Main cast: Mark Tuan x Park Jinyoung a.k.a Jr GOT7 and member of GOT7
Rate: M
Lenght: 6 of ?
Warning (s): boys x boys, boys love, alur acakadul, bahasa acakadul, typo(s), OOC, MPREG!, DON'T LIKE DONT READ! Be a good reader and give your review^^
Happy reading readers^^
.
.
.
My Happy Ending
Mark buru-buru mengendarai mobilnya ke kampus begitu mendapat telepon dari Bambam.
Begitu sampai di kampus, Mark langsung menuju ke ruang kesehatan seperti yang dikatakan Bambam saat ditelepon tadi.
Jinyoung sedang berbaring di ranjang dengan Bambam yang duduk di kursi di sisi ranjang saat Mark membuka pintu ruang kesehatan.
"Hyung kau datang" sapa Bambam.
"Jinyoung kenapa Bam?" tanya Mark langsung. Dia mengelus dahi Jinyoung yang basah oleh keringat itu. Wajah Jinyoung juga terlihat pucat.
'Tidak demam' batin Mark.
"Entahlah hyung. Saat kami dikelas tadi, tiba-tiba saja dia terjatuh dari kursinya dan pingsan. Padahal sejak tadi pagi dia tampak baik-baik saja" jelas Bambam. Mark seketika mengernyitkan dahinya bingung.
"Dia tidak mengeluh sakit padamu?"
"Tidak hyung. Dia baik-baik saja tadi"
"Sebaiknya kau ajak dia memeriksakan diri ke rumah sakit saat dia bangun nanti hyung. Aku takut terjadi sesuatu pada Jinyoung" imbuh Bambam dan Mark langsung mengangguk mengiyakan.
Setelah menunggu hampir satu jam, Jinyoung akhirnya bangun.
"Jie, kau baik-baik saja baby?" tanya Mark saat tahu Jinyoung telah membuka kedua kelopak matanya.
Setelah mengerjapkan matanya sebentar untuk menyesuaikan dengan cahaya disekitar, Jinyoung mendudukkan dirinya dibantu oleh Mark yang berdiri di sebelahnya.
"Hyungie, Bamie, aku kenapa bisa disini?" tanya Jinyoung bingung.
Dia masih merasa sedikit pusing. Dan seingatnya tadi, dia sedang ada kuliah, kenapa sekarang tiba-tiba dia ada di ruang kesehatan?
"Tadi kau pingsan di kelas Jie. Tiba-tiba saja kau terjatuh dari kursimu" jawab Bambam.
Seketika Jinyoung teringat. Tadi dia memang merasakan pusing dan mual luar biasa hebat, setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi dan tahu-tahu dia sudah ditempat ini sekarang.
"Lalu hyung, kau?"
"Bambam menelepon dan aku langsung kemari" jawab Mark.
"Kau sedikit pucat Jie. Sebaiknya kau segera ke rumah sakit sekarang" ucap Bambam. Dia begitu khawatir melihat keadaan sahabatnya yang tampak lemas dan pucat itu.
"Bambam benar. Kita sebaiknya ke rumah sakit sekarang baby" Mark menambahkan.
"Baiklah hyungie" jawab Jinyoung setuju.
Setelahnya, Jinyoung berada di punggung Mark dalam perjalanan mereka menuju ke parkiran tempat mobil Mark berada. Mark tidak ingin Jinyoung lelah katanya. Jadilah mereka menjadi tontonan gratis bagi para mahasiswa yang ada di kampus mereka.
"Hyungie, aku malu sekali" kata Jinyoung sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya saat mereka berdua sudah ada di dalam mobil. Mark sontak tergelak mendengar perkataan Jinyoung.
"Kenapa malu baby. Kau tunanganku, wajar kan aku begitu" ucap Mark sambil menyalakan mesin mobil lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kampus mereka berdua.
"Semua orang melihat tadi, bagaimana bisa aku tidak malu?!" Jinyoung mengerucutkan bibirnya kesal.
Mark mengacak lembut rambut Jinyoung sambil tertawa, dia begitu gemas melihat tingkah kekasihnya yang sedang merajuk itu.
"Tentu saja mereka melihatnya, seorang pangeran tampan sedang menggendong tuan puterinya yang sakit, romantis bukan" ucap Mark pede, membuat Jinyoung membuat ekspresi pura-pura muntah mendengar ucapan asal kekasih tampannya itu.
