"Dokter!" Dio berlari memasuki UGD dengan si gadis-HOT di gendongannya. Seorang suster dan dokter magang-terlihat dari nametagnya—mengekor dibelakang dan membantu Dio menidurkan gadis itu.
"tolong selamatkan dia" aku tidak rela dia mati sementara aku belum berkenalan, lanjut Dio dalam hati.
"kami akan berusaha, tuan." Saat mereka melakukan pertolongan pertama, seorang wanita berjas putih datang mendekat.
"bagaimana kondisinya, Jimin?" dokter cantik bereyeliner itu bertanya kepada si dokter magang sembari mengecek detak jantung gadis itu dengan stetoskopnya.
"beberapa luka lebam dan ringan di beberapa bagian tubuh, Dokter Byun. Saya curiga terjadi benturan di kepala dan pendarahan dalam."
"bagus. Aku akan melanjutkan pemeriksaan. Kembali berjaga." Dokter magang itupun mengangguk dan berjalan pergi. Duh serius sekali, batin Dio. Seperti di drama kedokteran saja.
Astaga, anak ini. Masih sempat-sempatnya dia berfikir seperti itu.
"KAI?!" dokter Byun tadi memekik kaget saat melihat wajah pasiennya yang tak sadarkan diri—sedari tadi ia terlalu sibuk sampai tidak memandang wajah gadis itu.
"YAK! NEO! Tunggu diluar dan jangan kemana-mana" Dio terkejut luar biasa saat mendengar dokter itu berteriak—ini bahkan lebih menggelegar dari bersinnya Kyungsoo—Dio segera keluar dari UGD dan memutuskan untuk menunggu diluar. Dia khawatir sebenarnya dengan si rambut ungu itu. Dan lagi sepertinya dokter tadi mengenal gadis itu. Kai? Itukah namanya? Unik sekali. Namanya sama seperti Dio—hanya memiliki 3 huruf—Dio diam diam tersenyum bodoh, mungkin saja kami berjodoh, terlebih dia sangat seksi. Aku pasti sangat cocok dengannya.
Seseorang tolong pukul kepala namja bermata Doe itu—tolong sadarkan dia dari imajinasi liarnya yang mulai ngelantur kemana-mana.
"Achoo!" Dio mengusap hidungnya yang gatal.
Astaga.
Semoga Kyungsoo baik-baik saja dirumah.
.
"Luhan!" gadis bermata seperti rusa itu menoleh saat seseorang yang dikenalnya memanggilnya. Ternyata benar itu Jongin. Dongsaeng Kai itu berlari dengan wajah kusut menuju kearahnya.
"kau sudah menemukannya?" Luhan beserta Tao dan Minseok—geng preman Seondae HS itu menggeleng.
"dimana kalian terakhir bertemu?"
"saat akan pulang sekolah. Ia bilang akan menemui Kris lebih dulu." Balas Tao. Jongin menggertakkan giginya, geram. Sudah dia duga ada yang tidak beres dengan lelaki pirang itu. Jongin sudah berkali kali memperingati Kai, namun gadis itu—seperti biasa menganggap omongan Dongsaengnya itu sebagai angin lalu.
"ada ide kemana mereka pergi?"
"aku melacak GPS dari ponsel Kai." Minseok angkat bicara. "dan itu berakhir disini." Jongin menatap sekeliling. Sebuah kota mati dipinggiran Seoul.
"tempat yang sempurna untuk membantai Kai yang sendirian." Ucap Tao sarkartis. "kami sudah mengerahkan anak-anak lain untuk mencari. Sudah dipastikan ini perbuatan Hyoyeon. Di dalam gedung sana hanya ada beberapa bekas kayu dan besi, serta suntikan yang kurasa terkandung bius didalamnya." Jongin melotot kaget.
"dan kalian masih diam saja disini?! Dengan tenangnya memberi tahuku kalau Kai dibius dan dihajar habis-habisan begitu? Dan sekarang kita kehilangan jejaknya!"
"tenanglah, Jongin." Sahut Luhan kalem, "aku sudah mengerahkan orang suruhan ku untuk mencari keberadaan Yifan beserta Hyeoyeon. Dan kami sudah menghabisinya. Mereka bilang tidak ada Kai bersama Yifan"
"kemungkinan ia ditinggalkan begitu saja." Tao menggeram sambil mengepalkan tangannya. "setelah menemukan Kai, aku akan menyusul ke tempat Yifan."
"aku sedang melacak rumah sakit terdekat dari sini dengan nama pasien Kim Kai." Lanjut Minseok. "kita tunggu saja sebentar lagi."
Drrt..drrtt..
Ponsel Jongin bergetar dan ia buru buru menjawabnya.
"Yobosseo noona?" ternyata dari Baekhyun, sepupunya.
"mwo? Oke aku segera kesana."
"ada apa?" Tanya Tao.
"seseorang membawa Kai ke RS tempat Baek noona."
.
