A SUPER JUNIOR FANFICTION

Title : I'M YOUR MOMMY

Cast : Kyumin. Child! Henry and other Super Junior member.

Warning : Genderswitch. Typo(s). gajeness. Tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. If you don't like my otp, just go out from here!

.

.

.

~previous chapter~

"Daddy!" Henry menghampiri Kyuhyun yang baru saja tiba. Namja itu memberikan senyum separuhnya. "dimana Mommy?"

"dikamar."

Kyuhyun menyuruh Henry untuk kembali melanjutkan game yang ditinggalkannya tadi dan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Sungmin menoleh saat suara debuman pintu terdengar. Dia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan wardrobe lalu menghampiri Kyuhyun yang tampak kusut. "kau sudah pulang." Sapanya.

Kyuhyun hanya diam memperhatikan Sungmin. "bisa kau jelaskan apa maksudnya ini." namja itu menyerahkan ponsel yang sedari tadi dipegangnya pada Sungmin.

Yeoja itu menerimanya dengan bingung. Tetapi matanya membulat saat melihat foto dirinya sedang dipeluk oleh Aiden. "Kyu, ini…" ucapnya lemah.

"kau menghancurkan kepercayaanku Sungmin." namja itu berbalik dan membuka pintu kamar mereka.

Sungmin berlari mengikuti Kyuhyun. Tidak dihiraukannya pusing dan denyutan diperutnya makin menjadi saat berlari menuruni anak tangga. "Kyuhyun! tunggu—akh." Sungmin jatuh terduduk diakhir tangga. Tangannya dengan gemetar meremas ujung bathrope yang digunakannya.

"Mommy!" Sungmin masih mendengar teriakan Henry dan beberapa langkah yang mendekatinya. Sebelum kegelapan benar-benar menenggelamkannya, dia bisa merasakan cairan hangat keluar dari kewanitaannya.

~CHAPTER 6~

Kyuhyun meremas rambutnya kencang. Bayangan cairan yang keluar dari sela paha Sungmin membuat jantungnya hampir berhenti. Apalagi jika melihat lebih teliti lagi, lengan kemeja dan sebagian baju putihnya terkena darah Sungmin tadi.

Dia meruntuki amarahnya yang mengebu-gebu tadi. Seakan dia melupakan bahwa Sungmin sedang hamil muda. Dan dia sangat tau jelas, kandungan Sungmin diawal kehamilan sangat renta mengalami keguguran karena kondisi fisiknya.

"Daddy, hueee~"

Suara tangisan Henry menyadarkannya. Dia memeluk Henry yang sudah menangis tersedu saat melihat Sungmin pingsan dan berdarah tadi. Teriakan Henry tadi memanggil Sungmin membuat langkahnya berbalik dan langsung menggendong Sungmin menuju rumah sakit terdekat.

"Daddy, Mommy dan adik bayi tidak apa-apa kan?" Henry berbicara disela isakan tangisnya. Bocah kecil itu masih menempel pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengeratkan pelukannya pada Henry. "kita doakan saja, semoga Mommy dan adikmu baik-baik saja." Ucapnya.

Satu jam kemudian, ruang instalasi gawat darurat itu terbuka. Kyuhyun berdiri dari duduknya dengan Henry yang tertidur didalam dekapannya. Bocah itu langsung tertidur karena kelelahan menangis.

Kyuhyun menghampiri seorang dokter muda dengan name tag Kim Ryeowook itu. "Dokter, bagaimana keadaan istri dan anak kami?"

Dr. Kim tersenyum tipis. "Sungmin-sshi hanya mengalami kontraksi ringan sehingga membuatnya pendarahan. Kondisinya menurun drastic selama kehamilan ini, apa pada kehamilan pertama juga demikian?"

Kyuhyun mengangguk. "ne, saat kehamilan pertamanya kondisinya memang lemah. Tetapi tidak sampai mengalami pendarahan seperti ini."

Helaan nafas pelan terdengar dari mulut Dr. Kim. "saya mengira Sungmin-sshi sedang banyak fikiran sehingga membuat kondisinya semakin drop. Saya harap anda bisa menjaga suasana hatinya dan menjauhkannya dari permasalahan-permasalahan yang menguras fikirannya." Kyuhyun mengangguk mendengarkan petuah dari dokter muda dihadapannya itu.

