Naruto Afterwar
Author : Hamano Akira
Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto
Pairing :NaruHina, SasuSaku
Warning : Typo, gaje, aneh, dll
Chapter 5A
"Khhrrr…Khhrrr…Khhrrr"
Suara dengkur Naruto terdengar jelas dalam apartemennya yang sepi. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Tapi pemuda pirang itu tampak masih menikmati alam mimpinya. Bahkan beberapa kali ia menggumam tak jelas.
"TOK…TOK…TOK", suara ketukan pintu membuat dirinya terbangun.
"Uh…suara apa itu?", rupanya ia belum sadar.
Terdengar lagi ketukan dari pintu. Naruto pun sadar apa yang telah membuatnya terbangun.
"Siapa yang datang sepagi ini?", ucapnya sedikit kesal karena tidurnya terganggu.
Naruto lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan menghampiri pintu apartemennya dengan langkah gontai karena masih mengantuk.
"Siapa?", ucap Naruto sambil membuka pintu.
"O-Ohayou, Naruto-kun", sapa orang itu.
"Suara ini…"
Naruto mengenali suara itu. Ditatapnya wajah orang didepannya.
"HINATA?", teriak Naruto kaget.
Hinata memiringkan kepalanya. Ia bingung melihat reaksi Naruto.
"Na-Naruto-kun kenapa?", tanya Hinata.
"Ke-Kenapa kau ada disini?", Naruto malah bertanya balik. Dia masih kaget.
"Aku ke sini untuk membuatkan Naruto-kun sarapan, seperti janjiku kemarin", jawab Hinata.
Naruto tertegun. Dia baru ingat kalau kemarin sudah mengijinkan Hinata untuk memasak di apartemennya. Kenapa dia bisa lupa? Naruto merutuki dirinya sendiri.
"A-Apa Naruto-kun lupa?", tanya Hinata. Ada sedikit kekecewaan dalam nada suaranya.
"Te-Tentu saja tidak! Mana mungkin aku lupa! Ahahaha!"
Naruto tertawa garing. Ia berusaha menutupi kebohongan yang dibuatnya. Ia tak ingin membuat Hinata sedih.
"S-Syukurlah kalau begitu. Ku-kupikir Naruto-kun lupa", Hinata tampak senang mendengar jawaban Naruto.
Naruto menghembuskan nafas lega. Ia berhasil mengelabui Hinata. Untuk sekali ini, Naruto bersyukur karena Hinata sangat polos. Tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu yang dibawa oleh Hinata.
"Apa itu,Hinata?", tanya Naruto sambil menunjuk.
"Ah, i-ini…hanya bahan-bahan untuk memasak", jawab Hinata.
"Kenapa kau tak bilang padaku kau ingin membelinya?", dahi Naruto mengerut.
"Seharusnya kau bilang kemarin. Aku kan bisa memberimu uang. Jadi kau tak harus mengeluarkan uangmu sendiri!"
Saat berkata seperti itu, Naruto terlihat lebih dewasa dari biasanya. Sikapnya itu seakan-akan ia sedang berbicara dengan isterinya sendiri.
"Ti-tidak apa-apa, Naruto-kun. Kau tak perlu seperti itu", ucap Hinata sedikit terkejut.
"Mana mungkin begitu, Hinata..Aku tak bisa membiarkan seseorang terus-terusan menolongku!"
Naruto tetap pada pendiriannya. Sudah cukup Hinata melakukan sesuatu untuknya. Sementara dirinya tidak pernah melakukan apapun untuk gadis itu.
"Pokoknya, kalau kau butuh sesuatu, kau bisa beritahu aku! Jangan membuat repot dirimu sendiri"
Cengiran khas diberikannya pada gadis indigo itu. Tak ayal pipi Hinata terasa panas melihatnya. Senyum Naruto itu selalu sukses membuatnya merona.
"Ayo masuk, Hinata", Naruto mempersilahkan Hinata masuk.
Dengan wajah yang masih memerah, Hinata mengikuti Naruto masuk ke kediamannya. Tangannya menggenggam erat kantong plastik yang dibawanya, berusaha mengurangi degup jantung yang masih berdetak cepat. Naruto membawa Hinata langsung menuju dapur.
