Main cast: Mark Tuan x Park Jinyoung a.k.a Jr GOT7 and member of GOT7
Rate: M (hihi)
Lenght: 3 of ?
Warning (s): boys x boys, boys love, alur acakadul, bahasa acakadul, typo(s), OOC, so, DON'T LIKE DONT READ! Be a good reader and give your review^^
Happy reading readers^^
.
.
.
My Happy Ending
"Jaebum hyung?"
"Iya Jie. Aku Jaebum. Kau, apa kabar?"
Tanpa sadar Jinyoung tersenyum. Entah kenapa, sepertinya sesuatu yang hilang dari hatinya kini telah kembali.
"Baik. Kau sendiri hyung? Kemana saja?"
Tidak ada jawaban. Hanya helaan napas terdengar dari seberang sana.
"Mianhae Jie"
"Untuk?"
"Karena aku telah menghilang"
Giliran Jinyoung yang terdiam. Dia tidak tahu, harus marah atu senang sekarang. Dia telah kembali. Jaebum hyungnya telah kembali. Harusnya dia senang. Tapi dia juga marah karena namja tampan itu pernah meninggalkannya begitu saja, tepatnya dua tahun yang lalu. Dan tiba-tiba dia muncul kembali sekarang.
"Jie, kau masih disana?" suara Jaebum membuyarkan pikiran Jinyoung.
"Ne hyung. Sudah lama, benar kan? Kau kemana saja?" Jinyoung mengulang pertanyaannya.
"Mian. Jeongmal mianhae Jie" lagi-lagi Jaebum meminta maaf. Jinyoung menghela napas berat.
"Sudahlah hyung. Sudah berlalu sekarang"
"Lalu, kau sekarang, masih dengan 'dia'?"
"Entahlah hyung"
"Wae Jie? Kalian ada masalah?"
Jinyoung tersenyum getir. Lagi-lagi perasaan sesak menyergap hatinya.
"Hyung, kau sekarang di Seoul atau masih di tempat persembunyianmu?" Jinyoung akhirnya memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Persembunyian? Haha, kau ini. Aku di Seoul sekarang. Bisa bertemu?"
"Ne, tentu saja. Kapan?"
"Nanti aku akan menghubungimu lagi. Kalau begitu, sampai bertemu Jie"
"Ne hyung"
Jaebum memutus sambungan telepon mereka, tepat setelah itu Bambam datang dengan sebuah nampan berisi makanan pesanannya. Dia lalu duduk berhadapan dengan Jinyoung dan mulai menyantap makanannya.
"Kau habis mendapat telepon?". Jinyoung mengangguk.
"Nugu?"
"Jaebum hyung"
Bambam terbengong, seketika dia menghentikan acara makannya.
"Mwo? Jae hyung? Dia, dia menghubungimu lagi? Jinja?"
"Hey, jangan heboh begitu. Iya, dia di Seoul sekarang, dan dia meminta untuk bertemu"
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Lalu kau mau atau tidak?"
"Aku mengiyakannya. Lagipula aku ingin tahu seperti apa wajahnya sekarang. Pasti dia tambah tampan" Jinyoung tersenyum membayangkannya.
"Ya! Kau sudah bertunangan ingat itu" Bambam memperingatkannya. Seketika wajah Jinyoung kembali murung. Bambam yang menyadari hal itu buru-buru meminta maaf menyesali perkataannya.
"Ehh, Jie, maafkan aku, aku tidak bermaksud-"
"Ne, gwenchana Bamie. Aku baik-baik saja" Jinyoung mencoba tersenyum agar sahabatnya itu tidak merasa bersalah padanya.
Setelahnya, keduanya terdiam. Bambam melanjutkan acara makannya dan Jinyoung yang kembali termenung memikirkan sesuatu.
-o-
Jaebum. Namja tampan yang merupakan kakak kelas Jinyoung saat SMA dulu, yang juga adalah teman sekelas Mark.
Saat mereka masih duduk di bangku SMA, Jaebum memang menyimpan perasaan pada Jinyoung. Tetapi namja itu memendamnya sendiri, tidak mau untuk menyatakannya pada Jinyoung.
