Main cast: Mark Tuan x Park Jinyoung a.k.a Jr GOT7 and member of GOT7
Rate: M
Lenght: 7 of ?
Warning (s): boys x boys, boys love, alur acakadul, bahasa acakadul, typo(s), OOC, MPREG!, DON'T LIKE DONT READ! Be a good reader and give your review^^
Happy reading readers^^
.
.
.
My Happy Ending
"Hyung, kita mau kemana?!" Jinyoung terus melontarkan pertanyaan yang sama dan sama sekali tidak dijawab oleh Jaebum.
"Hyung kumohon jawab aku" suara Jinyoung terdengar lirih.
Pemuda imut itu berusaha mati-matian menahan air mata yang menggenang di kelopak matanya agar tidak jatuh saat itu juga. Jinyoung benar-benar takut. Takut dengan Jaebum yang sekarang, yang sikapnya sangat berbeda sekali dengan Jaebum yang dia kenal biasanya.
Sementara Jaebum tetap bergeming. Pemuda tampan itu tahu Jinyoung hampir menangis saat ini, atau mungkin sudah menangis sekarang. Tapi entah kenapa, emosi begitu menguasai batinnya hingga dia berkeras untuk tidak menjawab pertanyaan Jinyoung yang entah sudah berapa kali keluar dari mulut pemuda manis itu sejak saat mobilnya tiba-tiba saja dia kendarai meninggalkan gerbang kampus Jinyoung tadi.
Hingga akhirnya mereka sampai di bangunan apartemen milik Jaebum. Selesai memarkirkan mobilnya, Jaebum menoleh ke samping tempat Jinyoung berada. Dia melihat Jinyoung sedang tertidur pulas dengan wajah sembap dan bekas aliran air mata di kedua belah pipinya. Hati Jaebum seketika berdenyut sakit melihat keadaan Jinyoung.
"Maafkan aku Jie, aku hanya tidak rela kau dimiliki oleh dia" ucap Jaebum lirih sambil mengusap perlahan bekas air mata di pipi Jinyoung.
Akhirnya Jaebum membawa Jinyoung masuk ke apartemen miliknya dengan cara membopongnya dengan hati-hati, tidak ingin mengusik tidur sang pujaan hati yang bisa saja berakibat berontaknya pemuda berparas manis itu.
Sesampainya di apartemen miliknya, Jaebum langsung masuk ke kamarnya dan membaringkan Jinyoung diatas tempat tidurnya. Jaebum lalu melepas sepatu yang masih melekat di kaki Jinyoung, menyelimuti Jinyoung hingga sebatas dada kemudian keluar dari kamar miliknya setelah sebelumnya mengecup diam-diam kening Jinyoung.
Jaebum menghela napas berat sesaat setelah menutup pintu kamarnya. Dia merasa sangat bersalah sebenarnya. Tapi keegoisan hatinya seolah telah mengalahkan nuraninya, hingga dia melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukannya saat ini.
Menghancurkan pernikahan sahabatnya sendiri.
Entah apa yang akan dikatakan Jinyoung padanya saat pemuda itu bangun nanti. Mungkin nanti Jinyoung akan memberontak dan memohon agar diperbolehkan keluar dari sana.
Tapi Jaebum tentu tidak akan melakukannya. Sudah sejauh ini, dia tidak boleh luluh agar rencananya berhasil dengan baik. Walaupun sebagai akibatnya dia harus mengorbankan perasaan orang yang dicintainya, Jinyoung.
-o-
Sudah dua jam lamanya Bambam menunggu Jinyoung di kantin kampus, tetapi sahabatnya itu belum kelihatan hingga saat ini. Dia sedikit khawatir. Pasalnya, Jinyoung bilang dia tidak akan berlama-lama. Hingga akhirnya Bambam memutuskan untuk menelepon Jinyoung.
"Yeoboseyo"
"Yeoboseyo"
Seketika Bambam terkejut. Pasalnya yang didengarnya barusan bukan suara Jinyoung sahabatnya, melainkan suara Jaebum.
"Jaebum hyung?" tanya Bambam mencoba memastikan.
"Iya benar aku Jaebum. Ada apa Bam?" jawab Jaebum di seberang yang semakin membuat Bambam bingung dan khawatir.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Jinyoung hingga dia tidak menjawab telepon dan malah Jaebum lah yang menjawabnya.
"Hyung, Jinyoung dimana? Kenapa kau yang menjawab teleponku?"
"Dia bersamaku. Ada apa?"
