengejek Taeyang yang berbaring di tengah lapangan dengan nafas terengah. Kapten dengan gaya aneh itu mendelik seram. Dan Changmin semakin terkekeh keras bersama anggota lainnya.
Siwon hanya mengulum senyum sebelum beranjak ke luar lapangan. Masih dengan seragam basketnya, dia terhenti dan menatap heran seorang namja yang berlari menuju belokan ke gerbang depan. Dia ingat wajah manis itu. Sayang, namja itu terlalu sombong untuk sekedar mengatakan namanya. Siwon penasaran. Tapi dalam waktu singkat namja itu dapat membuatnya teraduk dan kesal. Dia menyukai tantangan, namun benci dipermainkan. Namja galak itu menarik, itu tantangan.
Name tag? Sepertinya dia lupa memakainya.
Bibir Siwon perlahan mengukir seringai. Dengan langkah yang memberat dia kembali berjalan. Dan kembali terhenti ketika melihat sebuah lempengan plastik tepat di depan sepatunya. Penasaran, Siwon memungut benda itu.
Seringainya melebar, dengan bibir nyaris robek. Hohoho… Siwon tahu, dewi Fortuna memang ahjumma yang menyayanginya.
Mata hazel dalam foto itu menatapnya, membuat Siwon terkekeh gila.
Kartu Siswa. Dengan nama Jung Kyuhyun.
.
.
.
.
Kyuhyun masih berlari menuju halte dengan wajah memucat kelelahan. Tapi ketika sampai di depan sebuah toko roti, orang-orang di sisi jalan itu terdengar ribut dengan wanita yang menjerit-jerit. Refleks Kyuhyun menoleh penasaran. Diruas jalan yang besar itu, terdapat seorang anak kecil yang berjongkok dengan menutup telinga di tengahnya. Jalan itu lumayan ramai, dan anak itu menangis ketakutan.
Persis seperti dirinya dulu.
Dengan gusar Kyuhyun membuang tasnya dan berlari menuju anak itu. Kyuhyun benci ketika mereka hanya bisa berteriak tanpa mencoba menyelamatkan. Secepat mungkin Kyuhyun mencoba meraih anak itu dalam gendongannya. Lumayan susah karena tubuhnya agak lemas.
Dan benar saja, ketika kepala mungil itu bersembunyi pada ceruk lehernya, isakan pelan terdengar. Kyuhyun mendecih panik ketika begitu banyak klakson nyaring yang terdengar. Lengkap dengan jeritan yang semakin keras. Apa mereka pikir ini pertunjukan dengan matador hebat?
Kyuhyun mencoba mencari celah, beruntung tubuh rampingnya membuatnya mudah menghindari mobil-mobil yang nyaris melindasnya. Dia heran, mengapa tidak satu pun kendaraan yang mengerem ketika ada anak kecil yang mungkin menjadi korban tabrakan? Rasanya dunia memang sudah kehilangan hati.
Ketika akhirnya hanya di butuhkan satu langkah panjang menuju trotoar, sebuah mobil audi hitam melaju kearahnya. Mencoba peruntungan, Kyuhyun nekat memutar dan melemparkan tubuhnya ke bahu jalan. Rasanya sakit, seperti dugaannya. Namun wajah manis itu tampak lega ketika melihat anak itu baik-baik saja dalam dekapannya meski dengan tubuh yang bergetar.
Tiba-tiba seorang Yeoja setengah baya segera datang menghampiri Kyuhyun yang berusaha bangkit. Yeoja itu segera meraih tubuh dalam pelukan Kyuhyun dan mengecupinya berulang kali. Air mata tampak mengaliri pipinya.
"Jino-ya? Gwenchana, chagi? Apa ada yang sakit, sayang?!" Tanya yeoja itu dengan suara sengau, jelas sekali dia khawatir. Anak itu –Jino- masih sesenggukan dan bergetar ketakutan.
"Ssssh… Tenanglah, chagi. Jangan menangis, ne? Kau aman. Eomma di sini, chagi. Eomma di sini." Tangan yeoja itu mengelus punggung Jino. Dan Kyuhyun masih terpaku bahkan ketika Yeoja itu berlutut dan mengucapkan begitu banyak terima kasih. Pandangannya kosong.
