Chapter 7

Pair : MinYoon, slight Yongguk x Yoongi, BangHim

Warning (s) : boys love, cerita pasaran, alur acakadul, bahasa acakadul, typo acakadul. DON'T LIKE DON'T READ! RnR please

Happy reading^^

.

.

.

Break It?

"Eomma tidak bercanda kan?"

"Tentu saja tidak sayang"

"T-tapi bagaimana dengan Jimin? Maksudku, keluarganya? Apa mereka setuju?"

Nyonya Min tersenyum. Dia maklum dengan kekhawatiran anaknya itu.

"Kau tenang saja, eomma sudah mengatur semuanya. Lusa kita berangkat, jadi siapkan dirimu, dan Jimin juga, arra?"

Setelah itu, Nyonya Min beranjak meninggalkan apartemen Yongguk, sementara Yoongi masih termenung memikirkan rencana sang eomma yang dianggapnya gila itu.

Bagaimana tidak, eomma nya bahkan merencanakan untuk membawa kabur dirinya dan Jimin!

Yoongi mengusap wajahnya kasar. Dia berpikir dia harus bertemu Jimin dan memberi tahu hal ini. Kebetulan, Jimin datang tak lama setelah itu.

"Hyung, gwenchana?" Jimin buru-buru duduk disamping Yoongi dan merangkul bahunya melihat raut sang kekasih yang begitu gusar.

"Jim, eomma-"

"Maksudmu, eomma mengajak kita kabur?" tebakan Jimin tepat sasaran. Yoongi heran, bagaimana Jimin bisa tahu?

"Kau sudah tahu?". Jimin mengangguk.

"Mwo? Siapa yang mengatakannya?"

"Eomma tadi kerumahku dan menjelaskan semuanya pada keluargaku. Mereka sudah setuju dengan rencana ini hyung. Dan eomma juga akan menjamin keselamatan keluargaku selama kita pergi"

"Benarkah?! Eomma melakukan semuanya?"

"Ne hyung. Eomma telah berbuat banyak untuk kita" jawab Jimin sambil menggenggam lembut tangan Yoongi.

Penjelasan Jimin cukup untuk membuat Yoongi mengerti dan dia tidak menyangka sang eomma benar-benar melakukannya untuk Yoongi dan Jimin. Dalam hati dia sangat bersyukur memiliki sosok eomma yang begitu mengerti Yoongi.

"Kau senang hyung?" pertanyaan Jimin membuyarkan pikiran Yoongi. Dia mengangguk dan tersenyum pada Jimin.

Selanjutnya, Yoongi menyandarkan kepalanya pada bahu Jimin dan kedua tangan itu masih bertautan erat, seolah tengah menyalurkan rasa bahagia yang dirasakan oleh sepasang kekasih itu.

-o-

"Aku tidak percaya ini. Kupikir hanya eomma yang berpikiran konyol, ternyata Bang ahjumma juga berpikiran yang sama Gukie" Yoongi menggelengkan kepala, masih tidak percaya dengan kejadian yang menimpa hidupnya.

Setelah kemarin dia mendapat kejutan dari sang eomma, ternyata sang sahabat, Yongguk, juga mendapat kejutan yang sama dari Nyonya Bang. Yoongi pikir sang eomma melakukannya sendiri, tapi nyatanya Nyonya Bang juga melakukan hal yang sama seperti eomma nya. Gila!

"Aku juga terkejut saat eomma memberi tahu jika rencana ini dia lakukan bersama dengan Min ahjumma" balas Yongguk.

"Lalu, bagaimana Gukie?"

"Apanya? Tentu saja kita berempat akan pergi Yoon". Yoongi mengernyitkan dahinya bingung.

"Berempat?"

"Iya. Aku, kau, Jimin dan Himchanie"

"Eomma tidak ikut? Bukankah kemarin eomma bilang akan pergi bertiga denganku dan Jimin?" Yoongi masih bingung dengan rencana 'kabur' mereka.

"Tadinya begitu. Tapi setelah mereka menimbang-nimbang lagi, lebih baik eomma kita tidak ikut. Kau tahu, setelah kita pergi, mereka bisa menyalahkan appa kita atas kepergian anak-anaknya Yoon. Jenius!" jelas Yongguk dengan nada bangga.

Sementara Yoongi semakin terperangah, tidak menyangka sang eomma dan juga eomma Yongguk berpikiran hingga jauh seperti itu.

"Gukie, mereka berdua benar-benar membantu kita" Yoongi sedit berkaca-kaca saaat mengatakannya.

