Selalu Bersamamu
A Hetalia Fanfiction
Main Chara: Norway, Iceland (Lukas Bondevik, Emil Steilsson)
Rated: K
Genre: Hurt/Comfort, Angst, more Family and Humor
Warning: OOC, Human!AU, Human name, Iceland POV
Summary: Kau adalah kakakku meski aku tak ingin mengakuinya. Namun dibalik itu, aku menyayangimu lebih dari siapapun. {Isi hati seorang Iceland dalam menghadapi saudara berwajah tripleknya}
.
.
.
.
Aku diam. Kau diam. Kau bicara. Aku diam sejenak, lalu menanggapi apa adanya. Aku bicara. Kau diam sejenak dengan tanggapan kecil. Hei, aku tahu kita sama-sama pendiam, tapi bukankah ini berlebihan?
"Panggil aku Kakak."
Adalah satu kata yang paling sering kau katakan padaku. Kau ucapkan dengan nada datar namun benar-benar "minta dituruti". Kalau kata Kiku, percakapan antara aku dan kau saat itu, dibahasaJepangkan menjadi:
"Onii-chan."
"Shiranai."
"Onii-chan."
"Iwanai."
"Onee-chan."
"Imi wakannai."
Lihatlah, kau dengan datarnya menyuruhku memanggilmu "Onee-chan". Tapi kau kan laki-laki. Namun meski begitu, aku tetap tak mau mengakuimu sebagai kakakku. Namun sebagai saudaraku. Aku tak ingin dianggap lemah karena menjadi seorang adik. Aku tahu bahwa kau kuat, kau tegar, kau juga tegas dibalik raut datar itu. Tapi aku tak ingin kau menjadi dirimu yang lain karena "diakui". Aku ingin kau tetap menjadi dirimu.
Kau yang merupakan "dirimu" adalah orang yang keras kepala dan tak mudah putus asa. Keras kepala karena tak mau berubah pikiran, dan putus asa karena memikirkan cara yang lain. Ingat saja. Karena aku tak rela memanggilmu "kakak laki-laki", kau menyuruhku memanggilmu "kakak perempuan". Cermin dari dirimu secara garis besar, bukan?
Dari dulu aku tak percaya segala jenis makhluk yang ada di sekitar dirimu. Legenda makhluk-makhluk mitologi Nordic. Aku percaya makhluk seperti itu. Tapi tak percaya "mereka" mengelilingimu. Itu tak bisa terbukti. Tapi ketika aku merasakan aura tidak mengenakkan ketika kau sedang kesal, aku seperti melihat sosok "Troll" di belakangmu, mengikuti arah gerakanmu. Sekarang aku mengerti kenapa Arthur dan Vladmir bahkan segan denganmu.
Kau tak pernah menguarkan senyuman. Kalau iyapun itu hanya garis tipis melengkung di bibir datarmu. Naas sekali nasibku. Sudah saudaraku bermuka triplek, senyumnya bisa dijual 200 juta US$ lebih. Kau tahu, betapa sulitnya membuat senyum merekah di wajah tampanmu? Ah, aku akui kau memang tampan, makanya saudaramu ini juga tampan. Sulit sekali membuat garis tipis di wajahmu. Tapi sesulit apapun, aku pernah melihatnya, sih... Senyummu itu bagai fallen angle. Kau bagai turun dari surga.
Sudah cukup hiperbolisnya. Lagipula kau tidak sebegitunya, hingga aku berkata seperti itu. Lantas kenapa aku berkata begitu, ya? Dalam hati saja mungkin.
.
Kau tahu, kau itu tak tahu terima kasih. Aku yang merawatmu saat sakit, saat kau terluka, kau malah tak bilang apa-apa. Bukanya aku ingin balasan ya. Tapi setidaknya bisakah kau ucapkan terima kasih atau semacamnya? Kau ini memang triplek yang terlindas baja ya...