Ya, karena saat itu, Jinyoung sudah dimiliki oleh Mark.
Tetapi, Jaebum masih tetap berusaha untuk mendekati Jinyoung. Mendekati secara diam-diam tentu saja. Dia melakukannya dengan cara berteman dan menjadi hyung yang baik dan selalu ada untuk Jinyoung.
Dan dirinyalah yang menjadi sandaran Jinyoung saat Mark menyakitinya. Jaebum adalah orang pertama yang akan didatangi oleh Jinyoung. Dia akan bercerita dan menangis semalaman di bahu Jaebum hingga akhirnya tertidur.
Jaebum bukannya tidak pernah menyarankan Jinyoung untuk berpisah dengan Mark. Sudah sangat sering malah.
Tetapi entah kenapa, Jinyoung sepertinya tidak mau melakukan hal itu. Jaebum tahu tentang perjodohan Jinyoung dan Mark, dan dia rasa itu adalah alasan Jinyoung untuk bertahan.
Jaebum juga sakit. Dia merasakan sakit yang sama saat melihat air mata Jinyoung yang jatuh hanya untuk menangisi Mark. Menangisi namja yang mengkhianatinya. Sungguh mungkin Jaebum sudah akan menghajar Mark jika saja Jinyoung tidak mencegahnya.
Rasa cinta namja manis itu begitu besar terhadap Mark. Dan Jaebum hanya bisa menjadi seorang hyung saja baginya, tidak pernah lebih.
Begitu keterlaluannya Mark pada Jinyoung, hingga pernah suatu kali saat Jinyoung kembali datang untuk kesekian kali padanya dengan wajah sembap dan air mata membasahi kedua belah pipinya.
"Hyung, hiks, Jae hyung"
"Ya, kau kenapa Jie?!" Jaebum buru-buru mendekati Jinyoung dan memeluknya. Jinyoung tidak menjawab. Dia menangis sesenggukan di pelukan Jaebum. Jaebum tahu, sangat tahu kenapa Jinyoung menangis. Dia hanya mengelus punggung namja manis itu, mencoba memberinya ketenangan.
Setelah beberapa lama, perlahan Jinyoung melepaskan pelukan mereka. Dia menatap sendu pada Jaebum. Wajahnya terlihat merah dan bengkak sekarang, membuat hati Jaebum berdenyut sakit melihatnya.
"Hyung" panggil Jinyoung lirih. Suaranya serak khas orang habis menangis.
"Waeyo? Mau cerita?" jawab Jaebum lembut. Dia mengusap lembut puncak kepala Jinyoung. Jinyoung mengangguk lemah tanpa melepaskan tatapannya pada Jaebum.
Jaebum lalu menarik tangan Jinyoung untuk duduk di sofa ruang tengah apartemen miliknya.
"Sekarang kau bisa cerita Jie, aku akan mendengarkan". Dia merangkul bahu Jinyoung dan menatapnya lekat.
"Kau pasti sudah tahu hyung"
"Mark?"
"Ne, siapa lagi yang bisa membuatku begini selain dia" Jinyoung tersenyum getir di sela ucapannya.
"Kali ini, dengan siapa lagi?" Jaebum hati-hati menanyakannya, takut kalau ucapannya akan semakin menyakiti namja imut itu.
"Aku tidak mengenalnya. Sepertinya dia dari sekolah lain. Aku memergokinya saat pulang sekolah tadi, dia, di taman, dengan, hiks, namja itu-, hiks"
Jinyoung tidak mampu meneruskan kata-katanya karena air mata kembali jatuh membasahi wajahnya. Jaebum yang mengerti, kembali merangkul Jinyoung. Mendekap namja itu erat. Dalam hati Jaebum sungguh ingin memberi pelajaran pada Mark sialan itu yang telah membuat Jinyoung jadi hancur seperti ini.
-o-
Jaebum pikir, Jinyoung akan merubah pikirannya dan segera melepaskan Mark karena dia sudah begitu menyakitinya. Namun ternyata tidak.
