Main cast: Mark Tuan x Park Jinyoung a.k.a Jr GOT7 and member of GOT7

Rate: M (hihi)

Lenght: 4 of ?

Warning (s): boys x boys, boys love, alur acakadul, bahasa acakadul, typo(s), OOC, so, DON'T LIKE DONT READ! Be a good reader and give your review^^

Happy reading readers^^

.

.

.

My Happy Ending

"Kita perlu bicara"

Jinyoung diam saja, mencoba untuk tidak menatap seseorang yang tiba-tiba saja duduk disampingnya itu. Mereka berdua sedang berada di taman belakang kampus.

"Tatap aku Jie"

"Jie"

Jinyoung tetap bergeming. Hingga akhirnya orang itu, Mark, tiba-tiba menangkup kedua pipinya, lalu dia mengunci tatapan Jinyoung hingga hanya menatap ke kedua manik kecokelatan milik Mark sekarang.

"Hyung!" protes Jinyoung, kesal dengan sikap Mark.

"Aku bilang tatap aku!" suara Mark meninggi, membuat Jinyoung langsung menciut. Baru kali ini Mark membentaknya seperti itu.

"Hy-hyung" suara Jinyoung sedikit bergetar, matanya tampak berkaca-kaca sekarang. Mark yang menyadarinya, buru-buru meminta maaf.

"Mian, mianhae Jie, aku tidak bermaksud-"

"Cukup! Tinggalkan aku sendiri!"

"T-tapi Jie"

"Pergi hyung, aku ingin sendiri!"

Akhirnya, Mark terpaksa menuruti permintaan Jinyoung. Dengan langkah berat Mark meninggalkan tempat itu. Mark sempat menengok ke belakang, dilihatnya Jinyoung sedang mengusap matanya, mencoba menghapus air mata yang terlanjur jatuh –lagi-. Dan itu karena ulahnya lagi.

'Kau bodoh Mark!' Mark memaki dirinya sendiri dalam hati.

Dan sebelum Mark benar-benar pergi, samar-samar Mark mendengar Jinyoung kembali menyebut nama itu. Jaebum.

-o-

"Yeoboseyo"

"Jie? Kau kenapa? Kau menangis?" pertanyaan bertubi datang dari Jaebum di seberang.

"Jaebum hyung, hiks"

"Jie? Kau dengar aku? Kau dimana sekarang?"

"A-aku di kampus, hiks, hyung"

"Aku kesana sekarang, tidak ada penolakan"

"T-tapi hyung"

Jaebum sudah menutup sambungan teleponnya saat Jinyoung akan protes. Tapi dia bisa apa, Jaebum tidak akan bisa dibantah jika sudah seperti itu.

Jinyoung kembali merenungi sikap Mark yang berubah menjadi kasar tadi. Apa mungkin Mark sudah tidak mencintainya lagi? Apakah Jinyoung sudah tidak ada dihati Mark sekarang?

Sungguh baru kali ini Mark bersikap seperti itu. Meskipun sudah menyakitinya berulang-ulang, tapi Mark tidak pernah tidak bersikap lembut pada Jinyoung. Mark selalu memanjakan dirinya, memberinya kenyamanan saat mereka bersama. Bahkan saat mereka bertengkar dan itu karena Jinyoung, Mark tidak akan segan untuk meminta maaf terlebih dahulu. Tapi sekarang semuanya berubah.

Mungkin memang Mark sudah tidak menyimpan Jinyoung lagi dihatinya, pikir Jinyoung sedih.

Tidak lama, ponsel miliknya bergetar. Satu pesan dari Jaebum yang mengatakan dia sudah sampai dan menunggu Jinyoung di depan gerbang kampusnya.

Jinyoung pun segera beranjak meninggalkan tempat itu. Dia tidak memungkiri, dia butuh Jaebum saat ini, seperti dulu lagi.

-o-

Mark menatap nanar kedepan.

Dia melihat semuanya. Bagaimana Jaebum dengan perhatian menuntun kekasihnya, Jinyoung untuk masuk ke dalam mobil Jaebum hingga mobil itu kini tidak terlihat lagi.

Semua ini salahnya, dia tahu itu. Tapi tak bisa dipungkiri, dia marah. Mark marah karena Jinyoung menangis di pelukan laki-laki selain dirinya, dan itu karena ulahnya lagi-lagi menyakiti Jinyoung.