Yoongi begitu terharu, setidaknya salah satu orang terpenting dalam hidupnya mau membantunya memperjuangkan cintanya bersama sang kekasih.

"Kau benar Yoon. Kita harus bahagia Yoon, aku ingin melihat wanita paling berharga kita tersenyum melihat kita bersama dengan orang yang kita cintai" balas Yongguk sambil merangkul bahu sahabat kecil sekaligus mantan tunangannya itu.

Yoongi mengangguk sebagai jawaban.

"Apa kami melewatkan sesuatu?" suara Himchan terdengar bersama dengan masuknya dua orang itu, yang tak lain adalah Himchan dan Jimin.

"Kalian sudah datang" sambut Yoongi pada dua orang itu. Jimin duduk disampingnya setelah memeluk sang kekasih sekilas.

"Apa ini tentang rencana eomma hyung?" tanya Jimin. Yoongi mengangguk.

"Lalu, kita akan kemana?" tanya Jimin lagi.

"Eomma menyarankan kita ke Amerika. Bagaimana?" kali ini Yongguk yang bersuara.

"Kenapa Amerika?" Yoongi bertanya.

"Eomma dan Min ahjumma sudah menyiapkan apartemen untuk kita disana, ingat cita-cita kita untuk melanjutkan kuliah disana bukan Yoon?" jelas Yongguk. Yoongi mengangguk.

"Bagaimana, semua sepakat?" tanya Yongguk akhirnya pada semua yang disana, yang dibalas oleh anggukan setuju dari ketiganya.

"Baguslah. Jadi akan kujelaskan. Selama kita disana, kita akan meneruskan pendidikan dan sebelum mendapatkan pekerjaan semua biaya ditanggung oleh eomma ku dan Min ahjumma"

"Apa itu tidak merepotkan hyung?" ujar Jimin, karena dia merasa hal itu akan memberatkan mengingat pendidikan dan biaya hidup di Amerika pasti jauh lebih mahal daripada di Korea, begitu pikir Jimin.

"Tidak Jim, percayalah eomma kami sangat senang melakukan hal ini" Yoongi meyakinkan Jimin.

"Tapi hyung-"

"Kau harus percaya padaku, arra?" suara tegas Yoongi menandakan tidak ada lagi penolakan, hingga membuat Jimin hanya bisa mengangguk pasrah.

"Baik aku akan lanjutkan. Selama disana, kita akan tinggal bersama di apartemen. Tidak keberatan kan Yoon?"

"Tentu saja tidak, ya kan Jim?"

"Ne hyung"

"Lalu, kita akan satu sekolah lagi kan disana Gukie?" kini Himchan yang bertanya.

"Ne, Hime, kita akan satu sekolah. Eomma sudah mendaftarkan kita di sekolah yang sama"

"Baiklah kalu begitu. Lalu, kapan kita berangkat?" tanya Yoongi.

"Nanti malam Yoon"

"Secepat itu?" Jimin terkejut. Pasalnya dia belum berpamitan pada keluarganya.

"Iya Jim, demi keamanan kita. Eomma khawatir jika terlalu lama appa akan mengetahui rencana kita. Jangan khawatir, nanti keluargamu dan keluarga Himchan akan dijemput untuk mengantarkan kita ke bandara" jawaban Yongguk membuat Jimin sedikit lega.

Lalu setelahnya, mereka berempat pun bersiap untuk keberangkatan mereka nanti malam ke Amerika, ke tempat yang mereka rencanakan untuk masa depan mereka, tempat yang mereka harapkan akan mendatangkan kebahagian untuk mereka berempat.

-o-

Sudah hampir dua tahun sejak 'kabur'nya Yoongi, Jimin, Yongguk dan Himchan ke Amerika, ke Los Angeles lebih tepatnya. Dan selama hampir dua tahun itu pula keempatnya menjalani kehidupan yang bisa dibilang baik-baik saja disana. Mereka berempat kini sudah duduk di bangku kuliah di universitas yang sama tetapi masing-masing mengambil jurusan yang berbeda (anggep aja gitu,skip time xD)

Nyonya Min dan Nyonya Bang juga tidak pernah absen menelepon untuk sekedar menanyakan keadaan mereka. Beruntung keduanya memiliki tabungan rahasia bernilai fantastis yang tidak diketahui oleh suami masing-masing, jadilah mereka bisa membiayai anak-anak mereka tanpa takut akan dihentikan oleh para suami mereka.

"Jim" panggil Yoongi.

