Main cast: Mark Tuan x Park Jinyoung a.k.a Jr GOT7 and member of GOT7
Rate: M (beneran M, ada NC nya yang ga hot *slapped*, yang merasa dibawah umur minta tolong kesadarannya dengan men-skip(?) bagian itu, Rara gak tanggung yaa, udah kasih tau sebelumnya :v)
Lenght: 5 of ?
Warning (s): boys x boys, boys love, alur acakadul, bahasa acakadul, typo(s), OOC, NC! BE AWARE! UNDER AGE FORBIDDEN!, DON'T LIKE DONT READ! Be a good reader and give your review^^
Happy reading readers^^
.
.
.
My Happy Ending
"May I?"
Jinyoung tidak langsung menjawab. Dia menatap lekat manik kecokelatan milik Mark dihadapannya. Berusaha mencari sesuatu untuk meyakinkannya menyetujui permintaan sang tunangan.
Hingga akhirnya namja imut itu mengangguk, sebagai pertanda bahwa Mark sudah diijinkan untuk melakukan hal yang lebih jauh pada kekasihnya itu.
Mark mengusap lembut rambut yang menutupi dahi Jinyoung, lalu mengecup dalam dahi sang kekasih, membuat Jinyoung otomatis memejamkan matanya.
Kecupan Mark mengarah semakin kebawah. Dia mengecup hidung Jinyoung, lalu kedua belah pipi putih yang sedang merona itu, kemudian turun lagi pada dagu Jinyoung dan terakhir Mark mengecup dalam bibir ranum milik kekasih imutnya itu.
Mendiamkan bibirnya selama beberapa saat menempel dengan bibir hangat milik Jinyoung, perlahan Mark kemudian menggerakkan bibirnya untuk melumat bibir atas dan bawah milik Jinyoung bergantian. Menghisap dan mengecupi bibir kissable itu, dan Mark semakin memperdalam lumatannya saat tangan Jinyoung berpindah ke tengkuknya dan menekannya agar ciuman mereka semakin intens.
"Eungh"
Lenguhan pertama yang terdengar dari bibir Jinyoung digunakan Mark sebagai kesempatan untuk memasukkan lidahnya kedalam mulut hangat Jinyoung, menyapa semua yang ada disana hingga akhirnya bertemu dengan sang tuan rumah yang menyambutnya dengan saling membelit, saling mencoba mendominasi yang akhirnya tentu saja dimenangkan oleh sang dominan.
Ciuman panas itu akhirnya terpaksa dihentikan oleh Mark saat tangan Jinyoung menepuk dadanya pelan pertanda dia butuh pasokan udara. Mark kemudian berpindah menciumi garis rahang sang kekasih, lalu ciumannya semakin turun hingga sampai ke leher putih jenjang milik Jinyoung.
Mark mulai mengecupi kulit seputih susu yang menyelimuti leher itu gemas, menggigit-gigitnya perlahan dan melukis menggunakan bibir serta lidahnya hingga terciptalah sebuah noda(?) berwarna merah keunguan di leher Jinyoung, yang menandakan bahwa Jinyoung dalam kuasa Mark seorang.
Pemuda tampan itu melanjutkan menandai daerah kekuasaannya. Dia terus mengecup dan menggigit-gigit kecil leher Jinyoung hingga banyak hickey tercetak jelas disana, dan sekarang tangannya dengan jahil dimasukkan kedalam kemeja yang dikenakan Jinyoung dari bawah.
Mengelus lembut perut rata nan halus milik Jinyoung, elusan Mark semakin mengarah keatas hingga dia menemukan dua buah tonjolan kecil yang terasa menegang di jari Mark. Mark menekan-nekan tonjolan itu dengan ibu jarinya, mencubitnya perlahan serta mengusap lembut yang membuat empunya menggeliat gelisah dibawah Mark.
"Engh, hyungieh" desah Jinyoung pelan.
Jinyoung menjambak halus rambut Mark, menekan kepala sang kekasih hingga semakin tenggelam di lehernya yang sudah tidak mulus lagi akibat perbuatan Mark. Jinyoung sungguh dibuat mabuk oleh sentuhan lembut dari kekasihnya. Mark begitu mahir membuat Jinyoung jatuh dalam kenikmatan yang dia ciptakan.