"baiklah, Sungmin-sshi akan segera dipindahkan keruang rawat inap. Anda bisa menemaninya disana. Saya permisi, Mr. Cho."

Kyuhyun membalas salam yang dilakukan Dr. Kim padanya. Dalam hati tidak pernah berhenti dia mengucapkan syukur karena istri dan calon anaknya masih berada bersamanya.

.

.

.

.

Sungmin merintih pelan. Rasa pusing dikepalanya membuatnya tidak bisa bergerak banyak. Kemudian, dirasakannya sebuah tangan besar yang mengelus dahinya dengan lembut. Tanpa membuka matanyapun dia tahu, ini Kyuhyun. suaminya.

Mengenai kejadian semalam membuat airmatanya menetes meskipun manik matanya terpejam. Jemari Kyuhyun bergerak untuk menghapus airmata itu. "gwenchana. Sayang. I'm here."

Dengan perlahan Sungmin membuka kedua matanya. Tangannya bergerak mengenggam lengan Kyuhyun yang masih berada diwajahnya. "Kyuhyun-ah, maafkan aku." Lirihnya.

"sstt… tidak ada yang perlu dimaafkan. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu." Ucap Kyuhyun.

Sungmin menggeleng lemah. "tidak. Aku minta maaf soal foto semalam. Itu benar, aku mabuk bersama Aiden. Maafkan aku." Ucapnya jujur. Kyuhyun ingin marah dan berteriak sebenarnya. Tega-teganya Sungmin menghianati kepercayaan yang diberikannya dengan pergi bersama Aiden—Lee Donghae—dan menghabiskan waktu bersama?

"sudahlah. Tidak perlu membahas itu. Kau harus istirahat yang cukup."

"Kyu, bagaimana bayi kita? Apa dia baik-baik saja?" tanya Sungmin.

Kyuhyun mengelus perut Sungmin dengan tangannya yang bebas. "dia baik-baik saja. Makanya kau istirahat sekarang, hm?" Sungmin mengangguk lalu memejamkan matanya. Menikmati setiap belaian tangan Kyuhyun pada perutnya dan dengungan nada sebuah lagu kesukaannya.

o0o—

Sungmin mengamati Henry yang sedang bermain dengan rubik yang menjadi kegemarannya akhir-akhir ini. Meskipun matanya memperhatikan Henry. Tetapi jika kalian lihat dengan seksama, pancaran mata itu terlihat redup dan kosong.

Dalam hati dia bertanya-tanya dengan perubahan sikap Kyuhyun belakangan ini. Tepatnya setelah kepulangannya dari rumah sakit dua hari lalu. Kyuhyun terlihat jarang bicara. Selalu mengurung dirinya diruang kerja pribadinya dirumah dibandingkan menemani istri dan anaknya.

Bahkan sampai sekarang, jam dinding sudah menunjukan pukul Sembilan malam dan Kyuhyun belum juga pulang. Tidak seperti biasanya.

Puluhan pesan dan panggilan tidak pernah dibalas ataupun diangkat olehnya. Kyuhyun terkesan menghindar darinya.

Memikirkan itu membuat matanya berkaca-kaca.

"Mommy? Kenapa menangis?" suara Henry membuat lamunan Sungmin terhenti. Dengan senyum yang berusaha dipasangnya, dia menghapus bulir-bulir airmata yang sudah jatuh dipipinya.

"aniya. Mommy tidak menangis. Hanya kelilipan saja." Jawabnya.

Untunglah Henry adalah anak yang polos. Dengan pelan dia menganggukan kepalanya dan kembali bermain dengan rubiknya. "Mommy, kenapa Daddy belum pulang juga? Tidak biasanya kan?" tanyanya.

"mungkin Daddy banyak pekerjaan." Ujarnya. "Baby, ini sudah hampir jam sepuluh. Ayo tidur." Sungmin bangkit dari duduknya dan menghela Henry untuk masuk kedalam kamarnya.