"Yak hyung, jangan main-main. Bisa tolong berikan ponsel Jinyoung padanya? Aku ingin bicara"
"Jinyoung tidak bisa bicara dengan siapapun sekarang. Dan aku hanya ingin mengatakan, Jinyoung tidak akan pernah menikah kecuali denganku"
Suara sambungan telepon diputus dengan seenaknya oleh Jaebum langsung membuat Bambam terlonjak.
"Hyung! Yak Jaebum hyung!" Bambam berteriak-teriak sendiri pada ponselnya yang membuatnya cukup mengundang perhatian orang-orang disekitarnya mengingat keadaan kantin saat itu cukup ramai oleh para mahasiswa yang sedang makan siang.
Tapi Bambam tidak peduli. Jinyoung saat ini sedang dalam bahaya, dan dia benar-benar khawatir sesuatu akan menimpa sahabatnya yang sedang dalam keadaan hamil itu.
Akhirnya Bambam memutuskan untuk menghubungi Mark dan menceritakan semuanya pada calon suami Jinyoung itu. Dan seperti yang Bambam duga, Mark marah besar. Dia bahkan sempat memarahi Bambam karena membiarkan Jinyoung bertemu dengan Jaebum.
Mark langsung datang ke kampus menemui Bambam lima belas menit setelahnya. Raut wajahnya benar-benar menunjukkan kepanikan saat ini.
"Bamie, bagaimana bisa terjadi?!" tanya Mark gusar.
Bagaimana Mark tidak panik, calon isteri dan calon anaknya sedang ada di luar sana bersama dengan orang lain yang dia tidak tahu keberadaannya dimana, dan bisa saja Jaebum melakukan sesuatu yang bisa membahayakan keduanya. Mark benar-benar tidak menginginkan hal itu terjadi.
"Maafkan aku hyung, harusnya aku tadi melarang Jinyoung bertemu dengan Jaebum hyung" jawab Bambam tampak sangat menyesal. Matanya bahkan berkaca-kaca sekarang, membuat Mark jadi tidak tega melihatnya.
"Bukan salahmu Bam. Baiklah, sekarang kita pikirkan bagaimana cara menemukan Jinyoung sebelum keluarga kami mengetahui hal ini. Aku hanya tidak ingin pernikahanku jadi kacau dan membuat khawatir keluarga kami" ucap Mark. Bambam mengangguk menyetujui.
"Kau tahu dimana tempat tinggal Jaebum?" tanya Mark.
"Aku tidak tahu hyung" Bambam menjawab dengan menggeleng lesu.
"Aku akan coba hubungi Jinyoung lagi hyung" kata Bambam kemudian dia langsung mendial nomor Jinyoung. Tetapi yang didengar Bambam hanyalah suara operator yang mengatakan bahwa nomor Jinyoung tidak aktif.
"Tidak bisa dihubungi hyung, tidak aktif" ucap Bambam lengkap dengan ekspresi khawatirnya.
Mark mengusap kasar wajahnya mendengar ucapan Bambam. Dia begitu bingung dan frustasi saat ini.
"Bagaimana ini Bam? Apa yang harus kulakukan?" tanya Mark putus asa.
"Hyung, apa tidak sebaiknya kau beritahukan pada keluargamu? Mungkin mereka bisa memberi solusi hyung. Aku juga tidak tahu harus bagaimana saat ini" Bambam mencoba memberi saran, membuat Mark mendongak menatapnya.
"Aku tidak ingin membuat mereka khawatir Bam"
"Tidak ada salahnya hyung. Aku tidak yakin bisa menemukan Jinyoung jika hanya kita berdua hyung" tambah Bambam lagi.
Mark memikirkan ucapan Bambam. Dia benar, dirinya dan Bambam mungkin akan kesulitan menemukan Jinyoung jika tidak meminta bantuan pada yang lain.
"Baiklah Bam, aku akan mengatakan pada keluarga kami. Aku juga sangat meminta bantuanmu Bamie, kumohon bantu aku menemukan Jinyoung. Aku benar-benar akan membunuh Jaebum juka terjadi sesuatu pada Jinyoung dan anakku" ucapan Mark terdengar serius dan penuh penekanan serta emosi sekarang.
Bambam menepuk halus pundak Mark mencoba meredakan emosi pemuda Amerika itu.
"Aku pasti akan membantumu hyung, bagaimanapun caranya kita harus menyelamatkan Jinyoung dan keponakanku" janji Bambam.
