Naruto Afterwar

Author : Hamano Akira

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto

Pairing : NaruHina, SasuSaku(Untuk chap ini)

Warning : Typo, gaje, aneh, dll

Chapter 2

"Kriiiiiing"

Suara jam weker berhasil membangunkan Sakura dari tidurnya. Ia meraih jam weker yang masih berdering, lalu dimatikannya.

"Jam tujuh", ucapnya setelah melihat jam weker.

Gadis itu meregangkan tubuhnya, lalu duduk di tepi tempat tidur. Seulas senyum terpatri di wajahnya.

"Aku harus bersiap-siap. Aku tak boleh terlambat"

Ia pun berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi. Lima belas menit kemudian, Sakura berjalan masuk ke kamarnya dengan berbalut jubah mandi. Ia mengambil seragam ninjanya yang biasa di lemari(baju

yang gak ada lengannya dan rok mini dengan celana ketat. Tau kan?). Dengan cepat dikenakannya baju itu. Lalu diambilnya tas yang berada di samping lemari. Kemudian ia berjalan keluar menuju dapur.

Aroma harum masakkan masuk ke hidungnnya.

"Ohayou, tou-san, kaa-san", sapa Sakura pada dua orang yang berada di dalam dapur. Mereka adalah Haruno Kizashi dan Haruno Mebuki, ayah dan ibu Sakura. Mereka duduk di meja makan, menunggu

Sakura.

"Ohayou, Sakura" , jawab Mebuki sambil tersenyum.

"Ohayou", jawab Kizashi singkat sambil mengangkat kepalanya dari koran yang tengah dibacanya.

Sakura ikut duduk meja makan. Mereka mulai sarapan.

"Ne, Sakura. Kau jadi berangkat ke Suna hari ini?", tanya Mebuki.

"Um", Sakura mengangguk.

"Apa Sasuke ikut?"

Sakura agak kaget mendengar pertanyaan ibunya.

"Ah…i-iya", jawab Sakura terbata.

Tiba-tiba Mebuki bangkit berdiri sambil tersenyum penuh kemenangan. Ia menuding Sakura.

"Benar kan dugaanku? Kau memang pacaran dengannya!", seru Mebuki.

"Eeeehh…?", Sakura melongo.

"Lihat kan, sayang? Dugaan kita ternyata tepat", ucapnya pada Kizashi yang masih sibuk membaca koran.

"Dia kan memang sudah besar. Wajar kalau dia menyukai seorang pria", ucap Kizashi tanpa mengalihkan pandangannya.

"Tou-san! Kaa-san! Sudah kubilang kalau Sasuke-kun bukan pacarku!", ucap Sakura.

"Heee, kenapa kau tak mau mengaku, Sakura? Bukankah kemarin kau kencan dengannya?", goda Mebuki.

"Kemarin itu bukan kencan!", seru Sakura. Wajahnya memerah.

"Kalau begitu, kenapa kau pulang lebih malam kemarin?", Mebuki berniat menginterogasi Sakura

"Itu karena aku mampir ke Ramen Ichiraku dulu"

"Sasuke juga ikut, kan?"

"Me...memang sih dia ikut. Tapi disana kan ada Naruto dan Hinata juga"

"Lalu, kenapa kau tidak pulang bersama mereka?"

"Itu karena rumah kami beda arah"

"Tapi, kenapa Sasuke yang mengantarmu?"

Sakura gelagapan. Ia tak tahu harus menjawab apa.

"I…itu…"

"Lihat? Kau bahkan jadi gugup seperti itu. Sudahlah tak usah kau sembunyikan", Mebuki tersenyum jahil. Usahanya memojokkan Sakura berhasil.

"Sudahlah. Jangan menggoda Sakura terus", Kizashi angkat bicara. Diletakannya koran yang tengah dibacanya. Mebuki menatap suaminya cemberut. Sedang Sakura merasa lega.

"Arigatou, tou-san", ucap Sakura. Senyuman manis terukir di wajahnya.

Kizashi menatap anak semata wayangnya.

"Yah, bagaimana kalau kapan-kapan kau ajak dia ke sini untuk makan malam?", ucap Kizashi dengan tampang watados.

