A Super Junior Fanfiction

~I'm Your Mommy~

Cast : KYUMIN, Henry and other

Warning : Genderswitch. Typos. Gajeness. Tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

.

.

Preview chapter

Incheon Airport.

Bandara international itu terlihat ramai. Beberapa orang terlihat mendorong troli-troli berisi koper-koper besar. Sesosok yeoja berjalan anggun dengan kacamata hitam membingkai foxy eyesnya. Dengan menyeret sebuah koper sedang.

Stiletto setinggi 10cm, membuat kaki jenjangnya terlihat cantik. Serta dress putih diatas lulut dan coat berwarna peach membuatnya semakin cantik.

"apa itu Alice Lee?"

"Alice Lee?"

"iya, itu Alice Lee!"

"Astaga! Dia cantik sekali. Aku hampir tidak mengenalinya."

Ya. Sungmin sudah tiba dikorea hari ini. Dia menebar senyum ramah kepada orang-orang yang mulai mengerubunginya. Dengan sabar, dia juga memberikan beberapa sign untuk penggemarnya. Sedikit mendongak, tidak jauh dari tempatnya berdiri seorang namja tersenyum kearahnya dan menunjuk kearah parkir bandara. Sungmin membalas senyum itu dan menganggukan kepalanya.

"terimakasih, maaf aku harus pergi." Ucap Sungmin sopan. Dengan perlahan kerumunan orang-orang tersebut membubarkan diri dan membiarkan sang top model memiliki privasinya sendiri.

Sebuah mobil Audi A8 sudah terparkir rapih didepan area parking. Sungmin berjalan menuju mobil tersebut. Seseorang yang berseragam khusus sudah berdiri disamping mobil dengan segera mengangkat koper Sungmin dan menaruhnya dibagasi.

CHAPTER 2

"selamat datang di Korea, Lee Sungmin." Ujar namja yang sedari tadi sudah berada didalam mobil.

Sungmin tersenyum lalu dengan cepat masuk kedalam pelukan laki-laki yang tersenyum sembari merentangkan tangannya itu. "I miss you so much, Cho Kyuhyun." Ucapnya.

Kyuhyun tersenyum dan menenggelamkan wajahnya dihelai rambut blonde Sungmin. "me too."

"kau sudah siap bertemu dengannya?" Tanya Kyuhyun.

Sungmin melepaskan pelukan mereka dan memandangi Kyuhyun dalam. Satu senyum tipis merekah dibibirnya. "sangat!"

Kyuhyun mengecup bibir Sungmin sekilas. "aku sangat merindukanmu. Bagaimana jika kita makan siang dulu?" Sungmin menganggukan kepalanya.

.

.

Kyuhyun dan Sungmin sudah tiba disebuah restaurant Italia. Mereka duduk berdampingan diruang VIP yang laki-laki itu sewa untuk mereka. "apakah perkejaanmu sudah selesai?" Kyuhyun membuka percakapan.

Sungmin yang sedari tadi mengutak-atik ponsel Kyuhyun menoleh dan menganggukan kepalanya. Kembali, matanya terfokus pada ponsel pintar yang menggambarkan potret-potret laki-laki itu dan seorang namja kecil.

"dia semakin tampan, Kyuhyun." Ucap Sungmin.

Kyuhyun mengelus kepala Sungmin lalu menciumnya. "jelas, aku tampan dan kau cantik. Wajar bukan jika Henry tampan."

"Daddy!" Pekikan Henry membuat kedua orang itu menoleh kesumber suara. Disana, Henry berlari dengan ransel dipundaknya dan Hyukjae yang berjalan dibelakangnya.

"Sungmin?" Gumam Hyukjae.

Mata Sungmin sudah berkaca-kaca ketika melihat Henry yang begitu sehat berdiri dihadapannya. Rasanya dia ingin memeluk anak itu dan menciuminya.

"Daddy! Dia siapa?"

