Naruto Afterwar
Author : Hamano Akira
Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto
Pairing :NaruHina, SasuSaku
Warning : Typo, gaje, aneh, dll
Chapter 5B
"Fuuaahh, masakanmu enak sekali, Hinata!"
"A-Arigatou, Naruto-kun"
Naruto dan Hinata baru saja selesai menyantap sarapan yang mereka buat bersama. Walau dibilang bersama, sebenarnya Hinatalah yang paling banyak bekerja. Sedang Naruto hanya membantu mengambil ini dan itu. Biar begitu, Hinata tak mempermasalahkannya. Asalkan hal itu membuat Naruto senang, ia tak keberatan. Hinata bangkit berdiri, mengambil piring bekas sarapan mereka, dan menumupuknya jadi satu. Naruto yang melihatnya tahu apa yang hendak dilakukan gadis bersurai indigo itu.
"Matte! Biar aku saja yang mencucinya", ucap Naruto spontan.
"Eh? T-Tak perlu. Naruto-kun duduk saja disini", jawab Hinata terkejut.
"Tidak. Kaulah yang harus duduk, dan biarkan aku yang melakukannya", ujar Naruto bersikeras. Diambilnya piring yang sudah ditumpuk itu dari tangan Hinata.
"Lagipula, ini masalah kecil untukku", Naruto mengeluarkan cengiran khasnya pada Hinata. Kemudian ia melangkah menuju bak cuci. Dicucinya semua piring dan sendok sampai mengkilat. Tak sampai disitu dicucinya pula semua alat masak yang digunakan oleh Hinata. Ia tak menyisakan satupun. Ia sudah bertekad tak akan merepotkan Hinata lagi walaupun gadis itu tak keberatan melakukannya sendiri. Hinata pun hanya memperhatikan Naruto yang sibuk di depan bak cuci. Bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil. Dalam hati ia merasa senang Naruto menjadi sedikit perhatian padanya. Bukan berarti dia mengaharapkan semua perhatian Naruto. Siapa yang tak senang orang yang kita cintai memberikan perhatiannya pada kita? Hinata mengingat kembali moment kebersamaan mereka belakangan ini. Bermula dari Naruto yang kebingungan dengan dokumen 'kenegaraannya', sampai sarapan bersama mereka hari itu. Baginya itu merupakan hal yang mungkin tak akan bisa didapatkan untuk kedua kalinya.
"Apakah begini rasanya jika sudah berkeluarga?", pikir Hinata."Setiap pagi aku akan selalu membuatkan sarapan untuk kami berdua. Lalu jika kami sudah punya anak, kami akan membesarkannya bersama-sam…", tiba-tiba Hinata tertegun. Menyadari apa yang dipikirkannya, dengan cepat wajahnya sudah berubah menajdi merah padam.
"A-Apa yang sedang kupikirkan? Tidak…aku harus berhenti memikirkannya!", jerit Hinata dalam hati. Kepalanya digeleng-gelengkan dengan cepat untuk menghilangkan semua yang ada dipikirannya tadi. Naruto yang tak menyadari itu masih tetap asyik mencuci. Untunglah, karena akan repot bagi Hinata untuk menjelaskannya pada pemuda itu.
"Lebih baik aku mencari hal yang bisa kulakukan", batinnya. Tanpa menimbulkan suara, Hinata melangkah keluar dari dapur, meninggalkan Naruto yang masih berkutat dengan spon dan sabun cuci. Begitu keluar dari dapur, tanpa sengaja pandangannya tertuju ke kamar Naruto. Tampak tempat tidurnya yang masih berantakan. Bukan hanya itu. Pakaian-pakaiannya tersebar di atas lantai. Kertas-kertas yang mereka pelajari kemarin berserakan di atas meja. Bahkan ada satu cup ramen instan yang sudah kosong pula di sana.
"Astaga...berantakan sekali. Padahal kemarin tidak separah ini", batin Hinata.
