Chapter 4
Pair : MinYoon, slight Yongguk x Yoongi, BangHim
Warning (s) : boys love, cerita pasaran, alur acakadul, bahasa acakadul, typo acakadul. DON'T LIKE DON'T READ! RnR please
Happy reading readers^^
.
.
.
Break It?
Dua minggu kemudian, akhirnya pesta pertunangan Yongguk dan Yoongi dilaksanakan. Tempatnya di rumah Yoongi, Tuan Min yang memintanya. Yoongi sedang bersiap di dalam kamarnya saat Yongguk menghampirinya. Yongguk duduk di tepi tempat tidur milik Yoongi, mengamatinya sedang berkaca melihat penampilannya.
"Kau benar-benar yakin dengan rencana ini?" Yongguk membuka suara. Yoongi menghentikan kegiatannya dan menoleh pada Yongguk. Lalu dia mengangguk.
"Ne. Aku sangat yakin, dan menurutku ini adalah satu-satunya jalan Gukie-ah. Yah, walaupun resikonya, bisa saja aku dicoret dari daftar keluargaku" Yoongi meringis, membayangkan dirinya benar-benar akan dicoret dari daftar keluarganya.
"Mana mungkin Min ahjushhi begitu Yoon, dia tidak akan tega, kau kan anak kesayangannya, satu-satunya pula". Yoongi menggedikkan bahunya.
"Entahlah, aku merasa setelah ini akan jadi anak yang berdosa. Tapi bagaimana lagi".
Yongguk menepuk bahu Yoongi pelan. Mencoba memberi kekuatan untuk Yoongi.
"Aku juga Yoon, kita merasakan beban yang sama, jadi kita bisa kan menghadapinya bersama?".
"Ne, aku juga sudah berjanji akan membantumu dan Himchan. Lagipula siapa yang tega melihat kalian berdua yang begitu menyayangi satu sama lain. Tenang saja Gukie, aku pasti berjuang untuk kita" Yoongi tersenyum di akhir kalimatnya, membuat Yongguk juga ikut tersenyum.
"Lalu, bagaimana Jimin?".
"Jimin? Kenapa? Apa dia tidak jadi membantu?" Yoongi langsung bereaksi, takut-takut Jimin batal untuk membantu rencananya. Yongguk tertawa mendengar itu.
"Hahaha, bukan itu maksudku. Jimin pasti membantu kok. Maksudku, kau dan Jimin".
"He? Memang kenapa aku dan Jimin?". Yongguk mengusap wajahnya kasar, kesal Yoongi begitu tidak peka.
"Aish! Kau ini selalu saja tidak peka! Jimin itu kan menyukaimu pabbo!"
"Mwo?!" kali ini Yoongi terkejut.
"Eyyy~, mana mungkin" dia berusaha menyangkal.
"Kau ini! Jika dia tidak menyukaimu, untuk apa dia repot-repot membantu kita hingga sejauh ini? Apalagi harus menghadapi kemarahan orang tua kita nanti. Ayolah Yoon, pekalah sedikit", Yongguk lama-lama kesal juga. Sahabat kecilnya itu seperti tidak berperasaan saja, tidak pernah peka pada perasaan orang lain.
Yoongi terdiam. Entah kenapa, mendengar perkataan Yongguk barusan, perasaannya sedikit menghangat. Dan dia merasakan perutnya sedikit melilit, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan didalam sana, namun rasanya begitu nyaman.
Kalau dipikir-pikir, memang benar juga perkataan Yongguk, untuk apa Jimin repot-repot membantunya kan? Mereka juga tidak begitu mengenal sebelumnya. Jimin yang begitu baik, Jimin yang perhatian padanya, tiba-tiba saja Jimin memenuhi pikiran Yoongi, dan tanpa sadar wajah Yoongi sedikit merona sekarang.
"Hey! Kenapa diam?" tegur Yongguk karena Yoongi tidak juga merespon perkataannya.
"Eh? A, ani" jawab Yoongi gugup. Yongguk langsung menyadari ada perubahan pada sahabatnya itu, terutama kedua belah pipi putih mulusnya yang sedikit ada semburat merah sekarang. Mengingatkanku pada Hime saja, batin Yongguk.