Entah sejak kapan kemeja itu sudah tanggal dari tubuh Jinyoung. Jinyoung merasakan ciuman Mark semakin turun, dan saat ciuman Mark sampai di dada Jinyoung, Mark mengarahkan bibirnya untuk mengecup nipple kecokelatan tegang milik Jinyoung. Dia menghisap lembut tonjolan itu, sedikit menggunakan lidahnya untuk menggoda nipple Jinyoung serta tak lupa tangannya memainkan nipple satunya yang tidak terjamah oleh bibir Mark.
"Hyungieh, mmhh" desahan Jinyoung tak bisa ditahan lagi akibat perlakuan nikmat bertubi Mark pada tubuhnya.
Jinyoung menggerakkan tubuhnya gelisah, hingga tak sengaja, sesuatu dibawah sana yang sedang menegang milik keduanya saling bergesekan. Mark menggeram rendah demi merasakan saat nikmat miliknya yang bergesekan tidak sengaja dengan milik Jinyoung.
"Baby, kau sengaja menggodaku?" Mark menghentikan kegiatannya, menatap Jinyoung dari atas secara intens.
"Apa?"
"Itu" mata Mark menatap ke bawah, membuat Jinyoung tak berani menatapnya lagi. Dia malu demi apa!
"Tidak" jawabnya singkat. Mark mengulum senyumnya, dia begitu gemas pada kekasihnya itu.
"Wajahmu kenapa memerah?" godanya.
"Apa sih hyung!" Jinyoung sewot, akhirnya dia kesal juga digoda oleh kekasihnya.
"Hahaha, kau lucu sekali baby. Emm, kulanjutkan?" tawar Mark akhirnya.
Jinyoung menatap sedikit kesal pada Mark, tapi akhirnya dia mengangguk juga, membuat Mark tersenyum lalu dia mengecup sekilas bibir merah yang sudah membengkak milik Jinyoung itu.
"Terima kasih sudah percaya padaku" bisik Mark di telinga Jinyoung. Jinyoung tersenyum menatap Mark.
Mencium bibir Jinyoung sekali lagi, kali ini Mark melumatnya lebih ganas dari saat awal mereka berciuman tadi. Mark benar-benar melumat habis bibir Jinyoung, bergantian bibir atas dan bibir bawah. Lidah Jinyoung juga tak luput dari sasaran Mark. Dia membelit lidah Jinyoung dengan lidah hangatnya, mengajaknya untuk bertarung dalam mulut hangat Jinyoung dan saling bertukar saliva.
Tangan Mark juga ikut andil. Dia mengusap-usap mulai dari leher, dada dan nipple tegang namja imut itu, memelintir pelan nipple itu dan menekan-nekan dengan ibu jarinya membuat Jinyoung menggeliat nikmat sekali lagi.
"Mmmhhh" desahan tertahan akhirnya muncul lagi dari bibir Jinyoung yang sedang ditawan oleh bibir hangat milik Mark.
Tangan Mark terus terarah ke bawah, mengusap lagi perut rata Jinyoung, hingga akhirnya sampai ke pangkal kaki Jinyoung dimana milik Jinyoung yang sedang tegang berada.
Mark mengusap-usap milik Jinyoung dari luar jeans yang sedang dikenakan Jinyoung, membuat sang pemilik semakin bergerak gelisah. Jinyoung bahkan semakin ganas membalas lumatan Mark di bibirnya.
"Ahh Markieh hyunghh" desahan langsung meluncur begitu saja dari bibir Jinyoung saat Mark melepaskan tautan bibir mereka dan beralih mengecupi dan menandai lagi leher penuh hickey ciptaan Mark milik Jinyoung. Tangan Mark meraih resleting jeans Jinyoung, lalu menariknya kebawah dan tak lupa juga melepaskan kancing celana Jinyoung.
Mark bangkit, menarik lepas jeans Jinyoung beserta dalamannya, lalu dia dengan cepat membuka kaus serta jeans miliknya lalu membuangnya begitu saja, dan jadilah sekarang mereka berdua dalam keadaan full naked.
Tanpa bertanya lagi, Mark menindih tubuh Jinyoung sekali lagi, mencium dan melumat bibir Jinyoung sambil menggesek-gesekkan milik mereka berdua yang sudah sama-sama tegang. Desahan tertahan dari keduanya memenuhi kamar Jinyoung yang saat ini terasa panas meskipun AC dalam ruangan itu menyala.
Mark melepas tautan bibir mereka, lalu menatap Jinyoung dalam.
"I will do it, just believe me, okay?" bisiknya, mencoba meyakinkan sang kekasih mengingat ini adalah kegiatan intim pertama sepasang kekasih itu.
