Chapter 8

Pair : MinYoon, slight Yongguk x Yoongi, BangHim

Warning (s) : BOYS LOVE, cerita pasaran, alur acakadul, bahasa acakadul, typo acakadul. DON'T LIKE DON'T READ! RnR please

Happy reading^^

.

.

.

Break It?

Sebuah van hitam berhenti tepat di depan sebuah bangunan tua tak terurus. Terlihat beberapa bagian kaca jendela bangunan itu pecah dan sangat berdebu di segala sudutnya. Ditambah waktu telah menunjukkan malam hari dan di sekeliling bangunan itu adalah bangunan-bangunan besar lain yang sama tidak terurusnya, menambah kesan menyeramkan bangunan besar itu.

Pintu van terbuka, lalu turunlah dua orang berpakaian serba hitam dan dua-duanya bertubuh besar dan gempal. Tunggu, ada satu orang lagi, tapi tampaknya orang itu tidak sadarkan diri, dilihat dari cara kedua orang berpakaian hitam tadi yang memapah satu orang lainnya.

Satu orang berpakaian hitam membuka pintu bangunan, dan mereka langsung disambut oleh debu yang berterbangan di udara. Mengibas-ngibaskan sebentar, lalu kedua orang itu beserta satu orang lagi yang mereka papah memasuki bangunan.

Setelah menghidupkan lampu yang ada disana –yang entah bagaimana bisa hidup jika ditelisik dari keadaan bangunan yang terbengkalai- kemudian mendudukkan orang yang tak sadarkan diri tadi ke sebuah kursi kayu yang ada di dalam bangunan itu dan tak lupa mengikatkan kedua tangan dan kaki orang tersebut pada kursi.

Lalu kedua orang berpakaian hitam tadi beranjak, tapi mereka tidak meninggalkan tempat, hanya berpindah, berjaga di depan pintu satu-satunya bangunan itu.

Sekitar dua puluh menit kemudian, sebuah sedan hitam mewah tiba. Dua penjaga tadi langsung membungkuk hormat saat pintu dibuka dan turunlah seorang pria paruh baya bersama dengan dua orang pengawalnya.

"Dia sudah didalam Tuan" ucap salah seorang penjaga dengan sopan.

Hanya mengangguk, kemudian pria tadi melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan diikuti oleh kedua pengawalnya.

Seringai langsung terpasang di wajah angkuh pria itu saat mendapati seseorang yang selama ini amat diincarnya untuk dilenyapkan, kini sudah ada dihadapannya dengan keadaan tak berdaya.

Plak

Sebuah tamparan keras yang mendarat di wajahnya membuat pria yang lebih muda dihadapannya perlahan tersadar. Dia mengerjapkan matanya hanya untuk menyesuaikan penglihatannya, dan langsung terbelalak saat menyadari sosok dihadapannya.

"T-tuan Min-"

"Benar, aku. Ck, sepertinya kau tidak tahan sakit eoh? Baru ditampar begitu langsung bereaksi" ucapnya meremehkan.

"A-apa yang Anda lakukan?! Bagaimana bisa aku disini?!" pekik pria itu. Dia berontak, berusaha melepaskan ikatan di kedua kaki dan tangannya yang dia rasakan begitu menyakiti pergelangan kaki serta tangannya sekarang.

"Hanya ingin melenyapkanmu bajingan kecil, Park Jimin" jawabnya remeh sekali lagi.

Jimin, pria muda itu, seketika tersentak. Dia mulai mengingat semuanya.

Seingatnya tadi, dia berdiri di depan gerbang kampusnya menunggu taksi lewat untuk pulang. Hingga tiba-tiba dua orang tak dikenal berjalan mendekatinya, membekapnya dan semuanya menjadi gelap begitu saja. Tahu-tahu Jimin sudah berada di tempat asing ini saat dia sadar.

Plak

Sekali lagi tamparan itu mendarat di wajah Jimin. Rasa anyir seketika memenuhi indera pengecapnya. Sepertinya sudut bibir Jimin robek.

"Aku sudah membiarkanmu dua tahun ini. Bagaimana, menyenangkan hidup di luar negeri dengan uang orang lain? Kau senang, hmm?" tanya Tuan Min mengintimidasi, jangan lupakan cengkeraman kuat tangannya di rahang Jimin, seolah bisa menghancurkan rahang itu kapan saja.

Jimin tak menjawab. Dia menatap tajam Tuan Min, mengisyaratkan bahwa dia tidak takut sedikitpun pada ayah kekasihnya itu.

