Hai, Lyra balik lagi. FF ini bs updet jg berkat review reader sekalian. Jeongmal Gumawo bagi reader yg mau menghargai usaha Lyra, hiks #TerharuT_T.
Iya, Lyra tau ff ini udah jamuran, lumutan, karatan, dan uda pantas mati. Silakan bunuh Lyra. Buat menambah feel, reader yg gk keberatan bs baca dr chap sebelumnya. Kedepannya Lyra usahain lebih cepat.
Ah ya, udah banyak banget yang Lyra laluin sejak terakhir updet. Pertama, Lyra baru aja pulang dari kegiatan d Jkrt looh, ada reader yg tinggal di sana?
Second, ff ini udah satu taun, karena sekarang Lyra udah umur 14 taun. Yeay! Ada yang mau ngasih ucapan? #Digorok. Becanda…
Ada reader yg req minta The One (ChanBaek ver), sahabat Lyra yg mnggilai EXO juga gitu. Tapi rada susah juga, gimana mau bikin ff, muka mereka aja ga kenal. Jadi, buat reader yg fans EXO, bisa bantu Lyra? Yaah, Lyra Cuma pengen tau apa aja ciri khas mereka, buat kepentingan cerita. So, siapa yang setuju?
Udah ah bacotnya, Lyra emang cerewet.
.
.
.
Wajib baca: Selain krn mencintai Wonkyu, alasan utama Lyra gabung FFn adalah buat ngasah bakat. Jadi jika boleh, tolong beri masukan pada gaya penulisan Lyra. Balasan review di bawah.
WARNING: GaJe, bahasa gak tentu, ngebosenin, alur aneh. BL, Typo, feel gagal. Cat, kalo baca, tolong bayangin setiap potong adegan ya? Siip.
…
Title: The One
Author: Lyra FB: L Frolight
Cast : Kyuhyun, Jonghyun, Siwon, and other.
Genre : Tentuin sendiri ya..
Disclaimer : SuJu milik SMent, membernya punya Tuhan. BabyKyu punya Lyra seorang #Plak!
Rate : T-M
Enjoy the story…
Bulu mata lentik itu bergerak perlahan sebelum terbuka. Hanya langit-langit putih yang ditangkap hazel itu. Tatapannya kosong, mencoba menyatukan kepingan-kepingan kejadian yang terberai. Kyuhyun mendesah pelan sebelum kembali memejamkan matanya lelah.
Ini sudah pagi, benang-benang cahaya yang mengintip dari balik jendela itu cukup untuk memberitahunya. Malam kemarin terasa sangat jauh bagi Kyuhyun, tapi rasa sakit yang kini dirasakan tubuhnya tidak bisa berbohong. Terasa perih, itu pasti. Dalam 2 menit, tubuh ringkih itu tetap berbaring menatap matahari.
Kyuhyun beralih menelusuri sejenak tubuhnya sebelum perlahan bangkit duduk.
"Ahk…" ringisnya pelan ketika perut dan bagian dada kanannya terasa seperti ditusuk. Memar dan luka goresan tampak di sana, menyatu dengan bekas berdarah lainnya. Tubuhnya kini sudah bersih dengan perban pada bahu kiri. Kyuhyun ingat, bahunya memang robek lebih parah kemarin, atau bahkan bergeser. Ketika ia mencoba meraih segelas air di meja nakas, tiba-tiba sebuah handuk basah jatuh tepat di atas lengan kurusnya. Ah, Kyuhyun bahkan baru sadar tubuhnya ternyata sedikit demam.
.
Ceklek~
"Kau sudah bangun, eoh?" Donghae bertanya seraya melangkah menuju ranjang. Ditangannya terdapat nampan dengan sekeping roti dan segelas susu. Tipikal simple-fast breakfast.
"Aku akan sekolah, Hyung. Di mana bajuku?" Kyuhyun bertanya pelan dan serak, hazelnya menatap Donghae dengan tangan saling menumpuk, mencoba memahami tatapan Donghae.
Donghae hanya terus berjalan mendekat dan meletakkan nampan di atas nakas sebelum duduk di tepi ranjang. "Eunhyuk bilang kau dehidrasi dan agak demam. Wajahmu pucat. Lebih baik tidur dan istirahat saja."
Kyuhyun mendesah. Meski nada datar yang keluar dari bibir Donghae, namja itu jelas tak ingin dibantah.
"Ne. Kyu akan tidur."
Donghae tersenyum samar, bangkit dan memperbaiki selimut Kyuhyun. "Sarapanlah dulu. Hyung sudah terlambat bekerja. Jika kau lapar, panaskan saja makanan di dalam Kulkas. Jangan lupa minum obatmu. Biru dua butir, dan putih sebutir. Bajumu sedang Hyung cuci, mungkin kau butuh seragam baru, eum… seragammu agak rusak. Dan jangan meninggalkan tempat tidur. Kau harus istirahat." Donghae berpesan panjang lebar, dan Kyuhyun hanya dapat tersenyum tipis dengan bibir robeknya. Hyungnya ini… bahkan dapat bersikap seakan semua memang baik-baik saja. Ah~ andai Kyuhyun dapat memakai topeng sebaik itu.
Ketika akhirnya tubuh Donghae menghilang di balik pintu, Kyuhyun meraih susunya dan meminumnya setengah. Diliriknya 2 keping roti yang disiapkan Donghae sebelum meraihnya dan bangkit berdiri. Kakinya yang berbalut piama melangkah tertatih menuju toilet.
"Uhk…" Kyuhyun meringis, tapi ekspresinya tetap tanpa warna, hanya jemari lentiknya yang beralih mencengkram kuat bagian perut. Butuh 3 menit bagi Kyuhyun mencapai depan closet dengan langkah terhuyung itu. Dibukanya tutup closet dan melemparkan roti itu kedalamnya dalam satu gerakan. Terdengar bunyi gemericik air dari dalam closet, Kyuhyun dapat melihat jelas bagaimana roti itu ditelan air dan lenyap. Wajah manis itu mengukir senyum dingin. Dia lapar, tapi bagaimana cara menelan makanan itu ketika bahkan untuk bernafas saja terasa sekarat?