"siapa namamu?" Dokter cantik tadi keluar dari UGD dan berdiri dihadapan Dio yang sedang duduk menunggu di lorong.
"D-dio imnida" Dio langsung bangkit dan membungkukkan tubuhnya.
"dimana kau bertemu Kai? Apa kau temannya? Kau tahu apa yang terjadi?"
Dio sampai tergagap-gagap karna diserbu pertanyaan seperti itu "a-ah gadis itu..aku menemukannya di pinggir jalan. Didekat kota tua."
"apa yang kau lakukan disana?" interogasi dokter itu membuat Dio berkeringat dingin. "a-aku hanya lewat kok, dok! Sumpah! Kebetulan saja aku mendengar suara minta tolong dan aku menemukannya. Jebal jangan adukan aku ke polisi. Aku tidak ingin dipenjara" ucap Dio dengan tatapan memohon. Sebenarnya aku bertransaksi dengan si Taehyun bodoh itu. Tapi mana mungkin Dio sejujur itu.
"pfftt—" diluar dugaan—Dio kira dokter itu akan memarahinya lagi namun ia malah tertawa—"aku tahu. Aku juga tidak akan melaporkanmu, adik kecil."
"adik kecil? Aku ini mahasiswa, tau!"
"oh ya?" dokter itu menaikkan sebelah alisnya, "kau terlihat seperti bocah JHS dimataku."
"M-MWO?—"
"Kai baik-baik saja—setidaknya walau ia butuh perawatan intensif. Aku atas nama sepupunya berterimakasih padamu yang telah menolongnya."
"ah yeah, bukan apa—achoo!" Dio bersin seketika. Duh, dia benar-benar harus segera pulang dan mengecheck keadaan Kyungsoo.
"gwenchanayo?"
"gwenchana dok—"
"Baekhyun. Byun Baekhyun. Panggil aku begitu"
"baiklah Baekhyun-sshi. Kalau begitu aku permisi."
"sekali lagi terimakasih, Dio-sshi."
"Bukan masalah" Dio membungkuk sedikit dan dibalas oleh Baekhyun.
Setelah namja bermata Doe itu menghilang di parkiran, Baekhyun yang masih berdiri di lorong tersenyum kecil.
"he's cute" gumamnya sambil terkikik pelan kemudian berjalan kembali ke ruang UGD.
.
"is she okay?" Tanya Jongin sedikit panic pada Baekhyun yang sedang mengecek keadaan Kai di ruang inapnya.
"butuh beberapa minggu untuk pemulihan, lukanya tidak begitu parah, kurasa."
"Tao bilang ada kemungkinan dia dibius." Ujar Jongin.
"ya" Baekhyun mengangguk sambil memasukkan kedua tangannya di saku jas. "itulah yang menyebabkan ia tidak bisa melawan. Bukan bius yang berbahaya, hanya semacam obat untuk melemaskan tubuhmu. Tapi tetap saja, anak SHS mana yang memiliki alat seperti itu?"
Jongin menatap Kai sekali lagi lalu menghempaskan tubuhnya di sofa—bebannya serasa sedikit ringan melihat sudarinya dalam kondisi yang tidak berbahaya. "Yifan bekerja sama dengan musuh mereka, noona. Akh hubungan percintaan dan geng berandalan Kai membuatku sakit kepala." Jongin memegang kepalanya yang berdenyut.
"Yifan? Padahal dia sangat HOT. Aish" Baekhyun berdecak kesal. Ia kemudian ikut duduk disamping Jongin.
"kau sudah laporkan ke polisi?" Jongin mengangguk dengan wajah masam.
"lama-lama kau terllihat seperti Kim ahjussi jika memasang tampang seperti itu." Jongin hanya menampilkan ekspresi bete namun tidak menjawab.
"noona tidak menghubungi umma dan appa, kan? Bisa mati aku."
"tenang saja. Jika kondisi Kai masih aman ditanganku, aku tidak akan buka mulut."
"jinjja?"
"dengan satu syarat" Baekhyun memberikan gesture dengan telunjuknya.
"apa?"
"kenalkan aku dengan si tampan Park Chanyeol teman kampusmu." Jongin mendengus pelan. "dasar yeoja genit. Tapi baiklah, deal." Baekhyun tersenyum mendengar persetujuan Jongin.
"omong-omong, siapa yang membawa Kai kesini?"
"seorang superhero yang cute." Ujar Baekhyun sambil terkikik. "tapi karena ia terkena flu, maka ia harus pulang lebih dulu tanpa bertemu denganmu."
"what kind of super—"
"aku keluar ya, Jongin. Pasien menunggu si dokter cantik ini, bye!"
"yak! Noona! Setidaknya beritahu aku siapa—aish!" Jongin menatap pintu yang ditutup Baekhyun dengan kesal.
Sepeninggal sepupunya itu, Jongin duduk disamping ranjang Kai. Mengelus surai keunguan milik saudari kembarnya itu. Ia meringis pelan melihat lebam lebam di beberapa tempat ditubuh gadis itu, serta perban yang melilit kepala cantiknya.