"Wah, kau berani juga. Benar-benar tipe keras kepala. Bagaimana kalau kita sedikit bermain-main malam ini" sekali lagi seringai menyeramkan terpasang di wajah sang tuan besar.

-o-

Yoongi tidak tidur. Tidak bisa tidur lebih tepatnya. Semalaman dia duduk di sofa, mondar-mandir, sesekali mengecek pintu apartemennya siapa tahu Jimin datang. Tapi nihil. Hingga pagi menjelang, Jimin tetap tidak menampakkan dirinya.

Kantung mata menghiasi wajah pucat Yoongi. Sama keadaannya dengan Yongguk. Dia juga semalaman terjaga hanya untuk menemani Yoongi dan juga menhubungi semua orang yang sekiranya mengetahui keberadaan Jimin.

Wajah Yoongi sembap. Dia telah menangis sejak tahu bahwa Jimin hilang. Dan masih saja menangis hingga saat ini. Himchan lah yang berusaha menenangkan pemuda berkulit pucat itu, mencoba membujuknya untuk makan mengingat Yoongi sudah melewatkan makan malam serta sarapan paginya, namun hasilnya sia-sia.

Yoongi bilang dia tidak mau makan jika belum melihat Jimin di depan kedua matanya.

"Bagaimana sekarang?! Jimin benar-benar hilang!" Yoongi terisak. Suaranya serak nyaris habis karena terlalu lama menangis.

"Jangan berpikir macam-macam dulu Yoon. Aku yakin Jimin pasti baik-baik saja" Himchan masih berusaha menenangkan Yoongi, walau dalam hatinya dia khawatir setengah mati pada salah satu sahabatnya yang entah dimana saat ini. Tapi dia tidak menunjukkannya pada Yoongi, demi agar pemuda berkulit pucat itu tidak semakin khawatir.

"Ahjumma sudah tiba di bandara Yoon. Sebentar lagi dia kesini. Aku pastikan semuanya baik-baik saja jika eomma mu sudah ikut campur. Kau percaya padanya kan?" ucap Yongguk lembut. Dia mengusap rambut Yoongi yang berantakan.

Yoongi mengangguk pelan.

Tapi sejujurnya dia masih ragu. Appa nya adalah orang yang akan melakukan segala cara jika dia menginginkan sesuatu atau membenci sesuatu. Kekerasan.

Yoongi benar-benar takut. Takut Jimin akan jadi 'korban' sang appa selanjutnya. Mengingatnya membuat perasaannya berkecamuk hebat dan tanpa sadar air mata sudah meleleh lagi di kedua manik sayunya.

"Yoon, jangan menangis lagi" Himchan buru-buru membawa Yoongi kembali ke dekapannya. Mengusap-usap punggung sempit Yoongi yang bergetar hebat. Sungguh Himchan bisa merasakan kepedihan Yoongi hanya dengan mendengar isak tangisnya.

Untuk sementara hanya keheningan dan isakan Yoongi yang terdengar. Ketiganya sama-sama terdiam dengan pikiran yang begitu berkecamuk serta kekhawatiran besar mereka terhadap keadaan Jimin yang hampir dipastikan berada di tangan Tuan Min yang entah dimana saat ini.

"Tidak lapor polisi Gukie? Kupikir itu bisa membantu" ucap Himchan memecah keheningan.

Yongguk menggeleng.

"Ahjumma melarang melapor pada polisi. Ahjusshi akan makin berbahaya jika kita melaporkannya pada polisi, dia bisa nekat menyakiti Jimin"

"Lalu cara apa yang akan ditempuh eomma?" tanya Yoongi lemah.

"Aku juga tidak tahu Yoon, ahjumma selalu penuh kejutan. Tapi percayalah, ahjumma bisa mengembalikan Jimin padamu. Bersabarlah sedikit lagi, arra"

"Entahlah Gukie. Aku takut, benar-benar takut"

Suara bel menginterupsi pembicaraan mereka. Yongguk segera beranjak ke arah pintu. Tak lama, Nyonya Min masuk dan segera menghampiri Yoongi serta memeluk putera semata wayangnya yang tampak kacau itu.

"Dasar sinting! Orang tua macam apa yang membuat anak satu-satunya jadi begini" Nyonya Min menggerutu sambil mengusap-usap sayang punggung Yoongi yang kembali bergetar itu.

"Jangan khawatir sayang, eomma akan melakukan apapun untuk menyelamatkan menantu eomma. Eomma janji" ucap Nyonya Min sambil tetap memeluk Yoongi, membiarkan anaknya menangis dalam pelukannya.