Bicara tentang dirimu, aku jadi teringat hari kau memberiku nama. Dimana nama itu sangat berarti bagiku. Tapi ada satu hal yang membingungkan aku. Namaku Emil Steilsson. Aku mengikuti nama ayahku, dan aku tahu alasannya. Sementara kau? Lukas Bondevik. Apakah Bondevik itu adalah marga ayah atau ibu? Tapi aku belum pernah mendengar marga itu selain dari dirimu. Dan ketika aku bertanya tentang marga padamu, kau hanya diam memasang triplek ke wajahmu. Your poker face is perfect. Aku akui kemampuanmu menyembunyikan perasaanmu. Karena hal itu luar biasa susah. Dari mana-mana juga, meski aku dingin, aku tak bisa terlalu lama memasang poker face sempurna.
Tapi aku lihat, semakin hari kau semakin kurus. Kau mulai merapatkan barret ungu itu ke rambut pirang pucatmu. Aku melihat kantung matamu, bibirmu pucat. Rasanya aku melihat mummy ketika melihat dirimu saat itu. Hingga pada akhirnya kau jatuh, kau pinsan. Kau tak sadarkan diri dengan darah dari hidungmu. Kau benar-benar seperti mummy yang jatuh saat itu.
Aku kira kau kenapa saat itu. Saat kau sadar, kau hanya bilang "Aku terlalu lelah, mungkin.", disertai senyum tipis. Kau tahu, aku tahu kau berbohong. Kau seakan menatap datar kematian yang akan mendatangimu. Kau tahu, aku tahu kau sakit. Meski atu tak tahu itu penyakit apa.
.
Aku pergi. Kau melepasku di bandara. Dengan keadaan tubuhmu yang semakin mengkhawatirkan. Kau membiarkan aku pergi merantau dan melanjutkan study ke Amerika. Aku pergi dengan berat hati. Dalam hati berjanji, bila ada apa-apa denganmu, aku tak ingin bertanggungjawab.
Dan semua hal terbukti. Setahun kemudian kabar memberitahuku. Tentang kematianmu. Tentang dirimu yang bahkan tak memberitahuku akan hal itu. Penyakit telah menggerogoti tubuhmu sejak 5 tahun yang lalu. Dan klimaksnya adalah kematianmu.
Ingin aku menepati janjiku untuk tak bertanggungjawab bila sesuatu terjadi padamu. Namun apa daya. Aku tetap bertanggungjawab karena keinginanku sendiri.
Keinginanku sendiri.
Keinginanku sendiri.
Cukup, jangan berputar-putar di kepalaku.
Aku tetap bertanggungjawab. Karena aku menyayangimu lebih dari siapapun.
Apu meninggalkan perantauanku. Aku kembali ke kampung halamanku di Nordic. Aku kembali pada dirimu yang meski tak lagi aku lihat. Tak lagi bisa aku sentuh. Tak bisa lagi aku rasakan.
Aku tak bisa lagi bersamamu selama aku hidup.
.
.
.
.
END
.
.
.
.
A/N: Request dari temen sekelas saya. Buat Elv nih... Aisu yang merindu. Haha... Selesai setelah 1 setengah jam berkutat dengan HPku tersayang. Inspirasi dari seseorang, bikin saya menyelesaikan ini dengan cepat.
Kalau yang ingat, mesthi tahu dari mana aku dapet percakapan Iceland sama Norway yang "Onee-chan". Yup, dari lagunya Nordic! "Always With You... Nordic Five!" menjadi teman kuping saya waktu nyelesein fic ini.
Mau request? Boleh. Asal requestnya yang bener. Saya lagi gak menerima pasangan YAOI. Saya sedang tidak mood sama yang kayak gituan. Kalau iyapun jadi saya tuli, adanya cuma Shonen-ai, dan genrenya nyelip Friendship. Haha... Author yang kelewat konsisten sama dirinya sendiri (?)...
Salam akhir,
Mind to review?
ON: 23-02-2016
