Jongin menghela nafas bosan, liburan sudah berjalan selama 3 hari tapi lama sekali rasanya. Yah, kuliah Jongin sudah selesai untuk semester ini—salahkan otaknya yang begitu jenius sehingga sudah dapat duduk dibangku kuliah sedangkan Kai, masih berada di bangku kelas 3 SHS—Jongin telah menyelesaikan seluruh SKSnya agar bisa santai setelahnya namun kini ia malah bingung ingin melakukan apa. Liburan keluar negeri? Jika pergi sendirian tanpa Kai akan sangat membosankan ditambah sebenarnya ia harus menjaga noonanya yang lebih tua 3 jam itu karena orang tua mereka sedang mengurus pekerjaan di Jepang. Pfft… ia lah dongsaeng disini namun malah ia yang harus bertindak dewasa dan menjaga gadis tengil itu.

Jongin akhirnya menyerah dengan kebosanannya. Ia mematikan PS4nya dan mengambil jaket serta peralatan gambarnya—ya, namja tampan ini sangat terobesi dengan dunia gambar. Ia bahkan memiliki cerita webtoon yang digilai banyak orang—lalu beranjak keluar kamar. Lagipula ia masih punya banyak waktu sebelum makan malam, jadi ia memutuskan untuk melukis sebentar ditaman dekat rumah.

.

"Achoo!" Kyungsoo reflek menggosok hidungnya yang terasa gatal. Ukh—pasti hidungnya sudah memerah sekarang. Ia meringis malu dan menunduk meminta maaf pada penumpang bus lain yang menatapnya terkejut. Yah, walaupun gadis mungil dan cantik ini terlihat begitu anggun, namun suara bersinnya sangat mengagetkan. Kyungsoo terkadang malu sendiri namun ia bisa apa? Namanya bersin kan tidak bisa ditahan. Yang ada malah berbahaya. Kyungsoo jadinya teringat perkataan oppanya yang menyebut bersinnya seperti suara halilintar. Sialan memang. Oppanya memang menyebalkan dan bermulut pedas, ditambah dengan sifat mesumnya yang tidak cocok dengan wajah innocent yang dimilikinya. Namun Kyungsoo sangat menyayanginya.

Kyungsoo mengambil syal putih dari ransel dan melilitkannya di leher dan bahunya. Menjaga agar tubuhnya tetap hangat dan menghalau rasa dingin yang bisa menyebabkan flu menyerang. Kyungsoo sudah tau saja dengan kondisi tubuhnya yang tiap musim gugur akan terkena flu. Gadis ini menghela napas. Biasanya, setelah ia sembuh malah menular ke Dio—oppanya—dan menyebabkan mereka berdua kalang kabut menjaga satu sama lain dengan hidung yang memerah dan tersumbat. Tiap Dio mengomel dan menyalahkannya, Kyungsoo akan bilang kalau itu merupakan ikatan batin antara keduanya—yang dibalas dengusan oleh Dio—yah namanya juga saudara kembar. Ada ada saja masalahnya. Namun itulah yang membuat mereka tak terpisahkan. Terlebih mereka hanya tinggal berdua di Seoul ini untuk kuliah, karena kedua orangtua beserta dongsaeng mereka—Kangwoo—tinggal di kampung halaman di Busan.

Tak terasa bus telah berhenti di dimana Kyungsoo harus turun—ia harus berjalan sekitar 500 meter menuju apartemennya dan biasanya gadis itu akan berhenti disebuah coffe shop dan duduk-duduk di taman menikmati matahari terbenam. Yeah, she's obsessed with sunset.

Setelah mendapatkan coffe and cream-nya, Kyungsoo duduk dengan manis di ayunan yang tersedia ditaman. Menatap sekeliling seraya melepas rasa lelah sehabis berkutat dengan diktat kuliah yang tiada habisnya. Menghirup minuman hangat ditangannya sedikit demi sedikit dan tersenyum kecil—rutinitas inilah yang sangat disukainya. Sampai sebuah tangan kecil menarik ujung roknya. Kyungsoo sedikit menunduk mendapati seorang bocah lelaki dengan pipi gembil menatapnya dengan tatapan menyebalkan—sebenarnya bocah ini sangat menggemaskan, namun pada dasarnya gadis pendek ini saja yang begitu membenci anak-anak. Anak anak itu bandel, cengeng, dan merepotkan, pikirnya. Lah, memangnya dia tidak pernah menjadi anak-anak?