Sungmin membereskan kasur Henry ketika bocah kecil itu keluar dari kamar mandi pribadinya untuk menyikat gigi dan mencuci kaki. "Cha~ jaljayo baby." Yeoja itu merapikan selimut yang dipakai Henry sebatas dada lalu memberikan kecupan dibibir.

"jaljayo Mommy dan adik bayi."

Sungmin tersenyum dan keluar dari kamar Henry. Sebenarnya dia sudah menahan kantuk sedari tadi, tetapi melihat Kyuhyun belum pulang dia memilih menunggu suaminya diruang keluarga.

.

.

.

.

Kyuhyun memarkirkan mobilnya didalam garasi. Melirik jam Rolex dilengan kirinya sudah menunjukan pukul sebelas malam. Dia berjalan menuju anak tangga, sampai matanya menangkap sosok Sungmin yang tertidur disofa ruang keluarga.

Langkah kakinya hampir tidak terdengar. Dia berhenti didepan Sungmin dan mencondongkan tubuhnya sedikit untuk mengamati wajah cantik nan pucat itu.

Kyuhyun merasa menjadi suami yang paling jahat didunia ini. membiarkan istrinya yang sedang hamil menunggu dirinya dan tertidur dengan posisi yang tidak nyaman seperti ini. Dengan pelan, dia menaruh ransel serta jasnya disingle sofa. Lalu dengan hati-hati dia membungkuk dan membawa Sungmin kedalam rengkuhannya.

Dalam langkahnya menuju kamar mereka. Kyuhyun bisa pastikan Sungmin habis menangis. Terlihat dari jejak airmata dipipi serta sisa cairan bening itu yang ada dibulu matanya.

Dengan perlahan dia membaringkan tubuh Sungmin diatas ranjang lalu menyelimutinya dengan bedcover tebal. "aku mencintaimu, sayang." Dan diakhiri memberikan sebuah ciuman ringan dibibir Sungmin sebelum Kyuhyun melangkah menjauhi kamar pribadi mereka berdua.

o0o—

Pagi hari berikutnya, Sungmin terbangun sendirian diatas kasur mereka. Tangannya dengan perlahan meraba tempat dimana seharusnya Kyuhyun tertidur. Tempat itu masih terlihat rapih dan sepertinya tidak ditempati oleh suaminya.

Memikirkan itu membuat matanya kembali berkaca-kaca. Kyuhyun benar-benar menghindarinya.

Dengan gerakan pelan dia bangkit dari berbaringnya. Terduduk sebentar dipinggir ranjang setelah lima menit kemudian berdiri dan keluar dari kamar pribadi mereka menuju ruangan kerja Kyuhyun.

Deritan pintu terdengar pelan saat Sungmin membuka pintu kayu dihadapannya. Matanya langsung menemukan Kyuhyun yang tertidur dibalik meja kerjanya dengan posisi yang kurang nyaman.

Dengan kemeja yang diyakini Sungmin masih sama dengan kemarin pagi. Yeoja itu mengelus pelan rambut Kyuhyun. "aku lebih suka kita berbicara langsung daripada kau menjauh dan mendiamiku seperti ini."

Kyuhyun mengeliat dalam tidurnya. Dengan perlahan matanya sipitnya terbuka. Sedikit terkejut saat melihat Sungmin berada dihadapannya. "kau disini?" tanyanya.

Sungmin tersenyum tipis. "ya, untuk membangunkanmu. Lekas mandi dan kutunggu diruang makan." Saat siluet tubuh Sungmin terlihat menjauh dan menghilang dibalik pintu ruangannya, namja itu mengacak rambutnya gemas. Dia bisa melihat senyuman istrinya tidak seperti biasanya, ada kegetiran disana dan itu disebabkan olehnya.

.

.

.

.

"Daddy!" Henry berteriak nyaring saat melihat Kyuhyun berjalan memasuki ruang makan. Namja kecil itu segera turun dari kursinya dan berlari menuju ayahnya. Dan Kyuhyun dengan sigap mengangkat tubuh tingginya itu.

"Hup! Kau sudah besar boy! Daddy tidak kuat menggendongmu," godanya.