"Aku tak punya banyak peralatan memasak...gomen, kalau tak ada alat yang kau perlukan", ucap Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Hinata memperhatikan perabotan di dapur Naruto. Memang benar tak banyak alat masak yang dimiliki oleh pemuda pirang itu. Wajar memang, karena Naruto memang jarang memasak.
"Ne...Tak apa, Naruto-kun. Kita masih bisa memasak dengan alat yang ada", Hinata mulai mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan. Ia mengisi panci dengan air lalu merebusnya di atas kompor. Kemudian ia memotong-motong sayuran yang dibawanya.
"Kau ingin membuat apa, Hinata?", tanya Naruto penasaran.
"Ha-Hanya Sup Miso biasa", jawab Hinata.
Naruto mangut-mangut. Hinata kembali tenggelam dalam kesibukkannya. Tak disadarinya bahwa Naruto tengah memperhatikannya bekerja. Ada rasa hangat yang menghampirinya ketika melihat gadis indigo itu.
"Hei, jangan menatapnya saja...bantu dia!", tiba-tiba Kurama bicara pada Naruto. Tentu saja di dalam pikirannya.
"Eeh..kau juga memperhatikannya?", teriak Naruto terkejut.
"Sudahlah, jangan banyak omong! Dia sudah berbaik hati mau memasak untukmu. Jangan jadi laki-laki tak tahu diri!", ejek Kurama.
"A-Aku tahu itu! Aku juga baru mau membantunya!", seru Naruto.
Naruto berjalan mendekati Hinata. Ketika hendak menepuk pundaknya, tanganya terhenti di udara. Rasa gugup tiba-tiba menghampiri dirinya. Jantungnya berdebar keras. Kenapa dengan dirinya? Naruto bingung. Ia tak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Hinata belum menyadari Naruto yang sudah berada di belakangnya.
"Ayolah. Ada apa dengan dirimu?" Naruto berusaha menggerakkan tangannya yang mendadak kaku. Tapi seakan-akan tangannya itu sudah berubah menjadi batu. Ia kesulitan untuk mengerakannya.
"Kuso! Kenapa sulit sekali?", rutuk Naruto dalam hati.
"Naruto-kun?"
Naruto mematung seketika. Ia seperti merasakan rohnya telah melayang keluar dari dalam tubuhnya. Sedang Hinata menatap Naruto terkejut. Sebenarnya ia ingin mengambil bumbu masak di atas meja. Dan ketika membalik badan, Naruto telah berada di belakangnya.
"K-Kau kenapa?", suara Hinata berhasil menyadarkannya. Dengan cepat ia merubah sikapnya yang terlihat aneh. Ia sudah kikuk setengah mati. Wajahnya bahkan memerah saking malunya ketahuan bertindak konyol.
"A-Ano...bu-bukan apa-apa...aku hanya mau tanya...apa aku...mmm...bisa membantumu", bahkan bicaranya pun terputus-putus.
Hinata merasa agak heran dengan tingkah pemuda itu. Kenapa bicaranya seperti meniru dirinya? Apa Naruto mau menjahilinya? Hinata sudah was-was saja. Ia tak mau pingsan untuk kedua kalinya di rumah Naruto sendiri.
"E-Eto...Sebenarnya tak perlu, Naruto-kun. Aku masih bisa melakukannya sendiri. La-Lagipula, Naruto-kun kan tak begitu pandai dalam urusan seperti ini", Hinata hendak menolak.
"A-Aku tahu", ujar Naruto cepat.
"Aku memang tak tahu-menahu soal memasak...tapi, aku juga tak bisa diam saja melihatmu repot untukku. Kau sudah terlalu baik padaku. Tapi aku belum pernah membalas semua perbuatanmu. Jadi, kumohon...paling tidak...sedikit saja, biarkan aku membantumu!"
Naruto menatap Hinata. Dua pasang iris mata saling bertemu. Naruto bersungguh-sungguh. Itulah yang Hinata lihat. Mata biru langitnya sudah cukup untuk mengatakan bahwa pemuda itu serius. Belum lagi dengan raut wajahnya yang menegaskan semuanya. Hinata tersenyum lembut. Naruto memang seperti itu. Jika sudah melakukan sesuatu, dia tidak akan main-main. Persis seperti saat ini. Dan sepertinya ia tak perlu mengkhawatirkan sikap jahilnya itu.