Mark hanya takut. Dia takut posisinya tergantikan di hati tunangannya itu. Andai saja bisa, Mark ingin mengulang waktu dan memperbaiki semua kesalahannya pada Jinyoung. Tapi sekarang apa? Mungkin sudah terlambatkah? Penyesalan memang selalu datang belakangan.

"Mark" sebuah suara mengagetkannya. Jackson yang ada di belakang Mark.

"Dia sudah pergi Jack" ucap Mark lesu dengan kepala tertunduk. Jackson menepuk pundak sahabatnya itu, mencoba memberi kekuatan untuk Mark.

"Mungkin waktunya belum tepat Mark. Berikan waktu lebih untuk dia menenangkan hatinya. Aku yakin Jinyoung hanya butuh waktu lebih untuk sendiri"

"Atau mungkin tidak? Kau tahu dia dijemput siapa barusan?"

"Siapa?" tanya Jackson penasaran.

"Jaebum"

Jawaban Mark membuat Jackson benar-benar terkejut. Pasalnya, tanpa sepengetahuan Mark, Jackson tahu kalau Jaebum dulu pernah menyukai Jinyoung, atau mungkin sampai sekarang?

"Jaebum, Im Jaebum maksudmu?" Jackson memastikan, dijawab dengan anggukan lemah oleh Mark.

'Masalah baru lagi', batin Jackson.

"Hey dude, mereka 'kan memang sahabat mulai dulu, apa yang kau khawatirkan?" Jackson masih berusaha meyakinkan Mark.

"Apakah sahabat sampai berpelukan mesra Jack?"

"Berpelukan? Maksudmu, Jinyoung, Jaebum, mereka?"

Mark mengangguk lagi. Jackson menatap prihatin sahabatnya itu. Dia benar-benar merasa kasihan pada Mark sekarang, 'yah walaupun itu akibat ulah bodoh Mark sendiri.

"Ah, mungkin karena sudah tidak lama bertemu jadi mereka seperti itu Mark, kau tahu, salam pembuka, seperti itu"

"Benarkah? Tapi aku takut Jinyoung berpaling Jack. Aku benar-benar tidak bisa"

"Tidak mungkin, kau harus yakin Mark. Jinyoung begitu mencintaimu, kau tahu itu bukan?"

"Kuharap sekarang masih begitu" jawab Mark akhirnya.

Ya, Mark masih berharap Jinyoung tetap mencintainya seperti dulu.

-o-

"Karena dia lagi?" Jaebum membuka suara setelah beberapa lama terdiam, menunggu Jinyoung tenang. Jinyoung tersenyum getir, membuat Jaebum mengerti.

"Apa kali ini Jie?"

Jinyoung masih terdiam. Dia menerawang, kembali memikirkan kejadian di taman lagi. Dia menimbang-nimbang, apa dirinya yang terlalu sensitif atau memang Mark yang sudah mulai berubah?

"Jie"

"Eh? Maaf hyung, aku sedikit melamun"

Jaebum tersenyum. Dia mengusap lembut pucuk kepala pemuda manis itu.

"Tidak apa. Kita sudah sampai di depan rumahmu. Mau turun sekarang?"

Jinyoung refleks menatap ke jendela mobil Jaebum disampingnya, dan benar saja, mereka kini sudah ada didepan rumah Jinyoung.

"Aku tidak sadar hyung, astaga, maafkan aku"

"Tidak perlu minta maaf Jie, aku mengerti. Lalu sekarang bagaimana?"

"Aku turun saja hyung, lagipula eomma berpesan agar aku pulang cepat hari ini. Kau mau masuk dulu hyung?" tawar Jinyoung. Jaebum menggeleng sebagai jawabannya.

"Aku ada janji Jie, lain kali saja aku ke rumahmu".

"Begitu. Baiklah. Aku masuk dulu kalau begitu. Terima kasih atas tumpangannya Jae hyung"

"Hubungi aku jika kau butuh tempat cerita Jie" ujar Jaebum yang dibalas dengan senyuman dan anggukan Jinyoung.

Lalu setelahnya, Jinyoung turun dari mobil Jaebum kemudian mobil Jaebum pun melaju meninggalkan kediaman Jinyoung.

"Aku pulang" ucap Jinyoung saat baru membuka pintu rumahnya.