.
"Bummie hyung, ini sakit…"
.
.
.
.
Yoona mendesah untuk kesekian kalinya, matanya yang berbalut soft lens biru melirik surat yang dipegang Kangin nelangsa. Diraihnya kertas itu dan kembali membacanya, lalu kembali mengerang sengsara seakan dia adalah orang paling malang segalaksi Andromeda.
"Kyunnie sakit apa? Bukannya kemarin dia masih bisa menolak Yuri? Kelihatannya dia sehat. Bibirnya masih semerah cherry kemarin~" Yoona menjatuhkan kepalanya ke atas meja.
"Rasanya dunia ini sepi tanpa malaikat itu…"
"Yaah, meskipun dia beku, tapi hanya dia yang bisa menghangatkan duniaku. Ah~ Kyunnieee…" racaunya separuh gila.
"Siapa yang mengantar surat ini?" Kangin berusaha tetap waras meski duduk kurang dari 2 meter dengan yeoja sinting itu.
"Euum, seorang namja muda yang tampan. Ah~ wajahnya tampan sekali. Apa mungkin dia namjachingu Kyunnie ya? Ih, tapi masa sih? Bukannya baby masih milik Jonghyun? Tapi kalau memang begitu aku tak keberatan bla-bla-bla…"
Kangin mendesah ketika Yoona malah heboh dengan asumsi gilanya. "Berhenti bertingkah gila dengan jiwa fujoshimu yang juga gila. Kuulangi, siapa yang mengantar ini? Hyungn-…"
"YAK! Berapa kali kukatakan jiwa fujoshi itu anugrah! Kau saja yang pabo!" Seru Yoona sewot, untung saja di kelas hanya terdapat mereka berdua karena ini masih terlalu pagi untuk ke sekolah. Kangin yang berstatus ketua kelas jelas saja harus mengecek jadwal dan guru, sedangkan Yoona? Ah, sebagai ketua club fujoshi yang bertanggung jawab, dia memiliki kebiasaan untuk mengambil foto Kyuhyun yang sering duduk di taman saat sekolah masih sepi. Selain konsumsi pribadi, bisa juga sebagai sumber penghasilan.
Membayangkan wajah manis dengan mata terpejam damai itu saja sudah dapat membuatnya melayang. Ah~ Kyuhyun memang tak bisa membuatnya berhenti terpesona.
"Yoona, senyummu mengerikan. Ingat, 5 detik yang lalu kau adalah nenek lampir." Cicit Kangin merinding melihat senyum Yoona yang nyaris membelah wajah.
"YAK! Apa kau bilang?!"
.
.
.
.
"Bagaimana? Kau kenal dia?"
Jonghyun menatap datar wajah dalam kartu itu 5 detik. "Tidak. Aku tidak mengenalnya."
Siwon mendesah putus asa. "Kau yakin?" Satu anggukan Jonghyun makin mengikis harapannya.
"Apa kau tak tahu dia kelas berapa?"
"Apa aku harus mengenal siswa dari 39 kelas? Lagipula wajah dalam foto almamater ini tidak terlalu jelas."
Tak patah semangat, Siwon kembali bertanya semangat. "Hazel! Matanya berwarna coklat hazel! Wajahnya cantik, ah ani, sangat cantik! Rambutnya coklat, kulitnya putih pucat, tubuhnya ramping dengan bahu kecil, dia setinggi dag…"
"Banyak orang dengan ciri-ciri seperti itu Siwon." Potong Jonghyun gugup.
"Ani! Hanya dia yang seperti itu sepanjang aku hidup! Aku yakin!"
"Terserah! Cepat habiskan sarapanmu! Kita akan terlambat." Jonghyun bangkit berdiri dan meraih tasnya. Tapi Siwon diam, sia-sia dia datang pagi-pagi untuk menjemput Jonghyun dan bertanya mengenai namja itu. Jonghyun sama sekali tidak mengenalnya. Semangatnya terasa melayang seiring gelengan kepala Jonghyun.
"Hhh, baiklah. Kau yang mengemudi. Aku tiba-tiba merasa malas."
.
Siwon hanya tidak tahu, 4 meter dari punggungnya, Jonghyun menghela nafas lega.
.
.
.
.
Hyukjae berjalan cepat memasuki ruang tamu. Wajahnya mengeras cemas, jari-jari panjangnya mencengkram kuat anak kunci rumah itu.
Hanya butuh kurang dari semenit untuk menaiki tangga dengan berlari. Namja manis itu kini berdiri di depan sebuah pintu kamar berpernis yang berada tepat di sisi tangga.
Ceklek~
"Kyuhyun?" Eunhyuk mengitari kamar yang kosong itu dengan bingung. Baru saja namja itu akan mencari ke dapur ketika matanya menangkap pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Samar-samar terdengar suara air dari dalam. 'mungkin di sana.'
"Kyu? Kau di dalam?"
"Hgghh.."
"Euggh… H-hyung, hoeek! Hhhh uhuk!" Mendengar erangan Kyuhyun, Eunhyuk segera masuk dan mendapati Kyuhyun yang terduduk dengan kepala menunduk di closet –muntah-.
Dengan panik Eunhyuk segera berlutut dan mengusap punggung Kyuhyun. Hal ini sudah dia perkirakan mengingat semalam Kyuhyun menemani Donghae meneguk obat penenang dosis tinggi yang justru dipaksa Donghae untuk diminumnya. Jelas saja tubuhnya drop dan menolak, Kyuhyun terlahir dengan tubuh yang sensitive dengan berbagai hal, termasuk obat-obatan. Apalagi dengan dosis setinggi itu saat bahkan dia belum menginjak 17 tahun. Donghae memang psycho.
