Kata-kata yang Hilang
A Hetalia Fanfiction
Hetalia milik Hidekazu Himayura
Main Chara: Indonesia, Singapore (Fatma Karunia Cahyaningtyas, Zhiang Singhwa)
Rating: K
Genre: Hurt/Comfort, Angst, some Romance
Warning: OC, Human!AU, Human name, Indonesia POV
Summary: Kekita berkata "Pergilah", sesungguhnya aku ingin berkata "Jangan pergi". Namun pada akhirnya semua itu menjadi kata-kata yang hilang.
.
.
.
.
Kebakaran di Hetalia Academy malam itu, menjadi malam terakhir aku bertemu denganmu. Malam terakhir sebelum aku kehilanganmu. Malam di mana kau pergi jauh tanpa bisa kembali. Malam di mana senyuman itu menjadi senyuman terakhir yang tampak di bibirmu.
Malam yang sama ketika kau, aku dan yang lain sedang mengerjakan tugas di ruang labolatorium. Malam ketika kecelakaan karena kecerobohanku membawa petaka kematianmu.
Senyuman itu menjadi awal perasaan ini, dan akhir dari perasaan ini. Ironi yang terjadi dalam satu malam penuh kobaran api. Ironi yang sesungguhnya baru pertamakali aku rasakan.
"Aku akan membantu yang lain, yang masih di dalam. Kau tunggu saja di sini..."
Kau mengatakannya dengan ringan, tanpa beban sama sekali. Aku hanya menjawab "Pergilah", namun sejujurnya aku ingin berkata "Jangan pergi". Setelahnya, senyuman itu menjadi hal terakhir yang aku lihat dan aku ingat dari dirimu sebelum kobaran api melahapmu.
Sejenak aku merasa nasib sedang mempermainkan diri ini dengan kematianmu, dan kehancuran mentalku. Kobaran api membuatku selalu mengingat dirimu. Api yang membuatmu mati bersama bakat, nama, dan sosok dirimu.
Aku menangis. Mendengar namamu membuatku teringat akan sosokmu. Sosok sopan, pendiam, namun manis dan baik disaat bersamaan, yang membuatku jatuh dalam pesonamu. Kau bersama bakatmu yang mengagumkan. Kau dengan prestasimu yang terjunjung tinggi. Kau dengan sosokmu yang begitu aku rindukan. Kau dengan semua pesonamu. Kau dengan segenap perasaan ini.
Aku tersenyum. Mengingat tingkah lakumu yang tak mungkin akan aku lihat lagi. Sebuah ironi dibalik namaku yang makin melambung tinggi bersama prestasi. Sebuah ironi di balik diriku yang terlihat tegar. Sebuah ironi dibalik kata-kataku yang menyemangati.
Orang bilang aku gila, aku sinting, setelah melihatku yang berada di balik panggung. Namun yang mereka tertawakan, yang mereka bicarakan, sejatinya bukan aku. Namun takdir. Mereka menertawakan takdir yang menimpaku.
Ironi yang menimpaku. Seperti berkata "Baiklah", namun direspon seakan aku berkata "Tidak".
.
.
.
.
END
.
.
.
.
A/N: Sumpah-demi-apa, fic ini lebih gaje dari yang "Aksioma". Meski cara bikinnya sama sih... Dibuat selama kurang dari setengah jam, dimulai setelah Aksioma publish. Kata-kata yang langsung mengalir di kepala. Karena ini sebenarnya mirip sama kisah kehidupan saya yang "ditinggal mati sahabat sekaligus cinta pertama dan cinta terakhir saya"... #curhat
Terinspirasi dari puisi saya waktu kelas 5, yang entah kenapa kok bisa kebawa sampe ke Jawa begini. *garuk-garuk kepala* Puisi dengan judul yang sama. Isinya begini:
Hanya aku yang tahu,
Kalau semua yang aku katakan itu bohong
Ketika berkata "Pergilah",
Sesungguhnya aku ingin berkata "Jangan Pergi"
Namun pada akhirnya,
Semua itu menjadi kata-kata yang hilang
.
Hanya aku yang mengerti,
Mengapa semua itu hanya kebohongan belaka
Seperti mengatakan "Tidak",
Bener-benar petir di siang bolong bagimu
Dan semua kata yang ingin kuucapkan,
Pada akhirnya menjadi kata-kata yang hilang
.
Meski hanya aku yang paham,
Alasan aku membalikkan kata
Meski ketika aku jujur berkata "Baiklah",
Kau bereaksi seakan mengatakan "Tidak"
Lalu kau pergi tanpa tahu apa-apa
Sungguh semua itu kata-kata yang hilang
.
Sumpah, malu banget publish fic ini. Rasanya begitu aneh dengan ceritanya. Aksioma udah Hurt/Comfort, seharusnya aku bikin yang rada Friendship dan Humor. Tapi kok malah sama gini temanya sama yang Aksioma? Entahlah.
Salam akhir,
Mind to review?
ON: 22-02-2016
