Disclaimer: BTS di bawah naungan BigHit Entertainment, seluruh karakter yang muncul di ff ini adalah milik Tuhan Yang Maha Esa dan orangtua masing-masing, saya hanya pinjam nama.

Nite Nite Mario Boy © Kaizen Katsumoto

Warning : OOC, AU, Typo, BL, dan segala macam keabsurdan di dalam fanfic ini.

Pair : NamJin (Namjoon x Seokjin)

.

Summary : Seokjin yang menggoda Namjoon.

.

.

.

Mohon periksa penerangan dan jaga jarak mata anda dari layar saat membaca fanfic ini!

Enjoy!

.

.

.

Bagian 2 : Menggoda

.

.

.

Malam itu sepulang kerja, Namjoon langsung masuk ke dalam kamar setelah menyelesaikan makan malam. Dia bahkan tidak menegur Seokjin sepatah kata, membuat yang lebih tua mengerut alis bingung. Tumben Namjoon hipernya jadi kalem, mungkinkah terjadi sesuatu?

Menyingkirkan seluruh pikiran yang mengada-ada, Seokjin memilih anteng mencuci piring. Tapi ternyata rasa penasaran luar biasa sukses membuatnya berjingkat memeriksa kamarnya. Lampu kamar sudah dimatikan, Seokjin menekan saklar hingga ruangan menjadi terang. Seorang pemuda berhelai platinum sedang tertidur ganteng di atas kasur, jangan abaikan sebuah boneka Mario kesayangan Seokjin sudah nyaman dalam dekapan pemuda itu. Seokjin merengut, merasa cemburu, entah pada Mario atau pada Namjoon.

Seokjin berjalan mendekati ranjang, naik sambil memperhatikan wajah damai kekasihnya. Dengan mulut setengah terbuka, sebuah dengkuran samar terdengar, menyatakan betapa nyamannya Namjoon menikmati istirahat. Seokjin tersenyum tanpa sadar, berpikir mungkin pekerjaannya terlalu berat sampai dia kecapaian. Tangan pemuda itu menyisir rambut platina pelan, terkejut menyadari rambut Namjoon ternyata lebih lembut dari dugaannya. Seokjin hampir terkekeh geli, namun segera ditahan agar tidak membangunkan kekasihnya. Rasa penasaran kembali menghinggapi pikirannya saat dia melihat wajah pulas Namjoon. Jika diingat dia tidak pernah memperhatikan wajah Namjoon dari dekat, sekaipun mereka pernah berciuman tapi Seokjin akan langsung memejamkan matanya atau dia terlalu panik untuk memperhatikan wajah seksi Namjoon.

Kali ini dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan melihat wajah kekasihnya dari dekat. Dia memperhatikan seksama, tiba-tiba wajahnya memerah sendiri sampai ke telinga. Seokjin menggelengkan kepala kuat, berusaha menghilangkan pikiran nista dari kepalanya. Hina sekali dia memikirkan hal tidak-tidak hanya karena wajah Namjoon terlihat sedikit menggoda saat itu.

Setelah beberapa detik menenangkan diri, dia kembali memperhatikan wajah Namjoon, tangannya penasaran dan bergerak otomatis menelusuri lekuk wajah tampan Sang Kekasih. Menyibak rambut di dahi, mengurut alis sewarna rambut, mata yang biasa tajam itu kini terpejam, hidung, lalu sedikit mencubit kedua pipi pemilik dimple lucu. Seokjin tersenyum puas bisa menyentuh semua bagian wajah Namjoon. Sementara Namjoon tidak merasa terganggu, masih ngebo dengan gantengnya.

Manik Seokjin kemudian fokus pada satu tempat yang belum tersentuh; bibir. Ia meneguk ludah tanpa sadar. Haruskah dia menyentuhnya juga?

Menghirup napas dalam, pemuda itu mengangguk mantap. Hanya ini satu-satunya kesempatan. Lakukan atau tidak sama sekali, Kim Seokjin! Pikirannya mengambil alih.

Perlahan jemari Seokjin bergerak menuju bibir Namjoon, yang sedikit terbuka, yang mengeluarkan dengkuran, yang tebal berwarna kemerahan dan menggoda. Hup!

Jari telunjuknya sukses mendarat tepat bibir. Seokjin berkedip-kedip lucu, kali ini mengoles bibir itu menggunakan ibu jari dan telunjuk lentiknya. Dia tersenyum senang seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.