"Muntahkan, Kyu. Tenanglah, atur nafasmu…" Eunhyuk mencoba menenangkan meski jantungnya bahkan nyaris meledak panik. Meski dia pernah menyaksikan Kyuhyun dalam keadaan jauh lebih buruk, tapi Eunhyuk tetap tidak terbiasa. Entah apa yang membuat Kyuhyun tahan untuk selalu mendatangi Donghae tepat sepulang sekolah setiap harinya dan tak jarang berakhir terluka. Eunhyuk tak pernah tahu. Kyuhyun terlalu tertutup bahkan untuk membagi masa lalu dan identitasnya. Nyaris 4 tahun menangani Kyuhyun, Eunhyuk tetap menjadi seseorang yang tidak tahu apa-apa.
Dia sudah menganggap Kyuhyun sebagai dongsaeng dengan rasa sayangnya yang terus memupuk. Tapi hati dalam tubuh rapuh itu tampak mati. Beku dan terluka.
.
"Neo Gwenchana? Sudah merasa baikan?" Tanya Eunhyuk pelan, namja itu sudah ikut berlutut dan membiarkan Kyuhyun bersandar di bahunya dengan nafas terengah.
"Umh…" anggukan samar Kyuhyun jelas tak dapat dipercaya.
"Apa kepalamu sakit? Perutmu keram, Kyu? Jawab hyung, berapa butir yang kau telan?"
Kyuhyun mencoba mengatur nafasnya yang kacau, mencengram kemeja Eunhyuk sebagai pegangan. Entah mengapa, semua sudut berputar dan memutih dalam penglihatannya. Dia merasa melayang.
"K-kemarin hanya 4 butir."
" MWO?! Kau gila?! Berapa kali kukatakan, jika Donghae berulah lagi, jangan mendekat! Cukup hubungi aku. Dia bisa menyakitimu, Kyu! Dia menyakitimu! Berapa kali harus kukatakan, hah?!" Eunhyuk memekik, setengah cemas, separuh marah. Dia memang tidak tahu apapun, tapi setidaknya dia cukup waras untuk mengerti bahwa Donghae berbahaya. Suatu keajaiban dongsaeng bodohnya ini masih dapat menarik nafas dengan hidup bertahun bersama psycho mengerikan itu. Donghae gila, dan Kyuhyun lebih gila untuk bertahan di sisinya.
Andai dia tahu, semuanya tidak sesederhana itu.
.
"Kyu, jebal… pergilah bersamaku, aku akan membawamu pergi, kau akan aman, Kyu. Aku akan menjagamu…" nada suaranya melembut, berharap Kyuhyun mau lepas dari Donghae.
"H-hyung… nafasku berat. Aku mengantuk."
Eunhyuk mendesah kasar, sudah berkali-kali dia membahas ini, dan untuk kesekian kalinya pun Kyuhyun mengelak. "Itu dosis tinggi, Kyu. Harusnya kau masih tertidur dan hipotensi untuk 3 hari. Itu berbahaya, Kyu. Ingat kesehatanmu. Kumohon…"
"Umh, hyung… aku ingin tidur hh…"
Menyerah, rasa iba membuatnya tak tahan. "Ne Kyu, tidurlah. Hyung menyayangimu." Eunhyuk mengecup sayang kening Kyuhyun dengan mata berembun. Tangannya beralih menangkup tubuh kurus itu dalam gendongannya dengan hati-hati.
"Mianhe, hyung." Bisik Kyuhyun sebelum menutup mata.
Dalam gelap, di garis batas sadar, Kyuhyun kembali teringat ajakan Eunhyuk tadi, untuk pergi dan aman. Dia ingin, sangat ingin lari, tapi terlalu lelah untuk percaya. Dia sudah pernah mengalaminya, mencoba berharap ketika Yunho membawanya pergi. Tapi apa? Dunia baru yang dijejakinya semakin terasa seperti benang kusut, dengan ujungnya yang menggulung tak terlihat. Dia bertemu semuanya, yang lebih buruk bahkan dari sengatan mesiu. Tapi kemana? Semua tampak sama. Akhirnya, hati rapuh itu mencoba berdamai. Berusaha mempertahankan kepingannya yang tersisa. Berdamai dengan keadaan yang membunuhnya. Mencoba menganggap semuanya normal dan baik-baik saja. Menerimanya sebagai seorang Cho Kyuhyun yang dibenci kebahagiaan.
.
'Pergi kemana? Tempatku di sini, selalu di sini. Dengan gelap yang mengajarkanku terbiasa.'
.
.
.
.
Sudah dua hari Kyuhyun terkurung di rumah Donghae. Berpuluh-puluh pesan dan telepon dari Yunho dijawabnya dengan kebohongan. Dia harap Yunho percaya saat ini Kyuhyun sedang menginap di rumah teman. Teman? Dalam mimpi pun Kyuhyun tidak memiliki mereka.
Jam di dinding menunjukan pukul 5 sore ketika Kyuhyun meliriknya. Masih cerah, dan Kyuhyun tergiur untuk keluar dari kurungan ini. Donghae belum pulang, dia memiliki pertemuan di luar kota hingga lusa. Ini kesempatan. Tiba-tiba Kyuhyun ingin pergi ke suatu tempat. Sudah lama dia tidak ke sana. Mencoba memantapkan hati, Kyuhyun perlahan menjulurkan kakinya keluar selimut. Bibirnya yang memucat sedikit meringis ketika telapaknya akhirnya menempel di permukaan marmer yang beku. Dengan hati-hati Kyuhyun berjalan menuju kamar mandi. Meskipun masih lemas, setidaknya dalam penglihatannya semua barang sudah tidak membayang.
Hanya butuh 20 menit bagi Kyuhyun hingga berdiri di depan cermin dengan hoodie putih longgar yang membalut tubuhnya. Ini sudah memasuki musim gugur, udara mulai menghembuskan uap dingin. Lukanya memang masih basah, perban bahkan melilit tubuhnya. Tapi sisi baiknya, setidaknya perban di balik pakaiannya dapat membantu menghalau rasa dingin, bukan? Kyuhyun mencoba berpikir positif, Donghae masih di luar kota, terpisah beribu kilometer darinya. Lagipula, rasa rindu pada orang itu mulai menumpuk dalam hatinya.