Henry mengembungkan pipi bulatnya. "Daddy! Aku kan merindukan Daddy. Semalam aku, Mommy dan adik bayi menunggu Daddy, tapi Daddy tidak pulang-pulang. Huft."

Kyuhyun terkekeh pelan. "maaf, ne? Daddy banyak pekerjaan yang masih harus diselesaikan."

Henry tetap dengan pipi yang membulat. Matanya yang mirip Sungmin memandang tajam ayahnya. Dan Kyuhyun mengerti arti tatapan itu. "baiklah! Daddy akan pulang cepat hari ini dan menemanimu main game sampai puas, bagaimana?" tawarnya.

"COOL! I love you Daddy!" bocah berumur delapan tahun itu langsung memeluk leher Kyuhyun dengan erat dan tertawa riang.

Sungmin tersenyum melihat interaksi keduanya. Dia meletakan nampan berisi roti bakar, kopi untuk Kyuhyun dan secangkir susu vanilla untuk Henry. "sayang, ayo turun dan sarapan." Ujarnya.

Yeoja itu mengolesi roti bakar dengan selai coklat untuk Kyuhyun dan selai blueberry untuk Henry. Suapan Kyuhyun terhenti saat melihat Sungmin hanya memperhatikan Henry yang makan dengan lahap hingga membuat pipinya yang bulat semakin membulat.

"kau tidak makan?" tanyanya.

Sungmin menoleh dan menggeleng pelan. "aku mual jika makan pagi."

"kau seharusnya lebih perhatian pada anakmu. Dia membutuhkan nutrisi untuk perkembangannya." Kalimat yang dilontarkan Kyuhyun barusan membuatnya mematung. Kyuhyun selalu menyebut bayi dalam kandungannya dengan anak kita, sekarang kenapa dia berbicara seperti itu? Seolah bayi yang ada dalam kandungannya hanya miliknya seorang?

Sungmin mati-matian menahan airmatanya untuk tidak menetes. "aku mengambil bekal untuk Henry dulu." yeoja itu buru-buru bangun dari kursinya dan menghilang dibalik dapur.

Yeoja itu berdiri didepan westafel yang berada didepan kamar mandi yang berdekatan dengan dapur. Jemarinya meremas pinggiran westafel dengan erat, diiringi oleh bulir airmata yang jatuh dipipinya serta isakan samar karena dia menggigit bibir bawahnya.

"kenapa kau seperti ini, Kyu?" lirihnya.

Hampir sepuluh menit Sungmin berdiri dan menangis didepan westafel sampai suara Henry terdengar dari arah belakang membuatnya tersentak. "Mommy, kenapa menangis?" tanyanya.

Sungmin menyeka airmata dipipinya dengan jemarinya. Dia memberikan senyuman manis setelah berbalik menghadap Henry. "Mommy tidak menangis sayang, hanya kemasukan debu tadi." belanya.

Henry memperhatikan Sungmin dengan seksama lalu mengangguk mengerti. "bekal untukku, Mommy? Aku mau berangkat bersama Daddy saja." Tanyanya sembari mengadahkan kedua tangannya.

Sungmin berjalan kearah counter bar dimana kotak makan biru milik Henry berada. Dia mengambil kotak tersebut dan menghampiri Henry. "ayo baby."

Keduanya berjalan kearah ruang makan. Kyuhyun sudah lengkap dengan jas dan dasi yang sudah terpasang. Juga ransel miliknya yang sudah berada dibahunya. Sungmin mendekati tas Henry dan memasukan kotak biru itu kedalamnya.

"Mommy, aku berangkat!" Henry berujar seraya mengadah, Sungmin tersenyum dan memberikan sebuah kecupan manis dibibir anaknya itu. "belajar yang rajin, ne?"

Henry menaruh tangan kanannya diatas alisnya. Getsure hormat ala tentara. "siap bos!"

Sungmin kembali terkekeh dan mengelus pipi Henry dengan gemas. Yeoja itu menatap Kyuhyun yang sedari tadi mengamati interaksinya dengan Henry. "hati-hati dijalan, Kyu." Ujarnya.

Kyuhyun memberikan senyum tipisnya. "ne." tatapannya beralih pada Henry yang sudah siap dengan tas yang sudah berada dibalik bahunya. "kajja baby!" ajaknya.