"waeyo?" Tanya Kyungsoo acuh.

"ayunan ini milik Hunnie, nuna harus menyingkir." Bocah berambut mangkuk yang sepertinya berumur 5 tahun itu menatap Kyungsoo dengan bibir mengerucut imut. Namun tetap saja menyebalkan—menurut Kyungsoo saja.

"enak saja, aku lebih dulu duduk disini. Cari ayunan lain sana." Usir Kyungsoo malas sambil menyeruput kembali kopinya. Namun bocah kecil itu tidak menyerah begitu saja, ia menggoyangkan ayunan Kyungsoo—kebetulan juga gadis itu tidak sedang memperhatikan—dan membuat kopi panas itu tumpah ke rok putihnya.

"akh.." Kyungsoo berjingkrat merasakan panas dari kopi yang masih mengepul. Dan emosinya tiba-tiba naik begitu saja. "YA!"

Selama ini, walaupun Kyungsoo kesal dengan anak-anak, dia tidak pernah membentak—palingan ia hanya pergi begitu saja—namun kali ini ntah mengapa ia bersikap begitu tidak dewasa—mungkin karena kopi itu sangat panas dan lagi mengenai rok putih kesayangannya.

Bocah kecil yang menyebut dirinya Hunnie itupun terkejut dengan nada tinggi Kyungsoo, seperti bocah lainnya yang akan menangis saat dibentak, mata bocah inipun mulai berkaca-kaca dan bersiap untuk meledak dalam tiga…dua..sa—

"HUAAAA!"

Tu.

Kyungsoo bahkan belum selesai menghitung.

"chogiyo, ada apa ini?" suara seorang namja mengambil alih perhatian Kyungsoo dan si bocah yang langsung berhenti menangis. Seorang namja tampan berkulit sedikit matang, berambut hitam legam dengan kacamata minus berframe tipis—yang menambah kadar pesonanya—juga buku sketsa di tangan kanannya.

Astaga—tampan sekali seperti actor blue film kesukaan Dio yang diam diam diintip Kyungsoo.

"ah—ini.."

"NINI HYUNG! HUEEEE" belum selesai Kyungsoo berkata-kata, bocah huni huni itu segera berlari dan menerjang lelaki tersebut. Menangis sesenggukan sembari memeluk kaki si namja dan menunjuk Kyungsoo dengan tatapan menuduh.

"sehun? Sedang apa disini?" Tanya si tampan yang ternyata namanya aneh itu bingung. Tampan tapi namanya NINI? Ukh, lupakan.

"Hunnie ingin main ayunan tapi noona itu merebutnya. Lalu dia memarahi Hunnie" Ujarnya dengan wajah dibuat sememelas mungkin. Kyungsoo langsung bete. Hancur sudah imagenya dihadapan si NINI tampan.

Namja tampan itu berjongkok dan mengelus kepala Bocah itu sambil tersenyum lembut—bocah itu yang disenyumi tapi kenapa Kyungsoo yang gemetaran? "yakin noona itu yang merebutnya?"

Si Bocah mangkuk menundukkan kepalanya. "tapi itu ayunan milik Hunnie, Nini hyung."

Nini hyung tertawa gemas sambil mencubit pipi Sehun pelan, "tidak boleh seperti itu. Semua yang ada di taman ini milik bersama, Hunnie. Lagipula kan masih ada ayunan yang lain." Tunjuknya pada ayunan yang masih kosong. "lain kali tidak boleh seperti itu, arrasseo? Lihat. Sehunnie membuat rok noona itu kotor."

"arraseo hyung."

"jika Sehunnie bersalah maka harus melakukan apa?"

"Hunnie harus minta maaf, hyung!" Ujarnya semangat.

"nah, sekarang ayo minta maaf pada noona."

Bocah itu berdiri dihadapan Kyungsoo dan menunduk, "Hunnie minta maaf, noona. Nonna jangan marah lagi ya."