"Ha'i...Naruto-kun boleh membantu", ucap Hinata akhirnya.
"Yosha!", Naruto bersorak girang layaknya anak kecil. Hal itu membuat Hinata tertawa. Dalam hati lagi-lagi Naruto bersyukur karena Hinata tidak lagi mempermasalahkan hal konyol yang dilakukannya. Akhirnya mereka berdua pun memasak bersama. Hinata menginstruksikan hal-hal yang perlu dilakukan oleh Naruto. Dan pemuda itu berjalan kesana-kemari melakukan apa yang Hinata perintahkan. Sesekali mereka tertawa karena tingkah konyol Naruto. Keduanya nampak serasi. Hanya orang-orang yang dekat mereka sajalah yang tahu kalau mereka hanya sekedar teman. Tapi siapa tahu.
.
.
.
"Haah...mau kemana ya?", Sakura melangkahkan kakinya tanpa semangat. Ia sudah dua puluh menit berjalan tanpa arah tujuan yang jelas. Sedang di kanan dan kirinya nampak orang berlalu-lalang yang tengah sibuk membuat dekorasi.
"Apa tak ada tempat yang sedikit tenang? Semuanya penuh dengan orang yang sibuk mondar-mandir dan berteriak-teriak. Mana bisa santai kalau begini? Bahkan tou-san dan kaa-san pun ikut-ikutan ribut", gerutu Sakura. Ia kembali teringat percakapannya dengan kedua orang tuanya itu pagi tadi
FLASHBACK ON
Sakura tengah asyik berendam di kamar mandi rumahnya. Sesekali ia bersenandung kecil. Hari ini ia bebas tugas karena kemarin baru saja selesai misi. Gadis itu telah merencanakan apa saja yang akan dilakukannya hari itu. Tetapi, ada satu hal yang sedikit mengusik kepalanya. Ia masih memikirkan sikap Sasuke yang agak ganjil kemarin. Tapi ia tak ingin ambil pusing mengenainya. Mungkin hanya perasaannya, itulah anggapannya.
"Sakura...kau sudah selesai? Sarapan sudah siap!", terdengar suara Mebuki berseru dari luar.
"Sebentar lagi", seru Sakura menyahut. Ia pun bergegas mengeringkan badannya. Dengan handuk yang menutupi tubuhnya, ia berjalan menuju kamarnya. Hari itu ia hanya mengenakan pakaian santai. Kemudian ia segera menuju ke dapur untuk sarapan. Kizashi dan Mebuki sudah menunggunya.
"Kau lama, sekali, Sakura", omel Mebuki begitu melihatnya.
"Bukankah wajar jika seorang perempuan mandi sedikit lebih lama? Lagipula tubuhku masih sedikit lelah", gerutu Sakura. Kizashi hanya mendengarkan saja pertengkaran kecil mereka berdua sambil membaca koran. Ia sudah terbiasa dengan keributan yang ditimbulkan oleh ibu dan anak itu.
"Sakura, bukankah hari pelantikan tinggal beberapa hari lagi?", tanya Mebuki sambil menyantap sarapannya.
"Astaga...benar juga!", Sakura menepuk dahinya sendiri.
"Kau ini...hal sepenting itu saja kau lupa", Mebuki menghela nafasnya.
Sakura hampir saja lupa jika hari pelantikan Naruto semakin dekat. Ia terlalu asyik memikirkan rencananya untuk bersenang-senang. Tapi semua itu sudah pasti batal.
"Haah...padahal aku ingin santai hari ini", keluh Sakura.
"Hei...jangan begitu. Bukankah yang akan dilantik itu teman satu timmu?", tegur Mebuki.
"Bukan begitu, kaa-san. Tentu aku senang Naruto akan jadi Hokage. Walau aku masih tak percaya akan secepat ini. Hanya saja, Sishou pasti akan memberiku banyak tugas untuk persiapan nanti", ujar Sakura.