"Sebaiknya kurapikan saja", Hinata berjalan memasuki kamar Naruto. Dilipatnya selimut yang menjuntai dari tempat tidur ke lantai. Lalu disusunnya kembali letak bantal dan selimut sesuai tempatnya. Kemudian dipungutinya baju-baju yang tergeletak di lantai, lalu dilipatnya dengan rapi. Diletakannya baju-baju itu di atas tempat tidur. Sambil bekerja, sesekali terdengar senandung kecil dari bibir mungilnya. Semua dikerjakannya dengan senang hati dan tanpa rasa terpaksa.
Disisi lain Naruto telah selesai mencuci. Diletakannya semua peralatan yang sudah mengkilap itu pada tempatnya masing-masing.
"Haaah, akhirnya selesai juga", ucap Naruto lega.
"Hinata, kenapa kau hanya diam sa...-are?", Naruto melongo melihat Hinata sudah tak ada di meja makan.
"Kemana Hinata?", tanya Naruto pada dirinya sendiri. Kepalannya menoleh ke kiri dan ke kanan. Tapi gadis Hyuuga itu sudah tak ada di dapur.
"Apa dia keluar, ya? Sebaiknya kucari saja", Naruto pun berjalan meninggalkan dapur. Dan begitu keluar dari dapur, dilihatnya orang yang dicarinya itu tengah merapikan kertas-kertas di meja kamarnya.
"Naniii...? Kenapa dia malah ada di kamarku? Merapikan isinya pula", pikir Naruto terkejut. Tapi ia tak masuk ke dalam dan berusaha menghentikan Hinata. Ia malah menatap Hinata yang tengah sibuk. Hati kecilnya serasa dihembus angin semilir melihat gadis bermata lavender itu. Hinata belum menyadari keberadaan Naruto karena posisinya yang memunggungi pemuda itu.
"Haaah...entah kenapa, hatiku terasa damai melihatnya", Naruto tersenyum kecil. "Enak ya, jika punya keluarga. Selalu ada yang merapikan rumahmu saat kau tak ada. Dan setiap pagi kau tak hanya makan ramen saja, karena isterimu akan membuatkan sarapan untukmu...Matte! Aku ini mikir apa sih?", Naruto kaget sendiri. Ia menarik pipinya sampai dirinya sendiri merasa kesakitan. Ia heran kenapa hal seperti itu bisa masuk ke dalam pikirannya.
"Sepertinya aku masih kelelahan karena membaca ulang dokumen-dokumen itu semalam", Naruto memegang dahi sambil menggeleng-gelengkan kepala, menganggap dirinya konyol.
FLASHBACK ON
Matahari telah tenggelam di ufuk barat, menyisakan sedikit langit senja yang perlahan menghilang. Tampak Naruto yang tengah berbaring di kamarnya. Tangannya ia letakkan di belakang kepala sebagai bantal. Pikirannya penuh dengan berbagai kejadian hari itu. Terutama fakta yang baru diketahuinya, bahwa seorang gadis pewaris keturunan Hyuga ternyata telah jatuh hati padanya. Jujur, Naruto tak tahu harus berbuat apa. Ia sadar, dia harus memberikan jawabannya. Tapi itu tak semudah membalik telapak tangan. Bahkan rasanya lebih mudah menghajar Kaguya Otsusuki ketimbang memikirkan jawaban apa yang harus diberikannya pada Hinata.
"AARRGGHH, kepalaku pusing!", Naruto menarik-narik rambutnya sendiri. Ia benar-benar kehabisan akal.
"Sepertinya kau sedang banyak pikiran", sebuah suara tiba-tiba muncul dan mengejutkan Naruto. Suara itu berasal dari jendela yang sengaja dibuka olehnya.
"Suara itu...kaukah itu, Sasuke?", tanya Naruto sembari duduk.