"Kau sudah datang sayang. Baguslah kau tidak pulang terlambat. Eomma sudah memasak untuk makan malam"

Jinyoung mengernyitkan dahinya heran, pasalnya di ruang tamu rumah mereka terdapat dua buah koper besar yang Jinyoung ketahui merupakan milik kedua orang tuanya.

"Eomma mau pergi?" tanyanya. Nyonya Park mengangguk.

"Mendadak Jie. Eomma dan appa harus ke Jepang, ada beberapa masalah di cabang perusahaan kita. Kau tidak apa 'kan kami tinggal dulu sayang?"

"Tidak apa 'sih eomma. Hanya saja aku sedikit terkejut" Jinyoung tersenyum menanggapinya.

"Baguslah kalau begitu. Eomma sebenarnya tidak ingin meninggalkanmu sayang, tapi appa butuh ditemani kesana"

"Jangan khawatirkan aku eomma. Kalian pergi saja. Aku sudah besar lagipula, aku bisa menjaga diriku sendiri" Jinyoung berusaha meyakinkan Nyonya Park yang sepertinya tidak tega meninggalkan putera semata wayangnya itu.

"Benar. Lagipula eomma sudah bilang pada Mrs. Tuan, Mark akan menemanimu tinggal disini selama kami pergi sayang"

"Mark hyung?!"

Jinyoung seketika terkejut. Apa yang harus dia lakukan? Hubungan mereka sedang tidak baik sekarang dan Mark akan tinggal bersamanya? Tidak mungkin!

"Ya, Mark. Dia kan tunanganmu sayang, apa salahnya?" tanya Nyonya Park.

"Eomma, eomma tahu 'kan, aku dan Mark hyung, kami-"

"Eomma mengerti sayang. Mungkin saja dengan begini hubungan kalian bisa membaik 'kan? Eomma tidak mau kalau kalian sampai berpisah, begitu juga dengan appa dan orang tua Mark. Kau mengerti 'kan sayang?"

Kata-kata Nyonya Park membuat Jinyoung lemas seketika. Mempertahankan hubungannya dengan Mark? Bagaimana caranya? Dia bahkan bingung bagaimana perasaannya sekarang terhadap pemuda tampan itu.

"Jie?" panggil sang eomma, membuat Jinyoung tersadar.

"Baik, baiklah eomma. Lalu, eomma pergi berapa lama?"

"Mungkin, satu bulan"

Jinyoung sekali lagi terkejut.

"Selama itu?"

"Entahlah Jie, belum pasti. Mungkin bisa lebih cepat, atau mungkin lebih lama, eomma tidak bisa memastikan".

Sekali lagi, jawaban sang eomma membuat Jinyoung merana dalam hatinya.

Selama itu menghabiskan waktu dengan Mark yang notabene sudah menghancurkan hatinya, apa dia sanggup?

"Jie, sepertinya appa sudah di depan. Ayo kedepan, mungkin appa ingin bertemu denganmu sebelum kami pergi"

"Iya eomma"

Lalu ibu dan anak itupun segera beranjak keluar rumah menemui Tuan Park. Sekali lagi Jinyoung terkejut, karena di luar, appanya tampak sedang berbincang dengan Mark.

"Jie, baik-baik di rumah ya sayang. Segera hubungi kami jika terjadi sesuatu. Ah, harusnya aku tidak perlu khawatir, ada Mark yang akan menjagamu" Tuan Park berpesan pada Jinyoung.

"Iya appa, appa tidak usah khawatir, aku bisa menjaga diri selama kalian pergi"

"Aku akan menjaga Jinyoung dengan baik appa" Mark berucap, membuat Jinyoung sedikit melirik pemuda yang berdiri disampingnya itu.

"Baiklah kalau begitu kami berangkat dulu sayang" ucap Tuan Park lalu setelahnya pasangan suami isteri itu masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke bandara.

Sepeninggal Tuan dan Nyonya Park, Jinyoung tanpa sepatah kata pun langsung masuk kembali kedalam rumah meninggalkan Mark. Mark mengikuti di belakangnya.

"Jie" panggilnya saat mereka sampai di ruang tamu.

"Jangan bicara apapun padaku jika tidak benar-benar penting. Kau menempati kamar tamu jadi cepat masukkan semua barangmu kesana. Aku keatas" tanpa menengok pada Mark, Jinyoung menjelaskan semuanya dan setelah itu dia segera menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.

