How you can't get it

When I literally told you by my eyes

Touch you with my heart

Calling you a thousand time

You said you don't know

But still love me the way you want to

Love me the way you could

I said I can't explain by words

But I love you, I really do

.

Yang Tak Terucap, Yang Tak Terdengar

.

"Sasuke-kun"

"Hn?"

"Aku ingin bertanya… sesuatu"

"Harusnya kau langsung tanya saja"

"Tsk, kau ini!"

"Jadi apa yang ingin kau tahu?"

"Aku hanya ingin tahu, sungguh itu tidak akan berefek apapun sekarang. Maksudku—"

"Sakura—"

"Hm?"

"Apa yang ingin kau tahu?"

"Aku hanya ingin tahu apa…"

"…"

"…."

"Sakura?"

"Apa yang membuatmu…"

"…"

"…"

"Menyukaiku?"

Cinta dan logika bukanlah sahabat baik yang beriringan selamanya. Kadang mereka bersiteru dan tak ingin di lintas yang sama. Tapi toh, cinta tetap butuh logika. Karena cinta bukan impian tanpa dasar yang tak tumbuh dan berakar. Maka butuh logika, untuk membuat cinta itu tak membaur dengan kegilaan semata, untuk kesenangan tanpa pandang kehidupan. Cinta butuh logika. Sakura tahu itu.

Maka ia berlogika selama ini. Bahwa rengekan bukan hal yang mempan. Bahwa tangis tak menyelesaikan apa-apa. Bahwa meski mereka sama-sama mencintai sedalam yang mereka mampu, mereka tetap harus berlaku adil dan pengertian—satu sama lain. Sakura menggunakan logikanya, kadang terlalu berlogika hingga seolah mereka adalah rekan bisnis bukannya tunangan.

Sakura berlogika dan itu yang membuatnya bertahan. Rasanya begitu. Tapi ia tahu tak hanya ia yang berkorban. Sasuke juga. Pemuda itu membuka diri, sedikit demi sedikit untuk memenuhi rasa pengertian dan diam yang membuat segalanya abstrak. Ia membuka dirinya dan bagi seorang Sasuke itu tidak mudah.

Bahkan jatuh cinta sendiri bagi Sasuke tidak mudah. Ia membiarkan separuh logikanya untuk akhirnya mencintai gadis itu. Ia memilih jatuh cinta pelan-pelan, meski ia tak bisa meminta Sakura untuk mengerti dan bersabar untuk hatinya. Ia mengorbankan masa lalunya, ia mengorbankan ketidakpercayaan akan rasa sayang. Ia selalu ingin disayang, semua manusia begitu, tapi tak mudah untuk memberikan hatimu yang sudah pecah berkeping-keping karena kenangan masa lalu. Bahkan yang menghantui tiap malam, muncul bak hantu untuk memecah ketenanganmu. Mengoyak rasa percaya dirimu untuk siap ditinggalkan. Bukan karena Sasuke tak percaya pada Sakura, tapi ia tahu, saat ia memutuskan jatuh cinta, ia juga harus siap akan pahitnya patah hati.

Sasuke sudah sering menelan rasa patah hati, rasa ditinggalkan, dan rasa kesepian. Ia bertahun-tahun membiasakan diri akan sepi yang menggigit hingga tulang. Dan ia sudah terbiasa. Ia sudah terbiasa pada rasa percaya hanya pada dirinya sendiri. Terbiasa menutup diri dan tak membiarkan siapapun mencuri pandang ke dalam. Ia biasa akan rasa dingin yang terasa nyaman daripada hangat hanya untuk kembali merasakan dinginnya dunia. Karena saat merasakan hangat tapi kemudian harus berhadapan dengan dingin yang sama, rasanya lebih dari yang sudah-sudah. Ia terbiasa tak menjelaskan apa-apa karena selama ini ia tak punya siapa-siapa untuk berbagi cerita.

Dan kemudian ia jatuh cinta. Awalnya samar dan mampu dilewatkan. Tapi sosok gadis itu kini mulai muncul membelah mimpi buruknya. Menghadirkan ragam emosi yang awalnya tak ia tahu, menghadirkan keheningan panjang di malam-malam yang ia tak bisa hitung jumlah. Gadis itu hadir meski ia tak siap. Ia hadir dalam ancaman mengubah Sasuke yang sudah terbiasa. Sasuke tahu itu.

