For A Thousand Years

Rate : T

Disclaimer : Naruto belong to Kishimoto sensei

Pairing : SasukexSakura

Warning : probably OOC, typo

Genre : Romance

Summary : Karena mungkin kita tahu bahwa kata selamanya hanya ada dalam dongeng belaka. Tapi aku tak pernah berujar bohong saat berkata aku mencintaimu. Hanya kadang aku kesepian, kadang lelah, kadang ingin berhenti.

.

Chap II: People Change

.

They said people change and no one can fight against the time

But when you hold me close and tight

I hear a magic speel that make everything feel so alright

So then I still love you

And you love me too

.

"Baka." Sai mengucapnya seringan pensil yang baru saja mendarat di kening Naruto. Ia menatap datar pemuda itu, lalu kembali ke sketsanya. Naruto sendiri meringis kesakitan, melotot ke arah Sai.

"Tsk, aku tahu! Aku juga menyesal setelahnya, tapi kau harus lihat kondisi Sakura-chan. Dia benar—"

"Dan itu urusan mereka, Naruto. Kita ini cuma pihak luar" Sai berkata nyaris tanpa emosi. Tangan kanannya meraih kaleng berisi catnya, memeriksa apakah masih ada isinya.

"Kita ini sahabat mereka, mana mungkin diam saja!" gerutu Naruto tak mau kalah. Dia menggigit burgernya besar-besar.

"Ya, kita ini sahabat mereka. Kau tahu apa yang dilakukan sahabat? Tidak ikut campur terlalu jauh. Apalagi menyuruh Sasuke untuk meninggalkan Sakura. Kau pikir itu membantu?" Sai agaknya menunjukkan emosi, tapi hanya sebuah kebingungan, tak lain karena isi kaleng catnya ternyata sudah habis.

"Aku…" Naruto menghela nafas lelah, "kesal pada si Teme itu. Dia nyaris tidak ada waktu sama sekali. Padahal kan itu pernikahannya. Masa aku yang memesan hotel, memilih jenis kartu undangan." Naruto mengingat saat ini dan kesal sendiri, "Sekalian saja aku yang ikut foto pre-wedding" Ia menghabiskan burgernya dalam sekali suap. Sai menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kesal Naruto.

"Iya, aku tahu." Ia ingat saat mendapat telpon Sakura kala diminta memilih kartu undangan yang tepat, sebenarnya Sakura menelpon Sai sebelum Naruto. Tapi karena sibuk menyiapkan pameran, Sai tidak bisa menemani gadis itu. Hasilnya, Naruto harus ikut karena design undangan harus masuk saat itu juga dan Sakura terlalu plin-plan untuk memutuskan apapun terkait design dan sesuatu berbau itu.

"Tapi kita harusnya cuma jadi pendengar. Paling jauh menengur, kalau kau tidak tahan hanya dengan itu, menendang bokong Sasuke. Tapi tidak memutuskan apa-apa" lanjut Sai. Kini, kuasnya meraih warna jingga, memolesnya di bagian ujung atas kanvasnya.

"Ya, aku tahu" gerutu Naruto pelan.

"Dan kau harusnya tahu watak Sasuke bagaimana. Pasti sesuatu terjadi di kantor dan dia bertanggung jawab penuh, entah proyek entah apa, aku juga tidak terlalu tahu. Tapi akhir-akhir dia selalu bepergian. Kau harusnya melihat ini dari sisi Sasuke juga" Naruto tidak menyahut, tapi ekspresinya berubah—sedikit.

"Sakura biasanya juga bisa menghadapi tingkah Sasuke seperti ini" Sai ingat saat ia dan Naruto kaget luar biasa karena ternyata selama hampir 6 bulan, Sasuke dan Sakura sama sekali tidak pernah bertemu. Alasannya tentu saja karena kesibukan masing-masing dan gadis itu sama sekali tidak tampak terganggu atau bersedih. Saat ditanya, dengan enteng ia beralasan kalau mereka toh masing saling menelpon. Dan itupun tenyata—Sai dan Naruto geleng-geleng kepala—hanya satu dua kali dalam seminggu.

"Ini pasti karena dia juga sedang lelah. Mungkin bosan dengan si dingin itu" Naruto memutar bola matanya, "atau stress karena pernikahan. Pernikahan sepertinya lebih rumit dari yang ia bayangkan" Naruto mengangguk-angguk, "dan karena Sasuke sibuk, ia jadi merasa sangat kesepian" Sai lalu memandang Naruto.

"Yang kita bisa lakukan hanya di samping mereka, terutama Sakura. Berusaha membuatnya berpikir sejernih mungkin." Naruto memandang Sai ragu, tapi tetap mengangguk.

"Ya, aku harap itu bisa membantu" sahut Naruto lemah.

"Mereka sudah menjadi kekasih lebih dari 7 tahun, Naruto. Wajar saja kalau mereka harus melewati fasa semacam ini" Sai masih membaca kecemasan di bola mata biru itu. Ia lalu menghela nafas, agaknya hanya ia yang bisa berpikir jernih saat ini.

