Oke, Lyra balik lagi dan kembali update setelah setaun. Chap ini khusus untuk ultah Kyunnie dan para reader yang bersedia menghargai karya Lyra. Balasan review di bawah. Gumawoyo…^^

Warning : BoysLove, Typo merajalela, alur aneh, bahasa ga tentu, feel gagal.

Title: The One

Author: Lyra25 FB: L Frolight

Cast : Kyuhyun, Jonghyun, Siwon, and other.

Genre : Tentuin sendiri ya..

Disclaimer : SuJu milik SMent, membernya punya Tuhan. BabyKyu punya Lyra seorang #Plak!

Rate : T-M

Enjoy the story…

The One

.

.

.

Sejak dulu, di dunia hitam, tempat di mana semua hal berjalan dengan cara kerja iblis, ada beberapa keluarga yang dikenal sebagai pemegang cambuk di dalam dunia dengan hukum rimba itu. Keluarga terhormat yang dapat dipastikan memiliki kekuatan besar di dunia mafia, merambat dari setiap sudut gang kecil, sampai ke tempat tertinggi. Dari persektifnya, Kyuhyun melihat keluarganya dan para mafia di luar sana sebagai pembunuh berdarah dingin, yang merenggut kebahagiaan dan tawa. Satu yang dia benci adalah dia juga bagian dari para pembunuh itu.

Ayahnya bilang karena semua hal di dunia ini adalah palsu, jika ingin hidup, kau hanya harus mempercayai dan mementingkan dirimu sendiri. Menutup hati dan kepercayaan hanya untuk dirimu sendiri.

Tapi Kyuhyun tak bisa. Dia percaya air mata yang banyak orang keluarkan karena keganasan orang-orang berjas itu bukan satu hal yang palsu. Air mata itu membawa kesedihan, yang membuat Kyuhyun ikut merasa sesak saat melihatnya. Meskipun ayahnya bilang itu cara untuk hidup, tapi Kyuhyun terlalu lemah untuk melihat orang-orang bersedih, menangis, frustasi, hingga mati dengan cara kotor itu. Ayahnya bilang untuk mempercayai dirinya sendiri, dan ketika Kyuhyun menatap kedalam hatinya, dia tahu dan percaya bahwa hidup bukan tentang mementingkan diri sendiri. Itu neraka.

Mungkin itu juga yang membuatnya mau dan tetap menjadi penurut ketika keluarganya mulai menempatkannya di posisi ini. Berada di depan Kibum untuk melindunginya.

.

.

.

Flashback, 8 tahun lalu…

Kyuhyun membuka pintu mobil itu setelah supir pribadinya mengerem tepat di depan gerbang sekolah. Meskipun berwajah datar, tetap saja paras manisnya selalu mempesona banyak orang. Onyx hitamnya bergulir mencari seseorang. 'Tidak ada ya…' meskipun kecewa, Kyuhyun berusaha tersenyum positif.

Sekolah ini tergolong elit, dengan mayoritas siswanya dari kalangan atas. Disini, juga banyak anak sepertinya. Yang lahir dari keluarga mafia, dirahasiakan, dan berbaur dalam kerumunan orang biasa. Kyuhyun memang tidak bisa membedakannya, tapi beberapa wajah temannya pernah dia lihat bersama orang-orang berjas yang menemui appanya. Entah sebagai rekan, lawan, atau mungkin relasi bisnis. Kyuhyun tidak peduli.

"Permisi…"

Kyuhyun menoleh ketika seseorang memegang bahunya. "Hn?"

"Apa kau tahu di mana ruang kesiswaan? Aku… eum, murid pindahan." Anak itu berkata kaku.

Kyuhyun menunjuk belokan di ujung koridor tanpa menatapnya. "Belok saja di sana. Lalu jalan lurus."

Anak itu agak ragu. "Bisakah kau mengantarku?"

Kyuhyun berpikir sejenak. "Tentu." sebelum akhirnya menuntunnya menuju ruang kesiswaan.

Mereka berjalan berdampingan. Kyuhyun yang memang pendiam, dan anak itu yang terus memandang penasaran pada Kyuhyun. Dari penampilannya, Kyuhyun tahu mereka seumuran. Anak itu juga sepertinya cerewet. Meskipun tidak mengajak Kyuhyun bicara, dia terus mengomentari banyak hal. Entah sekolah yang besar, lapangan yang luas, anak-anak yang nakal, dan banyak lagi. Benar-benar polos.

"Dimana ruang kelasmu?" Akhirnya dia bertanya, agak jengah ketika Kyuhyun terus diam.

"Di lantai 2."

"Aku Donghwa. Lee Donghwa. Siapa namamu?"

"Kibum. Cho Kibum."

Donghwa tersenyum lebar ketika akhirnya dia tahu nama teman pertamanya di sekolah ini. "Kibum ya. Kalau begitu salam kenal. Aku harap kita bisa berteman baik."

"Hn." Kyuhyun hanya menggumam kecil. 'kuharap tidak.' Tapi hatinya berharap lain. Tidak ada satu pun teman baiknya yang berakhir baik. Terlalu beresiko untuk berteman dengan mesin pembunuh sepertinnya.

"Kau pendiam ya.." Donghwa berkata lagi. Tapi Kyuhyun tidak merasa harus menjawab. Langkah-langkah selanjutnya mereka habiskan dengan mengedarkan pandangan dalam diam.

"Cha, sudah sampai. Ini ruangannya. Aku harus segera masuk." Dan Kyuhyun segera berbalik pergi.

"Gumawo, Kibummie! Sampai jumpa!"

Kyuhyun tidak berbalik, tidak menoleh. Donghwa tidak sedang memanggilnya kan?

Dia tahu ini demi Kibum, karena dia menyayangi hyungnya itu. Tapi dia tetaplah Kyuhyun. Ada satu dari bagian hatinya yang ingin berontak.

Dan tadi, Donghwa berkata ingin menjadi teman dekatnya. Teman dekat siapa? Cho Kibum yang menuntunnya ke ruang kesiswaan? Atau Cho Kyuhyun yang sama sekali tidak dia kenal?

Kyuhyun menghela nafas.

Dalam pengawasan ayahnya, dia hidup sebagai Cho Kyuhyun yang tidak berharga juga tameng Kibum. Dan di sekolah dia berperan sebagai Cho Kibum yang harus memisahkan diri, tidak bicara, berbagi, dan bercanda.

Mana yang lebih baik? Tapi Kyuhyun adalah Kyuhyun. Di mana semua hal hanya untuk Kibum, di sanalah dia berdiri sebagai satu-satunya.

.

yang melindungi dan tersembunyi.

.

.

.