Mark menghela nafas berat.

'Sepertinya akan sulit' dia membatin miris.

-o-

"Mark hyung tinggal dirumahmu?!" Bambam sedikit berteriak saat Jinyoung menceritakan semuanya di kantin kampus mereka.

Jinyoung hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.

"Lalu kau bagaimana Jie? Baik-baik saja 'kan?"

"Aku tidak apa Bamie. Hanya saja semuanya terasa berat. Kami bahkan tidak saling bicara. Aku sih yang memintanya"

"Kenapa Jie? Kau hanya mempersulit dirimu sendiri jika begitu" Bambam menatap prihatin sahabatnya itu.

"Entahlah Bamie. Aku seperti tidak ingin melihat wajahnya, mendengar suaranya apalagi sampai harus bicara dengannya. Aku bingung Bamie"

"Jie" nada suara Bambam terdengar serius kali ini, membuat Jinyoung yang sedang mengacak rambutnya frustasi refleks menghentikan kegiatannya itu.

"Kenapa Bam? Kau, kau serius sekali"

"Ini memang serius. Aku ingin memastikan sesuatu". Jinyoung mengernyit bingung.

"Apa?"

"Kau masih mencintai Mark hyung?"

DEG

Entah kenapa pertanyaan Bambam seolah menghantam keras dadanya, membuat semacam perasaan nyeri menyerang perasaan pemuda imut itu.

"Jie kau dengar aku?" suara Bambam membuyarkan pikiran Jinyoung.

"Aku tidak tahu Bamie" jawab Jinyoung seadanya. Dia benar-benar bingung dengan perasaannya pada sang kekasih sekarang.

"Jika kau harus melepaskannya, apa hatimu rela Jie?"

"Tidak!" refleks Jinyoung menjawab.

Entah kenapa memikiran Mark harus pergi meninggalkannya dia merasa tidak rela, meskipun sekarang dia juga merasakan kebencian pada pemuda tampan tinggi itu.

Jawaban Jinyoung membuat Bambam tersenyum.

"Kau sudah menemukan jawabannya. Dia masih ada dihatimu Jie. Dia masih memiliki cintamu. Hanya saja dia memang perlu diberi sedikit pelajaran, siapa suruh menyakiti sahabat manisku ini"

"Apakah dia bisa merubah Bamie?" Jinyoung menerawang.

"Pasti bisa Jie. Dia sangat mencintaimu, hanya saja sifat playboy sialannya itu yang membuatnya begitu menyebalkan"

"Semoga saja" ucap Jinyoung akhirnya, sangat berharap sang kekasih mau berubah.

"Jie, sepertinya aku harus pergi. Gyeomie minta ditemani jalan-jalan hari ini. Dia sudah menungguku di parkiran. Kau tidak apa kutinggal?"

"Iya, pergi kencan saja sana, nanti jamuran Gyeomie menunggumu. Hati-hati Bamie" ucap Jinyoung sambil tertawa, membuat dia mendapat salam perpisahan berupa jitakan di dahinya dari sahabat tersayangnya itu.

Setelah Bambam pergi, Jinyoung memutuskan untuk pulang ke rumah, mengingat dia sudah tidak ada jadwal kuliah lagi hari ini.

Saat dia berjalan sampai di gerbang kampus, sebuah mobil sport mewah warna merah berhenti tepat disampingnya. Jinyoung sudah hafal diluar kepala siapa pemilik mobil itu.

Pemilik mobil yang tak lain adalah Mark keluar dari mobil, lalu dia membuka pintu penumpang dan tanpa berkata apapun segera menarik Jinyoung lalu mendudukkan pemuda manis itu di kursi sebelah kemudi, menutupnya dan setelahnya dia berjalan memutar lalu masuk ke mobil.

Jinyoung yang terkejut setengah mati tidak bisa menolak ataupun melawan Mark. Baru setelah Mark duduk disampingnya, dia menatap tajam sang kekasih.

"Apa-apaan kau hyung?!" marahnya.

"Kalau tidak begini kau tidak akan mau pulang bersamaku" jawab Mark enteng, lalu diapun segera menjalankan mobilnya meninggalkan kampus menuju rumah Jinyoung –tempat tinggal sementara Mark-.