Henry melambaikan tangannya dengan ceria. "bye-bye Mom! Adik bayi! Oppa mencintaimu~" ujarnya sembari mengikuti langkah Kyuhyun yang mengenggam tangannya untuk keluar dari dalam rumah.

Sungmin menghela nafas panjang dan mengusap airmata yang sudah jatuh kembali mengaliri pipinya. Bahkan Kyuhyun tidak memberikan ciuman seperti biasa saat dia akan bekerja.

o0o—

Seminggu berlalu dan interaksi mereka masih dingin seperti sebelumnya. Ah, bukan keduanya. Lebih tepatnya Kyuhyun yang berubah dan terkesan menjauhi Sungmin.

Yeoja itu sering kali bersikap pura-pura tidak tahu dan memperlakukan Kyuhyun seperti biasanya, tetapi terkadang dia ingin menangis didepan Kyuhyun dan meminta suaminya itu untuk memukulnya atau apapun, asalkan tidak dianggap dan didiami seperti ini.

Malam ini, entah malam kesekian untuk Sungmin menunggu Kyuhyun pulang bekerja. Jam dinding sudah menunjukan pukul sebelas malam dan suaminya itu belum pulang juga.

Deru mesin mobil yang memasuki kawasan rumah terdengar hingga ruang keluarga dimana Sungmin masih duduk terdiam. Beberapa menit berikutnya, suara langkah kaki terdengar mendekat.

"Sungmin? kenapa belum tidur? Ini sudah sangat larut." Tanya Kyuhyun.

Yeoja itu dengan perlahan bangun dari duduknya. Berjalan menghampiri Kyuhyun yang berdiri dibawah anak tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua. "ada yang perlu kita bicarakan, Kyu." Ujarnya.

Kyuhyun melirik jam dinding yang berada diatas telivisi diruang keluarga. "ini sudah hampir tengah malam. Lanjutkan pembicaraan ini besok." Kakinya berniat menaiki anak tangga sampai sebuah tangan halus mencekal lengannya.

"Sungmin—

"tolong berhenti menghindariku." Suara lirih Sungmin membuat perkataan Kyuhyun terputus.

"aku tidak menghindarimu."

Sungmin mengangkat wajahnya yang sudah basah dengan airmata. "tidak menghindariku kau bilang? Buktinya sekarang kau pulang jam segini? Kau tidak pernah tidur dikamar kita, kau tidak pernah lagi memberikanku ciuman saat kau berangkat kerja. Bahkan kau tidak benar-benar peduli dengan bayi kita!" Sungmin menaikan nada bicaranya. Semua emosi yang ditahannya keluar begitu saja.

Melihat Kyuhyun yang terdiam membuat Sungmin tersenyum sedih dan tangannya bergerak untuk menghapus airmata yang dengan lancangnya mengaliri pipi mulusnya. "jika kau bosan denganku, cukup menjauh dan berikan surat perceraian padaku!" serunya.

"SUNGMIN!" pekik Kyuhyun tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Sungmin. Demi Tuhan, dia tidak pernah berfikir seperti itu.

"jika kita bercerai nan—" perkataan Sungmin terhenti saat Kyuhyun memeluk tubuhnya dengan erat. Yeoja itu meremas kemeja bagian dada Kyuhyun dan menangis tersedu-sedu disana.

"demi Tuhan, Min! aku tidak pernah berfikir kesana. Kita tidak akan bercerai, kau dengar? Bagaimana dengan Henry? Dengan bayi kita? Kau tidak berfikir sejauh itu?"

Sungmin masih menangis. Kyuhyun mengelus rambut Sungmin dengan lembut. "jangan menangis. Maafkan aku." Ujarnya.

Sungmin menggeleng cepat. Dia menaikan wajahnya dan menatap Kyuhyun yang juga sedang menatapnya. "bukan kau yang harus minta maaf. Seharusnya akulah yang meminta maaf karena tidak jujur padamu. Kejadian itu—"

"Sssttt! Sudah jangan bahas masalah itu. Aku percaya padamu." Ujar Kyuhyun menghentikan penjelasan Sungmin. Namja itu mengecup kedua mata basah Sungmin, lalu hidung dan terakhir melumat sebentar bibir shape M yang dirindukannya itu.