Kibum menarik pelatuknya dan peluru itu melesat cepat sebelum akhirnya bersarang tepat di tembok sisi telinga seorang namja yang ketakutan. Wajahnya datar, tetapi matanya yang sehitam arang memandang tajam namja itu. Seakan dia papan sasaran yang harus menjadi pemberhentian pelurunya. Meskipun bahkan belum berusia 8 tahun, kemampuan menembaknya tidak bisa diremehkan. Lahir di keluarga ini mengharuskan Kibum pandai menodong sasaran sesaat setelah kaki kecilnya bisa berlari.

"Bergeraklah ahjussi. Aku benci sasaran yang diam." Kibum berkata sedingin tatapannya.

"Jeongsohambnida… tolong biarkan saya pergi."Ada secuil isakan saat namja di akhir dua puluh tahunan itu memelas menatap Kibum. Jelas sekali sekujur tubuhnya bergetar.

"Baiklah. Pergi. Kau harusnya lari, ahjussi." Kibum memilih mundur dan duduk di sofa besar di belakangnya.

Namja itu mengerutkan kening bingung. "Jeongmal, Tuan muda? Anda meng-…"

"Aku tidak sejahat itu, Ahjussi." Potong Kibum tertawa kecil. "Pergilah. Sekarang."

"Nde?… j-jeongmal kamsahambnida, tuan muda.." dengan penuh harap namja itu membungkukkan tubuhnya dan segera beranjak pergi.

Kibum menyeringai tipis, dan tanpa aba-aba menembak lantai di depan orang itu. "Larilah cepat, kau sangat lambat."

Wajah namja itu seketika bertambah pucat seiring dengan tubuhnya yang melangkah mundur. "T-tuan…"

Kibum menarik pelatuk lagi, kali ini melubangi lukisan di belakang namja itu. Saat namja itu berwajah pucat ketakutan, Kibum bahkan masih sempat menguap. "Tidak menarik. Untung saja meleset." Dan saat Kibum baru akan menembak kembali, namja itu dengan cepat menghindar dan berusaha memutari ruangan.

Seringai Kibum melebar. "Begitu lebih baik." Dan dalam satu kali tarikan pelatuk, peluru Kibum kini bersarang di kepala namja itu. Mengalirkan darah dengan cepat. Dalam seketika namja itu ambruk, dengan mata terbelalak memandang Kibum. Jangan remehkan dia, dia bukan anak 8 tahun yang suka menangis seperti Kyuhyun, dia adalah sang pewaris. Yang akan memimpin para mafia di masa mendatang. Untuk itu, ayahnya jelas sudah memberikan pelatihan ketat. Melatihnya baik pola pikir maupun perilaku. Hingga akhirnya inilah Kibum, pembunuh berhati dingin di dalam tubuh seorang anak 8 tahun.

Kibum hanya memandang datar sebelum berbalik menatap kaki tangan ayahnya yang berdiri di sisi pintu. "Latihan kali ini membosankan. Katakan pada abeoji aku ingin ikut penyelundupan malam ini."

"Nde, Tuan muda."

"Apa guru privatku sudah datang?"

"Nde, dia sekarang berada di perpustakaan."

Kibum hanya mengangguk kecil ketika melempar pistolnya ke sofa, dan melanjutkan langkahnya keluar ruang pelatihan yang luas itu. Tujuannya sekarang adalah perpustakaan di mana guru privatnya sudah menunggu. Sejak dua tahun lalu Kibum memang mengikuti program homeschooling, lahir sebagai ahli waris keluarga mafia yang kaya raya, keselamatan Kibum memang sering terancam. Awalnya dia bersekolah di sekolah umum seperti Kyuhyun, meskipun berbeda sekolah. Tapi saat itu pernah terjadi percobaan penculikan pada dirinya. Entah musuh ayahnya yang bodoh, atau memang karena keidentikan wajahnya dengan Kyuhyun, hingga tanpa sengaja malah Kyuhyun yang diculik.

Ayahnya bersyukur Kibum tak berhasil diculik, karena meskipun dapat pulang dalam keadaan hidup, Kyuhyun sempat kritis setelah mengalami penyiksaan fisik lebih dari 3 hari. Adiknya itu pulang dalam keadaan nyaris mati. Dan sejak saat itu ayahnya memutuskan untuk menjalankan homeschooling pada Kibum. Selain itu, ayahnya juga memalsukan kematian Kyuhyun dan menyuruh Kyuhyun melanjutkan hidupnya di dunia luar sebagai Kibum. Menjadi pengecoh dan tameng dari semua rencana jahat yang tertuju kepada Kibum.

Kyuhyun tahu semuanya. Tentu saja awalnya Kyuhyun berontak, dia sempat mengunci diri dan menangis meraung-raung. Tapi setelah ibunya menceritakan semua alasannya, adiknya itu mengangguk dengan sangat patuh. Mengatakan ingin melindungi Kibum, hyung yang sangat disayanginya. Kibum mendengus, melindungi apanya? Bahkan untuk menarik pelatuk Kyuhyun sering gemetar.

Kibum masih ingat ketika Kyuhyun memeluknya sambil menangis keras, mengatakan betapa takutnya dia jika Kibum sampai diculik, takut membayangkan bagaimana jika Kibum ditendang seperti penculik itu menendangnya, diikat, dipukul, ditampar, hingga ditembak. Kyuhyun menangis dengan tubuh bergetar, dan sebagai kakak kembarnya, Kibum tidak bisa menyangkal bagaimana dia merasakan perasaan ketakutan Kyuhyun dengan sangat pekat.

Kyuhyun itu bodoh. Jelas-jelas dia yang mengalami semuanya. Melihat bagaimana ketakutan Kyuhyun, jelas adiknya itu memiliki trauma. Tapi ketika eommanya mengatakan alasan dia harus hidup sebagai Kibum di mata dunia luar, Kyuhyun langsung setuju karena takut Kibum mengalami hal yang sama. Yang benar saja, apa adiknya itu tak menyadari dia kemungkinan akan mengalami hal itu lagi dan lagi menggantikan Kibum? Mengalami hal yang mungkin lebih besar dari penculikan itu.

"Kibumie, kau sudah sampai?" ucapan Han seonsaengnim membuyarkan lamunan Kibum. Matanya kini menatap Han Hyo Mi, yeoja di akhir tiga puluhan yang menjadi guru privatnya.

"Hn."

"Apa Kyuhyun belum pulang?"

"Ini masih jam 11."

"Ah, ya. Bisa kita mulai?"

.

.

.

.

Jam menunjukan pukul 2 dini hari saat Eunhyuk memasuki pintu utama rumah Donghae. Namja gila itu mengiriminya pesan beberapa jam yang lalu. Tapi karena masih memiliki jadwal operasi, Eunhyuk terpaksa baru bisa datang sekarang. Dengan cepat namja manis itu melangkah setengah berlari ke dalam rumah. Seluruh isi rumah ini gelap. Setidaknya dia harus mencari saklar lampu terlebih dahulu.