-o-
Jinyoung baru terbangun dari tidurnya dan segera saja kebingungan mendapati dirinya tengah berada di ruangan yang sangat asing. Dia melihat sekeliling, hingga akhirnya dia mendapati sebuah figura diatas meja disamping tempat tidurnya berbaring saat ini. Figura yang membingkai foto seorang pemuda tampan yang dia ingat tadi membawanya kabur dari kampusnya. Jaebum.
Jinyoung kemudian bangkit dan segera turun dari tempat tidur. Dia melangkah mendekati pintu kamar itu lalu membukanya.
"Kau sudah bangun?" suara Jaebum terdengar saat Jinyoung sampai di ruang tengah yang akhirnya Jinyoung ketahui tempatnya berada saat ini adalah apartemen milik Jaebum.
"Aku ingin pulang" menghiraukan pertanyaan Jaebum, Jinyoung berkata pada pemuda itu dengan nada dingin. Jaebum hanya tersenyum menanggapinya. Menyeringai lebih tepatnya.
"Pulang kemana? Tempatmu disini, jadi kau tidak akan pulang kemanapun"
Jinyoung seketika melotot mendengar ucapan ngawur dari pemuda yang tengah asyik menonton televisi itu.
"Aku punya tempat tinggal dan aku ingin pulang sekarang! Aku akan pulang sendiri kalau kau tidak mau mengantarku hyung!" ucap Jinyoung berapi-api lalu dia segera melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen itu sebelum Jaebum tiba-tiba mencekal lengannya lalu menyeretnya untuk duduk di sofa yang tadi diduduki oleh Jaebum.
"Lepaskan hyung! Aku mau pulang!" Jinyoung berusaha keras berontak, tapi percuma karena tenaga Jaebum yang lebih kuat dari Jinyoung. Kedua lengan Jinyoung tampak kemerahan karena digenggam erat oleh Jaebum yang juga tengah menatapnya tajam itu.
"Sudah kukatakan tempatmu disini, jadi jangan berpikir untuk pergi kemanapun, ingat itu Jie" Jaebum berbisik tepat di telinga Jinyoung, membuat Jinyoung bergidik ngeri dan begitu ketakutan.
"Hyung, kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Jinyoung lirih. Dia mulai terisak lagi.
"Aku mencintaimu Jie! Aku mencintaimu apa kau tidak tahu itu?!" Jaebum membentak Jinyoung tepat didepan wajahnya, membuat Jinyoung terperangah mendengar pengakuan tiba-tiba Jaebum itu.
Jinyoung benar-benar terkejut, tidak menyangka bahwa Jaebum ternyata menyimpan rasa cinta pada dirinya.
"Hyung, aku, hiks, aku, benar-benar tidak tahu hiks" ucap Jinyoung terbata. Jaebum tersenyum getir.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau yang ada dihati dan pikiranmu hanya dia Jie?! Hanya Mark yang ada di hatimu!"
Jaebum ikut menangis sekarang. Entah kenapa, dadanya terasa sesak mengingat Jinyoung yang datang kepadanya jika hanya dia tersakiti oleh Mark, tapi berkali-kali juga Jinyoung tetap kembali pada Mark.
Jaebum hanyalah tempat persinggahan untuk Jinyoung. Dan itu rasanya sakit. Hingga akhirnya Jaebum memutuskan untuk pergi, menghindari Jinyoung yang hanya memberinya rasa sakit.
"Maaf, maafkan aku, hiks, Jaebum hyung" Jinyoung mengucapkannya dengan penuh penyesalan.
Seharusnya Jinyoung sadar, dan seharusnya dia tidak menumpahkan semua rasa sakitnya pada Jaebum jika saja Jinyoung tahu kalau Jaebum mencintainya.
"Tapi aku harus pulang hyung, kumohon, biarkan aku pulang" mohon Jinyoung dengan tangisnya. Tapi Jaebum sudah menekankan pada dirinya untuk tidak boleh luluh begitu saja.
"Tidak Jie! Kau akan tetap disini. Aku tidak akan membiarkan pernikahan kalian terjadi" tegas Jaebum. Jinyoung langsung terlonjak mendengarnya.
"Hyung, kau tidak bisa melakukannya! Aku mengandung anak Mark hyung, aku harus menikah dengannya!" Jinyoung sedikit berteriak sekarang.
"Aku yang akan menikahimu dan menjadi ayah dari anakmu" Jaebum tetap berkeras.
"Tapi hyung, aku hanya ingin menikah dengan Mark hyung!" teriak Jinyoung lagi.
"Sudah kubilang aku yang akan menikahimu!" Jaebum balas berteriak dan membentaknya membuat Jinyoung langsung menciut dan menatapnya takut.