"Jadi, benar ahjusshi yang melakukannya?" tanya Yongguk setelah Yoongi melepaskan pelukannya pada sang eomma dan sedikit tenang sekarang.

Nyonya Min mengangguk.

"Dia memang gila. Kupikir appa mu juga terlibat Gukie-ah. Tapi tadi malam dia menelepon dan berkata bahwa Jimin sedang disekap di suatu tempat oleh Min sialan itu"

"Jadi, appa?" tanya Yongguk tidak percaya. Apa appa nya sudah menyetujui hubungannya dengan Himchan?

"Ya, dia sudah sadar dan menyetujui hubungan kalian berdua. Aku heran, sepertinya appa nya Yoongi memang tidak punya hati, bagaimana bisa sudah selama ini tapi tetap saja keras seperti batu" Nyonya Min menggerutu lagi.

"Apa Jimin dibawa keluar dari negara ini ahjumma?" Himchan kali ini yang bertanya.

"Menurut info dari Tuan Bang tidak"

Yongguk mengernyit bingung, begitu juga dengan Himchan dan jangan lupakan Yoongi. Membuat Nyonya Min tergelak melihat ekspresi mereka.

"Eomma kenapa malah tertawa, saat ini sedang genting eomma!" protes Yoongi.

"Astaga maafkan aku, kalian menampakkan ekspresi yang sama satu sama lain dan itu menggelikan. Baiklah, aku akan jelaskan rencananya jadi dengarkan baik-baik"

-o-

Sementara itu di sisi lain, keadaan Jimin jauh dari harapan mereka semua.

Jimin babak belur. Memar, luka robek serta darah yang hampir mengering memenuhi sekujur tubuhnya. Seluruh tubuh Jimin terasa nyeri, ngilu, bahkan dia merasa tulang-tulangnya akan remuk jika orang-orang itu terlambat sedikit saja untuk berhenti menghajarnya tadi malam.

Jimin mendongak melihat penjaga yang berjaga di pintu. Sepertinya bukan penjaga yang tadi malam, batinnya.

Tapi toh tidak akan berpengaruh apapun, mereka juga tidak akan membantu Jimin keluar dari ruangan sialan ini.

Pikiran Jimin menerawang lagi ke kejadian semalam. Dimana Tuan Min benar-benar meluapkan kekesalannya dan menghajarnya habis-habisan. Tidak hanya itu, dia bahkan juga menyuruh beberapa orangnya untuk turut menghajarnya hingga tak berdaya dan akhirnya dia pingsan.

Jimin baru saja tersadar dari pingsannya pagi ini dan menemukan keadaan dirinya yang begitu mengenaskan. Digeletakkan begitu saja di lantai bangunan yang berdebu dan dingin dengan keadaan tangan dan kaki yang masih terikat.

Tapi dia bersyukur, setidaknya Jimin masih hidup hingga pagi ini, mengingat betapa parahnya dia dihajar tadi malam dan jangan lupakan juga pelakunya lebih dari satu orang.

Jimin tersadar dari pemikirannya saat dia melihat salah satu orang penjaga yang berpostur tinggi tapi tidak gempal seperti penjaga yang kemarin malam menghampirinya.

"Kau sudah sadar?" tanya penjaga itu sambil berjongkok karena posisi Jimin saat ini tengah berbaring miring dengan kaki terikat menekuk serta tangan terikat ke belakang di lantai.

Jimin tidak menjawab, hanya menatap penjaga itu waspada. Membuat penjaga itu tersenyum maklum.

Kenapa dia tersenyum? Penjaga kemarin saja tidak sedikitpun mengajaknya bicara, batin Jimin bingung.

"Santai saja, aku tidak akan menyakitimu. Lagipula, aku bukan orang Tuan Min asal kau tahu" ujar penjaga itu yang langsung membuat Jimin terkejut.

"Lalu, kau siapa?" tanya Jimin susah payah karena dia langsung merasakan sakit saat dia membuka mulut.

Jimin meringis kesakitan membuat penjaga dihadapannya ikut meringis seolah merasakan kesakitan yang dialami Jimin.

"Apa sakit sekali? Nanti saja aku jelaskan. Saat ini yang perlu kau lakukan adalah tenang dan kumohon tahanlah sakitnya sedikit lagi saat aku dan temanku membopongmu ke mobil, oke?"