"Hn", jawaban yang diberikan sudah membuktikan kalau memang Sasukelah yang ada di luar.
"Teme! Kau sudah kembali?", seru Naruto sambil mendekati jendela.
"Tak perlu berseru seperti itu", ucap Sasuke datar. Ia berdiri tepat di luar jendela.
"Bicaramu masih saja seperti itu", ujar Naruto kesal.
"Hn"
Naruto menghela nafasnya. Ia tak habis pikir kenapa sahabatnya yang satu itu masih mempertahankan gaya bicaranya yang menjengkelkan itu.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?", tanya Naruto.
"Hanya mampir", jawab Sasuke.
"Hmm...lalu misimu?"
"Baik-baik saja"
"Mana Sakura-chan?"
"Pulang ke rumahnya"
"Apa ada yang terluka?"
"Tidak"
"Kuso! Jawaban macam apa itu?!", umpat Naruto dalam hati.
"Bagaimana denganmu?"
"Eh?"
"Apa kau baik-baik saja?", Sasuke bertanya balik.
"Apa maksudmu? Aku tak mengerti", ucap Naruto bingung. Sasuke mengedikkan kepalanya ke arah meja, menunjuk kertas-kertas dokumen yang tersusun rapi.
"Ah...itu...yah, aku sudah mulai mengerti sebagian dari isinya", Naruto menggaruk belakang kepalanya.
"Sudah dua minggu dan kau baru mengerti sebagian?", sebuah sindiran dilontarkan oleh pemuda rambut raven itu.
"Urusai! Itu karena kau tidak ada untuk membantuku!", teriak Naruto kesal dengan tangan yang menunjuk wajah Sasuke, seolah-olah semua itu terjadi karena kesalahannya.
"Hmph...memang apa kepentinganku membantumu? Aku hanya disuruh menyerahkan kertas itu padamu", ujar Sasuke tak peduli.
"Sialan kau, teme...", Naruto menggeram kesal. Rasanya ia ingin menjejali mulut Sasuke dengan kertas-kertas yang diberikan padanya itu.
"Yang jelas, kau harus segera menghafal setiap isinya. Kita sudah tak punya waktu lagi", ujar Sasuke lagi. Ia berjalan menjauh dari jendela.
"Hee..apa lagi maksudmu? Jangan membuatku bingung!", seru Naruto. Sasuke pun menghentikan langkahnya.
"Apa kau ini sudah lupa?", Sasuke berkata tanpa menoleh.
"Lupa apa? Kau ini sedang bicara apa?", Naruto mulai frustasi dengan ucapan dari Uchiha terakhir itu.
"Pelantikan dirimu itu tinggal tiga hari lagi!"
Hening...
"Eh?", Naruto masih berusaha mencerna kalimat Sasuke.
Mari hitung...
Satu...
Dua...
Tiga...
"TIGA HARIIII?", Naruto jawdrop seketika.
"Dasar baka", Sasuke memegang dahinya sendiri.
"O-Oi...a-apa benar hanya tinggal tiga hari?", Naruto turun dari tempat tidur dan melesat memeriksa kalender.
"Ga-Gawat...ternyata benar", Naruto menelan ludah.
"Bagaimana ini? Aku belum hafal semuanya. Banyak yang masih belum kumengerti. Kukira waktunya masih panjang. Kalau sampai baa-san tahu, aku bisa ditendangnya sampai ke bulan", keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya. Ia sudah membayangkan Tsunade dengan wajah murkanya bersiap menendangnya dengan kekuatannya yang seperti monster itu.
"Oh, iya. Aku minta tolong pada Sasuke saja, mumpung dia ada disini", tiba-tiba saja ide itu muncul di benaknya. Naruto tersenyum penuh kemenangan. Sasuke sudah pulang dari misi, sehingga bisa membantunya.
"Oi, Sasuke...bisakah kau menolongku?", Naruto menatap penuh harap ke arah jendela tempat Sasuke berada. Tapi ternyata...