-o-
"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Mark saat Dokter Kim selesai memeriksa Jinyoung.
"Begini Mark-ssi. Saya tidak yakin, tapi setelah pemeriksaan tadi dan gejala-gejala yang Jinyoung-ssi rasakan, sepertinya, Jinyoung-ssi, hamil"
"Apa?! Hamil?!" Jinyoung membelalakkan matanya tak percaya. Bagaimana bisa?! Dirinya adalah seorang laki-laki!
"Dokter, Anda tidak salah?!" tanya Mark yang tak kalah terkejutnya dengan Jinyoung.
"Saya tidak yakin, tapi 80% hasil pemeriksaan dan berdasarkan gejala yang dialami, kemungkinan besar Jinyoung-ssi dalam keadaan hamil sekarang" jelas Dokter Kim yang semakin membuat pasangan itu kaget sekaligus tidak percaya.
Seorang laki-laki bisa hamil, adakah di dunia ini yang bisa mempercayainya?
"Tapi, bagaimana bisa dokter? Jinyoung adalah laki-laki, tidak mungkin" Mark masih tidak bisa mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh Dokter Kim.
"Yang dialami oleh Jinyoung-ssi memang merupakan kejadian langka Mark-ssi, tapi hal itu bisa saja terjadi. Organ reproduksi dalam Jinyoung-ssi memang dirancang untuk bisa dibuahi dan bisa menjadi tempat tumbuh janin layaknya wanita, hanya saja organ reproduksi luarnya yang masih tetap organ reproduksi laki-laki" terang Dokter Kim.
"Sebaiknya Anda berdua setelah ini datang ke dokter spesialis kandungan untuk memastikan keadaan Jinyoung-ssi" tambah Dokter Kim menyarankan.
Mark dan Jinyoung saling berpandangan bingung, tapi mereka tetap menuruti saran dari Dokter Kim untuk mendatangi dokter spesialis kandungan di rumah sakit tersebut.
Jinyoung langsung diminta untuk melakukan tes urine untuk memastikan positif tidaknya kehamilan dirinya saat mereka sudah ada di ruangan Dokter Choi, seorang dokter wanita yang merupakan dokter spesialis kandungan di rumah sakit itu.
"Dokter, apa mungkin hal itu terjadi?" tanya Mark sambil menunggu Jinyoung. Dokter Choi tersenyum maklum.
"Bisa saja terjadi Mark-ssi. Meskipun hal itu sangat jarang, tapi jika memang positif, maka Jinyoung-ssi merupakan laki-laki dengan anugerah dan sangat beruntung" jelas Dokter Choi.
Tak lama kemudian, Jinyoung keluar dari kamar mandi, lalu menyerahkan testpack yang dipegangnya pada Dokter Choi. Mark dan Jinyoung was-was saat Dokter Choi memeriksa hasil dari testpack itu. Dan mereka semakin was-was saat Dokter Choi tersenyum setelahnya.
"Garis merah dua, ini menunjukkan Anda positif hamil Jinyoung-ssi, selamat" Dokter Choi langsung memberitahukan hasil testpack itu serta memberi mereka berdua ucapan selamat.
"Dokter benarkah?! Jinyoung hamil?! Dia hamil?!" Mark tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, begitu juga dengan Jinyoung yang sekali lagi membelalakkan matanya terkejut mendengar ucapan Dokter Choi.
"Jinyoung-ssi memang hamil Mark-ssi, dan untuk memastikan usia kehamilannya, sebaiknya kita melakukan USG setelah ini" jelas Dokter Choi.
Entah apa yang dirasakan Mark maupun Jinyoung saat ini. Terkejut tentu saja, senang, sedih, bingung, campur aduk dirasakan oleh merejka berdua saat ini.
"Hyungie, aku takut" ucap Jinyoung lirih. Mark langsung memeluk erat Jinyoung, mencoba memberinya ketenangan.
"Semua akan baik-baik saja baby, percaya padaku. Kita akan menghadapi semuanya bersama, dan ingat, kita sudah diberikan anugerah yang begitu indah, tidakkah kau bahagia?"
Mark benar. Dalam diri Jinyoung sekarang ada malaikat kecil mereka yang sedang tumbuh sekarang. Terdengar sangat tidak masuk akal memang, tapi memang itulah kenyataannya. Memikirkannya membuat Jinyoung bahagia dan dia bersumpah akan menjaga calon anaknya hingga dia kelak lahir ke dunia.