"Donghae?!"

"Kyuhyunnie!" Eunhyuk menekan saklar di sisi ruangan. Saklar itu membuat beberapa lampu kecil di ruangan itu menyala remang. Masih gelap, tapi cukup untuk membuat matanya melihat sosok di sofa itu.

Eunhyuk agak kaget. Itu jelas Kyuhyun. Namja yang sudah dia anggap dongsaengnya itu terbaring di sofa dengan kedua kaki menjuntai menyentuh lantai. Posisi yang aneh, apa Kyuhyun ketiduran?

"Kyu?"

Eunhyuk mendekat. "Kyunnie? Kenapa tidur di sini? Di sini dingi-…"

Tidak. Kyuhyun tidak tidur. Tidak baik-baik saja. Bahkan dalam keremangan, wajah Kyuhyun tampak terlalu pucat.

Eunhyuk mulai takut, dengan cepat namja itu berjongkok di depan Kyuhyun. "Kyuhyunnie? Astaga, apa yang terjadi?!"

Ketika menepuk-nepuk pipi Kyuhyun, Eunhyuk tahu tidak ada tambahan luka di wajah dingin itu. Lalu apa?

"Kyu? Bangunlah, saeng.." Dan semua terjawab ketika Eunhyuk melihat pisau dengan bercak darah di sisi Kyuhyun. Eunhyuk langsung panik. Dengan cepat ditopangnya tubuh Kyuhyun dan mencari-cari luka berdarah yang ada di tubuh adiknya itu. Tapi tidak ada apa-apa.

Di tengah kebingungannya, Eunhyuk kembali terkejut dan nyaris menjerit ketika dia baru menyadari betapa banyak genangan darah di lantai tempat dia berlutut. Eunhyuk semakin gencar mencari luka itu. Ketika dia akan menggendong Kyuhyun untuk dibawa ke kamar, akhirnya dokter muda itu menemukan sebuah sayatan yang cukup dalam di pergelangan pucat Kyuhyun. Yang Eunhyuk khawatirkan, sayatan itu membelah tepat di atas nadinya. Ini sayatan bunuh diri…

.

.

.

"Nde! berikan aku beberapa kantung darah. Jebal, Junsu-ya…"

'Aku ingin membantu, Hyukkie. Tapi bahkan walaupun kau dokter, kau harus memiliki surat prosedur untuk mengambil kantung darah. Kit-…'

"Kumohon, Junsu-ya! Aku sangat membutuhkannya! Ada nyawa yang bisa mati di sini…" Eunhyuk mulai menangis. Dia sekarang berada di kamar Kyuhyun, menemani adiknya itu yang tampak seperti orang mati.

"Katakan, untuk siapa darah sebanyak itu? Kau terluka?! Ada kecelakaan?"

"Aku tidak bisa mengatakannya. Tapi tolong bantu aku! Kau bisa memalsukan pengambilan beberapa kantung darah. Kumoho-…"

"Bagaimana aku bisa member-…"

"SUDAH KUBILANG AKU MEMBUTUHKANNYA! ADA YANG BISA MATI DI SINI!" Eunhyuk tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berteriak. Ketakutan dan kepanikan mencengkramnya dengan terlalu sempurna.

"b-baiklah. Akan aku usahakan, Hyukkie. Tolong tenanglah…"

Eunhyuk segera melangkah keluar kamar setelah meraih kunci mobilnya. "Gumawo Junsu-ya! Bisakah kau mengantarkannya di halte dekat perpustakaan?! Aku akan menunggumu di sana. Kumohon, cepatlah!"

"Apa golongan darahnya?"

"Bawakan aku 4 kantung A rhesus negative. Kumohon cepatlah!"

.

.

.

Detik jam terdengar tajam di kamar yang dingin itu. Semua senyap, saat malam berada di batas penantiannya. Kepanikan beberapa saat lalu tertelan, lalu menghilang. Berganti berbagai pemikiran kusut yang memenuhi benaknya.

Eunhyuk menatap selang dengan warna merah pekat yang menusuk ke dalam punggung tangan Kyuhyun. Eunhyuk tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dia terlambat. Entah apa yang terjadi, otaknya terlalu kacau untuk memikirkannya. Kyuhyun masih pingsan, meskipun tidak sepucat tadi, wajahnya masih tampak seperti mayat. Tadi ketika Eunhyuk berhasil mendapatkan beberapa kantung darah dari Junsu, dengan cepat namja manis itu berlari ke kamar Kyuhyun. Untung saja dia membawa kotak transfuse di dalam mobilnya.

"Kyunnie.. bangunlah…" Eunhyuk berbisik pelan, jemari kurusnya mengusap surai coklat lembut Kyuhyun. Baru saja beberapa hari yang lalu dia melihat Kyuhyun dengan mata terpejam itu, sekarang Eunhyuk harus melihatnya lagi.

Dan kali ini lebih parah. Kyuhyun kali ini benar-benar bisa mati. Terlalu banyak darah yang keluar, sedangkan Kyuhyun masih menderita hipotensi setelah meneguk obat penenang 3 hari yang lalu. Eunhyuk tahu Kyuhyun harusnya sudah mati ketika dia menemukannya, tapi Eunhyuk tidak bisa berhenti bersyukur ketika masih terdengar detakan pelan di balik dada adiknya itu.

"Hiks…" ketika rasa shocknya mereda, Eunhyuk mulai menangis. Tangannya beralih membelai luka sayatan basah yang kini dibalut perban putih. Rasa lega dan takut membuncah dalam dadanya.

Donghae. Tiba-tiba nama itu melintas dalam kepalanya. Kemana namja itu? dari tadi Eunhyuk tidak melihatnya. Apa ini perbuatannya? Siapa lagi yang bisa melukai Kyuhyun sekejam psikopat itu? Namja itu juga yang mengiriminya pesan. Tapi kalau bukan dia… apa Kyuhyun mencoba bunuh diri?

Eunhyuk menatap Kyuhyun lekat-lekat. Di balik kelopak mata itu ada bola hazel yang selalu tak tertembus. Eunhyuk hanya ingat, pertama kali dia datang ke rumah ini dan menemukan Kyuhyun yang terluka dan demam tinggi di ruang tamu. Sendirian. Dia tidak menangis ketika Eunhyuk membebat lukanya yang lumayan parah. Hanya menatap Eunhyuk dengan tatapan polos yang tampak lelah. Eunhyuk tahu ada yang tersembunyi. Semua tampak ganjil. Tapi ketika dia bertanya, hazel itu menatapnya dengan benteng yang seakan melarangnya mendekat.