Orang itu seperti penghangat hatinya yang nyaris membeku mati. Ketika bersamanya, Kyuhyun dapat merasakan sesuatu yang mungkin mereka sebut bahagia. Dia merasa bebas, merasa disayangi dan dilindungi. Walaupun beberapa kali karena menemui orang itu, Kyuhyun harus dihatui berbagai kemungkinan. Kyuhyun menyayanginya. Bukan karena suatu keperluan dan penebusan. Dia merasa memiliki dunia yang lain, ketika dia tidak perlu memikirkan apa-apa. Hanya sebuah ketulusan yang sederhana.
Mata hazelnya melirik jendela sejenak sebelum melangkah keluar. Semoga semua baik-baik saja…
.
.
.
Siwon terus berjalan di trotoar. Rasanya sudah sangat lama dia meninggalkan kota ini. 7 tahun, memang bukan waktu yang singkat. Banyak yang berubah di sini. Mulai dari letak tata kota hingga trotoar yang kini dipijaknya. Namja tampan itu baru saja pulang dari latihan basketnya, tapi tiba-tiba dia merasa merindukan sesuatu dan memutuskan berjalan kaki untuk pulang. Meskipun banyak yang berubah dari kota ini, tapi sensasinya tetap sama. Aromanya tetap sama. Tenang dan menenangkan. Seolah menarik lonceng ingatannya untuk berdenting manis. Membuat sebentuk senyum polos itu kembali melintas dalam benaknya. Siwon rindu kota ini, dan dia menyadari dia juga merindukan anak yang mengekori memorinya 7 tahun yang lalu.
Kakinya yang berbalut sneakers mengetuk santai diantara pejalan kaki yang lumayan ramai. Onyxnya bergulir mencocokan bagian-bagian kota ini dengan puzzle ingatannya. Hingga matanya berhenti di sebuah toko roti diseberang jalan. Siwon sedikit terkesan, toko itu sama sekali tidak berubah bahkan setelah bertahun-tahun. Dia seperti masih berdiri di jalan yang sama, bersama orang yang sama dan memandang toko yang sama 7 tahun lalu. Rasanya mampir sebentar tidak masalah. Siwon hanya perlu menyebrang untuk sampai ke toko itu. Kakinya terus berjalan hingga berhenti di depan garis penyebrangan. Lampu penyebrangan baru saja berubah hijau, membuat kerumunan penyebrang beramai-ramai melewati zebra cross. Siwon baru saja akan melangkah menyatu dalam kerumunan sebelum sebuah tubuh menubruknya keras.
"Aaaah… ssh…" Orang itu meringis lirih dengan pipi menempel pada wajah Siwon. Dahi Siwon mengernyit, hingga akhirnya orang itu mendongkak menatapnya. Dan Siwon tahu jantungnya kehilangan ritme saat hazel itu memakunya. Pucat, dengan raut kesakitan yang jelas.
Mulut Kyuhyun terbuka canggung. "aa…. AAaaaah!" baru saja namja manis itu ingin meminta maaf kepada orang yang ditabraknya, tubuh kurusnya dengan mudah kembali terdorong arus manusia.
Sreeet!
Dengan cepat Siwon menarik tangan Kyuhyun dan mengukungnya dalam pelukan, sepertinya namja itu terbawa arus. Entah bagaimana ketika melihat wajah kesakitan itu, ada sudut dalam hatinya yang terasa perih dan ingin melindungi Kyuhyun. Siwon tidak bisa menahan wajah khawatirnya saat tangan Kyuhyun beralih memeluk protektif dada dan perutnya dengan raut yang semakin tersiksa. Tahu Kyuhyun akan semakin kesakitan jika lebih lama di sini, tangan kekarnya berusaha membuka jalan bagi dirinya dan Kyuhyun yang patuh dalam kungkungannya.
"Gwenchana? Sepertinya kau kesakitan."
Kyuhyun menurunkan tangannya sebelum berusaha menjawab dengan nada datar. "Aku salah jalan dan terdorong."
"Lalu apa kau tidak apa-apa? Tadi wajahmu sangat kesakitan. Kau terluka?"
"Tidak. Mereka terus menyikutku."
Dia diam. Dan Siwon semakin melebarkan senyumnya. Meskipun kembali menjawab dengan dingin, setidaknya sekarang Siwon tahu Kyuhyun bukan penderita SPD. Sore ini cerah, dan seoul memang selalu ramai. Siwon tidak heran lagi kenapa Kyuhyun dengan tubuh kurus itu bisa terdorong dan terbawa arus. Tapi dia juga tidak bisa menahan kikikan tawanya. Yang benar saja, Kyuhyun itu umur berapa? Terakhir kali dia terdorong saat menyebrang adalah ketika berusia 9 tahun, itupun hanya terbawa beberapa langkah.
"Sore yang indah. Ah, aku tidak melihatmu belakangan ini, kau kemana?" Tanya Siwon dengan mata melirik Kyuhyun yang kembali berwajah datar. Harus dia akui, bahkan dengan wajah datar itu, dia tetap cantik. Siwon tidak bisa tidak merasa senang, 2 hari yang lalu dia akhirnya berhasil mengetahui nama Kyuhyun, dan sekarang namja cantik itu berada dalam pelukannya, berbagi detak jantung yang senada.
Dia mengeratkan pelukannya pada pinggang Kyuhyun, melewatkan satu ringisan sakit saat luka basah itu terasa perih.
.
.
.
"Setidaknya ucapkan terima kasih!" Ketus Siwon kesal sambil berusaha mengejar langkah Kyuhyun yang cepat. Oh ayolah, namja itu kembali menyebalkan. Rasanya Siwon sedikit dendam dengan tingkahnya. Begitu sampai di seberang jalan, boneka hidup itu segera mendorong Siwon dan melangkah cepat. Harga diri seorang Choi Siwon yang terhormat tidak pernah seterluka ini. Semua orang memandangnya dengan pandangan menghakimi. Bespekulasi mungkin saja dia pemerkosa atau penguras yang marak belakangan ini.