Jinyoung melepaskan pelukan mereka dan mengangguk menatap Mark.
"Aku bahagia hyungie" jawab Jinyoung sambil tersenyum, membuat Mark juga ikut tersenyum.
"Terima kasih baby, aku janji akan menjaga kalian berdua" ucap Mark tulus.
Deheman keras dari Dokter Choi langsung menyadarkan pasangan itu dari sesi lovey dovey mereka berdua. Keduanya tersenyum kikuk ke arah sang dokter.
"Jadi, apa kita bisa lakukan USG sekarang?" tanya Dokter Choi sambil tersenyum gemas melihat pasangan muda dihadapannya yang menurutnya sangat manis itu. Jinyoung dan Mark mengangguk.
"Usia kandungan Jinyoung-ssi saat ini memasuki minggu ketiga" jelas Dokter Choi setelah selesai melakukan USG pada perut Jinyoung.
"Tapi anak kami, ehm, baik-baik saja kan Dok?" tanya Mark kaku yang masih belum terbiasa menggunakan kata 'anak kami'.
"Janinnya baik-baik saja. Dan karena ini masih kehamilan trimester pertama, jadi Jinyoung-ssi mungkin akan mengalami morning sickness, mood swing, dan mungkin bisa saja menginginkan sesuatu yang aneh-aneh atau biasa dikenal dengan mengidam" jelas Dokter Choi lagi.
"Apakah akan berpengaruh pada janinnya Dok?" kali ini Jinyoung yang bertanya.
"Tidak Jinyoung-ssi. Itu biasa terjadi pada kehamilan trimester pertama. Tapi Anda harus benar-benar menjaga kesehatan dan jangan melakukan pekerjaan berat, karena pada usia seperti itu rawan terjadi keguguran" keduanya mengangguk mendengarkan penjelasan Dokter Choi.
Setelahnya, Dokter Choi memberikan resep vitamin untuk ibu hamil untuk Jinyoung lalu mereka berdua pun berpamitan meninggalkan ruangan itu.
"Sekarang bagaimana hyung?" tanya Jinyoung membuka pembicaraan saat mereka berdua dalam perjalanan pulang.
"Kita harus memberi tahukan pada orang tua kita Jie" jawab Mark.
"Kau yakin?"
Mark mengangguk mantap.
"Tapi, aku takut" suara Jinyoung terdengar lirih.
Jinyoung benar-benar takut dan tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang tua mereka saat mengetahuinya nanti. Mark menggenggam sebelah tangan Jinyoung erat.
"Semua akan baik-baik saja baby. Jangan khawatirkan apapun. Saat ini yang perlu kau lakukan adalah fokus menjaga dirimu dan juga 'dia', okay"
Ucapan Mark sedikit menenangkan Jinyoung. Dia mengangguk menjawab perkataan Mark. Lalu tanpa sadar, dia mengelus perlahan perutnya sambil tersenyum.
"Aku masih tidak percaya dia ada disini hyung" ucap Jinyoung. Mark tersenyum mendengarnya.
"Dia adalah anugerah terindah kita baby. Aku tidak sabar ingin segera melihatnya dan merawatnya serta membesarkannya bersama denganmu"
"Kau benar hyungie. Kita harus merawat dan menjaganya dengan baik"
-o-
Sejak kehamilan Jinyoung, Mark menjadi sangat protektif pada kekasihnya itu.
Saat dia tidak bisa menemani Jinyoung, dia akan meminta Bambam menemani Jinyoung. Intinya, Mark tidak pernah membiarkan Jinyoung sendirian.
Bambam memang orang pertama yang mereka berdua beritahu mengenai kehamilan Jinyoung. Tentu saja bocah Thailand itu terkejut pada awalnya, tapi langsung saja dia memberi selamat dan sangat bahagia atas kehamilan Jinyoung.
"Aku bersemangat sekali, sebentar lagi aku akan jadi paman Jie!" ucapnya waktu itu.
"Bukan paman tapi bibi Bamie" canda Jinyoung yang langsung mendapat jitakan sayang dari sang sahabat.
Mengenai orang tua mereka berdua, mereka juga sudah memberitahukannya. Dan yang mengejutkan, bukannya dimarahi, orang tua mereka bahkan sangat senang mendengarnya.