Saat ini mereka tengah menikmati waktu berdua di apartemen, sedangkan pasangan BangHim sedang menikmati hari libur mereka dengan berkencan di luar.

"Kenapa hyung baby?"

Jimin mengelus lembut rambut Yoongi yang saat ini sedang bersandar nyaman di dadanya, mereka berdua sedang menikmati acara televisi diatas sofa nyaman nan empuk ruang tengah apartemen.

"Hanya ingin bertanya"

"Tanya apa baby?"

"Kau, tidak rindu keluargamu?" tanya Yoongi hati-hati. Yoongi bangkit dan menatap Jimin yang hanya diam saja.

"Jim, maaf aku tidak bermaksud-"

"Tidak apa hyung. Aku, tentu saja rindu mereka. Hanya saja, aku saat ini sedang berjuang, dan karena ada dirimu hyung, aku bisa bertahan dan aku akan terus bertahan" jawaban Jimin membuat perasaan Yoongi menghangat seketika.

"Benarkah?"

"Tentu saja baby"

"Terima kasih Jim, dan juga, maaf"

"Maaf? Untuk apa baby?" Jimin bingung, kenapa tiba-tiba kekasih manisnya itu meminta maaf padanya.

"Maaf, karena aku, karena keegoisan appa, aku menjauhkanmu dari keluargamu, aku juga-"

Chu!

Perkataan Yoongi berhenti seketika saat Jimin tiba-tiba meraih tengkuknya kemudian menciumnya tepat di bibir. Yoongi membelalakkan matanya terkejut, namun rasa hangat yang berasal dari penyatuan bibir mereka berdua membuatnya perlahan memejamkan mata, begitu pula Jimin.

Untuk beberapa saat bibir mereka hanya menempel, tidak ada pagutan atau lumatan seperti biasanya. Baik Yoongi maupun Jimin hanya ingin menyalurkan rasa yang begitu membuncah yang mereka rasakan. Setelah beberapa saat, Yoongi melepaskan tautan mereka.

Jimin menatap dalam Yoongi.

"Aku tidak ingin mendengar kau berkata seperti itu lagi baby. Kau harus ingat, aku tulus melakukannya karena aku mencintaimu, arra?" ucap Jimin, membuat Yoongi hanya bisa mengangguk menurut. Setelahnya, Jimin membawa Yoongi dalam dekapan hangatnya.

"Saranghae Min Yoongi"

Nado saranghae Park Jimin"

-o-

"Yeoboseyo"

"Yeoboseyo chagi. Bagaimana kabar puteraku ini?"

"Aku baik eomma. Eomma bagaimana?"

"Syukurlah, eomma juga baik-baik saja sayang. Jimin bagaimana?"

"Dia juga baik. Jimin di kampus eomma, aku sedang tidak ada jadwal kuliah hari ini. Appa, bagaimana?"

"Hmm, yah, begitulah appamu, sudah lama tapi masih saja keras kepala"

Hening. Yoongi tidak menanggapi ucapan sang eomma. Dia tidak habis fikir, setelah selama itu dia tidak ada di rumah, masih saja Tuan Min keras kepala.

"Eomma"

"Kenapa chagi?"

"Apa aku harus menyerah?" Yoongi bertanya putus asa.

"No, big no! Walaupun appa tetap tidak setuju, eomma akan mendukung kalian sampai mati sayang, jadi jangan berkata begitu, ne?"

"Tapi appa-"

"Jangan pedulikan appa mu chagi. Eomma masih akan berusaha membujuknya. Mungkin saat ini belum, tapi eomma yakin appa pasti luluh dan menuruti kemauanmu suatu hari. Jadi kau harus kuat sayang, arra?"

"Baiklah eomma. Terima kasih eomma. Saranghae"

"Nado saranghae chagi"

Lalu sambungan telepon ibu dan anak itupun terputus.

'Semoga masih ada harapan' batin Yoongi.

Setelahnya, Yoongi sibuk berkutat di dapur membuat masakan untuk makan malam mereka berempat. Hingga tak lama kemudian Yongguk dan Himchan sampai di apartemen setelah Yoongi baru saja menyelesaikan masakannya.

"Kalian sudah datang" sambut Yoongi yang sedang menata makanan di meja makan.

"Ne. Jimin belum datang?" tanya Himchan, dia menghampiri Yoongi dan membantunya menata piring-piring yang akan mereka berempat gunakan. Yoongi menggeleng menjawab pertanyaan Himchan.