Tepat setelah hari kelulusan Mark dan Jaebum, Jinyoung memberi tahunya bahwa dia akan bertunangan dengan Mark. Wajah Jinyoung tampak bahagia mengatakan hal itu padanya.
Jaebum hancur. Dia merasakan hatinya berdenyut sakit saat Jinyoung mengatakan hal itu. Dia memberi selamat pada Jinyoung, namun yang tidak Jinyoung tahu adalah Jaebum menangis dalam hatinya.
Sepertinya memang Jaebum tidak pernah bisa menggantikan posisi Mark di hati namja manis itu. Jaebum juga tidak akan sanggup jika terus-menerus melihat keduanya bersama.
Hingga akhirnya Jaebum memutuskan untuk pergi. Diam-diam tanpa sepengetahuan teman-temannya –termasuk Jinyoung-, dia memutuskan untuk meneruskan kuliah di luar negeri, di London tepatnya, meninggalkan kenangan manisnya bersama Jinyoung.
Meninggalkan Jinyoung yang nyatanya sangat butuh kehadiran Jaebum disampingnya. Jaebum tidak tahu jika Jinyoung sangat kehilangan sosoknya, dan itu membuat Jinyoung semakin rapuh.
-o-
Jinyoung sedang berada di kafe yang letaknya dekat dengan SMA nya dulu dan merupakan tempat favorit Jinyoung semasa SMA bahkan hingga sekarang. Sekedar informasi, kafe itu begitu memberikan banyak kenangan dalam hidupnya, terutama yang ada hubungannya dengan sang kekasih, Mark.
Dihadapannya, duduk sesosok namja tampan yang terus memandangnya sejak saat awal mereka bertemu sekitar sepuluh menit yang lalu. Jinyoung jadi salah tingkah sendiri dibuatnya.
"Berhenti memandang seperti itu hyung" akhirnya Jinyoung bersuara, tidak tahan sepertinya.
Namun hanya senyuman yang didapat Jinyoung, sedangkan pemuda tampan bersurai hitam itu tetap saja pada posisinya semula, menangkupkan kedua tangannya di depan wajah sambil terus memandangi sosok yang dari awal mereka bertemu tadi seolah telah menyihirnya untuk tidak melepaskan pandangannya dari pemuda imut tersebut.
"Hyung, ish!"
Pemuda itu tergelak melihat ekspresi kesal Jinyoung.
"Kau bahkan menertawakanku sekarang. Maumu apa sih?!"
"Haha, mianhae Jie. Habis kau semakin imut, aku jadi tidak bisa melepaskan pandanganku darimu"
"Kau ini!" marahnya lagi, namun rona merah menggemaskan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. Membuat Jaebum, sosok yang dari tadi menggodanya tidak tahan lagi untuk tidak mencubit gemas kedua belah pipi kemerahan itu.
"Aww! Appo hyung!" protesnya sambil memegangi kedua tangan Jaebum di pipinya, mencoba melepaskan diri dari 'serangan tiba-tiba' Jaebum kepadanya. Dia merengut kesal setelahnya dengan tangannya yang mengusap-usap pipinya yang sedikit sakit itu.
"Makanya jangan pasang wajah imutmu itu didepanku Jie" Jaebum terkekeh melihat tingkah menggemaskan Jinyoung dihadapannya. Jinyoung tambah merengut kesal kan jadinya.
"Ya, jangan mengerucutkan bibir seperti itu, atau kau mau, kucium?"
"Hyung!"
Jaebum benar-benar menyukai kegiatan mari-menggoda-Jinyoung-hingga-wajahnya-memerah itu. Melihat wajah Jinyoung yang kesal karena ulahnya itu justru sangat dirindukan oleh Jaebum.
"I miss you Jie" ucap Jaebum akhirnya, membuat Jinyoung sedikit terkejut. Jaebum tersenyum lagi.
"Maafkan aku karena tiba-tiba meninggalkanmu. Kau marah karena itu kan?"
Jinyoung tidak langsung menjawab pertanyaan Jaebum. Pikirannya kembali memutar memori tentang dimana saat-saat Jaebum menghilang tiba-tiba. Saat itu, Jinyoung sangat kebingungan mencari sosok hyung yang sangat disayanginya itu. Membuat Jinyoung begitu merasa kehilangan sosok yang selama ini menjadi sandarannya saat dia merasa hancur. Mengingatnya, membuat Jinyoung tanpa sadar tersenyum getir.
