Naruto Afterwar

Author : Hamano Akira

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto

Pairing :NaruHina, SasuSaku

Warning : Typo, gaje, aneh, dll

Chapter 3

Pagi itu matahari bersinar cerah. Sesosok gadis berambut indigo dengan bola mata amethyst baru saja bangun dari tidurnya. Dialah Hyuga Hinata. Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya selama beberapa

saat, kemudian bangkit dari tempat tidur. Gadis itu meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Lalu ia membereskan tempat tidurnya. Setelah selesai, ia menatap jam dinding kamarnya.

"Masih setengah tujuh. Sebaiknya aku mandi dulu", batin Hinata.

Ia lalu pergi ke kamar mandi. Setelah mandi, Hinata berjalan menuju ke kamar dengan handuk melilit ditubuhnya. Ia mengambil baju ninjanya dari lemari, lalu dipakainya. Setelah itu, ia keluar dari kamar.

"Hari ini masak apa ya?", pikir Hinata sambil berjalan ke dapur.

"Ah, aku masak Sup Miso dan Tonkatsu saja!"

Hinata menyiapkan bahan-bahan serta alat masaknya. Kemudian ia mulai memasak.

Inilah kegiatan Hinata sehabis bangun tidur. Setiap pagi ia membuat sarapan untuknya, adiknya, dan juga ayahnya. Memang ada pembantu di rumah itu. Tapi Hinata tidak ingin hanya mengandalkan orang lain.

Ia ingin belajar mandiri.

Setelah setengah jam, akhirnya masakannya pun jadi. Hinata lalu menata meja makan dengan rapi. Kemudian ia meletakan masakannya di atas meja.

"Hmm, baunya enak sekali, nee-chan"

Sebuah suara dari belakang mengejutkan Hinata. Ia membalikkan badannya. Seorang gadis kecil dengan rambut coklat dan iris mata yang sama dengan Hinata berdiri di depan pintu dapur.

"Ah, ternyata kau, Hanabi", ternyata dia adalah Hanabi, adiknya. Ia baru saja bangun.

"Ini pasti Sup Miso, iya kan? Dan satu lagi…Tonkatsu ya?", ucap Hanabi sambil mencium-cium masakan kakaknya dari depan pintu.

"Kau ini…kalau sudah mencium bau makanan, baru bangun!", ujar Hinata pura-pura kesal.

Hanabi nyengir mendengar ucapan Hinata.

"Hehe…habis masakan nee-chan baunya enak sih. Siapapun yang menciumnya pasti terbangun!"

"Paling tidak kau kan bisa membantuku, daripada tidur saja dikamar"

"Gomen, gomen. Bagaimana kalau mulai besok aku membantu nee-chan?"

"Kau janji?"

"Janji!"

Hanabi mengacungkan jempolnya. Melihat itu, Hinata teringat seseorang.

"Naruto-kun…", ya, gaya Hanabi saat itu persis dengan Naruto, membuatnya teringat pada sosok laki-laki hiperaktif dan konyol itu, tapi juga kuat dan baik hati. Orang yang telah dicintainya sejak kecil. Sampai

sekarang pun belum berubah. Mengingat Naruto membuat Hinata tersenyum. Tak lupa dengan rona merahnya.

"Nee-chan, wajahmu merona", ucapan Hanabi menyadarkan Hinata.

"Eh? Be-benarkah?", ucap Hinata terbata.

"Nee-chan kenapa? Apa nee-chan sakit?", tanya Hanabi.

"Ti…tidak, Hanabi. Nee-chan tidak sakit", jawab Hinata.

"Benarkah?", Hanabi memandang nee-channya lekat-lekat. Hinata yang dipandangi seperti itu merasa risih.

"I…iya, nee-chan tidak apa-apa"

Hanabi masih memandangi Hinata. Ia mulai berjalan mendekat.

"Nee-chan…", panggil Hanabi.

"Y…ya?", Hinata mulai merasa gugup.

Hanabi masih terus berjalan.

"Apa nee-chan…"

"A…apa?", Hinata semakin gugup. Jaraknya dengan Hanabi semakin dekat.

"…sedang memikirkan seseorang?"

"Eh?", Hinata melongo. Sepertinya kegugupan membuat otaknya berjalan lebih lambat.

"Ya, apa nee-chan sedang memikirkan seseorang?", ulang Hanabi.