"Yak!" Siwon tidak sadar suaranya meninggi saat mencekal tangan Kyuhyun.
"Ucapkan terima kasih!" ketusnya kemudian.
Kyuhyun membungkuk sebelum menggumam dengan suara pelan. "Kamsahambnida."
Siwon sedikit mematung, padahal dia awalnya cuma ingin mendekati Kyuhyun, tapi entah kenapa sekarang dia malah merasa bersalah.
.
.
.
Lampu di sayap jalan mulai memendarkan cahaya keemasannya ketika jam besar di sudut toko roti itu berdentang 6 kali. Kyuhyun dengan tangan pucatnya menerima bungkusan roti yang sudah dibayarnya tadi. Biasanya orang itu selalu menantikan roti dari bakery ini. Dengan krim mocanya yang khas, pahit dan manis dalam satu waktu. Ini mengingatkanku padamu, adalah kalimat yang selalu wajah letih itu ucapkan dengan senyum tulus. Kyuhyun bahkan mengingatnya di luar kepala. Hanya dengan membayangkan wajah itu, bibirnya akan selalu tertarik naik. Memunculkan senyum yang langka di tatap dunia.
"Mampirlah lagi." Ucapan ramah pelayan toko itu hanya Kyuhyun balas dengan senyum tipis.
Pelayan itu terpaku sejenak. "Dia siapa? Cantik sekali."
Kakinya yang berbalut boots pendek melangkah menapak troatoar tepat setelah bel kecil yang menggantung di pintu toko berbunyi. Dengan senyum mengembang Kyuhyun berjalan menuju halte di persimpangan, dengan Siwon yang melangkah terburu 5 meter di balik punggungnya.
.
.
.
"Fuuuh… sshh…" Untuk kesekian kalinya Kyuhyun meniupkan uap panas di tangannya, meskipun masih musim semi, tapi udara yang memeluknya membuatnya menggigil. Semua orang juga tahu betapa Kyuhyun membenci dingin, dia bahkan pernah pingsan dengan wajah sepucat kertas ketika mengikuti festival musim dingin. Saat menarik nafas, maka uap dingin akan terasa memenuhi setiap sudut di paru-parunya hingga membuat Kyuhyun sesak. Itu sakit, rasa yang selalu mengingatkannya pada luka dalam memorinya. Seperti penanda, dan Kyuhyun benci itu.
"Akhirnya sampai juga." Mata Kyuhyun membola ketika tiba-tiba saja Siwon berjongkok di depannya.
"Kau kedinginan." Dia bicara lagi. Tapi Kyuhyun tetap diam dengan pandangan datar.
"Terserah kalau kau mau marah." Ucap Siwon ketus sambil menarik tengkuk Kyuhyun mendekat. Dari jarak sekecil ini, Siwon dapat melihat iris hazel yang menatapnya membesar, dan itu semakin membuatnya terpesona. Sebelum Kyuhyun bangkit, dengan segera Siwon melilitkan syalnya di leher pucat itu. Siwon sedikit terkejut ketika tangannya menyentuh pipi Kyuhyun yang sebeku es. Apa sedingin itu?
"Marah saja, tapi jangan menolak."
"Jja. Jangan berani melepasnya atau aku akan mengatakan pada semua orang bahwa kau remaja SPD yang menyusahkan." Siwon berbisik jahil pada Kyuhyun yang masih membungkuk. Membuat beberapa orang di halte itu memekik tertahan.
"Aigoo… mereka manis sekali."
"Dia tampan dan perhatian."
"Coba lihat dia, wajahnya seperti boneka. Astaga, dia cantik sekali."
Seakan tidak terjadi apa-apa, Siwon segera bangkit dan berlalu pergi, meninggalkan Kyuhyun yang masih menunduk. Menyembunyikan matanya yang kini terpaku pada sebuah foto kecil usang.
'Bahkan Siwon juga bilang begitu. Hyung, kenapa kau selalu benar?'
.
.
.
Di depan jendela besar rumah sakit itu, seorang yeoja paruh baya duduk diam di atas kursi rodanya. Matanya yang jernih menatap kosong kota raksasa di balik keca jendelanya yang berembun. Sudah sangat lama dia tidak merasakan ramainya dunia luar. Raganya terkurung di sini, di tempat di mana dia berusaha menyembuhkan semua luka. Itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Tapi semuanya masih segar di memorinya seolah baru saja terjadi kemarin sore.
Titik dari kehancuran dunianya…
Tapi di saat dia merasa semuanya terlalu sulit untuk ditanggung bahunya, Tuhan masih berbaik hati. Seorang Malaikat datang pada malam berbadai itu, menariknya bangkit dan menjajikan sebuah kebahagiaan. Seorang Malaikat dengan sayap-sayapnya yang patah. Yang akan melindunginya dan juga harus dilindunginya.
"Aku merindukannya." Bibirnya yang kering mengulas sebuah senyum tulus.
Seperti sihir, ketika mata itu menatapnya teduh, dia tahu tidak ada yang berakhir. Saat dia kehilangan semuanya, direnggut dengan paksa, Malaikat itu datang dengan sepotong janji yang rapuh. Tapi dia percaya, berpegang pada hatinya yang perlahan membuka. Hingga kini, ketika dia hidup di dunia kecilnya di mana hanya ada dia dan Malaikat kecilnya. Mereka saling menjaga, menyayangi, dengan hati yang sama-sama nyaris mati.
"Mommy…"
Tanpa sadar yeoja paruh baya itu memekik bahagia. "Kyunie?!"
Kyuhyun melepaskan syalnya dan berlari memeluk eommanya. Rasanya sudah sangat lama dia tidak merasakan pelukan ini. Meskipun lukanya kembali terasa sakit, tapi rasa rindunya sudah sangat dalam.
