Naruto Afterwar

Author : Hamano Akira

Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto

Pairing :NaruHina, SasuSaku

Warning : Typo, gaje, aneh, dll

Chapter 4

Pagi itu Hinata telah bersiap untuk pergi. Ia telah berjanji pada Naruto untuk membantunya dalam mempelajari dokumen kenegaraannya. Perasannya campur aduk antara senang dan gugup. Senang karena

bisa membantu Naruto sekaligus gugup karena harus terus bersama orang yang dicintainya.

"Nee-chan mau berangkat ya?", tanya Hanabi saat melihat Hinata tengah memakai sepatu ninjanya.

"Ah, iya", jawab Hinata. Ia agak kaget melihat Hanabi telah berada disampingnya.

"Souka…Kalau begitu, selamat berjuang ya"

"Berjuang? Berjuang untuk apa?", Hinata bingung mendengar perkataan Hanabi.

"Berjuang untuk mendapatkan cinta Naruto nii-chan!", ucap Hanabi sambil tersenyum jahil pada Hinata.

Semburat merah tipis muncul di kedua pipi Hinata tanpa seizin pemiliknya.

"Ingatlah ucapanku kemarin nee-chan! Kesempatan tidak datang dua kali. Gunakanlah kesempatan yang kau miliki dengan baik", Hanabi mengingatkan.

"A-Aku ini hanya membantu Naruto-kun saja, b-bukan mau kencan!", kata Hinata terbata.

"Tapi kalau itu kencan, nee-chan juga mau kan?", Hanabi mengedipkan sebelah matanya.

Wajah Hinata memanas. Ia tak menjawab pertanyaan Hanabi.

"Uh, dasar Hanabi. ", batin Hinata sambil menunduk.

Hanabi tertawa melihat sikap kakaknya.

"Sudahlah. Cepatlah berangkat, nee-chan. Naruto nii-chan pasti sudah menunggu"

"Ah, benar juga. Baiklah, aku berangkat dulu ya. Jaa", Hinata segera bangkit berdiri dan berjalan keluar dari Manison Hyuga.

"Dasar nee-chan. Sifatnya tidak berubah sejak dulu", Hanabi menatap kepergian kakak perempuannya itu sambil geleng-geleng kepala.

"Hanabi…", tiba-tiba seseorang memanggil Hanabi. Ia menoleh ke asal suara.

"Eh, tou-san?", Hanabi melihat Hiashi berdiri tak jauh di belakangnya.

"Apa Hinata benar-benar jadi ke rumah Naruto?", tanya Hiashi to the point.

Hanabi menyadari sikap ayahnya yang ganjil.

"Tou-san menguping ya?", selidik Hanabi.

"Hanya kebetulan", jawab Hiashi singkat.

"Nee-chan memang ingin ke rumah Naruto nii-chan. Memangnya kenapa? Bukankah kemarin tou-san sudah mengijinkan nee-chan untuk membantu Naruto nii-chan?", Hanabi balik bertanya.

Hiashi tak menjawab. Tapi dahinya berkerut. Hanabi menangkap ekspresi ayahnya yang agak lain itu. Hiashi adalah orang yang selalu memasang wajah datar. Jarang sekali ia berekspresi. Karena itulah setiap

perubahan ekspresi Hiashi pasti langsung ketahuan. Dan Hanabi bisa melihat itu di wajah ayahnya.

"Apa tou-san curiga pada nee-chan?", ucap Hanabi.

Hiashi melipat tangan sambil memejamkan matanya.

"Tidak. Hanya saja, sebagai seorang ayah, tentu aku harus waspada melihat anak gadisku pergi ke rumah seorang laki-laki sendirian, walaupun aku tahu dia pergi ke rumah Naruto", katanya.

"Itu sama saja, tou-san", batin Hanabi sweatdrop mendengar ucapan tou-sannya.

"Tenang saja, tou-san. Nee-chan hanya membantu Naruto nii-chan dengan dokumen-dokumennya. Mereka tidak akan macam-macam", Hanabi meyakinkan Hiashi.

"Semoga saja kau benar", ucap Hiashi sambil lalu. Tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti.

"Karena kalau dia berani macam-macam pada putriku, aku tak akan mengampuninya", Hiashi lalu beranjak pergi.

Hanabi menatap ayahnya tercengang. Tidak biasanya Hiashi bersikap seperti itu. Tapi mau tak mau Hanabi tersenyum. Itu artinya Hiashi sudah lebih memperhatikan kakaknya ketimbang dulu.

"Haah. Dasar. Semuanya orang aneh!", ucap Hanabi terkekeh.

.

.

.

Hinata baru saja sampai di kediaman Naruto. Kini ia berdiri di depan pintu apartemennya. Ia gugup setengah mati. Bahkan mengetuk pintu pun ia tak berani.

"Kami-sama, kenapa hal ini selalu terjadi padaku?", keluh Hinata dalam hati.

"Tidak! Aku tidak boleh begini! Ingat apa kata tou-san!", Hinata menyemangati dirinya.

Setelah mengumpulkan keberaniannya, Hinata mengetuk pintu.

"Tok…tok…tok"

Hening. Tak terdengar suara apapun dari dalam. Hinata mengetuk sekali lagi. Barulah terdengar suara derap kaki dari dalam.

"CKLEK", pintu pun terbuka.

"Ah, ternyata kau, Hinata", ucap pria berambut jabrik kuning a.k.a Naruto sambil tersenyum.

"Um", Hinata mengangguk. Rona merah tipis kembali muncul diwajahnya ketika melihat senyum Naruto.

"Ayo, masuklah", Naruto mempersilahkan Hinata masuk.

Hinata pun melangkahkan kakinya melewati ambang pintu. Ia mengedarkan pandangannya. Apartemen Naruto terbilang sederhana. Hanya ada dapur dan kamar tidur saja didalamnya. Naruto berjalan masuk

ke kamarnya, lalu duduk bersila di depan sebuah meja berkaki rendah. Diatasnya terdapat setumpuk kertas yang pastinya adalah kertas yang akan mereka lahap selama beberapa jam ke depan.

"Kemarilah", Naruto menyuruh Hinata untuk masuk.

Hinata menurut. Ia lalu duduk di seberang meja. Kini mereka duduk berhadapan. Sebenarnya Hinata merasa berdebar. Tetapi ia juga senang karena bisa membantu Naruto. Ia berusaha bersikap senormal

mungkin.

"Syukurlah kau bisa datang", kata Naruto membuka pembicaraan.

Hinata mengangkat alisnya. Ia merasa janggal dengan ucapan Naruto.

"A-Apa Naruto-kun mengira aku tak jadi datang?", tanya Hinata.

"Ti-Tidak…bukan begitu", jawab Naruto salah tingkah.

"Hanya saja, aku tak menyangka tou-san mu akan memberi izin padamu untuk datang kemari"

"Ah, memang kenapa, Naruto-kun?"

Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.

"Yah, sebenarnya tak wajar seorang gadis pergi ke rumah seorang laki-laki sendirian. Bisa-bisa orang lain berpikir yang tidak-tidak. Dan aku tak ingin kau mendapat celaan gara-gara itu"

Hinata mangut-mangut tanda. Ia mengerti kekhawatiran Naruto pada dirinya. Dalam hati Hinata merasa senang karena Naruto memperhatikannya.

"Tak apa, Naruto-kun. Tou-san sudah mengijinkanku kemari. Aku berhasil meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Dan jika ada orang berpikiran yang tidak-tidak, aku bisa menjelaskan pada mereka

bahwa kita tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Lagipula, aku yakin Naruto-kun tak akan berbuat macam-macam. Bukankah begitu?"

Hinata tersenyum manis pada Naruto. Hal itu membuat pemuda pirang itu tertegun. Hatinya berdesir kala melihat senyum Hinata. Ia baru sadar, kalau Hinata terlihat cantik saat tersenyum seperti itu.

"Te-Tentu saja tidak. Aku tak akan berbuat macam-macam padamu. Dan kalau ada orang lain yang berbuat seperti itu, akan kubuat dia menyesal telah lahir ke dunia ini", jawab Naruto sambil menepuk

dadanya.