"Eeeeehh?", Hinata terpekik. Ia baru sadar dengan apa yang diucapkan adiknya. Hanabi hanya memutar bola matanya.

"Ne…nee-chan tidak sedang memikirkan siapapun", elak Hinata.

"Apa benar? Tapi tadi Nee-chan senyum-senyum sendiri dengan muka merona", goda Hanabi.

"Ah…ti…tidak. Itu bukan apa-apa"

"Sudahlah, -chan sudah mulai gugup. Tak usah bohong"

Hanabi tahu betul kebiasaan kakaknya yang satu ini. Jika sudah bicara gagap, berarti ia sudah mulai gugup. Hinata hanya menunudukkan kepalanya.

"Ah, jangan-jangan nee-chan memikirkan Naruto nii-chan ya?", tebak Hanabi.

Hinata terlonjak mendengar perkataan Hanabi.

"Ti…tidak kok…", jawab Hinata. Wajahnya memerah.

"Nee-chan ini, bilang tidak, tapi wajahnya merah. Pasti nee-chan bohong!", tukas Hanabi.

"Kyaaaa!", Hinata menjerit sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Hanabi tertawa melihatnya.

"Hahaha, jadi tebakanku benar ya? Wah,wah. Kalau Naruto nii-chan tahu bagaimana ya?"

"Ha…Hanabi…sudah…", pinta Hinata. Wajahnya sudah semerah kepiting yang baru saja direbus. Tapi Hanabi tidak mau berhenti. Ia terus saja menggoda Hinata, sampai-sampai tidak menyadari kalau

seseorang telah masuk ke dalam dapur.

"Sepertinya aku ketinggalan sesuatu", dan suara orang itu sukses membuat godaan Hanabi berhenti.

"Tou-san!", seru Hanabi.

Hinata yang menutup wajah kaget mendengar seruan Hanabi. Ia menurunkan tangannya.

"Eh? Tou-san?", ucap Hinata saat melihat orang itu.

Dia adalah Hyuga Hiashi, pimpinan Klan Hyuga sekaligus ayah Hinata dan Hanabi.

"Tou-san kapan bangun?", tanya Hanabi.

"Sejak tadi", jawab Hiashi.

"Apa yang kalian ributkan tadi?"

Hanabi terkikik mendengar pertanyaan ayahnya. Hinata hanya diam sambil menunduk. Hiashi heran melihat ingkah kedua putrinya.

"Kenapa kalian tidak menjawab? Dan kau Hanabi, kenapa kau malah tertawa?"

Kikikan Hanabi berhenti.

"Yah, tadi sebenarnya nee-chan…"

"A-Ayo sarapan dulu, tou-san. Nanti keburu dingin"

Ucapan Hanabi dipotong oleh Hinata. Hanabi menoleh pada kakaknya. Hinata kini menatapnya dengan pandangan memohon. Ia mengerti maksudnya.

"Jangan suka memotong perkataan orang seperti itu, Hinata", ucap Hiashi melirik Hinata.

"Dan apa yang ingn kau ucapkan, Hanabi?"

"Ah, ya. Tadi aku hanya mengganggu nee-chan saja", jawab Hanabi.

Hiashi memandang Hanabi dan Hinata bergantian.

"Hm, begitukah…", ucapnya.

"Ayo tou-san kita makan. Aku sudah lapar", ajak Hanabi. Ia menggandeng tangan ayahnya menuju kursi.

Hinata menghembuskan nafas lega.

"Paling tidak obrolan kami tadi tidak ketahuan", batinnya.

Mereka pun sarapan dalam diam. Setelah beberapa saat, Hanabi memecah kesunyian.

"Wah, masakan nee-chan enak sekali", puji Hanabi.

Hinata yang mendengarnya tersipu malu.

"Arigatou, Hanabi", ucap Hinata.

"Bagaimana pendapat tou-san? Masakan nee-chan enak kan?", tanya Hanabi pada ayahnya.

Hiashi tak menjawab. Hinata yang melihat sikap ayahnya hanya bisa menghela nafas. Wajahnya berubah menjadi sendu. Ia tahu ayahnya bukan orang yang suka memuji. Bahkan pada anaknya sendiri.

"Masakan Hinata memang enak"

Hinata tercengang. Ia tak menduga ayahnya akan memuji masakannya. Padahal selama ini Hiashi hanya diam saja saat menyantap masakannya.