"Mereka akan baik-baik saja, aku yakin"

"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, silahkan—" Sasuke menutup telponnya untuk kemudian menyambungkannya lagi. Tapi pemuda berambut hitam legam itu harus menelan kekecewaan kala lagi-lagi suara operator wanita lah yang menjawabnya. Tapi pemuda itu tetap mencoba, ini sudah kali kesepuluh dan masih tak berujung manis.

Diliriknya jam tangannya, 5 menit lagi presentasi proposal pengembangan bisnis yang selama beberapa bulan ini dia kerjaan. Ia mendengus kesal, memasukkan ponselnya ke dalam saku. Sepertinya dia harus melanjutkan usahanya menelpon tunangannya itu setelah presentasi selesai saja, atau mungkin lebih baik langsung ke rumah Sakura sekalian. Sasuke beranjak dari kursinya, mengambil beberapa dokumen yang sedari tadi di mejanya. Dan bergegas melewati pintu. Berusaha mengusir kegelisahnya sendiri.

…...

"T-shirt sudah. Sendal santai sudah, uhm… apa lagi?" Sakura membaca list yang baru saja dibuatnya, memastikan setiap benda yang berada di daftar tersebut sudah dimasukkan ke dalam koper coklatnya. Ia mengangguk-angguk, tampaknya semua sudah masuk kopernya. Tapi kenapa rasanya masih ada yang kurang?

"Ah! Topi!" Tentu saja ia butuh topi. Gadis itu bergegas menuju kamarnya, mengambil topi berwarna biru langit yang dia pajang di dinding kamarnya. Mengambilnya lalu segera memasukkannya ke dalam koper.

"Selesai!" katanya puas. Dia lalu menutup koper tersebut, meletaknya di ujung ruang tamu. Lalu menuju dapur, mengambil beberapa cemilan dan jus jeruk dingin. Menikmatinya sembari menatap televisi yang sedang memutarkan kartun kesukaannya, Spongebob Squarepants. Di layar kaca, Patrick sedang membuat kesal Squidward lagi. Dan dengan kesal, tokoh berhidung panjang agak di atas normal itu berteriak kesal bahwa ia butuh liburan.

"Ya, aku memang butuh liburan." Ekspresi penuh semangatnya langsung berubah drastis. Meski matanya terarah ke layar kaca, dia tak benar-benar menonton, otaknya berkelana. Gadis itu melirik ponselnya yang sejak kemarin dimatikan, ia sedang tak ingin menerima telpon dari siapapun, tidak Sasuke, Naruto, ataupun Sai, bahkan Ino. Dia sedang tidak ingin berkutat dengan pertanyaan atau permintaan maaf, atau saran. Sakura sedang tidak ingin memikirkan apapun terkait Sasuke, apalagi pernikahannya.

Sakura juga sadar betapa dirinya berubah akhir-akhir, entah kenapa ia menjadi agak cengeng, tidak rasional, kadang terlalu meluap-luap, bahkan saat ia sedang sendiri. Maka dari itu, ia harus melakukan sesuatu, apa saja yang bisa membuatnya tidak tampak menyedihkan atau berpikir menyedihkan. Di antara hal yang dia mungkin lakukan, liburan ada di daftar paling ia inginkan dari yang ia butuhkan. Ya, pagi ini gadis itu baru saja melayangkan surat cutinya. Hanya satu minggu, ia tidak bisa cuti terlalu lama. Ini cuti pertamanya selama ia menjadi dokter di rumah sakit Konoha. Dan sedikit banyak, gadis itu agak bangga—ehm.

Dan bagaimana urusan terkait pernikahan? Kedengaran agak gila, tapi Sakura tidak peduli. Entah akan berujung seperti apa, mungkin pernikahan mereka ditunda, mereka rugi jutaan yen, atau lebih parah pernikahan itu tidak jadi sama sekali, Sakura tidak peduli. Iya, gadis itu benar-benar yakin saat dia bilang ia tak peduli. Hal itu lebih baik, dibanding dia menikah tapi semua masalah masih mengantung, terkatung-katung dan membuat kepalanya ingin pecah.

Ting! Tong!

Lamunan Sakura terhenti seketika. Gadis itu buru-buru membuka pintunya. Disambut seorang lelaki menggunakan seragam, security apartemen, memandangnya dengan senyum tipis.

"Nona, taxi pesanan Anda sudah datang. Dia sudah menelpon Anda langsung tapi tidak aktif" Bodoh, Sakura baru ingat ia memberikan nomor telpon ponselnya—yang sedari tadi mati—dan bukan nomor telpon apartemen.

"Ah! Baik! Maaf sudah merepotkan, Akamichi-san. Saya segera turun" Pintu itu ditutup dengan cepat, Sakura langsung berlari, mematikan televisi, membersihkan cemilan yang tadi dia makan. Mengambil tas ransel hitam dari kamarnya lalu menyeret kopernya menuju pintu.

Ya, Sakura berangkat hari ini juga. Hanya selang beberapa jam setelah pertengkarannya dengan Sasuke. Hanya butuh kurang lebih dari dua jam untuk menentukan destinasi liburannya dan kurang dari 1 jam untuk meng-pack apa yang ia butuhkan.