Hinata tersenyum. Naruto selalu bersemangat seperti saat ini. Hal itulah yang disukai Hinata sejak dulu.

"Sebaiknya kita mulai saja, Naruto-kun", ajak Hinata.

"Yosh", Naruto memberi hormat bendera pada Hinata.

.

.

.

Sakura dan Sasuke sedang dalam perjalanan pulang menuju Konoha. Sore nanti mereka akan sampai. Tak ada yang bicara sejak mereka berangkat hari itu. Mereka sama-sama canggung untuk memulai

pembicaraan.

Sakura tengah asyik dengan pikirannnya sendiri. Ia masih memikirkan kejadian malam sebelum mereka pulang. Muncul semburat merah di pipi Sakura ketika mengingatnya. Ditatapnya Sasuke yang berada

didepannya. Ia tersenyum.

"Sasuke-kun sudah mulai tidak sedingin dulu lagi Yah, walau masih pendiam", batinnya.

"Sakura…", tiba-tiba Sasuke memanggil Sakura.

"Ah…ya. Ada apa, Sasuke-kun?", ucap Sakura.

"Bagaimana menurutmu Naruto yang sekarang?", tanya Sasuke.

"Na…Naruto? Memangnya kenapa?", Sakura heran Sasuke bertanya seperti itu.

"Jawab saja", sahut Sasuke.

Sakura berpikir sejenak.

"Menurutku, dia masih anak yang berisik dan konyol seperti dulu", ucap Sakura.

"Tapi, dia juga telah berubah menjadi shinobi yang hebat. Dia selalu berusaha melakukan yang terbaik. Dia juga selalu memikul masalah yang berat. Bahkan masalah orang lain"

"Naruto…ini…permintaan seumur hidupku…tolong…bawa Sasuke-kun kembali"

"Ya. Aku pasti akan membawa Sasuke kembali. Itulah janji seumur hidupku!"

Memori tentang janji itu muncul di benak Sakura. Ia tersenyum kecil.

"Ia tak pernah menarik kembali kata-katanya. Ia selalu menepati ucapannya, walau dia sendiri harus babak belur. Karena itulah dia bisa mendapat kepercayaan dari semua orang"

Sasuke melirik pada Sakura. Ia hanya diam mendengarkan.

"Sekarang, Naruto telah diakui semua orang sekarang. Dan juga, dia akan jadi hokage. Jadi, kalau kau tanya pendapatku, dia adalah orang yang mengagumkan!"

Dahi Sasuke sedikit berkerut mendengar ucapan Sakura.

"Tapi, kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu, Sasuke-kun?"

"Aku hanya ingin tahu saja!"

Sakura mengangkat alisnya.

"Tapi, dia jadi sering bertingkah aneh", batin Sakura bingung.

Tak Sakura sadari, ekspresi wajah Sasuke yang berubah kesal. Ia tampak tak suka mendengar jawaban Sakura.

.

.

.

"Uuaahh, badanku terasa kaku"

Naruto merentangkan tangannya untuk menghilangkan kaku di tubuhnya. Hinata tersenyum geli melihatnya.

"Naruto-kun terlihat seperti orang tua", ucap Hinata.

"Yah, aku merasa bertambah tua sejak berhadapan dengan kertas-kertas itu", sahut Naruto.

Mereka tengah beristirahat setelah sibuk belajar selama beberapa jam yang lalu. Naruto memandang keluar jendela kamarnya. Ia tampak merenung.

"Ne, Hinata. Bolehkah aku bertanya sesuatu?", kata Naruto tiba-tiba.

"B-Boleh saja. Memang Naruto-kun mau tanya apa?", ucap Hinata.

"Menurutmu, apa aku pantas menjadi seorang Hokage?"

Hinata heran mendengarnya. Naruto menatap Hinata. Sorot matanya menunjukkan keseriusan.

"Te-Tentu saja pantas. Sangat pantas malah. Memang kenapa? Apa ada masalah?", tanya Hinata.

"Jujur saja, sebenarnya aku merasa kurang percaya diri untuk menjadi Hokage", jawab Naruto.

"Ke-Kenapa begitu, Naruto-kun? Bukankah menjadi Hokage adalah impianmu sejak kecil?"

Naruto menghela nafas.

"Memang, menjadi Hokage adalah impianku. Bahkan sampai sekarang pun aku masih mengimpikannya. Tapi, aku sadar bahwa tanggung jawabnya sangat besar. Setiap langkah yang kuambil akan

menentukan masa depan Konoha. Aku takut, jangan-jangan aku tidak bisa memerintah dengan baik"

Hinata sampai terperangah mendengarnya. Untuk ukuran seorang Uzumaki Naruto, mampu berpikir sampai sejauh itu adalah hal yang sangat luar biasa. Jarang sekali pemuda berambut kuning jabrik itu

memikirkan hal-hal seperti itu. Entah angin apa yang membuatnya berubah.

Naruto meletakkan kepalanya di atas meja. Ia jadi terlihat tak bersemangat seperti tadi. Hinata tak tega melihatnya. Ia memutar otaknya, berusaha mencari cara untuk membuat Naruto percaya diri kembali.

"Naruto-kun…", panggil Hinata setelah berpikir sejenak.

"Hmm…", gumam Naruto malas.

"Apa kau ingat saat kita mengikuti ujian chunin dulu?", tanya Hinata.

Naruto mengangguk singkat. Ia masih bertahan dalam posisinya.

"Dan apa kau ingat, saat pertarunganku dengan Neji nii-san?"

Naruto tertegun. Seketika itu juga ia mengangkat kepalanya.

"Ada apa, Hinata? Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?"

Hinata menggelengkan kepalanya.

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa keadaan Naruto-kun saat ini sama sepertiku saat itu", kata Hinata.

"Sama? Apanya yang sama?", tanya Naruto bingung.

"Waktu itu aku juga merasa tidak percaya diri karena Neji nii-san menyudutkanku dengan perkataannya. Aku jadi takut untuk melawannya. Aku ingin menyangkal ucapannya, tapi tak bisa, karena semua yang

dikatakannya benar", ujar Hinata.

"Tapi, Naruto-kun berteriak dengan keras dan memberi semangat padaku. Itu membuatku percaya diri dan berani melawan Neji nii-san. Walaupun pada akhirnya aku kalah"

Naruto serasa dibawa mundur tiga tahun lalu, saat Hinata bertemu Neji dalam ujian chunin. Memori-memori saat itu bermunculan dalam benaknya. Diingatnya Hinata yang jatuh bangun menghadapi Neji yang

kala itu menaruh dendam padanya. Bahkan sampai sekarat akibat luka yang diterimanya.

"Naruto-kun, yang ingin kukatakan padamu adalah kau tak perlu merasa rendah diri jika tak bisa melakukan sesuatu dengan benar. Jangan lupa, kau punya teman-teman yang berada disekitarmu. Mereka

pasti dengan senang hati akan membantu dan memberimu semangat. Begitu pula denganku"

Naruto merenungi kalimat Hinata. Ia merasa ucapan Hinata benar. Tak ada yang perlu ditakutinya. Kenapa ia harus merasa takut, jika ada teman-temannya yang selalu ada dibelakangnya?

"Kau benar", ucap Naruto sambil tersenyum.

"Seharusnya aku tak perlu merasa cemas mengenai masalah seperti itu. Aku ini benar-benar bodoh"

Naruto menatap hinata.

"Arigatou, Hinata. Kau membuatku kembali percaya diri. Entah apa yang terjadi jika kau tak ada disini", ucap Naruto nyengir.

Hinata ikut senang melihat Naruto kembali seperti biasa. Usahanya berbuah manis.

"Douita ne, Naruto-kun", jawab Hinata.

Naruto tertawa menertawakan kebodohannya sendiri. Mau tak mau Hinata juga ikut tertawa melihatnya. Jadilah mereka berdua tertawa bersama.

"Jadi, apa Naruto-kun batal untuk jadi Hokage?", tanya Hinata setelah tawanya reda.