"A-arigatou, tou-san", ucap Hinata. Ia menyunggingkan senyumnya.

Tanpa diduga-duga Hiashi membalas senyum Hinata, walau hanya senyuman tipis. Kontan hal itu membuat Hinata terkejut. Hanabi yang melihat itu tersenyum. Ia merasa suasana sudah tidak kaku lagi.

"Tou-san. Apa tou-san tahu? Tadi nee-chan memikirkan seseorang lho!"

Hinata menatap Hanabi dengan tatapan tak percaya. Ditatap kakaknya seperti itu, Hanabi baru sadar dengan ucapannya. Hanabi bermaksud membuat suasana menjadi enak. Ia lupa kalau Hinata telah

memintanya untuk tidak mengatakan percakapan mereka tadi. Tapi terlambat. Hiashi sudah mendengar ucapan Hanabi. Ia menatap Hinata.

"Apa itu benar, Hinata?", tanya Hiashi.

Hinata melirik Hanabi dengan kesal. Sedang Hanabi mengatupkan kedua tangannya, meminta maaf pada Hinata. Kini Hinata harus menghadapi pertanyaan Hiashi. Kepalanya tertunduk. Ia tak berani menatap

ayahnya. Ia malu jika harus bilang yang sebenarnya.

"Narutokah yang sedang kau pikirkan?"

Untuk kedua kalinya Hinata terlonjak. Ia tak berani menjawab. Wajahnya kembali memerah. Hiashi menghela nafas melihat sikap putrinya sulungnya. Sebenarnya sudah bukan rahasia lagi di Klan Hyuga kalau

Hinata menyukai pemuda jabrik kuning sang Jinchuriki Kyuubi itu. Aksi heroiknya yang berusaha menyelamatkan Naruto itulah yang membuat rahasianya terbongkar. Banyak reaksi yang timbul karenanya. Tapi

hampir semua anggota klan setuju dan mendukung Hinata. Hanya sang ayah yang belum diketahui reaksinya. Walau banyak yang mendukungnya, Hinata masih malu untuk mengakuinya. Bahkan sampai saat ini.

"Hinata, ada yang ingin kutanyakan padamu", kata Hiashi.

Hinata mengangkat kepalanya.

"Apa kau benar-benar mencintai pemuda itu?"

Hinata menatap Hiashi. Raut wajah Hiashi menunjukkan ketegasannya. Ia tidak main-main. Hinata sadar, ia tak mungkin berbohong lagi.

"U-um", Hinata mengangguk kecil.

Hiashi melipat tangannya.

"Apa sudah tak ada lagi laki-laki yang bisa menggantikannya?"

"Ti-tidak ada, tou-san. A-aku sudah benar-benar mencintai Naruto-kun", jawab Hinata. Ia memberanikan diri berterus terang.

Hiashi memjamkan matanya.

"Kalau begitu, kurasa kau tak akan bisa bersamanya"

"DEG", jantung Hinata seakan berhenti berdetak. Ia mematung. Tatapannya menjadi kosong. Hanabi menatap ayahnya tercengang.

"To…tou-san, apa tou-san benar-benar beranggapan seperti itu?", tanya Hanabi. Ia berusaha meyakinkan dirinya kalau ia tidak salah dengar.

"Ya, aku yakin", jawab Hiashi.

Ucapan Hiashi benar-benar menohok Hinata. Butiran-butiran bening mulai jatuh dari mata lavendernya. Tak lama kemudian terdengar isak tangis dari mulutnya. Hanabi segera bangkit dari kursinya dan

menghampiri Hinata. Ia berusaha menenangkan kakaknya itu.

"Ne…nee-chan…", panggil Hanabi.

Hinata tak menjawab. Ia masih saja menangis. Hatinya benar-benar hancur. Pupus sudah harapannya untuk bersama Naruto. Hiashi bangkit berdiri dan berjalan hendak keluar.

"Tou-san! Kenapa tou-san bicara begitu? Apa tou-san tidak kasihan pada nee-chan?", teriak Hanabi. Akibat melihat Hinata menangis, Hanabi bahkan berani meneriaki Hiashi.

Hiashi berhenti berjalan.

"Seseorang yang bisa mendampingi hokage haruslah seseorang yang kuat, mampu mengabdi secara penuh padanya, rela berkorban untuknya,dan mampu melindunginya dari bahaya apapun", ucap Hiashi

tanpa membalikkan badannya. Kenapa Hiashi mengatakan "pendamping hokage"? Karena Naruto adalah calon Rokudaime Hokage.