"Hyung, kau-"
"Tidak ada penolakan lagi, dan ingat Jie, jangan coba-coba kabur dari sini atau aku akan melakukan sesuatu yang membahayakan kandunganmu" ancam Jaebum sebelum akhirnya meninggalkan Jinyoung keluar dari apartemen.
"Hyung!" teriak Jinyoung mencoba memanggil Jaebum tapi tidak dihiraukan oleh pemuda bersurai hitam itu.
Sepeninggal Jaebum, Jinyoung masih terus menangis. Dia benar-benar membutuhkan Mark saat ini. Jinyoung tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia benar-benar tidak bisa bertemu Mark lagi dan tidak bisa menikah dengan kekasihnya itu. Jinyoung benar-benar takut dan sangat tidak menginginkan hal itu terjadi.
"Hyungie, tolong aku" ucap Jinyoung lirih sambil mengelus perutnya yang masih rata.
-o-
Sudah hampir dua minggu sejak peristiwa penculikan Jinyoung oleh Jaebum. Dan tentu saja pernikahan Mark dan Jinyoung terpaksa dibatalkan karena hal itu.
Semua orang terdekat mereka berdua telah berusaha mencari keberadaan Jinyoung. Tapi Jinyoung seperti ditelan bumi, keberadaannya tidak bisa diketahui sama sekali.
Keadaan Mark menjadi sangat kacau karenanya. Wajahnya kusut, lingkaran hitam tercetak jelas mengelilingi matanya. Dia seperti tidak punya semangat hidup.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Jinyoung dan anakku Bam? Aku tidak sanggup membayangkannya" ucap Mark frustasi saat Bambam dan Yugyeom menemui pemuda itu di apartemennya.
"Jangan berkata begitu hyung. Kita pasti bisa menemukannya dan aku yakin mereka berdua akan baik-baik saja" Bambam berusaha menenangkan Mark.
"Bamie benar hyung. Jangan berpikiran macam-macam dan fokuslah untuk mencari Jinyoung hyung" tambah Yugyeom.
"Aku benar-benar akan membunuh brengsek sialan itu jika sesuatu terjadi pada mereka!" teriak Mark frustasi.
Bambam tidak tega melihat keadaan orang yang sudah dianggapnya seperti hyung nya sendiri itu.
"Tenangkan dirimu hyung, kita pasti akan menemukan Jinyoungie" Bambam menepuk-nepuk punggung Mark berusaha menenangkan Mark yang tengah menangis sambil memeluknya itu. Membuat Bambam juga ikut menangis karenanya.
Hingga tiba-tiba ponsel milik Mark berdering. Bambam memberi isyarat pada Yugyeom untuk menjawab telepon yang datang dari nomor asing itu.
"Yeoboseyo"
"Dengarkan aku, sebaiknya kalian tidak perlu lagi mencari Jinyoung karena dia sudah bersamaku dan dia akan menikah denganku, aku juga akan mengajaknya pindah ke tempat yang tidak bisa kalian temukan, jadi hentikanlah usaha kalian untuk mencari Jinyoung karena percuma saja"
"Ya! Jaebum jangan tutup teleponnya, yak!" teriakan Yugyeom membuat Mark dan Bambam langsung mendongak.
"Jaebum menelepon?! Dia bilang apa?! Dimana Jinyoung?!" pertanyaan bertubi datang dari Mark.
Dia langsung merebut ponselnya dari tangan Yugyeom lalu mencoba mendial lagi nomor Jaebum, tapi ternyata nomor Jaebum sudah tidak aktif.
Mark membanting ponselnya kesal. Dia mengusap wajahnya kasar dan kembali terisak. Bambam yang duduk di sebelahnya menepuk-nepuk pelan punggung pemuda itu, mencoba menenangkan Mark.
"Hyung, dia bilang, jangan mencari Jinyoung hyung lagi, karena-"
"Karena apa Gyeom?! Cepat katakan!"
"Karena, Jaebum akan menikahi Jinyoung hyung" jawab Yugyeom setengah takut. Mendengar perkataan Yugyeom, Mark langsung naik darah.
"Aku bersumpah akan benar-benar membunuhmu Im Jaebum!" teriak Mark emosi.
"Hyung, tenang dulu. Sebaiknya kita harus cepat mencari Jinyoung hyung, karena Jaebum bilang dia akan membawa Jinyoung hyung pergi dari sini ke tempat yang tidak bisa kita temukan" kata Yugyeom lagi.
