Chapter 5

Pair : MinYoon, slight Yongguk x Yoongi, BangHim

Warning (s) : boys love, cerita pasaran, alur acakadul, bahasa acakadul, typo acakadul. DON'T LIKE DON'T READ! RnR please

Happy reading readers^^

.

.

.

Break It?

Sudah hampir dua bulan sejak peristiwa 'pengusiran' Yoongi oleh appanya sendiri. Beruntungnya, karena selama ini Yoongi memang sudah tinggal bersama Yongguk, jadi dia tidak harus kebingungan mencari tempat tinggal. Dan kedua Tuan Besar itu tidak akan bisa menendang mereka keluar, karena apartemen tersebut merupakan hadiah ulang tahun dari Nyonya Bang tahun lalu saat Yongguk berusia 17 tahun, karenanya kepemilikan ada di tangan Yongguk sepenuhnya.

Nyonya Min yang pada dasarnya tidak bisa jauh-jauh dari anaknya satu-satunya itu, terkadang mengunjungi Yoongi. Secara diam-diam tentu saja. Nyonya Min sebenarnya sudah sangat sering membujuk sang suami, namun apalah daya, Tuan Min yang terkenal keras hati itu tetap tidak mau menerima Yoongi jika dia masih memutuskan menolak perjodohannya dengan Yongguk.

Nyonya Min pulalah yang menanggung kebutuhan Yoongi selama dua bulan terakhir. Yoongi sebenarnya tidak mau menyusahkan eommanya. Dia juga bilang akan bekerja paruh waktu sampai dia lulus SMA dua bulan lagi dan bisa mencari pekerjaan. Tapi jelas saja Nyonya Min menentangnya. Dia tidak tega melihat putera kesayangannya itu menderita.

Hari ini, Nyonya Min kembali menemui Yoongi. Kebetulan sedang ada Jimin juga. Sebenarnya tadi juga ada Yongguk dan Himchan, akan tetapi kemudian mereka pergi keluar, kencan sepertinya. Dan kedatangan Nyonya Min yang begitu tiba-tiba tentu saja begitu mengejutkan untuk mereka berdua. Pasalnya, yang Nyonya Min tahu, mereka berdua pacaran, dan sekedar informasi, Nyonya Min begitu menyukai Jimin!

Jimin itu baik, perhatian, penyayang, dan bisa melindungi anakku, begitu jawab Nyonya Min jika ditanya alasannya. Lampu hijau untuk Jimin. Akan tetapi, hingga sekarang pun Jimin masih tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada Yoongi.

Bukannya apa-apa. Jimin hanya takut. Takut Yoongi malah balik membencinya dan tidak mau lagi mengenalnya. Akhirnya dia hanya bisa diam, memendam perasaannya pada Yoongi.

Jadilah sekarang Jimin dan Yoongi harus berakting bak sepasang kekasih di depan Nyonya Min. Mereka sebenarnya juga tidak ingin membohongi Nyonya Min, tapi alasannya adalah, Yoongi terutama, takut kalau-kalau eommanya tahu, malah dia di suruh kembali pada Yongguk agar sang appa bisa menerimanya pulang kembali. Yonngi tentu tidak ingin hal itu terjadi. Sudah sejauh ini, masa iya harus gagal hanya karena hal bodoh ketahuan pura-pura pacaran?! Kan tidak lucu.

"Jimin-ah, kemari sayang. Eomma membawa makanan banyak, ayo makan!" panggil Nyonya Min sambil menata makanan yang dia bawa di meja makan. Dia memang meminta dipanggil eomma oleh Jimin, biar lebih akrab katanya.

"Ne eomma" sahut Jimin yang sedang menonton televisi bersama Yoongi, lalu dia buru-buru menghampiri Nyonya Min.

"Eomma, Jimin saja yang dipanggil. Aku tidak?!" Yoongi mengikuti menghampiri sambil menekuk bibirnya ke bawah lucu. Dia bahkan melipat tangannya di depan dada, merajuk maksudnya. Tapi dia terlihat begitu menggemaskan walaupun sedang merajuk begitu, membuat Nyonya Min tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencubit kedua belah pipi putih pucat itu gemas.