"Tapi nee-chan sudah melakukan semua itu! Nee-chan sekarang telah menjadi kuat! Dia juga telah berusaha melindungi Naruto nii-chan saat Invasi Pain bahkan sampai sekarat! Mungkin nee-chan juga sudah

mati demi melindungnya saat ini jika bukan karena Neji-nii. Apa itu juga masih kurang?", mata Hanabi mulai berkaca-kaca. Ia tak rela jika Hinata menderita karena ucapan ayahnya. Karena ia tahu, Hinata

sangat mencintai Naruto.

"Su-sudah cukup, Hanabi", Hinata menyuruh Hanabi berhenti.

"Nee-chan…", Hanabi hendak protes.

"Sudahlah, Hanabi. Nee-chan tak apa-apa", ucap Hinata. Ia masih terisak. Ia ikut berdiri. Ditatapnya punggung ayahnya dengan mata yang berair.

"A-aku tak apa-apa jika tou-san tak merestuiku. Ta-tapi, bisakah tou-san katakan kenapa tou-san tidak merestuiku?", pinta Hinata.

Hiashi terdiam selama beberapa saat.

"Itu karena…"

Hinata dan Hanabi menunggu jawaban ayah mereka.

"…kau masih pemalu dan cengeng"

"Eh?"

Baik Hinata maupun Hanabi melongo mendengar jawaban Hiashi. Sedang Hiashi menatap mereka. Ia tersenyum simpul.

"Kau memang sudah melakukan semua yang kuucapkan tadi. Tapi, kau masih menunujukkan sisi lemahmu. Seorang pendamping hokage tidak boleh terlihat lemah. Ia harus mampu tegar dalam kondisi apapun.

Barulah dia bisa menjadi pendamping hidupnya", terang Hiashi.

Hinata kini mengerti dengan maksud ayahnya. Ia sudah berhenti menangis.

"Ja-jadi…tou-san merestuiku?", tanya Hinata.

"Apa tadi aku bilang tidak merestuimu?", Hiashi bertanya balik.

"Jadi, tou-san hanya menggoda nee-chan ya?", selidik Hanabi.

Hiashi mengangguk. Muncul semburat merah tipis di pipi Hinata.

"Jadi, tou-san hanya menggodaku?", batinnya

Hanabi bersorak senang. Ia memeluk Hinata.

"Selamat ya, nee-chan", ucap Hanabi.

Hinata membalas pelukan adiknya. Ia merasa senang sekali. Ternyata ia salah mengerti maksud ayahnya. Sebenarnya itu salah Hiashi juga, karena ia menyampaikannya dengan cara seperti tadi. Hiashi pun

berjalan keluar dapur. Hinata menatap kepergian ayahnya.

"Arigatou, tou-san", batin Hinata.

.

.

.

Hinata tengah berjalan-jalan di taman Konoha. Perasaannya sedang gembira saat ini. Senyumnya seakan-akan tak mau pergi dari wajahnya. Sampai-sampai ia dikira sinting oleh Hanabi. Tapi ia tak peduli.

Hatinya terlalu senang, senang karena sang ayah mengijinkannya bersama dengan sang pujaan hati. Tiba-tiba matanya terpaku pada seseorang yang sedang duduk di bawah pohon di taman itu. Rambut

warna kuning dengan model jabriknya, baju lengan panjang dengan warna hitam orange, celana panjang warnanya yang juga orange, siapa lagi kalau bukan…

"Naruto-kun!", pekik Hinata. Ia terkejut melihat Naruto berada di taman itu juga. Pekikan Hinata membuat Naruto menoleh.

"Hinata!", ucap Naruto. Dari wajahnya tersirat kalau ia juga terkejut.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Bukannya menjawab, Hinata malah menundukkan kepalanya. Sudah bisa ditebak bagaimana wajah Hinata saat ini.

"Kami-sama, mimpi apa aku semalam? Kenapa aku bisa bertemu Nrauto-kun disini?", batin Hinata.

"Hoi, Hinata! Kenapa kau malah diam saja?", panggil Naruto.

"Ah, i…iya", ucap Hinata gugup.

Naruto menghembuskan nafasnya. Ia heran kenapa Hinata selalu gugup jika berada didekatnya. Yah, kecuali dalam beberapa momen.