"Jie?"
"Hyung tahu? Saat itu, aku begitu kehilanganmu, hingga membuat diriku merasa sangat membencimu, aku merasa sangat marah padamu" Jinyoung menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, mencoba untuk tidak menangis didepan Jaebum.
"Kau satu-satunya orang yang tahu bagaimana aku hancur hyung, tapi kenapa, kau, hiks, tiba-tiba saja,-" Jinyoung sudah tidak dapat membendung air matanya lagi. Meluncur bebas begitu saja, membasahi pipinya yang sudah memerah sedari tadi.
"Jie!" Jaebum segera bangkit dari kursinya, menghampiri Jinyoung lalu memeluk pemuda tampan itu, membiarkan air mata Jinyoung membasahi kemeja yang dikenakannya.
Tanpa disadari keduanya, sepasang mata itu menatap nanar, terpana melihat pemandangan yang terjadi dihadapannya.
-o-
"Sudah baikan?" tanya Jaebum lembut. Dia mengusap surai hitam Jinyoung. Jinyoung hanya mengangguk. Mereka berdua berada didalam mobil Jaebum sekarang.
Akhirnya setelah beberapa saat tadi menangis, Jinyoung mau memaafkan Jaebum. Jinyoung bahkan terkejut karena ternyata Jaebum kembali ke Seoul hanya untuk menemui dirinya. Selama di London, Jaebum terus dihantui rasa bersalahnya pada Jinyoung katanya, hingga akhirnya saat liburan, Jaebum memutuskan untuk pulang dan menemui Jinyoung serta meminta maaf pada pemuda imut itu.
"Mau kemana hyung?" tanya Jinyoung saat Jaebum mulai menjalankan mobilnya.
"Entahlah. Yang jelas, aku masih ingin menghabiskan waktu denganmu Jie. Tidak apa-apa kan?"
"Gwenchana hyung. Lagipula besok libur, aku bisa pulang terlambat dari biasanya"
"Lalu, bagaimana kalau kutraktir es krim?" tawar Jaebum. Jinyoung langsung berbinar mendengar salah satu favoritnya itu.
"Es krim, yeay!" teriaknya girang, membuat Jaebum tertawa gemas melihat Jinyoung yang seperti anak kecil itu.
Tak lama, Jaebum pun menghentikan mobilnya di depan sebuah kedai es krim yang sering mereka kunjungi dulu.
"Masih ingat tempat ini hyung?" Jinyoung bertanya sesaat setelah mereka duduk di kedai itu. Jaebum mengangguk.
"Tentu saja Jie. Ini tempat favoritmu, bagaimana mungkin aku lupa?"
"Benar. Kita sering kesini dulu. Dengan Bamie juga" kenang Jinyoung.
"Bagaimana kabar Bamie?" tanya Jaebum. Sahabat Jinyoung itu juga cukup dekat dengan Jaebum dulu, dan sebenarnya, Bambam sudah tahu bagaimana perasaan Jaebum pada Jinyoung, hanya saja dia melarang Bambam untuk memberitahukan pada Jinyoung.
"Bamie? Dia baik, dan masih bersamaku hyung. Dia juga sudah punya kekasih sekarang"
"Jinja? Siapa kekasihnya?"
"Yugyeom namanya, hoobae tepat satu tahun dibawah kami di kampus" Jinyoung menerangkan. Dan tak lama setelah itu, pesanan mereka berdua datang. Semangkuk besar es krim vanilla strawberry milik Jinyoung dan semangkuk lagi dengan rasa cokelat pesanan Jaebum.
Akhirnya, mereka berdua menghabiskan waktu dengan menikmati es krim sambil bercerita tentang hal-hal yang pernah mereka lalui dulu dan juga kehidupan mereka saat ini. Namun, baik Jinyoung maupun Jaebum memilih untuk menghindari topik tentang satu hal. Mark.
-o-
"Are you okay?"