DEG…

Nada bicara Henry yang terdengar kurang ramah itu membuat senyum Sungmin menghilang. Kyuhyun merangkul bahu Sungmin lalu berujar. "dia Mommy-mu."

Henry yang duduk dengan Hyukjae disampingnya dan berhadapan langsung dengan KyuMin. "shireo!" Jawabnya lantang.

"Henry, kau yang meminta sendiri kan? Kau ingin punya Mommy di ulang tahunmu besok!" Ujar Kyuhyun.

Henry memandang Kyuhyun dan Sungmin dengan wajah kesal. "aku sudah bilang, aku hanya ingin Hyuk aunty yang menjadi Mommy-ku, bukan yang lain."

Hyukjae tersentak kaget mendengar ucapan Henry. Sedangkan Sungmin, yeoja itu menundukan wajahnya untuk menyembunyikan airmata yang sudah turun dipipinya.

"Henry!"

"Kyuhyun," Kyuhyun menghembuskan nafas jengkel. Kenapa Henry jadi keras kepala seperti ini. Jika saja Sungmin tidak mencegahnya, mungkin dia sudah berteriak tadi.

"Kyuhyun, sudah." Ucap Sungmin parau. Dengan cepat dia menghapus airmatanya dan mendongak. Memandang Henry dan Hyukjae bergantian lalu tersenyum. "aku ada keperluan penting, maaf aku tidak bisa meneruskan acara makan siang ini. permisi." Sungmin menyambar tasnya dan segera berjalan keluar. Dengan kasar dia menghapus airmatanya yang sudah kembali turun.

Kyuhyun menatap Sungmin dan Henry bergantian. "Henry, Daddy kecewa padamu." Namja bermarga Cho itu bangkit dari duduknya dan berlari mengejar Sungmin yang sudah menghilang dibalik pintu.

Hyukjae memeluk Henry yang sudah berkaca-kaca itu. "tenanglah." Ujarnya.

"Daddy kecewa padaku, aunty. Daddy marah padaku, kan?" Tanyanya dengan suara parau. Hyukjae menggeleng dan menjawab. "tidak, Daddy-mu hanya sedang lelah."

.

.

Sungmin berjalan cepat di pedestrian. Tangannya sesekali mengusap lelehan airmata yang masih terus keluar dari matanya. Hati wanita cantik itu amat sakit mendengar penolakan yang diucapkan oleh anak yang dilahirkannya itu.

Sungmin merasakan tangannya digenggam erat. Lalu detik berikutnya, Sungmin sudah berada didalam dekapan namja bermarga Cho itu. "Sungmin."

Sungmin mencengkram kemeja bagian dada Kyuhyun lalu menangis terisak disana. "dia menolakku, Kyu. Dia tidak menginginkanku." Isaknya.

Kyuhyun mengelus punggung Sungmin dengan lembut. "dia hanya belum terbiasa Min, masih ada banyak waktu untuk kalian saling mengenal nantinya." Ucapan Kyuhyun barusan membuat isakan Sungmin mereda.

"aku ingin memeluknya Kyuhyun, aku ingin menciumnya dan bilang aku mencintainya." Suara Sungmin masih tersedat.

"kau bisa melakukan itu semua, tenanglah. Semua butuh waktu sayang." Kyuhyun melepaskan pelukannya dan membelai pipi Sungmin dengan lembut. "kau bisa melakukannya Sungmin. Karena dia adalah anakmu."

Sungmin menganggukan kepalanya.

"sebaiknya aku antar kau pulang kerumah keluarga Lee—

"aniya!"

Kyuhyun mengerutkan alisnya mendengar jawaban Sungmin. "kau tidak ingin pulang dan bertemu kedua orangtuamu?" Tanya Kyuhyun.

"aku sudah menyewa apartement. Lagipula, Appa dan Umma sedang berada di Jepang." Jawab Sungmin.