"Kemarilah, Hinata", Naruto menepuk-nepuk tanah disebelah kirinya, memberi isyarat untuk duduk.

Hinata berjalan dengan gugup. Perasaanya campur aduk antara senang, gugup, dan malu.

"Tidak! Aku tidak boleh begini! Aku harus menyembunyikan kelemahanku!", batinnya. Ia teringat ucapan ayahnya tadi pagi.

Langkahnya berubah menjadi lebih mantap. Ia bertekad untuk terlihat lebih kuat. Apalagi di depan Naruto. Ia duduk disamping Naruto.

"Ne, Hinata. Kau belum menjawab pertanyaanku", tagih Naruto.

"Aku hanya jalan-jalan saja, Naruto-kun", jawab Hinata.

Naruto mangut-mangut.

"Naruto-kun sendiri kenapa disini?", Hinata ganti bertanya.

"I…itu…", mendadak Naruto menjadi murung. Aura disekitarnya menjadi suram.

"Naruto-kun? Kau kenapa?", Hinata terkejut melihat perubahan sikap Naruto.

"ITU KARENA KERTAS-KERTAS LAKNAT INI!", teriak Naruto.

Hinata terlonjak mendengar teriakan Naruto. Jantungnya nyaris copot dibuatnya.

"Ke…kertas?", tanya Hinata tergagap. Teriakan Naruto sukses membuat Hinata lupa akan sikapnya tadi.

Dengan lesu Naruto menyodorkan kertas-kertas yag tenyata berada sisi kanan badannya.

"Gara-gara kertas ini, aku jadi tak bisa tidur", ucapnya.

Hinata mengambil beberapa kertas yang disodorkan Naruto, lalu membacanya.

"I-inikan kertas tentang tata cara pemerintahan Konoha?", ucap Hinata.

Naruto mengangguk.

"Aku mempelajarinya semalaman di rumah. Tapi tak ada satupun yang kumengerti! Sebenarnya aku datang kesini karena kupikir jika suasananya berbeda, maka aku bisa lebih mengerti isi kertas itu. Tapi aku

malah makin pusing!", kata Naruto panjang lebar.

Begitulah Naruto. Ia bukan orang yang suka teori. Kalau bisa, ia memilih belajar dengan mempraktekannya.

Mau tak mau Hinata tersenyum geli mendengar penuturan Naruto.

"Kenapa kau tersenyum seperti itu?", tanya Naruto heran.

"N-Naruto-kun lucu kalau sedang bingung", jawab Hinata.

Naruto jawdrop seketika.

"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?", batin Naruto.

Tiba-tiba ia mendapat ilham.

"Hinata, maukah kau membantuku?", pinta Naruto.

"Me…membantu? Membantu apa?"

"Bantu aku mempelajari dokumen ini!"

"Ah…eto…"

"Kumohon, Hinata. Bantu aku! Aku sudah tak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Teme dan Sakura-chan pergi misi, begitu pula dengan Shikamaru. Aku bahkan tak menemukan Kakashi-sensei dimanapun!

Baa-san juga sama sekali tidak membantu!"

Kenapa Naruto hanya menyebut nama mereka? Karena hanya merekalah yang menurutnya bisa mengerti isi dokumen itu.

Naruto memandang Hinata dengan pandangan memohon. Blue sapphirenya bertemu dengan amethyst Hinata.

"I…indah", itulah yang dipikirkan Hinata saat menatap mata Naruto. Seberapa pun kuatnya Hinata, ia takkan mampu bertahan lama jika bertatapan dengan Naruto.

"Ba…baiklah", akhirnya Hinata mengiyakan.

Naruto bersorak girang. Reflek Naruto memeluk Hinata dengan erat. Hinata terkejut bukan main.

"Arigatou, Hinata", ucap Naruto.

Wajah Hinata sudah merah padam. Nafasnya berubah sesak. Kebiasaan Hinata muncul lagi. Ia mulai kehilangan kesadarannya.

"Kami-sama, tolong jangan buat aku pingsan kali ini", doa Hinata.

Naruto menyadari perubahan sikap tubuh Hinata. Dan ia menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya jika ia masih mempertahankan sikapnya.

"Baik, baik. Aku lepaskan. Kau jangan pingsan dulu", ucap Naruto sambil melepaskan pelukannya sebelum Hinata jatuh pingsan.

Hinata menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdebar.