Malah Nyonya Park dan Mrs. Tuan berkata bahwa memang kehamilan Jinyoung adalah tujuan mereka membiarkan Mark tinggal bersama dengan Jinyoung. Sedikit aneh memang, tapi para orang tua itu berkilah, hal tersebut untuk mempertahankan hubungan mereka agar bisa selamat sampai ke pernikahan. Dan meskipun hal itu mustahil terjadi, tapi mereka tetap berharap, dan nyatanya, Jinyoung memang bisa hamil layaknya seorang wanita sekarang. Keluarga yang absurd.
Kedua keluarga juga sudah menentukan tanggal pernikahan, dan mereka melakukannya secepat mungkin sebelum kandungan Jinyoung semakin membesar mengingat seminggu lagi kehamilan Jinyoung sudah memasuki usia dua bulan.
Pernikahan yang direncanakan akan dilaksanakan dua minggu lagi. Semua orang terdekat mereka berdua sibuk untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pernikahan mereka.
Jinyoung dilarang keras untuk ikut mengurusi pernikahannya oleh semua orang. Mereka semua tidak mau kandungan Jinyoung terganggu akibat kelelahan mengurusi pernikahannya sendiri.
"Hyungie, tapi aku juga ingin ikut andil dalam pernikahanku sendiri" Jinyoung mencoba membujuk Mark.
"No, baby. Kau diam saja di apartemen, biar aku dan yang lain yang mengurusi. Kau tenang saja, semuanya akan sempurna dan aku jamin kau akan puas dengan hasilnya" Mark tetap besikeras menyuruh Jinyoung tinggal di apartemen miliknya yang kelak tentu saja akan jadi tempat tinggal mereka setelah menikah.
Jinyoung menyerah. Percuma saja membujuk semua orang, pasti mereka akan melarangnya mengurusi walau itu hanya sekedar memilih desain undangan.
Akhinya dia memilih untuk menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan sendirian di apartemen milik sang kekasih.
Saat sedang menonton televisi, tiba-tiba ponsel milik Jinyoung berbunyi. Ada panggilan masuk dari Jaebum. Segera saja Jinyoung menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Yeoboseyo"
"Yeoboseyo hyung. Apa kabar?"
"Aku baik. Kau apa kabar Jie?"
"Aku juga baik. Kau dimana sekarang hyung?"
"Aku di apartemen. Kenapa? Ingin bertemu?"
"Tidak hyung. Aku, aku hanya ingin mengatakan sesuatu"
"Apa itu Jie? Katakan saja"
Jinyoung menghela napas sebentar sebelum memulai pembicaraannya lagi.
"Aku, aku akan menikah hyung"
"Apa?! Kau? Dengan siapa?" suara Jaebum terdengar sangat terkejut saat ini. Bagaimana tidak, setelah kira-kira hampir sebulan dia tidak bertemu Jinyoung, tahu-tahu pemuda imut itu sudah akan menikah.
"Dengan Markie hyung" jawab Jinyoung.
Jaebum terdiam. Hatinya berdenyut sakit. Dia benar-benar tidak rela Jinyoung menikah dengan Mark, sumpah demi apapun!
"Kenapa mendadak Jie?" Jaebum berusaha mengontrol suaranya agar terlihat baik-baik saja di pendengaran Jinyoung.
"Aku, aku hamil saat ini hyung, jadi, semuanya serba cepat" jawab Jinyoung.
"Hamil?! Apa aku tidak salah dengar?!" sekali lagi Jaebum terkejut. Jinyoung masih seorang namja kan, bagaimana bisa?!
"Tidak hyung, aku memang benar-benar hamil. Apa kau tidak ingin mengucapkan selamat?" suara Jinyoung terdengar merajuk sekarang.
"Ah, iya, selamat kalau begitu, Jie. Selamat atas pernikahan dan kehamilanmu" Jaebum tidak tahu harus bagaimana berkata-kata lagi, hingga akhirnya dia menuruti permintaan Jinyoung dan memberinya selamat. Tapi sungguh hatinya sangat remuk redam sekarang.
"Terima kasih. Jangan lupa datang ke pernikahanku hyung. Aku akan mengirimkannya padamu saat undangannya selesai di cetak"
"Iya aku pasti datang Jie. Aku tutup dulu teleponnya ya, bye Jie"
"Bye hyung"
'Aku tidak akan membiarkan pernikahanmu terjadi'
-o-
"Baby, kau harus selalu bersama Bambam, okay?" pesan Mark saat dia mengantar Jinyoung ke kampus. Sementara Jinyoung hanya bisa memutar kedua bola matanya, jengah dengan perlakuan Mark.