Splash…

Kilatan cahaya yang berasal dari sudut café membuat keduanya menoleh. Mereka berdua bisa melihat dengan jelas bahwa seorang laki-laki paruh baya berlari menjauh dari tempatnya bersembunyi.

"Dia berhasil memotret kita, Min." Ujar Kyuhyun panic. Dia berniat mengejar laki-laki itu tetapi Sungmin mencegahnya. "sudah biarkan saja." Ucap Sungmin.

"bagaimana dengan karir mu sayang? Ini bisa jadi skandal." Kyuhyun berujar panic.

Sungmin mengelus pipi Kyuhyun dan membuat namja itu terdiam. "aku bersedia melepas semuanya dan itu hanya demi kalian. Aku sudah berjanji kan?" Kyuhyun tersenyum dan membuat yeoja dihadapannya juga ikut tersenyum.

.

.

Kyuhyun mengantar Sungmin sampai apartement wanita itu. Dia sudah menawarkan untuk menginap saja dirumahnya tetapi yeoja itu menolak dengan alasan belum siap bertemu dengan Henry sejak kejadian di restaurant tadi.

"kau yakin akan baik-baik saja? Apa perlu aku temani?" Tanya Kyuhyun.

Sungmin tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "tidak perlu. Aku sudah biasa sendiri. Kau harus pulang dan menemani Henry, dia pasti kesepian." Ujarnya.

Kyuhyun mengelus wajah Sungmin. Memberikan kecupan di pelipis, kedua pipi, hidung dan terakhir bibir Sungmin. "aku pulang. Hati-hati dan hubungi aku jika perlu sesuatu."

"ya. Hati-hati dijalan."

"saranghae."

"nado saranghae, Cho Kyuhyun."

o0o—

Siang ini Kyuhyun masih disibukan dengan berkas-berkas yang menanti ditanda tangani olehnya. Pria itu menghela nafas lelah. Sejak mobilnya masuk kedalam perusahaannya, para awak media sudah memenuhi pintu lobby utama. Untung saja para security dan bodyguardnya siap berjaga-jaga.

Getaran ponsel yang terdapat disebelah laptop hitam mengalihkan perhatiannya. Sebuah senyum muncul diwajahnya. Dengan segera dia menerima panggilan tersebut. "ne Ming, waeyo?" Ujarnya.

"…"

Kyuhyun terkekeh pelan setelah mendengar ucapan dari lawan bicaranya. "tentu saja sayang. Kau kan ibunya. Nanti aku akan mengirimimu alamatnya. Ajak dia makan siang bersama, aku akan menjemput kalian."

"…"

Kyuhyun kembali terkekeh. "ne, Sungmin mommy. Hwaiting!" Setelah selesai dengan sambungan telponnya. Dia kembali membaca berkas-berkas yang bertumpuk tersebut dengan semangat. Dia ingin segera menyelesaikan tugas-tugas ini dan berkumpul bersama dengan orang terkasihnya.

.

.

Sungmin berdiri didepan ELF elementary School. Sekolah dengan taraf internasional itu memang mempunyai jam sekolah lebih panjang dari sekolah biasa. Sungmin melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan lengan kirinya. 14.55 dan sekitar 5 menit lagi bel akan berbunyi.

Senyum Sungmin mengembang setelah mendengar bel berbunyi. Menunggu dengan sabar sosok kecil yang telah ditinggalinya selama 7 tahun. "Henry-ah!" Panggilnya.

Henry menghentikan langkahnya. Memandang tidak ramah pada sosok Sungmin yang tidak jauh darinya. Sungmin berjalan menghampiri Henry. "Henry-ah, ayo kita pulang. Daddymu sudah menunggu untuk makan siang bersama."

Henry hanya menurut dan mengikuti Sungmin yang mengandeng lengannya untuk masuk kedalam sebuah Audi A8 yang sudah terparkir rapih tidak jauh dari mereka.