"Aigoo, tidak dipanggil saja kau sudah kemari sendiri tuh" ucap Nyonya Min. Sementara Yoongi meringis mengelus pipinya yang memerah karena cubitan sang eomma.

"Eomma! Malu kan sama Jimin, aku sudah besar eomma!" Yoongi kembali merajuk. Jimin hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, gemas melihat tingkah Yoongi yang seperti bocah, lucu!

"Hahaha, Jimin kan tidak keberatan, lihat dia biasa saja, ya kan Jim?".

"Ne eomma. Kau, terlihat, menggemaskan hyung" Jimin terkekeh.

Sementara Yoongi tambah mengerucutkan bibirnya, dia tentu saja tambah marah mendengar ucapan Jimin.

"Hahaha, sudah-sudah. Dia memang begitu Jim, kalau dirumah manja, tapi kalau di luar rumah apalagi di depan teman-temannya, dia tidak pernah mau menunjukkan sisi manjanya itu" ungkap Nyonya Min.

"Eomma, kenapa bilang begitu? Sudah hentikan eomma!" Yoongi tambah merajuk, membuat dua orang lainnya tertawa, tambah gemas dengan namja manis yang satu ini.

"Ne, eomma berhenti. Sekarang ayo duduk, kita makan" ucap Nyonya Min kemudian yang dituruti oleh keduanya. Tak butuh waktu lama, ketiganya segera melahap makanan yang ada dihadapan mereka.

"Emm, eomma, appa, apa kabar?" tanya Yoongi di sela-sela acara makan mereka. Jimin menoleh pada Yoongi, sementara Nyonya Min tersenyum, dalam hati dia bersyukur anaknya tidak membenci appanya.

"Dia baik Yoon. Tapi eomma menyesal harus mengatakannya, eomma sudah berusaha membujuk appa mu, hanya saja, salahkan hati kerasnya itu", Nyonya Min tampak menyesal sekarang.

Yoongi yang melihat perubahan raut wajah sang eomma segera saja menaruh sumpit di tangannya, lalu dia meraih tangan sang eomma dan menggenggamnya lembut. Yoongi tersenyum.

"Gwenchana eomma. Aku tidak apa-apa. Suatu saat appa pasti mengerti, aku akan sabar hingga saatnya tiba" ucapnya tulus.

Jimin yang melihat itu semua juga ikut tersenyum, tidak menyangka bahwa Yoongi memiliki hati yang begitu besar. Dan sepertinya rasa cintanya naik satu level lagi untuk hyung manis tercintanya itu.

-o-

"Hyung, kau tidak tidur?" tanya Jimin pada Yoongi yang sedang menonton televisi. Yoongi menggeleng.

"Aku belum mengantuk Jim" jawabnya.

Hari sudah malam, dan Nyonya Min sudah pulang sejak sore tadi. Yongguk mengirim pesan pada Yoongi memberitahu bahwa dia tidak pulang karena menemani Himchan di apartemen milik kekasihnya itu, makanya Jimin masih di sana menemani Yoongi. Jimin tentu tidak tega meninggalkan Yoongi sendirian.

Jimin mendudukkan diri di samping Yoongi.

"Menonton apa hyung?" tanyanya ikut memperhatikan televisi dihadapannya.

"Entahlah Jim. Aku tidak menonton televisi, hanya menyalakannya" jawab Yoongi asal.

Jimin menoleh ke arah Yoongi. Sepertinya Yoongi sedang banyak fikiran, terlihat dari wajahnya yang begitu kusut.

"Hyung, kau kenapa?" tanya Jimin lagi. Yoongi terdiam, tidak segera menjawab.

Dia menimbang-nimbang, haruskah menceritakannya pada Jimin atau tidak. Tapi jika tidak cerita, Yoongi merasa tersiksa harus memendamnya sendirian.