"Kai, daripada kau berkelahi seperti ini. Sebaiknya kau jadi biarawati saja." Gumam Jongin kesal.
"aish! Liburan macam apa ini" ucapnya nelangsa. Jongin kemudian menenggelamkan kepalanya di lipatan tangan dan memejamkan mata—tertidur sambil menjaga saudarinya.
"cepatlah sembuh, Kai…"
.
"aku pulang!" seru Dio setelah menekan password apartment dan membuka pintu. Hanya keheningan dan kegelapan yang menyambutnya. Dio melepaskan sepatu, menggantung coatnya dan berjalan masuk. Astaga, kemana si Kyungsoo itu? Bahkan penghangat ruangan tidak dihidupkan. Apa jangan-jangan ia belum pulang?
Dio mengecheck kamar Kyungsoo dan tidak mendapati tanda kehadiran saudarinya itu. Iapun mengambil ponselnya untuk menghubungi Kyungsoo—namun mengurungkan niatnya setelah melihat ponsel gadis itu tergeletak begitu saja diatas kasur.
Ceklek
Baru saja Dio ingin mengambil kunci mobilnya—untuk mencari Kyungsoo—terdengar suara pintu apartement terbuka. Dihadapannya berdiri Kyungsoo dengan wajah memerah sempurna.
"hai oppa." Dio melotot melihat tubuh Kyungsoo yang terlihat menggigil kedinginan. Ia segera memeluk Kyungsoo untuk menghangatkannya.
"kau dari mana hm? Mau bunuh diri, ya? Sudah tau tidak tahan dingin malah keluyuran" Kyungsoo terkekeh pelan mendengar omelan Dio.
"aku membeli obat flu di apotik de—ACHOO!" Dio yang memeluk Kyungsoo terkaget-kaget dibuatnya.
"ya Tuhan, jantungku." Dio mengusap kepala Kyungsoo. "kenapa tidak titip aku saja?"
"aku tidak tahu kau pulang jam berapa." Ujar Kyungsoo dengan suara yang semakin serak.
"kenapa tidak hidupkan pemanas?"
"malas."
Dio ingin mencubit pipi Kyungsoo—saking gemasnya namun dia tidak tega. "yasudah, ayo masuk."
Namun Kyungsoo menggeleng dalam pelukannya. "tidak bisa jalan lagi." Ucapnya lemas. "aku pusing."
"kugendong, ya?" Kyungsoo hanya mengangguk dan Dio segera menggendong Kyungsoo kekamarnya. Melepaskan coat dan sepatu gadis itu, serta mendudukkan Kyungsoo.
"jangan tidur dulu, kau harus ganti baju." Dio mengambil piyama Kyungsoo dari dalam lemari dan menyerahkannya pada gadis itu. Kyungsoo hanya menatapnya lemas dengan wajah memerah. Dio sudah memeriksa keningnya tadi, sepertinya sudah mulai demam.
"ganti baju dan tunggu aku bawakan soup." Tanpa menunggu jawaban Kyungsoo, Dio segera menuju pantry dan membuatkan soup—dua saudara kembar Do ini sangat ahli dalam memasak karena orangtua mereka adalah koki dan membuka usaha restaurant sendiri di Busan—menyiapkan kompresan serta obat yang harus diminum Kyungsoo.
Setelah semuanya beres, Dio membawa nampan tersebut kekamar Kyungsoo. Dia mendengus kesal saat mendapati Kyungsoo sudah tertidur dengan keringat mengalir di wajahnya. Mendesah kecewa karena gadis itu belum sempat makan, Dio meletakkan nampan di meja nakas kemudian mulai mengompres dahi gadis berambut kecoklatan itu.
"ehm—Ni—"
"mwo?" Tanya Dio bingung. Dia kira Kyungsoo terbangun namun ternyata gadis itu hanya mengigau.
"Nini hyung.." dahi Dio berkerut. Siapa itu nini?
"saranghae hihi" Kyungsoo tertawa kecil dengan panas tubuhnya yang makin menjadi jadi. Tangan gadis itu menggapai-gapai tubuh Dio untuk dipeluknya. Jadilah Dio terkurung dalam lengan gadis mungil itu.
Ukh
Ingatkan Dio untuk membawa anak ini ke psikiater saat demamnya turun.
To Be Continued
sedikit curhat gapapa ya^^
saya sedih lihat ff ini yang ngeview banyak tapi reviewnya memprihatinkan;_;
apakah ff ini tidak bagus? saya butuh saran dari teman teman bagaimana sebaiknya, apakah saya lanjutkan atau tidak. gak mau muna kalau review merupakan salah satu faktor pendorong saya untuk semangat menyelesaikan ff. (kadang habis ngepost saya sampai check review tiap 5 menit sekali hihi)
so.. if you guys like it. tell me, if you hate it, tell me.
ga mau maksa juga sih harus ngereview, terserah reader aja hehee
bye bye
-prettyace