"Henry-ah, senang sekali bisa bertemu denganmu." Sungmin memulai percakapan setelah beberapa menit mobil melaju. Sungmin berniat mengelus kepala Henry tetapi namja kecil itu menepis lengan Sungmin.

"hanya Daddy dan Hyuk aunty yang boleh menyentuh kepalaku." Ujarnya ketus.

Sungmin menyungingkan senyum getir setelahnya. Taukah kalian rasanya ditolak oleh anak sendiri?

.

.

Henry keluar terlebih dahulu dari dalam mobil disusul oleh Sungmin dibelakangnya. Namja kecil itu berlari masuk kedalam Kona Beans dan menghampiri Kyuhyun yang sudah duduk santai terlebih dahulu. "Daddy!" Pekiknya.

Kyuhyun tersenyum sembari merentangkan tangannya. "hello jagoan! Menyenangkan dijemput Mommy?"

Henry merengut. "Dad! Aku sudah bilang hanya Hyuk aunty yang boleh jadi Mommy-ku."

"Henry!"

"Kyuhyun." Sungmin mengelus bahu Kyuhyun untuk menenangkan namja itu. Pandangan Sungmin beralih kepada Henry yang menundukan wajahnya. "chagi, kau lapar? Ayo cepat pesan makanan untukmu." Ucapnya.

Henry tidak menjawab. Dia memilih membuka buku menu. Sungmin hanya memperhatikan wajah Henry yang sedang kebingungan memilih makanan. Dari yang diketahuinya melalui Kyuhyun, Henry sangat suka semua makanan disini.

Wanita itu sesekali tersenyum ketika Henry mengerucutkan bibirnya ataupun menggeleng dengan pipi yang digembungkan. Sungguh menggemaskan. Dia ingin mencubit dan mencium pipi itu, tetapi dia tahu Henry belum begitu nyaman dengannya.

"aku mau smokedbeef cheese sandwich dan hot chocolate." Ujar Henry.

Sungmin mengangguk lalu memanggil seorang pelayan yang kebetulan lewat didekat mereka. "sudah siap memesan?"

"ya, smokedbeef cheese sandwich dan hot chocolate. Kyu, kau mau apa?" tanya Sungmin.

Kyuhyun menutup buku menunya. "Pasta beef stroganoff dan roasted almond coffee."

"hmm… tambah Green tea saja." Ucap Sungmin. Pelayan tersebut mencatat semua menu yang dipesan dan mengulangnya sekali lagi.

"kau tidak lapar?" tanya Kyuhyun.

Sungmin menggelengkan kepalanya. Tak berapa lama, pesanan mereka datang. Senyum Sungmin tidak pernah luntur dari wajahnya ketika melihat Henry yang begitu lahap memakan makanannya, apalagi ketika pipi chubby itu menggembung karena penuh terisi oleh sandwiched. Ugh, Sungmin ingin sekali mencium pipi itu.

"kau ada acara setelah ini?" Kyuhyun membuka suaranya disela makannya. "hm? Tidak ada."

"bagaimana kalau kita bertiga jalan-jalan keluar sebentar?" tawar Kyuhyun.

Awalnya Sungmin tersenyum, tetapi pudar pada detik itu juga. "tapi kau kan bekerja. Tidak usah, aku saja yang mengajak Henry jalan-jalan. Sayang, kau mau kan?"

Kyuhyun mengeleng. "tidak, aku bisa menghandle pekerjaanku. Yang terpenting kita bisa kembali bersama-sama. Aku, kau dan Henry." Perkataan Kyuhyun membuat senyum cantik Sungmin mengembang sempurna.

.

LOTTE WORLD

Sungmin mengikuti langkah kedua orang tersayangnya itu dengan pelan dibelakang. Dia baru melihat bagaimana kedekatan kedua namja itu. Kyuhyun benar-benar melakukan perannya sebagai ayah dan ibu yang baik bagi Henry.