Kosong...
Tak ada siapapun disana...
"SASUKE-TEME! KENAPA DIA PERGI SEENAKNYA?"
FLASHBACK OFF
"Si brengsek itu...akan kubuat perhitungan dengannya nanti", ucap Naruto berapi-api.
"Naruto-kun?"
Indera pendengarnya menangkap sebuah suara yang tak asing lagi. Siapa lagi kalau bukan Hinata, karena memang hanya dia yang ada di rumahnya.
"Hi-Hinata?", Naruto yang semula penuh emosi kini mendadak grogi tatkala melihat gadis itu yang ternyata telah berada di depannya. Hinata memandang Naruto bingung.
"Kau kenapa, Naruto-kun?", pertanyaan yang cukup memojokkan bagi Sang Jinchuriki Kyubi itu.
"Ah, ya...e-etoo...tak ada...tak ada apa-apa", jawab Naruto asal kena. Pikirannya tidak menemukan jawaban yang tepat.
"Benarkah? Tapi Naruto-kun tampak bersemangat tadi"
"Bukan bersemangat sih...yah...aku hanya teringat kejadian kemarin"
"Kejadian kemarin?"
Naruto menceritakan kejadian yang dialaminya kemarin, mulai dari Sasuke yang datang secara tiba-tiba sampai perginya yang juga tiba-tiba. Bahkan emosinya sudah turun kembali memanas. Hinata mendengarkan semua luapan kekesalan Naruto dengan tenang tanpa menyela. Sesekali ia tersenyum geli ketika pemuda itu bercerita sambil memeragakan dengan tingkah khasnya.
"...dan ketika aku menoleh ke jendela, dia sudah menghilang begitu saja!", terang Naruto yang saat itu memeragakan dirinya tengah melihat kalender kamarnya. Hinata hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Jadi, aku memutuskan untuk membuat perhitungan jika bertemu dengannya. Bagaimana menurutmu, Hinata?", Naruto mengakhiri ceritanya dan duduk di sebelah Hinata yang sudah mendului.
"E-Eto...aku tak begitu yakin..tapi, mungkin Sasuke-kun lelah...lagipula dia kan baru pulang dari misi", ucap Hinata berkomentar.
"Ayolah! Itu bukan misi yang sulit! Dia hanya disuruh menemani Sakura-chan ke Suna! Aku juga bisa melakukannya", protes Naruto.
"Naruto-kun, apa kau lupa? Sasuke-kun itu Ketua ANBU. Dia juga punya tugas dan tanggung jawab di sana. Apalagi jelang hari pelantikanmu. Pasti banyak hal yang harus diurusnya. Sebagai Ketua ANBU, dialah yang bertanggung jawab atas keamanan dan kelancaran saat pelantikkan nanti. Tanggung jawab yang dibawanya pastilah besar!"
Naruto tertegun. Ia baru ingat kalau Sasuke bukanlah ninja biasa lagi. Dia Ketua ANBU sekarang, sebuah jabatan yang cukup penting di Konoha. Dan benar apa yang dikatakan oleh Hinata, tugas yang harus diembannya tentu sangat banyak menjelang hari pelantikan. Naruto merasa dirinya egois sekarang. Dia hanya mempedulikan dirinya sendiri, tanpa pernah peduli pada orang lain.
Naruto menghembuskan nafas panjang. Kenapa dia tak bisa berpikir seperti itu? Dia adalah calon Hokage selanjutnya! Orang nomor satu di Konoha! Orang yang akan memikul dan membawa masa depan desa! Kenapa masalah kecil seperti ini saja tak bisa diselesaikannya dengan kepala dingin?
"Payah...", ucap Naruto.
"Aku ini benar-benar payah. Ya kan, Hinata?"
Hinata yang tiba-tiba ditanya seperti itu hanya melongo tak mengerti. Hal itu membuat Naruto tersenyum.