"Benarkah? Jaebum hyung bilang begitu Gyeomie?" Bambam terkejut. Tidak menyangka Jaebum bisa melakukan hal senekat itu. Yugyeom mengangguk menjawabnya.
"Kita pergi sekarang" Mark langsung bangkit dan pergi meninggalkan apartemen miliknya diikuti oleh Bambam dan Yugyeom.
"Kau tahu dimana rumah orang tua Jaebum Bam?" tanya Mark yang duduk di bangku belakang, sementara Bambam duduk di sebelah Yugyeom yang sedang menyetir.
Pasangan kekasih itu tidak membiarkan Mark menyetir sendiri untuk alasan keamanan mengingat emosi Mark yang masih labil.
"Aku pernah kesana dulu hyung. Tapi aku tidak yakin apa mereka masih tinggal disana atau tidak" jawab Bambam ragu.
"Baiklah kita kesana" ucap Mark akhirnya yang diamini dua orang yang duduk di depannya.
Sesampainya di rumah orang tua Jaebum atas petunjuk arah dari Bambam, ketiga orang itu pun turun dari mobil.
Mereka menekan tombol intercom yang ada di depan rumah itu, tetapi tidak ada jawaban hingga beberapa kali mereka mencoba.
"Sepertinya mereka tidak tinggal disini lagi hyung" Bambam berucap dengan nada putus asa.
Mark mengepalkan tangannya menempel di dinding rumah itu. Dia marah, kalut, takut Jinyoung tidak bisa ditemukan.
"Hyung, sebaiknya kita pergi. Ayo" ajak Bambam sebelum kemudian dia menuntun Mark masuk lagi ke mobilnya pergi dari sana.
"Kita kemana sekarang Bamie?" tanya Yugyeom.
"Kita ke apartemen Mark hyung saja. Aku akan menghubungi Jackson hyung agar menemaninya. Kita tidak bisa membiarkan dia sendirian saat ini Gyeomie" jawab Bambam sambil melihat iba pada Mark yang tengah tertidur di bangku belakang. Sepertinya Mark kelelahan akibat terlalu lama menangis.
"Masalah mereka benar-benar berat Bamie. Aku hanya berharap semoga Jinyoung hyung dan bayinya baik-baik saja" ucap Yugyeom sambil menggenggam sebelah tangan Bambam lembut.
Bambam mengangguk mengamini ucapan tulus dari kekasihnya itu.
-o-
Tidak jauh beda dari Mark, keadaan Jinyoung juga semakin kacau. Pemuda itu terlihat semakin kurus dan wajahnya juga sedikit terlihat pucat.
Ditambah lagi dengan mual-mual yang dialami Jinyoung akibat kehamilannya, membuatnya tidak nafsu makan dan hal itu semakin memperburuk keadaannya.
Jaebum bukannya diam saja. Pemuda itu selalu membujuk Jinyoung untuk makan, bahkan dia juga membelikan berkardus-kardus susu untuk ibu hamil yang Jaebum tahu bisa untuk mengurangi mual yang dirasakan Jinyoung.
Jaebum berusaha memberikan perhatian pada Jinyoung. Tapi sepertinya pemuda itu masih sangat marah bahkan membencinya.
"Percuma saja hyung, aku hanya ingin pulang dan bertemu dengan calon suamiku, jadi kau tidak perlu repot-repot mengurusku" ucap Jinyoung ketus suatu kali saat Jaebum untuk kesekian kalinya membujuknya untuk makan dan meminum susu yang dia buatkan untuk Jinyoung.
"Tapi kasihan aegi mu Jie. Dia butuh asupan nutrisi yang cukup agar bisa berkembang dan tumbuh dengan baik"
"Urusi dirimu sendiri hyung" jawab Jinyoung lalu dia bangkit meninggalkan Jaebum masuk ke kamarnya dan membanting pintunya dengan kasar.
Sepeninggal Jinyoung, Jaebum hanya bisa menghela napas berat. Dia sadar sepenuhnya, Jinyoung seperti itu karena dirinya. Tapi, apa tidak boleh dia egois saat ini? Apa tidak bisa Jinyoung mengerti sedikit perasaannya dan mencintainya sebesar dia mencintai Mark nya? Tidak bisakah?
"Aku benar-benar mencintaimu Jie" ucap Jaebum lirih.
TBC
.
.
.
Chapter ini khusus untuk menistakan Markie xD *plak*
Semakin sinetron ini ceritanya, semoga yang baca tidak kecewa dan bosan yah T.T
Sekian dulu, review nya ditunggu bagi yang sudah baca :)