"Pipimu memerah tuh" goda Yongguk. Sontak saja Yoongi langsung memegangi kedua belah pipinya.
"Yak! Apaan sih kau Bang!"
"Hahaha, apa sahabatku ini sedang jatuh cinta?" godanya lagi, membuat Yoongi semakin memanas.
"Bang, hentikan! Siapa yang jatuh cinta?!" balas Yoongi ketus. Yoongi berusaha menutupi kedua pipinya. Jangan memerah tolong, batin Yoongi. Namun tampaknya tubuhnya sedang tidak menurut, lihat saja wajahnya sudah seperti tomat lucu sekarang.
"Hahaha, kau lucu sekali Yoon" Yongguk mencubit gemas pipi Yoongi, membuat sang pemilik melotot.
"Ish! Kau!" Yoongi baru saja hendak memukul kepala Yongguk sebelum Nyonya Min masuk dan menyuruh mereka untuk bersiap. Sepeninggal Nyonya Min, Yoongi menatap lekat Yongguk, memastikan rencana mereka akan benar-benar dijalankan sebentar lagi.
"Kau siap kan?". Yongguk mengangguk mantap.
"Mereka?"
"Sudah siap, tinggal aku kirim pesan pada Hime nanti, beres!" Yongguk mengangkat tangannya membentuk tanda OK, yang dibalas anggukan oleh Yoongi.
"Kajja!" ucap Yoongi lalu meraih lengan Yongguk dan menariknya keluar dari kamar menuju ruang tamu rumah keluarga Min.
-o-
Acara pertunangan di mulai. Semua yang hadir disana yang notabene adalah keluarga serta kolega bisnis orang tua Yoongi dan Yongguk tampak khidmat mengikuti acara yang berlangsung. Hingga akhirnya saat acara puncak yaitu tukar cincin antara keduanya, Yoongi segera memberi kode pada Yongguk. Yongguk yang mengerti mengangguk. Lalu dia berjalan mendekati stand mic yang ada di depannya. Para undangan mulai berbisik-bisik, mengamati apa yang akan dilakukan oleh anak tunggal keluarga Bang tersebut.
"Mungkin semua yang ada disini bingung kenapa kami tidak melakukan acara tukar cincin. Aku disini ingin memberi tahu satu hal pada semuanya" Yongguk memberi jeda sejenak.
"Aku dan Yoongi tidak pernah saling mencintai. Kumohon jangan berfikiran buruk tentang orang tua kami. Kami melakukan hal ini atas keinginan kami sendiri".
Semua yang ada disana sudah jelas terkaget-kaget dengan pengakuan Yongguk barusan. Belum selesai keterkejutan mereka, Yoongi juga berjalan mendekati Yongguk dan meraih stand mic.
"Satu lagi, kami berdua sudah punya pasangan masing-masing yang sangat kami cintai. Kumohon semuanya bisa menerima semua ini dan tidak berfikiran macam-macam tentang kami. Himchan dan Jimin, kemarilah", bersamaan dengan selesainya kalimat Yoongi, terlihat dua orang namja menghampiri mereka. Siapa lagi kalau bukan Himchan dan Jimin.
Sontak arah pandang semua orang mengiringi langkah keduanya mendekati Yoongi dan Yongguk didepan mereka. Tanpa diketahui oleh orang-orang disana, Himchan dan Jimin sudah hadir sejak tadi dan membaur diantara undangan sehingga mereka tidak ketahuan.
"Semuanya, perkenalkan, ini adalah Himchan kekasih Yongguk, dan ini adalah Jimin, kekasih, ehm, kekasihku", ucap Yoongi lagi sambil bergantian menunjuk Himchan dan Jimin, namun tak urung juga dia sedikit gugup dengan kalimatnya yang terakhir.
Para undangan begitu terkejut melihat semua yang terjadi dihadapan mereka. Tidak menyangka acara pertunangan malah menjadi acara pengakuan kedua orang anak pengusaha sukses tersebut.