"Aku ini memang tak pernah berpikir panjang. Selalu bertindak seenaknya sendiri. Tak jarang aku membuat teman satu timku mengalami kesulitan saat misi dulu"
Naruto mengenang kembali masa-masa dimana dia menjalankan misi bersama Sasuke, Sakura, dan Kakashi di Tim Tujuh. Kenangan saat mereka baru menjadi ninja untuk pertama kalinya, juga pertarungan pertama mereka. Saat itu misi mereka yang awalnya hanya menjadi pengawal berubah menjadi sebuah pertarungan dengan ninja yang bahkan kemampuannya setara dengan Kakashi sendiri. Dan kesalahan terbesar yang dibuatnya saat itu adalah dia dengan bodohnya bisa masuk ke daerah kekuasaan musuh, mengira bisa menolong Sasuke yang terjebak. Dan akibatnya Sasukelah yang bertindak menyelamatkan Naruto hingga dia sendiri terluka parah.
"Haah...mendokusai ne...aku harus mulai belajar mengendalikan emosiku", Naruto menerawang menatap langit-langit kamarnya. Hinata yang awalnya bingung tersenyum lembut saat tahu maksud Naruto. Ia merasa Naruto sudah mulai bisa berpikir secara dewasa. Tidak mengedepankan keegoisan dan emosi sebagai solusi. Dia hanya perlu seseorang untuk mengingatkannya saja.
"Kalau Naruto-kun mau, aku bisa membantumu lagi hari ini", tawar Hinata.
"Yah, sebenarnya aku...", sebelum Naruto menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara menghentikannya.
"DOK…DOK…DOK", suara ketukan ~ atau lebih tepatnya gedoran ~ pintu terdengar cukup keras. Naruto yang masih menatap langit-langit kamarnya langsung mengalihkan perhatiannya.
"Hm...Tamu, ya? Siapa lagi, ya?", tanya Naruto pada Hinata.
"Entahlah", Hinata menggelengkan kepalanya.
Sekali lagi suara gedoran terdengar, dan sekali ini lebih keras.
"Iya…iya…tak perlu menggedor sekeras itu, kan?", ucap Naruto kesal. Ia bangkit berdiri lalu berjalan membukakan pintu.
"Sakura-chan? Sasuke?", Naruto terheran saat melihat mereka berdualah yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Naruto, kau baik-baik saja kan? Rumahmu belum hancur, kan?", tanya Sakura tiba-tiba.
"Eh? Baik-baik apanya? Hancur kenapa?", ucap Naruto kebingungan.
"Kudengar kau disuruh mempelajari dokumen yang penting. Karena itulah aku datang untuk membantumu!", Sakura menerangkan.
"Ah...Souka...memang aku sedang mempelajarinya, tapi..."
"Sakura-san? Sasuke-kun?", perkataan Naruto terpotong karena suara Hinata yang tiba-tiba sudah muncul di belakangnya.
"Hinata?", Sakura berseru kaget.
"Sedang apa kau di sini?", ia tak menyangka akan melihat Hinata di rumah Naruto.
"Hinata! Kau mengagetkanku saja", Naruto mengelus dada. Hinata yang tiba-tiba bicara dibelakangnya nyaris membuat dirinya terlonjak.
"Go-Gomenasai", ucap Hinata meminta maaf.
"Yah, tak apa. Aku juga tak akan mati karenanya. Hahaha", balas Naruto sambil tertawa.
"Mereka mengabaikanku...", batin Sakura sweatdrop.
.
.
.
"Souka...jadi Hinata yang membantu Naruto selama kami tak ada...", ucap Sakura lega.
Kini mereka telah duduk bersila di kamar Naruto. Tentu saja sebagai tuan rumah yang baik, Naruto tak akan membiarkan tamunya berdiri di depan pintu saja. Walaupun orang itu adalah Sasuke sekalipun. Naruto menceritakan apa yang terjadi padanya selama Sasuke dan Sakura berada di Sunagakure.