"ayo kita tidur." Setelah ciuman mereka terlepas. Kyuhyun mengendong Sungmin didepan dadanya dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar mereka.

o0o—

Kyuhyun terbangun keesokan harinya dengan senyuman. Sejak semalam, jemari Sungmin tidak sama sekali mengendurkan cengkramannya pada kemeja baby blue yang dikenakannya. Bahkan saat dirinya bergerak sedikit saja, istrinya itu mengeratkan genggamannya dan mengeluh pelan.

Tidak dihiraukannya lengan kiri yang mati rasa karena semalaman menjadi bantal untuk istrinya. Ada yang lebih penting dari itu. Hubungan dinginnya dengan Sungmin membaik. Memang seharusnya seperti itu, berbicara langsung berdua. Bukan dengan cara kekanakan yang dilakukannya sebelumnya.

Lenguhan Sungmin membuat lamunan Kyuhyun terhenti. Matanya memandang wajah menggemaskan Sungmin yang akan membuka matanya. "pagi sayang." Ucapnya sembari memberikan kecupan singkat di kening Sungmin.

Sungmin menyipitkan matanya. Senyumnya terkembang saat mendengar dan melihat wajah Kyuhyun yang berada dihadapannya kini. "pagi."

Jemari Kyuhyun terjulur mengelus bagian bawah mata Sungmin yang membengkak. "matamu membengkak karena sering menangis karenaku." Ucapnya sedih.

Sungmin mengambil jemari Kyuhyun lalu mengecupinya satu persatu. "sudahlah. Yang terpenting sekarang, jangan membuatku menangis lagi."

Kyuhyun tersenyum dengan tampannya. "pasti, sayang."

"aku harus mandi dan menyiapkan sarapan." Kyuhyun mengangguk lalu melepaskan lengannya yang memeluk pinggang S line Sungmin. Pria itu menaruh kedua lengannya dibelakang kepala sebagai bantal dan menghadap langit-langit kamarnya. "semuanya akan baik-baik saja Kyuhyun." gumamnya pada diri sendiri.

.

.

.

.

Sungmin mengecek ponselnya guna melihat apakah orang yang ditunggunya kini sudah sampai atau masih dalam perjalanan ketempat dimana mereka janjian untuk bertemu.

Satu pesan masuk. Dan itu membuat yeoja itu tersenyum. Itu pesan dari Kyuhyun yang menyuruhnya datang untuk makan siang bersama dikantor. Dengan cepat jemarinya bergerak diatas layar touch screen iPhonenya membalas pesan Kyuhyun.

"hei, Sungmin-ah." Sapaan tersebut membuat yeoja itu menaikan wajahnya. Satu senyuman manis diberikan Sungmin pada sosok didepannya.

"hallo, Ai. Apa kabar?" ujarnya ceria.

Ai. Aiden Lee atau yang bernama Korea Lee Donghae itu tersenyum dan duduk tepat dihadapan Sungmin. "kabarku baik Alice. Kau sendiri?" balasnya.

Sungmin mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Donghae barusan. "jangan panggil aku Alice, Ai. Panggil aku Cho—

"ya! Kau duluan yang memanggilku Aiden! Jadi aku memanggilmu Alice."

Kekehan pelan dikeluarkan Sungmin. "baiklah-baiklah, Lee Donghae." ujarnya.

Pemuda itu tersenyum puas. "nah, itu terdengar lebih baik." Donghae menatap Sungmin dengan intens. Wanita ini—wanita yang selalu mengisi hatinya dan sayangnya hati wanita dihadapannya ini telah dimiliki oleh lelaki lain, dan dia dalam misi untuk merebut hati tersebut.

"Hae, aku ingin meminta tolong padamu. Bisakah?" permintaan Sungmin membuat Donghae menaikan sebelah alisnya. Isyarat untuk wanita itu meneruskan ucapannya. Dan dari mulut Sungmin mengalirkan cerita yang terjadi pada dirinya dan Kyuhyun beberapa waktu belakangan ini.