'apa sudah selesai?' hanya itu suara pelan yang Eunhyuk dengar pertama kalinya.

'Nde. Apa tidak sakit? Luka apa ini? Dan siapa yang menghubungiku tadi?'

Eunhyuk ingat bagaimana Kyuhyun tersenyum pendek hari itu. 'Gwenchana.'

Dan hanya itu. Kyuhyun benar-benar tidak ingin dia masuk lebih jauh.

.

.

.

.

Kyuhyun bangun di pagi yang sama, di ranjang yang sama, plafon rumah yang sama, dan rasa sakit yang sama. Tidak perlu bertele-tele, Kyuhyun langsung ingat perbuatan Donghae semalam. Bagaimana Donghae mengiris pergelangannya. Dan sekali lagi Kyuhyun bersyukur dalam hati. Di saat dia baru membuka mata, semua hal yang dipikirkannya adalah Kibum, kakak kembarnya. Kyuhyun tidak bisa membohongi betapa dia merindukan hyung dinginnya itu. Saat tidur, Kyuhyun memimpikannya. Apa Kibum baik-baik saja sekarang?

Kyuhyun menghela nafas, sudah sangat lama dia tidak bertemu Kibum. Setiap kali memandang cermin, kadang dia berharap tengah menatap mata hitam Kibum yang menawan.

Kyuhyun memejamkan mata sejenak sebelum berusaha bangkit. Dan akhirnya namja manis itu menyadari selang infuse yang menusuk pergelangan kanannya. Sedangkan pergelangan kirinya di bebat perban. Melihat rapinya perban itu, sudah pasti Eunhyuk yang mengobatinya. Kyuhyun mengedarkan pandangannya, tapi di mana Eunhyuk?

Sekarang jam 9 pagi, mungkin Eunhyuk sudah ke rumah sakit.

"Astaga, syukurlah!" ada pekikan yang membuat Kyuhyun menatap pintu. Ternyata dokter muda itu masih di sini.

"H-Hyung? Ken-…"

Perkataan Kyuhyun terhenti ketika Eunhyuk menerjang dan merengkuhnya terlalu erat. "Astaga, Kyuhyunie! Akhirnya kau bangun. Hiks…"

Eunhyuk menangis. Dan kening Kyuhyun sedikit mengkerut bingung. Secara naluriah, tangannya terangkat membelai punggung Eunhyuk. Kyuhyun pikir Eunhyuk sedikit berlebihan, bukannya dia sudah terbiasa melihat Kyuhyun pingsan?

Tiba-tiba Eunhyuk menarik diri dan beralih mencengkram pundak Kyuhyun. "Katakan, Kyu. S-siapa yang melakukannya? Apa Donghae yang melukaimu?"

"Hyung, tenanglah…"

"Tidak, Kyu! Katakan siapa yang melukaimu?! Apa namja gila itu? Ka-…"

Eunhyuk terdiam. Satu persepsi menyusupi benaknya, dia menelan kata-kata dan menaikkan tangannya membelai pipi pucat Kyuhyun. Tatapan matanya yang tadinya menajam marah, kini menatap Kyuhyun sendu.

"Apa kau yang melakukannya?" Eunhyuk hanya dapat berbisik.

"Kau tidak bermaksud bunuh diri kan, Kyu?"

Bunuh diri? Yang benar saja. Kadang pemikiran itu memang sering mendatanginya. Tapi, kalau Kyuhyun mati, siapa yang akan melindungi Kibum? Kyuhyun tentu tidak ingin membuang nyawa dan membiarkan kakaknya terluka. Dia lahir untuk itu bukan?

Kyuhyun menggeleng sekali. "Gwenchana." Bisiknya tersenyum.

Hanya itu? Dia hampir terbunuh dan hanya mengatakan itu?!

Eunhyuk berang. "Kau hampir saja mati, bodoh! Apanya yang baik-baik saja, hah?!"

"Tenanglah, hyung..."

.

"..Aku tidak mati."

Kyuhyun tahu Eunhyuk marah, atau mungkin murka. Dia bisa melihat bagaimana dokter muda itu terengah-engah menahan emosi. Tapi namja berwajah boneka itu juga tidak bisa menampik perasaan hangat yang menyentuh hati bekunya. Apa itu berarti Eunhyuk mencemaskannya? Kyuhyun kembali mengulas senyum.

"Gwenchana…" bisiknya lagi.

Eunhyuk akhirnya memilih bangkit setelah menarik nafas gusar. "Terserah! Aku ada operasi siang ini. Hubungi aku kalau kau butuh sesuatu." Nada suaranya berubah dingin.

"Tadi pihak sekolahmu menghubungimu. Kau sudah absen seminggu." Itu adalah kalimat terakhir Eunhyuk sebelum tubuhnya ditelan pintu.

Tunggu, seminggu? Itu terlalu lama. Tanggal berapa ini? Kyuhyun segera mencari ponselnya dan mendesah saat menemukan benda itu di atas nakas.

Matanya terbelalak ketika melihat tanggal hari ini. Astaga, berapa lama dia tidur?!

.

.

.

.

Kyuhyun akhirnya kembali ke sekolah. Namja manis itu merasa dia hanya meninggalkan sekolah sebentar saja, tapi ketika melihat betapa para pengganggunya (re: Fansnya) heboh ketika dia kembali, Kyuhyun akhirnya percaya dia sudah seminggu tidak masuk. Bahkan tadi ada siswa yang menangis haru melihat dia datang. Astaga, mereka sangat berlebihan.

Kyuhyun akhirnya sampai di bangkunya setelah melalui perjuangan panjang. Para haksaeng itu sungguh sudah tergila-gila padanya. Kyuhyun juga tadi melihat beberapa haksaeng dengan seragam berbeda. Bagaimana cara mereka menerobos penjagaan sekolah yang ketat? Hebat sekali.

Dengan nafas lelah bercampur lega, Kyuhyun duduk dengan damai di bangkunya. Hazel coklatnya menatap kerumunan haksaeng di depan kelas. Tertahan di depan pintu.

Tertahan? Ya, berterimakasihlah pada para fujoshi yang mendeklarasikan diri sebagai pecinta Kyuhyun. Di sana ada Yoona yang melipat lengan kemejanya dan mengamuk, Taeyoon yang memegang sapu, dan para anak bebek lainnya yang berjejer menjadi pagar. Ternyata mereka berguna juga.

"YAAK! Kyunnie baru saja sakit! Kalian mengganggu istirahatnya!" Yoona kembali berteriak.

"Kau nenek sihir! Aku hanya ingin memotre-…"

"MWO?! Kau nenek lampir jelek! Kau berani mengataiku, eoh?!"