"Ah! Passport-ku!" Ya, gadis bermakhkota musim semu itu akan berlibur ke luar negeri. Tepatnya ke tempat yang beberapa bulan lalu ia kunjungi untuk urusan pekerjaan yaitu konfrensi kesehatan tapi kali ini untuk liburan.

"Yip! Yip! Aku siap" Pintu apartemen itu tertutup agak keras. Dan seketika sunyi. Berjalan beberapa langkah dari pintu, akan didapati ruang tamu yang langsung berhadapan dengan jendela besar yang ditutup tirai. Di kursi ruang tamu, tepatnya kursi ujung, terdapat benda berbentuk kotak, berwarna merah muda dengan gantungan kunci berbentuk bunga musim semi. Tanpa sadar, gadis itu meninggalkan ponselnya. Sakura lupa membawa ponselnya.

"APA?!" Sangat jarang melihat Sasuke berteriak sekeras tadi, resepsionis yang baru saja menjelaskan kepergian sang penghuni, siapa lagi kalau bukan Haruno Sakura, harus menelan ludahnya ketakutan. Mata hitam yang biasanya mengundang pesona kini nyalang bak orang mengajak adu jotos. Sang resepsionis langsung pura-pura mengangkat telpon—padahal tidak bunyi—agak bisa lepas dari situasi menakutkan itu. Dan sama sekali tak berniat menghentikan pemuda yang berjalan cepat menuju pintu lift, sepertinya tunangan penghuni yang seenak jidatnya menitipkan pesan padanya itu akan ke apartemen Sakura.

Kaki Sasuke mengetuk lantai dengan tidak sabar kala lampu lift terasa sangat lambat berganti. Sasuke langsung melangkah cepat begitu bunyi ting berbunyi. Ia menekan-nekan password pintu yang begitu dihafalnya dengan terburu-buru, setengah berharap ucapan resepsionis tadi hanya kamuflase, cara Sakura untuk menghindarinya.

Dan jelas, dia merasa tak karuan, saat mendapati apartemen kosong melompong. Tirai menutupi semua jendela dan segala keadaan di apartemen itu menyiratkan bahwa memang tidak ada orang. Sasuke mendengus kesal, ia benar-benar tidak menyangka Sakura akan bertindak sejauh ini dan parahnya hanya beberapa jam setelah pertengkaran mereka. Ia merasa bersalah, sangat, tapi juga kesal sekali. Harusnya mereka menyempatkan waktu itu untuk bicara, memperbaiki semuanya, bukannya kabur.

Sasuke mengambil ponsel dari saku kirinya. Menekan tombol satu dan mengumpat karena lagi-lagi nomor Sakura tidak kunjung aktif. Sasuke tidak mencoba lagi karena ia tahu hasilnya pasti sama. Alih-alih ia memperhatikan sekelilingnya. Ada rindu yang tersimpan di mata itu, kesibukan tentang proyek yang baru saja ia presentasikan tadi pagi membuatnya tidak bisa berkunjung ke sini. Dan saat ia punya waktu, keadaannya malah seperti ini. Sasuke memijat pelipisnya, rasanya lebih pening dari berbulan-bulan bercengkrama dengan proposal dan rencana bisnis.

Dan pening itu kian membuat kepala Sasuke sakit kala mendapati ponsel yang terlalu familiar terletak manis di atas sofa. Sasuke hafal dengan kebiasaan lupa Sakura hal-hal sepele seperti ini, termasuk mengingat nomor telpon, sekalipun nomor telpon Sasuke sendiri. Tapi demi Kami-sama, ini bukan hal sepele. Sekarang bagaimana pemuda itu harus menghubungi tunangannya yang keras kepala itu dan bagaimana Sakura bisa menghubungi mereka, Sasuke tahu Sakura mungkin lebih memilih Naruto atau Sai saat ini. Ah, lagi-lagi pening, seperti ada sesuatu yang terus berdengung di kepala Sasuke, kala mengingat bahwa gadis itu tidak main internet—tepatnya media sosial. Kalau saja, ada karakter Naruto yang 'tercemar' di dirinya sedikit saja, Sasuke yakin dia sudah teriak seperti orang gila sekarang.

…..

"Aku pesan 1 jus jeruk dingin saja!" Sakura tengah berada di pesawat ke tempat dia akan berlibur. Gadis itu tersenyum senang membayangkan hamparan pantai dan pasir putih, jangan lupa juga nyanyian alam merdu suara ombak. Dan kala senja, ia bisa menikmati matahari terbenam, lengkap dengan lukis indah langit jingga. Pasti sangat menenangkan. Dan kata menenangkan justru mengusiknya. Kembali seperti jam-jam yang ia lalui beberapa saat setelah hengkang dari kediamannya, ia akan senang lalu sedih, bergulir terus seperti itu. Ia akan riang karena mengingat apa yang ia dapatkan setelah sampai di tujuan dan sedih mengingat mengapa ia sampai di tujuan itu. Galau juga plin-plan, Sakura menghela nafas.

"Kau menghela nafas lagi-un" komentar santai itu berasal dari sebelah Sakura, seorang pemuda dengan rambutnya mirip betul dengan Ino. Alis Sakura berkerut lalu kemudian wajahnya memerah, sepertinya ia menghela nafas terlalu banyak dan terlalu keras.

