Naruto Afterwar
Author : Hamano Akira
Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto
Pairing :NaruHina, SasuSaku
Warning : Typo, gaje, aneh, dll
Chapter 6
"Ohayou, Naruto-san"
"Ohayou, Naruto...kau tampak bersemangat hari ini"
"Ah, Naruto-senpai...ohayou"
Naruto melempar senyum pada setiap orang yang menyapanya. Tak lupa dibalasnya juga sapaan mereka. Setiap orang yang berpapasan dengannya selalu menyunggingkan senyum sambil memberi salam. Bahkan ada pula yang mengajaknya berjabat tangan. Alhasil Naruto dibuat kikuk karenanya. Ia masih belum terbiasa dengan perubahan atmosfer yang terjadi pada perang usai, semua orang tahu bahwa Naruto memiliki andil besar dalam menyelamatkan dunia. Sebelum itupun Naruto telah menjadi tokoh penyelamat desa dari Invasi Ketua Akatsuki, Pain. Dua faktor tersebut sudah lebih dari cukup untuk mengubah sikap penduduk Konoha padanya.
Naruto mengangguk pada dua orang anak kecil yang tersenyum manis padanya. Tak lupa dengan senyum andalannya. Dibelakangnya Hinata, Sakura dan Sasuke memperhatikan tingkah polahnya. Ekspresi ketiganya tampak beragam melihat tingkah Naruto. Ada yang tersenyum senang, geleng-geleng kepala, bahkan yang tak peduli sekalipun. Bisa ditebak siapa saja pemilik dari masing-masing ekspresi itu.
"Hei Naruto...", panggil Sakura. Mereka sekarang berada di jalan yang tidak terlalu ramai. Jadi mereka bisa lebih enak mengobrol.
"Ada apa, Sakura-chan?", Naruto menoleh dengan senyum tiga jarinya.
"Aku tahu kita akan menemanimu bersenang-senang, tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi kenapa kita hanya berjalan di sekitar desa saja sejak tadi?"
Sakura sudah dari tadi ingin menanyakan hal itu. Sejak keluar dari rumah Naruto, pemuda itu hanya membawa mereka berkeliling desa saja.
"Eh? Memang kenapa?", Naruto memiringkan kepalanya tak mengerti.
"Kukira kau ingin menyegarkan pikiranmu dengan pergi ke tempat yang tenang atau tempat-tempat favoritmu setidaknya...", ujar Sakura.
"Hmm…", Naruto memasang mode berpikir sembari memegang dagunya sendiri.
"Aku memang berencana untuk datang ke tempat-tempat itu…tapi saat ini aku ingin melihat-lihat desa lebih dulu""
"Hee…", Sakura menautkan alisnya bingung. Ia merasa pikiran Naruto agak kurang beres. Korslet, barangkali? Mana ada orang yang ingin menenangkan pikiran malah datang ke tempat yang ramai? Apalagi dengan orang-orang yang terus saja memanggil namamu. Bukannya itu jelek. Bagus malah. Hanya saja momennya benar-benar kurang pas. Sakura juga ingin santai karena ia masih merasa lelah. Dan tempat yang ramai bukanlah tempat untuk bersantai.
"Apa kau masih lama jalan-jalannya?", Sasuke tiba-tiba saja angkat bicara. Naruto dan Sakura menoleh.
"Mungkin. Memang kenapa?", sahut Naruto.
"Aku mau pergi", ucap Sasuke datar.
"Heee...Pergi? Kemana?", tanya Naruto terkejut.
"Mencari tempat yang tenang", jawab Sasuke. "Aku tak terlalu suka tempat yang ramai"
"Oh, ayolah, aku masih belum selesai melihat-lihat de...OI!, Matte, Sasuke!", Naruto berteriak kesal pada Sasuke yang berjalan pergi tanpa menggubris dirinya. Naruto pun berlari mengejar, meninggalkan Sakura dan Hinata di belakang.
"Ya ampun...", Sakura memegang dahinya sendiri. "Sudah kuduga akan begini jadinya"
Sedangkan Hinata hanya memperhatikan Naruto yang tengah mengejar pemuda berambut raven itu.
"Nee...Hinata"
"Hm?", Hinata mengalihkan perhatiannya saat Sakura menyebut namanya.
"Ada apa, Sakura-san?"
Tampak Sakura tersenyum penuh arti padanya. Hal itu membuat Hinata merasa heran.
"Sudah sejauh mana hubungan kalian berdua?", tanyanya.
"He?, muncul dua rona tipis di wajahnya. "Hu-Hubungan? Hubungan apa?"
"Dari wajah merahmu, aku tahu kau mengerti maksudku"
Hinata menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang kentara sekali memerah. Dan tentu saja ia tahu maksud pembicaraan Sakura.
"A-Ano...a-aku hanya...", Hinata kebingungan. Ia tak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk menjawab.
"Apa dia sudah menyadari perasaanmu?", tanya Sakura lagi.
"E-Eto...E-Entahlah...", Hinata menjawab sekenanya.
"Haah...sepertinya susah juga untuk membuka pikirannya itu, ya...", Sakura menghela nafas.
"Tapi kau jangan sampai menyerah ya, Hinata! Aku tetap yakin suatu saat kau pasti bisa membuatnya sadar!"
Sakura menepuk kedua bahu Hinata untuk memberinya semangat. Hinata tersenyum lembut. Terkadang ia merasa iri karena kepercayaan diri yang dimiliki oleh gadis berambut pink itu.
