Main cast: Mark Tuan x Park Jinyoung a.k.a Jr GOT7 and member of GOT7
Rate: M (hihi)
Lenght: 2 of ?
Warning (s): boys x boys, boys love, alur acakadul, bahasa acakadul, typo(s), OOC, so, DON'T LIKE DONT READ! Be a good reader and give your review^^
Happy reading readers^^
.
.
.
My Happy Ending
Mark sadar sepenuhnya dia sangat bersalah pada kekasihnya. Mungkin Mark hanya beruntung memiliki kekasih seperti Jinyoung yang begitu sabar. Jika itu orang lain, dapat dipastikan Mark sudah kehilangan kekasihnya jauh-jauh hari.
Bagaimana mungkin ada seseorang yang begitu sabar dan selalu memaafkan kekasihnya jika kekasihnya itu sangat sering sekali berpaling darinya. Ya, berpaling pada orang lain. Berselingkuh. Main hati.
Namun karena dia adalah seorang Park Jinyoung yang memiliki perasaan begitu besar pada kekasihnya, Mark Tuan, karena itulah dia selalu memaafkan Mark.
Bukan sekali dua kali Mark melakukannya. Dan selama itu pula Jinyoung selalu memaafkannya. Entah bagaimana caranya, Mark selalu bisa meyakinkan Jinyoung.
Namun sepertinya kali ini tidak. Jinyoung benar-benar marah. Jinyoung bilang dia memaafkan Mark, tapi kenyataannya tidak seperti itu.
Sudah seminggu ini Jinyoung mendiamkannya, tepatnya setelah peristiwa –menangis-di-bahu-Mark-. Sejak saat itu, Jinyoung seperti menghilang dari kehidupan Mark.
Tidak menghilang sebetulnya, karena Mark masih bisa bertemu sosok yang sangat di sayanginya itu di kampus mereka. Hanya saja, Jinyoung benar-benar tidak mau bicara pada Mark, dia sengaja mendiamkan Mark.
Mark kelimpungan tentu saja. Hampir setiap hari dia berkeliling di kampusnya hanya untuk mencari Jinyoung yang tiba-tiba saja sangat susah untuk ditemui itu. Tetapi, Mark harus mendapatkan kekecewaan karena dia hanya bisa menemui Bambam, junior tepat satu tahun dibawah Mark dan juga sahabat kental Jinyoung. Dan saat Bambam menggeleng lesu, Mark tahu jika Jinyoung menolak kehadirannya untuk kesekian kalinya.
Mark kecewa, tapi dia tahu Jinyoung lebih kecewa. Dia tahu Jinyoung terluka, begitu terluka hingga tidak mau menemuinya lagi.
Jackson, teman seangkatan sekaligus sahabat dekat Mark hanya bisa menatap iba sahabatnya. Melihat Mark yang begitu terpuruk karena Jinyoung. Tetapi dia tidak bisa menyalahkan Jinyoung. Ini adalah murni kesalahan Mark hingga membuat Jinyoung begitu marah padanya.
"Markie, kurasa Jinyoung hanya butuh waktu untuk sendiri" Jackson mencoba menghibur Mark. Mark tersenyum getir menatap sahabatnya itu.
"Kau benar Jack. Atau mungkin, dia memang ingin sendiri tanpaku, ingin melepaskanku"
"Tidak Mark, aku tahu Jinyoung tidak seperti itu. Dia sangat mencintaimu, percayalah"
Sebenarnya Jackson sendiri tidak yakin, mengingat Mark yang sudah keterlaluan. Namun hanya akan semakin memperburuk keadaan jika dia menyalahkan Mark saat ini.
Mark menggeleng, dia mencoba tersenyum, senyum kepedihan tepatnya.
"Kali ini mungkin batasnya. Aku tahu dia sudah benar-benar kecewa padaku" ujarnya putus asa.
-o-
Jinyoung baru saja sampai di rumahnya. Eommanya menyambut hangat seperti biasa.
"Jie, kau sudah pulang? Cepat naik ke atas lalu mandi, setelah itu kita makan malam bersama appa" ucap sang eomma.
"Arraseo eomma" jawab Jinyoung lesu, lalu dia melangkah gontai menaiki tangga menuju lantai dua tempat kamarnya berada.
Sang eomma mengernyitkan dahi melihat tingkah Jinyoung yang tidak bersemangat seperti biasanya itu.
'Ada apa dengan anak itu' batinnya.
Saat di meja makan pun, Jinyoung terlihat tidak fokus dengan makanan dihadapannya. Dia hanya mengaduk-aduk makanan di piring tanpa berniat untuk menyantapnya. Selera makannya sudah hilang entah kemana. Padahal biasanya masakan sang eomma adalah favoritnya yang membuat dia makan begitu lahap.
"Jie?" panggil sang appa. Jinyoung tersadar dari lamunannya, dia mendongak menatap Tuan Park.
"Eh, ne? Wae appa?"
"Kau melamun? Tidak baik mengabaikan makanan. Cepat habiskan makananmu sayang" tegur Tuan Park halus.
"Ne, mianhae appa. Aku akan menghabiskannya".
"Kau kenapa sayang? Eomma lihat akhir-akhir ini kau tidak bersemangat" kali ini eommanya mencoba mencari tahu.
"Aku? Tidak, aku baik-baik saja eomma" Jinyoung masih berusaha menutupi.
"Benarkah? Omong-omong, Mark juga tidak pernah kemari belakangan ini. Apa kalian ada masalah?"
"Eh? Aniya, kami, kami baik-baik saja, ya, baik-baik saja" Jinyoung meragukan ucapannya sendiri.
Apakah dengan menghindar dari Mark dia merasa baik-baik saja? Benarkah baik-baik saja?
