Just a Slave ©Just For KaiHun

*~Presents~*


01.30 PM |10 January 2014 | Kim's Mansion | Seoul, South Korea

Sehun tengah mengemasi seluruh kekacauan di kamar mereka ini dengan sedikit lamban, sebab selangkangannya masih terasa sangat sakit untuk dibawa berjalan seperti orang normal. Lagipula, Jongin sudah pergi sejam yang lalu, tentu saja pria tan itu dinanti oleh pekerjaannya yang menumpuk, mengingat bahwa ia adalah direktur utama di Kim Corp.

"Engh…" Sehun melenguh saat merasakan nyeri di sekitar perutnya. Ia baru mengingat bahwa ia belum memakan apapun sejak tadi pagi.

Setelah menyelesaikan semuanya dan memastikan kamarnya sudah tak lagi mengeluarkan aroma yang tidak sedap, ia pun berjalan ke dapur, berniat untuk membuat beberapa makanan untuknya. Entahlah, ia merasa sangat kelaparan saat ini, padahal selama ini ia baik-baik saja, meskipun tidak sarapan.

Kenapa akhir-akhir ini ia terlihat aneh dan sedikit lebih sensitif dari biasanya? Sehun sama sekali tidak mengerti dengan dirinya yang sekarang ini sudah tidak bisa lagi berkompromi dengan pikiran logisnya.

Ia benar-benar memakan semua masakannya itu dengan waktu yang sangat cepat. Bagaimana bisa ia menjadi serakus ini?

"Aku sungguh bosan," cicitnya sambil menopang dagunya. Well, kalimat ini baru pertama kalinya terlantun dari bibirnya. Dan, Sehun merasa malas untuk saat ini. Kadang, ketika Sehun tidak berbuat apa-apa kala Jongin tidak sedang berada di rumah, Sehun akan membersihkan rumah besar ini untuk mengusir rasa bosannya itu, namun sekarang ia terlihat enggan bergerak dari kursi makannya selepas makanannya itu habis, bahkan untuk mencuci piringnya saja ia terlihat sangat malas.

"Tidak ada yang terjadi padaku, 'kan?" monolog Sehun dengan wajah bingungnya yang terlampau polos, bibir merah mudanya sedikit mencebik.


Just a Slave ©Just For KaiHun


TOK… TOK… TOK…

"Masuk!" Suara di dalam ruangan dengan plakat 'Direktur Utama' itu terdengar dingin dan datar, namun terkesan tegas.

"Jongin,"

Seketika itu juga pemuda yang sibuk dengan laptopnya tersebut pun mendongakan kepalanya dan ketika tahu siapa yang datang, Jongin meninggalkan segala aktivitasnya.

"Luhan!" Wajah Jongin tampang semringah melihat sosok pemuda cantik di depannya.

Tunggu…

Mengapa Jongin terlihat sangat bersemangat dengan kedatangan pemuda cantik tersebut?

"Jongin, maafkan aku soal kemarin, aku benar-benar merasa bersalah padamu," Kata pemuda cantik itu dengan nada penuh dengan penyesalan teramat dalam.

"Aku tak bisa untuk tak memaafkanmu," Jawab Jongin dengan senyum yang lembut dan juga tulus. Kita seperti bukan melihat pemuda dengan gairah yang berapi-api dengan perlakuan kasarnya.

Ada yang aneh?

"Terima kasih, Jongin." Pemuda bernama Luhan itu mendekat ke arah Jongin, lalu memeluk pemuda tampan itu. Di balik dada Jongin, pemuda cantik itu tersenyum penuh arti.

"Apapun untukmu, Luhan." Jongin mengecup puncak kepala Luhan dengan penuh sayang.

"Empat hari lagi akan ada pesta di rumahku, kuharap kau bisa datang," kata Jongin penuh harap. Jongin sangat ingin pemuda yang begitu ia puja ini berkenan untuk menghadiri pesta ulang tahunnya.

"Kau ingin aku datang?" Jongin melepaskan pelukannya dan menatap mata pemuda itu sedalam mungkin. Ia mengangguk. "Ya, aku ingin."

"Aku mendapatkan apa jika aku datang ke rumahmu?" Luhan menggodanya dan ia hampir saja menegang karena tatapan penuh dengan makna dari pemuda itu.

Jongin mendekatkan bibirnya di sisi daun telinga Luhan. "Kau akan mendapatkan diriku," bisiknya.

Luhan menelusuri pipi Jongin dengan telunjuk panjangnya itu. "Maksudmu? Aku tak mengerti, Sayang," godanya dengan bibir bawah yang sengaja ia gigit.