Ah melihat itu membuat perasaan bersalah muncul dalam dirinya. Kenapa dulu dia begitu egois memilih karier daripada keluarga kecilnya, jika dari dulu dia melepaskan kariernya mereka pasti sudah menjadi keluarga yang bahagia sekarang.

Henry menarik Kyuhyun untuk masuk kedalam game center. Namja kecil itu sudah bersiap didepan sebuah game virtual. "Daddy kita battle!" serunya.

"oke jagoan! Siap kalah dari daddy?"

Henry mengerucutkan bibirnya. "no Dad, daddy yang bersiap kalah."

"arraseo."

Kedua namja itu kembali dalam dunia game dan meninggalkan Sungmin yang diam-diam memotret kebahagiaan mereka berdua dari belakang.

Kyuhyun tersadar saat tidak melihat Sungmin disekitarnya. Namja itu menoleh mencari Sungmin, bibirnya tertarik sempurna saat sosok itu melambai kearahnya dengan sebuah minuman isotonic dan milktea ditangannya.

"aku kira kau kebosanan menunggu kami bermain." Ujar Kyuhyun.

"aniya, aku senang kita bisa pergi keluar bersama-sama. Igeo, aku membelikan minum untukmu." Kyuhyun menerima botol isotonic dari Sungmin dengan senang hati. Dengan perlahan Sungmin mendekat kearah Henry.

"Henry-yah, minumlah. Kau pasti haus." Sungmin sudah menyodorkan botol milktea kesukaan Henry yang tutupnya telah terbuka.

"Henry-yah."

Entah refleks, Henry menepis tangan Sungmin dan membuat gaun yeoja itu basah terkena tumpahan milkteanya. "aniya!"

"HENRY!" bentak Kyuhyun marah.

"Kyuhyun-ah, pelankan suaramu. Nan gwenchana." Sungmin bangun dengan perlahan. "aku ke toilet sebentar." Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, yeoja itu segera berlalu dengan membawa tas tangannya.

Kyuhyun menandang Henry dengan geram. "Henry, sudah Daddy bilang berapa kali bersikap baiklah dengan Mommy-mu."

"dia bukan Mommy-ku!"

Kyuhyun geram bukan main. "Henry, kau!" baru saja dia mengangkat lengannya, sebuah tangan halus tiba-tiba mengenggam tangannya yang sudah mengantung diudara.

"jangan pernah memukul anakku." Ujar Sungmin penuh penekanan.

Henry memandang Kyuhyun dengan penuh airmata. "aku benci Daddy!" bocah itu segera berlari keluar dari dalam game center. Begitu juga Sungmin dan disusul oleh Kyuhyun dibelakangnya.

.

Kyuhyun meletakan Henry yang sudah terlelap karena lelah menangis didalam kamarnya. Sungmin langsung merengkuh tubuh Henry setelahnya. Yeoja itu memeluk, mencium seluruh bagian wajah Henry dengan penuh rindu.

Tujuh tahun adalah waktu yang tidak sebentar, dirinya hanya beberapa hari berdekatan dengan bayi kecilnya itu ketika di London. Salahkan saja kontrak kerjanya yang mengharuskannya meninggalkan keluarga kecilnya.

Ketika semua anak diseruluh dunia mendapatkan asi eksklusif dari ibunya, Henry malah mendapatkan itu dari orang lain. Saat anaknya berusia satu tahun—mereka berdua harus berpisah demi keselamatan kariernya yang saat itu tengah diterpa gossip miring tentang statusnya.

Dan saat-saat Henry mulai bisa membalikan tubuhnya, duduk, merangkak, berdiri dan berbicara Sungmin hanya bisa melihatnya dari video yang rajin Kyuhyun kirimkan padanya. Dan sekarang, wajar saja Henry begitu membencinya.

Isakannya semakin terasa menyesakkan. Rasa bersalah yang selama ini dikuburnya dalam hati muncul kepermukaan. "baby-ya, mianhae." Isaknya.