"Berbagilah denganku hyung, jangan kau tanggung sendiri. Lihat wajahmu sudah kusut begitu" ujar Jimin mencoba mencairkan suasana, tak urung membuat Yoongi tersenyum juga. Dia memukul pelan lengan Jimin.

"Kau ini. Tapi aku masih tampan walaupun kusut" Yoongi membanggakan dirinya.

"Hahaha, percaya diri sekali. Tapi memang benar sih, bukan tampan hyung, tapi manis" ucap Jimin tanpa sadar.

Mendengar ucapan Jimin, entah kenapa perasaan Yoongi langsung berdesir. Biasanya Yoongi akan langsung mengamuk jika ada yang menyebutnya manis. Namun kali ini, dia malah merasa senang saat Jimin yang mengatakannya. Tanpa sadar, kedua pipi putih pucat miliknya dihiasi sedikit rona merah.

Jimin yang tersadar akan ucapannya, seketika terdiam. Dia merutuki mulutnya yang begitu bodoh mengeluarkan kata-kata seenaknya sendiri.

Suasana menjadi canggung sekarang . Baik Yoongi maupun Jimin terdiam. Sesekali keduanya melirik ke arah masing-masing, tidak tahu harus melakukan apa.

"Eh, Jim, kau, tidak apa-apa menemani aku disini?" tanya Yoongi akhirnya, mencoba menghilangkan rasa canggung diantara mereka.

"N-ne, tidak apa-apa kok hyung. Aku malah tidak mau meninggalkanmu sendirian" jawab Jimin.

"Wae? Aku juga biasanya sendirian bila Yongguk sedang keluar dengan Himchan".

"Entahlah hyung. Aku hanya merasa takut kau kenapa-kenapa jika sendirian" ungkap Jimin jujur. Hati Yoongi spontan menghangat mendengarnya.

"Ternyata kau mengkhawatirkanku juga", Yoongi tersenyum, mengungkapkan perasaan senangnya.

"Tentu saja hyung, bagaimana bisa aku tidak khawatir padamu".

"Kupikir, kita hanya sebatas kau membantu menyelesaikan masalah karena kau terlanjur mengetahuinya".

"Kenapa kau berpikir begitu hyung? Aku tulus membantumu kau tahu" Jimin sedikit heran, kesal juga dengan pemikiran Yoongi.

"Ne, aku baru mengetahuinya. Terima kasih, kau sudah tulus padaku", ucap Yoongi akhirnya.

Jimin tersenyum. Dia menatap Yoongi yang juga tengah tersenyum padanya.

Dan entah mendapat dorongan dari mana, Jimin perlahan memajukan wajahnya, semakin mendekat dan mendekat ke wajah Yoongi, menghapus jarak diantara mereka, hingga keduanya dapat merasakan hangat napas masing-masing. Keduanya saling menatap lekat, lalu terjadilah hal itu, bibir Jimin tepat mendarat sempurna pada bibir tipis kemerahan milik Yoongi.

Hanya menempel, keduanya mencoba merasakan hangat bibir masing-masing, menyalurkan perasaan membuncah keduanya. Saling memejamkan mata, tanpa ada lumatan, hisapan, kuluman atau apapun itu, tak berapa lama, Yoongi yang tersadar segera membuka kelopak matanya lalu memutus kontak mereka berdua yang ditandai oleh munculnya suara 'cup' saat kontak itu terputus.

Wajah mereka memerah, jantung berdegup kencang, dan jangan lupakan keringat dingin Jimin jika sedang grogi, terlebih jika berhubungan dengan Yoongi. Keduanya tidak berani bertatapan satu sama lain. Cukup lama, hingga akhirnya Yoongi beranjak, mencoba menyembunyikan perasaan gugup sekaligus entah kenapa menyenangkan itu.

