Our

A Hetalia Fanfiction

Disclaimer: Hetalia milik Hidekazu Himayura

Main Chara: Brunei Darussalam, Philippines (Muhammad Ilmaya Zaheera, Maria Alindogan)

Rated: K

Genre: Family, Hurt/Comfort, some Friendship

Warning: OC, OOC, Human!AU, Author & Brunei pasive POV

Summary: Hari itu sepucuk surat datang pada Alin. Surat yang kertasnya bergelombang, dan tulisannya tak berimbang dengan garisnya. Surat yang membuat Alin harus menahan dirinya.

Note: Tidak bermaksud untuk mem-bash, atau menghina suku/agama/ras tertentu.

.

Seorang wanita berambut merah berlari melintasi semua hal. Trotoar seakan menjadi lintasan sprint untuk profesional seperti Alin. Alin meninggalkan kekasihnya yang tengah berusaha menyusul dengan motornya. Alin menghargai usaha Antonio, namun dia tak bisa mengulur waktu lagi. Alin hampir saja terlambat. Surat itu membuat seluruh perhatian Alin dari olimpiade atletik ke arah sahabat lamanya. Alin tak lagi ingin mengulur waktu, wanita itu harus cepat.

.

Minggu, 06 Maret 2016

Teruntuk: Maria Alindogan

Di: Madrid, Spanyol

Halo, Alin. Apa kabarmu? Aku di sini mungkin tidak sesehat dirimu.

Aku mengenalmu. Kau yang sejak dulu bersamaku. Kau selalu tersenyum, bahkan di saat kau menangis. Orang selalu berkata kau adalah lelaki tangguh, namun kenyataannya kau hanyalah perempuan cengeng yang bisanya hanya berdiri di belakang tubuh ringkih Lulaby. Yah... Aku tahu mengapa kau begitu. Kau tak suka dikira lelaki, meski fisikmu seperti lelaki. Dari rambut coklat bata kemerahan yang dicukur pendek, dada rata, suara yang berat, serta bahu yang lebar. Yah... Sudah menjadi hobimu untuk berenang dan mendayung di lautan bebas. Tapi kok sampai sebegitu tomboynya kamu, ya..?

Orang bilang kita kontras. Aku yang diam, pemalu, meski sedikit sarkastik, tak pernah cocok denganmu yang selalu bergerak, percaya diri, serta ramah. Tapi menurutku, kita itu sama saja. Sama-sama manusia. Yang berbeda hanya tingkat ketaqwaannya. Kata Kakak Tertua, yang sering melihat kamu dari atas pohon, dia kira yang sedang berlatih itu laki-laki. Tapi begitu melihat wajahmu, dia sadar kau itu perempuan. Ahh~ sepertinya insting Kakak Tertua itu tajam ya, padahal wajahmu itu benar-benar seperti lelaki. Cih, kalau saja yang menebak itu Kakak ke-2, dia pasti bilang "lelaki tulen". ._. Kakak ke-2 memang ceplas-ceplos kalau soal gender, karena dia sendiri ragu sama gendernya...

Ah, aku ingat saat kita sedang berada di salah satu daerah umum, Zone of Freedom, di dunia. Saat itu, kita ber-11 berangkat pagi-pagi sekali. Kau yang biasanya memakai training dan terlihat macho, berubah menjadi wanita cantik berbando merah. Yah... Kakak ke-2 saja sampai lupa daratan melihat dirimu. Kak Indy, Kakak ke-2, terus saja inginnya nempel sama kamu. Aish... Kenapa orientasi seksual Indy itu tidak pernah pasti, dia sendiri bahkan binging dengan gendernya. Dunia anak albino memang aneh, ya?

Saat ke ZoF, kau bagaikan orang yang berbeda. Kau menghormati semua orang dengan gaya sopan seorang señora España (wanita Spanyol). Karena mau bagaimanapun, kau pernah tinggal di Spanyol. Dan dari kelakukanmu sebagai señora España, seorang lelaki Spanyol tertarik padamu. Umurmu 14 tahun saat mengenal lelaki itu. Setelah itu, kata Kakak Tertua, kau dan dia menjalani hubungan sebagai TTM [1], secara LDR [2]. Yah... Aku tak tahu apa artinya. Tapi kata Kakak Kembar Tertua, yang pasti itu tanda-tanda. Nah, itu lagi, aku sama sekali tidak mengerti.

Hei, kamu. Sudah 2 tahun kita tidak bertemu. Terakhir aku melihatmu, ketika kau dan dia berdiri di atas pelaminan. Saling mengikat janji suci di depan salib. Aku melihatmu, di barisan pertama. Meski aku tidak mengikuti prosesi do'a di gereja; karena aku Islam. Yah... Aku mendo'akanmu dari jauh. Mungkin Aby kecewa dengan keputusanmu menikahi Antonio, lelaki itu. Tapi aku tahu dia rela melepaska cinta pertamanya demi Ara. Yah... Wanita yang telah lama menunggu Aby itu pantas mendapatkan Aby...