"Aku baik. Mom jangan khawatir, tidurlah" Mark berusaha tersenyum dihadapan sang eomma. Namun meski begitu, Mrs. Tuan masih bisa merasakan kegalauan hati sang putera.
"Katakan pada Mom jika kau merasa berat, Mark" dia masih berusaha membujuk Mark untuk cerita.
"No, I'm fine. Jangan khawatir Mom. Aku hanya butuh istirahat saja" Mark masih keras kepala, tidak mau berkata terus terang pada eomma nya.
Akhirnya Mrs. Tuan menyerah, lalu dia beranjak meninggalkan kamar Mark setelah sebelumnya mengecup pipi Mark, lalu menghidupkan lampu tidur disana serta mematikan lampu utama.
"Good night baby" ucapnya sebelum menutup pintu kamar sang anak.
Sepeninggal Mrs. Tuan, Mark ternyata tidak tidur. Tidak bisa tidur lebih tepatnya. Pikirannya begitu penuh sekarang. Dan entah kenapa, dia merasakan sesak yang amat sangat di hatinya.
Mark melihat semuanya. Saat tadi Jinyoung begitu akrab bercanda dengan teman sekelasnya dulu, Jaebum. Saat Jinyoung menangis di pelukan pemuda itu.
Mark mengetahui bahwa Jinyoung memang bersahabat dengan Jaebum. Mark mengira mereka hanya sebatas sahabat saja, terlebih, dulu setelah ia dan Jaebum lulus, Mark tahu Jinyoung tidak pernah bertemu lagi dengan Jaebum.
Yang membuat Mark heran dan begitu bertanya-tanya adalah –berdasarkan kejadian tadi-, apakah Jinyoung lebih dari sekedar sahabat dengan Jaebum?
Pertanyaan itu yang sedari tadi berputar-putar di kepalanya, hingga membuatnya merasa tidak tenang. Mark takut, Jinyoung akan berpaling pada Jaebum dan meninggalkannya. Mark benar-benar takut.
Apalagi sekarang hubungan mereka berdua sedang bermasalah. Dan sekali kagi, semua ini salahnya.
Andai saja Mark tidak mudah tergoda, pasti dirinya dan Jinyoung masih baik-baik saja saat ini. Sebenarnya, saat Mark melakukan kesalahan yang sama pada Jinyoung dan Jinyoung mau memaafkannya, dalam hati Mark sudah berjanji tidak akan mengulangi hal itu lagi. Tapi ternyata, Mark tidak tahan godaan.
Setiap kali ada seseorang yang cukup menarik untuknya dan mencoba menawarkan cinta, Mark tidak pernah untuk tidak menolaknya. Meskipun dia tidak pernah memakai hatinya, tapi tetap saja dia menikmati hubungan terlarang itu. Menikmati pengkhianatannya pada sang kekasih yang begitu setia padanya. Dan saat sudah bosan, maka dia akan meninggalkan orang itu lalu kembali pada Jinyoung. Kurang ajar bukan?
Mark menyadarinya. Baru menyadari maksudnya. Dia menyesal, kenapa baru sekarang dia merasa sangat bersalah pada Jinyoung? Padahal Mark sudah sangat yakin bahwa Jinyoung adalah satu-satunya yang dia cintai, hingga dia memberanikan diri untuk melamar kekasihnya itu saat dia baru lulus sekolah menengah.
Diam-diam, Mark menangis untuk semua pengkhianatan yang dilakukannya pada kekasihnya.
TBC
.
.
.
Kebanyakan momen JJ nya yakkk xD
Memang sengaja, biar si Jinyoung bahagia, gak sakit ati mulu gara-gara kelakuan si tampan *lirik Mark*
Gantian Mark yang saya nistakan, padahal dia bias Rara, mianhae Markie~~ T.T *peyuk Mark /digampar/*
Chapter depan, mungkin rate nya udah naik *ehm xD
Makasih yang udah review kemarin yakk, maapin belum bisa bales review, lagi sibuk ceritanya xD /slapped/
Buat yang sudah baca, silahkan tinggalkan kritik dan saran kalian di kolom review ya readers^^
Be a good readers nee^^