Sungmin begitu menikmati berbicara sembari memakan greentea cakenya tanpa menyadari sosok didepannya kini sedang tersenyum datar.

"bagaimana Hae, kau maukan menolongku?" pinta Sungmin saat mengakhiri ceritanya.

Donghae tersenyum dan mengangguk setuju.

Sungmin balas tersenyum untuk pria didepannya. Bayangan akan dirinya dan Kyuhyun kembali seperti sedia kala karena penjelasan Donghae membuat hatinya berbunga-bunga.

.

.

.

.

Mobil Audi A5 berwarna putih itu berhenti dijejeran parkir basement LKM Corporation yang berada dipusat kota. Donghae dan Sungmin yang membawa kotak berisi menu makan siang nanti keluar bersamaan dan berjalan menuju lift yang berada diseberang mobil Donghae terparkir.

Keduanya berbincang sampai didalam lift. Obrolan mereka terhenti ketika bunyi khas lift sudah sampai pada lantai yang dituju terdengar pelan. Mereka berjalan dilorong yang berujung pada ruang kerja pribadi Kyuhyun.

"dimana Eunhyuk-sshi?" gumam Sungmin saat melihat meja sekertaris Kyuhyun tidak berpenghuni.

Dia memilih mengabaikan hal tersebut dan membuka pintu ruangan Kyuhyun. Dan pemandangan saat membuka pintu tersebut membuat detak jantungnya dipaksa berhenti saat itu juga.

BRAK.

Kotak yang dibawa Sungmin jatuh dan membuat kedua orang yang berada disofa itu menoleh. Kyuhyun bangkit dengan segera menyusul Sungmin yang sudah berlari terlebih dahulu menuju lift.

Meninggalkan Donghae yang tersenyum puas pada Eunhyuk yang juga sedang tersenyum kearahnya. "Good job, Eunhyuk-sshi!" langkahnya berbalik untuk melihat bagaimana kelanjutan kehancuran rumah tangga Sungmin dan Kyuhyun.

.

.

.

.

Kyuhyun mengumpat saat lift tertutup tepat dihadapannya. Jemarinya dengan tidak sabaran menekan-nekan tombol lift dengan brutal berharap satu dari tiga lift yang berada dihadapannya itu terbuka.

"shit!" dia berlari kearah pintu tangga darurat yang berada diujung lorong sebelah kiri. Menuruni anak tangga dengan cepat agar sampai dilantai dasar lebih cepat dibandingkan lift yang dinaiki Sungmin.

.

.

.

.

Sungmin keluar dari dalam lift dan berlarian menuju lobby utama LKM Corporation untuk segera keluar dari dalam gedung. Bayangan Kyuhyun yang mencium sekertarisnya itu terbayang-bayang dibenaknya.

Langkah kakinya berlari menuju seberang jalan dimana sebuah taksi sudah berhenti setelah menangkap isyarat darinya. Tanpa menghiraukan lampu untuk pejalan kaki masih berwarna merah.

TIIIINNNNN….

Sebuah klakson membuat Sungmin terhenyak dan menoleh kesumber suara. Sebuah Mercedez melaju kencang kearahnya.

CKIIITTT…

BRAKK…

.

.

.

TO BE CONTINUE

.

.

.

.

Hello guys, saya datang bawa kelanjutan chapter 6 I'm Your MOMMY! Gimana sama chapter ini? makin gaje dan drama ya? Hehe. Terima kasih buat yang sudah sempetin baca dan review cerita ini, kalian luarrr biasaaa~ XD. Yang baru baca juga welcome ya, semoga ceritanya gak ngebosenin.

Semuanya pasti sebel sama Eunhae ya? Hehe, jangan dong. Mereka itu favoritnya saya sama Sungmin. Lee Brother. Sebagian pertanyaan juga udah kejawab tentang kondisi Sungmin, mereka baikan kan? Kan? Kan?

Oh iya satu lagi, semoga Chapter ini agak panjang ya? Haha. Ini ditambahin wordsnya pake curhatan saya.

Oke guys, thanks for reading and reviewing~ see you next chapter.

.

.

.

.

Keep support and love Kyumin

-Thania Lee-

.