"A, aku ke kamar dulu. Kau, tidurlah di kamar Yongguk. Selamat malam" ucap Yoongi tanpa menoleh pada Jimin lalu dia buru-buru menuju ke kamarnya. Meninggalkan Jimin sendirian dengan raut wajah yang terlihat menyesal. Jimin mengusap wajahnya kasar.

"Pabbo! Benar kan dia jadi membenciku!" sesalnya.

-o-

Setelah kejadian itu, Yoongi dan Jimin jadi canggung sekarang. Kalaupun bertemu di sekolah, mereka hanya sekedar menyapa, tidak akan mengobrol banyak seperti biasanya. Rasa gugup yang berlebihan pada keduanya membuat suasana canggung itu tercipta begitu mereka berdua bertemu.

Namun berbeda dengan yang difikirkan oleh Jimin. Dia memang selalu gugup jika bertemu Yoongi. Akan tetapi, dia berfikir bahwa Yoongi menjauhinya sekarang. Dia benar-benar benci pada dirinya sendiri. Bagaimana tidak, sudah bersusah payah dia mencoba dekat dengan Yoongi hingga rela membantunya berhadapan dengan orang tuanya yang tidak bisa dibilang baik itu, sekarang malah Yoongi menjauh hanya karena kesalahan bodoh yang dibuatnya sendiri.

Jimin frustasi sekarang. Dia tidak tahu harus berbuat apa agar hyung kesayangannya itu tidak menjauhinya lagi. Sahabatnya, Kim Taehyung, menyadari tingkah aneh Jimin.

"Kau kenapa Jim?" tanyanya pada Jimin saat mereka sedang makan di kantin. Ada Jungkook juga tentu saja.

"Tae, bagaimana ini?" Jimin balik bertanya pada Taehyung yang duduk dihadapannya. Wajahnya begitu cemas.

"Hyung, kau kenapa sih? Kelihatannya sedang bingung. Ada masalah apa?" kali ini Jungkook yang bertanya.

Jimin tidak menjawab. Malah semakin menunjukkan wajah gusarnya. Dia mengusap wajahnya kasar. Jungkook menoleh pada Taehyung, menunjuk Jimin dengan matanya, namun hanya dijawab Taehyung dengan menggedikkan bahunya.

"Tae, Kookie, aku mau cerita, tapi, janji dulu, kalian jangan tertawa, ne?" akhirnya setelah beberapa lama Jimin pun buka suara.

"He? Memangnya ada apa Jim?" Taehyung penasaran, begitu juga dengan kekasih imut di sebelahnya.

"Janji dulu kalian tidak akan menertawakanku setelah ini".

Sepasang kekasih itu mengangguk mantap, meyakinkan Jimin. Jimin menghela napas berat, sebelum akhirnya membuka mulutnya untuk bercerita.

"Jadi, begini. Seminggu yang lalu, aku menemani Yoongi hyung menginap di apartemennya. Dia sendirian karena Yongguk hyung sedang kencan. Lalu, lalu, entah kenapa, bisa-bisanya aku-" Jimin menghentikan ceritanya, dia menutup wajahnya dengan telapak tangan da menggeleng-gelengkan kepalanya seperti orang bodoh.

"Lalu apa Jim?! Cepatlah, jangan buat kami penasaran" ucap Taehyung tak sabar.

"Aku, aku menciumnya" ucap Jimin akhirnya, terdengar seperti berbisik tapi masih dapat didengar oleh kedua orang itu.

"MWO?!" kaget mereka bersamaan. Cukup membuat seisi kantin memperhatikan mereka. Taehyung yang tersadar segera membungkukkan badan meminta maaf pada semua orang disana.

"Yak! Bagaimana sih kau ini?!" omel Taehyung kemudian. Jimin memasang wajah menyesal sekarang.

"Aku tidak mengerti Tae. Tahu-tahu, kami sudah duduk berhadapan, dan, terjadi begitu saja, argh!" Jimin memekik frustasi.

"Itu sih kamu saja yang mengambil kesempatan Jim" ucap Taehyung asal. Jimin melotot.