"GUBRAK"

Sakura terjungkir dari kursinya.

"TOU-SAAAAAAAAAAN!", teriak Sakura kesal. Wajahnya sudah semerah tomat.

Kizashi nyengir menanggapi kelakuan anaknya. Mebuki yang awalnya cemberut, kini wajahnya berseri-seri.

"Kizashi, idemu bagus sekali", ucap Mebuki berbinar. Dipeluknya sang suami dengan mesra. Sakura jawdrop menatap mereka berdua.

"Tou-san…kaa-san…"

Merasa ditatap anaknya, mereka segera melepas pelukan mereka.

"Ehem", Kizashi berdeham untuk mengembalikan wibawanya.

"Jadi, bagaimana menurutmu? Apa kau setuju?", tanya Kizashi.

"Itu mustahil, tou-san. Tou-san tahu sendiri kalau Sasuke-kun itu ketua ANBU. Ia pasti sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi hari pelantikan tinggal satu bulan lagi. Lagipula Sasuke-kun juga pasti tak mau".

Ucapan Sakura cukup beralasan. Pasalnya Sasuke memang orang yang kaku. Sulit dibayangkan kalau dia mau menerima ajakan orang tuanya untuk makan malam di rumahnya.

Dan lagi, ia bukan siapa-siapa Sasuke.

"Heee, kenapa kau kau bilang begitu? Kau bahkan belum mencobanya", tukas Mebuki.

"Su…Sudahlah. Tak usah dibahas. Aku berangkat dulu. Jaa", Sakura segera menenteng tasnya dan berjalan cepat keluar dari dapur. Kizashi dan Mebuki menatap kepergian anak tunggal mereka.

"Dia masih saja keras kepala", Mebuki menghela nafas.

"Sudahlah. Toh pada akhrinya dia akan mengaku", ucap Kizashi. Ia melanjutkan membaca korannya.

"Hhhhh", Mebuki mendesah. Ia hendak membereskan meja. Tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu.

"Ini kan…", ucap Mebuki.

"Ada apa?", Kizashi mengalihkan pandangannya lagi mendengar ucapan menggantung isterinya. Ia mengikuti arah tatapan Mebuki. Ia melihat benda berbentuk persegi yang sudah dibungkus rapi.

"Bukankah itu bekal Sakura?", tanya Kizashi.

"Anak itu…", Mebuki menepuk kepalanya.

.

.

.

"Apa-apaan sih tou-san dan kaa-san? Bukannya bilang selamat jalan, malah mengoceh yang aneh-aneh", omel Sakura dalam hati.

Sakura tengah melompat dari satu atap ke atap yang lain. Ia sedang menuju ke Gerbang Konoha.

"Kenapa mereka masih saja mengungkit masalah Sasuke-kun? Apa mereka belum puas dengan yang kemarin?"

FLASHBACK

"Tadaima", ucap Sakura sambil membuka pintu rumahnya. Bukannya mendapat jawaban, Sakura malah mendengar derap kaki dari dalam. Sedetik kemudian Kizashi dan Mebuki muncul sambil berlari ke

arahnya.

"Eh? Tou-san, kaa-san, ada ap-", belum selesai Sakura bicara, ia sudah ditarik masuk ke dalam rumah. Ia dibawa sampai ke ruang tamu.

"Tou-san! Kaa-san! Apa-apaan ini?", pertanyaan Sakura tak digubris. Ia malah didudukkan di kursi ruang tamu.

Kini Kizashi dan Mebuki menatap Sakura bak psikopat.

"Sakura…"

Suara Mebuki membuat Sakura menelan ludah.

"I…i…iya?", gagap Sakura.

"Kuso! Ini pasti gara-gara aku pulang terlalu malam", batin Sakura.

"Tadi itu Uchiha Sasuke kan?"

Sakura hanya mengangguk.

"Pasti mereka berpikir kami melakukan hal yang aneh-aneh", pikir Sakura. Ia berniat akan menjelaskan semuanya pada orang tuanya.

"Kenapa kau tak bilang kalau kau pacaran dengannya?"

"Eh…?"