"Apa kau bercanda? Tentu saja tidak. Menjadi Hokage adalah impianku. Dan aku akan mewujudkannya. Aku tak akan menarik kembali kata-kataku, karena itu…"

Ucapan Naruto terhenti. Hinata menjadi heran. Naruto tampak berpikir sejenak. Ia lalu tersenyum.

"Karena itu…adalah jalan ninja kita!"

Hinata membeku ditempat. Matanya membulat. Ia tak percaya Naruto mengatakan itu. Naruto sendiri malah tersenyum lima jari padanya.

"Na…Naruto-kun…"

Wajah Hinata memerah. Kepalanya sudah tertunduk ke bawah. Sifat pemalunya muncul lagi. Ternyata masih sulit baginya untuk bersikap biasa di depan Naruto. Naruto tersenyum geli melihat Hinata. Tiba-tiba

saja ia merasa geli melihat Hinata bersikap seperti itu.

"Ne, Hinata…kau tahu?", ucap Naruto.

"A-Apa?", Hinata mengangkat kepalanya. Sebisa mungkin ia berusaha menyingkirkan kegugupannya.

"Sepertinya aku mulai menyukai sifat pemalumu itu"

Satu detik…

.

.

Dua detik…

.

.

Tiga detik…

.

.

"KYAAAAAAA….BRUK!", Hinata jatuh pingsan dengan wajahnya yang semerah tomat.

"UWAAA, HINATAAAA!", teriak Naruto kaget.

.

.

.

Sakura tengah menatap Sasuke yang menyantap bekalnya.

"Kenapa lagi dengan Sasuke-kun? Tampaknya sedang kesal"

Kini mereka sedang berhenti untuk makan siang setelah menempuh setengah hari perjalanan. Sambil makan, Sakura iseng memperhatikan Sasuke. Dan saat memperhatikan itulah ia melihat Sasuke yang

kesal. Walaupun tidak terlalu kentara, tapi Sakura bisa melihat dari ekspresinya. Seminggu bersama Sasuke membuat Sakura hafal bagaimana Sang Uchiha terakhir itu selalu bersikap.

Saat Sakura sedang asyik memperhatikan, tanpa disangka Sasuke menoleh ke arahnya. Tentu saja Sakura kaget.

"Ada apa?", tanya Sasuke datar.

Sakura gelagapan, tak tahu harus menjawab apa.

"Sejak tadi kau memperhatikanku. Apa kau sedang berpikir yang macam-macam tentangku?"

"Ti...tidak...aku tak sedang berpikir apapun", kilah Sakura.

Sasuke menatap mata Sakura dalam-dalam, seakan hendak menelisik kebenaran di dalamnya. Sakura cepat-cepat memalingkan wajahnya. Ia takut jika Sasuke berhasil mengetahui kebohongan yang

dibuatnya. Selain itu ia juga tak tahan jika ditatap Sasuke seperti itu. Tapi bukan Uchiha Sasuke namanya jika mudah dikelabui. Melihat gelagat Sakura saja, ia tahu gadis itu berbohong. Tapi ia tak berniat

bertanya lebih lanjut.

"Hn. Terserah kau saja", ucap Sasuke.

Keduanya terdiam selama beberapa saat. Rasa canggung sama-sama menghampiri mereka. Sampai Sakura membuka suara.

"Kalau kau bagaimana, Sasuke-kun?"

"Apa maksudmu?", Sasuke menoleh.

"E...eto...kau juga sedang memikirkan sesuatu bukan?", jelas Sakura.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya.

"Kenapa kau berpikir seperti itu?"

"A-Aku hanya menduga saja. Karena sejak tadi kau terlihat kesal", jawab Sakura.

Mata Sasuke sedikit melebar mendengar ucapan Sakura.

"Kalau kau punya masalah, kau bisa cerita padaku. Aku akan membantumu sebisaku", kata Sakura lagi.

Sasuke tak menanggapi ucapan Sakura.

"Sasuke-kun?", panggil Sakura.

"Ini bukan apa-apa. Kau tak perlu khawatir", ucap Sang Uchiha tiba-tiba.

Sakura tertegun sejenak.

"Sungguh?", tanya Sakura memastikan.

"Hn", Sasuke mengangguk singkat sambil memalingkan wajahnya.

Sakura sedikit kecewa dengan pernyataan Sasuke. Ia hanya bisa menerima perkataan Sasuke itu. Walaupun ia yakin Sasuke sedang punya masalah, karena ia tahu Sasuke bukan orang yang suka bicara banyak.

Sebenarnya Sasuke tahu kalau Sakura kecewa padanya. Tapi ia memang tak ingin bercerita tentang masalahnya. Akan jadi masalah baru jika Sakura tahu apa yang di pikirkannya.

Keduanya melanjutkannya makan mereka yang sempat Sasuke selesai, mereka kembali bersiap melanjutkan perjalanan.

"Ayo, Sakura", ujar Sasuke.

Sakura mengangguk. Dan dengan satu gerakan mereka menghilang.

.

.

.

"Kenapa malah jadi begini?", pikir Naruto.

Naruto tengah duduk di samping tempat tidurnya menunggu Hinata sadar. Ia masih pingsan gara-gara insiden kecil tadi. Wajahnya terlihat sangat manis. Semua orang pasti akan tersenyum ketika melihat

Hinata saat itu. Kecuali Naruto. Karena Hinata yang tiba-tiba pingsan, Naruto jadi panik sendiri dan tak sempat memperhatikan wajah Hinata. Tanpa pikir panjang ia lalu membopong Hinata dan

membaringkannya di tempat tidur.

"Padahal tadi aku bermaksud memujinya. Tak kusangka dia pingsan" Diperhatikannya Hinata bawah ke atas. Begitu melihat wajah Hinata, Naruto tersentak. Mendadak semburat merah tipis muncul di pipinya.

"Ka…Kawai…", pikir Naruto.

"Tidak, tidak! Kenapa aku malah berpikir seperti itu? Hinata sedang pingsan!", Naruto menggelengkan kepalanya.

Dipandanginya lagi wajah Hinata. Kulitnya yang putih nan mulus, rambut indigo panjangnya, mata lavendernya yang tengah tertutup, dan juga bibir mungil berwarna merah muda miliknya. Siapa pun yang

memandangnya saat itu pasti akan ternganga karena kecantikannya. Minus Naruto, karena...

"Aku baru tahu kalau Hinata ternyata sangat cantik. Kenapa aku baru sadar sekarang ya?", ucap Naruto.

"Karena kau bodoh", sebuah suara masuk ke dalam pikirannya.

Mindscape Mode On

Naruto kin berdiri di depan seekor rubah orange berekor sembilan yang telah menginterupsi pikirannya, Kurama.

"KENAPA KAU BICARA SEPERTI ITU?", teriak Naruto kesal.

"Aku hanya bicara apa adanya", jawab Kurama enteng.

"APA MAKSUD UCAPANMU ITU?", Naruto menuding Kurama.

"Seperti kataku tadi, kau ini benar-benar bodoh, sampai baru menyadari kecantikan gadis itu", ucap Kurama.

"Eh?"

Naruto yang ingin berteriak, seketika itu tertegun. Kurama menyeringai penuh kemenangan padanya.

"Sekarang kau mau protes apa, huh?", tantangnya pada Naruto.

"Uh, sial", batin Naruto.

"Lihat, kau bahkan tak bisa membalasku", ucap Kurama lagi.

"Bu...Bukan begitu! Hanya saja...", ucapan Naruto menggantung.

"Hanya saja, aku tak memperhatikannya selama ini"

Kurama menghela nafasnya mendengar jawaban Naruto.

"Bagaimana kau mau memperhatikannya? Yang kau perhatikan selama ini hanya Sasuke, Sasuke, dan Sasuke saja. Aku mulai berpikir jangam-jangan kau ini menyukainya", ujar Kurama.

"GUBRAK", Naruto terjungkal dengan tidak elitnya ke belakang.

"U...Ucapanmu itu...sungguh menjijikkan", ucap Naruto dengan wajahnya yang seperti menahan muntah.

Kurama terkekeh melihat reaksi Naruto.

"Salahkan dirimu karena tak pernah memperhatikan gadis manapun..."