"Yup...Hinata banyak sekali membantuku belakangan ini", ujar Naruto.
"Hee...benarkah?", Sakura menatap penuh arti pada Hinata. Mendapat pandangan seperti itu, Hinata hanya menunduk malu.
"Benar...kalau tak ada Hinata, mungkin aku sudah menyerah sekarang. Habis tugasnya berat, sih!"
"Hmm...begitu ya", Hinata menundukkan kepalanya semakin dalam. Kalimat yang dilontarkan Naruto hanya akan membuat Sakura semakin sering menggodanya. Tapi ia juga terlalu malu untuk membela diri.
"Tumben sekali Hinata mau main ke rumah Naruto", Sakura menyeringi.
"Bu-Bukan main...e-etoo...a-aku hanya dimintai tolong oleh Naruto-kun saja, jadi...", Hinata bingung mau menjawab apa. Rasa gugup membuatnya tak bisa berpikir jernih. Sedang Sakura hanya meringis saja karena berhasil membuat wajah Hinata memerah.
"Oh ya, Sakura-chan...kenapa kau menyangka aku akan menghancurkan rumahku sendiri?", ucap Naruto menyela. Sakura yang hendak menggoda Hinata lagi tak jadi melakukan niatnya.
"Soal itu...yah, tak ada yang bisa menduga apa yang akan kau lakukan, kan? Kusangka kau sedang depresi karena tugas itu. Tak tahunya malah sedang berduaan di sini", jawab Sakura enteng.
"Hei…memang tugasnya berat sih…tapi aku juga tak akan sampai menghancurkan rumahku sendiri!", Naruto memprotes. Sakura hanya mengangkat bahu.
"Yah, itu kan untuk antisipasi saja. Aku hanya khawatir kau jadi gila seperti yang Sasuke-kun bilang!"
"Matte! Jadi Sasuke yang mengatakan semua itu padamu?"
Sakura mengangguk. Sekarang jelas siapa pelaku yang telah membuat Sakura bertingkah seperti itu padanya. Seketika itu Naruto menatap Sasuke dengan deathglare terbaiknya.
"SASUKE! Kenapa kau bicara yang tidak-tidak pada Sakura-chan?", teriak Naruto.
"Itu hanya asumsiku saja. Sakura-lah yang menanggapinya dengan serius", jawab Sasuke datar.
"Tapi kau juga tak perlu mengatakan hal-hal seperti itu kan?"
"Siapa yang tahu? Seperti yang Sakura bilang...itu hanya untuk antisipasi dari tingkahmu yang bodoh itu"
"Kau ini...", Naruto mengepalkan tangannya menahan marah. Ia selalu merasa kesal dengan sikap dan ucapan Uchiha terakhir itu.
"Ngomong-ngomong, apa rencanamu hari ini, Naruto?", tanya Sakura tiba-tiba, membuat Naruto mengalihkan pandangan padanya.
"Jika kau tak ada rencana, kami berencana untuk membantumu, mumpung kami libur. Karena mungkin besok kami akan sibuk dan tak bisa bertemu denganmu"
"Rencana, ya?", Naruto memegang dagunya. Ia sebenarnya punya satu rencana yang ingin ia lakukan hari itu. Awalnya rencana itu hanya untuknya saja. Tapi ia lupa pada Hinata yang datang ke rumahnya dan kemunculan Sakura bersama Sasuke yang tak terduga membuatnya memikirkan ulang rencananya itu.
"Kurasa tak apa-apa jika ada mereka. Malah kebeteluan mereka libur", pikir Naruto.
"Yah, sebenarnya aku punya satu rencana hari ini", ujarnya kemudian.
"Eh? Memang kau mau apa?", Sakura menaikkan sebelah alisnya.