"A-Arigatou, Sakura-san", ucap Hinata dengan senyum kecilnya. Sakura juga balas tersenyum sembari mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi Naruto itu memang benar-benar tidak peka, ya! Lihat saja bagaimana reaksinya nanti saat sudah jatuh hati padamu. Mungkin ia akan mengejar-ngejarmu bak mengejar pencuri gulungan rahasia desa!"
"S-Sakura-san, kurasa kata-katamu sedikit berlebihan", ucap Hinata sweatdrop.
"SIFATMU ITU BENAR-BENAR MENYEBALKAN, SASUKE!"
Obrolan kedua gadis itu teralihkan oleh sebuah teriakan yang cukup nyaring
"Hn. Terserah kau saja"
"Apa-apaan nada bicaramu itu? Bicaralah yang benar!"
"Kurasa tak ada yang perlu kubicarakan denganmu"
"NANI?"
Tak jauh dari tempat mereka berdiri terlihat Naruto dan Sasuke yang menjadi sumber suara. Keduanya sudah memulai kembali kebiasaan lama mereka.
"Ya ampun, mereka ini…bisanya bertengkar saja jika saling berdekatan", ucap Sakura sembari menghembuskan nafasnya.
"Bukannya Sakura-san juga sering begitu jika sedang bersama Ino-san?", ujar Hinata mengomentari.
"Eh…? Y-Yah…memang sih..hehe", ucap Sakura sembari tertawa kikuk.
.
.
.
"TSUNADE-SAMA!", suara teriakan yang cukup keras terdengar di depan pintu sebuah kedai, membuat semua pengunjung yang berada di sana menoleh. Pelakunya adalah Shizune. Terlihat nafasnya yang naik turun, tanda dia baru saja berlari. Matanya menjelajahi setiap sudut kedai, sampai ia menemukan orang yang dicarinya di salah satu pojok ruangan.
"Disini anda rupanya! Aku sudah mencari anda kemana-mana! Tolong jangan pergi seenaknya begitu!", omel Shizune . Didekatinya wanita yang notabenenya sudah layak dipanggil sebagai 'nenek' itu.
"Haah? Ada apa, Shizune? Apa ada sesuatu yang penting?", Tsunade baru menolehkkan kepalanya pada anak muridnya yang pertama itu setelah dekat. Nada bicaranya terdengar sedikit angkuh. Tatapan matanya sayu, dan terdapat dua rona merah di pipinya. Singkat cerita, ia sedang mabuk.
"Tsunade-Sama! Sudah berapa kali saya katakan jangan minum sake terus! Anda ini seorang Hokage!", Shizune mengomel untuk kedua kalinya.
"Heh? Memangnya kenapa? Apa seorang Kage tidak boleh minum sake? Toh sebentar lagi aku akan pensiun!", bantah Tsunade.
"Tapi anda sekarang masih menjadi Hokage! Tetap saja itu tidak boleh! Sebagai seorang Hokage, anda seharusnya menjadi panutan untuk semua orang di Kono-"
"Ya…Ya! Sekarang katakan padaku untuk apa kau datang kemari!", Tsunade memotong kalimat Shizune cepat. Ia sudah bosan mendengar celotehannya setiap kali ketahuan sedang minum. Pengunjung di kedai itu pun sudah terbiasa dengan hal semacam itu. Bukan rahasia lagi kalau Hokage Kelima mereka itu adalah penjudi dan pemabuk berat sebelum menjabat sebagai Hokage, walaupun sekarang sudah banyak berkurang. Shizune menghembuskan nafasnya. Terkadang ia benar-benar merasa lelah terus-terusan menghadapi kelakuannya.
"Para tetua ingin menemui anda sekarang", walau terlihat sedikit kesal, Shizune menuruti perintah Tsunade untuk mengatakan tujuannya mencari Tsunade.
"Mau apa lagi orang-orang tua itu? Bisanya menggangguku saja!", omel Tsunade kesal.
"Mereka mungkin ingin membahas masalah pelantikkan. Bukankah sudah hampir waktunya?", terka Shizune.
"Apa lagi yang mau dibahas? Semuanya sudah kuatur! Tak ada lagi yang perlu dibahas!"
"Entahlah. Tapi sebaiknya anda segera menemui mereka"
"Cih, awas saja jika hal-hal tidak penting yang mereka bicarakan, mereka akan segera kubuat menyatu dengan tanah!", Tsunade melontarkan sumpah serapahnya. Shizune hanya bisa sweatdrop mendengarnya.
"Kita pergi, Shizune! Lebih cepat selesai, maka lebih cepat pula aku minum sake lagi!", teriak Tsunade dengan tak elitnya.
"Ba-Baik. EH? Tsunade-sama! Sudah kuilang anda tak boleh minum sake!", seru Shizune sembari mengekor Tsunade yang sudah berjalan melewati ambang pintu, disaksikan seluruh pengunjung kedai.
.
.
.
"Jadi, mau kemana kita sekarang?", tanya Naruto dengan bibir mengerucut. Nampak dikepalanya sebuah benjolan yang cukup besar.
"Kemana saja asal tidak banyak orangnya. Lagipula bukankah sudah cukup jalan-jalannya? Sekarang kita akan cari tempat untuk bersantai!", jawab Sakura dengan senyum ceria, tapi lebih mirip seringaian di mata Naruto. Ia baru saja mendapat sebuah 'tinju kasih sayang' dari Sakura dalam upayanya untuk melerai pertengkarannya dengan Sasuke. Naruto merasa tidak terima karena hanya dirinya saja yang mendapat pukulan itu.