Sakura terperangah. Ia merasakan wajahnya memanas. Ia mengira akan kena semprot dari sang ibu. Tapi kenyataan berkata lain. Kini kedua orang tuanya menatapnya dengan cengiran di wajah mereka.

"Kau ini…Diam-diam menjalin hubungan dengan salah satu pahlawan Konoha tanpa memberitahu kami. Kau keterlaluan!", ucap Mebuki sambil merangkul Sakura.

"Ka…kaa-san! Aku tidak pacaran dengan Sasuke-kun!", ujar Sakura. Dipalingkan mukanya untuk menyembunyikan rona merahnya.

"Heee, tak usah kau sembunyikan lagi. Kami sudah melihat buktinya"

"Bukti? Bukti apa?"

"Kau pulang lebih malam dari biasanya, dan kau diantar seorang pria pulang. Apalagi kalau bukan kencan?"

"HAH? Ke…kencan?"

Sakura salah tingkah mendengar ucapan ibunya. Ia tak habis pikir bagaimana bisa orang tuanya mendapat kesimpulan seperti itu.

"Tu…tunggu dulu! Ini salah paham! Sebenarnya…"

"Sakura"

Kizashi yang sejak tadi diam saja kini angkat bicara.

"Apa, tou-san?", Sakura menatap Kizashi.

"Tidak. Aku hanya mau bilang…", Kizashi memejamkan matanya.

"Selamat ya…"

"GUBRAK"

Sakura terjengkang dari kursinya.

"TOU-SAAAAAAAN!"

FLASHBACK END

"Hhhhh", Sakura menghela nafas.

"Percuma saja dipikirkan. Hanya bikin pusing kepala saja", ia terus melompat.

"TAP", akhirnya gadis itu sampai di Gerbang Konoha.

"Hm, mana Sasuke-kun? Apa belum datang?", batinnya.

"POF", kepulan asap muncul di samping Sakura. Dan dari dalam kepulan itu tampak seseorang berjalan ke arahnya.

"Sasuke-kun!", ternyata dia adalah Sasuke. Ia mengenakan seragam ANBU-nya. Sebuah tas melekat dipunggungnya.

"Hn. Kau sudah siap?", tanya Sasuke.

"Um", Sakura mengangguk.

"Baiklah. Ayo berangkat"

Keduanya pun melompat meninggalkan Konoha.

.

.

.

Sasuke dan Sakura melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Tak ada yang bicara semenjak mereka berangkat. Mereka sudah jauh dari Konoha. Sakura tampak sedang memikirkan sesuatu. Setelah

beberapa saat, ia mengajak bicara Sasuke.

"Sasuke-kun?"

"Hn. Ada apa?"

"A…ano…aku ingin bertanya. Kenapa Tsunade-sama memintamu untuk menemaniku?"

"Kenapa? Apa kau tak suka?"

"Bu…bukan begitu! Justru aku senang sekali. Hanya saja kau kan ketua ANBU. Tentu kau sibuk dengan perkerjaanmu. Apalagi pelantikan Naruto tinggal sebulan lagi"

Sasuke terdiam sejenak.

"Aku hanya melaksanakan perintah. Itu saja", ucap Sasuke datar.

Sakura tersenyum kecut. Kepalanya tertunduk.

"Tentu saja Sasuke-kun akan bilang begitu. Apa yang kupikirkan? Mana mungkin orang sepertinya mau buang-buang waktu untuk menemaniku kalau tidak disuruh?", batinnya.

"Selain itu…"

Sakura mendongak. Ia mendengar Sasuke mengucapkan sesuatu.

"Kau mengucapkan sesuatu, Sasuke-kun?", tanya Sakura.

"Tidak. Bukan apa-apa", jawab Sasuke datar.

Mereka terus bergerak. Akhirnya mereka sampai di pinggir sebuah sungai.

"Kita istirahat disini", ucap Sasuke.

"Baik", sahut Sakura.

Mereka pun duduk diatas sebuah batu besar. Sasuke mengeluarkan Bento dari tasnya dan mulai menyantapnya. Sedang Sakura masih mennggeledah isi tasnya.