Sepasang suami istri itu saling berpandangan mengerti melihat putera semata wayang mereka yang kembali termenung memikirkan sesuatu.
"Bicarakan baik-baik jika kalian berdua ada masalah Jie. Eomma tidak mau kau berpisah dengan Mark. Ingat, kalian sudah bertunangan, tinggal selangkah lagi dan eomma harap kau tidak menghancurkan harapan kami" nasihat sang eomma yang diamini oleh appanya.
Jinyoung menatap kedua orang tuanya. Inilah alasan Jinyoung. Salah satu alasan terbesar Jinyoung –selain dia sangat mencintai Mark tentunya-, kenapa dia selalu memaafkan Mark meskipun Mark berulang kali menghancurkan hatinya.
Orang tua mereka –Mark dan Jinyoung- yang merupakan sahabat sejak SMA berniat menjodohkan mereka sejak kecil. Sangat kolot memang. Tetapi siapa sangka ternyata keduanya cocok dan saling mencintai satu sama lain.
Kedua keluarga sangat menaruh harapan besar pada hubungan mereka berdua, dan Jinyoung tidak mau mengecewakan orang tuanya juga orang tua Mark.
Hanya saja, saat ini entah kenapa hatinya sangat sakit hanya dengan mengingat Mark. Dia merasa sesak jika memikirkannya. Mungkin Jinyoung sudah mencapai batas kesabarannya.
Flashback
Jinyoung berniat untuk menemui Mark di apartemennya. Hari ini hari Minggu, jadi dia punya waktu seharian untuk bersama dengan kekasihnya itu. Jinyoung sengaja tidak memberi tahu Mark, dia ingin sedikit mengejutkan sang kekasih rupanya.
Dia berdiri menunggu pintu lift terbuka sambil mendengarkan musik melalui earphone di kedua sisi telinganya. Tepat saat pintu lift terbuka, seketika Jinyoung begitu terkejut.
Jinyoung tidak percaya dengan yang dilihatnya. Dihadapannya sekarang, dia melihat sosok kekasih yang begitu dicintai, sedang merangkul mesra seorang namja disebelahnya.
Mark sama terkejutnya. Buru-buru dia melepaskan rangkulannya dari namja itu, yang diketahui adalah salah satu hoobae mereka di kampus.
"Jie, Jie tunggu!" Mark berusaha mengejar Jinyoung yang langsung membalik tubuhnya dan berlari meninggalkan tempat itu.
Jinyoung tidak menghiraukan panggilan Mark. Dia terus saja berlari. Kebetulan saat Jinyoung keluar dari bangunan aprtemen, sebuah taxi melintas.
Tanpa berpikir panjang, Jinyoung segera menghentikan taxi itu dan masuk ke dalam. Di luar, Mark berusaha mengejar taxi yang mulai melaju itu. Jinyoung tidak menggubris sedikitpun keberadaan Mark, hingga akhirnya Mark tertinggal jauh di belakang.
Hati Jinyoung berdenyut sakit saat pikirannya kembali memutar kejadian tadi. Dirinya tidak menyangka, Mark kembali melakukan hal itu. Hal yang paling dibenci oleh siapapun di dunia. Dikhianati oleh orang yang sangat kau cintai, bukankah itu menyakitkan?
Tanpa disadari, air mata Jinyoung menetes, mengalir melewati kedua belah pipi chubby nya. Perasaan sesak begitu menghimpit dadanya. Mark Tuan, hanya orang itu yang ada dipikirannya, dan itu membuat Jinyoung semakin sesak.
Flashback end
Itu yang terakhir kalinya. Jinyoung sudah tidak bisa bersabar lagi. Sudah habis untuk Mark. Dia memaafkan Mark, tapi hatinya masih sakit. Karena itulah Jinyoung memilih untuk mendiamkan Mark. Memilih untuk sendiri dulu, menenangkan hatinya.
"Jie, tidak ke kantin?" Bambam menepuk pelan bahunya, menyadarkan Jinyoung dari lamunannya. Dia menggeleng.
"Oh ayolah. Kau terlihat tidak semangat sekali. Aku lapar, temani aku,ne?" Bambam mencoba membujuknya. Akhirnya setelah sedikit 'pemaksaan', Jinyoung mau menemani sahabat imutnya itu makan ke kantin di kampus mereka.
Keadaan kantin cukup ramai saat mereka tiba. Mereka berdua memilih tempat duduk paling ujung, tempat favorit mereka bila berkunjung ke kantin.
"Kau mau kupesankan sesuatu?" tawar Bambam.
"Tidak Bamie, aku sedang tidak ingin makan sesuatu"
"Ish kau ini. baiklah tunggu disini ne, aku mau pesan dulu"
Setelah itu Bambam langsung menuju ke stand penjual yang ada disana. Sedangkan Jinyoung memilih untuk mengutak-atik smartphone miliknya sambil menunggu Bambam selesai dengan pesanannya.
Tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk. Dari nomor asing. Jinyoung mengernyit bingung. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut, siapa tahu penting.
"Yeoboseyo"
"Jie"
DEG!
Jinyoung terpaku. Dia kenal betul siapa pemilik suara itu.
"Jie, kau dengar aku?" suara di seberang.
"Ah, ne, ne, aku dengar, kau kah itu-"
"Ne, ini aku, Jae hyung"
TBC
.
.
.
Cepet kan update nya? Hahahaha *tawa bareng Gyeomie*
Tambah lagi cast nya, udah ketebak pasti dia siapa, hihiii
Ya udin, biar Rara semangat lanjutin plus cepat update, tinggalkan jejak kalian ya guys^^
Review juseyo :)))))))))))))))))))))))))))))