Jinyoung menjawab dengan mengangguk pasrah, dia percaya sepenuhnya pada Mark.
Mark bangkit lalu mengambil jeans miliknya yang tergeletak begitu saja di lantai. Dia merogoh saku jeansnya, mengambil sebuah botol kecil dari dalam sana. Jinyoung mengernyit bingung.
"Apa itu hyung?" tanyanya polos.
Mark tersenyum lalu mendekat lagi pada Jinyoung. Dia kini memposisikan dirinya berlutut dengan kedua kaki Jinyoung mengapitnya di sisi kiri dan kanan tubuhnya.
"Lube baby". Jawaban Mark membuat Jinyoung semakin bingung.
"Lube? Pelumas? Apa yang dilumasi hyung?"
Mark spontan tertawa mendengar pertanyaan polos dari kekasihnya itu. Sebentar lagi dia tidak akan polos lagi, pikir Mark licik.
"Kau akan tahu saat aku menggunakannya sebentar lagi baby" jawab Mark kemudian sambil tersenyum sok misterius. Membuat Jinyoung mendecih malas.
Mark lalu membuka tutup botol itu, mengeluarkan isinya lalu melumurkannya pada miliknya yang sudah tegang. Kemudian Mark mengarahkan ujung botol yang berbentuk lancip itu pada lubang kemerahan milik Jinyoung dan memencet ujungnya agar isinya keluar dan memenuhi lubang Jinyoung.
"Ah! Dingin hyung!" pekik Jinyoung terkejut. Dia merasa aneh dan asing, sesuatu telah memenuhi lubangnya dan itu rasanya dingin.
"Tidak apa baby, itu akan memudahkan saat aku memasukimu sebentar lagi" Mark menjelaskan, membuat Jinyoung mengangguk mengerti, walaupun dia masih tidak terbiasa dengan sesuatu bernama lube itu.
Mark memposisikan dirinya seperti tadi. Dia mengangkat kedua kaki Jinyoung dan menyandarkan ke bahu miliknya.
"Baby, kalau kau sakit, cakar atau gigit saja aku, okay?" ucapnya.
"Tapi hyung-"
"Lakukan saja baby"
Jinyoung menyerah. Dia tidak akan tega tentu saja melakukannya pada Mark. Bagaimana dia bisa menyakiti-
"Argh!" refleks Jinyoung menggigit lengan Mark, membuat Mark meringis sakit, tapi dia tidak mengeluh. Yang dirasakan Jinyoung jauh lebih sakit, Mark tahu itu. Karena Mark baru saja memasuki lubang Jinyoung dalam sekali hentak, hingga saat ini miliknya tertanam sempurna di dalam kekasihnya.
"Appo hyung, hiks" Jinyoung sedikit menitikkan air mata. Mengingat bagaimana barusan lubangnya serasa dibelah paksa oleh sesuatu yang amat keras yang memasuki lubangnya.
"Maaf, maafkan aku baby" Mark mengecupi wajah Jinyoung, mengecupi sudut mata Jinyoung yang basah oleh air mata sang kekasih.
Mark mencium lagi bibir Jinyoung dan melumatnya lembut, mencoba mengalihkan rasa sakit yang dirasakan Jinyoung, membiarkan Jinyoung terbiasa dengan kehadiran Mark didalamnya.
"Masih sakit?" tanya Mark lembut setelah melepaskan pagutannya.
Jinyoung menggeleng. Sejujurnya masih sedikit perih, tapi Jinyoung tidak ingin mengecewakan kekasih hatinya itu.
"Move hyung" ucapnya.
Mark mengangguk. Perlahan, Mark menarik pinggulnya menjauhi Jinyoung, lalu dia menghentakkan sekali lagi miliknya pada Jinyoung.
"Argh!" pekik Jinyoung lagi, membuat Mark langsung menghentikan gerakannya.
"Tidak apa hyung, terus bergerak. Lama-lama pasti tidak sakit" Jinyoung tersenyum, mencoba meyakinkan Mark.
"Benar tidak apa baby?"
Jinyoung mengangguk.
Mark pun akhirnya menggerakkan pinggulnya maju mundur secara perlahan, agar Jinyoung terbiasa dahulu. Lalu, semakin lama dia semakin mempercepat gerakan pinggulnya. Mark memejamkan mata, menikmati bagaimana hangatnya lubang Jinyoung yang membungkus miliknya begitu ketat dan hangat luar biasa.