Tak lama setelah itu, perhatian semua orang kini ganti tertuju pada orang tua mereka berdua, yang langsung saja keluar meninggalkan ruangan, dengan ekspresi yang begitu kentara, mereka berdua –Tuan Min dan Tuan Bang- marah besar. Sementara isteri mereka berusaha untuk menenangkan sambil mengikuti mereka keluar dari ruangan.
Yoongi menatap sendu kepergian kedua orang tuanya. Jimin yang menyadarinya, menepuk bahunya pelan.
"Hyung, gwenchana?" tanyanya hati-hati. Yoongi mengangguk lemah. Dia tersenyum hambar.
"Ne, Jimin-ah" ucapnya lirih.
-o-
"Lalu bagaimana setelah ini?" Himchan mencoba memulai pembicaraan. Mereka berempat kini ada di apartemen Yongguk, setelah peristiwa yang sangat mengejutkan semua orang tadi.
"Aku akan pulang ke rumah dan membawa Jimin. Apapun resikonya" ucap Yoongi tiba-tiba. Dia begitu tegas dengan perkataannya barusan, membuat ketiganya menoleh kaget.
"Mwo? Benarkah mau melakukan itu?!" Yongguk seperti tidak percaya. Yoongi mengangguk.
"Semuanya sudah terjadi. Bagaimanapun aku harus menghadapinya. Kau harusnya juga Bang" jawab Yoongi, terdengar pasrah.
"H,hyung, kau yakin?" Jimin juga masih belum bisa percaya sepertinya. Dia juga sebenarnya takut untuk menghadapi kedua orang tua Yoongi nantinya.
"Kau mau kan membantuku Jim? Kumohon, bantu aku", mohon Yoongi.
Jimin bingung. Antara takut dan kasihan pada hyung kesayangannya itu. Hingga akhirnya dia memilih untuk membantu Yoongi. Masa bodoh dengan orang tuanya, paling juga ditampar, pikirnya bodoh.
"Eh, baiklah hyung. Aku akan membantumu", ucapnya. Yoongi tersenyum. Dia memeluk Jimin sekilas, membuat Jimin lagi-lagi terpaku.
"Gomawo Jim" ucap Yoongi setelahnya. Jimin masih terpaku, tidak menjawab.
"Jim?" Yoongi menepuk pelan paha Jimin, membuat Jimin langsung tersadar.
"Eh? Ne? Kenapa hyung?" Jimin terlihat konyol sekarang. Dia benar-benar grogi, jantungnya kembali berdebar hebat.
"Gomawo" Yoongi mengulangi ucapannya sambil tersenyum geli. Dia melihat ada rona merah di wajah pemuda dihadapannya itu. Membuat perasaan Yoongi entah kenapa merasa sangat nyaman.
"Ehem, ehem, Yoongi, dia memerah tuh", goda Yongguk. Jimin sontak menundukkan kepalanya, malu!
"Wah, jadian saja kalian" tambah Himchan. Yoongi melotot.
"Mwo?! Yak, apa yang kau katakan?! Hime jangan macam-macam" Yoongi mencoba mengelak, namun sepertinya hatinya tidak sejalan dengan pikirannya. Lihat saja dia juga merona. Yongguk dan Himchan tertawa melihat keduanya yang malu-malu.
"Sudah hentikan!" pekik Yoongi lagi. Dia benar-benar tidak tahan digoda terus-terusan oleh pasangan dihadapannya itu.
"Lalu Bang, kau mau melakukan apa sekarang?" tanya Yoongi setelah acara 'goda-godain MinYoon' itu berakhir. Yongguk berdehem.
"Aku juga akan membawa Himchan ke orang tuaku", ucapnya tegas. Semuanya kompak mengangguk. Dalam hati, mereka berharap agar orang tua mereka bisa mengerti.
-o-
Keesokan harinya, saat terbangun, Yoongi melihat Jimin sedang berada di dapur. Menyiapkan sarapan sepertinya. Keempatnya memang menginap di apartemen Yongguk semalam.
"Pagi hyung" sapa Jimin. Dia membawa dua piring roti bakar dan meletakkannya dihadapan Yoongi yang duduk di meja makan.