"Ma..af" katanya pelan, lalu menundukkan kepalanya lalu mengangkatnya lagi. Mengalihkan pandangannya ke jendela meski tak benar-benar bisa mengamati apa-apa.

"Tidak apa-apa. Menghela nafas itu juga seni, un" lagi-lagi pemuda itu berucap ringan. Ia membalikkan majalah yang sedari tadi dipegangnya. Sakura lalu memperhatikannya dari ujung mata.

"Seni maksudnya?"

"Ada helaan nafas bingung-un" Pemuda itu menghela nafas, "ada helaan nafas lega" pemuda itu menghela nafas lagi, "ada juga yang cemas" helaan nafas lagi, "gugup juga ada" menghela nafas lagi, "ada juga—"

Wah, orang di sampingnya ini aneh juga.

"Aa. Saya mengerti" Memang tidak sopan memotong, tapi selain menghela nafas keras dan tampaknya menganggu beberapa penumpang, Sakura juga tidak membutuhkan penjelasan lebih perihal hubungan antara helaan nafas dan seni.

Pemuda itu menganguk-angguk, cukup bangga karena satu orang mulai mengerti seni—dari sudut pandangnya tentu saja. Dia lalu mengulurkan tangan. Sakura memandangnya agak kaget, hanya sebentar.

"Deidara-un. Kau?" Sebenarnya Sakura ingin bertanya nama lengkapnya, karena agak kurang sopan memanggil nama langsung padahal mereka baru kenal. Tapi Sakura tidak ingin terkesan terlalu ingin tahu. Maka ia menerima uluran tangan itu begitu saja.

"Haruno Sakura. Salam kenal" lalu melepasnya. Deidara mengangguk lalu kembali membaca majalahnya, bersampul beberapa bentuk origami berwarna-warni.

"Kau juga akan berlibur-un?" tanya Deidara kemudian. Saat pesanan keduanya sampai, Deidara memesan ramen—yang mengingatkan Sakura pada sahabat kocaknya Naruto—dan sebuah air mineral.

"Iya. Aku sedang berlibur" jawab Sakura singkat lalu menyesap jusnya.

"Wah, enak sekali-un! Kalau saja tidak dalam misi, aku pasti…" Deidara tidak melanjutkannya, ia memilih menikmati ramennya—keburu dingin.

"Anda dalam perjalanan kerja, Deidara-san?" tanya Sakura basa-basi. Agaknya tak sopan juga daritadi sepertinya ia hanya menjawab singkat pernyataan pemuda di sampingnya.

Deidara mengangguk, lalu memandang Sakura sebentar. "Ngomong-ngomong, apa pekerjaanmu, Haruno-san?"

"Aku dokter, dokter anak." Jus Sakura sudah habis setengah. "Anda sendiri?"

"Aku baru saja lulus kuliah, jurusan Teknik Kimia. Aku ahli dalam membuat bahan peledak, loh" katanya bangga yang justru membuat Sakura takut.

"Tadi apa katanya? Bahan peledak? Dalam misi? Ya ampun, jangan-jangan—" pikiran Sakura sudah berkelana kemana-mana. Tapi keburu ditanggapi dengan seringai Deidara, jelas ia tahu apa yang ada di pikiran gadis itu.

"Aku bukan terroris, Haruno-san" menjawab pikiran paranoid gadis itu, "aku dalam misi maksudnya aku akan menghadiri pertemuan para peneliti di bidang yang sama". Sakura sedikit malu karena ekspresi takutnya ternyata tampak jelas.

"Aa, gomen" ia menundukkan kepalanya lalu menghabiskan jusnya. Merutuki ketakutan bodohnya. Lagipula kalau benar pemuda di sampingnya ini berbahaya, untuk apa ia mengatakan sesuatu seperti itu, membongkar rahasianya sendiri? Dasar bodoh, Sakura merutuki dirinya sendiri lagi.

…..

"APA?!" Teriakan kaget Naruto tak kalah hebohnya dari teriakan Sasuke di depan meja resepsionis tadi. Saat ini, Sasuke dan dua orang yang sekarang terbelalak kaget di hadapannya ini sedang berada di sebuah kedai kopi. Hanya sedikit tamu yang tampak, suasananya cukup sepi. Jadi jelas saja, teriakan tadi berhasil membuat beberapa pasang mata mendelik tak suka.

"Kecilkan suaramu, Baka" Sasuke menyesap kopinya cepat, berharap liquid pahit itu bisa membakar lidahnya serta membuat otaknya yang sedari tadi jadi macet berjalan kembali.

"Tapi kami tidak tahu apa-apa, Sasuke" kata Sai, dari raut wajahnya, siapapun tahu ia tengah kuatir. Ia menoleh ke Naruto dengan pandangan apa-kau-tahu-sesuatu. Dan disambut gelengan pemuda jambrik pirang itu.

"Sakura-chan tidak memberitahuku apa-apa. Dia bahkan tidak bisa dihubungi" Naruto juga tak kalah kuatir. Ia juga tak habis pikir Sakura bisa bertindak nekat begini.

"Aku sudah bertanya kepada Ino dan dia juga tidak tahu apa-apa" Sasuke menutup matanya, kembali jemarinya meraih pelipisnya. Sementara kedua pemuda pemuda di hadapannya hanya terdiam bingung.