"Aku hanya butuh sedikit wawancara untuk madding sekolah!"

"Ayolah… aku hanya ingin menyatakan cintaku."

"BABY! SARANGHAE!"

"Omo… dia semakin cantik!"

"Pipinya jadi lebih tirus. Baby, apa kau benar-benar sudah sembuh?!"

"Pergi sana! Kalian sangat ribut! Astaga!"

Kyuhyun hanya menatap mereka bosan. Dia akhirnya memilih menyumbat lubang telinganya dengan headset. Itu lebih baik ketika melodi manis dari headset itu memudarkan suara-suara merepotkan di depan kelas. Untung saja ini masih terlalu pagi untuk para guru datang.

.

.

.

.

Siwon kembali melangkah hati-hati di atas pipa air. Meskipun bukan seorang altophobia, dia tetap saja bergidik melihat bagaimana bangku taman itu tampak kecil dari lantai tiga ini. Tujuannya hanya satu, kalung perak yang menyangkut di ujung pipa ini. Oh kuda, jika saja itu bukan pemberian eommanya, Siwon tidak akan mau terancam mati di sini.

Tadi Siwon hanya sedang duduk melamun di sisi jendela kelasnya yang berada di lantai empat. Karena teringat eommanya, Siwon melepas kalung itu dan memandangi cincin yang menjadi bandulnya. Semua baik-baik saja sampai Seungri mengagetkannya dan berakhir dengan kalungnya yang jatuh dan kini tersangkut di pipa air lantai tiga.

Awalnya Siwon ingin mengambil kalung itu lewat jendela kelas yang dekat dengan ujung pipa, tapi di depan kelas itu banyak sekali kerumunan haksaeng yang histeris, Siwon memilih mundur. Mungkin murid baru, persis seperti ketika dia baru masuk sekolah ini. Tapi agak aneh juga ketika ada beberapa Siswa dengan seragam asing dan buket bunga. Jadi dengan berat hati, namja tampan itu harus keluar lewat jendela kelas sebelah dan menantang maut untuk sampai di sini.

"Sedikit lagi… Tuhan, tolong aku.." Siwon berbisik penuh harap. Berusaha sekuat mungkin menjaga langkahnya tanpa menatap ke bawah.

"Sedikit lagi…"

"…Lebih dekat"

"Dapat!" Siwon nyaris bersorak ketika akhirnya kalung itu berada dalam genggamannya. Sekarang, dia hanya harus memanjat naik ke jendela di atas kepalanya, kembali ke kelasnya, membalas Seungri, dan semuanya selesai. Tersenyum tampan, Siwon mulai memanjat ke jendela.

.

.

.

Kyuhyun nyaris tertidur ketika dia merasa ada yang menyenggol mejanya. Ketika membuka mata, hazelnya menangkap lengan yang berpegangan pada mejanya. Kyuhyun kaget dan otomatis melongok ke bawah jendela. Tapi namja manis itu kembali nyaris jantungan ketika sebuah kepala menyembul tiba-tiba dan berada tepat 2 cm di depan wajahnyanya. Mata Kyuhyun melebar.

"Astaga… kau cantik sekali." Namja itu bersuara, dan Kyuhyun baru akan berteriak ketika namja itu membekap mulutnya dan memanjat naik dengan kakinya. "Ssst…"

Tapi sedetik kemudian,

"UWOOO…" Siwon kehilangan keseimbangan dan menubruk Kyuhyun dengan tubuh besarnya. Teriakan Kyuhyun teredam tangannya ketika mereka jatuh membentur lantai. Kyuhyun yang ditindih Siwon dan Siwon yang tertimpa kursi.

"OMONA! KYUHYUNNIE! APA YANG TERJADI?!" Yoona berteriak histeris ketika sampai 3 meter dari WonKyu. Dan dalam sekejap, kelas itu jadi begitu ramai.

"ASTAGA! SIAPA NAMJA ITU? BERANI SEKALI DIA!" Jessica menjerit tidak terima. Seumur-umur Jonghyun belum pernah seintim itu dengan Kyuhyun, dan sekarang siapa namja tidak tahu diri yang berani menindih Kyuhyun itu?!

"Princess… hiks.."

"Mereka kenapa?"

"Shiit… mereka cocok sekali."

"DASAR NAMJA SIAL! Awas saja dia!" Krystal yang berang menggulung lengan kemejanya dan menghampiri namja-sialan yang menindih Kyuhyun. Dengan tidak berperikekudaan, dia menarik kerah Siwon hingga wajah pingsan Siwon dengan darah yang mengalir dari hidungnya terpampang menghadap para haksaeng ribut itu. Wajar saja, hidungnya membentur lantai tadi.

Lagi, sebagai seorang terdakwa, Yoona hampir saja maju dan menendang kepala namja itu, tapi yeoja dan semua haksaeng itu tetap diam. Sebelum histeris setelahnya.

"OMONA! DIA TAMPAN SEKALI!"

"ITU CHOI SIWON!"

"COCOK SEKALI DENGAN KYUNNIE!"

"LEBIH TAMPAN DARI JONGHYUN!"

"aku kalah… mereka cocok sekali." Namja yang berniat menyatakan cinta pada Kyuhyun menjatuhkan buketnya dengan dramatis. Kelas kembali heboh di bawah pimpinan Yoona dan club fujoshinya.

"Abadikan! Foto mereka! Cepat!"

"Krys, letakkan tangan namja itu di pipi Kyunnie! Ppali!"

"Buat mereka berpelukan!"

"Berciuman!"

"Tahap M!"

"Seohyun! Ambil yang banyak!"

Dan hampir semua haksaeng di kelas itu memilih mengabadikan moment aneh itu. Melupakan Kyuhyun yang pingsan tertindih Siwon, dan Siwon yang pingsan serta mimisan. Suasana abnormal itu akhirnya berakhir ketika seonsaengnim yang cukup normal sampai di antara para abnormal dengan Wonkyu yang berada dalam posisi yang sama sekali tidak normal.

"YAK! Kenapa mereka vulgar sekali?!"

Astaga, sekolah ini benar-benar butuh paranormal.

.

.

.

.

Siwon sadar 15 menit setelahnya. Dalam sekali pandang Siwon tahu ini UKS. Awalnya bingung, tetapi akhirnya otak cerdasnya mengingat sesuatu. Dia ingat dia menjatuhkan kalungnya, tersangkut di pipa, kerumunan haksaeng, berjalan di atas pipa, memanjat jendela, Kyuhyun yang cantik, dan dia yang jatuh menubruk Kyuhyun. Tunggu, Kyuhyun? Mata Siwon seketika berbinar bahagia, akhirnya Kyuhyun sekolah, itu artinya dia sudah sehat, bukan? Pantas saja banyak sekali kerumunan haksaeng di depan kelasnya. Well, seminggu sekolah di sini cukup untuk mengetahui betapa Kyuhyun sangat terkenal. Pesona Frozen Angel itu terlalu kuat.