"Bukankah wajar jika seperti itu? Ini kan pelantikan Hokage! Semua ninja juga pasti sibuk mempersiapkannya. Apalagi yang dilantik adalah pahlawan dalam perang kemarin. Tentu akan jadi pelantikan yang meriah! Bahkan kabarnya shinobi dari desa lain akan ikut menyaksikan sendiri pelantikan Naruto"
"Iya...iya..", Sakura menjawab malas omongan Mebuki. Tanpa dibilang pun ia sudah tahu semua itu. Ia hanya ingin menuntut haknya untuk melepas semua penatnya setelah misi. Apa yang salah dari itu?
"Baiklah. Karena kau baru saja pulang, kau boleh bersantai hari ini. Tak perlu mengerjakan pekerjaan rumah", ujar Mebuki.
"Benarkah?", mata emerald Sakura berbinar. Mebuki mengangguk sebagai jawaban. Sakura bersorak girang. Dipeluknya sang ibu dengan sayang. Sedang yang dipeluk hanya tersenyum sambil mengelus lembut kepala puteri semata wayangnya itu. Kizashi hanya tersenyum simpul melihatnya. Walau mau ribut seperti apapun, mereka akan selalu berbaikan pada akhirnya.
"Tou-san kenapa? Sejak tadi hanya diam saja", Sakura mengalihkan perhatian pada ayahnya yang hanya senyam-senyum sendiri melihat mereka berdua.
"Ah...tidak, bukan apa-apa. Aku hanya sibuk memikirkan apa yang akan kulakuan untuk menyambut Hokage yang baru nanti", ucap Kizashi.
"Memang tou-san mau melakukan apa?", tanya Sakura.
"Aku sendiri juga masih bingung", Kizashi melipat tangan sambil memjamkan matanya, berusaha mendapat ide.
"Bagaimana dengan rangkaian bunga? Ditambah dengan hiasan lampu, pasti indah", usul Mebuki.
"Hm...Sepertinya bagus juga", Kizashi mangut-mangut.
"Chotto matte...kenapa kalian sampai segitunya untuk menyambut hari pelantikan?", Sakura menatap heran kedua orang tuanya.
"Ara..ara...rupanya kau belum dengar, ya?", Mebuki malah bertanya balik.
"Mendengar apa? Aku baru pulang dari Suna kemarin! Tentu saja aku tak dengar apapun!", omel Sakura.
"Saat kau pergi, semua warga Konoha sepakat untuk mendekorasi semua tempat di Konoha sebagai persiapan untuk hari pelantikkan nanti. Juga ucapan terima kasih untuk Naruto yang sudah berjuang menyelamatkan dunia ini", Kizashi menjelaskan. Alhasil Sakura pun melongo dibuatnya. Ia tak mengira pelantikan kali ini akan mengundang perhatian banyak warga Konoha.
"Dan malamnya semua orang akan berpesta untuk merayakannya! Semua toko dan kedai akan dibuka secara gratis khusus untuk hari itu", Mebuki menyambung.
Pelantikan kali ini mungkin akan menjadi yang terbesar dalam sejarah Konoha. Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Mereka sudah mempersiapkan diri untuk menyambut Hokage baru mereka. Banyak diantara mereka yang sibuk mendekorasi. Ada pula yang membersihkan jalanan Konoha. Ada juga yang menghias rumahnya sendiri. Bahkan ada yang membuat spanduk dan poster untuk dipajang di setiap sudut desa. Semua orang menyambut gembira hari dimana Hokage baru mereka akan lahir.
"Astaga...sampai segitunya kah?", ujar Sakura takjub.
"Tentu saja! Dan besok kau harus membantu menghias rumah!", dengan penuh semangat Mebuki menuding Sakura.
"Matte! Kita belum merencanakan mau seperti apa dekorasinya!", Kizashi menyela.
"Benar juga...Yosh! Pertama kita akan menghias depan rumah dengan rangkaian bunga! Lalu di sekitar balkon, lalu..."
"Kita juga bisa menaruh hiasan lampu juga di pagarnya, supaya saat pesta malamnya terlihat meriah!", Kizashi menambahkan.
"Benar! Ide yang bagus! Rumah kita akan jadi menarik!"
"Lalu, bagaimana dengan poster? Kita bisa tempel di tembok depan!"