"Kenapa Sasuke tidak dapat juga?", teriak Naruto dengan tangannya menunjuk tepat ke muka orang yang dimaksud.
"Karena memang itu spesial hanya untukmu. Berterima kasihlah padaku…hehehe…", begitulah jawaban yang diberikan Sakura saat Naruto memprotes. Alhasil Naruto pun hanya bisa pasrah menerimanya.
"Tapi, Sakura-chan, kemana tepatnya kita ingin pergi?", tanya Naruto lagi.
"Hmm…", Sakura berpikir sejenak.
"Entahlah. Aku tak tahu. Bagaimana denganmu, Hinata?", Sakura melempar pada Hinata.
"Eh? E-Eto…kemana ya? Aku juga tidak tahu", jawab Hinata sambil menggelengkan kepala.
"Hee? Kalau begitu, apa kau punya pendapat, Sasuke-kun?", Sakura menatap ke arah Sasuke.
"Tidak", jawab Sasuke singkat.
"Oh, ayolah…apa kalian semua tak ingin bersantai?", keluh Sakura dengan kepala tertunduk.
"Anoo…Sakura-chan? Bolehkah aku memberi usul?", ucap Naruto secara tiba-tiba.
"Bagaimana kalau kita pergi kesana?", lanjutnya sambil menunjuk tempat yang dimaksudkannya.
"Kesana?", ujar Sakura setelah melihat arah telunjuk sahabatnya itu.
"Yup. Aku ingin pergi kesana", jawab Naruto mantap. "Disana jauh dari keramaian dan tak banyak orangnya. Kurasa itu tempat yang cocok untuk kita"
Sakura menatap kembali tempat yang ditunjuk oleh Naruto.
"Benar juga, ya? Kenapa sampai tak kepikiran?", ujar Sakura heran pada dirinya sendiri. Naruto nyengir mendengar komentarnya.
"Kurasa tak ada salahnya kita mencoba kesana. Apa ada yang keberatan?", tanya Sakura pada Hinata dan Sasuke.
"Ti-Tidak. Aku tidak keberatan", sahut Hinata dengan gelengan kepala.
"Terserah", ujar Sasuke datar.
"Yosh. Kalau begitu, ayo kita kesana!", ucap Sakura bersemangat.
"Yosha", teriak Naruto dengan mengeluarkan senyuman tiga jari andalannya.
.
.
.
Di dalam sebuah ruangan yang kita kenal sebagai Kantor Hokage, Tsunade tengah duduk bersandar pada kursi kebesarannya sembari menatap pemandangan Desa Konoha yang tersuguh di depannya. Tatapan matanya menjelejahi setiap sudut desa dengan seksama, memperhatikan gerak-gerik warga desanya yang sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk menyambut hari yang sangat penting yang tinggal menghitung hari. Hari pelantikan Uzumaki Naruto. Orang yang telah menjadi ikon baru pahlawan Konoha itu akan segera menggantikan dirinya untuk menempati kursi yang sekarang masih didudukinya itu. Mengingat bagaimana dulu Naruto yang masih bocah selalu berteriak-teriak menyatakan dirinya yang ingin menjadi seorang Hokage yang hebat melebihi para pendahulunya membuat Tsunade ingin tertawa. Ia masih tak percaya anak yang dulunya masih ingusan itu sekarang benar-benar akan menggapai impiannya. Padahal dia adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mengangap bahwa hal itu hanyalah omong kosong belaka. Tetapi malah dirinya sendirilah yang menyerahkan jabatan itu pada Naruto. Aneh, tapi memang begitulah adanya.
"Tok...tok...tok"
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Tsunade.
"Masuk", ucap Tsunade mempersilakan.
Pintu perlahan-lahan terbuka akibat gaya dorong yang diberikan oleh orang yang berada diluar.
"Tsunade-sama", dan ternyata Shizunelah yang berada di balik pintu itu.
"Ah, ternyata kau", mengetahui siapa yang telah mengganggu lamunannya, Tsunade kembali menempatkan dirinya pada posisi semula, kali ini dengan tangan yang menopang kepalanya pada sisi jendela.
"Apa semua berjalan lancar?", tanya Shizune sembari berjalan masuk. Tsunade yang mengerti arah pembicaraan Shizune mengangguk singkat.
"Ya. Tak ada masalah", jawab Tsunade.
"Begitukah?", Shizune menatap Tsunade intens.
"Orang-orang tua itu hanya ingin memastikan segala persiapannya telah selesai. Pembicaraan tak penting", ucap Tsunade dengan nada meremehkan.
"Yah, aku yakin maksud mereka baik", ujar Shizune menanggapi. Tsunade hanya mendengus mendengar tanggapan muridnya itu.
"Tapi, ada ucapan mereka yang membuatku sedikit kepikiran", Tsunade berkata dengan melipat tangannya di depan dada. Shizune menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Apa itu, Tsunade-sama?", tanyanya.
"Sebenarnya…"
Sebelum Tsunade sempat bicara, suara ketukan pintu kembali terdengar, membuat semua yang ada di ruangan itu mengalihkan perhatiannya.
"Masuklah", ujar Tsunade.
Pintu terbuka dengan lebar, dan nampaklah seorang laki-laki dengan pakaian ninja lengkap, berambut putih melawan graviitasi, dan masker diwajahnya. Salah satu ninja elite Konoha, Hatake Kakashi.
"Ah…Jadi, kau sudah kembali, Kakashi?", ucap Tsunade sebagai ucapan salam.
