Relief Masa
A Hetalia Fanfiction
Hetalia milik Hidekazu Himayura
Main Chara: Laos, Cambodia (Kan'na Lulaby, Chiara Chorine)
Rated: K
Genre: Hurt/Comfort, Romance, more Friednship
Warning: OC, Semi-Historical, Cambodia POV
Summary: Setiap tahunnya, aku mengukir. Mengukir dengan jelas namamu di batu itu. Berharap kau akan datang lagi. Seperti di saat aku masih memilikimu.
.
.
.
.
Aku menunggumu. Aku menunggumu di sini. Di sini. Di tempat ini. Tempat yang sama sejak bertahun-tahun yang lalu. Kali ini, rinai hujan yang menemaniku. Bersama dengan patuk kayu dan palu kecil. Mengukir di batu. Bunyi ketukan antara patuk kayu dan batu menjadi alunan nada yang bergema di bawah hujan. Bunyi dengan tempo yang lambat laun bertambah cepat. Menjadi melodi pengisi sunyi hari itu. Bunyi yang sedikit menyatakan detak jantung ini. Detak yang semakin cepat setiap detiknya.
Aku mengharapkanmu. Mengharapkanmu ada di sini. Di tempat ini. Bersamaku. Seperti saat kau masih bersamaku.
Teriring sembah sujudku pada Budha yang mempertemukan aku denganmu. Budha yang akhirnya memutuskan untuk menyatukan kau denganku. Budha yang juga memberi keputusan untuk memecahbelah kerajaan Khmer yang menguasai Semenanjung Indochina. Memisahkan aku dan kau dalam kesebelahan yang menyiksa.
Aku tak menyalahkan Budha karena keputusannya. Aku tahu Budha memberiku keputusan yang terbaik dengan ini.
Aku menyelesaikan ukiranku tahun ini atas batu yang sama. Batu yang sama yang aku ukir namamu tahun-tahun sebelumnya. Batu yang masih berdiri tegak di pinggir sungai yang sama. Semua sama saja selama ini. Kau tak pernah datang menepati janjimu. Aku hanya menunggu dirimu sampai matahari terbenam. Meski begitu, aku selalu menunggumu. Menunggumu yang berada di bawah langit yang sama. Aku tak tahu apa yang kau pikirkan sekarang.
Kau berada di mana? Dengan siapa? Aku sebenarnya tak mau peduli lagi. Namun jika itu kau, aku tak punya kekuatan untuk tidak peduli. Kau selalu menarik perhatianku. Di mana ketika kau berada di bawah kekuasaan Khmer, kau yang tak berkutik malah menghancurkan harapanku. Kau memberikan semua perhatianmu pada orang lain yang berada diluar Khmer. Dia yang bahkan terlihat seperti lelaki. Kau mengacuhkanku hanya demi melihatnya. Hanya untuk melihat Bratesa Hveilipin (Filipina/Philippines). Kau yang tampaknya terluka saat membaca pesan dari Bratesa yang saat itu dijajah Esbanh (Spanyol/Spain). Kau begitu peduli pada Bratesa.
Kau mengabaikanku. Kau tak peduli akan kehadiranku. Hingga Budha menghendaki Khmer terpecah belah, dan sebagian Indochina dijajah oleh Barang (Perancis/France). Perhatianmu teralihkan pada negerimu. Tak lagi melihat Bratesa di seberang sana. Semenanjung Indochina terjajah dalam kurun waktu cukup lama. Namun ada satu yang tak berhasil dijajah oleh Barang. Thai (Thailand) masih bertahan dan menjadi macan terkuat di Semenanjung Indochina yang tak terjajah. Tanah Thai masih suci tanpa adanya penjajah.
Kau berubah sejak kemerdekaanmu. Kau menjadi ceria, aku akui poker facemu yang itu. Tapi kau menjadi tertutup, dan aku akui keahlianmu menutupi dirimu. Aku tak menyangka, kau merdeka dengan caramu sendiri. Sementara aku di sini tak tahu apa itu bebas. Apa itu merdeka. Hingga pada akhirnya aku merasakannya. Preăh Réachéanachâk Kâmpŭchéa, adalah namaku sekarang. Aku monarki dalam kerajaanku sendiri.
Kau tetap tak melirikku. Tetap mengurusi Bratesa di seberang sana. Kau berteman baik dengan Bratesa dalam PBB maupun ASEAN. Aku bukan syirik dengan sahabatku sendiri. Tapi aku merasa seperti angin lalu. Kau mengabaikanku. Namun tetap menganggapku ada, meski hanya sekedar nama.
.
Aku berharap kau datang tahun ini. Meski mungkin kau sendiri tidak ingat tempat ini. Sesungguhnya setiap relief yang terukir pada batu ini adalah tentang dirimu. Relief yang mulai aku ukir sejak bertemu denganmu. Dan pinggiran sungai ini menjadi saksi bisu kau dan aku saat itu. Batu yang dulu aku gunakan sebagai tempat bersembunyi dari Barang. Batu yang sama yang aku gunakan saat kecil untuk bersembunyi dari Vietneam (Vietnam) dan Miyeanmea (Myanmar), saat masih kecil. Tempat yang sama ketika aku bertemu denganmu. Kau yang duduk terdiam menyandar ke batu.
Dan ketika kutanya "Siapa kau?", kau hanya menjawab "Tidak tahu". Dan itu hal yang sama aku ucapkan ketika kau balik bertanya aku siapa.
Namun sekarang, kau dapat berkata "Aku Laos" tanpa ragu lagi. Aku senang melihatmu begitu. Namun menyayangkan dirimu yang berubah menjadi seperti tak mengenaliku.
Dan aku benci keputusan yang kau ambil.
.
.
.
.
END
.
.
.
.
A/N: Fic yang temanya request dari teman saya, "gambaran masa lalu dan masa kini". Semi-historical lagi. Hehe... Dulu Kerajaan Khmer itu kerajaan yang menguasai seluruh semenanjung Indochina. Lalu Khmer terpecah, dan sebagian dijajah Perancis. Namun Thailand bertahan dan menjadi satu-satunya yang bertahan, juga membuat sosok Perancis ketakutan.
Ah, fic ini rada aneh memang. Saya malah nyelipin AbyAlin (Laos-Philippines). Bikin suasana hati Ara makin hancur saja.
Hehe... Mau request? Boleh aja, kok... Author lagi cari kerjaan sampingan.
Salam akhir,
Mind to review?
ON: 24-02-2016