"Aku sudah tanya siapapun yang mungkin tahu, bahkan pekerja di apartemennya tapi—" Sasuke tidak melanjutkan penjelasannya, ia yakin kedua orang di depannya tahu apa kelanjutannya. Naruto melirik Sai, meski ia kuatir, ia tahu siapa yang paling kuatir di sini.

"Dia mungkin hanya ingin menenangkan diri, Teme. Aku yakin dia akan segera pulang. Sakura-chan—" Sasuke mengangkat kepalanya, memandang Naruto sebentar lalu kemudian menoleh ke luar jendela, hujan yang makin deras.

"Satpam di apartemennya bilang Sakura pergi membawa koper. Aku tidak yakin ia akan kembali secepat yang kita kira" Sasuke memandang hujan itu, hatinya bertanya-tanya apa Sakura baik-baik saja? Bagaimana kalau gadis keras kepala itu kehujanan, meskipun memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa, seperti bisa tidak tidur karena pekerjaan di rumah sakit hingga 3 hari, tidak sakit kala harus melewatkan sarapan, makan siang, dan makan malam—lagi-lagi karena kesibukannya di rumah sakit, tapi Sakura tidak tahan dengan dingin, bagaimana kalau hujan membuat Sakura kedinginan dan sakit? Sasuke merasa perjalan kabur Sakura kali ini tidak ditemani siapa-siapa. Bagaimana kalau terjadi apa-apa? Sakura juga tidak bisa menghubunginya, atau Naruto atau Sai, gadis itu tidak mengingat nomor telpon dan Sasuke ragu Sakura membawa buku telponnya, gadis itu kan pelupa. Sial!

"Teme! Oi! Teme!" Naruto berteriak lagi, meski tak sekeras sebelumnya. Sasuke segera menoleh ke arahnya, terhenti dari pikiran was-wasnya.

"Sebaiknya kita memeriksa apartemen Sakura saja dulu. Semoga kita menemukan sesuatu" usul itu berasal dari Sai. Sasuke hanya menatapnya kosong. Tapi sejurus kemudian mengangguk, sangat berharap mendapatkan petunjuk.

"Ano… Teme" panggil Naruto pelan. Mereka sudah berada di mobil Sasuke dan sedang meluncur ke apartemen Sakura. Sai membawa mobilnya sendiri.

"Hn" Sasuke fokus menatap jalanan. Melirik Naruto sebentar lalu kembali memandang ke depan.

"Aku minta maaf" suara Naruto teramat pelan, hampir-hampir tidak terdengar. Sasuke meliriknya datar.

"Hn. Aku tahu kau mengatakannya karena kau peduli pada Sakura" Sesungguhnya Sasuke tak memusingkan perkataan Naruto kemarin. Ia tertohok tentu saja, tapi Sasuke tidak sekeras kepala itu untuk pura-pura tidak tahu alasan di balik perkataan Naruto. Dia cukup mengerti.

"Dan juga padamu" Naruto masih belum kembali ke mode cerianya, tapi setidaknya lebih baik dibanding saat di kafe tadi, "Kalian berdua sahabatku. Aku hanya tidak ingin semuanya memburuk"

"Hn. Aku mengerti, Dobe"

"Aku harap Sakura-chan baik-baik saja" gumam Naruto, sejurus kemudian tersenyum, "Dia pasti baik-baik saja"

"Hn. Dia pasti baik-baik saja" Naruto tahu keraguan di balik suara Sasuke tapi ia tak ingin mengkomentarinya. Dalam hati berharap, Sasuke juga tengah baik-baik saja.

…..

Hamparan pasir menggelitik telapak kaki Sakura yang ia biarkan telanjang menyusuri bibir pantai. Sandalnya dia jinjing di tangan kiri dan topi jeraminya di tangan kanan. Sudah hampir 1 jam Sakura berjalan pelan menyusuri pantai, menunggu matahari tenggelam di bawah langit jingga yang sangat indah. Seindah melodi ombak yang berderu, berkejar-kejaran hingga sampai ke bibir pantai, ke kakinya. Sakura merentangkan tangannya, menikmati angin yang membelai rambutnya kasar dan kaosnya yang bertuliskan I-love-Monday biru dongker yang dikenakannya.

Relaksasi seperti ini sudah lama tak dia dapatkan. Entah karena jarak tempatnya berpijak saat ini ribuan kilometer dari apa yang menjadi pusat pikirannya berada atau karena di sini ia tak akan mendapati siapapun yang ia kenal, jadi ia bebas ingin menjumpai laut dalam ekspresi dan tingkah apa saja. Mungkin juga karena tempat itu memang punya daya magis membuat segala masalahnya mengabur dan seolah ditarik air laut untuk ditenggelamkan di samudra. Sakura tidak tahu pasti. Dan tidak terlalu ingin tahu. Ia hanya ingin menikmati pikirannya seringan awan, bisa terbang dan bersanding dengan indahnya langit senja yang mengagumkan.