"Yak! Apa maksudmu?! Aku saja tidak mengerti kenapa bisa melakukan itu padanya Tae!" sanggah Jimin, kesal pada Taehyung.

"Sudah-sudah, kalian ini malah ribut. Jim Hyung, menurutku, sebaiknya kau temui Yoongi sunbae, minta maaf padanya. Bagaimana?' Jungkook akhirnya menengahi kedua sahabat itu dan mencoba memberi saran pada Jimin.

"Minta maaf? Tapi bagaimana Kook? Dia saja selalu menghindar jika bertemu denganku" lagi-lagi ucapan Jimin terdengar frustasi.

Jungkook terlihat berfikir. Sungguh jika begini, Jimin merasa Jungkook lebih membantunya daripada sahabatnya yang super duper absurd itu. Tak lama, wajahnya berbinar, sepertinya Jungkook sudah menemukan cara.

"Begini saja hyung. Datang ke apartemennya, ajak dia bicara. Aku yakin jika kau mendatanginya, dia tak akan bisa menghindar. Eotte?".

"Begitu? Sepertinya tidak buruk. Baiklah, nanti malam aku akan datang ke apartemennya" Jimin akhirnya menerima saran dari namja pemilik bunny teeth itu.

"Gomawo Kookie-ah" ucap Jimin lagi. Jungkook tersenyum.

"Fighting hyung!"

"Jangan lupa traktir jika berhasil, ini tidak gratis".

Yang terakhir itu, pastilah Taehyung.

-o-

Malam harinya, Jimin pun menemui Yoongi di apartemen Yongguk. Sesampainya disana, ternyata Yongguk yang membuka pintu. Disana juga ada Himchan yang tengah memasak makan malam. Tapi dia tidak melihat Yoongi. Pandangan Jimin menyusuri ruang tamu dan ruang tengah, tapi tetap tidak melihat sosok Yoongi disana.

"Yoongi di kamarnya Jim. Masuk saja, dia tidak mengunci pintunya. Mungkin sedang tidur dia sekarang" Yoongguk yang mengerti segera memberi tahu Jimin.

"Apa tidak apa-apa hyung? Nanti Yoongi hyung marah aku masuk seenaknya".

"Tidak akan. Sudah sana masuk saja, tidak akan marah kok" Yongguk meyakinkan, hingga akhirnya Jimin pun melangkahkan kakinya dengan ragu menuju kamar Yoongi berada.

Sampai didepan pintu kamar Yoongi, Jimin mengetuk pintunya perlahan.

Menunggu agak lama dan masih tidak ada jawaban, jimin berucap pelan,"Yoongi hyung, aku masuk ne?"

Akhirnya perlahan Jimin pun membuka pintu kamar Yoongi. Benar kata Yongguk, tidak dikunci. Jimin masuk dan melangkah perlahan mendekati tempat tidur yang diatasnya terdapat gundukan selimut yang terlihat menggemaskan. Pasti Yoongi yang ada didalamnya.

"Hyung" Jimin memangil Yoongi pelan sambil menepuk-nepuk gundukan selimut itu. Perlahan, gundukan itu bergerak, dan kemudian tersingkap, menunjukkan wajah bangun tidur orang yang ada di dalamnya yang begitu menggemaskan. Rambut kusut dengan mata setengah terpejam, kapan lagi Jimin bisa melihat pemandangan langka menggemaskan dihadapannya sekarang ini.

Yoongi mendudukkan dirinya, dengan mata yang masih setengah terpejam, dia mengucek-ngucek kedua kelopak matanya, membuat Jimin yang duduk dihadapannya bertambah gemas. Jimin tersenyum melihat Yoongi yang seperti bocah itu.

"Hyung" panggil Jimin lagi.

"Ne, kenapa Jim?" sahut Yoongi, suaranya serak khas orang bangun tidur. Sepertinya dia masih setengah sadar.