"Hehe...hari ini aku ingin...", Naruto tersenyum misterius. Sakura menatapnya penasaran. Sasuke hanya memejamkan matanya tak peduli. Hinata pun juga memandang Naruto ingin tahu.
"...Yang kuinginkan hari ini adalah...bersenang-senang!", seru Naruto penuh semangat.
Tak ada tanggapan apapun dari orang-orang disekelilingnya. Hening. Naruto mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Kenapa tak ada yang bersuara? Naruto heran. Ia menatap ke samping, ke arah Hinata tepatnya. Hinata tak menunjukkan ekspresi lain selain shock di wajahnya. Kedua tangannya membekap mulutnya sendiri. Naruto bingung melihatnya. Kenapa Hinata malah berekspresi seperti itu? Ia mengalihkan pandangannya pada Sasuke. Dilihatnya sekilas Sasuke menghembuskan nafasnya. Sepertinya tak secara langsung ia mengatakan bahwa dirinya seperti baru saja melakukan kesalahan. Ketika hendak melihat Sakura, Naruto merasakan aura-aura negatif yang membuatnya merinding. Dan saat ia menoleh tampak aura hitam menguar dari tubuhnya. Tangannnya terkepal dengan erat. Naruto merasa hal buruk akan terjadi padanya.
"Narutooo...", suara Sakura yang memberat membuat Naruto merasa yakin.
"Y-Ya?", jawab Naruto takut-takut.
"Kau...", Sakura mengangkat kepalan tangannya.
"KENAPA KAU BISA BERPIKIR HAL BODOH SEPERTI ITU?", Sakura memukul kepala Naruto sekeras mungkih sampai-sampai ia terjerembab di lantai. Muncul benjolan besar dari tempat Sakura memukul kepalanya.
"Naruto-kun!", pekik Hinata.
"Baka", komentar Sasuke.
"Ke-Kenapa?", ucap Naruto tak berdaya.
"Kau ini sebentar lagi akan jadi Hokage! Kau perlu belajar supaya bisa memerintah dengan baik! Kenapa kau malah berpikir ingin bersenang-senang di saat seperti ini?", ujar Sakura dengan kesal.
"Tapi...memang itulah yang ingin kulakukan", Naruto duduk sambil mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit.
"Kau ini tak mengerti kondisimu! Tiga hari lagi kau akan dilantik, Naruto! Memangnya kau sudah paham semua isi dokumen itu?"
"Y-Yah...belum semua sih, tapi..."
"Lihat? Kau sendiri pun bilang kalau kau belum paham. Bagaimana mungkin kau bilang ingin bersenang-senang dengan kondisimu yang seperti itu? Jika kau tak paham isinya, kau akan kesulitan saat sudah dilantik na..."
"Aku tahu itu!", Sakura terdiam bukan karena Naruto yang tiba-tiba memotong kalimatnya saja, tetapi karena ia juga setengah berteriak padanya.
"Aku tahu...sangat tahu malah...apa yang akan kulakukan ini dan resikonya", ujar Naruto dengan suara berat. "Tapi, Sakura-chan...kau tahu...aku sudah dua minggu membaca semua kertas-kertas itu dari pagi bahkan sampai pagi lagi. Aku sampai lupa makan, lupa mandi, bahkan aku sampai lupa rasa Ramen milik Paman Teuchi. Semua itu kulakukan karena aku tahu aku tak akan bisa hafal isinya jika hanya kubaca satu kali. Dan baru dua hari ini ada orang lain yang membantuku", Naruto melirik Hinata di sebelahnya, seolah ingin menegaskan kalau dialah yang dimaksudnya.
"Dan jujur saja...aku lelah! Aku lelah terus-terusan duduk disini! Aku bosan melihat kertas yang hanya ada hurufnya saja! Kepalaku serasa seperti balon yang mau meletus karena kebanyakan angin! Dan aku juga tak ingin membuat orang lain susah hanya karena diriku!"