Mentari mulai mensejajarkan dirinya dengan garis pantai. Dan langit jingga kini tampak sangat eksotis karena tak seterang tadi. Sakura menatap lurus ke arah samudra. Wajahnya penuh dengan emosi yang tak bisa dikatakan hanya dalam satu kata saja. Karena mungkin di dalam sana, segala rasa bercampur membuat otaknya bingung harus memilih yang mana. Hanya saja, satu hal yang Sakura tahu pasti, ia ingin mengabadikan momen ini, pemandangan ini. Mungkin bisa menjadi sumber ketenangannya lain kali.

Dan saat itulah, gadis tunggal keluarga Haruno itu tahu bahwa ia lupa membawa ponselnya dan rasanya ia tak menyentuh benda itu sama sekali, sejak turun dari pesawat di Jakarta ataupun saat sampai di Bali. Atau sebelum tidur kelelahan di hotel atau setelah bangun pagi tadi. Sakura tertunduk, menghadapi pasir dengan pejaman mata.

"Bodoh!"

…...

Sakura memilih restoran yang menyajikan makanan ala seafood dekat pantai. Dia memilih duduk di ujung, bersebelahan dengan jendela kaca besar yang menghadap ke pantai. Seorang pelayan mendatangi mejanya. Sakura memilih memesan cumi bakar, udang bakar, nasi putih, dan segelas jus jeruk dingin. Setelah tersenyum tipis, pelayan itu lalu berbalik pergi. Sakura menunggu sembari memandang pantai, sesunggguhnya tidak bisa melihat apa-apa kecuali beberapa tempat yang berlampu, karena hari sudah malam, matahari sudah bergulir digantikan bulan.

Ia menghela nafas panjang, sadar bahwa keheningan seperti ini justru membuatnya memikirkan permasalahan itu lagi. Dan tiba-tiba dadanya seperti dihimpit sesuatu yang berat. Meski ia tidak sedang ingin berpikir, otaknya malah makin liar menyadarkannya akan konsekuensi dari tindakannya, kabur yang tak berujung manis tentunya. Ia juga membayangkan respon Sasuke ketika tahu ia kabur. Pasti tunangannya itu marah besar.

Tapi salah siapa juga, Sakura mencoba membela diri.

Hanya saja saat membayangkan wajah Ino, Naruto, dan Sai, rasa bersalah itu merengsek masuk lagi. Orangtuanya jelas tidak akan tahu menahu perihal masalah ini, karena Sakura tidak tinggal dengan mereka. Tapi bagaimana kalau Sasuke memberitahu mereka?

"Tidak mungkin, Sasuke tahu apa yang akan terjadi kalau ia sampai bertanya ke orangtuaku" Masalahnya akan panjang dan hanya membuat benang kusut makin kusut.

Kekecewaannya pada Sasuke masih terasa dengan jelas, tapi begitu juga dengan rasa rindunya. Mereka memang bukan pasangannya lovely-dovey yang dalam sehari selalu memberi kabar dan bertemu. Tapi setidaknya ia akan mengirimkan pesan singkat pada tunangannya itu. Apalagi terakhir kali, mereka malah bertengkar hebat. Sesungguhnya, meskipun merasa sangat kecewa, ada rasa bersalah yang bergelantungan, tak mungkin dibiarkan sambil lalu di batin gadis itu.

Tujuh tahun, dan mengenal lelaki itu bahkan lebih dari itu. Mereka menjadi pasangan kekasih sudah selama itu. Dan tidak heran jika selain keluarga Uchiha, Sakura adalah orang yang paling mengenal Sasuke, mungkin juga Naruto tapi kadang pemuda jabrik penggila ramen itu terlalu lambat untuk menangkap sesuatu seperti ekspresi dan bahasa tubuh atau bahkan sebuah lisan. Namun tidak dengan Sakura, dia bisa membaca raut wajah Sasuke dengan baik. Tahu kebiasaannya, hal remeh seperti makanan favorit, tempat favorit, dan lainnya, dia sudah hafal luar kepala. Ia juga tahu bagaimana tingkah tunangannya itu kalau sedang bad moon, sedang bahagia, sedang pusing, atau sedang bingung. Ia paham hingga kebiasaan terkecil.

Hanya saja, terkadang dia masih tak mengerti jalan pikir pemuda itu. Kadang saat seperti itu, ia lebih menerima saja, tanpa harus mengerti. Toh menurutnya, cara itu lebih baik dibanding membordardir Sasuke dengan beragam pertanyaan, pertentangan, hanya untuk memuaskan 'daya mengerti'nya sendiri. Karena beberapa kali, meski sudah tahu pun, Sakura tak benar-benar memahaminya. Seperti konsep membagi waktu.

Mereka tak selamanya berjauhan dalam waktu yang lama, hanya beberapa kali. Pertama kali, saat keduanya sibuk menyiapkan tugas akhir di universitas. Beberapa kali karena kesibukan Sasuke di kantor yang membuat mobilitasnya terlalu padat untuk menyediakan waktu kencan. Tapi di segala kesempatan, mereka selalu saling berbagi kabar. Mungkin bukan kalimat rindu yang romantis, tapi cukup untuk menjelaskan betapa keduanya ingin saling bertemu dan berbagi rindu. Sakura tidak pernah mengeluh karena waktu bersama yang makin lama makin sedikit.