"Kau selalu seenaknya!"

"Maafkan aku baby, aku, aku menyesal" ucap Mark. Ucapannya terdengar begitu tulus.

Jinyoung tersenyum getir.

"Menyesal? Setelah melakukannya berulang kali? Baru menyesal sekarang?" Jinyoung bertanya bertubi-tubi, membuat Mark tidak tahan dan dia buru-buru menepikan mobilnya.

"Kenapa berhenti?" tanya Jinyoung dingin. Jinyoung hanya ingin sampai dirumahnya sekarang, dia benar-benar tidak tahan berdekatan dengan sang kekasih untuk saat ini.

"Kita harus bicara"

"Jalan"

"Tidak sebelum semuanya selesai dan kau mendengarkan penjelasanku"

Jinyoung menatap Mark, menatap wajah tampan favoritnya itu yang akhir-akhir ini entah kenapa membuat hatinya sesak.

"Apa? Apalagi penjelasanmu sekarang hyung?" ucapnya lirih.

Jinyoung berkaca-kaca, dan Mark melihat itu. Refleks dia menarik Jinyoung ke dalam pelukannya, mendekap kekasihnya erat, mencoba menyalurkan rasa cinta sekaligus rasa menyesal hanya untuk kekasihnya.

"Lepaskan" Jinyoung berontak sambil menangis terisak, dia memukul-mukul dada Mark, mencoba melepaskan diri dari dekapan nyaman sang kekasih.

Mark bergeming, bahkan dia memeluk Jinyoung semakin erat. Bahu Mark basah karena air mata orang yang amat dia cintai. Dan Mark sangat menyalahkan dirinya karena air mata itu tidak seharusnya jatuh jika Mark tidak mengkhianati Jinyoung.

Setelah beberapa lama, Jinyoung mulai tenang, dan Mark melepaskan dekapannya, tapi tangannya masih setia melingkar di pinggang ramping Jinyoung.

Mark menatap dalam wajah sembap kemerahan dihadapannya. Dia benar-benar mengutuk dirinya sendiri sekarang. Mark baru sadar Jinyoung sangat tersakiti akibat ulahnya.

"Maafkan aku, please" ucap Mark lirih. Dia mengusap lembut pipi Jinyoung.

"Apa masih ada alasan untuk memaafkanmu?" suara Jinyoung terdengar serak.

"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu"

"Tapi kau sudah menyakitiku hyung, sudah berulang-ulang begitu. Apa aku dicintai untuk disakiti?"

"Tidak baby. Aku salah, aku menyesal. Please maafkan aku"

"Jika aku tidak memaafkanmu?"

"Aku akan tetap memohon baby, selamanya aku akan memohon sampai kau memaafkanku"

Jinyoung menghela nafas. Entah dia harus bagaimana sekarang. Hatinya tidak bisa berbohong, dia masih mencintai pemuda Amerika itu. Tapi disisi lain, Jinyoung memiliki trauma. Dia takut disakiti untuk kesekian kalinya.

"Buktikan kalau kau benar-benar menyesal hyung" jawab Jinyoung akhirnya.

Wajah Mark langsung berbinar. Dia menatap lekat Jinyoung.

"Kau memaafkanku baby?" tanyanya senang. Jinyoung menggeleng.

"Saat ini belum, aku menunggu bukti kalau kau benar-benar menyesal"

Mark sedikit kecewa mendengarnya, tapi dia bersyukur, setidaknya dia sudah diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya pada sang kekasih.

"Aku janji baby, aku janji akan membuktikan kalau aku benar-benar menyesal dan aku benar-benar mencintaimu" ucapnya sungguh-sungguh. Mark menggenggam erat tangan Jinyoung.

"Aku pegang janjimu hyung" balas Jinyoung.

"Tapi, aku boleh minta satu hal?"

Jinyoung menatap Mark bingung.

"Aku mohon, jangan diamkan aku lagi. Aku benar-benar tersiksa melihatmu setiap hari tapi aku tak bisa mendekatimu sejengkal pun, aku mohon baby" Mark merajuk sekarang, membuat Jinyoung mau tak mau tersenyum melihat tingkah konyol kekasihnya itu.

Mark memang suka merajuk hanya jika dia ada dihadapan Jinyoung, tapi tidak pernah terjadi dihadapan orang lain.