"Begitulah", jawab Kakashi sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Jadi, bagaimana? Apa semuanya lancar?", Tsunade mengubah posisi duduknya menghadap Kapten Tim 7 itu.
"Ya. Semuanya lancar sampai ke tujuan", ujar Kakashi kalem.
"Begitu…Lalu, bagaimana tanggapan mereka?"
"Mereka merespon dengan baik. Dan mereka memastikan diri akan hadir untuk pelantikan"
"Semuanya?"
"Tanpa kecuali"
Tsunade tersenyum simpul setelah mendengar laporan dari Kakashi.
"Baguslah kalau begitu", ujarnya.
"Syukurlah, Tsunade-sama. Semuanya berjalan lancar", Shizune memberi ucapan selamat.
"Ya. Tak kusangka mereka semua akan hadir. Terutama si Ohnoki itu. Dia itu sebenarnya sudah harus diganti. Mau sampai kapan dia itu menjabat jadi Tsuchikage?", tanggap Tsunade.
"Yah, kalau itu sih, kurasa tinggal masalah waktu saja. Beliau juga pasti sudah memikirkannya", ucap Shizune.
"Hm, bahkan Raikage juga akan ikut hadir. Pelantikan kali akan menjadi pelantikan yang bersejarah", Tsunade menopang dagu dengan menautkan kedua tangan pada meja kerjanya.
"Kurasa anda benar. Belum pernah ada pelantikan seorang kage dihadiri oleh kage dari masing-masing desa seperti ini", ujar Shizune membenarkan. "Tapi, bukankah itu juga atas usul dari anda?"
"Memang, aku yang mengusulkan hal itu. Aku ingin membuat Naruto menjadi simbol perdamaian bagi lima negara besar. Lagipula aku juga melakukannya sebagai bentuk penghargaan atas apa yang telah dilakukannya selama ini. Kurasa tak akan ada yang menolaknya", ucap Tsunade. Shizune tersenyum mendengar penuturannya. Begitu pula dengan Kakashi, walau tak nampak. Naruto telah melakukan banyak hal bagi Konoha, dan tak perlu dipungkiri lagi bahwa dia juga sudah berjuang untuk menyelamatkan dunia ini. Sudah sepantasnya ia mendapatkan suatu penghargaan.
"Tetapi…", Tsunade kembali berucap, membuat kedua orang itu berhenti tersenyum.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Kakashi", Tsunade menatap serius Kakashi, membuat yang ditatap merasa sedikit kaget..
"Hm? Kenapa tiba-tiba…"
"Ini penting", potong Tsunade cepat, membuat Kakashi tak melanjutkan ucapannya.
"Baiklah. Aku mendengarkan", ujar Kakashi dari balik topengnya.
.
.
.
"HEEE? Yang benar?", teriak Naruto.
"Tentu saja benar! Untuk apa aku membohongimu?" , ucap Sakura dengan perasaan sedikit tersinggung.
"Bu-Bukan begitu! Tapi…Apa benar yang kau katakan itu, Sakura-chan? Para kage akan datang?", tanya Naruto dengan kagetnya.
"Tsunade-sama sendiri yang mengatakannya padaku! Dia juga yang mengatakan bahwa ia menyuruh Kakashi-sensei untuk mengantar surat undangannya secara pribadi! Kalau kau tak percaya, tanyakan sendiri padanya!", sahut Sakura dengan memasang sikap tak peduli.
"A-Ano…Ku-Kurasa Naruto-kun bukannya tak percaya padamu, Sakura-san. Mungkin Naruto-kun hanya kaget", ujar Hinata menenangkan.
"Hinata benar, Sakura-chan! Ayolah, jangan seperti itu! Maafkan aku, ya? Aku hanya kaget saja tadi", Naruto menyatukan telapak tangannya di depan kepala, meminta maaf pada Sakura yang tampaknya sedikit merajuk. Sasuke yang sejak tadi hanya duduk diam sambil memperhatikan juga nampaknya tak tertarik untuk bergabung dalam pembicaraan mereka bertiga. Berawal dari Sakura yang memberitahu Naruto mengenai para kage yang akan datang menghadiri pelantikannya, serta alasan Kakashi menghilang selama beberapa minggu terakhir ini. Dan dari pembicaraan itu juga terkuak satu fakta bahwa Naruto tak mengetahui satupun hal itu.
"Haah…Baiklah, baiklah", ucap sakura memaafkan. Naruto bersorak girang mendengarnya.
"Konyol", ujar Sasuke melihat tingkah sahabatnya itu, dibalas juluran lidah dari yang bersangkutan.
"Go-Gomenne, Naruto-kun. Ku-Kukira kau sudah tahu…makanya aku…", ucap Hinata terbata. Ia merasa sedikit bersalah karena selama bebrapa hari ini dialah yang paling sering bersama Naruto. Tapi sebenarnya itu juga bukan salahnya. Mana dia tahu akan hal seperti itu, kan?
"Itu bukan salahmu, Hinata. Aku memang jarang keluar rumah. Yah, itu terjadi semenjak ada seorang 'pesuruh' yang memberi kertas-kertas terkutuk itu", ucap Naruto dengan memberi penekanan sembari melirik pada Sasuke, karena memang dialah yang dimaksudnya.
"Kalau kau mau protes, silakan bicara pada Hokage. Aku hanya melaksanakan tugasku", sahut Sasuke yang merasa kalimat itu diarahkan padanya.