"Ka…kau mengagetkanku, Naruto-kun", protes Hinata.

"Hehe, gomen", Naruto nyengir mendengar protes Hinata.

"Yosh. Ayo kita mulai saja"

Hinata mengangguk. Ia tersenyum melihat sikap Naruto.

"Naruto-kun tidak berubah. Padahal ia akan jadi hokage", batinnya.

Akhirnya Hinata membantu Naruto dalam mempelajari dokumennya. Hinata menjelaskan pada Naruto bagian-bagian yang kurang dimengertinya. Naruto akan mengangguk jika telah mengerti. Terkadang

Naruto juga bertanya untuk minta penjelasan lebih. Tingkah mereka seperti guru dan murid. Tak terasa waktu telah berlalu dan matahari telah berada tepat diatas kepala.

"Huah, akhirnya selesai juga", desah Naruto lega. Ia baru saja menyelesaikan "kuliahnya" dengan Hinata.

"Ne, arigatou Hinata sudah mau membantuku", Naruto menunjukkan cengirannya.

Hinata mengangguk malu. Wajahnya merona melihat cengiran Naruto.

"Hinata…", panggil Naruto.

"Ada apa?", Hinata menoleh.

"Um…eto…bagaimana mengatakannya ya?", ucap Naruto gugup.

"Katakan saja, Naruto-kun"

"Ah, baiklah. Um, maukah kau datang ke rumahku setiap pagi?"

Hinata terlonjak untuk kesekian kalinya. Sepertinya hari ini kurang baik untuk jantungnya.

"Ke…kerumah Na-Naruto-kun? Ke-kanapa?", tanya Hinata. Ia merasakan wajahnya memanas.

"Tentu saja untuk membantuku mempelajari dokumen ini", jawab Naruto.

"Ta-tapi, bukankah kita baru saja menyelesaikannya?"

"Hinata, yang kubawa ini baru sebagian saja. Masih banyak dokumen-dokumen berserakan yang harus kupelajari di rumahku"

"Tapi kenapa aku?"

"Yah, soal itu…", Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"…aku merasa kalau kaulah orang yang tepat untuk membantuku"

"Eh?", Hinata melongo mendengar ucapan Naruto.

"Begitulah. Kurasa kaulah satu-satunya orang yang bisa membantuku. Teme pasti sibuk dengan pekerjaannya, begitu juga Sakura-chan. Sedang aku tak yakin Shikamaru mau membantu. Apalagi tsunade baa-

san. Aku juga tak bertemu Kakashi-sensei beberapa hari ini" terang Naruto.

Hinata tak tahu harus berkata apa. Ia tak tahu harus bilang "ya" atau "tidak".

"Lagipula, aku merasakan hal berbeda jika didekatmu", kata Naruto. Ia mendongakkan kepalanya menatap langit.

"Hal berbeda?", tanya Hinata bingung.

"Setiap kali aku melihatmu, aku selalu mengingat kaa-san"

"Kaa…kaa-san Naruto-kun?"

"Ya. Jika aku didekatmu, selalu muncul perasaan yang sama seperti bertemu kaa-san dulu. Rasanya hangat dan menenangkan, membuatku merasa nyaman", ujar Naruto.

"Naruto-kun pernah bertemu orang tua Naruto-kun?", tanya Hinata. Setahunya Naruto itu anak yatim piatu sejak kecil.

"Pernah. Yah, walau hanya sesaat, itu adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidupku", jawab Naruto.

"Dan percayalah, kalian berdua banyak kemiripan"

"Be…benarkah?"

"Benar. Aku tak bohong. Kalian sama-sama baik dan perhatian. Kalian memiliki wajah cantik. Kalian juga memiliki fisik yang hampir sama. Bahkan rambut kalian sama-sama panjang. Hanya saja rambut kaa-san

berwarna merah"

Wajah Hinata merona mendengarnya.

"Yah, meskipun kau lebih pemalu dari kaa-san, tapi kalian sama-sama kuat. Dan juga…"

Naruto menatap Hinata.

"…kalian sama-sama rela berkorban untukku"

Hembusan angin tiba-tiba muncul dan menerpa dua insan itu. Hinata terdiam setelah mendengar kalimat terakhir Naruto.

"Sepertinya sangat terlambat aku bilang sekarang. Tapi…arigatou, Hinata", Naruto nyengir lima jari pada Hinata.