"Iya, aku tidak akan mendiamkanmu lagi hyung" Jinyoung menuruti kemauan Mark, membuatnya sekali lagi ditarik ke pelukan sang kekasih.

"Terima kasih baby. Aku mencintaimu" ucap Mark senang. Jinyoung hanya bergumam membalasnya.

-o-

Sesampainya dirumah, Mark tidak mau melepaskan Jinyoung sekalipun. Hanya saat mandi saja Mark mau melepaskan genggamannya dari tangan Jinyoung.

"Hyung, kau kenapa sih?" tanya Jinyoung heran.

Saat ini mereka berdua sedang ada di kamar Jinyoung, diatas tempat tidur Jinyoung tepatnya. Jinyoung tengah bersandar nyaman di dada bidang sang kekasih, dengan tangan Mark yang tidak pernah melepaskan tangan Jinyoung untuk digenggamnya.

"Aku takut kau mendiamkanku lagi dan tidak memperbolehkan aku dekat-dekat denganmu baby" jawab Mark manja.

"Hyung, hentikan bersikap manja, tidak cocok tau"

"Biar saja, aku manja hanya padamu baby" jawab Mark. Jinyoung hanya menggeleng heran melihat kelakuan absurd kekasih tampannya itu.

"Baby"

"Kenapa hyung"

"Jangan tinggalkan aku"

"Hmm"

"Jawab baby"

"Sudah tadi kan"

"Aku tidak mendengarnya"

Jinyoung memutar bola matanya malas. Dia bangkit dan menatap wajah Mark.

"Aku tidak akan meninggalkanmu asal kau tidak menyakitiku hyung"

Mark mengangguk senang.

"Aku tidak akan menyakitimu lagi, aku janji kemarin adalah terakhir kalinya" ucap Mark lalu dia membawa Jinyoung lagi untuk bersandar nyaman di dadanya.

"Baby"

"Apalagi-"

Chu!

Jinyoung refleks membulatkan kedua matanya. Mark tiba-tiba saja menciumnya di bibir saat dia hendak menatap kekasihnya itu. Ciuman tiba-tiba yang langsung membuat jantung Jinyoung berdebar hebat. Ini bukan ciuman pertamanya dengan sang kekasih, tapi tetap saja jantungnya berdebar.

Mark tetap menempelkan bibirnya beberapa saat pada bibir kissable sang kekasih, lalu dia menggerakkan bibirnya perlahan, melumat pelan bibir Jinyoung bergantian atas dan bawah. Hingga lumatan itu bertambah dalam dan intens, tangan Jinyoung kini sudah mengalung indah di leher Mark, sedangkan tangan Mark melingkar di pinggang sang pemuda imut. Ciuman dalam dan intens serta saling berbelit lidah membuat keduanya terbuai dan tidak sadar bahwa sekarang posisi Mark ada di atas Jinyoung.

Merasa butuh pasokan oksigen, Mark melepas tautan intens mereka, menyisakan saliva di bibir merah sang kekasih yang kini membengkak akibat ulahnya. Mark menggunakan ibu jarinya untuk mengusap bibir Jinyoung. Dia menatap dalam manik kelam dihadapannya. Mencoba mengkomunikasikan maksud hati pada sang kekasih.

"may I?"

TBC

.

.

.

Hayoooo lu, CUT! xD

Sebenernya tadinya masih bingung ini si Ji Er enaknya dipacarin-astaga- sama Ji Bi ato suruh stay sama Mr. Amerika saja

Tapi setelah dapet wangsit(?), sementara sama Markie dulu aja, gatau endingnya gimana xD

Menurut reader sekalian gimana?

Mau tanya nih, ada yang masih inget ff ini? /gak /yaudah baca mulai part 1 /ogah author!

Lama tak update, ceritanya gegara sebagai mahasiswa (udah tua) semester banyak yang lagi bergulat(?) sama sesuatu hal bernama skripsi (apa ini)

Author dikejar deadline nyelesein skripsi, alhasil semua ff terbengkalai T.T

Tapi akhirnya bisa ngelanjutin ini ff karena saya merasa jenuh dengan skripsi *plak

Ya sudah, segitu saja curcol saya readers, dan jangan lupa setelah baca, ripiuw buat tambah semangat saya ngerjain skripsi eh, ngelanjutin ini ff maksudnya :D

Riview juseyo readers^^