"Hyung biarkan saja, kau pasti lelah, aku saja yang memasak" Yoongi mencegah Himchan yang akan membantunya menyelesaikan makan malam mereka.

Himchan menurut, lalu dia menghampiri Yongguk yang duduk di kursi meja makan.

"Apa kalian tidak bertemu Jimin tadi?" tanya Yoongi sambil mengaduk-aduk sup dihadapannya.

"Tidak Yoon. Kami tidak melihatnya seharian ini dikampus" jawab Yongguk.

"Benarkah? Lalu dia kemana? Dia juga tidak menghubungiku seharian ini" Yoongi menerawang. Terbersit rasa khawatir di hatinya saat ini. Pasalnya, Jimin belum pernah pulang terlambat seperti ini sebelumnya.

"Mungkin dia masih ada urusan di kampus Yoon. Kita tunggu saja" Himchan berusaha menenangkan Yoongi.

Hingga Yoongi menyelesaikan masakannya satu jam kemudian, Jimin masih belum menunjukkan dirinya. Yoongi semakin khawatir. Dia melihat sekilas jam di pergelangan tangan kirinya.

'Jam sembilan, kemana perginya bocah itu' batin Yoongi cemas.

"Yoon, gwenchana?" Yongguk yang duduk di hadapan Yoongi bertanya, karena dia melihat raut khawatir dari wajah sahabatnya itu.

"Gwenchana. Tapi Jimin kemana, harusnya dia sudah pulang saat ini" Yoongi akhirnya tidak tahan untuk tidak mengatakan kekhawatirannya.

"Aku akan hubungi dia Yoon" Himchan berinisiatif, kemudian dia mengeluarkan ponsel dari saku jeans yang dipakainya, mengutak-atik benda itu dan segera mendial nomor Jimin.

"Ponselnya tidak bisa dihubungi" Himchan berucap sambil mengernyitkan dahinya heran, tidak biasa dengan tingkah Jimin yang seperti ini. Biasanya, ponsel Jimin selalu bisa dihubungi kapanpun.

Yoongi langsung bangkit saat itu juga. Dia berniat akan menjemput Jimin ke kampus mereka, sebelum Yongguk mencekal lengannya mencegahnya pergi.

"Mau kemana Yoon?" tanya Yongguk.

"Aku akan menyusul Jimin" nada khawatir terdengar jelas dari suara Yoongi.

Dia tentu saja khawatir. Meskipun mereka sudah cukup lama menetap di kota ini, tapi tetap saja Jimin masih belum terlalu hapal dengan seluk beluknya. Hal itu membuat Yoongi semakin mengkhawatirkan kekasihnya itu.

"Tetap disini Yoon. Sudah malam, di luar terlalu berbahaya. Aku yang akan mencari Jimin" ucap Yongguk tegas. Dia tidak mau ambil resiko Yoongi juga ikut-ikutan hilang jika dia nekat keluar malam ini.

"Tapi Gukie-"

"Percaya padaku, aku akan membawa Jimin pulang, ne?"

Akhirnya setelah sedikit berdebat, Yoongi menyetujui rencana Yongguk. Yongguk kemudian meraih kunci mobil serta ponselnya lalu keluar dari apartemen untuk menyusul Jimin ke kampus mereka.

"Gwenchana Yoon, semua akan baik-baik saja, ne?" Himchan memeluk Yoongi, membiarkan pemuda manis itu menyandarkan kepalanya di bahunya.

Yoongi tidak menjawab. Pikirannya menerawang, kira-kira apa yang dilakukan Jimin saat ini hingga terlambat pulang dan tidak memberi kabar padanya sama sekali. Yoongi takut sesuatu yang buruk akan menimpa kekasihnya itu. Yoongi benar-benar takut.

Tanpa disadarinya, kedua manik indahnya menjatuhkan cairan yang mengalir membasahi kedua belah pipinya. Yoongi menangis di bahu Himchan. Tubuhnya bergetar, mengekspresikan kegundahan dan kekhawatiran hatinya terhadap Jimin, kekasih yang berhasil mencuri hatinya selama dua tahun ini.

"Apa dia, hiks, baik-baik saja, hiks, hyung" Yoongi bertanya sambil terisak.

"Dia pasti baik-baik saja Yoon, Jimin mu pasti baik-baik saja. Jadi jangan khawatirkan apapun, arraseo?" ucapan Himchan sedikit menenangkan hatinya, tapi tak dapat dipungkiri rasa khawatir itu jauh lebih besar dirasakan Yoongi saat ini.