Dan tak butuh waktu lama, Yoongi terbelalak, sadar bahwa yang memanggilnya barusan adalah Jimin, orang yang belakangan ini membuatnya tak enak tidur, tak enak makan, membuat darahnya berdesir saat memikirkannya, dan tentu saja, orang yang mencuri ciuman pertamanya!

"Ji, Jimin?! Sejak kapan kau-"

"Maaf hyung, tadi itu Yongguk hyung yang menyuruhku langsung masuk kesini. Kau, tidak marah kan, hyung?" ujar Jimin takut-takut.

"Yongguk! Awas saja kau!" rutuk Yoongi, mengacuhkan pertanyaan Jimin.

"Hyung, kau, marah?" tanya Jimin lagi. Yoongi menoleh pada Jimin.

"Eh? Ani, aku tidak marah kok".

Hening kemudian. Rasa canggung itu datang lagi.

Hingga akhirnya, Jimin memutuskan untuk mengajak Yoongi ke taman bermain yang ada di dekat apartemen Yongguk. Biar lebih santai, begitu pikir Jimin.

"Hyung, mau ikut aku?".

"Kemana?"

"Sudah ikut saja. Cepat ganti dengan pakaian hangatmu, udara di luar dingin. Kutunggu di luar ne" ucap Jimin lalu dia pun keluar dari kamar Yoongi. Yoongi hanya bisa menggedikkan bahunya, heran dengan tingkah namja itu.

Setelah berpamitan pada Yongguk dan Himchan, Jimin pun mengajak Yoongi berjalan menyusuri trotoar menuju ke taman bermain itu. Di perjalanan, mereka hanya saling diam, tidak adak yang membuka suara. Yoongi yang tidak tahu akan diajak kemana, mengikuti saja langkah kemana Jimin pergi.

Hingga akhirnya mereka tiba di taman dan jimin memilih duduk diatas sebuah ayunan. Yoongi mengikuti duduk di ayunan di sebelahnya. Yoongi menatap sekilas Jimin yang hanya diam saja sedari tadi.

"Hyung, aku, boleh bertanya sesuatu?". Jimin akhirnya membua suara. Yoongi diam tidak menyahut.

"Apa kau, kau menghindariku? Setelah malam itu?" tanya Jimin lagi. Ucapannya sedikit lirih sekarang.

"Itu, sebenarnya, aku tidak bermaksud menghindar Jim, hanya saja-" Yoongi menghentikan ucapannya. Dia menghela napas sejenak. Jimin menatapnya, menunggu Yoongi melanjutkan kata-katanya.

"Hanya saja, kau tahu, aku jadi gugup jika berdekatan denganmu" aku Yoongi.

"Gugup? Kenapa hyung?".

"Entahlah Jim. Aku, aku merasa jantungku berdebar cepat jika didekatmu, dan aku benar-benar gugup karenanya. Aku baru pertama kalinya seperti ini Jim, aku tidak mengerti kenapa bisa seperti ini" ungkap Yoongi polos.

Jimin tercenung, mendengar pengakuan Yoongi yang begitu jujur dan polos. Tidak menyangka jika Yoongi ternyata sepolos itu. Membuat Jimin memekik girang dalam hati mendengarnya.

"Hyung, aku minta maaf, karena, telah berani, menciummu" Jimin meminta maaf. Ada ketulusan yang Yoongi rasakan dalam kalimat Jimin barusan.

"Kau tidak perlu meminta maaf Jim, kau tidak salah, jangan terlalu menyalahkan dirimu" balas Yoongi.

Jimin sangat lega mendengarnya. Ternyata Yoongi tidak membencinya.

"Lalu hyung, waktu itu kau kan belum cerita kepadaku. Kau kenapa, apa yang kau fikirkan?" Jimin mengingatkan Yoongi kembali.

Yoongi terdiam. Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya hingga memenuhi paru-parunya. Sepertinya udara malam ini begitu segar hingga Yoongi merasa lega. Atau, ada hal lain yang membuatnya lega?

"Hyung, kau tidak mau cerita?".