Hinata terpana. Matanya membulat sempurna. Ditatapnya Naruto yang tengah nyengir padanya.

"Na…Naruto-kun…", hanya itu yang keluar dari mulut Hinata.

"Oh iya, kau belum menjawab pertanyaanku", Naruto baru teringat pada permintaannya tadi. Dengan mudahnya ia mengganti topik pembicaraan.

"Ah…e…eto…",Hinata masih bingung harus menjawab apa.

"Tolonglah Hinata. Mau ya? Kalau kau mau, aku janji akan membelikanmu ramen sebanyak yang kau mau", janji Naruto.

Hinata sweatdrop mendengar janji Naruto.

"Ti-tidak usah seperti itu, Naruto-kun", ucap Hinata.

"Lalu, kau mau apa?", Naruto mendekatkan wajahnya pada Hinata. Hinata kaget dibuatnya. Ia merasakan wajahnya memanas.

"Ne, Hinata. Apa yang kau mau? Katakan saja", wajah Naruto semakin dekat dengan wajah Hinata. Kini mata lavendernya bisa melihat dengan jelas blue sapphire milik Naruto.

"De…dekat sekali", batin Hinata.

Jantung Hinata berdegup kencang. Keringat dingin mulai mengucur dari keningnya. Hinata sudah tak kuat lagi. Ia tahu apa yang akan terjadi jika ia masih terus menatap mata Naruto.

"Ba…baiklah", Hinata akhirnya mengabulkan permintaan Naruto.

Senyuman lebar terukir di wajah Naruto.

"Arigatou, Hinata. Kau memang sahabatku yang paling baik", kata Naruto.

Hinata hanya menunudukkan kepalanya. Ia masih berusaha menghilangkan debaran jantungnya.

"Huuh, syukurlah. Aku bisa bebas dari tatapan Naruto-kun", batin Hinata.

"Nee-chan!", tiba-tiba sebuah suara terdengar. Naruto dan Hinata menoleh ke asal suara.

"Hanabi?", ucap Hinata begitu melihat empunya suara.

Hanabi tampak berlari sambil melambaikan tanganyya ke arah mereka.

"Huah, kucari-cari, ternyata nee-chan ada disini", kata Hanabi. Nafasnya tersengal. "Ada apa kau mencariku, Hanabi?", tanya Hinata.

"Tou-san menyuruh nee-chan pulang untuk makan siang", jawab Hanabi. Tiba-tiba matanya tertuju pada Naruto.

"Naruto nii-chan!", seru Hanabi kaget.

"Eh? Kau siapa?", tanya Naruto. Ia bingung melihat Hanabi muncul dan meneriakinya.

"hanabi, perkenalkan dulu dirimu", tegur Hinata.

"Ah, iya. Perkenalkan. Aku Hyuga Hanabi, adik Hinata nee-chan", Hanabi memperkenalkan diri.

"Oh, adik Hinata ya? Hmmm…pantas saja kalian mirip", ucap Naruto.

"Kenapa nee-chan bisa bersama Naruto nii-chan?", tanya Hanabi.

"Tadi kami bertemu di taman kebetulan aku sedang butuh bantuan. Jadi aku minta bantuan nee-chanmu", jawab Naruto.

"Hm. Begitu ya…", Hanabi melirik Hinata dengan senyuman jahilnya. Hinata memalingkan wajahnya untuk menghindari lirikan Hanabi.

"Pasti nee-chan senang sekali bisa bertemu Naruto nii-chan", goda Hanabi.

"Ha…Hanabi…", ucap Hinata gugup.

Hanabi menghiraukan Hinata. Ia malah menatap Naruto lagi.

"Apa nii-chan tahu? Nee-chan selalu memikirkanmu di rumah", kata Hanabi.

"Ne, benarkah itu?", ucap Naruto. Sepertinya ia mulai tertarik.

"Tentu saja. Dan apa nii-chan juga tahu kalau sebenarnya nee-chan itu menyu…"

Tiba-tiba mulut Hanabi dibekap oleh Hinata.

"Su-sudah dulu ya, Naruto-kun. Tou-san pasti sudah menunggu kami. Jaa"

Hinata menyeret Hanabi pergi dari hadapan Naruto, sebelum ia membeberkan rahasianya.

"HINATA! JANGAN LUPA BESOK YA!", teriak Naruto pada Hinata yang semakin menjauh.

"HA'I", balas Hinata. Ia masih menyeret Hanabi.