"Lho, bekalku mana? Jangan-jangan tertinggal", batin Sakura.

Ia terus mencari. Tetapi hasilnya nihil.

"Bagaimana ini? Bekalku tertinggal. Ini semua gara-gara tou-san dan kaa-san. Aku jadi lupa membawanya tadi pagi", rutuk Sakura dalam hati.

"Kau kenapa?"

Sakura menoleh. Ia melihat Sasuke tengah menatap ke arahnya. Sejak tadi ia memperhatikan Sakura yang sibuk mencari bekalnya.

"A…ano…bekalku tertinggal", ucap Sakura gugup. Ia menundukkan kepalanya.

Sasuke menatap Sakura.

"Ini", tiba-tiba Sasuke menyodorkan Bentonya pada Sakura.

"He?", Sakura mengangkat kepalanya. Ia tercengang melihat Sasuke menyodorkan bekalnya.

"Sasuke-kun memberikan bekalnya untukku? Apa aku tak salah lihat?", Sakura malah bengong.

"Hei, kenapa kau malah diam? Cepat ambil!", ucapan Sasuke menyadarkan Sakura.

"Ah..ta…tapi kau bagaimana?"

"Sudahlah. Makan saja. Akan merepotkan kalau kau pingsan di jalan"

Akhirnya Sakura menerima bekal Sasuke.

"Arigatou, Sasuke-kun", Sakura tersenyum pada Sasuke.

"Ya", balas Sasuke.

Sakura mulai memakan bekal Sasuke. Sasuke melirik Sakura. Ia tersenyum tipis melihat gadis melahap bekalnya. Setelah habis, mereka melanjutkan perjalanan kembali.

.

.

.

"Akhirnya sampai juga", ucap Sakura.

Mereka berdua sampai di Sunagakure setelah tiga hari perjalanan. Matahari sudah berada di ufuk barat. Tak jauh dari tempat mereka berdiri nampak pintu masuk, atau lebih tepat kalau disebut lorong, untuk

masuk ke desa.

"Ayo kita ke sana, Sasuke-kun", ajak Sakura.

Sasuke mengangguk singkat. Mereka berjalan ke arah lorong masuk. Mereka melihat dua ninja penjaga di depan lorong.

"Haruno-san! Uchiha-san! Akhirnya anda datang", ucap salah satu penjaga.

"Hn", jawab Sasuke ambigu.

Para penjaga itu menatap Sasuke gugup.

"Dimana Gaara?", tanya Sasuke to the point.

"Ga…Gaara-sama berada di kantornya saat ini. Mari saya antar ke sana"

Dengan kikuk penjaga itu memimpin masuk ke lorong, diikuti Sakura dan Sasuke. Sakura tersenyum geli melihat tingkah penjaga itu. Wajar jika penjaga itu gugup, karena orang yang berada disampingnya

adalah pahlawan dunia shinobi.

Mereka terus berjalan dan sampai di ujung lorong. Begitu mereka melewati ujungnya, mereka sampai di pemukiman warga Desa Suna. Mereka berjalan melewati rumah para penduduk.

"Hei. Bukankah dia Uchiha Sasuke?"

"Sasuke? Pahlawan perang itu?"

"Iya, salah satu pahlawan dunia shinobi selain Uzumaki Naruto"

"Lihat. Itu Uchiha Sasuke"

"Apa yang dilakukan pahlawan perang disini?"

Warga desa saling bergumam melihat kedatangan mereka.

"Sasuke-kun benar-benar terkenal", batin Sakura

"Hei. Gadis di sebelahnya itu, Haruno Sakura kan?"

"Benar. Itu Sakura, ninja medis hebat dari Konoha"

"Kudengar kehebatannya sudah menyamai Tsunade"

"Apa mereka pacaran? Mereka tampak serasi"

Wajah Sakura bersemu merah. Gumaman-gumaman itu terdengar jelas di telinganya. Sakura terus berjalan sambil berusaha mengabaikan gumaman penduduk Desa Suna. Sedang Sasuke hanya memasang

wajah stoicnya. Akhiranya mereka sampai di depan Gedung Kazekage. Mereka dibawa masuk dan diantar langsung ke kantornya.