"Yaa! Sedang apa kau?" Senyum kekanakan itu seketika luntur saat telinganya menangkap suara mistis nan berat. Rupanya Namjoon terbangun dan kini menatapnya dengan sebelah alis terangkat, meminta penjelasan. Seokjin Panik. Buru-buru menarik tangannya sendiri untuk menjauh. Terlambat. Tangan lebar namjoon terlebih dulu menangkap kedua lengannya, mata menatap tajam tepat di kedua manik Seokjin seolah siap menelannya bulat-bulat. "Jadi bisa kau jelaskan apa yang sedang terjadi di sini? Apa kau sedang menggodaku, hyung?" Nada seduktif, hembusan napas ringan menyapu telinga Seokjin yang membatu.

Tamatlah sudah. Seokjin sudah tamat. Tatapan lapar Sang Kekasih terasa seperti mengoyak tubuhnya. "A-aku tak sedang menggoda siapapun." Menjawab pelan, sedikit gemetar.

"Kau bohong." Tukasnya cepat, menyingkirkan boneka Mario sejak tadi jadi guling tidurnya, mendorong tubuh Seokjin hingga terbaring di kasur dengan Namjoon menindihnya dari atas. Sebuah seringai tercetak mengetahui kekasihnya sudah terkunci di bawahnya. "Katakan."

"Apa yang ingin kau dengar? Aku tak bohong!" Seokjin agak menjerit, "-dan sejak kapan kau bangun?"

"Dari awal aku belum tidur—berhenti mengalihkan pembicaraan, hyung."

Jadi sejak awal Namjoon belum tidur? Oh. Tapi apa maunya Namjoon sih? Demi boneka Mario yang terabaikan, Seokjin benar-benar tak sedang menggoda siapapun.

Namjoon berwajah datar, berganti dirinya menelusuri wajah Seokjin dengan telunjuk, sebelah tangannya menahan kedua tangan Seokjin di atas kepala.

Tanpa sadar Seokjin menggigit bibir bawahnya. Jemari Namjoon makin liar menelusur leher kemudian turun di dada Seokjin yang masih berpakaian lengkap, membuatnya merinding.

"T-tunggu, Namjoonie..." Namjoon menunggu, menaikkan sebelah alis. "S-sebelum kau melakukannya, biarkan aku mengambil sesuatu." Namjoon tidak mengerti, hanya menurut dan melepaskan tangan Seokjin.

Pemuda itu langsung meraba meja nakas di samping tempat tidur, membuka laci, mengeluarkan botol ukuran sedang berwarna pink mencolok.

Namjoon memandang benda itu ketika Seokjin mengulurkan padanya. "Apa itu?" Tanyanya seolah polos.

"Ini lotion. Gunakan ini sebelum kau melakukannya biar tidak sakit." Seokjin menjawab tak kalah polos. Polos dan bego memang beda tipis.

Namjoon bersiul, kemudian terkekeh.

"Apanya yang lucu?"

"Kau hyung. Kenapa kau memberikan lotion padaku? Kau pikir aku akan menusukmu saat sedang capai begini?"

"Eh?" Seokjin mendadak bingung. "Jadi kau tak akan melakukannya malam ini?" Tanya sedikit senang, atau mungkin kecewa?

Namun Namjoon keburu merebut botol lotion dari tangannya. "Aku tidak mungkin menjawab tidak kalau kau sudah melakukan persiapkan seperti ini kan?" Ia menaik turunkan kedua alisnya dengan senyum iblis.

Skakmat.

"T-tunggu, Namjoonie, tapi, Mario-ku," Seokjin terbata, berusaha mencari alasan.

Seolah mengerti, Namjoon mengambil Mario dan menaruhnya di atas nakas menghadap mereka. "Tenang saja, kita akan mempersembahkan adegan live terbaik padanya kan?"

Seokjin berwajah semerah tomat, memandang Mario seolah boneka itu benar-benar hidup.

Oh, tidak. Tidak. Tidak. Seokjin merapal mantra itu dalam hati.

Baiklah Kim Seokjin, ikhlaskan saja dan ucapkan selamat datang pada jalan terpincang besok pagi. Sekali lagi, boneka Mario menjadi saksi bisu atas adegan senonoh di atas ranjang.

.

.

.

Fin

.

.

.

A/N : Karena ada ide dan dukungan, jadi saya memutuskan merubah ff ini menjadi series. Salah satu adegan di ff ini dipengaruhi oleh doujin karangan LovePotion09. Terima kasih sudah membaca sampai sini. Annyeong~