"Hinata sering memikirkanku? Kenapa ya?", Naruto mengedikkan bahunya. Ia membereskan kertas-kertas yang berserakan, lalu berjalan pulang ke apartemennya.

.

.

.

"Kau ini apa-apaan sih, Hanabi?", tanya Hinata kesal pada Hanabi.

Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju Manison Hyuga.

"Kenapa, nee-chan? Aku kan Cuma mau mengatakan yang sebenarnya", jawab Hanabi.

"Iya. Tapi tidak seperti itu juga", ucap Hinata.

"Lalu, sampai kapan nee-chan akan memendam perasaan nee-chan?", pertanyaan Hanabi membuat Hinata terperangah.

"E…eto…"

"Kalau nee-chan tidak mengatakannya, bagaimana Naruto-nii tahu perasaan nee-chan?", omel Hanabi.

Hinata menundukkan kepalanya.

"Go…gomen. Hanya saja…aku belum siap"

Sebenarnya Hinata pernah menyatakan cintanya pada Naruto. Hanya saja sampai saat ini Naruto belum menjawabnya. Atau mungkin dia lupa. Hanabi memutar bola matanya bosan.

"Oh ya, ngomong-ngomong, besok nee-chan mau kemana dengan Naruto nii-chan?", tanya Hanabi.

"Ah, itu. A-Aku hanya membantu Naruto-kun mempelajari dokumennya saja", jawab Hinata. Wajahnya memerah, mengingat bagaimana Naruto membujuknya untuk mau membantunya.

"Benarkah? Jadi itukah yang kalian lakukan di taman tadi?", tanya Hanabi antusias. Hinata mengangguk.

"Dimana besok kalian bertemu? Apa di taman lagi?"

"Di rumah Naruto-kun"

Hanabi terkejut mendengar jawaban kakaknya.

"Nee-chan! Nee-chan tidak akan melakukan itu kan?"

"Me-melakukan apa?"

"Melakukan itu ! Masa nee-chan tak tahu?"

Hinata menggeleng. Hanabi menepuk kepalanya.

"Apa nee-chan se-baka ini?", batinnya.

"Memangnya melakukan apa sih?", Hinata mulai penasaran.

"Melakukan…y…yah…seperti di malam pertama", Hanabi menggaruk kepalanya. Hinata kini mengerti maksud pembicaraan adiknya.

"Ha-Hanabi! Kau ini bicara apa? Tentu saja itu tidak mungkin!", protes Hinata.

"Kenapa kau baru sadar sekarang, nee-chan? Kau ini terlalu polos", gumam Hanabi sweatdrop.

"Aku tidak akan melakukannya. Kau tenang saja. Lagipula Naruto-kun bukan orang yang seperti itu", Hinata berusaha meyakinkan Hanabi.

"Hmm, sepertinya nee-chan benar. Aku juga merasa Naruto-nii bukan orang seperti itu", Hanbi berpikir.

"Baiklah. Aku percaya nee-chan", kata Hanabi.

Akhirnya mereka samapai di depan Manison.

"Nee-chan. Aku hanya mau bilang, cepat nyatakan perasaanmu pada Naruto-nii. Kalau tidak, kau akan menyesal nanti. Gunakan kesempatan yang nee-chan miliki. Karena kesempatan tak datang dua kali!"

Setelah berkata seperti itu, Hanabi melangkah masuk, meninggalkan Hinata yang terdiam.

"Kurasa Hanabi benar", batin Hinata.

"Baiklah. Aku akan mencobanya. Semoga aku bisa", Hinata menyemangati dirinya sendiri. Ia lalu melangkah masuk ke dalam Manison.

.

.

.

TBC

Holla, minna-san! I'm back!

Kali ini saya update kembali chap 3-nya.

Terima kasih untuk reader sekalian untuk reviewnya kemarin.

Dan maaf karena updatenya lama karena bentrokan dengan hari lebaran.

Sebelumnya selamat Idul Fitri 1435 H, mohon maaf lahir dan batin #telatbiarin

Sesuai janji saya, di chap ini saya buat full NaruHina.

Bagaimana? Jelekkah? Gajekah? Alurnya maksakah? Atau yang lainnya?

Silahkan corat-coret di kolom review.

Segitu saja sambutan dari saya. Kita bertemu lagi di chap selanjutnya.

Akhir kata, ARIGATOU GOZAIMASU.