"Tok…tok…tok", pintu diketuk oleh ninja penjaga.

"Masuk", sebuah suara mempersilahkan mereka masuk.

Pintu pun dibuka dan mereka masuk ke dalam.

"Gaara-sama, saya membawa tamu dari Konoha", ucap ninja penjaga.

"Terimakasih. Kau boleh pergi", ucap Gaara.

Ninja penjaga itu pun melangkah keluar ruangan. Kini tinggal Sakura dan Sasuke yang tengah berdiri berhadapan dengan sang Kazekage, Gaara.

"Kuucapkan selamat datang pada kalian, Sakura, Sasuke", sapa Gaara sambil menatap orang yang dimaksud.

"Ha'i, Kazekage-sama", jawab Sakura.

"Tak usah terlalu formal. Biasa saja", pinta Gaara.

"Um, baiklah, Gaara", ucap Sakura sambil tersenyum.

Gaara mengangguk sebagai balasannya.

"Sepertinya aku tak perlu mengkhawatirkan keadaanmu. Tentunya kau sudah dikawal dengan baik"

Baik Sakura maupun Sasuke mengerti arah pembicaraan Gaara. Sakura tersenyum simpul sambil melirik Sasuke. Sedangn Sasuke hanya mendengus.

"Seperti yang kau ketahui, aku meminta bantuanmu untuk membantu tenaga medis disini", ujar Gaara melanjutkan.

"Kau bisa mulai besok. Sebaiknya kalian istirahat saja sekarang. Tentu kalian lelah setelah melakukan perjalanan jauh"

"POF", tiba-tiba satu orang shinobi Suna muncul.

"Dia akan mengantar kalian ke kamar", terang Gaara.

"Arigatou, Gaara", ucap Sakura.

"Mari ikut saya", ucap shinobi itu.

Shinobi itu membawa mereka ke sisi lain dari Gedung Kazekage. Disana tersedia banyak kamar yang memang dikhususkan untuk tamu.

"Silahkan pilih sesuai keinginan anda", ucap shinobi Suna.

"Ha'i. Arigatou sudah mengantar kami", jawab Sakura.

Shinobi itu mengangguk, lalu menghilang dengan shunshinnya.

"Hm, pilih yang mana ya?", Sakura bingung memilih kamarnya.

Tiba-tiba Sasuke berjalan menuju pintu nomor dua dari ujung, lalu membukanya.

"Eh, Sasuke-kun?", Sakura memanggil Sasuke. Sasuke menoleh.

"Kau istirahat saja sekarang. Ambil kamar pertama. Aku berada di sebelah kamarmu. Jadi lebih mudah bagiku untuk menjagamu!", belum sempat Sakura menjawab, Sasuke sudah buru-buru masuk ke

kamarnya.

"Eh, kenapa Sasuke-kun? Aneh sekali"

Sakura mengedikkan bahu. Ia lalu masuk ke kamar pertama di sebelah kamar Sasuke. Sakura menatap isi kamarnya. Tak banyak yang ada di kamar itu. Hanya sebuah tempat tidur dan sebuah meja dan kursi.

Ia meletakkan tasnya di atas kursi. Lalu ia melepas sepatu dan semua peralatan ninjanya. Kemudian ia merebahkan dirinya di tempat tidur.

"Haah, lelah sekali", ucapnya sambil menguap. Tak lama kemudian gadis itu terlelap.

Apa yang dilakukan Sasuke dikamarnya? Begitu ia menutup pintu, ia tidak segera beranjak dari sana. Ia memikirkan ucapannya tadi.

"Sial, kenapa aku bilang begitu?", batin Sasuke.

Di wajahnya sudah tercipta semburat merah tipis. Ia menghela nafas, lalu berjalan menjauhi pintu. Tatanan kamarnya tidak berbeda dari kamar Sakura. Ia segera melepas sepatu dan peralatan ninjanya. Tas

ia letakkan di samping tempat tidur. Kemudian ia merebahkan dirinya di tempat tidur. Tapi ia tidak bisa tidur. Ia masih memikirkan ucapannya tadi.