Semua yang ada disana tertegun ~minus Sasuke~ setelah mendengar isi hati Naruto yang sebenarnya. Sakura menatap sahabat kuningnya itu dengan iba. Ia tahu jika Naruto akan kesulitan dalam mempelajari dokumen itu. Tapi tak disangkanya dia bahkan sampai lupa bagaimana rasa ramen favoritnya.
"Naruto-kun…", Hinata juga merasakan hal yang sama seperti Sakura. Dari luar Naruto tampak normal saja seperti biasa. Tapi ia tak tahu kalau pria yang dicintainya itu memiliki masalah seperti itu. Sedang Sasuke sendiri tak memberi komentar apapun. Pandangannya pun tak bisa diartikan.
"Sakura-chan…dan kau, Sasuke…arigatou karena kalian sudah mau datang ke sini dan membantuku…tapi, kalian juga pasti masih lelah karena baru kemarin kalian tiba di Konoha. Kenapa kalian tidak ikut bersenang-senang saja bersamaku? Hitung-hitung sebagai ucapan selamat datang pada kalian yang baru pulang!"
Naruto mengeluarkan cengiran lima jari andalannya. Apa yang baru saja diucapkannya seakan-akan hilang dibawa angin. Atmosfer yang awalnya kaku itu mendadak saja berubah karena cengirannya.
"Ya ampun, kau ini...", Sakura geleng-geleng kepala melihat perubahan sikap mendadak Naruto.
"Ada apa denganmu? Sepertinya kepalamu membentur sesuatu. Ucapanmu itu seperti kau hanya duduk di belakang meja sambil membaca saja", Sakura tersenyum geli menggoda teman satu teamnya itu.
"Memang seperti itulah kerjaanku sekarang...hihihi...", sahut Naruto sambil tertawa. Susana pun berubah riang. Hinata pun ikut tertawa kecil melihat Naruto. Bahkan Sasuke pun menaikkan sudut bibirnya melihat suasana di sana kembali normal.
"Baiklah...karena kau yang menginginkannya, kami akan menurutinya. Tapi kau tetap tak boleh melupakan tugasmu, Naruto!", ucap Sakura.
"Yokai!", Naruto mengacungkan jempolnya.
"Yosh! Mari kita bersenang-senang! Ayo, Sasuke-kun!", Sakura meraih tangan Sasuke dan menariknya supaya berdiri.
"Jangan menarikku sembarangan", ucap Sasuke datar.
"Ah, gomen…gomen", sahut Sakura bersalah.
Sasuke berjalan keluar diikuti Sakura dibelakangnya, meninggalkan Naruto dan Hinata yang masih terduduk berdua. Hinata pun berdiri dan hendak keluar, tapi suara Naruto menghentikannya.
"Hinata...", panggil Naruto. Hinata menoleh menatap pria kuning itu.
"Nani?", tanya Hinata.
"Aku ingin mengucapkan ini secara khusus untukmu..."
Tiba-tiba saja Naruto tersenyum misterius. Hinata yang melihatnya merasa heran.
"Me-memangnya apa?"
Senyuman Naruto berubah menjadi cengiran mendengar ucapan Hinata.
"Aku ingin bilang..."
"..."
"EH?", mata Hinata membulat sempurna.
"Hihihi...nah, ayo kita susul Sakura-chan. Jangan biarkan mereka bersenang-senang tanpa kita!"
Naruto memegang tangan Hinata dan menariknya keluar rumah. Wajah Hinata merah padam karena perlakuan Naruto itu. Ditambah dengan kalimat yang diucapkan Naruto padanya.
"Arigatou atas perhatianmu selama ini...Hinata"
.
.
.
TBC
Yo, minna-san...arigatou karena sudah sampai sini
Gak banyak komentar ah...gak tau mau komentar apa juga :v
Yang penting jangan lupa jejaknya
ARIGATOU GOZAIMASU