Dahi Yerin mengerut melihat namja dengan kening robek itu sama sekali tidak meresponnya. Dia hanya ingin berterima kasih telah menyelamatkan anaknya.
"Haksaeng, gwenchanayo?" Tanya Yerin itu khawatir. Apa namja itu mendapat luka dalam hingga tak bisa meresponnya? Dan Kyuhyun masih terduduk diam di tempatnya. Jino mulai berhenti terisak, tubuh kecilnya mulai keluar dari pelukan Yerin dan berjalan mendekati Kyuhyun.
"hyung?" Dan Kyuhyun menatapnya. Jino tidak mengerti kenapa, tapi dia sedih melihat tatapan itu.
"Kau beruntung. Jangan takut dan menangis." Hanya sepatah kalimat itu sebelum Kyuhyun bangkit. Hazelnya sekedip menatap Yerin. Bibir pinknya menarik tersenyum samar. Segera Kyuhyun kembali berlari setelah menyambar tasnya. Meninggalkan Jino yang terpaku menatap kepergiannya.
"Hyung itu…-"
"..kenapa menangis?"
.
.
.
Kyuhyun tak pernah tahu bagaimana rasanya ketika eommanya menghawatirkannya. Dia tak pernah mengalaminya. Jino beruntung. Dia bahkan tak terluka, tapi ibunya malah menangis khawatir. Kyuhyun iri. Kyuhyun pernah mengalami yang lebih buruk. Dia pernah pulang dengan peluru dalam tubuhnya, dia pernah pulang dengan wajah pucat sebelum akhirnya tumbang, dia pernah pulang dengan begitu banyak luka sayatan. Tapi ibunya tak pernah peduli, tak pernah mengecupinya, tak pernah menangisinya. Yang lebih membuatnya terluka, eommanyalah yang selalu memaksanya melakukan itu semua.
Karena dia tahu, eommanya tak akan pernah peduli. Tidak akan bahkan jika Kyuhyun mati.
.
.
.
.
.
.
"Hyung?! Kau di dalam?!" Kyuhyun berteriak dari genkan. Apartemen itu gelap, tanpa cahaya sedikit pun. Kyuhyun mencoba tenang dan melangkah menebak-nebak. "Hyung! Ini aku. Jawab Kyu, hyung!"
Sebuah jeritan menjawab seruan Kyuhyun bersamaan dengan suara benda pecah. Kyuhyun semakin panik. Kakinya terus melangkah cepat, tak peduli begitu banyak barang yang ditabraknya dan pasti akan meninggalkan memar. Semakin mendekat menuju dapur, teriakan itu terdengar keras. Kyuhyun ingat ada sebuah saklar lampu di sisi pantry.
"Tenang, Hyung! Aku di sini. Kau tidak sendirian. Kyu di sini.." Ucap Kyuhyun dan berusaha mencari saklar dengan panik. Kembali terdengar suara barang pecah yang Kyuhyun yakini sebagai piring atau gelas.
Klik. Lampu menyala. Menerangi sosok Donghae yang bersandar pada sisi kanan pantry sambil menarik-narik rambutnya. Sontak Kyuhyun segera mendekat dan menarik tangan Donghae untuk berhenti menyakiti kepalanya. Tapi Donghae terus menjerit dan menangis.
"Do-donghwa.. kaukah itu, ssa-eng?"
"Dongsaeng? J-jawab hyung, chagi.." Donghae mulai kembali terisak, dan mata Kyuhyun sontak memanas. Direngkuhnya tubuh yang lebih besar darinya itu dan mulai mengelus punggung Donghae.
"Ne.. Ini aku, Hyung. Aku di sini.." bisik Kyuhyun lebih pelan. Donghae berhenti terisak histeris, dia mendongkak menatap wajah Kyuhyun. Berusaha menangkup pipi tirus itu lembut.
"Ssaeng… K-keningmu kenapa? Kenapa ka-kau terluka?" Tanyanya dengan suara retak. Tangan Donghae menyentuh sedikit darah yang mengalir pada pipi pucat Kyuhyun. Dan wajah cantik itu mengukir senyum. Tapi tiba-tiba tangan Donghae seketika terhenti mengusap darah Kyuhyun ketika melihat namja manis itu tersenyum. Tawanya pecah dengan tangan yang masih menempel pada pipi Kyuhyun. Donghae tertawa seperti orang kesetanan, keras dengan bahu berguncang. Kyuhyun diam kebingungan.