Dan sebelum Jimin bertanya lebih jauh, penjaga itu telah memanggil temannya lalu mereka berdua dengan sangat super ekstra hati-hati membopong Jimin –setelah sebelumnya melepaskan ikatan di tangan dan kaki Jimin- menuju ke sebuah van yang sudah siap di depan bangunan.

Jimin dibaringkan di bangku tengah van oleh kedua orang itu lalu setelahnya mereka bertiga pun bergegas meninggalkan bangunan.

"Sebenarnya kalian siapa?" tanya Jimin tak sabaran. Dia benar-benar penasaran dengan kedua orang yang duduk di depannya itu.

Dia juga masih belum tahu apakah kedua orang itu akan menyelamatkannya atau bagaimana.

"Aku Kim Namjoon dan ini adalah Kim Seokjin. Kami sebenarnya adalah orang Tuan Bang. Dan kami disini untuk menyelamatkanmu atas perintah Tuan Bang" jelas penjaga yang tadi menghampiri Jimin sekaligus mengenalkan teman yang duduk di sebelahnya.

"Tuan Bang? Untuk apa Tuan Bang menyuruh kalian membawaku? Aku tidak ada hubungan dengan Yongguk hyung asal kalian tahu"

Ucapan Jimin sontak membuat kedua orang itu tergelak. Namjoon yang sedang mengemudi bahkan hampir saja oleng mengemudi jika saja Seokjin yang duduk disebelahnya tidak segera mengingatkannya.

"Kami tahu Yongguk-ssi sudah punya kekasih dan namanya Himchan. Dan kau adalah kekasih Min Yoongi putera dari Tuan Min, benar?" Seokjin kali ini yang bicara. Jimin mengangguk.

"Ini adalah bagian dari rencana Nyonya Min, dan kebetulan Tuan Bang bersedia membantu, jadilah kami yang dikirim oleh Tuan Bang untuk berpura-pura membantu Tuan Min menculikmu, kira-kira seperti itu" jelas Seokjin, membuat Jimin mengerti sekarang.

"Jadi kalian sudah dari semalam ada bersamaku di bangunan itu?"

"Ya, kami sampai disana bersama dengan Tuan Min" jawab Namjoon.

"Tunggu, apa kalian ikut mengahajarku semalam?" Jimin curiga. Pasalnya, dia tahu bahwa semua orang Tuan Min yang ada di bangunan itu semalam, semuanya ikut andil dalam menghajar Jimin hingga tak sadarkan diri.

Melihat kedua orang yang duduk didepannya tersenyum gugup, membuat Jimin sudah tahu jawabannya.

"Maafkan kami. Jika tidak begitu, kami takut Tuan Min akan curiga. Tapi percayalah, aku dan Namjoon yang meminta mereka untuk berhenti menghajarmu saat tahu kau sudah tak sadarkan diri" ucapan Seokjin terdengar seperti menyesal.

"Tak masalah, aku tahu kalian hanya menjalankan tugas. Lalu setelah ini, kita kemana?" Jimin tidak memperpanjang lagi masalahnya, toh saat ini mereka juga sudah membantunya untuk kabur dari tempat sialan itu.

"Kami akan membawamu ke rumah sakit yang paling dekat dari sini dan menunggu Nyonya Min serta ketiga sahabatmu datang ke rumah sakit" jelas Namjoon.

Jimin mengangguk mengerti. Lalu setelahnya, dia memilih untuk tidur setelah sebelumnya berpesan pada dua orang didepannya untuk membangunkannya saat sudah sampai nanti.

Tapi nyatanya, saat Jimin terbangun, Jimin sudah berada di sebuah ruangan dengan nuansa putih bersih, dengan infus yang terpasang di lengan kirinya, perban yang menutupi hampir di sekujur tubuhnya serta dirinya sudah mengenakan pakaian khusus pasien, cukup menjelaskan keberadaannya saat ini.

Dia melihat Seokjin duduk di sebuah sofa yang ada di dalam ruangan itu dan tersenyum saat Jimin melihatnya.

"Kau sudah bangun? Kira-kira satu jam lagi Nyonya Min dan yang lain akan datang" jelas Seokjin sambil beranjak menghampiri Jimin lalu duduk di kursi di sebelah tempat tidur yang ditempati Jimin.

"Namjoon-ssi dimana?" tanya Jimin.

"Dia berjaga diluar, memastikan semuanya aman terkendali. Tapi jangan khawatir, beberapa rekan kami juga sudah berjaga-jaga di sekitar sini" jelas Seokjin lagi.

"Seokjin-ssi, terima kasih sudah menolongku" ucap Jimin tulus, membuat Seokjin tersenyum mendengarnya.