Hanya dengan eommanyalah ia bisa merasakan emosi. Merasa hidup. Dan diam-diam Kyuhyun juga berharap dapat hidup di dunia kecilnya yang lain, di mana hanya ada dia dan sang Mommy. Kyuhyun tidak tahu bagaimana itu mencintai, karena dia tidak pernah dicintai. Tapi setidaknya dia tahu, dia menyayangi yeoja paruh baya ini. Entah mereka menyebutnya apa, Kyuhyun hanya tahu eommanya terlalu berharga untuk dia bawa ke dunia kelamnya. Baik dunia yang berusaha dia tinggalkan di balik punggungnya, dunia yang kini menjeratnya, atau bahkan dunia hitam yang menanti langkah rapuhnya di masa depan. Tidak, Mommynya terlalu berharga.
"Mom, mian aku jarang datang." Kyuhyun berucap lembut sambil menatap wajah eommanya sedih. Tanpa malu Kyuhyun segera bersimpuh di kaki eommanya dengan kepala disandarkan di paha yeoja itu.
"Aku merindukanmu." Bisiknya kemudian.
"Aigoo… kenapa kau sedih, eoh? Harusnya Mommy yang sedih kau lupakan." Kekeh Ny. Jung dengan bahagia.
Kyuhyun sontak mendongkak. "Aniya! Aku tidak melupakanmu. Aku… aku hanya baru bisa… aissh.. maksudn-…" Ucapan Kyuhyun yang kacau segera terhenti ketika sebuah jari membekap bibir pinknya.
Ny. Jung tersenyum geli. "Aku tahu. Kenapa kau sangat panik, Kyu? Hahaha…"
Melihat tawa manis sang Mommy, membuat bibirnya ikut tertarik naik, kontras dengan pandangannya yang menyendu. "Aku hanya tidak mau Mommy merasa aku melupakanmu. Hanya Mommy yang aku punya. Hanya Mommy yang menyayangiku." Lirih Kyuhyun seraya menenggelamkan wajahnya di pangkuan eommanya.
"Kau kenapa, chagi? Kau sedikit kacau." Nada khawatir itu tampak dalam suaranya yang mengalun lembut. Tangannya beralih mengelus pelan surai coklat lembut Kyuhyun.
"Ani, gwenchana. Ah… aku membawakan roti kesukaan Mommy!"
Ny. Jung tersenyum, dia tahu Kyuhyun hanya berusaha mengalihkan pembicaraan. Anak itu masih terus ingin bersembunyi. Tapi setidaknya dia tahu, ini semua adalah karena jauh di dalam hati Kyuhyun, namja manis itu terlalu menyayanginya. "Jinjja? kenapa tidak bilang dari tadi? Rasa makanan rumah sakit sangat mengerikan!"
Kyuhyun segera bangkit dan menyerahkan bungkusan roti itu pada eommanya. Dan tentu saja ny. Jung segera meraihnya dengan riang.
"Gumawo, chagi. Aku selalu suka rasa ini. Ini me-…"
"Ini mengingatkanku padamu." Potong Kyuhyun diselingi kekehan kecil.
Kyuhyun tersenyum geli sebelum kembali menyandarkan kepalanya di pangkuan sang Mommy. "Sampai kapan kau mau menyamakanku dengan krim mocca itu, Mom?" Kyuhyun mencebil kecil.
Ny. Jung mengulas senyum lembut yang tulus. "Terlalu banyak kesamaannya denganmu."
Sepeti seorang chef professional, Ny. Jung membelah roti yang masih mengepulkan uap hangat itu, memamerkan pada Kyuhyun krim mocca dengan campuran caramel leleh di dalamnya. "Lihatlah, warnanya persis seperti matamu. Hazel yang indah."
Kyuhyun tertawa pelan. "Hanya itu? Mom, itu tidak ada hubungannya."
"Tentu saja berhubungan. Hanya dengan melihat ini, Mommy selalu merasa seperti menatap matamu. Kadang aneh ketika Mommy membayangkan sedang memakan matamu. Meskipun matamu indah, tentu saja itu tidak cocok untuk dimakan. Eeew…" Ny. Jung berceloteh ceria, lalu mereka tertawa bersama. Tawa lepas yang gembira.
Berdesir. Lagi-lagi rasanya seperti ini ketika ny. Jung melihat Kyuhyun menampakkan emosi bersamanya. Rasanya bahagia dan sedih dalam satu waktu. Dia pernah menyaksikan Kyuhyun yang tampak benar-benar mati. Kyuhyun yang tidak menangis ketika satu-satunya sahabatnya meninggal, Kyuhyun yang sekarat tanpa satu pun ringisan. Dia pernah melihatnya, dan berharap Kyuhyun akan kembali hidup. Meskipun ny. Jung sangat tahu, sampai saat ini Kyuhyun masih menyimpan lukanya sendiri, luka basahnya yang tidak pernah sembuh.
Saat Kyuhyun menyadari tatapan eommanya yang terpaku padanya, tawa manis itu segera terhenti.
"Kyunnie…"
"Nde?"
Ny. Jung menggigit roti itu dan tersenyum. "Ada lagi alasan kau sama dengan mocca ini. Rasanya selalu membuatku bahagia. Persis sepertimu."
"Gumawo Mom." Kyuhyun bangkit dan memeluk erat eommanya. Menyesap rasa nyaman yang hanya dia dapat dari wanita ini. Bahagia, aman, dan disayangi, tempat dia merasa hidup. "Gumawo.." bisiknya lagi.
"Terima kasih karena mau menemaniku. Terima kasih mau menerimaku. Terima kasih mau memahamiku. Terima kasih telah datang, Mom. Aku menyayangimu."
.
'Terakhir, manis dan pahit dalam satu waktu, tapi tidak terlihat. Persis sepertimu.'
.
.
.