"Ahh, hyungh, deep, deeper, mmhhh" desahan Jinyoung pada akhirnya menandakan bahwa kekasihnya itu juga merasakan kenikmatan yang sama.
Jinyoung merasakan ujung milik Mark menghantam akurat titik ternikmat miliknya, membuatnya semakin tidak bisa mengendalikan diri merasakan nikmat.
"There's hyung, emh, deep, ahh"
Tangan Mark tidak tinggal diam. Dia memompa milik Jinyoung yang saat ini sudah basah karena precum dengan tempo yang sama dengan gerakan dirinya didalam Jinyoung.
"Hyung, aku akanh mmhh"
"Together babyh"
"Ahhh"
Akhirnya Jinyoung klimaks, cairannya mengotori perutnya serta perut sang kekasih, lalu Mark menyusul beberapa detik setelahnya dan menyemburkan benihnya di dalam Jinyoung. Membuat Jinyoung merasa penuh sekarang.
Perlahan Mark mengeluarkan miliknya dari dalam Jinyoung, lalu segera merebahkan tubuh lemasnya di samping sang kekasih yang sama lemasnya dengan dirinya. Mark memiringkan tubuhnya menatap Jinyoung, tidak peduli dengan cairan mereka berdua yang mengotori sprei tempat tidur kekasihnya itu.
"Lelah baby?" tanyanya lembut sambil mengelus rambut sang kekasih yang basah oleh keringat. Jinyoung mengangguk lemah.
"Tidurlah. Terima kasih telah percaya padaku. I love you" bisik Mark lembut sebelum akhirnya menarik Jinyoung ke dalam pelukannya lalu menyelimuti tubuh mereka berdua. Jinyoung menyembunyikan wajahnya pada dada bidang sang kekasih.
"I love you too hyung" jawab Jinyoung berbisik, lalu keduanya pun tak lama segera terlelap mengarungi dunia mimpi dengan senyum di wajah mereka berdua.
-o-
Sejak malam itu, Mark dan Jinyoung makin menempel saja. Mereka seperti tidak bisa dipisahkan, seperti dulu lagi.
Jinyoung memang belum mengatakan memaafkan Mark, tapi dari sikapnya, sepertinya Jinyoung sudah bisa menerima Mark kembali.
"Jie, Mark hyung menjemputmu tuh, dia menunggumu di depan kelas" ucap Bambam yang baru saja dari kantin makan siang bersama Yugyeom.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu aku pulang dulu Bamie" ucap Jinyoung sembari memasukkan buku-bukunya ke dalam tas ranselnya.
"Jangan bertengkar-bertengkar lagi ya Jie, kau kacau sekali dan aku tak suka melihatnya" ujar Bambam.
"Tidak Bamie, kali ini aku tidak ingin ada masalah lagi" jawab Jinyoung sambil tersenyum.
Lalu setelahnya, dia segera memakai tas ranselnya,melambaikan tangan pada sang sahabat dan beranjak ke luar kelas, menemui kekasih hati yang sudah menunggunya.
"Sudah lama hyung?" sapanya pada Mark.
"Tidak. Ayo pulang baby. Aku lapar, masakkan aku sesuatu ya?" pinta Mark manja, membuat Jinyoung tersenyum dan mengangguk menuruti kemauan sang kekasih yang sedang dalam mode manja itu.
Mark menggenggam tangan Jinyoung lalu keduanya berjalan menuju ke parkiran tempat mobil Mark berada.
Sesampainya di rumah Jinyoung, Jinyoung langsung menuju dapur untuk memasak makan siang.
"Baby, masak apa?" tanya Mark saat tiba-tiba saja dia memeluk Jinyoung dari belakang yang menyebabkan kekasih imutnya itu terkejut setengah mati.
"Hyung! Kau mengagetkan saja" protes Jinyoung sambil mengaduk sup dihadapannya.
"Maaf baby. Habis kau begitu menggoda dari belakang, aku jadi tidak tahan-aww!" Mark memekik sakit saat Jinyoung mencubit lengannya.
"Jangan menggangguku hyung, atau kau tak dapat jatah makan siang!" peringat Jinyoung yang membuat Mark mati kutu seketika. Dia melepaskan pelukannya dari Jinyoung lalu segera pergi dari dapur sebelum ancaman Jinyoung berubah jadi kenyataan.
Mark kemudian memilih duduk di kursi meja makan yang terletak di dekat dapur. Dia mengamati sang tunangan yang sedang memasak itu. Entah kenapa, memikirkan Jinyoung memasak makanan untuk mereka berdua, membuat Mark berpikiran mereka seperti pasangan pengantin baru saat ini. Memikirkannya membuat Mark tidak kuasa untuk menahan senyum bahagianya.