Tapi ia tak selamannya bisa menghilangkan rasa sepinya, saat pernikahan yang seharusnya menjadi milik berdua, terasa seperti miliknya seorang. Sasuke terlalu sibuk dan jadwalnya yang sering di luar Kohona tak membuatnya punya waktu bahkan 30 menit saja untuk memikirkan persiapan ini-itu. Ditambah lagi prasangka saat foto-foto tersebut dikirimkan kepadanya. Hatinya mati rasa, kepalanya tidak lagi menuntut penjelasan, ia hanya ingin berang, melepas ragam emosi negatif yang dibelenggunya atas dasar rasa pengertian. Semuanya bermuara pada satu hal, Sasuke tidak menganggap pernikahan ini penting sama sekali, bahkan termasuk Sakura sendiri.

"Kau seperti anak-anak saja!" suara itu terdengar nyaring dan membuat Sakura tersentak.

"Haruno-san?" Sakura berbalik terkejut ketika tak menyangka seseorang akan memanggilnya di sini. Dan kian kaget kala mengetahui siapa yang menyapanya.

"Deidara-san?" gumamnya. Kali ini pemuda itu tidak sendirian, tapi bersama seseorang dengan rambut merah dengan tampang bosan. Di tangan laki-laki terdapat sebuah boneka kayu berukuran sebesar telapak tangan. Keduanya berjalan ke arah meja Sakura.

"Berhenti bermain boneka Sasori. Kau itu sudah tua, bukan bocah 6 tahun tahu!" Deidara berujar ketus yang tidak ditanggapi sama sekali oleh lawan bicara. Deidara lalu menoleh lagi ke Sakura.

"Aku tidak menyangka kau di sini-un" Sebenarnya Deidara sedang mencoba tersenyum ramah, tapi malah tampak seperti serigai.

"Aa. Iya, aku juga tidak menyangka. Kebetulan yang tidak biasa" sahut Sakura agak pelan. Dan sedikit bingung kala Deidara malah duduk di hadapannya dan menyuruh temannya untuk duduk juga.

"Kalau begitu kita makan malam bersama saja-un! Kebetulan ini layak dirayakan-un!" Lagi-lagi senyum yang lebih terlihat seperti seringai. Pemuda di samping Deidara hanya diam, mengambil buku menu.

"Ini temanku, Sasori. Dia juga satu pesawat dengan kita tapi duduk di belakang-un." Matanya melirik Sasori dan tahu pemuda itu tak meresponnya. Ia menepuk punggungnya kesal.

"Oi! Perkenalkan dirimu" Sasori mengangkat pandanganya dari buku menu, lalu menunduk singkat. "Akasuna Sasori" terlalu singkat, tampangnya juga datar dan bosan. Sakura tidak tahu harus merespon seperti apa selain menyebutkan namanya juga.

Dan Sakura teringat Sasuke. Apa yang akan pemuda itu lakukan kala berkenalan dengan orang baru? Ya, seperti tadi. Sangat singkat, tanpa didahului salam atau embel-embel lain, langsung saja menyebut nama lengkapnya. Sangat dingin, beberapa kali Sakura harus menambahkan komentar soal sifat Sasuke yang memang tidak terbiasa berbicara panjang lebar dan basa-basi agar orang yang berkenalan tidak merasa tersinggung. Tidak merasa Sasuke kurang sopan ataupun sombong. Sebenarnya juga karena tampang dingin Sasuke, dengan tampang seperti itu saja, orang sudah berasumsi macam-macam. Ah, lagi-lagi pikirannya berlabuh ke Sasuke.

Agak berbeda dengan pria berambut merah yang masih sibuk dengan buku menu di hadapannya ini. Meski tidak bicara panjang lebar, ia hanya terlihat bosan tanpa kesan dingin sama sekali. Mungkin seperti Sai kalau sedang tidak cerewet atau sedang serius. Sakura lalu menoleh ke arah Deidara yang sedari tadi berkomentar soal Bali dan menceritakan beberapa hal yang tak terlau penting.

"Diamlah, Deidara. Kau cerewet sekali sih" ucapan ini tampaknya cukup menusuk karena Deidara langsung diam. Sejurus kemudian laki-laki itu memunculkan serigainya, tampak tak terganggu dengan komentar Sasori barusan.

"Itu karena kau diam saja, Doll-maniac!" Deidara merampas buku menu, "Lagipula memilih menu saja lama sekali sih" katanya, seraya memanggil pelayan dan langsung memesan dua porsi kepiting rebus, dua porsi udang mentega, dua cah kangkung, dua jus mangga, dan dua porsi nasi putih.

"Ah! Juga satu sup seafood-un" Sakura menganga, sebanyak itu?—pikirnya. Sementara Sasori hanya memutar bolamata, memilih tak ingin ambil pusing. Memilih sibuk dengan boneka kayunya.

"Jadi kau akan tinggal berapa lama di sini, Haruno-san?" tanya Deidara.

"Hanya lima hari. Kalian sendiri?" tanya Sakura balik.

"Tidak tahu. Sampai misi selesai. Iya kan, Sasori?" Sasori mengangguk samar, masih asyik dengan boneka kayunya. Mencopot bagian tertentu lalu menyambungkannya lagi, begitu terus.