"Sakura…", Sasuke tersenyum tipis. Ia lalu memejamkan matanya dan terbang ke alam mimpi.

.

.

.

Mentari pagi bersinar menghangatkan bumi. Sinarnya yang terang masuk ke kamar Sakura melalui jendela dan menyinari wajah gadis itu. Akibatnya ia terbangun.

"Hoaaaam", Sakura menguap sambil meregangkan tubuhnya.

"Tidurku enak sekali semalam", ucapnya.

"Tok…tok…tok", tiba-tiba pintu kamar Sakura diketuk.

"Masuk", Sakura mempersilahkan.

"Anda sudah bangun, Haruno-san. Saya membawakan sarapan untuk anda", ternyata yang datang adalah shinobi Suna. Ia mengantar sarapan untuk Sakura.

"Oh, arigatou", ucap Sakura sambil menerima makanannya.

"Jika anda ingin mandi, pemandian air panasnya juga sudah siap", ujar shinobi itu.

"Oh iya, kemarin kan aku belum mandi", batin Sakura.

"Kalau begitu saya permisi dulu. Mari, Haruno-san", shinobi itu pamit.

"Ah, i-iya", jawab Sakura.

Setelah shinobi itu keluar, Sakura segera melahap sarapannya.

"Ahh, enak sekali makanannya", ucap Sakura.

"Yosh. Sekarang waktunya mandi!"

Sakura mengenakan sepatu dan peralatan ninjanya lalu berjalan keluar menuju pemandian air panas.

.

.

.

"Ah, segarnya!"

Sakura baru saja selesai mandi. Ia berjalan keluar dari tempat pemandian.

"Kau lama sekali"

Sakura terkejut. Ia baru saja melewati ambang pintu. Ia menoleh ke samping.

"Sasuke-kun!", ternyata yang bicara tadi adalah Sasuke. Ia melipat tangannya sambil bersandar ke dinding.

"Apa yang kau lakukan disini?", tanya Sakura.

"Menunggumu", jawab Sasuke singkat.

"Eh? Menungguku?"

"Hn. Gaara memintamu untuk menemuinya"

"O-oh, baiklah"

Sasuke berjalan mendului, diikuti Sakura dibelakangnya.

"Jadi Sasuke-kun hanya menjemputku", batin Sakura kecewa.

Ia mengira Sasuke benar-benar menunggunya. Sakura berjalan sambil menunduk. Sasuke melirik ke belakang. Ia tersenyum tipis melihat Sakura.

"Sepertinya ucapanku berhasil", batin sang Uchiha. Rupanya ia mempermainkan Sakura.

.

.

.

"Tok…tok…tok", Sakura mengetuk pintu kantor Gaara.

"Masuk", Gaara mempersilahkan.

Sakura masuk diikuti Sasuke.

"Oh, kau rupanya, Sakura", ucap Gaara.

"Ha'i. Gomenasai, Gaara. Aku tidak tahu kau memanggilku", jawab Sakura.

"Tak apa. Aku mengerti. Dan terima kasih sudah mau mencarinya, Sasuke", ujar Gaara pada Sasuke.

"Hn", hanya itu jawaban Sasuke.

"Ini mengenai tugasmu selama disini, Sakura. Ini daftarnya", Gaara menyerahkan beberepa lembar kertas pada Sakura. Sakura membacanya.

"Lumayan banyak juga tugasnya", batin Sakura.

"Kau bisa mulai hari ini. Kau bisa langsung ke rumah sakit", ucap Gaara.

"Ha'i. Kalau begitu kami permisi", Sakura memberi hormat lalu berjalan keluar diikuti Sasuke.

"Sasuke-kun, sekarang aku akan berangkat ke rumah sakit. Apa yang akan kau lakukan?", tanya Sakura setelah di luar.

"Aku akan mengantarmu", jawab Sasuke.

"Heh?", Sakura melongo.

"Kenapa?", tanya Sasuke melihat Sakura melongo.

"Ah…ti…tidak ada apa-apa", gagap Sakura.

"Kalau begitu ayo berangkat", Sasuke berjalan mendului.

Sakura menatap Sasuke. Ia bingung melihat tingkahnya.