"Hyungie, aku bisa jaga diriku sendiri dan aegi, jadi jangan terlalu cemas"
"Tapi aku tidak ingin terjadi sesuatu. Pokoknya kau harus menuruti kta-kataku!"
"Aish! Ya ya baiklah Mark Tuan-ssi, aku tidak akan jauh-jauh dari Bambam, kalau perlua ke toilet sekalipun aku akan bersamanya, puas kan sekarang?!"
"Bagus kalau begitu. Sekarang masuklah baby, nanti terlambat. Aku akan menjemputmu nanti" ucap Mark yang diangguki Jinyoung lalu setelahnya Jinyoung turun dari mobil dan memasuki kampusnya.
Jinyoung berjalan santai ke kelasnya yang ada di lantai dua. Sesampainya di kelas, Bambam menyambutnya dengan senyuman semangat seperti biasa.
"Bamie, kau jangan ikut-ikutan over protektif seperti Markie hyung kuperingatkan! Sudah cukup dia saja yang seperti itu, aku bisa gila kalau kau juga bersikap seperti dia" peringat Jinyoung.
Dia benar-benar jengah sekarang, karena semua orang bersikap seolah-olah dia begitu rapuh karena kehamilannya.
"Aku melakukannya karena tidak ingin kau dan calon keponakanku kenapa-kenapa Jie. Sudah jangan banyak protes" Bambam tetap keras kepala.
"Tapi kalian itu berlebihan-"
"Aku tidak menerima penolakan apapun" Bambam langsung memotong ucapan Jinyoung membuat pemuda bersurai hitam itu menghembuskan napasnya kasar karena kesal. Sementara Bambam hanya tertawa melihat sahabatnya yang sedang kesal itu.
"Bamie, selesai kelas nanti aku akan menemui Jaebum hyung sebentar" ucap Jinyoung kemudian.
"Menemui Jaebum hyung? Untuk apa?" selidik Bambam.
"Dia bilang ingin bertemu sebentar. Sekalian aku ingin memberikan undangan pernikahanku padanya"
"Tapi Jie, kalau Mark hyung tahu, dia pasti marah besar" Bambam agak takut karena dia tahu Mark paling cemburu jika melihat Jinyoung berada dekat-dekat dengan Jaebum.
"Aku hanya bertemu dengannya di gerbang kampus Bamie, tidak akan lama. Aku tidak akan kemanapun, jadi kau tenang saja okay" Jinyoung berusaha meyakinkan Bambam hingga akhirnya sahabatnya itu mengijinkannya bertemu Jaebum.
"Baiklah. Tapi benar hanya di gerbang kampus, tidak kemanapun ya. Aku akan menunggumu di kantin nanti" ucap Bambam akhirnya yang dibalasi anggukan oleh Jinyoung.
Akhirnya, setelah kelas berakhir Jinyoung langsung meninggalkan kelas karena dia mendapat pesan dari Jaebum kalau pemuda itu sudah ada di gerbang kampusnya.
"Hai hyung" sapa Jinyoung saat dia ada di dalam mobil Jaebum.
"Hai Jie. Apa kabarmu?" tanya Jaebum basa-basi.
"Aku baik-baik saja. Jadi, ada apa kau mengajakku bertemu?" tanya Jinyoung to the point. Dia sudah janji pada Bambam tidak akan berlama-lama.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu, tidak boleh?" suara Jaebum sedikit merajuk sekarang, membuat Jinyoung tertawa.
"Kau ini ada-ada saja hyung. Tentu saja tidak masalah. Oh ya, aku ingin memberikan undangan pernikahanku padamu hyung, ini" Jinyoung menyerahkan undangan pernikahannya yang masih rapi terbungkus plastik pada Jaebum. Jaebum menerimanya lalu menatap lekat undangan berwarna merah hitam ditangannya itu.
'Aku tidak akan membiarkan pernikahan ini terjadi, benar-benar tidak akan membiarkannya!' batin Jaebum penuh emosi.
"Kau akan datang kan-, yak hyung, kita mau kemana?!"
TBC
.
.
.
Tambah gak jelas, oke fix xD
Yang sudah baca, silahkan tinggalkan jejak kalian di kolom review ne :)