Tapi… bagaimana keadaan namja manis itu? Belum sempat Siwon bangkit, ada celotehan berbisik di balik tirai yang memisahkan setiap ranjang.

"Buat senatural mungkin. Wajahnya pucat, jadi tambahkan sedikit blush on." Itu jelas suara yeoja.

"Lipgloss?"

"Tidak perlu. Bibirnya sudah merah."

"Tapi kering! Sedikit saja sebagai pelembab. Kapan lagi kita bisa begini?"

Kening Siwon semakin berkerut. Apa yang sedang mereka lakukan? Make up pengantin? Di UKS?

"Ah ya! Apa kau memotret dengan bagus tadi?"

"Yaa.. tapi kita tidak mendapat foto mereka berciuman. Tangan Jessica menghalanginya. Ada juga yang buram."

"Aiish! Kenapa kau tidak close up? Lalu bagaimana dengan rate M?"

"Kita punya yang terbaik!" Lalu mereka terkikik bahagia.

"Tapi apa tidak apa-apa? Kasihan Kyunnie."

"Eum, aku juga khawatir. Dia belum juga bangun dan kepalanya sampai terluka."

"Aku ingin marah pada namja itu. Tapi dia tampan sekalii!"

"Yeaah… Siw-…"

Siwon cepat-cepat menyibak tirai dan membuat kelima yeoja itu terkejut. "Apa yang kalian lakukan?" Dengan curiga Siwon bertanya. Lima yeoja yang memegang lip gloss, kotak make up, kamera, dan gunting di UKS tentu saja mencurigakan.

"Dia lebih tampan dari dekat!" Krystal menahan nafas.

"Kuulangi, apa yang kalian lakukan?" Siwon mencoba mengintip seseorang yang terbaring di ranjang UKS itu. Dan dalam sekali lihat, Siwon tahu surai caramel itu milik Kyuhyun. Dengan cepat namja tampan itu melompat dari tempat tidur.

"YAK! Apa yang sudah kalian lakukan?!" Siwon menuding Kyuhyun yang pingsan di ranjang UKS. Wajah cantiknya diberi polesan dan lipgloss di bibir merahnya. Mendengar bentakan Siwon, para yeoja itu berjengit terkejut dan memilih mundur perlahan. Tak lupa Seohyun mengambil foto wajah marah namja tampan itu. Dan Siwon hanya dapat menghela nafas ketika mereka pergi.

Seperti magnet, Siwon tidak dapat menahan matanya untuk terpaku pada Kyuhyun yang pingsan. Dalam hati Siwon mengakui betapa Kyuhyun sangat menawan, dia tidak heran betapa menumpuknya fans namja manis itu. Tangannya terangkat membelai helaian coklat Kyuhyun. 'Lembut...'

Siwon agak kasihan juga melihat plester luka di kening Kyuhyun, mungkin terantuk meja atau lantai. Dan biar bagaimana pun ini salahnya. Jari-jarinya menyingkirkan rambut Kyuhyun yang menutupi dahinya.

Tapi tiba-tiba gerakannya terhenti. "Eh?"

Ada satu lagi luka di balik helaian rambutnya. Luka yang lebih besar dan mungkin robek. Apa ini juga karena insiden tadi? Tapi ini mulai menutup dan jelas bukan luka baru. Apa Kyuhyun kecelakaan?

Siwon mencoba mengabaikannya dan memilih menghapus polesan-polesan di wajah polos Kyuhyun. Setelah memudarkan blush on, Siwon mengusap bibir merah Kyuhyun dari lip gloss dengan jempolnya. Namja itu tidak bisa menahan senyum saat membayangkan bagaimana jika bibirnya bersentuhan dengan bibir lembut Kyuhyun.

Tapi gerakan jempolnya terhenti saat ada hazel yang menatapnya memicing.

"Apa yang kau lakukan dengan bibirku, Ahjussi mesum?"

.

.

.

.

Seoul cukup hangat hari itu. Meski senafas angin dingin berhembus membekukan, bias cahaya hangat yang menelusup di sela-sela pohon rindang membuat Yunho memilih meninggalkan mantel di mobilnya. Harusnya sekarang namja tampan itu berada di perusahaan dan mengatur jadwal presdirnya. Tapi ada yang lebih penting saat seseorang kini duduk bersisian dengannya. Menggenggam secup coffee dalam percakapan yang sudah lama tidak terjadi.

"Ada sedikit masalah di sana. Mereka mulai kembali mencari."Orang itu berucap tanpa basa-basi.

Yunho terkekeh. "Siapa? Yang sudah mati?"

"Orang-orang itu sudah menyebar di Jepang dan terus mencari. Kupikir kali ini lebih serius. Bagaimana keadaannya sekarang?"

"Baik-baik saja… setidaknya itu yang aku lihat."

Pria paruh baya di sisi Yunho menatap langit dan mengingat kembali seseorang dalam memorinya bertahun silam. "Atau setidaknya yang ingin dia perlihatkan. Bukan begitu?"

"Bagaimana pun itu, aku hanya ingin dia aman. Mereka melukainya terlalu banyak." Desis Yunho dan cup kopi itu dia remas hingga mengkerut kehilangan bentuk.

"Bagaimana dengan Kibum? Dia pewaris dan saudara kembarnya. Kau pikir ini akan mudah?"

Yunho menghela nafas. Ada sebentuk rasa lelah dalam suaranya. "2 bulan lalu dia demam dan terus memanggil Kibum."

"2 bulan yang lalu Kibum di sekap dan sempat di bawa ke China. Ikatan mereka terlalu kuat. Bahkan jika Kyuhyun membenci Kibum, dia pasti merindukan kakak kembarnya. Kau harus pahami itu, Yunho-ya." Pria di sisi Yunho berujar tenang. Tidak sekacau pikirannya tentang takdir yang membelenggu mereka. Yunho menatap cup coffe kusut di genggamannya.

"Mereka tetap berbahaya…"

.

"…dan aku akan melindungi Kyuhyun apapun caranya."

.

.

.

.

'Hyung ada proyek di Gyeongnam. 6 hari. Mian tidak sempat memberitahumu. Kurasa kartu kreditmu lebih dari cukup. Jaga diri, Kyu.'