PLAAK! Satu tamparan tiba-tiba itu membuat Kyuhyun terhuyung ke samping. Donghae semakin memperkeras tawanya.
"Heh! Kau sudah datang ya. Selamat datang, Cho Kyuhyun. Selamat datang…" Ujar Donghae sebelum kembali tertawa. Matanya berkilat marah menatap Kyuhyun yang setengah terbaring, bibirnya menyeringai dan kembali mengelus pipi yang kini memerah itu.
Donghae yang rapuh berbalik bagai cermin dengan sisinya yang selalu bertolak belakang. Sosok rapuh itu menghilang, menghidupkan kembali iblis yang begitu Kyuhyun takuti. Mata dengan seringai jahat. Itu sudah menjadi sesuatu yang terlalu biasa bagi Kyuhyun.
Sebuah tamparan kembali menghantam pipi Kyuhyun. Menjadi awal dari segalanya…
.
.
.
.
.
Braaak!
Tubuh Kyuhyun kembali terlempar ringan menubruk lemari. Sosok cantik itu tampak mengenaskan. Darah mengotori begitu banyak bagian seragam putihnya yang nyaris lepas. Donghae mendekat masih dengan wajah menyeramkan. Datar dengan seringai sinis.
"Cho Kyuhyun… kenapa kau lama sekali, hm?" satu langkah…
"Tak taukah kau aku menunggumu lamaaa sekali?" Dua langkah…
"Terima hadiahmu, saeng…" Dan dengan senyuman kejam di depan tubuh Kyuhyun yang terengah, kakinya melayang dan menendang pertengahan dada Kyuhyun. Saat itu pula Kyuhyun tercekat dan terbatuk. Itu sangat sakit. Tapi hazel itu sama sekali tidak menitikkan air mata.
"Ouuh… lihatlah keningmu. Kau terluka hm? Biar hyung obati ne?" Ujar Donghae dengan nada sing a song, tangan kekarnya menarik leher Kyuhyun berdiri, menariknya mendekat hingga dia bisa menatap hazel yang memandangnya kehilangan fokus. Nafas Kyuhyun putus-putus. Nyaris sekarat.
Dengan sebuah senyum menenangkan, Donghae membenturkan kepala Kyuhyun pada dinding ruang tengah itu. Kyuhyun meringis, terlalu lelah untuk menjerit. Tangan Donghae terus membenturkan kepalanya pada dinding cream yang mulai berubah memerah. Darah Kyuhyun menempel di sana, dan Donghae mendecih benci melihat dinding apartemennya ternoda.
"Ck! Shiit! Kau menodai dindingku, bodoh!" Dengan geram Donghae melepas tangannya dan menendang kaki Kyuhyun hingga tubuh lemah itu jatuh membentur lantai, terbaring membelakanginya.
Kaki Donghae yang berbalut pantofel hitam beralih kembali menendang punggung Kyuhyun dengan semangat. Seringai tak pernah lepas dari bibir tipisnya. Dia senang melihat Kyuhyun terluka. Senang melihat Kyuhyun menderita. Kakinya makin beringas menendang punggung rapuh Kyuhyun. Tak peduli meski namja manis itu terbatuk dan berada pada batas kesadarannya.
"Belum mau menyerah, eoh? Jika kau tidak keras kepala, semua akan baik-baik saja, idiot!" Satu tendangan keras kembali Donghae lakukan ketika Kyuhyun tidak menjawab. Tubuh rapuh itu hanya menegang menggeliat dengan tangannya yang beralih menyentuh dada, meremasnya seakan berharap dia masih dapat menghirup udara. Donghae tahu, Kyuhyun kesakitan. Dan dia suka itu.
"Uhuk! Uhukk… Ugh.. Hoek!" Dari belahan bibir pucatnya, namja 16 tahun itu memuntahkan darah. Cairan merah itu membercak pada lantai keramik apartemen Donghae. Dia yakin, organ dalamnya mengalami luka hingga terjadi pendarahan. Hazelnya mengosong seiring kelopaknya yang menutup. Kyuhyun pingsan, tak tahan dengan segala rasa sakitnya. Tubuhnya kalah. Dengan semua suara yang mulai memudar.