"Berhenti merangsangku dengan ekspresi sialan-mu itu!" Jongin menggeram sembari menggemelatukan giginya. Luhan tertawa geli melihat Jongin yang sudah setengah menegang, terlihat dari gundukan yang berada di antara kedua pahanya yang terlapis oleh celana kain berwarna hitam itu.

"Aku tak mau mengganggumu, bekerjalah dengan baik, Presiden-ku," Kata Luhan sebelum ia melepaskan tangan Jongin yang mulai menyingkap kemejanya.

"Yak, Luhan!" Teriak Jongin setengah mendesah kesal karena tak mendapatkan apa yang dia mau.

"Lihat saja nanti, akan kuhabisi kau!" Ancam Jongin dan hanya mendapati suara tawa Luhan sebelum pemuda itu benar-benar keluar dari ruangannya.

Namun sebelum ia kembali pada pekerjaannya, Jongin teringat sesuatu yang tiba-tiba saja memenuhi pikirannya.

Sehun…

Ya, ia memikirkan pemuda cantik dengan kulit pucat yang membaluti tuhuh itu dan selalu bisa memuaskan hasrat seksualnya yang tidak normal itu. Ia berusaha untuk tidak memikirkannya sedari tadi, tetapi pemuda cantik yang satu itu selalu menghantui pikirannya akhir-akhir ini.

Sejak daritadi saja, ia belum menggerakan jemarinya di atas keyboard dan terus saja teralihkan pada sosok rapuh itu. Pikiran untuk memperlakukan Sehun dengan lembut sebenarnya sudah terpikir sejak dulu, hanya saja ada yang selama ini membuatnya enggan melakukannya.

Sesuatu di masa lalu…

Yang membuat semuanya menjadi kacau, rumit, dan tak terkendali…

Dan suatu pemikiran yang selama ini selalu ditanamnya sedalam mungkin di dalam otaknya adalah membenci Sehun dan membuatnya terus menderita selama hidup pemuda cantik itu.

Benar, ia harus membuat Sehun selamanya menderita, ia tak boleh lengah dan membiarkan hatinya mengambil alih permainannya untuk pemuda itu. Dan, ia tidak boleh mencintai Sehun, barang itu sedetik.


Just a Slave ©Just For KaiHun


Sehun mendudukan dirinya secara perlahan di atas tempat tidur, wajahnya seperti menahan sebuah kesakitan, dan kulit pucatnya semakin pucat sekarang, persis seperti mayat hidup.

"Kepalaku sakit," rintih Sehun yang berusaha meredam suaranya yang serak.

Sehun tak bisa menghubungi siapa-siapa saat ini, jangankan siapa-siapa Jongin saja ia tak akan bisa menghubunginya karena Jongin tidak memberikannya alat komunikasi yang setidaknya bisa ia gunakan untuk menelepon Jongin.

Ia membaringkan tubuhnya secara perlahan di atas tempat tidur. Paling tidak, sehabis bangun tidur ia bisa kembali seperti semula. Namun, sebelum ia sempat menutup matanya untuk terlelap sejenak, sesuatu seperti menggelitik kerongkongannya dan memaksakan sesuatu untuk keluar dari dalamnya.

Sehun yang tak tahan lagi pun berlari ke dalam toilet dan memuntahkan cairan bening yang bersifat asam tersebut, bahkan untuk memuntahkannya lagi Sehun sudah lemah seperti ini. Soalnya, ini bukan sekali ia memuntahkan isi perutnya ini, dalam sehari ini ia sudah tujuh kali pulang-balik toilet.

Ceklek

Pintu kamarnya berbunyi, menandakan seseorang masuk ke dalam. Tak perlu dilihat saja Sehun sudah tahu siapa yang masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk untuk meminta izin darinya.

"Sehun?"

Sehun keluar dari toilet dengan wajah dengan penuh senyum keterpaksaan. Jongin, orang yang masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi itu mengernyitkan dahinya heran.

"Wajahmu pucat," ujar Jongin dengan nada dinginnya, namun tak ayal ada satu nada yang tersirat dalam ujarannya tersebut. Sebuah nada yang terdengar samar dan terkesan… khawatir, mungkin?

"Huh?" Sepertinya, Sehun masih belum dapat berpikir dengan baik selepas tadi.

"Lupakan! Kau bisa melayaniku hari ini, 'kan?" Sehun gelagapan mencari alasan. Untuk berdiri di depan pemuda tampan itu saja ia mengalami kendala yang cukup besar karena badannya sudah lemas, apalagi harus melayani pemuda itu di atas ranjang, mungkin besok ia akan mati kelelahan.

"Maafkan aku, tapi aku tak bisa melayanimu hari ini, Jongin," Sesal Sehun sembari menunduk takut.