"Siapa bilang? Aku selalu memperhatikan Sakura-Chan!", protes Naruto sambil duduk.

"Ya..dan hanya dia saja yang kau perhatikan", ujar Kurama.

"Tentu saja dia kuperhatikan! Sakura-chan adalah teman satu timku!"

"Apa hanya itu saja alasanmu?"

"Apa lagi yang kau maksud?"

"Bukankah kau menyukainya?"

Naruto terdiam mendengar ucapan Kurama. Wajahnya yang tadinya kesal berubah menjadi tercengang. Perlahan kepalanya menunduk.

"Ternyata dia masih menyukainya", batin Kurama.

Kurama menjadi sedikit merasa bersalah. Bukan maksudnya untuk mengejek Naruto seperti itu.

"Hei, Naruto…"

"Kau salah, Kurama!"

Ucapan Kurama terpotong oleh suara Naruto yang sekarang menatapnya dengan cengiran lebar.

"Aku sudah tak memikirkan Sakura-chan lagi", ucap pria jabrik kuning itu.

"Hm?", Kurama menatap Naruto heran.

"Aku memang masih menyukai Sakura-chan. Tapi, aku tahu aku tak akan pernah bisa mendapatkannya. Hati Sakura-chan hanya untuk Sasuke. Dia selama ini sudah menunggu Sasuke kembali ke Konoha. Dan

selama itu jugalah ia harus mengalami banyak penderitaan. Bahkan ia rela untuk membunuh Sasuke, supaya ia tak jatuh lebih dalam lagi ke dalam kegelapan. Itu semua karena ia sangat mencintainya!"

Naruto merentangkan tangannya lebar-lebar.

"Karena itulah, aku tak akan mengharapkan cinta Sakura-chan lagi. Biarlah dia bersama Sasuke, jika itu membuatnya bahagia. Sakura-chan sudah berusaha tegar selama Sasuke tak ada di Konoha. Dan

Sakura-chan sudah mendapat balasannya sekarang. Aku juga tak boleh kalah! Aku akan menerimanya dengan lapang dada. Dan kuharap aku bisa menadapat balasannya suatu saat nanti!"

Kurama tercengang. Ia mengira Naruto akan membentaknya karena sudah mengungkit masalah gadis yang disukainya itu. Ternyata perkiraannya jauh meleset.

"Apa kau ini benar-benar Naruto yang kukenal?", ujar Kurama.

"Apa maksudmu?", tanya Naruto bingung.

"Aku tak tahu jika orang yang tak tahu apa-apa soal wanita sepertimu bisa berkata seperti itu"

"APA KATAMU? Padahal aku baru saja mengucapkan kata-kata yang keren!", seru Naruto kesal. Kurama tertawa keras. Ditertawakan Kurama seperti itu, Naruto membuang mukanya tak peduli.

"Tapi, aku senang kau berpikir seperti itu", kata Kurama kemudian.

"Ternyata…kau sudah tumbuh dewasa, eh?"

Kurama menyeringai padanya. Naruto terkejut awalnya. Tapi dibalasnya dengan cengiran andalannya. Bagaimanapun juga, mereka berdua adalah partner yang mengerti satu sama lain. Sudah tak mungkin

rasanya untuk memisahkan mereka berdua.

"Baiklah…sebagai permintaan maafku, akan kuceritakan sesuatu padamu. Dan aku yakin ini adalah hal yang belum kau ketahui"

"Hal yang belum kuketahui?", tanya Naruto.

"Ya. Ini juga mengenai gadis itu", jawab Kurama.

"Gadis itu? Maksudmu Hinata?"

Kurama mengangguk singkat. Naruto jadi penasaran. Hal apa yang akan diceritakan oleh Kurama padanya?

"Baiklah, akan kudengarkan", kata Naruto.

Kurama menyeringai. Ia sudah menduga bahwa Naruto akan tertarik dengan ceritanya.

"Yosh. Kalau begitu duduk yang manis dan dengarkan baik-baik", ujar Kurama.

Naruto mengangguk sebagai jawaban.

"Tentunya kau sudah mengenal gadis bernama Hinata itu", Kurama memulai ceritanya.

"TENTU SAJA AKU MENGENALNYA! DIA ITU BUKAN HANTU!", teriak Naruto.

"Hanya bercanda", ucap Kurama sambil terkekeh.

"Apa kau benar-benar ingin bercerita padaku?", pikir Naruto sweatdrop.

"Seperti kataku, kau tentu sudah mengenalnya sejak kecil. Tapi, apa kau tahu bahwa selama ini dia selalu memperhatikanmu?", tanya Kurama.

"Eh, memperhatikanku?", ucap Naruto polos.

Satu detik...

.

.

Dua detik...

.

.

Tiga detik...

.

.

"EH, HINATA MEMPERHATIKANKU?", teriak Naruto kaget.

"Sudah kuduga kau tak tahu", Kurama mangut-mangut sendiri.

"Be...Benarkah itu, Kurama?", tanya Naruto.

"Apa aku terlihat seperti pembohong di matamu?", tanya balik Kurama.

"Ka...Kalau begitu, kenapa aku tak pernah melihatnya?"

"Itu karena dia mengamatimu secara diam-diam"

"Diam-diam? Kenapa begitu?

"Karena dia malu"

"Kenapa harus malu? Apa dia sedang tak pakai baju saat memperhatikanku?"

"Karena dia itu gadis pemalu! Apa aku juga harus menjelaskannya padamu? Dasar otak mesum!"

"Ah, benar juga. Aku lupa!"

Pertanyaan konyol kelewat bodoh yang dilontarkan Naruto cukup membuat rubah berwarna orange itu naik pitam. Sedangkan Naruto malah cengar-cengir sambil menggaruk pipinya. Kurama menghembuskan

nafas panjang. Sepertinya akan makan waktu lama untuk menyelesaikan ceritanya.

"Tapi, apa Hinata sepemalu itu, sampai harus sembunyi-sembunyi saat memperhatikanku?", ucap Naruto tiba-tiba.

"Tidak. Dia hanya akan malu seperti itu jika berhadapan denganmu saja", sahut Kurama.

"Hanya padaku?", dahi Naruto berkerut.

"Kau tak percaya? Baiklah! Mulai dari sekarang kau hanya perlu mendengarkan dan jangan bertanya apapun sampai ceritanya selesai! ", ucap Kurama.

"Hei! Aku tak bilang aku tidak mempercayaimu!", protes Naruto.

"Tapi kau ragu, kan?", tanya Kurama.

Naruto terdiam sesaat, lalu mengangguk kecil.

"Karena itulah akan kubuktikan padamu bahwa ucapanku benar! Kau paham?"

Naruto mengangguk lagi. Rasa penasarannya sudah sampai di ubun-ubun.

"Bagus! Aku ingin kau mengingat-ingat kejadian-kejadian yang akan kukatakan padamu!"

"Baiklah! Baiklah! Cepat katakan!", Naruto sudah tak sabar lagi.

"Sudah mulai penasaran, hm?", batin Kurama.

"Sesuai keinginanmu. Yang pertama, gadis itu selalu bicara gugup denganmu. Kau ingat?"

Naruto menggali memorinya, berusaha mengingat-ingat.

"Ya, ya. Aku ingat!", ucap Naruto kemudian.

"Kedua, wajahnya akan memerah jika kautatap", lanjut Kurama.

"Hmmm...kalau diingat-ingat, sepertinya itu benar"

"Dan ketiga, dia akan jatuh pingsan dengan tiba-tiba"

"Ka..Kalau itu..."

Naruto jadi teringat Hinata yang pingsan di kamarnya saat ini.

"Sepertinya sudah tak perlu dijelaskan lagi...", ucap Naruto kikuk.

"Sekarang aku tanya padamu", ujar Kurama. Ia menatap Naruto.

"Apa ada orang lain yang bisa membuatnya seperti itu selain dirimu?"

Naruto berpikir cukup lama. Berusaha mengingat siapa saja yang pernah membuat Hinata bicara gugup, atau membuat wajah Hinata memerah, atau membuatnya pingsan. Dan hasilnya...

"KENAPA AKU TAK MENEMUKAN SATU ORANGPUN?", teriak Naruto.