Ia tidak menolak. Ia tak bisa—mungkin. Karena itu meski payah, ia membuka dirinya. Mengajari dirinya sendiri untuk bisa seperti yang gadis itu inginkan. Mulai bicara tentang dirinya pada gadisnya, berbagi luka yang selama ini dirasakannya sendiri. Berbagi aksara dan rasa harus mengerti pada gadis itu. Semuanya muncul perlahan tapi pasti. Termasuk mulai diliputi ketakutan ditinggalkan lagi.

"Apa kau mencintaiku?" suara itu lembut mengalun, selembut angin yang membelai rambut merah mudanya. Selembut warna langit yang membentang di atas mereka. Selembut sentuhan yang membelai pipi pucatnya. Selembut tatapan kekasihnya.

"Hn. Sangat mencintaimu." Sakura mungkin tidak tahu, tapi saat emerald itu menghadap awan yang bergerak di atas mereka, kelopak mata Sasuke menutup sebentar. Membiarkan rasa takut itu menjalar ke seluruh sel di tubuhnya dan kenangan buruk kian tergiang-giang. Tapi ia tetap dengan mantap berujar pada dirinya sendiri bahwa ia mencintai gadis itu.

Mencintainya lebih dari yang ketakutan teriakan.

….

Onyx itu terbuka, melawan kantuk yang menyerang. Ia memang punya tidur yang cukup semalam, tapi ia tetap saja kelelahan karena bulan-bulan yang amat sibuk. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling bandara. Di tangan kanannya, pemuda itu membawa koper yang tak terlalu besar. Langkahnya besar, terarah menuju pintu keluar dan segera memanggil taxi.

Ia sudah tahu dimana tunangannya menginap. Mungkin ia akan menjadi hari yang panjang. Tapi ia sudah mempersiapkan dirinya.

…..

Hari ini Sakura mengunjungi banyak tempat dan itu membuat harinya benar-benar terasa menyenangkan. Ia bisa menyaksikan pertunjukan seni tradisional Bali dan itu headline dari harinya yang terasa berjalan terlalu cepat. Ia juga menyempatkan diri ke Taman Budaya Garuda Wisnu dan sangat terkesima dengan bangunan yang tak mungkin didapati saat kembali ke Jepang. Di taman tersebut, terdapat pilar-pilar batu kokoh dan monumen Lotus Pond Garuda yang membuat segalanya menjadi eksotis dan menganggumkan. Ia juga mengunjungi pura dan mendapat kesempatan untuk menyaksikan seorang gadis Bali berdoa lengkap dengan pakaian tradisional khas bali.

Gadis itu mengutuk dirinya sendiri karena tidak membawa kamera.

Matahari sudah turun dari peraduan saat ia menginjakkan kakinya di hotel. Dan berjalan melewati Lobi menuju kamarnya. Dan saat langkahnya baru saja terarah ke lift, ia menangkap sosok tunangannya. Tubuh tinggi dengan setelan rapi dengan tatapan sendu padanya. Tapi lebih dari itu, Sakura menangkap raut lelah kekasihnya. Ada rasa bersalah yang akhirnya membuatnya membatu di tempat, seolah tubuhnya lamban untuk bereaksi. Dan ia tak berujar apa-apa, tidak kalimat marah atau sekadar sapaan sinis. Ia membatu dan menerima uluran tangan pemuda itu. Mereka menuju kamar Sakura.

"Sakura…" Kekosongan itu lebih mudah dilepas dibanding teriak atau kalimat tak senang yang membuat tenggorokan Sakura tercekat. Mereka masih tidak saling memandang dan rasanya itu lebih mudah, bagi Sakura. Tapi tidak bagi Sasuke, jam-jam sebelum ini sudah cukup membunuhnya. Maka pemuda itu mendekat, mendudukan diri di samping tunangannya yang kini tengah menatap keluar, entah apa yang disajikan malam di balik jendela kaca besar itu.

"Maafkan aku" suara itu terdengar teramat lemah, tapi keheningan membantu kalimat itu terdengar jelas di telinga gadis itu. Sakura mengarahkan retinanya ke dinding, berharap menemukan respon terbaik secepatnya. Tapi entah kenapa, malam itu dinding tampak amat dingin. Maka ia mendesah, entah untuk apa, entah untuk siapa. Tanpa dikomando otaknya, sebutir airmata lolos begitu saja, anehnya ekspresi Sakura masih biasa-biasa saja.