Kyuhyun hanya mengetikkan 'Hati-hati' sebagai balasan. Hazelnya merambahi halte bus yang kini hanya berisi beberapa orang dengan payungnya yang menutup. Yunho sekarang ada di Gyeongnam, itu berarti Kyuhyun tidak perlu pulang ke rumah dan menyusun scenario agar Yunho tidak khawatir. Saat sebuah bus berhenti di depannya, Kyuhyun tidak ikut naik. Namja manis itu memilih menyandarkan punggungnya dan menarik nafas panjang. Sudah lama, dan sekarang dia merindukan kakaknya. Dan sudah sangat lama, sejak terakhir kali Kibum menatap matanya. Tetapi seberapa lama pun, sebentuk senyum itu tidak pernah hilang. Tersimpan rapi di kotak memorinya yang tenggelam, yang dia jaga meski berusaha dia tinggalkan. Berdebu termakan waktu.

Jam yang melingkari pergelangannya membidik angka 4. Dan akhirnya Kyuhyun memilih bangkit saat sebuah bus berhenti di depannya. Mungkin dia lebih baik menemui Donghae. Dengan melihat Donghae, setidaknya sedikit rindunya pada Kibum dapat tersampaikan.

.

.

.

Semua terlalu senyap dalam ruang gelap itu. Tidak ada sebias cahaya, semua hitam. Hingga dia tidak tahu apa hujan sudah meninggalkan senja, matahari yang beranjak hilang, atau malam yang menanti fajar. Dalam gelap yang merengkuh setiap sudut ruangan itu, Donghae hanya mendengar detik jam. Yang berdetak lambat. Hanya itu, terlalu senyap hingga Donghae bisa mendengar gema pikirannya sendiri. Ada sebuah nama. Yang berbisik menyentuh memori berdebunya. Donghwa, nama yang mati 8 tahun lalu…

Sekarang berbeda, matanya memanas tanpa air mata. Donghae memilih menekuk lututnya dan menyembunyikan wajah kosongnya di sana. Dia merindukan Donghwa, dia melukai Kyuhyun. Ada kelam yang menyesakkan dadanya, Donghae sedih, rindu, marah, geram, dan kecewa. Hingga seperti mati rasa.

Andai saja Donghwa tidak bertemu Kyuhyun, andai saja dia tidak mengijinkan Donghwa pergi, dan masih banyak 'andai saja' yang membayangi Donghae. Di mana akhir dari semua itu adalah satu nama. Cho Kibum.

Donghae kembali melesakkan kepalanya saat terdengar gemuruh petir. Sepertinya hujan kembali turun. Matanya yang kosong tampak mati. Dengan nama Donghwa yang menggema di telinganya. Hanya satu hal yang Donghae butuhkan saat ini, dia butuh Kyuhyun.

.

.

.

.

Flashback

Kibum merangkak naik dan menapak di bingkai jendela Kyuhyun. Hanya inilah jalan yang dapat dia lalui jika tidak ingin ketahuan saat keluar diam-diam. Meskipun berada di lantai 2, jendela kamar Kyuhyun dekat dengan tangga taman yang menghubungkan dengan kamar orang tuanya. Kibum baru saja pulang setelah mengikuti penyelundupan diam-diam di salah satu sektor sentral ayahnya. Tidak ada yang tahu sang tuan muda keras kepala itu berbaur dalam komplotan yang berpencar saat itu. Menyumbangkan sedikit peluru, tidak apa-apa kan? Kibum hanya ingin bersenang-senang.

"Sssh…" Kibum meringis ketika kakinya akhirnya menapak karpet di kamar Kyuhyun yang gelap. Bagian rahang kirinya terasa perih, tadi dia mendapat sayatan kecil di bagian itu. Kibum baru akan melangkah keluar kamar sebelum dia mendengar satu suara dari gundukan selimut di atas ranjang.

"Euugh…" dan Kyuhyun yang dibungkus selimut itu kembali melenguh.

Hanya cahaya dari lampu tidur di sisi ranjang yang menerangi wajah adiknya ketika Kibum mendekat. Kyuhyun tampak gelisah dalam tidurnya. Meskipun berkulit pucat, Kibum tahu adiknya kini tampak terlalu pucat, dahinya juga berkeringat. Saat Kibum lebih mendekat, dia dapat melihat darah yang keluar dari hidung Kyuhyun. Mata hitamnya agak terbelalak meski masih dengan wajah datar.

Kibum menyentuh kening Kyuhyun. 'dia demam.' Dan jari-jarinya beralih mengusap darah yang keluar dari hidung Kyuhyun. 'Dasar lemah..'

Kibum menarik jarinya saat Kyuhyun bergerak, sebelum akhirnya hazel itu memandangnya sayu. "H-hyung?" Kyuhyun berbisik setengah sadar. Dan Kibum tetap memandangnya datar.

"Cih."

Kyuhyun menelisik penampilan kakaknya dan beralih menatap jam kecil di nakas. "Ini sudah larut. Appa akan marah kalau tahu."

Kibum memutar bola mata jengah. "Berhenti sok peduli. Aku per-…"

"Hyung!" Perkataan Kibum terhenti ketika adiknya itu tiba-tiba bangkit dan meraih wajahnya.

Kyuhyun menatap noda darah yang kini mewarnai kaos coklat Kibum dengan cemas."Kau terluka!"

Kibum hanya dapat diam ketika Kyuhyun cepat-cepat turun dari ranjang dan meraih kotak P3K di sisi lemarinya. Ternyata matanya tajam juga.

"Berlebihan." Kibum mendengus ketika Kyuhyun mengusap lukanya dengan alkohol. Sangat lembut dan hati-hati.

"Soora ahjumma bilang ini akan infeksi. Dia yang mengajariku."

"Dasar manja." Kibum menatap Kyuhyun sinis, tapi dia tetap diam ketika adiknya itu membersihkan lukanya. Dari dekat seperti ini, Kibum dapat melihat wajah Kyuhyun yang pucat dan nafas yang terengah. Juga dari terakhir dia perhatikan Kyuhyun tidak sekurus ini.

"Hyung… tolong jaga dirimu baik-baik. Aku tidak suka melihatmu terluka." Ucapan Kyuhyun membuat Kibum beralih menatap Kyuhyun tepat di matanya.

Kibum berdecih jengkel. "Kau mimisan."

"Mian." Kyuhyun mengusap hidungnya sekilas sebelum kembali mengobati Kibum. "Ini luka sabetan. Kau menyerang jarak dekat, Hyung?!" Tapi tiba-tiba Kibum menyentak kasar tangan Kyuhyun dan menatap tajam adiknya. "Berhenti peduli, sampah!"

Saat tubuh Kibum menghilang di balik pintu, Kyuhyun tidak bisa menahan setetes air matanya menitik jatuh.

.

.

.

.