"Hyung, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Jinyoung heran.
Pasalnya, saat Jinyoung hendak meletakkan sup buatannya ke meja makan, dia melihat kekasih tampannya itu sedang memandanginya sambil senyum-senyum tidak jelas.
"Tidak, aku hanya merasa senang" jawab Mark dengan senyum yang masih terpasang di wajah tampannya.
"Senang? Senang kenapa?" tanya Jinyoung lagi sambil mengambil tempat duduk di samping Mark.
"Kau tahu, aku merasa saat ini kita seperti, ehm, pengantin baru"
"Hyung, bicara apa sih kau ini" Jinyoung pura-pura kesal, tapi jauh di lubuk hatinya Jinyoung merasa bahagia mendengar ucapan sang kekasih itu.
"Itu benar baby. Aku merasa bahagia hanya dengan memikirkannya kau tahu. Apalagi jika kita benar-benar menikah, aku tidak bisa membayangkannya bagaimana bahagianya aku saat itu"
Wajah Jinyoung seketika memanas mendengar pengakuan jujur Mark. Rona merah menghiasi kedua belah pipi pemuda imut itu.
"Hyung hentikan, sudah ayo makan, keburu dingin masakanku kalau kau bicara terus" Jinyoung salah tingkah. Dia bingung harus bagaimana menanggapi Mark. Jujur saja Jinyoung merasa luar biasa bahagia saat Mark mengatakan hal itu.
Melihat Jinyoung yang tampak salah tingkah dan merona itu, membuat Mark terkekeh sebelum akhirnya mencubit pipi Jinyoung gemas.
"Baiklah-baiklah. Sepertinya tuan puteri kita sedang malu" godanya.
"Yak! Aku namja kalau kau lupa!" protes Jinyoung tidak terima. Uke-uke begitu tetap saja dia seorang lelaki kan?!
"Hahaha. Tapi kau cantik baby, sangat cantik"
"Berhenti berkata aku cantik Mark Tuan-ssi, atu aku akan benar-benar marah!" Jinyoung bersedekap, mengancam sang kekasih sambil mengeluarkan deathglare-nya yang justru membuatnya semakin imut di mata Mark.
"Okay, okay aku berhenti baby. Jangan marah okay?" ucap Mark akhirnya.
Mark tersenyum menatap Jinyoung, lalu dia menangkup kedua pipi sang kekasih, sedikit memajukan kepalanya dan mencium kening Jinyoung hangat.
"I love you" bisiknya lirih sambil menatap tepat di kedua manik kelam sang kekasih.
"Me too hyung" jawab Jinyoung dengan senyum manis di bibirnya.
-o-
Sudah tepat sebulan sejak kepergian kedua orang tua Jinyoung ke Jepang, dan selama itu pula Mark lah yang selalu menemani Jinyoung. Seiring berjalannya waktu, hubungan pasangan kekasih itu semakin membaik dan semakin harmonis setiap harinya.
Dan pagi ini, Jinyoung mendapat telepon dari Nyonya Park bahwa kepulangan orang tuanya ditunda hingga bulan depan dikarenakan ada beberapa masalah yang belum terselesaikan di perusahaan milik orang tuanya. Untung saja Mark tidak keberatan jika harus menemaninya lebih lama lagi.
Jinyoung baru saja keluar dari kamar mandi saat Mark baru bangun dari tidurnya.
"Hyung, aku naik bus saja ya, tidak usah diantar" ucap Jinyoung sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Tidak baby. Aku antar saja. Tunggu lima menit aku akan bersiap"
"Tapi hyung-"
"Tidak ada tapi-tapian" ucap Mark final. Lalu setelahnya pemuda tampan itu beranjak masuk ke kamar mandi milik sang kekasih.
Mark memang tidak ada jadwal kuliah pagi ini. Karena itulah Jinyoung memilih untuk naik bus saja sebenarnya, dia tidak ingin merepotkan kekasihnya itu. Tapi Mark tidak bisa dibantah, Jinyoung tahu itu.
Lima menit kemudian, pasangan kekasih itupun meluncur ke kampus mereka menggunakan mobil milik Mark.
"Nanti pulangnya tunggu aku ya baby, aku ada jadwal kuliah siang" ucap Mark saat mereka sampai di depan gerbang kampus.