"Sudahlah, kalian berdua. Tidak bisakah kalian tidak bertengkar sekali saja dalam sehari? Kita tidak akan pernah bisa liburan dengan tenang kalau kalian seperti itu terus", Sakura menengahi pertengkaran rekan setimnya itu. Alhasil Naruto dan Sasuke pun saling membuang muka sebagai tanggapan. Sakura hanya bisa menghela nafasnya melihat tingkah mereka.
"Padahal kita sudah mendapat tempat yang tenang. Mereka masih saja ribut", keluh Sakura.
"Bu-Bukankah artinya mereka akrab? Itu sering terjadi pada Kiba-kun dan Shino-kun", ujar Hinata menenangkan Sakura.
"Ya, memang sih. Tapi terkadang hal itu juga membuatku susah", sahut Sakura. Hinata hanya tersenyum kecil sebagai tanggapan, karena ia juga mengerti bagaimana rasanya.
"Tapi, tempat ini memang tenang, yah. Dan juga tak ramai seperti di desa", ucap Sakura mengganti topik pembicaraan. Hinata mengangguk setuju.
"Benar. Dan juga banyak angin disini, jadi terasa lebih sejuk", ujar Hinata menanggapi. Ia memejamkan matanya, merasakan hembusan angin lembut yang serasa membelai tubuhnya.
"Tumben sekali kau punya ide yang cemerlang, Naruto. Biasanya yang ada di pikiranmu itu hanya ramen saja, kan?", ucap Sakura pada Naruto dengan terkikik.
"Hehehe…Yah, aku memang ingin kemari sejak tadi", jawab Naruto sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Hooo…memangnya kau mau apa datang ke sini?", tanya Sakura penasaran. Hinata juga menatap pemuda itu dengan pandangan bertanya. Hanya Sasuke saja yang nampak tidak peduli, tapi diam-diam dia juga ikut mendengarkan.
"Aku ingin melihat pemandangan yang indah disini"
Baik Sakura maupun Hinata sama-sama melongo mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Naruto. Bahkan Sasuke pun melirik mealui ekor matanya karena mendengar ucapan pria berambut kuning itu. Sedang Naruto sendiri malah cengar-cengir melihat reaksi kawan-kawannya itu.
"Pemandangan yang indah?", ulang Sakura. "Apa maksudmu?", tanyanya bingung.
"Apa kau tak melihat pemandangan yang ada di hadapanmu itu, Sakura-chan?", Naruto balik bertanya. Sakura menatap Naruto dengan tatapan yang seakan-akan ingin mengatakan : "Apa kau ini sedang terkena Genjutsu?".
"Pemandangan apa? Yang bisa kulihat saat ini hanyalah atap rumah saja, Naruto", ujar Sakura tak mengerti.
"Itu dia, Sakura-chan!", Naruto menjentikkan tangannya mendengar jawaban Sakura. "Dari atas sini kau bisa melihat semua atap rumah di Konoha sepuasnya!"
"Heee? Apa sebenarnya maksudmu itu? Aku tak mengerti sama sekali! Untuk apa kau melihat atap rumah-rumah Konoha dari atas tebing Patung Wajah Hokage?", ucap Sakura kebingungan.
Sesuai dengan obrolan mereka, saat ini mereka berada di atas tebing Patung Wajah Hokage atas usulan dari Naruto dan keinginan Sakura, untuk mencari tempat yang tenang dan menjauh dari hiruk pikuk keramaian orang-orang di desa yang sedang asyik-asyiknya mempersiapkan segala keperluannya untuk menyambut Hokage mereka yang baru nanti. Mereka tengah duduk santai sambil mengobrol berbagai macam hal, bahkan Sasuke juga ikut ngobrol, walaupun lebih banyak mendengarkan daripada bicara.
"Naruto! Jawab pertanyaanku!", paksa Sakura karena Naruto tak kunjung memberikan jawaban.
"Sakura-chan…", panggil Naruto tiba-tiba.
"Eh? Na-Nani?", ucap Sakura terkejut karena Naruto tiba-tiba memanggilnya.
"Kau tentunya tahu kalau menjadi Hokage adalah impianku", ujar Naruto.
"Semua orang di Konoha juga pasti tahu impianmu itu, Baka! Karena sejak kecil kau selalu berteriak-teriak pada setiap orang bahwa suatu saat nanti kau ingin menjadi Hokage yang hebat melebihi Hokage yang lain!", sahut Sakura kesal karena tak mendapat jawaban yang diinginkannya. Naruto hanya tertawa mendengar ucapan sahabat pinknya itu.
"Iya, ya…Kau benar juga", ujar Naruto dengan tampang tanpa dosa.
"NARUTO! TAK USAH BERTINGKAH SOK KEREN DAN JAWAB AKU ATAU AKU AKAN MENGIRIMMU KE RUMAH SAKIT!"
"Ba-Baik…Baik…Akan kukatakan", ucap Naruto bergidik melihat aura-aura hitam yang menguar dari tubuh Sakura dan sebuah kepalan tinju yang siap dihantamkan ke wajahnya.
"Aku ingin datang kemari hanya untuk merenung. Itu saja", ucapnya lagi.
"Merenung?", ulang Sakura. Naruto mengangguk.
"Yup. Atau mungkin 'persiapan hati' lebih tepatnya"
"Hooo…jadi calon Hokage kita ini takut menghadapi pelantikannya sendiri?", ledek Sakura dengan senyum jahilnya.
"Aku bukannya takut! Hal seperti itu tak akan pernah membuatku takut!", protes Naruto tak terima.