"Atau spanduk? Supaya tidak terlalu repot saat melepasnya nanti?"
"Bagaimana kalau bla...bla...bla...", dan tanpa mereka sadari Sakura sudah berjalan meninggalkan dapur.
FLASHBACK OFF
"Mereka ini ada-ada saja", Sakura menepuk dahinya.
"Yah...Tapi, itu tandanya mereka juga sudah mengakui keberadaan Naruto", senyum Sakura mengembang. Ia bersyukur karena dulu orang tuanya tidak ikut membedakan Naruto seperti kebanyakan orang tua lain, yang memandang pemuda itu sebagai jelmaan monster dan menjauhkan anak-anak mereka darinya. Mereka juga tak protes saat tahu dirinya satu tim dengan Naruto.
"Ah...ternyata aku sampai disini", Sakura yang berjalan sejak tadi berhenti sejenak. Didepannya tampak sebuah danau yang cukup luas. Airnya berkilauan ditimpa sinar mentari pagi. Disekelilingnya pohon-pohon tumbuh dengan rindangnya, menambah keasrian danau itu. Danau itu berada di pinggiran Konoha, dan jauh dari hiruk pikuk keramaian.
"Akhirnya ada juga tempat yang sepi", Sakura meregangkan otot tangannya sembari menikmati keindahan danau. Tanpa sengaja ekor matanya melihat seseorang tengah berdiri di bawah, menatap ke arah danau. Posisi Sakura memang lebih tinggi karena jalan setapak yang dilaluinya lebih tinggi dari danau. Orang itu berdiri memunggungi Sakura. Kedua tangannya terselip di saku celananya. Tampaknya ia juga tengah menikmati pemandangan di danau itu.
"Sepertinya bukan aku saja yang kemari", Sakura memperhatikan orang itu dari bawah sampai atas. Tiba-tiba ia tertegun. Ia merasa familiar dengan sikapnya. Ia mencoba memperhatikan dengan lebih cermat lagi. Secara kebetulan orang itu menolehkan kepalanya. Dan saat itulah Sakura terkejut.
"Sasuke-kun!", Sakura terpekik saking terkejutnya. Wajahnya merona seketika. Ia tak mengira akan bertemu dengan Sasuke di tempat seperti ini. Dan akibat pekikannya, sukses membuat Sasuke menoleh padanya.
"Sakura?", Sasuke mengerutkan dahinya saat melihat Sakura berdiri di jalan setapak. Sedang yang ditatap malah merasa kikuk. Ia tak tahu apa sebaiknya mendekat atau pergi mencari tempat lain. Dalam hati tentu saja ia ingin mendekat. Tapi dengan sikapnya kemarin, ia tak yakin Sasuke ingin dekat-dekat dengannya. Ia takut pemuda berdarah Uchiha itu marah padanya, walau itu hanya asumsi pribadinya.
"Apa yang harus kulakukan?", Sakura bimbang. Hatinya bergulat menentukan pilihan. Satu sisi ingin mendekat, sisi yang lain berusaha cari aman. Melihat gadis itu yang hanya berdiam diri membuat Sasuke menghela nafasnya. Ia pun melambaikan tangannya pada Sakura, menyuruhnya mendekat. Sontak saja hal itu membuat Sakura tercengang.
"Nani...? Apa ini...sungguhan?", pikir Sakura tak percaya. Ia menepuk kedua pipinya keras-keras sampai ia sendiri meringis kesakitan.
"Ternyata bukan mimpi! Ini sungguhan!", batin Sakura.
"Hei...kau kenapa? Apa aku perlu kesana?", seru Sasuke tiba-tiba.
"Eh? Ti-Tidak perlu...aku akan turun", jawab Sakura terkejut. Rupanya Sasuke melihat tingkah konyolnya. Sakura pun berjalan turun dan menghampiri Sasuke yang kembali menatap danau. Jantungnya mulai berdegup tak karuan. Tapi ia berusaha tak menampakkan kegugupannya. Dengan cepat ia telah berada disamping Sasuke.
"Apa yang kau lakukan disini?", tanya Sasuke tiba-tiba.
"E-Eto...aku hanya sedang mencari tempat untuk bersantai...dan kebetulan aku sampai disini", terang Sakura.