"Kenapa Sasuke-kun jadi lebih perhatian padaku? Apa jangan-jangan dia…"

Sakura segera menggelengkan kepalanya.

"Mustahil. Tak mungkin Sasuke-kun menyukaiku. Sasuke-kun pasti hanya menjalankan tugasnya", batin Sakura.

"Mau sampai kapan kau berdiri disana?"

Suara Sasuke mengejutkan Sakura.

"Ah…i…iya", Sakura bergegas menyusul Sasuke.

.

.

.

Pekerjaan Sakura memakan waktu satu minggu. Setiap hari Sasuke selalu mengantarnya ke rumah sakit. Bukan hal yang aneh memang. Tapi itu menjadi aneh sebab yang melakukannya adalah Uchiha Sasuke,

orang yang kaku dan tak suka direpotkan oleh hal-hal sepele. Tapi Sakura menganggap bahwa itu hanya bagian dari tugas Sasuke saja. Walau begitu gadis itu cukup senang bisa diantar Sasuke. Selain itu,

Sakura juga selalu merasa diawasi saat bekerja. Memang ada kepala medis Desa Suna yang selalu memperhatikan kerjanya. Tapi bukan itu yang dirasakan Sakura. Tanpa sepengetahuannya, Sasukelah yang

selalu memperhatikan Sakura saat bekerja. Ia selalu menyamar sebagai ninja medis Suna untuk memperlancar aksinya. Sasuke bergerak dengan hati-hati, jadi tak ada orang yang mengenalinya.

"Huah, akhirnya tugasku selesai juga"

Sore itu Sakura berjalan keluar dari ruangan Gaara. Hari ini adalah hari terakhirnya di Sunagakure. Semua tugasnya telah selesai. Dan ia baru saja menyerahkan laporannya pada Gaara.

"Yosh. Sekarang, ke pemandian air panas!"

Sakura berjalan menuju pemandian air panas dengan senyum di wajahnya. Bayangan tubuhnya berendam di kolam pemandian membuatnya makin bersemangat. Ia mempercepat langkahnya. Tak lama

kemudian akhirnya ia sampai. Segera saja Sakura masuk ke dalam.

.

.

.

"Ahh, badanku terasa segar!"

Sakura telah selesai berendam di tempat pemandian. Kini ia berada di kamarnya. Gadis itu merebahkan tubuhnya ke kasur.

"Akhirnya besok kami pulang ke Konoha", batinnya.

"Rasanya cepat juga. Aku sudah kangen pada teman-teman. Aku jadi tak sabar untuk segera berangkat"

Tiba-tiba Sakura teringat Sasuke.

"Oh, iya Hari ini aku belum melihat Sasuke-kun. Kemana dia? Sebaiknya aku cari"

Sakura pun berjalan keluar dari kamarnya. Ia menuju kamar Sasuke.

"Tok…tok…tok", Sakura mengetuk pintu kamar Sasuke.

Ia menunggu pintu dibuka. Tapi tak terjadi apa-apa. Ia mencoba mengetuk lagi. Tapi hasilnya sama saja.

"Apa Sasuke-kun tak ada dikamar? Kalau begitu, dimana dia?"

Sakura pun beranjak dari kamar Sasuke. Ia hendak keluar dari Gedung Kazekage. Tapi ia bertemu salah seorang shinobi Suna.

"Maaf. Apa kau melihat Uchiha Sasuke?", tanya Sakura.

"Uchiha-san yan? Tadi sepertinya dia berjalan menuju atap gedung ini", jawab shinobi itu.

"Benarkah? Arigatou", Sakura membungkuk singkat lalu berlari meninggalkan shinobi Suna itu. Ia melihat sebuah tangga.

"Ini pasti tangga menuju ke atas", ia segera menaiki tangga itu.

Setelah sampai diatas, dilihatnya Sasuke yang berdiri sambil menatap langit.

"Sasuke-kun", panggil Sakura.

"Kaukah itu, Sakura?", ucap Sasuke tanpa menoleh.

Sakura berjalan menghampirinya.

"Apa yang kau lakukan disini?", tanya Sakura.