Senja sudah meninggalkan hari di saat Kyuhyun melangkahkan kakinya di trotoar yang ramai. Dia memutuskan pulang ketika kepalanya terasa berat, dia tidak mau tampak sakit di depan sang Mommy. Itu akan membuatnya khawatir. Jari-jarinya beranjak merapatkan syalnya, syal Siwon lebih tepatnya. Tanpa sadar hatinya menghangat, meskipun Siwon melupakannya, setidaknya tingkah namja itu sama sekali tidak berubah.
.
.
.
Donghae menyesap rokoknya dalam-dalam. Asap pekat itu terbang sebelum hilang ditelan udara di tempat remang itu. Dari bibir tipisnya, namja itu bersenandung kecil. Memecah sunyi diruang sepi itu.
"Haaah…" Desahnya sebelum meletakkan rokok itu di atas meja. Tangannya beralih meraih sebilah pisau kecil di sisi asbak. Pisau yang memantulkan tatapan sendu Donghae di antara keremangan.
'Donghwa…'
Satu jarinya menelusuri pinggiran pisau, memperhatikan bagaimana setetes darah mengalir dari luka di ujung jarinya. Donghae tersenyum kecil, senyum kekanakan yang menyeramkan.
Cklek…
Pintu utama yang terbuka menarik perhatian Donghae. Bahkan hanya dengan melihat siluet tubuh itu, dia terlalu hafal untuk tidak mengenalnya. Kyuhyun, dengan siratan kaget di hazelnya.
"H-hyung?"
"Hm?"
"Kapan hyung pulang?" lirih Kyuhyun hati-hati.
"Baru saja. Kau dari mana, Kyu?" Tanya Donghae lembut, tampak sekali gurat khawatir di sana.
Kyuhyun menahan nafas. "A-aku hanya, eum h-hanya menemui seorang teman."
Kening Donghae berkerut bingung. "Kenapa kau tampak ketakutan, saeng? Duduklah, udara di luar dingin, kau bisa sakit."
Kyuhyun hanya bisa mengangguk kaku sebelum melangkah pelan menuju Donghae. Tangannya mencengkram syal Siwon erat, berharap dalam hati Siwon ada bersamanya sekarang, sama seperti dulu.
"Bogoshippo, Kyuhyunnie. Makanya Hyung pulang lebih awal." Donghae berucap ceria ketika Kyuhyun akhirnya duduk di sisinya. Tangannya terangkat dan membelai surai Kyuhyun lembut. Namja manis itu terpaku, meskipun agak was-was, Kyuhyun tidak dapat menyangkal rasa hangat yang mengeggam hatinya. "Ne, hyung. Mian."
Donghae tersenyum lembut. "Kenapa minta maaf, Kyu? Kau tidak salah."
"Haaah… kau tahu? Perjalanan itu melelahkan." Donghae kembali berucap saat Kyuhyun tetap diam. Disandarkannya tubuhnya di punggung sofa, menatap pisau di sisi rokoknya yang mengepulkan uap pekat.
"Kyu, hyung tiba-tiba teringat Donghwa. Bagaimana ini?" Nada Donghae tiba-tiba berubah sedih, matanya yang menatap Kyuhyun tampak basah.
Donghae beralih menutup matanya, membiarkan setetes bening jatuh dari sana. "Hyung merindukannya."
"Mianhe, hyung."
"Kau terus minta maaf. Ada apa, Kyu? Hyung hanya merindukan Donghwa, apa itu salah?" Donghae kembali menghela nafas lelah. "Hyung hanya merindukan tawanya, merindukan wajahnya, merindukan kehadirannya. Apa itu salah? Hyung ingat dia memiliki tawa yang indah, mata hitam yang bening, wajah tampan, dan aah! Dia juga memiliki sebuah bekas luka di pergelangannya. Hyung masih sangat mengingatnya."
Kyuhyun tetap diam bahkan saat Donghae beralih menatapnya.
"Kau sama sepertinya. Karena kalian berdua adalah dongsaengku yang paling berharga." Donghae tersenyum bahagia meski matanya berembun. "Setidaknya hyung masih memilikimu. Benarkan, Kyu?"
Kyuhyun tersenyum lembut, beralih memeluk leher Donghae. "Ne, hyung. Aku di sini."
Donghae tertawa di sela isakannya, tangannya mengelus punggung Kyuhyun sayang. "Kau menyayangiku kan, Kyu?"
"Aku menyayangimu, hyung."
"Maukah kau mengabulkan permintaanku, Kyu?"
Kyuhyun terdiam sejenak. "Bisakah, Kyu? Jebal." Donghae kembali memohon sembari mengecupi surai Kyuhyun.
"Aku dongsaengmu. Kau bisa meminta apapun padaku." Bisik Kyuhyun akhirnya.
"Jeongmal?!" Pekik Donghae gembira.
" Ne."
Donghae segera melepaskan pelukannya. "Kalau begitu, berikan tanganmu."
Meski ragu, Kyuhyun akhirnya membiarkan Donghae meraih lengannya. Hyungnya itu segera melipat bagian lengan hoodie Kyuhyun, menampilkan pergelangan putih pucatnya. Kyuhyun agak takut ketika melihat Donghae meraih pisaunya.
"Hyung?"
"Ini permintaanku." Nada dalam suara itu tiba-tiba berubah dingin. Kepala Donghae tertunduk penuh pada pergelangan Kyuhyun. Namja itu mendecak ketika merasakan denyut pelan di bawah kulit pucat Kyuhyun. "Kau sedang membayar hutang, Kyu. Ingat itu."
Donghae menarik nafas sejenak, sebelum tanpa aba-aba menggoreskan pisau mengkilat itu di pergelangan Kyuhyun. Membelah horizontal tepat di atas nadinya yang masih berdetak pelan. Dalam sekejap, luka itu meneteskan begitu banyak darah, warna merah yang kontras dengan kulit salju Kyuhyun.
"Kau berdarah. Sama seperti Donghwa." Donghae menatap Kyuhyun, penasaran dengan ekspresi namja itu. Tapi lagi-lagi seperti ini, Kyuhyun hanya diam dengan wajah datar tanpa nyawa. Matanya terpaku menatap kosong darahnya yang terus berebut menetes.