"Pagi Jim. Kemana yang lain?" tanya Yoongi yang langsung menyambar roti bakar buatan Jimin itu.
"Mereka berdua tadi berangkat ke rumah orang tua Yongguk hyung" jawab Jimin lalu dia meletakkan dua gelas susu di depan Yoongi masing-masing untuk mereka berdua lalu mengambil tempat duduk di depan Yoongi.
"Jinja? Semangat sekali" komentar Yoongi. Jimin tersenyum menanggapi.
"Lalu kau kapan akan ke rumah, orang tuamu, hyung?" tanya Jimin hati-hati. Yoongi terdiam. Dia meletakkan roti bakar yang tinggal setengah itu kembali ke atas piring. Raut wajahnya terlihat gelisah sekarang.
"Hyung? Gwenchana? Maaf, aku tidak bermaksud-"
"Gwenchana Jim. Aku juga harus cepat menemui orang tuaku, denganmu" jawabnya dengan senyum yang dipaksakan. Jimin mengerti yang dirasakan Yoongi.
"Kenapa tidak jujur saja kalau kau hanya membantu Yongguk hyung?".
"Tidak Jim. Aku tidak bisa melakukannya. Kalau aku melakukannya, bisa dipastikan Bang ahjushi akan melakukan berbagai cara untuk memisahkan mereka berdua dan menjodohkan kami lagi. Aku tidak mau membuat Yongguk sedih. Dia sudah banyak berkorban untukku selama ini".
Jimin terdiam mendengar penuturan Yoongi. Terus terang saja, masalah yang dihadapi oleh kedua sunbaenya itu sangat berat menurutnya, apalagi jika dibebankan pada anak belasan tahun seperti mereka.
"Aku akan selalu membantu kalian hyung, kapanpun kau butuh bantuan, bilang saja, ne?" ucapnya kemudian, dan tanpa sadar Jimin meraih tangan Yoongi kemudian menggenggamnya lembut. Dia hanya ingin memberi kekuatan untuk hyung manis dihadapannya itu.
Yoongi yang awalnya terkejut dengan perlakuan Jimin, memberikan senyuman manisnya untuk pemuda dihadapannya itu. Perasaannya sedikit tenang sekarang, dan dia merasa nyaman memenuhi relung hatinya merasakan genggaman hangat Jimin.
-o-
Yoongi dan Jimin akhirnya memutuskan untuk menemui orang tua Yoongi hari itu juga. Yoongi yang sudah hafal segera mengajak Jimin ke kantor appa nya, karena saat siang hari pastilah Tuan Min masih bekerja.
Yoongi mengetuk pintu ruangan appanya sebelum akhirnya membuka pintu perlahan. Tadi sebelum masuk ke sana dia meminta tolong pada sekretaris appanya untuk memberi tahu bahwa dia ingin bertemu dengan sang appa.
"Appa-"
"Pergi dari sini! Jangan temui aku lagi jika kau masih bersama pemuda itu!" baru saja Yoongi memanggil appanya, tanggapan appa nya sudah begitu dingin. Bahkan kini Tuan Min duduk membelakangi mereka, tidak menoleh sama sekali. Jimin yang ada disamping Yoongi hanya bisa menggenggam tangannya, mencoba menguatkan Yoongi.
"Tapi appa-"
"Sudah kubilang, pergi! Jangan harap kau bisa menemuiku lagi dan jangan harap kau bisa pulang kerumah jika kau masih bersama dia! Keluar sekarang!" ucap Tuan Min lagi, telak. Mendengar hal itu, Yoongi menundukkan kepalanya. Dia tahu, jika sudah begini, appanya tidak akan pernah mengubah keputusannya.
Tanpa terasa, kedua sudut mata Yoongi basah oleh cairan bening. Bahunya bergetar.
"Ba-baiklah kalau begitu, aku permisi, appa, hiks" dengan sekuat hati Yoongi mengatakannya. Suaranya serak dan bergetar. Jimin tidak bisa apa-apa. Dia hanya bisa merangkul Yoongi lalu menuntunnya keluar dari ruangan itu.
Jimin tetap merangkul Yoongi, menyandarkan kepala Yoongi pada dadanya pada saat mereka menumpang taxi yang membawa mereka kembali ke apartemen Yongguk.