Yoongi tersenyum. Jimin begitu memaksanya. Tidak ada salahnya juga kan kalau dia cerita, toh Jimin sudah tahu semuanya, pikir Yoongi.

"Tentang appa Jim" jawab Yoongi akhirnya. Jimin mengernyit bingung.

"Kenapa lagi hyung?".

Yoongi menunduk, sebelum akhirnya meneruskan bercerita.

"Appaku adalah jenis orang yang bisa melakukan segalanya demi mencapai keinginannya. Termasuk keinginannya padaku. Sebenarnya, ini adalah tentang dirimu Jim. Tentang kebohongan kita". Jimin memiringkan kepalanya sekarang, semakin tidak mengerti.

"Kau mau tahu alasanku tidak pernah sekalipun menjalin hubungan, punya kekasih?"

"Wae hyung? Kau, tidak punya orang yang kau suka?" tebak Jimin. Yoongi menggeleng.

"Appa. Dialah alasanku. Appa selalu menghancurkan hidup orang-orang yang mencoba mendekatiku, mencoba menjadi kekasihku. Appa hanya ingin aku terus bersama Yongguk".

"Benarkah hyung?!" Jimin seolah tidak percaya. Bagaimana bisa Tuan Min yang punya putera sebaik Yoongi bisa melakukan hal begitu.

"Itu memang benar Jim. Makanya, aku tidak pernah sekalipun berpacaran, hingga saat ini. Dan sekarang, aku takut, kau yang selanjutnya", Yoongi berucap lirih pada kalimatnya yang terakhir, seolah menyiratkan ketakutannya.

Jimin tertegun. Akhirnya dia mengerti pa yang ditakutkan Yoongi. Tapi diatas itu semua, dia merasa senang, Yoongi mengkhawatirkannya!

"Hyung, kau percaya padaku, aku tidak akan kenapa-kenapa, kau tenang saja, ne?" Jimin mencoba menenangkan, tapi Yoongi menggeleng.

"Tidak Jim. Aku tahu appa orang yang seperti apa, bagaimana cara dia melakukannya. Dan, aku tidak mau itu juga terjadi padamu"

Yoongi menunduk lesu. Dia menutup wajah menggunakan kedua telapak tangannya, terlihat begitu frustasi. Jimin menepuk-nepuk punggung Yoongi lembut, berusaha menenangkan Yoongi.

"Semua sudah terjadi hyung. Jika kau sudah tahu appa mu orang yang seperti apa, bagaimana dia melakukannya, kau pasti punya cara untuk mencegahnya kan?".

Yoongi menegakkan tubuhnya menatap Jimin. Tatapan putus asa. Lagi-lagi Yoongi menggeleng

"Aku berkali-kali melakukannya tapi selalu tidak bisa Jim. Sebaiknya kita akhiri saja kebohongan ini, aku akan bilang pada eomma".

"hyung".

"Ini yang terbaik Jim".

"Tapi hyung-"

"Sudahlah Jim, hentikan saja. Toh ini juga hanya pura pura kan?"

DEG

Entah kenapa, hati Jimin berdenyut sakit mendengar perkataan terakhir Yoongi. Benar, mereka hanya pura-pura selama ini. Tidak ada hubungan lebih diantara mereka.

"Baiklah Jim, aku pulang dulu. Kau pulanglah juga, ini sudah malam, jaljayo" Yoongi beranjak dari ayunan yang didudukinya. Tapi sebelum dia melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, Jimin lebih dulu mencengkeram lengannya, menahannya pergi.

"Bagaimana jika kita buat ini tidak lagi pura-pura?".

TBC

.

.

.

Tambah absurd ini FF xD

Ceritanya sudah ala-ala sinetron ini pemirsah, heuheuheu

Sepertinya chapter ini agak khusus ke MinYoon yaa, jadi yang lain cuman lewat aja xD *digeplak Gukie*

Buat yang udah review, follow dan favorite, THANKISSS SO MUCH :*:*:*:*:* /tebar tebar kisseu/

Finally, review juseyooo^^