"Tak ada kan?", seringai Kurama mengembang.

"Itu membuktikan bahwa ucapanku benar!"

Naruto berusaha mencerna semua ucapan Kurama. Perhatian Hinata padanya, rasa malu-malunya, tingkah anehnya, apa maksud semuanya? Itulah yang ada dipikiran Naruto

"Tapi, kenapa hanya aku? Kenapa Hinata bertingkah seperti itu ketika didekatku?", tanya Naruto bingung.

"Kau masih belum sadar juga?"

Ingin sekali Kurama menerkam pria bodoh berambut kuning dihadapannya itu sekarang juga. Apa penjelasannya tadi tidak cukup untuk membuatnya sadar?

"Tak kusangka akan sesulit ini", Kurama mengeluh.

"Hei, kenapa kau malah mengeluh? Kau belum menjawab pertanyaanku!", teriak Naruto.

"Haah. Aku sudah malas bercerita padamu!"

"APA? Apa-apaan ka..."

Belum selesai Naruto berteriak, Kurama mengacungkan kepalan tangannya.

"Akan kujelaskan padamu kenapa gadis itu selalu bertingkah aneh jika didepanmu! Cepat adu tinjumu denganku!"

Naruto paham maksud Kurama. Tanpa disuruh dua kali ia mengadu tinjunya dengan Kurama.

"Tutup matamu!", Perintah Kurama. Dan Naruto menurut.

"Apa yang kau lakukan disini? Cepat pergi! Dia bukan lawanmu..."

"Aku hanya akan melakukan apa yang kumau!"

"Apa maksudmu? Jangan membahayakan dirimu hanya untuk melawannya!"

"Aku disini karena keinginanku sendiri. Kali ini aku akan melindungimu, Naruto-kun!"

"I...Ini...", Naruto mengingat percakapan itu.

"Invasi Pain", sahut Kurama.

"Kenapa kau memberiku ingatan ini? Aku masih ingat!"

"Yang kau ingat pasti hanya bagian pertarungannya saja! Apa kau ingat apa yang diucapkan gadis itu?"

"E...Eto...aku hanya ingat kalau Hinata bicara sesuatu padaku. Tapi aku tak ingat apa yang dia bicarakan", jawab Naruto kikuk.

"Aku sudah menduganya! Itulah kenapa aku mengirim memori ini padamu! Karena jawaban dari pertanyaanmu ada di kejadian itu! Sudah, jangan protes lagi! Kau hanya mengganggu ingatanku.

Perhatikanlah! Setelah ini adalah bagian terpentingnya!"

Naruto segera fokus kembali.

"Aku selalu menangis dan menyerah sebelum mencoba... Aku sering melangkah ke jalan yang salah...Tetapi, Naruto-kun selalu menunjukkanku jalan yang benar...Aku berusaha mengejarmu...Aku berusaha bersaing denganmu...Aku selalu ingin berjalan disampingmu. Aku hanya ingin bersamamu...Kau telah mengubahku!...Senyumulah yang telah menyelamatkanku!...Karena itu aku tak takut mati untuk melindungimu."

Naruto tercengang. Ia baru tahu Hinata berkata seperti itu. Bukannya tak tahu, tapi tak bukan maksudnya juga untuk tak mendengarkan ucapan Hinata. Ia terlalu khawatir dengan apa yang akan terjadi d

engan gadis bersurai indigo itu. Karena itulah ia tak tahu apa yang diucapkan Hinata waktu itu. Dan ditambah dengan kejadian setelah itu, rasanya cukup wajar kalau dia lupa.

"Karena...aku mencintaimu, Naruto-kun"

"Apa?"

Manik saphirenya seketika membulat sempurna. Mulutnya ternganga. Terkejut? Sudah pasti. Mungkin malah terlalu terkejut. Bagai disambar petir, tubuhnya mendadak kaku. Pikirannya hanya terfokus pada

pernyataan Hinata tadi.

"Hi...Hinata...menyukaiku?", batinnya.

"Bukan menyukaimu...tapi mencintaimu!"

Suara Kurama menginterupsi pikirannya secara tiba-tiba. Awalnya Naruto kaget karena Kurama bisa tahu pikirannya. Tapi ia segera sadar, ia masih beradu tinju dengan rubah orange itu. Cepat-cepat ia

menarik tangannya.

"Jadi, apa masih ada lagi yang ingin kau tanyakan, Uzumaki Naruto?", tanya Kurama dengan nada mengejek, ditambah dengan seringainya.

Naruto tak menjawab. Ia masih terlalu terkejut dengan apa yang baru saja diketahuinya itu. Demi apapun, ia baru tahu, atau lebih tepatnya sadar, bahwa Hinata menyukainya.

"Jadi, inikah alasan Hinata selalu memperhatikanku? Bicara gugup didepanku? Wajahnya yang selalu memerah saat kutatap?", batin Naruto.

"Bagaimana? Kau suka ceritaku?", goda Kurama. Ia tahu Naruto masih terkejut.

"Ah...y-yah, begitulah", jawab Naruto sekenanya.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"E...to...Entahlah. Aku sendiri juga bingung"

"Apa kau tak berniat untuk menjawab perasaannya?"

"Menjawabnya? Maksudmu...menerima cintanya?"

"Bukan begitu. Kau tak harus menerimanya. Aku hanya ingin kau memberikan jawabanmu. Apa kau tak kasihan padanya? Dia sudah menunggu lama, dan kau seakan-akan menggantung perasaannya"

Kurama benar. Ia tak mungkin membiarkan Hinata menunggu-nunggu jawabannya. Setelah apa yang dia perbuat padanya, sungguh tak adil rasanya jika ia membiarkannya terus.

"Tapi, aku harus bilang apa?", ucap Naruto kebingungan.

"Kenapa kau tanya padaku? Aku juga tak tahu", sahut Kurama.

"Lalu aku harus bagaimana? Aku bahkan tak tahu aku menyukainya atau tidak!"

"Bagaimanapun juga, aku tak bisa banyak membantumu dalam hal ini. Hanya kaulah yang bisa memutuskannya"

"Kalau begitu, beri aku saranmu! Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa!"

Kurama menatap prihatin pada partnernya itu. Bagaimanapun juga Naruto masih tujuh belas tahun. Ia masih tak tahu apapun soal wanita.

"Mantapkan hatimu", ucap Kurama.

"Huh?", dahi Naruto mengerut.

"Pastikanlah dulu perasaanmu padanya. Apakah kau menyukainya atau tidak. Setelah kau tahu, baru kau berikan jawabanmu padanya", terang Kurama.

Naruto mempertimbangkan saran partner biijuunya itu. Sepertinya hanya itulah satu-satunya jalan yang bisa dilakukannya.

"Baiklah. Aku akan melakukan saranmu. Arigatou, Kurama!"

Kurama hanya memutar bola matanya sebagai jawaban. Ia jadi berpikir kenapa ia bisa jadi ikut masalah percintaan seperti ini? Padahal niatnya hanya ingin memberitahu Naruto hal yang belum diketahuinya!

"Hm, sekarang kau boleh pergi. Aku mau tidur", ujar Kurama.

"Tu-Tunggu dulu! Aku masih..."

"Ngomong-ngomong, sepertinya gadis itu mau bangun", Kurama memotong kalimat Naruto.

"APAAAAA?"

Naruto menghilang dari hadapannya dalam sekejap. Kurama hanya tertawa melihatnya.

Mindscape Mode Off

Naruto membuka matanya. Ia menatap Hinata yang masih berbaring di tempat tidurnya. Benar saja. Gadis itu mengerang kecil. Tak berselang lama, ia pun terbangun.

"Uh...", Hinata memegang keningnya. Ia merasa sedikit pusing.

"Hi...Hinata...", panggil Naruto.

Hinata yang merasa terpanggil menoleh ke asal suara.

"Naruto-kun...", ucapnya pelan.

Satu detik...

.

.

Dua detik...

.

.

Tiga detik...

"Eh...Naruto-kun!", pekik Hinata. Ia baru sadar siapa yang telah memanggilnya. Ia cepat-cepat bangun dan duduk di tempat tidur.