Dua jam kemudian, Yongguk kembali. Tapi raut wajahnya menunjukkan sesuatu yang tidak diinginkan oleh dua orang yang menunggunya. Dan juga, tidak terlihat Jimin mengikuti Yongguk dibelakangnya.

"Mana Jimin Gukie?" Yoongi langsung menghampiri Yongguk.

"Maafkan aku, Yoon. Aku sudah mencari Jimin ke kampus, ke tempat teman-temannya bahkan ke semua tempat yang mungkin dia datangi, tapi hasilnya-" Yongguk menggelengkan kepalanya sambil mengusap wajahnya kasar.

"Gukie, jangan bercanda!" suara Yoongi meninggi. Air mata siap tumpah lagi di kedua maniknya.

"Untuk apa bercanda saat seperti ini Yoon?! Aku benar-benar tidak menemukan Jimin dimanapun" ucap Yongguk menyesal. Dia merasa bersalah karena membawa kabar buruk ini untuk Yoongi.

"Jimin, Jimin kau dimana?!" Yoongi langsung berlari sambil berteriak histeris. Untung saja Yongguk dengan sigap langsung menangkap lengan Yoongi, lalu mendekapnya.

"Jangan gegabah Yoon, kita harus pikirkan baik-baik masalah ini" ucap Yongguk lalu membawa Yoongi untuk duduk di sofa ruang tengah apartemen, diikuti oleh Himchan yang duduk di sisi kosong sebelah Yoongi.

"Baik-baik bagaimana Gukie?! Jimin diluar sana dan kita tidak tahu dia dimana, apa dia baik-baik saja atau tidak?! Bagaimana bisa baik-baik Gukie, katakan bagaimana?!" Yoongi histeris. Air mata tidak mau berhenti mengalir di wajahnya.

"Yoon, tolong dengarkan sekali ini saja, ne? Jika kau nekat mencari Jimin, bukan tidak mungkin kau akan ikut hilang dan semakin sulit untuk bertemu Jimin" Himchan berusaha memberi pengertian untuk Yoongi. Himchan sebenarnya juga sangat mengkhawatirkan Jimin, bagaimanapun dia sudah menganggap pemuda itu seperti adik kandungnya sendiri.

"Benar kata Hime. Kita harus memikirkan bagaimana caranya menemukan Jimin Yoon, bukannya mencari asal tanpa tahu haru kemana mencari, itu akan semakin memperlambat pencarian kita" tambah Yongguk.

Yoongi akhinya menurut. Dia membenarkan ucapan kedua sahabatnya itu. Setelah sedikit tenang dan menghentikan tangisannya yang menyisakan sesenggukan itu, Yoongi membuka mulutnya bertanya pada Yongguk dan Himchan.

"Lalu, kita harus bagaimana?" tanyanya lirih. Suara Yoongi terdengar serak sekarang akibat tangisannya yang histeris.

"Aku baru saja mengirim pesan pada Min ahjumma. Dia sangat terkejut dan khawatir, tapi dia berjanji akan membantu kita mencari Jimin Yoon" jawab Yongguk, membuat Yoongi langsung menatapnya.

"Apa, apa ini ada hubungannya dengan appa?" tanya Yoongi ragu.

"Entahlah. Sepertinya begitu Yoon. Tapi jangan menuduh terlalu awal. Kita belum memiliki bukti apapun. Lagipula Jimin belum 24 jam menghilang. Bisa saja dia tersesat di suatu tempat dan muncul besok pagi" jawaban Yongguk membuat Yoongi berpikir.

Apakah appa nya yang sudah merencanakan ini semua? Jika memang benar, Yoongi benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Tuan Min pada kekasihnya. Yoongi benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi pada Jimin.

"Gukie, kita harus menemukan Jimin, bagaimanapun caranya"

TBC

.

.

.

Halooooooooooo, masih pada inget ff ini? /gak /yaudah baca lagi xD

Gak bisa nulis lebih panjang dari ini, maapkeun T.T

Di otak udah ada ide, tapi mau nuangin(?) ke tulisan kok rasanya susah anettt, ini gegara mood nulis gak tau kenapa tiba-tiba hilang buat ff ini /pundung di pojokan

Ini saya juga bingung kenapa ceritanya tetiba jadi gini xD

Kalo gak buntu(?) diusahain update chapter selanjutnya cepet, ga molor kaya yang ini, hihihi

Ya sudah, gak usah panjang-panjang, yang sudah baca, be a good reader and give your review^^