Kyuhyun memeluk Sungmin dari belakang. Dia mengelus bahu itu dengan lembut. "sayang, tenanglah. Henry hanya belum terbiasa."

Sungmin menggeleng cepat. "aniya, jika saja aku tidak egois lebih memilih karier dibandingkan kalian berdua. Aku bodoh sekali, dan karena keegoisanku, anakku sendiri membenciku."

"Sungmin, sudah kubilang kan. Henry hanya belum terbiasa denganmu, nanti juga dia akan membaik dengan sendirinya." Ujar Kyuhyun.

Sungmin membalikan badannya kearah Kyuhyun. "terima kasih Kyuhyun telah menungguku dan membesarkan Henry." Ucapnya.

Kyuhyun tersenyum dan menghapus titik airmata dipipi Sungmin. "sama-sama, terima kasih juga sudah menghadirkan Henry kedunia ini, istriku Cho Sungmin."

Keduanya sama-sama tersenyum. Dengan perlahan Kyuhyun mendekatkan wajahnya berniat untuk mencium Sungmin tetapi dihalangi oleh yeoja itu. "waeyo?" tanya Kyuhyun sebal.

"tidak disini Kyuhyun-ah."

Ucapan Sungmin membuat seringai Kyuhyun terlukis dengan indah. Namja itu turun dari ranjang Henry dan mengendong Sungmin dengan bridal style. "ayo kita pindah kekamar kita. Aku sangat-sangat merindukanmu."

Sungmin mencubit hidung Kyuhyun dengan gemas. "kau baru saja mengunjungiku beberapa minggu lalu Cho."

"tetap saja aku kan butuh penunjang semangatku."

Sungmin mencibir meskipun wajahnya tersenyum setelahnya. "terserah kau saja, Cho Kyuhyun."

o0o—

Sungmin membuka matanya perlahan. Bisa dilihat bias-bias cahaya matahari mulai masuk kedalam kamar melalui sela-sela jendela. Yeoja itu tersenyum bahagia melihat wajah damai Kyuhyun yang tertidur sambil memeluknya.

Inilah impiannya sejak lama. Menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga. Membangunkan suaminya dengan morning kiss yang manis, membangunkan anaknya, menyiapkan sarapan dan perlengkapan suami dan anaknya. Dan terakhir mengantarkan mereka pergi beraktifitas diluar sana. Sederhana bukan?

Sungmin bangun dengan perlahan agar tidak membangunkan Kyuhyun yang masih terlelap. Tangannya terjulur untuk mengambil kimono yang terlipat rapih dibawah ranjang dan memakainya untuk menutupi tubuh polosnya.

Dia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri lalu menyiapkan sarapan untuk kedua namja tercintanya.

.

Sungmin menata sandwiched kesukaan Henry dan roti panggang diatas meja untuk sarapan Kyuhyun. Tidak ketinggalan juga dua cangkir latte untuk Kyuhyun dan dirinya, dan segelas penuh hot coklat untuk Henry.

"selesai, sekarang tinggal membangunkan putra namja tampanku." Ucapnya semangat. Kyuhyun sudah bangun saat dirinya selesai mandi. Jadi sekarang tugasnya hanya mempersiapkan Henry untuk berangkat sekolah.

Sungmin masuk kedalam kamar nuansa biru itu dengan hati-hati. Dia memposisikan dirinya duduk disamping Henry. Senyum diwajahnya tidak pernah luntur saat melihat rupa sang anak dari dekat. Tangannya dengan perlahan mengelus rambut Henry dengan lembut. "Henry-ah, wake up. Its time to go to school."

Henry mengeliat pelan. Saat matanya benar-benar terbuka sempurna, namja kecil itu langsung menepis lengan Sungmin yang akan mengelus kepalanya. "jangan menyentuh kepalaku."

"Henry-ah."