"Ke...Kenapa aku ada di tempat tidur?", ia bingung melihat dirinya yang tahu-tahu berbaring di tempat tidur.

"Eto...tadi kau pingsan mendadak", jawab Naruto.

Hinata jadi teringat apa yang membuatnya pingsan.

"Sepertinya aku mulai menyukai sifat pemalumu itu"

Blush! Wajahnya memerah seketika. Kepalanya tertunduk.

"A...Ano...Gomen membuatmu pingsan tadi. Bukan maksudku untuk begitu", ujar Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya.

"I-Iya…tak apa-apa", jawab Hinata singkat tanpa menatap Naruto.

Keduanya terdiam, tak tahu harus bicara apa. Untuk kali ini, Naruto tiba-tiba merasa kikuk di depan Hinata. Setelah mengetahui kebenaran dari gadis Hyuga itu, ia jadi tak tahu harus bersikap bagaimana.

Hinata sendiri juga hanya berdiam diri, tak tahu harus bicara apa.

Sampai sebuah suara terdengar.

"Kruuuuuk"

Tak begitu keras, tapi masih bisa didengar karena suasana yang sunyi. Naruto mengernyit. Ia merasa suara itu bukan dari dirinya.

"Kalau bukan aku berarti…"

Naruto menoleh pada Hinata yang sudah menunduk semakin dalam. Suara itu berasal dari perutnya yang sejak tadi sudah berdemo minta jatah.

"Kau lapar, Hinata?", tanya Naruto.

Wajah gadis itu sudah semakin merah. Gara-gara perutnya berbunyi sembarangan, Naruto jadi mengetahui kalau dia lapar.

"U..Um", Hinata menangguk kecil.

"Kami-sama, kenapa hal memalukan seperti itu harus terjadi?", rutuknya menahan malu.

Naruto memandang jam kamarnya. Ternyata memang sudah lewat tengah hari. Pantas saja ia juga merasa lapar.

"Kalau begitu, akan kubuatkan makanan untuk kita", Naruto berdiri dan melangkah menuju dapur.

"Aku harus berusaha bersikap senormal mungkin", batinnya sambil berjalan.

Hinata menatap kepergian Naruto. Ia tak ingin Naruto membuatkan makan siang untuknya. Menurutnya hal itu hanya akan merepotkan pemuda itu saja.

"Aku akan membantunya!"

Hinata membulatkan tekadnya. Dengan cepat ia turun dari tempat tidur, lalu menyusul Naruto ke dapur.

"Naruto-kun…", panggil Hinata saat masuk ke dapur.

Dilihatnya Naruto hendak mengambil sesuatu dari laci meja dapurnya.

"Ada apa, Hinata?", sahut Naruto sambil menoleh.

"A…Ano…Aku ingin membantumu", ucap Hinata.

Naruto tertegun sejenak, lalu tersenyum lembut.

"Arigatou, tapi, aku bisa melakukannya sendiri. Toh aku hanya membuat ramen", tolak Naruto.

"Ramen?"

"Oh, ya. Gomen aku hanya bisa menyajikan ramen untukmu. Aku tak punya apa-apa untuk dimasak"

Naruto sepertinya mengerti isi pikiran Hinata. Hinata memang tidak biasa makan ramen saat makan siang. Tapi Hinata tidak ingin mempermasalahkannya saat ini.

"Ah…Ta-tak apa, Naruto-kun. Aku sedang ingin makan ramen saat ini", kilah Hinata.

"Benarkah? Syukurlah kalau begitu"

Hinata menghembuskan nafas lega. Ia tak ingin membuat Naruto merasa bersalah. Lagipula tak masalah baginya untuk makan ramen saat makan siang.

"Kau boleh duduk. Biar aku yang urus semuanya"

Hinata menuruti perkataan Naruto. Ia lalu duduk di kursi meja makan sambil memperhatikan Naruto yang sibuk menyiapkan ramen.

"Apa setiap hari Naruto-kun hanya makan ramen, ya? Sepertinya Naruto-kun juga tidak pintar memasak", pikir Hinata.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya ramennya pun jadi. Naruto meletakkannya di atas meja, lalu ia ikut duduk.

"Yosh, ramennya sudah jadi. Ayo kita makan", ajak Naruto.

Hinata mengangguk. Merekapun menyantap ramen masing-masing dalam diam.

"A…Ano…Naruto-kun", panggil Hinata setelah selesai makan.

"Hm?", Naruto menoleh.

"Go-Gomen kalau pertanyaanku menyinggungmu…apakah…Naruto-kun hanya makan ramen instant seperti ini setiap hari?", tanya Hinata.

Naruto sedikit terkejut mendengarnya.

"Y-Yah, tidak setiap hari sih. Sebenarnya aku juga suka makan makanan yang lain. Tapi, karena aku tak bisa masak, jadi aku harus beli dulu kalau ingin makan yang lain. Hehehe", jawabnya.

Hinata menatap sedih Naruto. Ia sudah menduganya. Selama ini Naruto selalu tinggal sendiri. Tak ada seorangpun yang menyiapkan makanan untuknya sehari-hari. Berbeda dengan dirinya yang bisa saja

makan tiga kali sehari tanpa harus menyiapkan semuanya sendiri. Tiba-tiba ia mendapat ide.

"Kalau Naruto-kun mau, aku bisa memasakkan makanan untukmu", ucap Hinata.

Naruto terperangah. Hinata kembali membuatnya tadi pingsan mendadak didepannya, sekarang ia bilang ingin memasakkan makanan untuknya? Belum lagi kenyataan yang telah baru saja diketahuinya dari

Kurama. Oh, Kami-sama, kenapa hari ini jantungnya seperti sedang diuji?

"Ti-Tidak perlu seperti itu, Hinata. Aku masih bisa mencari makanan lain untuk diriku sendiri", tolaknya cepat.

"Tapi Naruto-kun hanya akan menghamburkan uang saja jika begitu terus", Hinata bersikeras.

"Benar juga, sih, tapi..."

"Pokoknya aku akan membuatkan makanan untuk Naruto-kun!", tegas Hinata.

Oke, Hinata jadi keras kepala sekarang. Naruto jadi bingung harus bagaimana. Gadis bermata lavender itu benar-benar membuat dirinya tercengang hari itu.

"Tapi...apa tak merepotkanmu?", tanya Naruto.

Hinata menggeleng.

"Tidak. Selama itu membuat Naruto-kun senang, aku tak akan keberatan", jawab Hinata mantap.

Naruto menimbang-nimbang. Sepertinya ia tak punya pilihan lain selain menerimanya. Hinata sudah berada dalam mode keras kepalanya. Sulit untuk mengubah pendiriannya jika sudah begitu. Naruto jadi

teringat lagi saat Hinata berdiri di depannya berusaha mencegah Pain menyakitinya. Disuruh pergi pun ia tak bergeming. Sama saja dengan kali ini.

"Baiklah. Kau boleh melakukannya", jawab Naruto akhirnya.

Bukannya bersorak atau apa, Hinata malah menundukkan kepalanya dalam

Hinata tak percaya kalau baru saja ia mengatakan ingin memasakkan Naruto makanan. Dan tak disangkanya juga kalau Naruto mau. Tentu saja ia merasa senang. Kalau tak ingat dimana ia berada sekarang, mungkin ia sudah mencak-mencak kesenangan.

"Tapi...bolehkah aku bertanya sesuatu?", ujar Naruto.

Hinata mengangkat kepalanya.

"Me-Memang Naruto-kun mau tanya apa?", sahut Hinata.

"Kenapa...kau bersikeras untuk membuatkan makanan untukku?", tanya Naruto.

Hinata jadi kelabakan mendengar pertanyaan Naruto.

"I...ltu..."

Hinata memainkan kedua ujung jarinya, pertanda gugup. Mau tak mau Naruto tersenyum geli melihatnya. Kebiasaan Hinata yang satu ini masih belum hilang juga, rupanya. Dan entah kenapa, ia suka

melihatnya. Tiba-tiba mendapat ide.

"Ne, kenapa tak kau jawab?", Naruto mencondongkan tubuhnya ke arah Hinata.