Ah... Aku menulis surat ini dengan susah payah. Tapi aku malah melantur saat menulisnya. DOR saja diri ini. Hidupku tak akan lama lagi. Setidaknya aku masih bisa hidup sampai sekarang saja, aku sudah bersyukur. Mungkin saja, besok aku sudah tak bernyawa. Ahaha... Penyakit memang begitu, meski diagnosanya minggu yang akan datang, mungkin saja hari yang akan datang aku tak lagi benafas. Percaya saja kata-kataku... Aku menunggumu selama aku masih bisa bernafas, Alin... Aku menunggu.

Maaf kalau ini mengagetkamu. Haha... Tanggal 7 Maret 2016 besok, aku akan dioperasi. Do'akan aku, ya... Kalau operasi ini berjalan dengan tidak lancar, do'akan aku juga, ya... Ahaha... Aku menunggu.

Tertanda,

Muhammad Ilmaya Zaheera,

di Mount Elizabeth Novena Hospital, Singapore

.

Alin berhenti berlari. Wanita asal Filipina itu mengambil nafas, bersamaan dengan tangannya yang bertumpu lutut. Alin lantas kembali mendongak dan berlari lagi. Alin tak bisa mengulur waktu lagi. Sudah cukup, waktu yang Alin ulur selama ini. Beberapa tahun adalah waktu yang cukup lama. Cukup lama untuk ketahanan penyakit. Cukup lama untuk memendam rindu.

Alin memasuki koridor. Berhenti di depan sebuah pintu yang ditunggui oleh beberapa orang.

"Siang yang melelahkan ya, Maria Carriedo Alindogan?" Suara itu sampai ke telinga Alin. Suara ketus dengan nada sarkastik dari seorang lelaki Melayu. Alin mendongak, menatap sang lelaki Melayu angkuh tadi dengan penuh rasa heran.

"Azali, apa maumu dengan berkata seperti itu..?" Alin mendelik menatap lelaki melayu berambut mocca itu. Sementara Azali hanya menatap sinis pada Alin.

"Hoi. Cukup. Kita di sini untuk Ilma. Kau pikir, dengan berisik Ilma bisa selamat?" Tegur seorang lelaki berambut raven pada Azali dan Alin. Sudahlah, isi kepala Inga sudah penuh dengan banyak hal. Kenapa pula harus ada masalah seperti ini..?

.

A day, 2021

Sebuket bunga mawar berpendar perak, dibawa seorang wanita berambut coklat kemerahan ke arah kompleks pemakaman. Kakinya membawa wanita itu menuju sebuah makam bernisan marmer, berukirkan nama dalam aksara arab. Alin meletakan buket bunga itu di atas nisan. Manik aquamairenya menatap nisan marmer itu sendu.

Namun tak perlu waktu banyak, hingga tetes-tetes bening mengenai batu marmer itu. Bersamaan dengan berlalunya wanita itu.

.

.

.

.

END

.

.

[1] TTM (teman tapi mesra): satu istilah yang digunakan untuk menyebut 2 orang teman atau sahabat yang dekat, seperti sepasang kekasih, namun bukan kekasih.

[2] LDR (Long Distance Relationship): satu istilah yang digunakan untuk menyebut 2 orang teman, kekasih yang berhubungan namun dibatasi jarak yang jauh.

.

.

A/N: Setelah sekian lama tidak up-date, saya kembali dengan pair lain. Saya mau gila memikirkan tugas bahasa dan SBK yang panjangnya gak kira-kira. Mana Lomba Seni Budaya Daerah semakin dekat... Vocal saya masih salah irama, bukannya ngikut alto, malah ngikut tenor. Saya hampir gila... Mana minggu depan itu Mid Semester Test, lagi. Do'akan saya kuat ngerjain soalnya... T,T

Story ini terispirasi dari nasib OC saya, Brunei, yang gak dapet pasangan sama sekali. Lalu jadilah cerita friendship tidak jelas ini. Brunei sama dengan saya, mencinta tapi masih jomblo. Istilahnya CLBK (cinta lama belum kesampaian).

Bagi yang gak tahu: Kakak Tertua - Indonesia - Fatma Karunia Cahyaningtyas, Kakak ke-2 - Hindia Belanda - Indy Sanjivani, Kakak ke-3 - Malaysia - Muhammad Azali, Kakak ke-4 - Singapore - Zhiang Singhwa, Si Bungsu - Brunei Darussalam - Muhammad Ilmaya Zaheera, Spainish Man - Spain - Antonio Fernandez Carriedo

Saya sedang menunggu request, agar ide mengalir lancar. Mau request? Boleh, kok...

Akhir salam,

Mind to review?

ON: 07-03-2016