Kyungsoo yang sedari tadi kehilangan focus karena sibuk menatapi wajah si Nini tampan dan berkhayal betapa cocoknya si tampan menjadi seorang appa yang menyenangkan—ah serasa ingin punya anak darinya—batin Kyungsoo tidak tahu malu. Ia terkesiap dan tersenyum canggung, "n-ne, aku maafkan."

"sekali lagi saya minta maaf, agasshi. Atas kenakalan Sehun. Apa perlu saya ganti rugi mebayar laundry?"

"T-tidak perlu repot-repot ehm saya juga m-minta ma-maaf." Memang sifat dasarnya Kyungsoo yang sulit meminta maaf, sampai sebegitu canggung saat mengucapkannya.

"kalau begitu saya permisi." Tanpa menunggu balasan Kyungsoo menunduk dan berjalan cepat menuju apartmentnya—ia melepaskan cardigannya dan meilitkannya di pinggang—menutupi roknya yang sudah berubah warna. Biarlah dingin toh sebentar lagi sampai, pikirnya.

Sambil memikirkan wajah si Nini tampan—astaga apa benar itu namanya? Kyungsoo sedikit ragu dan bodohnya ia tak bertanya—Kyungsoo melanjutkan perjalanan pulangnya.

Hari ini sedikit menyenangkan, walau ia tak sempat melihat sunset.

"ACHOO!"

Lupakan.

.

Jongin kembali pada rutinitasnya, setelah membelikan Sehun—si anak tetangga yang dekat dengannya—permen kapas, akhirnya Jongin bisa kembali menggambar dengan tenang. Namun alih-alih melanjutkan gambar webtoonnya, Jongin lebih tertarik untuk membalik halaman buku sketsanya dan menggambar seseorang. Ekhm, gadis imut yang tadi ditemuinya adalah objek gambar Jongin kali ini. Gadis itu sangat unik, fikir Jongin. Matanya sangat besar dan bibirnya lucu berbentuk hati. Jongin jadi gemas sendiri. Tanpa sadar ia tersenyum dan sketsa wajah itu sudah separuh jalan dibuatnya.

"Hyung suka noona galak tadi ya?" suara cempreng Sehun mengagetkan Jongin yang sedari tadi sibuk dengan dunianya.

"ah, annieyo Hunnie. Inikan gambar gadis bermata burung hantu."

"mata burung hantu?"

"yap. Karena matanya besar mirip burung hantu. Itu adalah karakter komik baru hyung."

"benarkah? Tapi gambarnya mirip dengan noona tadi."

"mungkin kebetulan saja."

"apakah Hunnie boleh melihatnya jika sudah selesai?" Jongin hanya mengangguk mengiyakan.

"YEAY!" Jongin segera menutup bukunya untuk mengalihkan pembicaraan.

"sudah sore, ayo hyung antar pu—"

"apakah yeoja bermata burung hantu bisa terbang juga, hyung?"

"hah?" Jongin mendadak bingung. Ternyata Sehun excited dengan cerita bohongannya.

"yang hyung gambar tadi. Apakah ia bisa terbang? Seperti burung hantu."

"ah ya, kurasa." Astaga kalau sudah begini, Jongin harus membuat komik baru karena Sehun akan mendesaknya.

Drrt..drrtt..

Ponsel Jongin bergetar dalam saku celananya, ia segera mengangkatnya.

"Yobosseyo, ne ahjumma." Ternyata itu maid dirumah Jongin.

"mwo? Kai belum pulang?" Jongin menatap jam tangannya, gadis itu seharusnya sudah dirumah sejak 1 jam yang lalu.

"aku akan menghubunginya." Jongin memutuskan panggilan. Namun sebelum ia menekan nomor Kai, sebuah panggilan kembali masuk ke ponselnya.

Xi Luhan calling…

"ne, ada apa Lu? Apa Kai bersamamu?" balasan Luhan disana membuat Jongin terkejut.

"lalu? Kau yakin ia diserang?" Jongin menjaga ekspresinya tetap tenang.

"aish. Dimana kau sekarang? Aku akan menyusul." Setelah mendapat jawaban dari Luhan, Jongin segera beranjak dan bersiap untuk pergi.

"Hun-ah, ayo hyung antar pulang." Tanpa menunggu balasan dari bocah itu, Jongin segera menggendongnya dan bergegas kembali ke apartement.

To Be Contiuned