"Hanya menikmati angin malam", jawab Sasuke. Ia masih menetap ke atas. Sakura mengikutinya.

Malam itu sangat indah. Sinar bulan yang terang menyinari muka -bintang bertaburan di langit, menambah keindahan langit malam itu. Sungguh suasana yang romantis.

"Indahnya…", ucap Sakura.

"Apa kau menyukainya?", tanya Sasuke.

"Um", Sakura mengangguk.

Sasuke tersenyum simpul.

"Aku baru pertama kali melihat langit seindah ini"

"Eh? Benarkah?"

Sasuke mengangguk singkat.

"Selama ini yang kulihat hanyalah kegelapan. Tak ada cahaya sedikitpun. Aku selalu berjalan dalam kegelapan. Yang ada hanya dendam, dendam, dan dendam. Bahkan langit pun tampak selalu suram

dimataku"

Sakura mendengarkan ucapan Sasuke dengan seksama.

"Tapi, berkat kalian semua, kini aku telah bebas dari kegelapan itu. Aku mulai menyadari kalau perbuatanku selama ini hanyalah kebodohanku saja. Aku sadar apa yang kulakukan hanya memeberikan

penderitaan pada semua orang"

Sasuke memejamkan matanya.

"Kini, aku mencoba memulai semuanya dari awal. Mencoba membangun kembali apa yang pernah kutinggalkan dan membayar semua perbuatanku. Dan untuk itu…"

Sasuke menoleh pada Sakura.

"…aku mengucapkan terima kasih pada kalian semua. Terutama Naruto dan kau. Terima kasih karena telah selalu menungguku kembali. Walau semua orang sudah menganggapku sebagai kriminal, kalian

berdua masih menganggapku sebagai bagian dari kalian. Dan juga…aku minta maaf atas semua perbuatanku padamu"

Sakura terpana mendengar kalimat Sasuke. Ia tak percaya Sasuke mengucapkan semua itu. Kalimat itu tulus keluar dari mulut Sang Uchiha. Kini dimatanya Sasuke telah berubah, bukan Sasuke yang dingin dan

kejam. Ia telah menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Tanpa Sakura sadari cairan putih bening meluncur dari kedua matanya. Ia heran sendiri saat mengetahui dirinya menangis. Tapi ia sadar, bahwa itu adalah tangisan bahagia.

"Butuh tempat bersandar?"

Sakura terkejut mendengar perkataan Sasuke. Sasuke menawarkan dirinya untuk menjadi tempat sandaran Sakura. Dengan wajah merona Sakura mendekatkan dirinya pada Sasuke. Ia menyadarkan

kepalanya di bahu Sasuke.

"Kuharap aku masih bisa melihat langit seperti saat ini", Sasuke tersenyum. Senyuman tulus yang jarang sekali terlihat diwajahnya.

"Tentu, Sasuke-kun…tentu", jawab Sakura. Ia membalas senyum Sasuke.

Malam itu menjadi malam yang indah untuk mereka berdua.

.

.

.

TBC

Holla, minna-san! I'm back!

Kali ini saya update chap 2-nya.

Sebelumnya terima kasih buat reviewnya baik pujian maupun kritiknya.

Bahkan ada yang bilang saya cewek juga. #Plak.

Kok bisa ya? Apa gaya penulisan saya terlalu feminim? #dilemparsendal

Saya kasih tau aja dari sekarang daripada keterusan. Saya ini laki-laki. Jadi kalo ada yang ngira saya cewek, gomen mengecewakan. #ditimpukreader

Mungkin ada yang tanya "kok isinya SasuSaku semua?"

Hehehe memang saya sengaja bikin SasuSaku semua.

Ini gara-gara manga chap 685 kemarin (yang udah baca pasti tau kenapa :-D)

Tapi jangan kecewa dulu. Untuk chap depan akan saya buat full NaruHina. Jadi, ditunggu saja kelanjutannya .

Dan kali ini saya panjangin ceritanya. Gomen kalau romancenya gak dapet(Gak pinter bikin romance. Maklum masih belajar)

Semoga chap ini tidak mengecewakan.

Akhir kata RnR please.

ARIGATOU GOZAIMASU.