"Lalu, apa yang membuatmu ingin merenung di tempat ini?", tanya Sakura.
"Sakura-chan, sebentar lagi aku ini akan jadi Hokage! Orang yang akan menjadi pemimpin di desa Konohagakure ini! Lihatlah di depanmu! Desa seluas itulah yang akan berada di bawah pimpinanku. Bagaimana jadinya jika aku tak melakukan persiapan mental dari sekarang? Aku tak ingin semuanya jadi berantakan gara-gara kecerobohanku atau hal-hal bodoh yang sering kulakukan", sahut Naruto.
"Jadi, kupikir dengan melihat-lihat desa secara menyeluruh, aku bisa lebih mempersiapkan diriku agar saat tiba waktunya, aku sudah siap dan pantas untuk menyandang gelar Hokage nanti. Yah, kira-kira begitulah yang kupikirkan"
Mau tak mau Sakura cukup terkejut mendengar penuturan Naruto. Hinata yang nampak tak heran dengan ucapan Naruto itu. Ia tersenyum senang. Karena ia sudah tahu bahwa jalan pikiran pemuda itu sudah mulai tidak mereka sekarang tahu bahwa orang yang mendapat predikat ninja penuh kejutan nomor satu itu sudah mulai bisa menggunakan akal sehatnya.
"Naruto…", panggil Sakura.
"Hm? Ada apa, Sakura-chan?"
"Ucapanmu barusan itu…"
"Apa? Keren, ya? Tentu saja! Aku ini kan calon Rokudaime Hokage", ujar Naruto dengan percaya dirinya.
"Bukan", sahut Sakura.
"Ha? Lalu?"
"Ucapanmu itu…bukannya malah membuktikan kalau kau itu sebenarnya sedang minder?"
"He?"
Sakura tak bisa menahan tawanya kala melihat wajah Naruto yang awalnya sumringah berubah ekspresi seperti orang bodoh. Naruto sendiri nampaknya belum menyadari apapun mengenai ucapannya barusan. Namun itu hanyalah beberapa detik sebelum otaknya telah selesai mengolah data yang baru saja diterimanya.
"NANIII?", dan teriakannya itu adalah hasil dari pengolahan data tersebut.
"M-Ma-Matte! Bu-Bukan itu maksudku! A-Aku hanya…", ucapannya yang tergagap itu malah membuat tawa Sakura makin keras.
"Kau malah mirip Hinata sekarang! Hahahaha", ledek Sakura di sela-sela tawanya, membuat Naruto mati kutu. Hinata sendiri malah ber-blushing-ria karena menjadi objek ledekan Sakura. Terlebih ia juga tak tahu harus berbuat apa. Karena jika dipikir-pikir memang ucapan Sakura itu ada benarnya.
Naruto hanya bisa mengerucutkan bibirnya karena ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia pun melirik ke arah Sasuke untuk melihat bagaimana reaksi dari pemuda raven itu.
"Kau tidak mentertawakanku kan, Sasuke?", tanya Naruto memelas. Sasuke mendengus mendengarnya.
"Untuk apa aku menertawakanmu…", jawaban yang diberikan Sasuke membuat Naruto berbinar.
"…karena aku sudah tahu kau ini memang bodoh"
Dan Naruto yang telah serasa dibawa terbang sampai ke bulan itupun merasakan dirinya tiba-tiba anjlok dengan kecepatan cahaya dan langsung menghantam permukaan tanah dengan meninggalan lubang cetakan berbentuk tubuhnya sendiri. "Sasuke…k-kau…benar-benar…", Naruto yang telah mengeluarkan aura suramnya itu hanya bisa pundung tanpa bisa berkata-kata. Sakura terkikik geli melihatnya, dan Hinata tentu saja dengan ekspresi khawatirnya. Sedangkan Sasuke dengan santainya hanya memalingkan wajah tak peduli.
"Tapi, Naruto…", Naruto mengangkat kepala saat Sakura menyebut namanya.
"Ternyata cara berpikirmu itu sudah jauh lebih baik, ya?", ucap Sakura dengan tersenyum.
"He? Apanya?", tanya Naruto dengan tampang polos tak mengerti.
"Ah, sudahlah. Lupakan", jawab Sakura cepat, membuat Naruto hanya memiringkan kepalanya tak mengerti.
"Tapi, kau tahu? Kau tak perlu khawatir mengenai apa atau bagaimana nanti setelah kau jadi Hokage. Jangan pernah lupakan teman-teman yang selalu ada di belakangmu. Mereka akan selalu siap membantumu jika kau perlu bantuan. Begitu pula denganku, juga Hinata dan Sasuke-kun. Jadi, berjuanglah, Naruto!", ucap Sakura memberi semangat.
Naruto POV
"Hehe. Arigatou, Sakura-chan", Aku nyengir lebar mendengar ucapan sahabat permen kapasku itu. Begitu pula dengan dirinya. Menampakkan barisan gigi putih bersih yang selalu dirawat dengan baik olehnya. Sakura-chan benar. Aku punya teman-teman yang mendukungku dari belakang. Aku tak perlu mengkhawatirkan apapun. Tapi aneh. Sepertinya aku pernah mendengar ucapan seperti itu sebelumnya. Tapi dari siapa? Kapan? Dimana? Ataukah itu hanya perasaanku saja? Kucoba mengingat-ingat, tapi hasilnya nihil. Aku sama sekali tak bisa mengingatnya. Ah, kuso! Jangan-jangan itu hanyalah de ja vu belaka? Tapi kenapa terasa begitu nyata?