"Begitu...", hanya itu tanggapan yang diberikan Sasuke. Ia pun tak berbicara lebih jauh. Seperti biasa ia masih tetap jadi Sasuke yang irit bicara. Sakura yang tak ingin suasana jadi canggung mencoba mengajak bicara.
"Lalu, Sasuke-kun sendiri kenapa ada disini?"
"Tak ada. Aku hanya sedang butuh ketenangan", jawab Sasuke.
"A-Apa aku mengganggumu?", mendengar jawaban Sasuke membuat Sakura menjadi was-was. Ia takut kehadirannya di situ membuat Sasuke terusik.
"Sedikit", jawaban Sasuke membuat Sakura terhenyak.
"Tapi aku sudah terbiasa dengan itu", kalimat Sasuke membuat Sakura lega sekaligus bingung. Apa yang dimaksud oleh pemuda Uchiha itu? Tapi Sakura tak menanyakannya.
"E-Eto...Sasuke-kun sudah pernah kemari?", Sakura akhirnya mengganti topik pembicaraan.
"Saat kecil", jawab Sasuke singkat.
"Saat kecil?", ulang Sakura
"Ya. Disini adalah tempat dimana aku biasa menyendiri dan menenangkan pikiranku", terang Sasuke.
"Mmm...Jadi, Sasuke-kun kemari karena sedang memikirkan sesuatu?"
"Tidak juga. Aku hanya ingin berada di tempat yang tenang saat ini"
"Ah...Sasuke-kun juga terganggu dengan kebisingan di desa, ya kan?"
"Sama saja denganmu, kan?"
"Eh?...I-Iya sih", Sakura tersenyum kikuk karena Sasuke berhasil mengetahui alasan ia sampai di tempat itu. Sasuke tersenyum simpul melihat reaksi Sakura.
"Kau ini mudah sekali ditebak", komentarnya.
"A-Ah...Benarkah?", ucap Sakura penasaran.
"Dari sikapmu saja sudah ketahuan", ujar Sasuke.
"Tapi, ada satu tempat yang tampak jelas", dahi Sakura berkerut mendengar ucapan Sasuke. Ia berusaha menebak bagian mana dari tubuhnya yang dimaksud kan pemuda Uchiha itu.
"Baiklah! Aku menyerah! Memang ada dimana?", ucap Sakura akhirnya. Ia tak berhasil menebak. Tapi Sasuke malah tak menjawab. Ia hanya diam bak patung. Sakura heran dibuatnya.
"Sasuke-kun?", panggil Sakura.
"Matamu"
"Eh?"
"Matamu", Sasuke mengulangi ucapannya. Kali ini ia menoleh dan memandang Sakura.
"Matamulah yang secara terang-terangan menunjukkan isi hatimu", Sasuke menatap mata Sakura. Sakura terpaku ditempatnya. Bukan hanya karena jawaban Sasuke saja yang membuatnya terkejut, tapi karena dia juga secara tiba-tiba menatapnya.
"Mata adalah bagian tubuh yang bisa merefleksikan hati seseorang", lanjut Sasuke.
"Karena itulah, aku bisa tahu alasanmu kemari. Karena matamu menunjukkan semuanya padaku!"
Perlahan, namun pasti, wajah Sakura bersemu merah. Perkataan Sasuke membuat jantungnya berdetak kencang lagi. Ditambah dengan tatapan mata Onyx-nya, bak hipnotis yang mampu menyita semua perhatian agar tertuju padanya seorang. Jika tak melihat warna bola matanya, ia pasti sudah mengira dirinya terjebak dalam genjutsu Sharingan Sasuke.
"S-Souka...", ucap Sakura sambil memalingkan wajahnya. Bisa-bisa ia pingsan ditempat jika terus bertatapan dengan Sasuke, seperti Hinata. Sasuke sendiri juga tak mengucapkan apa-apa. Ia kembali menatap kearah danau. Tapi jika diperhatikan, terdapat rona tipis di wajahnya. Keduanya kembali terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sakura masih memikirkan ucapan Sasuke. Baginya, itu adalah pertama kalinya ia mendengar pemuda itu berkata~yang bisa dibilang~cukup 'romantis' untuk ukuran seorang Uchiha Sasuke, yang bahkan ngobrol saja hampir tidak pernah. Tapi Sakura sudah memaklumi itu. Bagaimanapun, Sasuke bukanlah Naruto, yang jika mau bisa saja terus mengoceh dari pagi sampai siang. Tiba-tiba Sakura jadi teringat obrolan orang tuanya tentang pelantikan Naruto yang tinggal beberapa hari lagi.