Tapi kemudian, tangannya diraih, bahunya direngkuh, tubuhnya didekap erat-erat. Tidak ada isakan, tidak ada kalimat penenang. Kepala bermahkota merah mudanya berhadapan dengan dada pemuda itu. Dan saat itu juga gadis itu tahu, ada yang tidak beres dengan hatinya.

Kisah mereka tidak se-spesial itu, mereka tahu. Kisah mereka hanya tentang dua insan yang sungguh berbeda namun tak meruntuhkan niat untuk bersatu. Mereka hanya sangat mencintai hingga rasanya tak mungkin untuk berpisah. Tapi hati manusia tidak ada yang tahu. Saat mereka tak mengerti dan hanya ada udara yang menjawab tanya itu, prasangka berubah jadi curiga. Curiga mengikis hati dan menorehkan luka. Biar kecil luka itu, tapi kala dikikis terlalu lama, sakitnya akan terasa juga.

Dan meski cinta tetap bersemayam lama dan tak berubah, luka itu membuat perhatian yang baru. Hati, lama-kelamaan meski tak ingin, harus mengakui hadirnya juga.

….

Ingat saat pertama kali kita bertemu?

Ingat saat pertama kali kita bicara?

Ingat saat pertama kali menghabiskan senja berdua yang entah kenapa terjadi begitu saja?

Ingat saat pertama kali kita bertatapan dengan rasa yang berbeda?

Ingat pertama kali kita menyatakan rasa yang sama?

Ingat pertama kali kau menggenggam jemariku?

Ingat saat pertama kali aku memelukmu?

Ingat saat pertama kali kau mengecupku?

Ingat saat pertama kali kau menangis untukku?

Ingat pertama kali kau menertawakan kecemburuanku?

Ingat pertama kali kita bertemu setelah sibuk dengan dunia yang bergerak menjauhkan?

Aku mengingatnya, tanpa perlu diusahakan aku bisa menceritakan detailnya. Aku mengingatnya, setiap waktu denganmu aku bisa memanggil memoriku untuk bercerita.

Mungkin aku tidak pernah mengutarakannya, itu satu dari kelemahanku yang tidak bisa kuubah dengan mudah, tapi kau begitu berharga, untuk waktu yang telah lampau ataupun untuk masa yang akan datang.

Dan tentu, terutama saat ini.

Ya, kekasihku aku mengingatnya. Ingat dengan sangat baik hingga bisa melafalkan tiap menitnya.

Ya kasihku, aku mengingatnya. Tiap gerakmu, tiap ekspresimu, tiap kata-katamu di momen-momen itu.

Aku hanya tidak bisa…

Tidak bisa mengingat perasaanku lagi kala itu.

…..

Kau tahu aku tidak mudah memberikan hatiku, rasaku, karena aku tidak selalu siap untuk jatuh. Tapi aku memberikannya, padamu, utuh. Lalu mengapa bolamatamu masih bertemu ragu?

...

"Sasuke-kun…"

"Hm?"

"Maafkan aku, tapi—"

Jeda yang panjang, spasi yang tak lazim. Sasuke seperti mendengarnya, merasakan angin itu, merambat pelan-pelan sebelum berganti sepenuhnya menjadi badai topan. Maka, saat jeda itu dipecah, Sasuke merasa benar-benar tidak siap. Tanpa sadar, pemuda itu mengepalkan tangannya erat.

"Tapi aku rasa, kita tidak bisa—"

Dan sepenuhnya sudah menjadi angin rebut yang membawa rumahnya, tempat ia berlindung selama ini. Untuk pertama kalinya, kala onyxnya menatap emerald itu, ia merasa asing.

….

Kau tahu tak mudah bagiku untuk mengulurkan tanganku, tapi kenapa… kau tak kunjung menyambutnya?

TBC

Note:

Saya ngak dalam rangka membuat Sasuke –nya jadi pathetic chara kok! Hehehe. Dan ya, alurnya agak lompat-lompat dan saya sengaja bikin space untuk menggambarkan kisah mereka saja, tanpa ada reka adegan gitu-gitu. Kalau kurang berkenan, mbook ya dikomen! Kritik, saran, dan komentar dalam versi lainnya diterima.

Terima kasih sudah membaca, minna~