"E...eto...", Hinata masih berpikir.

"Hm...", Naruto sudah berdiri dari kursinya.

"Na...Naruto-kun?", Hinata mulai heran melihat Naruto.

"Ada apa?", wajah Naruto semakin dekat.

"A...Ano...kenapa kau..."

"Hm...", wajahnya terus mendekat.

"Naruto-kun...", wajah Hinata mulai memerah.

"Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?"

"I...Itu..."

Wajah mereka semakin dekat.

"Naruto-kun...", semakin dekat...

"Kenapa, Hinata?", semakin dekat...

"A...Ano...kita...", semakin dekat...

"Kita apa?", semakin dekat...

"KYAAAA!"

Hinata sudah tak kuat lagi. Dengan cepat ia lari menjauh dari Naruto. Mukanya merah padam. Nafasnya tersengal. Jantungnya berdetak cepat. Ia menatap Naruto seakan-akan dia itu hantu.

"Na-Naruto-kun...", panggilnya takut-takut.

Naruto sudah tak tahan lagi. Tawa yang ditahannya sejak tadi menyembur keluar.

"Hahahaha. Wajahmu lucu sekali, Hinata", ujarnya sambil terus tertawa.

Hinata melongo. Sekarang kenapa lagi dengan Naruto? Kenapa dia bilang wajahnya lucu? Tunggu dulu, jangan-jangan...

"Gomen...gomen...tadi aku hanya bercanda", terang Naruto sambil menghapus air matanya yang keluar karena kebanyakan tertawa.

"Be-Bercanda? Jadi...tadi itu ha-hanya bercanda?", tanya Hinata.

Naruto mengangguk. Sekarang semuanya menjadi jelas. Naruto hanya mengerjainya.

"Na-Naruto-kun jahat!", ucap Hinata sambil memalingkan mukanya.

Mendengar Hinata berkata seperti itu, Naruto jadi panik.

"A...a...jangan begitu dong, Hinata! Aku kan hanya bercanda!", bujuk Naruto.

"Pokoknya Naruto-kun jahat!"

Hinata menggeleng kuat-kuat. Naruto kelabakan. Berbagai cara Naruto lakukan untuk membuat Hinata tidak marah padanya. Tapi hasilnya nihil.

"Ayolah, Hinata. Aku tak mungkin berbuat macam-macam padamu. Sungguh!"

Hinata tak bergeming. Ia masih tak mau menatap Naruto.

"Begini saja. Akan kulakukan apa yang kau mau. Tapi tolong maafkan aku. Aku mohon", ucap Naruto memelas sambil mengatupkan tangannya.

Hinata menatap kasihan Naruto. Sebenarnya ia juga tak tega melihat pemuda itu memohon-mohon seperti itu. Ia juga tidak sejahat itu.

"A-Aku tak ingin apapun dari Naruto-kun", Hinata akhirnya bicara.

"E-Eh...benarkah?", Naruto lega mendengar gadis itu bicara.

Hinata hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.

"Kalau begitu, aku harus bagaimana supaya kau mau memaafkanku?", tanya Naruto.

"A-Aku...hanya ingin terus berada disamping Naruto-kun", gumam Hinata tanpa sadar..

"Heee...kau bilang apa?", Naruto tak menangkap ucapan Hinata.

Hinata kaget. Naruto mendengar gumamannya!

"Ti-Ti-Tidak. A-Aku tidak bilang apapun", elak Hinata.

"Lalu...kenapa kau jadi panik begitu?", tanya Naruto.

Kali ini Hinatalah yang kelabakan. Bisa pingsan lagi kalau dia menjawab pertanyaan Naruto.

"A...Naruto-kun, sepertinya sudah mulai sore. Tou-san pasti sedang mencariku. A-Aku pulang dulu", Hinata pun segera keluar dari dapur.

"M-Matte, Hinata!", dikejarnya Hinata yang sudah hendak keluar apartemennya.

"Kuso, cepat sekali pakai sepatunya", batin Naruto.

"Hinata, mat..."

"Naruto-kun..."

Naruto terdiam mendengar Hinata memanggilnya. Saat ini Hinata sudah membuka pintu.

"A-Aku...sudah memaafkanmu", dan tanpa menoleh, ia menutup pintu dengan cepat.

Naruto tertegun. Hinata sudah memaafkannya? Secepat itu? Padahal dia belum melakukan apapun untuknya. Naruto menghembuskan nafas panjang, lalu tersenyum.

"Kau memang gadis yang baik, Hinata", ucap Naruto.

"Yosh, lain kali akan kubalas perbuatanmu!"

.

.

.

Matahari telah berada di ufuk barat. Dari Gerbang Konoha tampak Sasuke dan Sakura yang berjalan berdampingan memasuki desa.

"Aaahh...akhirnya sampai juga!", Sakura meregangkan tubuhnya.

Sasuke hanya melirik sekilas pada Sakura, lalu tatapannya kembali fokus ke depan.

"Sekarang tinggal melapor pada Tsunade-sama lalu pulang!", ucap Sakura girang.

Diam-diam Sasuke tersenyum kecil melihat tingkah Sakura yang kekanakan. Ia lalu berjalan mendului. Sakura yang melihatnya secara reflek memanggilnya.

"Sasuke-kun...?"

Sasuke berhenti berjalan.

"Bukankah kau ingin cepat pulang?", tanyanya datar.

"A-Ah...memang sih..."

"Kalau begitu percepat langkahmu", Sasuke kembali berjalan.

Sakura menatap punggung Sasuke. Entah kenapa, ia merasa kalau Sasuke sedikit menjauhinya.

"Kau kenapa Sasuke-kun?", batin Sakura sendu. Ia lalu berjalan membuntuti Sasuke.

Tak perlu waktu lama bagi mereka untuk sampai ke di Gedung Hokage. Kini mereka sudah berada di depan ruangan Tsunade.

"Tok...tok...tok", Sakura mengetuk pintu.

"Masuk", suara Tsunade terdengar dari dalam.

Sakura masuk ke dalam, diikuti Sasuke.

"Ah, ternyata kalian", kata Tsunade setelah melihat siapa yang mengetuk pintu.

"Ha'i", jawab Sakura.

"Jadi, bagaimana misi kalian?", tanya Tsunade tanpa basa-basi.

Sakura menyerahkan kertas laporan hasil misinya. Tsunade menerima lalu membacanya.

"Hm, sepertinya tak ada masalah", ucap Tsunade.

"Baiklah. Kerja yang bagus. Misi kalian selesai. Kalian boleh pulang sekarang"

"Ha'i. Arigatou gozaimasu", ucap Sakura. Ia lalu berjalan keluar, diikuti Sasuke.

"Ah, ya...Sasuke...", panggil Tsunade saat Sakura membuka pintu.

"Ada hal yang perlu kubicarakan denganmu", sambung Tsunade.

Sasuke yang mendengar itu langsung kembali berdiri di depan meja Hokage. Sedang Sakura malah mematung di depan pintu.

"Kau kenapa, Sakura? Kau boleh keluar", tegur Tsunade.

Sakura kaget ditegur Tsunade. Dengan wajah memerah menahan malu, ia keluar sambil menutup pintu.

"Hh, dasar gadis", omel Tsunade.

"Apa yang ingin anda bicarakan?", tanya Sasuke. Bahkan dengan Hokage bicaranya pun masih datar.

"Bisakah kau tidak menggunakan nada itu jika bicara denganku?", keluh Tsunade.

Sasuke hanya diam.

"Hh, dasar Uchiha", omel Tsunade lagi.

"Baiklah...itu tak penting. Bagaimana persiapan untuk pelantikan nanti?", tanyanya.

"Hanya tinggal mengatur posisi ANBU yang berjaga", jawab Sasuke.

Tsunade mangut-mangut.

"Aku ingin kau menyelesaikannya secepat mungkin. Hari pelantikan sudah dekat!", perintah Tsunade.

"Hn", kata-kata andalan Sasuke pun muncul.

Tsunade menepuk dahinya. Kalau bukan karena dia itu sahabat Naruto, ia sudah mendepak Sasuke keluar ruangan. Tetapi tiba-tiba ia tersenyum misterius.

