Red Dream

A Hetalia Fanfiction

Disclaimer: Hetalia milik Hidekazu Himayura

Main Chara: Brunei Darussalam, Hindia Belanda (Muhammad Ilmaya Zaheera, Indy Sanjivani)

Rated: K+

Genre: Friendhip, Hurt/Comfort, more Tragedy, Angst & Romance

Warning: OC, OOC, Human!AU, Author & Hindia pasive POV

Summary: Ada dua mentari di mata Indy: Matahari yang dibuat Tuhan, serta Ilma. Mentarinya; Mataharinya; Indy melihatnya, meski hanya di dalam mimpi.

.

Kosong; mata itu kosong; hampa. Indy tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki itu. Indy hanya bisa melihatnya dari tempatnya. Teringin menyentuhnya, mengenggam tangannya, memeluknya, menenangkannya; namun ia tak dapat. Tak kuasa. Indy tahu ini semua adalah halusianasinya semata. Indy yakin akan hal itu. Namun Indy tak yakin dengan dirinya sendiri. Akalnya menolak untuk percaya. Melihatnya saja, Indy tak sanggup lagi. Mata elang itu bagaikan menagih janji; sementara iris amber itu menghipnotis Indy. Kembali, Indy terjatuh dalam pesonanya.

Mendongak menatap langit bergumpal awan di atasnya, Indy terperagah saat tetes-tetes mengenai kulitnya; sebatas mengenai tanpa membasahi kulitnya. Tetes air berasal dari langit menembus kulitnya, menembus tubuhnya, sebelum membasahi bumi di bawah kaki Indy. Meratap ke langit; ingin Indy melupakan ini semua. Namun segala memori tentang semua ini selalu terulang; macam kaset rusak tak tertolong bermain di atas pemutar. Merah; darah itu tercecer. Menggenangi tanah. Warna yang dielu-elukan bagai simbolis keberanian; telah membuat Indy berpikir apakah jika ia tak berharap melihat merah maka ia adalah pengecut? Namun hati kecil itu mengekuhkan bahwa Indy memang pengecut.

Menangislah; meski hanya dalam mimpimu. Indy tak tahu apakah bisa ia menangis lagi saat ini. Air matanya telah sekering Sahara. Terlalu banyak tetes asin yang jatuh dari matanya; hingga Indy tak yakin ia dapat menangis lagi. Menangis untuk sesuatu yang sama; mataharinya yang telah redup. Mataharinya yang telah direngkuh dalam bumi. Redup; mentarinya bahkan tak lagi bercahaya. Sinar itu mati ditelan merah kentalnya darah. Hambur hampa; mata itu bagai ruang semesta. Tatapan itu tak lagi bernyawa; amber berharga yang tak lagi dihargai. Kental merah itu mengalir dari batok keras bernama kepala. Bukan hanya kepala, setubuh itu bercucur merah.

Satu hari; mataharinya telah hilang. Redup di rengkuh bumi. Hilang cahaya; seakan mengatakan mataharinya bukan lagi mentari. Sebatas mati tak dapat bergerak bebas lagi. Lagipun meski bergerak, mentarinya bagai marionatte [1] yang terikat dan terkendali. Terkekang dan terpenjara. Bumi membebaskan mentarinya dalam rengkuhan. Di mana Indy tak lagi dapat melihat mataharinya tersenyum.

Indy selalu berharap mentarinya kembali; meski hanya di dalam halusinasi bunga tidurnya.

.

.

.

.

END

.

.

[1] Marionatte: Boneka kayu yang iikat dengan benang untuk dikendalikan. Tak bisa bergerak sesuai keinginan. Perlambang keterkekangan, keterpenjaraan, dan keterbatasan kebebasan.

.

.

A/N: Sedikit sekali ya? Entahlah, satu cerita lagi sebeleum UTS... Do'akan nilainya sehat selamat wal'afiat... Fic ini dibuat setelah saya inget kalau ada karakter si Hindia Belanda dalam daftar OC chara saya... Dan saya baru inget kalau Hindia juga gak dapet pasangan... Jadilah pair ini. Biarpun minority pair, yang penting ada... *songong*

Buat sahabat saya, Nica Trio: Jangan heran kalau ini serupa-tapi-tak-sama dengan ceritanya si 'dia'. Soalnya ini inspirasi datang saat buka buku 'itu'.

Setelah sebelumnya gila-gilaan dengan Brunei yang suka sama Philippines, sekarang Hindia yang suka sama Brunei. Gak kebalas juga. Mau diapain lagi... Saya juga bingung sama love story punyanya Brunei. Pairnya ngejlimet juga... Mana di fic ini saya kebawa puitis dengan diksi amburadul kayak tadi... ._. Jelek ya? Entahlah.

Mau request? Boleh.

Akhir kata,

Mind to rewiew?

ON: 12-03-2016