Merasa kurang, Donghae meraih rokoknya yang terus meracuni udara. Seperti melukiskan kuas, Donghae dengan mudah menggoreskan nyala merah rokok itu di sepanjang luka berdarah Kyuhyun. Tapi wajah cantik itu masih dalam keadaan sama, tetap diam dan sama sekali tidak meringis. Matanya menatap luka itu seakan sedang menatap daun yang jatuh di musim gugur. Tenang dan tak terusik.
"Kotor lagi." Donghae mendecak ketika melihat lantai di bawah sofanya yang dalam sekejap telah tergenangi darah. Matanya beralih menatap Kyuhyun yang tetap tak bergeming, satu-satunya hal yang berubah hanya wajahnya yang dengan cepat memucat. Bibir yang tadinya sewarna chery, kini membiru dan tampak mati.
"H-hyung?" Donghae agak terkejut ketika akhirnya mendengar suara pelan Kyuhyun.
"apa sudah selesai?"
"Hm, aku sudah puas."
Kyuhyun tersenyum lemah. "Syukurlah…" sebelum dengan cepat tubuhnya melemas dan jatuh di pundak Hyungnya dengan mata terpejam.
Donghae mengukir sebilah seringai di wajah dinginnya. "Sekarang kau memiliki tanda seperti Donghwa."
"Kapan kau menyerah, eoh? Aku tidak sabar ingin membalaskan dendamku."
Hening. Dan Donghae kembali menyeringai ketika melihat pisau berharganya yang masih ternoda darah, memantulkan wajah datarnya di antara bercak merah itu. Untuk terakhir kalinya Donghae menatap Kyuhyun yang pingsan dengan nafas satu-satu. Wajah anak itu sekarang benar-benar seputih salju, kehilangan warna ketika liquid merah itu menggenangi lantai.
"Tidurlah, saeng. Hyung menyayangimu." Bisik Donghae dalam kecupan kecilnya di dahi Kyuhyun. Dengan langkah tenangnya, namja tampan itu meninggalkan ruang tamu yang bisu itu. Meninggalkan adiknya yang entah sekarat atau… mati.
.
.
.
'Datanglah ke rumah. Kyuhyun menunggumu.'
Send.
.
.
.
◦●◌⃝TuBerCulosis⃝◌●◦
.
.
.
Gorontalo, 22 des. 12.47 PM
Well, nulis ff ini penuh perjuangan. Lyra akui, ff ini terlalu rumit untuk otak simple Lyra. Ada yang bingung? Punya pertanyaan? Wajib review. Walopun jelek, kalian gak tau betapa banyak yang Lyra korbankan untuk ff ini.
Ini taun pertama Lyra di SMA, tapi besok UAS malah nulis ff. Jadi, walopun Lyra tau nilai Lyra bakal anjlok, tolong kasih review buat penawar luka yaa, hiks #soknelangsa.
Buat info lebih lengkap, bs kontak Lyra di: FB : L Frolight
Pin: 59a41b61
Lets be friend. LN.
Balasan review :
Awaelfkyu13 : Lyra emang hobi nyiksa Kyu #Digampar. Kalo soal Donghae, bisa dketahui seiring berjalannya cerita. Gumawo udah review #BOW.
Puput257 : Kuhehe, udah takdirnya disiksa mulu. Donghae itu peran penting, bakal ketahuan seiring cerita. Lyra senang banyak nanya. Gumawo reviewnya ^^.
Jihyunelf : Mian. Lyra emang lelet buat nulis, soalnya takut ada kesalahan. Semoga masih ditunggu ya. Kyuhyun emang punya banyak hyung, suju kan ber13. Ehehe, Gumawo udah review ^^.
Desviana407 : Yee! Mari kita siksa Kyu bareng-bareng. Lyra juga suka. Doain aja Siwon cepet nyadar. Gumawo, chingu XD.
Pherope : Nanti juga jelas ceritanya, agak rumit emang. Wehehe, mian Lyra suka nyiksa Kyu. Doain aja dia gak mati XD. Jeongmal Gumawo…#Bow
Zenikha : Ehehe, sukur kalo chingu suka. Nanti Lyra usahakan. Mian Lyra agak lelet, ini lagi momen sibuk-sibuknya #sok. Gumawo udah review…^^
Nanakyu : Thanks juga udah review, chingu XD. Kyu kayaknya bakal disiksa mulu. Kalo hubny dengan Donghae emang agak rumit. Nanti jelas deh. Sekali lagi Gumawo…
Martincho : Jeongmal? Moga chap ini chingu juga suka ya. Iya, nanti Lyra kasih tanda buat flashback. Gumawo udah review… ^^
Guest : Masih banyak tanda Tanya juga di kepala Lyra. Gumawo udah review…^^
Kyu chocho : Kyu emang udah takdir disiksa mulu. Donghae nanti kejawab kok. Sip, moga gak bosan ama author amatir ini. Gumawo…^^
Kiyu kiyu : Untung lah kalo gitu. Moga chap ini chingu suka ya. Gumawo udah review…^^
Zahra choi : Lyra gak janji buat kilat, tapi Lyra janji bakal usaha sebaik mungkin. Untuk sekarang, mungkin agak kurang Wonkyunya. Gumawo udah ripiu…^^
FiWonKyu0201 : Chingu kayaknya psycho deh. Tapi gpp, Lyra juga suka nyiksa Kyu. Nanti Lyra usahain. Moga suka chap ini ya. Gumawoyo…^^
Popokyu : Emang gitu. Kyunya kasian. Anak haram mungkin XD. Doain aja begitu, Siwon mah ga peka. Moga suka chap ini ya. #Bow
N714CH: Selamat datang di ff amburadul Lyra. Ga, bukan chingu yang salah, ff ini emang membingungkan. Lyra authornya aja kadang lupa plot saking ruwetnya. Nanti semua kejawab kok, moga suka ya…^^ Gumawo.