"kenapa adjumma sudah disini pagi-pagi seperti ini. Membuat moodku buruk saja." Namja itu langsung beringsut turun dan berjalan kearah kamar mandinya. Tanpa menyadari dia baru saja menyakiti seorang yang sudah melahirkannya ke dunia.

Sungmin menggeleng pelan. Dengan cepat dihapuslah airmatanya. Henry tidak membencinya. Anak itu hanya belum terbiasa ada orang selain Kyuhyun didekatnya. Ucap Sungmin menyemangati dirinya.

.

Kyuhyun sudah berada dimeja makan saat dirinya keluar dari kamar Henry. "hei, pagi sayang." Sapanya.

Sungmin tersenyum lalu memberikan kecupan singkat dibibir namja itu. "morning."

"Henry sudah bangun?"

"ne, dia sedang mandi dan bersiap. Kyu, boleh aku mengantar Henry kesekolah hari ini?" pertanyaan Sungmin dijawab kekehan lembut oleh Kyuhyun.

"waeyo? Kenapa tertawa?" ucap Sungmin sebal.

Kyuhyun merangkul pinggang Sungmin agar berdekatan dengannya. "kenapa harus bertanya. Tentu saja boleh, kau kan Mommy-nya."

Tak berselang lama Henry keluar dari dalam kamarnya sembari menjinjing ransel biru. "pagi jagoan!" sapa Kyuhyun.

"pagi Daddy!"

Kyuhyun mengelus rambut Henry dengan lembut. "hei, beri salam juga untuk Mommy."

Henry mengendus sebal."shireo!"

"Henry!"

"annyeonghaseo." Suara lembut itu membuat ketiganya menoleh. Eunhyuk langsung membungkuk sopan kearah Sungmin. Keduanya sama-sama terkejut akan kehadiran masing-masing.

"Hyuk aunty!" seru Henry dengan senang.

Kyuhyun menyerengit melihat kedatangan Eunhyuk yang tiba-tiba kerumahnya dipagi hari tanpa dia menyuruhnya terlebih dahulu. Dan seingatnya, semalampun dia tidak menghubungi sekertarisnya itu untuk datang kerumah.

"ada apa kau datang pagi-pagi sekali? Tidak biasanya. Aku bahkan mengingat dengan jelas bahwa aku tidak menyuruhmu untuk datang kan?" tanya Kyuhyun langsung.

"ah, aku ditelpon oleh Henry. Dia menyuruhku datang dan mengantarkannya pergi ke sekolah." Ucapnya jujur.

"Hyuk aunty! Ayo kita berangkat!" Henry mengambil ransel dan memakainya dengan satu gerakan cepat.

"Henry, kau belum memakan sarapanmu!" seru Kyuhyun.

Henry menoleh. "aniya, aku akan sarapan dengan bekal yang Hyuk aunty bawa saja. Aku berangkat Dad!" namja itu melambaikan tangannya dan mengenggam lengan Eunhyuk.

Kyuhyun mengendus saat dua sosok itu menghilang dari pandangannya. Dia berdiri dan berlutut didepan Sungmin yang menunduk. Kyuhyun tau yeoja itu pasti menangis. Bisa dilihat dari bahunya yang bergetar hebat.

"uljima." Ucapnya lembut. Jemari panjangnya menyeka butiran air mata yang turun dipipi mulus milik Sungmin.

"dia menolakku, Kyuhyun." ucap Sungmin lirih.

"bukan menolak, dia hanya belum terbiasa." Kyuhyun bangkit dan berdiri dihadapan Sungmin yang masih terduduk. Yeoja itu memeluk pinggangnya dengan segera dan kembali menangis.

o0o—

Sudah hampir satu bulan Sungmin berada di Korea, dan keadaannya dengan Henry betul-betul belum membaik. Anak itu selalu menolak dan tidak menghiraukannya. Ada kalanya juga dia merasa putus asa, tetapi disana ada Kyuhyun yang menguatkannya.