"Tidak masalah Jimin-ssi, aku hanya menjalankan tugas. Harusnya kau berterima kasih pada Nyonya Min karena dia lah yang merencanakan ini semua, termasuk merayu Tuan Bang"

Jimin mengangguk sekali lagi. Dalam hati ia bersyukur bisa mendapatkan calon mertua, ehm, sebaik Nyonya Min.

"Baiklah kalau begitu, istirahatlah lagi, aku akan menjagamu disini sambil menunggu mereka datang" ucap Seokjin setelahnya dan diangguki oleh Jimin.

Akhirnya Jimin kembali tertidur mengingat kondisi tubuhnya yang masih begitu lemah. Sebenarnya dia ingin tetap terjaga agar bisa langsung melihat wajah sang kekasih, Yoongi yang begitu amat dirindukannya saat dia tiba nanti. Tapi apa daya, tubuh Jimin benar-benar tidak bisa diajak berkompromi untuk saat ini.

Hingga sebuah remasan lembut di tangannya perlahan membangunkan Jimin dari tidurnya lagi, Jimin mencoba membuka kedua matanya dan langsung saja dia dihadapkan pada wajah kusut sembap milik sang kekasih.

"Jimin, kau sudah bangun" Yoongi sedikit memekik, senyuman kelegaan langsung terpancar di wajah kusutnya. Jimin mengangguk.

"Hyung, kenapa kau seperti ini?"

Jimin mengangkat sebelah tangannya dan langsung meringis setelahnya karena merasakan ngilu. Yoongi yang melihat itu segera mencegah tangan Jimin untuk bergerak lebih jauh.

"Jangan banya bergerak Jim, kau masih sakit! Astaga, aku minta maaf Jim, benar-benar minta maaf hiks" akhirnya tangis Yoongi kembali meledak. Yoongi menciumi telapak tangan Jimin yang ada di genggamannya, benar-benar merasa bersalah pada sang kekasih.

"Hyung, tolong jangan menangis, aku sakit melihatmu menangis. Aku tidak apa sayang, percayalah"

Jimin masih berusaha membujuk Yoongi agar tidak menangis lagi, sampai beberapa saat kemudian Nyonya Min, Yongguk dan juga Himchan masuk ke ruangan itu. Seokjin sudah keluar sejak saat Yoongi pertama kali masuk ke ruangan itu dan berjaga di luar bersama Namjoon.

"Yoon, sudah jangan menangis, kau membuat Jimin semakin sakit karena khawatir padamu" Nyonya Min menepuk-nepuk halus punggung sang putera.

"Jangan menangis lagi Yoongi hyung. Aku sudah disini bersamamu, dan aku baik-baik saja sayang" Jimin masih berusaha membujuk Yoongi.

"Pabbo hiks! Seperti ini kau bilang baik-baik saja hiks?! Aku sungguh membenci Tuan Min itu, sungguh!" teriak Yoongi emosi.

"Jangan begitu hyung. Dia masih appa mu bagaimanapun juga"

"Tapi dia jahat Jimin! Apa masih pantas dia dipanggil appa?!"

"Sudah-sudah Yoon, berhenti mengumpat pada appamu. Mungkin dia hanya sedang khilaf makanya begitu" kali ini Yongguk yang mencoba menghentikan Yoongi.

"Dia memang gila" setelah mengucapkan umpatan terakhir pada sang appa, Yoongi akhirnya mulai berhenti menangis.

"Jimin, eomma bersyukur kau masih selamat, yah meskipun harus mendapat luka-luka seperti ini. Tapi jangan khawatir, eomma pastikan ini yang terakhir kalinya Tuan Min itu mengganggu kau dan Yoongi" ucapan Nyonya Min membuat keempat orang lainnya memandangnya antusias sekaligus tidak percaya.

"Yang terakhir? Eomma yakin?" Yoongi menyuarakan keraguannya. Nyonya Min mengangguk mantap.

"Aku sudah melakukan perjanjian dengan appa mu Yoongi, dan dia akan kehilangan perusahaan sekaligus kehilangan kau dan aku jika sampai mengingkarinya"

TBC

.

.

.

TBC nya aneh, wkwkwk

Lagi ga dapet feel untuk TBC nya(?) jadinya kayak gitu xD

Mungkin dua chapter lagi FF ini akan END, semoga saja gak stuck lagi mau ngelanjutin, hihihi

Yang sudah baca, jangan lupa review yaa

Be a good reader and give your review^^