"Naruto-kun?"
Aku tersadar dari pergulatan batinku sendiri. Kutolehkan kepalaku ke asal suara yang telah berhasil mengganggu lamunanku.
"Hinata?"
Gadis itu menatap lurus padaku. Mempertemukan iris sapphire milikku dengan iris lavender miliknya. Ia menatapku dengan pandangan bertanya. Aku tahu itu. Bisa kulihat dari bola matanya Apa aku sudah berbuat sesuatu?
Tiba-tiba saja sekelebat ingatan masuk ke dalam pikiranku begitu melihat wajah Hinata. Menampilkan kembali memori-memori yang sempat kulupakan.
"Apa kau ingat saat kita mengikuti ujian chunin dulu?"
Ingatan apa ini? Rasanya belum lama ini aku mengalaminya.
"Dan apa kau ingat, saat pertarunganku dengan Neji nii-san?"
Ah, ya! Aku ingat kejadian ini.
"Ada apa, Hinata? Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa keadaan Naruto-kun saat ini sama sepertiku saat itu"
"Sama? Apanya yang sama?"
Benar. Tak salah lagi.
"Waktu itu aku juga merasa tidak percaya diri karena Neji nii-san menyudutkanku dengan perkataannya. Aku jadi takut untuk melawannya. Aku ingin menyangkal ucapannya, tapi tak bisa, karena semua yang dikatakannya benar"
Ini saat aku dan Hinata berada di rumahku.
"Tapi, Naruto-kun berteriak dengan keras dan memberi semangat padaku. Itu membuatku percaya diri dan berani melawan Neji nii-san. Walaupun pada akhirnya aku kalah"
Itu adalah saat-saat dimana pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa tidak percaya diri akibat dari pencalonanku sebagai Hokage.
"Naruto-kun, yang ingin kukatakan padamu adalah kau tak perlu merasa rendah diri jika tak bisa melakukan sesuatu dengan benar. Jangan lupa, kau punya teman-teman yang berada disekitarmu. Mereka pasti dengan senang hati akan membantu dan memberimu semangat. Begitu pula denganku"
Bagai rentetan kembang api yang meledak di angkasa, itulah gambaran isi pikiranku saat ini. Semuanya menjadi jelas sekarang. Berbagai pertanyaan yang hinggap dalam otakku kini terjawab sudah. Pantaslah jika aku merasa ucapan Sakura-chan tak asing di telingaku. Itu bukan hanya perasaanku belaka. Bukan juga diriku yang mengalami de ja vu atau semacamnya. Aku memang mengalaminya. Dan aku memang pernah mendengarnya dari seseorang yang selama ini selalu menaruh perhatiannya padaku, dan aku yang dengan bodohnya tak pernah menyadari hal itu.
"Jadi itu kau ya, Hinata", ucapku dalam hati.
Ya, dari gadis itulah aku bisa mendapatkan rasa percaya diriku.
Dari gadis itulah aku jadi bisa bangkit berdiri menghadapi masalahku.
Karena dialah, aku bisa kembali berdiri tegak sambil menatap ke depan. Menatap impian yang sejak lama telah kudambakan itu, menjadi orang nomor satu di Konoha.
Arigatou, Hinata.
Arigatou karena kau selalu memperhatikanku.
Arigatou karena kau selalu bisa memberiku semangat disaat aku berada diambang keputusasaan.
Dan juga…
END OF POV
"…-kun"
"…to-kun"
"…ruto-kun"
"Naruto-kun!"
Suara yang awalnya samar mulai terdengar jelas. Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya tatkala Hinata berhasil menyadarkannya dirinya yang melamun.
"Naruto-kun! Kau kenapa?", tanya Hinata sembari menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Naruto.
"Eh? Ah, ternyata kau, Hinata. Aku baik-baik saja. Aku hanya melamun tadi", jawab Naruto sambil mengibas-ngibaskan tangan.
"Selain itu, ada apa kau memanggilku, Hinata? Apa ada sesuatu?"
Bukannya menjawab pertanyaan Naruto, Hinata malah memalingkan wajahnya. Kontan saja hal itu membuat Naruto heran.
"Hoi, Hinata. Kenapa kau memalingkan wajahmu?", Naruto makin heran saat melihat wajah Hinata yang telah memerah.
"Eh? Hinata, kenapa wajahmu malah memerah begitu?"
"E-Eto…Anoo…", Hinata yang dihantam pertanyaan bertubi-tubi seperti itu hanya bisa tergagap.
"Ayolah, Hinata! Jawab pertanyaanku", desak Naruto tak sabar.
"Se-Sebenarnya…", Hinata menarik nafas dalam, sebelum memulai bicara.
"S-Sebenarnya, sejak pertama kupanggil tadi, N-Naruto-kun hanya diam s-sambil me-mena…tap…ku…m-makanya a-aku…", Hinata tak sanggup lagi meneruskan kalimatnya. Ia menjerit tertahan sambil menutupi mukanya yang sudah berubah merah seutuhnya.
"Kyaaa…a-aku baru saja mengatakan hal yang memalukan", pikir Hinata.
Bagaimana dengan Naruto? Seperti biasa, butuh proses yang agak lama sebelum ia memahami maksudnya dan bereaksi.
"EEEHHH?", teriak Naruto dengan ekspresi konyolnya.