"Kau ini sungguh seperti anak perempuan. Bermain boneka, tsk" Sasori mendelik tajam. Deidara pura-pura tidak tahu.

"Ini juga untuk misi, Baka" suara itu terdengar sinis.

"Kenapa harus boneka? Boneka manusia lagi. Harusnya dalam bentuk yang lebih keren. Lebih berseni" kata Deidara tak mau kalah. Sakura yang merasa terasing memilih diam saja, lagipula ia tak mengerti apa yang keduanya perdebatkan. Dia menimbang-nimbang langsung angkat kaki saja, tapi pesananya belum datang-datang dan jelas hal itu tidak mungkin.

"Seni menurutmu cuma soal kertas dan itu menyedihkan. Kau harus memperluaskan pandanganmu tentang seni. Pemikiranmu saja tidak berseni" Deidara sudah akan membantah perkataan itu lagi, ketika pelayan membawakan pesanan Sakura. Dan anehnya pesanan Deidara dan Sasori juga.

"Selamat menikmati!" ucap pelayan itu dengan ramah dalam bahasa inggris. Deidara yang sedari tadi sudah kelaparan memilih untuk menyimpan argumennya. Ada saatnya, tapi nanti—ucapnya dalam hati.

Sakura sendiri begitu bersyukur. Akhirnya dia tak harus mendengar perdebatan yang tak ia mengerti sama sekali. Ia bisa terbebaskan dari itu, begitu juga perutnya. Sasori sendiri tidak berkomentar apa-apa selain menyantap lahap makannya. Sisa makan malam itu berlangsung dalam keheningan sampai Sakura pamit untuk kembali ke apartemennya dan menolak halus tawaran Deidara untuk mengantarnya.

"Kau yakin, Sasuke?" Pertanyaan itu terlontar sekali lagi, jelas sekali orang yang menanyakan itu tak mengerti—atau lebih tepatnya tak habis pikir—dengan surat tergeletak di atas meja saat ini.

"Hanya lima hari." Penjelasan itu terdengar mantap dan tak punya ruang kompromi. Lelaki yang kini duduk dengan gelisah di kursi kantornya itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Alisnya menyatu dengan tampang tidak suka.

"Ya, lima hari yang teramat penting. Lima hari yang menjadi penentu kerjamu selama berbulan-bulan." Lelaki itu berdecak tak suka, "Kau yakin tidak bisa menundanya?" tanyanya lagi, kali ini lebih bernada negosiasi.

"Hn." Menyiratkan penolakan.

"Tsk, kau setidaknya harus datang untuk rapat kedua. Maksudku, kau memang punya anak buah yang bisa kau handalkan, tapi tetap saja, kalau kau yang—"

"Aku sudah merampungkan 95% dari semuanya. Aku juga mengantisipasi pertanyaan dan permintaaan yang mungkin diinginkan investor. Gaara bisa mengatasinya." jelas Sasuke lagi. Nada suaranya final.

"Aku tahu, tapi apa tidak apa-apa membiarkan orang lain mengambil kredit atas apa yang—"

"Hn" Kali ini Sasuke menunduk. "Aku sudah memikirkannya matang-matang, Orochimaru" lanjutnya.

Orochimaru hanya bisa menghela nafas tak suka. Kembali mengangkat surat yang tergeletak di meja kerjanya, menimang-nimang surat itu. Lalu kemudian meletakkannya kembali.

"Baiklah." Sorot matanya berubah, "Kuharap masalahmu cepat selesai. Dan gadis bodoh itu menyadari pengorbanan apa yang baru saja kau lakukan" Sasuke tidak menanggapi apa-apa. Sambungan telpon itu langsung terputus.

Tujuan saat ini adalah bandara. Karena kemarin ia, Sai, dan Naruto akhirnya tahu kemana gadis merah muda itu melarikan diri. Dari history browser laptop Sakura, terdapat catatan pencarian tiket pesawat Tokyo – Jakarta dan Jakarta-Tokyo dan beberapa pencarian tentang hotel yang ada di Bali. Dan hari itu juga Sasuke memutuskan menghubungi Orochimaru untuk meminta cuti.

Sasuke melirik jam tangannya, masih jam 6, masih dua jam lagi sebelum jadwal pernerbangannya. Sasuke memilih menghabiskan sisa perjalanan ke bandara dengan mengamati keluar jendela. Meskipun pikirannya berkelana kemana-mana.

"Apa yang sedang kau lakukan, Sakura?" batinnya berbisik.

"Aku merindukanmu, Bodoh" dan rasanya sakit.

.

But I am a creep such a weirdo

Sometimes, think about you being so special and make you so far away

But you still love me

And I do love you

.

TBC

..

Note: This chapter-love songs is Creep (Radiohead) and La Vie En Rose (Louis Armstrong)

Thanks a lot : Aika Hiiragi, Lhylia Kiryu, cherryhamtaro, Misshire, Eysha CherryBlossom, dianarndraha, Hakim11, and people who follow and fav my story. Thanks a lot, it means so much to me!

So,

Thanks a lot for reading. Please leave some review or comment? Arigatou gozaimasu, Minna~