"Kira-kira Naruto sedang apa ya?", ucap Sakura tanpa menatap Sasuke.
"Dobe?", Sasuke melirik Sakura.
"Uhm... Pelantikkannya kan tinggal tinggal hitungan hari! Aku penasaran apa yang sedang dilakukannya saat ini", ujar Sakura.
"Kenapa kau ingin tahu?", tiba-tiba saja sorot mata Sasuke menajam tanpa Sakura ketahui.
"Yah...untuk memastikan saja dia tak melakukan hal-hal konyol yang bisa mengganggu prosesinya nanti", ucap Sakura.
"Entahlah. Tapi, jika dugaanku benar, mungkin dia sedang mengamuk sekarang", ucap Sasuke tak peduli.
"Heee? Memang dia kenapa?", tanya Sakura kaget Kali ini ia menoleh pada Sasuke.
"Dia dapat tugas dari Hokage untuk mempelajari semua hal mengenai tata cara pemerintahan dan aturan-aturan yang ada di Konoha sebelum hari pelantikan", terang Sasuke datar.
"Sejak kapan dia dapat tugas seperti itu?", tanya Sakura lagi.
"Dua minggu yang lalu", jawab Sasuke.
"Dan karena Kakashi juga dapat misi, kurasa dia sudah jadi seperti orang gila karena tak ada yang membantunya"
Mendengar keterangan Sasuke membuat Sakura khawatir. Ia tahu betul Naruto bukan tipe orang yang bisa belajar hanya dengan membaca. Apalagi yang dipelajarinya adalah materi yang berat. Ditambah tak ada yang membantunya, ia jadi membayangkan yang aneh-aneh tentang Naruto.
"Sasuke-kun, kita harus membantu Naruto!", ucap Sakura penuh tekad. Sasuke tak menanggapi ucapan Sakura. Tapi sorot matanya agak lain.
"Ayo, Sasuke-kun! Kita harus cepat!", Sakura berlari naik menuju jalan setapak. Tetapi Sasuke hanya diam saja di tempatnya. Ia hanya memandang Sakura yang berlari naik.
"Ada apa, Sasuke-kun? Ayo cepat", panggil Sakura dari atas. Sasuke menghela nafasnya. Diturutinya keinginan Sakura dan ikut naik ke atas.
"Ayo, sebelum Naruto menghancurkan rumahnya!", ucap Sakura. Ditariknya tangan Sasuke supaya mengikutinya. Sasuke agak terkejut, tapi tidak melawan. Ia hanya diam mengikuti arah tarikan Sakura.
.
.
.
TBC
Udah berapa lama ya saya nggak ke sini, ficnya sampai jamuran begini *PLAK**LAMA BANGET WOE*
Ya udahlah, mending jamuran daripada karatan*Digeplak*
Yup, salam jumpa buat readers sekalian…
Dah lama gak mampir FFN, akhirnya bisa balik juga…
Kalau dihitung mungkin sekitar lima bulan
Berarti umur fic ini udah 1 tahun dan belum tamat sampai sekarang *WTF?*
Hahaha, emang dasar Author males…
Tapi yang jelas, saya tidak akan ngegantung fic ini…pasti saya lanjut, walau tidak pasti updatenya…
Kali ini saya update 2 chapter 5A dan 5B
Alasannya karena kalau dijadiin 1 jadinya panjang, takutnya pada males baca…hehehe…
Yah, semoga chap selanjutnya bisa update lebih cepat….
Segitu saja sepatah dua patah kata dari saja
Dan maaf kalau ada berbagai keabsurdan yang bertebaran di fic ini
Dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak karena jejak kalian merupakan semangat untuk saya.
Akhir kata, ARIGATOU GOZAIMASU.