"Y-Yang benar, Hinata? Kau tak bercanda, kan?", tanya Naruto memastikan. Hinata hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Y-Yang benar saja. Tapi, kalau dipikir-pikir, aku jadi melamun tadi kan karena bertatapan dengan Hinata…itu artinya…"
"ARTINYA AKU MEMANG MENATAP WAJAH HINATA SELAMA MELAMUN TADI!", inner Naruto berteriak histeris. Naruto pun berusaha menjelaskannya pada Hinata.
"Hi-Hinata. A-Aku tak bermaksud apa-apa. Aku tak berpikiran mesum atau apapun tentang dirimu. Bukan berarti aku tak memikirkanmu juga, tapi…"
"He?", Hinata mengangkat kepalanya mendengar kalimat terakhir Naruto. Melihat reaksi Hinata, Naruto langsung menyadari bahwa kata-katanya tak tepat.
"Bu-Bukan begitu…bukan begitu, Hinata, yang tadi itu hanya…"
"Kalian berdua…", tak ada angin tak ada badai, sebuah suara seram mendadak saja masuk ke telinga Naruto. Ia pun bergidik ngeri dibuatnya. Dengan gerakan lambat, ia menolehkan kepalanya ke belakang.
"Sakura-chan?", reflek Naruto mengucapakn namanya begitu melihat Sakura telah berdiri disana.
"Naruto, beraninya kau mengabaikanku dan Sasuke-kun dan bicara berdua saja dengan Hinata"
"He? Apa? Ti-tidak…tidak…bukan begitu, Sakura-chan, a-aku…"
"SHANAROOO", dan dengan chakra yang telah terkumpul di tangannya, Sakura melayangkan pukukannya tepat ke wajah Naruto Beruntung yang menjadi sasaran cepat-cepat merunduk, sehingga serangan Sakura meleset. Naruto pun melompat menjauh untuk mengantisipasi serangan kedua.
"Tu-Tunggu dulu, Sakura-chan! Biar kujelaskan dulu apa yang…"
"KEMARI KAU, NARUTO!"
"GYAAAAA…MATTE!"
Naruto dan Sakura pun berakhir dengan kejar-kejaran bak anjing dan kucing. Baik Hinata maupun Sasuke hanya memperhatikan saja tingkah mereka.
"Naruto-kun…", Hinata berucap lirih dengan tatapan yang sulit diartikan.
.
.
.
"Bagaimana, Kakashi? Apa yang kau pikirkan mengenai ini?"
"Hmm", Kakashi melipat tangannya di depan dada, berusaha menemukan kalimat yang tepat sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Tsunade.
"Yah, menurutku mereka juga tidak salah. Kita juga patut untuk mempertimbangkan ucapannya"
"Begitu", Tsunade juga ikut melipat tangannya, mencoba menjernihkan pikirannya.
"Tsunade-sama, apakah ini yang ingin anda katakan pada saya tadi?", tanya Shizune melihat kedua orang itu sama-sama terdiam.
"Benar", jawab Tsunade tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kau sendiri bagaimana, Shizune? Apa pendapatmu tentang hal ini?"
"A-Aku?", Shizune mennjadi gelagapan sendiri karena kaget mendengar pertanyaan yang tiba-tiba saja diarahkan padanya.
"E-Eto…aku juga tak tahu harus bicara apa. Disatu sisi mereka memang benar. Tapi disisi yang lain hal itu juga akan menimbulkan masalah yang cukup besar"
"Ya, aku setuju itu", Tsunade menganggukkan kepalanya. Ia mengalihkan pandangannya keluar, menatap kembali kesibukan orang-orang di luar sana yang hilir-mudik tanpa henti.
"Lagipula, kita juga tak tahu bagaimana reaksi dan tanggapan masyarakat desa mengenai hal ini", ujar Tsunade dengan pandangannya yang tetap mengarah keluar.
"Yap. Selain itu, jika kita benar-benar melakukannya, maka hal selanjutnya yang harus kita hadapi adalah 'keributan' "
"Kau benar, Kakashi. Dan disitulah hal yang paling kubenci", ucap Tsunade sambil menghembuskan nafas panjang.
"Pokoknya, kita akan merahasiakan hal ini dari siapapun. Jangan sampai ada yang tahu hal ini dulu sebelum semuanya jelas. Mengerti?"
Kakashi dan Shizune menganguk bersamaan sebagai jawaban.
"Kuso…kenapa harus disaat seperti ini?", pikir Tsunade dengan memijit dahinya sendiri.
.
.
.
TBC
FINNALLY! CHAPTER 6 IS COMPLETE!*Screaming*
Huf…huf…huf…
Yo, minna-san...Ohisashiburi…
Lama gak nongol dimari, gak ada yang berubah ternyata…wkwkwk
Yap, kali ini chap 6 sudah update!
Hutang saya akhirnya sudah saya cicil, meski belum lunas : v
Yah, walau harus makan waktu lebih dari setengah tahun sendiri buat pasang ni chapter…tapi saya tetap berusaha untuk melanjutkan fic ini. Maafkanlah author yang lalai ini. Semoga ceritanya memuaskan. Kalau tidak memuaskan, sekali lagi, maafkanlah author yang lalai ini*sembahsujud*
Mungkin disini romansanya agak kurang…karena niat awalnya sih mau masuk konflik, tapi jadinya tidak sesuai dugaan…yah, boleh dibilang ini prolog sebelum masuk konflik. Anggaplah seperti itu…Gihihihi… : v
Yosh, gak mau banyak cingcong, silahkan nikmati hidangan yang telah tersaji di depan layar PC/Laptop/Ponsel anda ini…hehehe…
Jangan lupa berikan tanggapannya di kotak review
ARIGATOU GOZAIMASU