Bahu Yoongi bergetar hebat. Suara lirih isakan terdengar. Dan dapat dirasakan kemeja Jimin basah oleh airmata Yoongi. Jimin mengelus kepala Yoongi.
"Hyung, tenangkan dirimu, ne? Aku ada disini untukmu hyung" ucapnya mencoba menenangkan. Yoongi tidak menjawab, dia masih menangis. Tidak menyangka reaksi appa nya akan seperti itu.
Yoongi pikir mungkin dia hanya akan ditampar. Tetapi nyatanya, bahkan Tuan Min tidak melihat sedikitpun padanya tadi saat dia menemuinya. Sakit sekali rasanya ketika orang tuamu sudah tidak mengharapkanmu lagi.
Sesampainya di apartemen Yongguk, ternyata Yoongi tertidur. Sepertinya dia begitu lelah. Wajahnya juga terlihat sembap. Akhirnya Jimin berinisiatif untuk mengangkat Yoongi, menggendongnya ala bridal menuju apartemen Yongguk.
Saat pintu terbuka, Yongguk yang ada didepan mereka terkejut melihat mereka berdua.
"Jimin?! Kenapa dia?!" tanyanya cemas.
"Ssst, dia tidur hyung" ucap Jimin pelan, takut mengganggu tidur Yoongi. Yongguk mengangguk mengerti lalu dia menyuruh Jimin untuk menidurkan Yoongi di kamarnya.
Jimin menurunkan Yoongi dengan hati-hati ke ranjangnya. Yoongi sedikit menggeliat. Lalu dengan hati-hati, Jimin melepaskan jaket dan sepatu yang dikenakan Yoongi agar Yoongi merasa nyaman. Lalu dia menyelimuti Yoongi hingga sebatas dada. Jimin tersenyum melihat wajah damai Yoongi saat tertidur. Menggemaskan seperti bayi, pikirnya.
Jimin mengelus lembut surai Yoongi sebelum akhirnya keluar dari kamar Yoongi.
"Apa yang terjadi Jim?" tanya Yongguk langsung. Mereka bertiga duduk di ruang tengah sekarang.
"Yoongi hyung diusir oleh appa nya hyung. Dia tidak boleh menemui appanya lagi jika masih bersamaku" jelas Jimin. Yongguk mengacak rambutnya frustasi. Sudah menduga ini akan terjaid. Karena dia juga mengalaminya tadi saat menemui orang tuanya bersama Himchan.
"Bagaimana bisa mereka melakukan ini?!" pekik Yongguk kesal. Himchan mengelus punggung Yongguk, mencoba menenangkan kekasihnya itu.
"Menurutku sebaiknya kalian jangan dulu menemui orang tua kalian sementara. Mungkin saja kan dengan berjalannya waktu, mereka bisa merubah pikiran", saran Himchan. Yongguk menggeleng.
"Tidak Hime. Mereka itu orang-orang berhati keras. Aku tidak yakin mereka bisa luluh begitu saja", ucap Yongguk putus asa.
"Tidak ada yang tahu hati manusia kan Bang? Siapa tahu setelah mereka merasa kehilangan kalian berdua, mereka bisa luluh. Ingat, kalian adalah satu-satunya anak mereka, kebanggan mereka".
Ketiganya terdiam. Mencoba membenarkan perkataan Himchan, walaupun sebenarnya masih ragu apakan bisa benar-benar terjadi seperti itu.
"Semoga saja" ucap Yongguk lirih akhirnya, putus asa.
TBC
.
.
.
Akhirnya update juga, udah pada nungguin gak? /gak/ T.T
Tambah absurd ini ff, author imajinasinya udah kemana-mana, ala-ala sinetron begitu u.u
Kalo tambah ngebosenin, maapkeun yak readers xD
Betewe, Rara mau ngucapin, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan^^
Dan THANK YOU SO MUCH buat yang udah review kemarin, maaf gak bisa bales satu-satu, tapi beneran deh, Rara baca review kalian semua, dan itu yang membuat Rara semangat^^
Finally, review juseyoo^^