"Iya hyung, aku masuk ya" jawab Jinyoung. Saat akan membuka pintu mobil Mark, tangan Mark menahan lengannya, membuatnya refleks menoleh ke belakang.
Dilihatnya Mark menunjuk-nunjuk bibirnya menggunakan telunjuknya sambil memonyong-monyongkan bibirnya lucu, membuat Jinyoung tertawa.
"Yak hyung! Ini di kampus. Kalau ada yang lihat bagaimana?"
"Kau tidak akan ku biarkan masuk jika tidak memberikan jatah morning kiss milikku"
"Hyung, ayolah aku bisa terlambat" bujuk Jinyoung. Sejujurnya dia malu, takut-takut kalau teman mereka melihatnya mencium sang kekasih.
"Berikan atau terlambat, hmm?" Mark malah menggodanya sambil menaik-naikkan alisnya, membuat Jinyoung menatapnya jengah.
Jinyoung segera saja memajukan kepalanya, lalu dia mengecup bibir kekasihnya itu.
Kecupan kilat yang dimaksudkan Jinyoung langsung sirna begitu saja saat Mark menahan tengkuknya begitu Jinyoung bermaksud melepas tautan bibir mereka. Membuat Jinyoung refleks membelalakkan matanya kaget.
Mark mulai melumat bibir Jinyoung lembut, sedikit menghisap dan menjilatnya bergantian atas dan bawah, membuat Jinyoung lama-kelamaan terbuai dan akhirnya menutup kelopak matanya, menikmati lumatan lembut sang kekasih di bibir merahnya.
Setelah cukup lama, Mark akhirnya melepas tautan mereka menyisakan saliva di bibir bengkak milik Jinyoung. Mark menghisap kilat bibir merah itu, membersihkan saliva yang tersisa disana.
"Cepat masuk, kau bisa terlambat" bisiknya lirih membuat Jinyoung langsung tersadar dan buru-buru membuka pintu mobil milik Mark.
"Awas kau hyung!" umpat Jinyoung sambil keluar dari mobil Mark, sementara Mark tertawa senang bisa menggoda kekasih imutnya itu.
"Love you too baby, tunggu aku nanti ya" Mark buru-buru melajukan mobilnya, menghindari amukan sang kekasih yang sebenarnya membuat Mark gemas saat kekasihnya sedang marah itu.
Sesampainya di rumah Jinyoung, Mark langsung naik ke atas ke kamar Jinyoung setelah sebelumnya membawa roti dengan selai strawberry serta susu kotak yang ia ambil dari dapur untuk sarapan paginya.
Mark duduk sambil bersandar di kepala ranjang sang kekasih lalu meraih remote dan mulai menyalakan televisi sambil menikmati sarapan paginya.
Sekitar dua jam kemudian, Mark merasa bosan. Dia mengganti-ganti channel televisi, tapi tidak ada yang menarik untuk ditonton.
Mark kemudian meraih ponsel miliknya yang ada di atas meja di sampingnya dan mengeceknya. Ternyata tidak ada satupun panggilan atau pesan yang masuk. Maksudnya sih ingin menghubungi Jinyoung, tapi kan kekasihnya itu sedang ada kuliah, dia tidak ingin mengganggu, pikir Mark.
Baru saja Mark akan mengembalikan ponselnya ke tempat semula, ponselnya itu tiba-tiba berdering. Dia melihat ke layar ponsel, tertera nama Bambam disana.
Mark mengernyitkan dahinya heran, untuk apa bocah Thailand itu tiba-tiba menghubunginya, bukannya dia juga sedang kuliah bersama Jinyoung?
Penasaran, akhirnya Mark menggeser tombol hijau di ponselnya dan segera menjawab panggilan dari Bambam.
"Yeobos-"
"Hyung cepat ke kampus! Darurat!"
"Apa?! Ada apa Bam?!" Mark langsung terkejut. Pasalnya suara Bambam terdengar panik di seberang sana. Dan Mark juga mendengar sedikit suar ribut-ribut di belakangnya.
"Jinyoungie pingsan hyung"
"Apa?!"
TBC
.
.
.
Huapaaa inihhhhh?!
Full MarkJin moment, hihihi
Maafkan saya chingu kalo gak hot xD
No edit, so maapkeun kalo typo nya bergentayangan dimana-mana(?)
Itu juga masalah lube saya asli ngarang xD namanya juga fiksi, jadi ya suka-suka saya maunya gimana*Plak
Yasudah, sekian cuap-cuap saya di chapter ini
Be a good readers and give your review readers^^