"Lalu, bagaimana dengan "misimu"?", tanya Tsunade.

Sasuke menaikkan alisnya.

"Misiku?"

Tsunade menatap Sasuke penuh arti.

"Kau tahu apa maksudku", kata Tsunade.

Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi yang jelas, hal itu membuat ekspresi Sasuke sedikit berubah. Sepertinya ia kaget.

"Kau tahu kalau kunci keberhasilan "misimu" itu ada di tanganku, Uchiha Sasuke", ujar Tsunade.

"Dan tentunya kau tahu apa yang akan terjadi kalau misimu ini bocor"

Sasuke mendelik pada Tsunade. Tapi perempuan paruh baya itu malah membalas tatapan Sasuke dengan seringai. Puas juga dia berhasil merubah ekspresi dari Uchiha terakhir berdiri lalu berjalan dan

berhenti tepat di samping Sasuke.

"Karena itu, kalau tak ingin "misimu" itu gagal...kau harus sedikit merubah sikapmu padaku"

Setelah berkata seperti itu, Tsunade pergi meninggalkan Sasuke yang tampak terkejut mendengar ucapannya. Ia mengepalkan tangannya.

"Kuso!", umpat Sasuke tertahan.

.

.

SKIP TIME

.

.

Sakura kini tengah berjalan pulang ke rumahnya. Selama perjalanan pikirannya terus melayang pada Sasuke.

"Ada apa ya dengan Sasuke-kun? Sikapnya aneh sekali hari ini", pikir Sakura.

"Padahal sikapnya sudah berubah ketika di Suna. Apa aku pernah berbuat kesalahan padanya, ya?"

Ia mencoba memikirkan kesalahan apa yang diperbuatnya selama perjalanan pulang sehingga sikap Sasuke berubah. Tapi seingatnya ia tak melakukan kesalahan apapun. Sakura terus memikirkannya

sampai-sampai ia tak sadar kalau ia sudah melewati rumahnya.

"Tunggu...sepertinya aku tahu jalan ini...", pikir Sakura. Ia lalu menoleh ke belakang.

"Benar kan? Itu rumahku", Sakura menepuk dahinya sendiri. Ia lalu berbalik arah dan berjalan menuju rumahnya. Tanpa mengetuk pintu ia pun masuk.

"Tadaima", seru Sakura sambil melepas sepatunya.

"Okaeri", sebuah suara menyahut, disusul langkah kaki mendekat.

"Ah, kau sudah pulang, Sakura", ternyata yang menghampirinya adalah Mebuki.

"Iya, kaa-san", jawab Sakura.

Mereka lalu masuk ke dalam. Disana tampak ayah Sakura, Kizashi, tengah asyik membaca sebuah buku.

"Tadaima, tou-san", sapa Sakura.

Kizashi mengalihkan perhatiannya.

"Ah, ternyata kau, Sakura", ucap Kizashi sambil berdiri.

"Bagaimana dengan misimu? Semuanya lancar?"

"Ya. Semua baik-baik saja", jawab Sakura.

"Ne...lalu, bagaimana dengan Sasuke, hm?", tanya Mebuki sambil nyengir.

"Jangan mulai lagi, kaa-san", Sakura menghela nafas.

"Ara…ara…tak ada salahnya kan menanyakan calon menantu sendiri?", Mebuki mengedipkan sebelah matanya.

Sakura sudah tak mau ambil pusing lagi menghadapi kelakuan ibunya. Yang dia inginkan sekarang hanyalah mengistirahatkan tubuhnya.

"Haah…terserah kaa-san saja. Aku mau mandi", dan Sakura pun pergi meninggalkan kedua orang tuanya.

"Yare-yare… dia masih belum mengaku", keluh Mebuki.

"Biarkan saja. Bukankah pernah kubilang kalau suatu saat dia akan mengatakannya juga? Mungkin Sakura masih malu. Atau kalau tidak, mereka masih dalam tahap 'pendekatan' satu sama lain", ujar Kizashi.

"Hmm…mungkin kau benar", Mebuki mangut-mangut.

.

.

SKIP TIME

.

.

"Uaahh…rasanya enak sekali!", ucap Sakura.

Gadis itu baru saja selesai mandi. Sekarang ia tengah berbaring di atas tempat tidurnya. Sambil menatap langit-langit kamarnya, pikirannya kembali melayang pada Sasuke. Ia mengingat-ingat kembali

moment kebersamaannya dengan pemuda itu selama seminggu ini.

"Benar-benar menyenangkan", batin Sakura senang.

Ia lalu memandang keluar jendela. Langit malam berhias bintang-bintang berhasil memikatnya. Sakura beranjak dari tempat tidur lalu berjalan mendekati jendela.

"Indah", ucap Sakura saat menatap langit.

Tiba-tiba ia teringat saat ia berada di atap Kantor Kazekage bersama dengan Sasuke. Suasananya persis seperti saat ini. Hal itu membuat Sakura tersenyum.

"Andai Sasuke-kun ada disini…", pikirnya.

Cukup lama juga Sakura berdiri di depan jendela.

"Saat ini, Sasuke-kun sedang apa ya?", ia berusaha menebak.

"Yah, mungkin sekarang dia sudah tidur"

Sakura menguap lebar. Tiba-tiba ia merasa mengantuk sekali.

"Uaahh…ngantuk sekali. Sebaiknya aku tidur saja sekarang"

Sakura kembali berbaring di tempat tidur. Dan dalam beberapa menit ia sudah terbuai ke alam mimpi.

.

.

.

TBC

Huuuaaaahhh…akhirnya bisa publish juga#OH YEAH

Setelah saya telantarkan sekian lama, fic ini bisa lanjut juga.

Bukannya gak mau lanjut, tapi gegara urusan-urusan di duta yang bikin mood nulis down, jadi updatenya molor#Authormales

Tapi, dengan segala perjuangan dan niat yang kuat, akhirnya saya bisa merampungkan chap 4 ini.

Yah, bebarengan dengan publishnya fic ini, manga Naruto pun akhirnya tamat*Jedotin kepala ke tembok*Sedih*

Padahal rasanya baru kemarin saya tahu Naruto, tahu-tahu sekarang sudah selesai.

Karena itu, saya mau mengucapkan terima kasih untuk Masashi-sensei yang sudah berkarya selama 15 tahun untuk membuat anime kesukaan saya ini. Dan semoga beliau tidak berhenti di Naruto saja. Saya

tunggu karya-karya anda berikutnya#ThanksNaruto

Tapi, ada kabar gembira untuk kita semua dengan tamatnya Naruto*Bukan mastin*

Tentunya readers sudah tahu. Apalagi yang ngeship Naruhina dan SasuSaku*Termasuk saya, hehe… :)*

Yap, apalagi kalau bukan CANONNYA NARUHINA DAN SASUSAKU!*Teriak pake toa*

Akhirnya, setelah penantian yang panjang, harapan saya pun terkabul juga.#ThanksMasashiSensei

Bukan hanya kedua pair itu saja…ShikaTema, SaiIno, dan LeeTen juga ikut canon#Selamat

Tapi, tunggu. Masih ada satu lagi pair yang canon. Yaitu ChoKarui.

Waktu saya baca chap 700 kemarin, saya dibuat kaget dengan pair ini. Gak nyangka mereka canon. Padahal di manga ngobrol aja belum. Tahu-tahu sudah punya anak*Pegang dagu*

Dan jujur, saya kurang "Ngeh" sama gedung-gedung modern di atas patung Hokage. Mungkin Masashi-sensei ingin membuat Konoha jadi Kota Metropolitan*Pegang dagu lagi*

Yah, apapun itu, saya suka endingnya. Sangat memuaskan untuk saya. Dan tentunya bagi shipper yang pairnya canon. Tepuk tangan*Prok prok prok*

Yap, sampai ketemu lagi pada chap berikutnya. Saya akan usahakan untuk terus update walaupun tidak menentu tergantung kondisi. Dan maaf kalau fic ini tidak sesuai harapan readers.

Jangan lupa untuk tinggalkan jejak.

Akhir kata, ARIGATOU GOZAIMASU.