Sungmin pernah membicarakan tentang keputusannya untuk kembali ke London dan membiarkan Kyuhyun menikah dengan yeoja pilihan Henry—Eunhyuk, tetapi Sungmin tidak berani lagi membicarakannya karena Kyuhyun marah besar padanya saat itu.

Hari ini Sungmin menjemput Henry. Beruntunglah karena Kyuhyun sibuk dikantor, sehingga Eunhyuk juga tidak bisa keluar kantor untuk menjemput Henry, seperti yang sudah-sudah.

Sungmin langsung keluar dari dalam mobil saat gerbang sekolah sudah terbuka. Dengan mudah Sungmin langsung menemukan anaknya, anak itu seperti bersinar ditengah kerumunan. "Henry-yah!"

Henry. Anak itu memandang tidak suka kearah Sungmin yang melambai kearahnya. Mau tidak mau dia harus pulang bersama Sungmin kali ini. Eunhyuk menghubunginya tadi jika dia tidak bisa meninggalkan kantor sama sekali.

"kajja!" Sungmin dengan senyum semangatnya memacu mobilnya keluar dari area sekolah Henry. Dia memikirkan tempat-tempat menarik apa yang akan bisa mengakrabkan mereka berdua.

"Henry-yah kau mau kemana setelah ini?" tanya Sungmin. Yeoja itu sesekali menoleh kearah anaknya dan kembali berkonsentrasi dengan kemudinya.

"pulang saja."

"ah waeyo? Ah, bagaimana kalau ke Kona Beans?"

"ani."

Sungmin memikirkan kembali tempat yang tidak akan pernah Henry tolak. "ah, bagaimana kalau Game Center pasti—

"aniya!" jeritan Henry membuat Sungmin terkejut. Yeoja itu dengan perlahan menghentikan mobilnya dipinggir jalan raya yang lengang itu.

"Henry-ya." Gumamnya.

Henry menandang Sungmin dengan tajam. "adjumma jangan pernah mencoba mendekatiku atau Daddy."

"kau.. kau membenciku ya?" tanya Sungmin sedih.

Sebenarnya Henry tidak tega juga melihat airmata yang sudah menggenang dipelupuk mata yeoja itu. Tetapi egonya sebagai seorang Cho mengesampingkan hal tersebut. "iya, aku sangat membencimu. Bisakah kau tidak berada didekatku dan Daddy."

Hancur sudah. Ucapan Henry bagaikan belati yang menusuk tepat kearah jantungnya. Hati ibu mana yang tidak hancur saat mendengar anaknya sendiri mengucapkan kalimat tersebut.

Sungmin tersenyum walaupun airmatanya mengalir disaat yang bersamaan. "geurae, aku akan menjauh dari kalian berdua. Berbahagialah Henry, anakku." Sungmin kembali menghadap kearah depan, tetapi matanya langsung membulat sempurna saat sebuah mobil melaju kencang kearahnya.

"tidak!" Sungmin secepat kilat melepaskan seatbeltnya dan memeluk Henry dengan penuh perlindungan. Setidaknya, dia bisa melakukan hal ini disaat terakhirnya.

BRUK…

TRAAANG

Kyuhyun menegang saat bingkai foto keluarganya jatuh saat dia membereskan map-map penting untuk rapat nanti sore. Dengan cepat dia mengambil bingkai itu, ternyata kacanya sudah pecah dan berhamburan dibawah mejanya.

Kyuhyun memandang foto Sungmin yang sedang mengendong bayi Henry dengan pandangan gusar. "kalian berdua, tidak terjadi apa-apa kan?" gumamnya.

.

.

To be Continue.

.

.

Hallo hallo, masih ada yang inget sama ff ini? /digetok/ maaf yaaaa, maaf. Udah deh saya gak mau basa basi lagi. Keep love and support Kyumin no matter what happen guys. I love you Joyers.

.

Read, and Review?

TANIA LEE