Hanya gelap. Dan Kyuhyun tak ingin berharap menemukan penerang.
*TuBerCulosis*
Udah selese muntahnya? Moga udah ya. Simple aja sih, semua nasib ff ini tergantung review reader…^^. Mohon hargai kerja keras Lyra. Kritik, saran, ato bahkan flame juga gpp. Walopun ini salahsatu ff yg Lyra idam-idamkan tapi semua hak tetep ada sama reader.
Ehehe, soalnya Lyra punya kebiasaan nulis kalo review udah Lyra anggep cukup. Sejenis bahan bakar lah…XD
Lastly, review ya…#Bow
Balasan Review:
ChaChaElf: Gumawo udah review…^^ Ini udah dilanjut. Moga suka ya...#Bow
Meotmeot: Ehehehe, mungkin. Lyra juga nulisnya ngasal banget. Hohoho, sebenernya ff ini Cuma iseng waktu Lyra liat foto Kyu Mamacita. Gumawo udah review…^^
FiWonKyu0201: Ne. Ini WonKyu kok. Haram bagi Lyra buat bikin WonKyu kepisah. Gak bakalan dah! Mereka kan soulmate. Khekhekhe… ini udah Lyra udah lanjut. Moga suka ya ^^. Gumawo…#Bow
IntaniaDS: Hohoho... berarti kita sodaraan XD. Lyra juga suka banget Kyu tersiksa fisik batin #dibakar. Nanti bagi-bagi ya kalo nemu ff Kyu disiksa ne? Lyra tunggu. Ini udah Lyra lanjut. Moga suka^^. Tapi mungkin chap awal Lyra belum terlalu munculin crimenya. Gumawo…#Bow
Guest: Ini udah lanjut…^^ Jeongmal Gumawo udah review, chingu. Moga suka #Bow.
Yunacho 90: Ini udaaah lanjut. Yup. Seribu buat chingu. Ini WonKyu, Lyra udah dipaku sama pair ini. Jadi gak bisa misahin mereka. Hohoho. Gumawo udah review, moga suka ya…^^
Citra546: Ouh, akhirnya ada yang mau manggil Lyra halmeoni. Hikks, gumawo. Lyra terharu…(':
Ini udah Lyra lanjut buat cucuku tersayang #Disepak. Hehehe, Gumawo udah review. Moga suka ya…^^
Desviana407: Gumawooo…^^ Disiksa? Udah pasti. Fisik: Bakalan sering. Batin? Harga mati! Dibunuh? Peti udah siap #Plak! Hohoho, Lyra seneng banget buat nyiksa Kyu. Dianya nakal sih. Gumawo reviewnya, moga suka ya…
Kim Nayeon: Ya, Lyra juga berharap alur ceritanya bakalan bagus. Doain aja ya, Lyra masih belajar soalnya^^. Mianhe Lyra baru sempet update, Lyra sempet down -_-. Gumawo udah review, moga suka ya…#bow
Namezyzy.za: Ah, Lyra juga suka reviewnya. Gumawoo…^^ Lyra setuju! Entah kutukan apa, Lyra emang Cuma bisa klop sama ff Kyu. Apalagi kalo tersiksa. Malangnyaa… Hohoho #DibantaiXD. Eum, tolong jangan panggil Lyra Thor, ne? Rasanya aneh XD. Moga suka chap 1nya ya…#bow.
Kyouna: Salam kenal juga, Kyu Eonni ^^. Ini udah Lyra lanjut, mianhe lama banget. Gumawo reviewnya, moga suka ya…#bow
Puput257: Jeongmal? Gumawoo…:3 Ini udah lanjut, moga suka ya…^^
Jihyunelf: Yup. Lyra pernah menjejak di satu masa di mana Cho Kyuhyun adalah hama-musuh yang patut dimusnahkan. Tapi yeah, wajah malaikatnya akhirnya bikin orang jahat ini bertekuk lutut. Karma yang menyakitkan, hikss…
Jeongmal? Padahal Lyra gak pede bgt naruh genre crime (-_- )a. Hohoho, WonKyu emang patut dicintai XD! Hidup Wonkyu! Gumawo reviewnya, moga suka ya…#DeepBow