Kyuhyun masuk dan menemukan Donghae yang duduk di sudut ruangan. Kamar ini lebih gelap, mengalahkan seluruh isi rumah yang benar-benar tanpa penerangan saat dia masuk. Kyuhyun melangkah mendekat, cahaya ponselnya dapat menyorot jelas pandangan kosong Donghae.

"H-hyung?"

"…." Donghae diam, dan dengan segera Kyuhyun memeluk Donghae, tidak peduli bahkan jika Donghae ikut basah.

"K-kyu? Hyung takut."

Tangan pucatnya mengusap punggung bergetar Donghae. "Tak apa, hyung. Aku disini."

.

.

.

.

Onyxnya menatap lembar kusut foto dengan hazel yang balik memandangnya. Foto itu terselip di antara lembar buku lamanya. Entah bagaimana bisa berada di sana, tapi dia tidak peduli. Sebilah seringai mengembang di bibirnya. Ketika seseorang di ujung sana memanggil namanya, dia baru sadar panggilan masih terhubung.

"Ne. Aku akan ke Korea. Hiruko-san bilang keadaan memburuk."

'Kenapa tiba-tiba, eoh? Dari dulu kau terus menolak.'

Dia tertawa kecil. "Ada yang menungguku."

'Haah… siapa lagi, eh? Terserah. Jangan membuat masalah, Kibum.'

Kibum kembali tersenyum miring. "Ani. Aku tidak akan membuat masalah."Onyxnya menatap foto itu dan membayangkan bagaimana sosok dalam foto itu sekarang. Apakah hazel itu akan tetap memandangnya seperti 8 tahun lalu? Ah, dia tidak sabar menjejak kembali Negara di mana semua masa lalunya tersimpan dan menunggunya kembali. Kibum tentu tidak berdiam diri selama ini. Semua ada waktunya, dan inilah saatnya.

Hyung datang, saeng…

.

.

.

TBC

Chapter selanjutnya? Hanya update jika review mencukupi. Serius.

.

Ini Chap paling panjang sampai saat ini.

Oke. Menurut Lyra penulisannya lebay dan alur lambat. Reader setuju kalo Lyra ubah? .-.
Tolong kasih saran buat gaya penulisan Lyra, Lyra kan pengen ngasah bakat. Lyra ga pede ama Gaya pnulisannya, Jadi susah kalo mau nulis.

Lyra tahu ini sangat terlambat. Terakhir update 2015, eh sekarang udah 2016. Kayaknya Lyra emang bakal update setaun sekali. And… Saengil Chukkae Hambnida, BabyKyu! Bahkan walopun kamu ubanan, renta, keriput, ente tetap our baby yang paling imut! XD. Panjang kalo Lyra tulis semua doa Lyra, yang jelas semoga our babyKyu bahagia dan semakin sukses berkarir.

Sebenernya, Lyra udah nyiapin ff broMily special ultah Kyu. Tapi belum keburu selesai. Ranking Lyra anjlok seanjlok-anjloknya, jadi sibuk sebagai bahan bullyan di sekolah #PLAK!malahcurhatXD.

Ah ya, ada reader yang nanya, Lyra kan bilang udah umur 31, kok pas ultah malah 14? Oke, Lyra ngaku, Lyra nulis ff The One pas umur 13 taun. 31 Cuma umur samaran supaya tampak dewasa gituu…U.U Jangan salah paham lagi, oke?

Juga, Lyra kekurangan plot. Jadi kalo reader punya saran plot, jangan ragu buat bantu Lyra ne? Kalo cocok sama alur, bakalan Lyra pake. Hohoho…

Review yoo! Ongkos buat update next chap. Mian, Lyra ga bakal update kalo silent reader masih bejibun kayak chap kemaren.

.

Balasan Review. Yang punya akun udah Lyra balas di PM. Lyra terhura bgt ama review-review kemaren. Tapi cukup kecewa juga sih, Siders bejibun masyaAllah…T.T

Nanakyu : Thanks juga udah review chingu ^^. Ini udah update walopun udah setaun. Moga suka ya. Mian, Gumawo #Bow.

Songkyurina : Kenapa Kyu disiksa? Karena Lyra suka nyiksa Kyu. Kibum hyungnya, Donghae siapa? Mereka sama-sama suami Lyra, tenang aja U.U. Keluarganya Kyu kemana? Lagi ngelamar Lyra #plak!. Kenapa aneh? Karena yang nulis namanya Lyra, mwohoho… becanda, semua bakal terjawab seiring berjalannya cerita. Kalo diperhatiin, disini ada jawabannya, chingu. Gumawoo…^^

Evagyu : Baca review chingu bikin Lyra lompat-lompat, jungkir balik, mati di TKP #eh?. Ini udah lanjut, semoga suka yaa… Gumawo ^^

N714CH : Aaah, chinguuu… Lyra ngefly baca review chingu. Banyak nanya juga gpp, Lyra malah seneng XD. Kyu tinggal sama Donghae krn dongee butuh dia. Kalo soal ucapan Donghae, itu masih rahasia yaa. Jonghyun ga bilang karena ada alasan tertentu, soal masa lalu. Eommanya Kyu Cuma masih dalam pros penyembuhan. Yunho juga jadi kunci penting di sini. Dan soal Kibum, dia udah nongol tuh. Ehehe, nanti semuanya kejawab kok seiring berjalannya ff ini ^^.

Soal Uas, hohoho… Lyra anjlok, huweee…T.T tapi gpp, toh masih sem 1 .-. Gumawoyooo chinguu…

Kyu Chocho : Dia mau disiksa karena punya hutang. Keluarga Kyu masih rahasia yaa. Terus eomma Kyu tuh di rs. Nanti semua kejawab kok chinguu. Gumawo reviewnya…^^

Guest1 : Tenang aja, Lyra Cuma psycho ke si GembilKyu kok. Moga suka ya..Gumawo, chingu…^^

Hanna Shinjjiseok : Ouuh, akhirnya ada yang manggil Lyra eonni XD. Kayaknya chingu yang paling ngerti Lyra. Kyu emang berusaha berdamai ama takdir, trima ini, trima itu. Yeaah, walopun sakit sih. Gumawo reviewnya…^^

Yuyunkyu : Moga masih berminat ama ff ini aneh ini ya XD. Tenang aja, ini Wonkyu pure kok. Siwon pasti bakal ingat, Kyu terlalu berharga buat dilupain #ciebahasanyaXD. Gumawo udah menghargai karya Lyra…^^

Martincho : Jangankan Chingu, Lyra authornya aja bingung ama ceritanya. Awal emang masih muter-muter, kuhehe… ini udah lanjut. Moga suka ya, Gumawoo…^^

Guest2 : Ini udah lanjut. Mian setaun nanggung, hohoho. Gumawo…^^

LYRA, 3 feb 2016