Selama ini Sehun pun bingung dengan dirinya sendiri, ia sama sekali tidak mampu untuk melawan Jongin padahal ia juga lelaki dan ia juga bisa bela diri. Hanya saja, ketika itu bersama Jongin, ia seakan melupakan semua yang bisa ia lakukan dan hanya bisa pasrah terkekang oleh pemuda tampan itu.

"Kau menolakku?" Suara Jongin sedikit meninggi. Inilah yang membuat Sehun takut, Jongin kembali pada sikap aslinya sekarang, memaksa dan kejam.

Jongin menyeret lengan Sehun dan mendorongnya ke dinding dengan sangat kuat menimbukan bunyi yang cukup kuat. Sehun menggigit bibir bawahnya untuk melawan erangan kesakitan yang bisa saja membuat Jongin lebih murka daripada ini.

"Kumohon, Jongin," Lirih Sehun berusaha menghindar dari Jongin yang berusaha menciuminya dengan memalingkan wajahnya. Dan untuk ke tiga kalinya Jongin pun benar-benar marah dan menampar wajahnya dengan sangat kuat membuat kelima jemari Jongin membekas di pipi mulus itu.

Sehun berusaha untuk tidak mengeluarkan buliran bening dari pelupuk matanya, meskipun rasa sakit luar biasa semakin membuatnya merasa tak berdaya, ditambah lagi tamparan dari Jongin.

Saat Jongin meremas kedua lengan Sehun, pemuda itu mengerang keras membuat Jongin tertegun. Jongin merasakan tangannya basah ketika meremas lengan kanan Sehun, ia melirik lengan kanan Jongin dan menemukan lengan kemeja Sehun dipenuhi darah yang sepertinya merembes dari kulit lengan pemuda tersebut.

Luka itu adalah perbuatannya…

Perlahan sorot mata dingin dan kejam itu berubah menjadi sorot mata yang lagi-lagi tak dapat ditebak, bahkan Sehun pun tak tahu maksud dari tatapan tersebut. Kasihan, eh?

'Aku tak peduli!'

Jongin langsung saja bergerak cepat dan melumat bibir tipis pemuda cantik itu tanpa izin, sedangkan sang empu berusaha untuk menolak tapi Jongin mengurungnya dan Jongin semakin meremas lengan kanannya membuat lukanya akibat Jongin dua hari yang lalu kembali terbuka.

'Sakit!'

Sehun tak lagi menahan air matanya dan membiarkannya mengalir begitu saja, bercampur dengan ciuman mereka yang memberikan rasa asin di sela-selanya.

Sehun lelah, ia tak sanggup lagi bertahan atas kesadarannya, ia tak mampu lagi, ia sudah terlalu lemas. Lalu, ia pun merosot dan tak sadarkan diri, Jongin mengerang kesal karena Sehun yang tiba-tiba saja seperti ini.

"Ada apa dengan kau?!" Jongin kembali berdiri dan membiarkan Sehun yang pingsan di lantai marmer tersebut.

"Kau benar-benar pingsan?"

Tak ada respon. Jongin tiba-tiba saja panik dan dipenuhi oleh rasa khawatir yang snagat besar, ia tak tahu darimana asal dari rasa tersebut, tapi… ah berhenti untuk berpikir!

Jongin mengangkat tubuh Sehun dan menaruhnya dengan perlahan ke atas ranjang, ia mengambil ponsel dari saku celananya dan menelepon seseorang di seberang sana.

"Kau bisa kemari?"

"…"

"Seseorang tiba-tiba saja pingsan di rumahku."

"…"

"Jangan banyak tanya, hanya datang, memeriksanya, kemudian memberikan obat, dan pekerjaanmu selesai."

Setelah itu, Jongin mematikan ponselnya secara sepihak, matanya masih menatap lekat kepada pemuda cantik yang saat ini berbaring lemah di ranjang.

"Kau pucat," Lirih Jongin tanpa ia sadari sendiri.

"Apa yang kupikirkan?! Bodoh!" Umpatnya yang merasa aneh dengan dirinya sendiri. Apa sekarang ia terlihat seperti orang stress yang bingung akan melakukan apa? Sepertinya begitu.


Just a Slave ©Just For KaiHun


"Bagaimana dengan keadaannya, Yeol?" tanya Jongin saat orang yang ditunggu-tunggunya keluar dari kamar Sehun.

"Dia kelelahan, Jongin, dan sepertinya ia mengalami masalah dengan perutnya," jawab orang tersebut dengan jubah putihnya dan kaca mata yang bertengger manis di hidung mancungnya.

"Maksudmu?"

"Aku bukanlah seorang dokter yang bisa menjawab semua keluhannya, setidaknya bawalah dia ke rumah sakit besar agar kau tahu dia mengalami sesuatu yang serius atau tidak," tambah dokter muda dengan name-tag 'Park Chanyeol' di jubahnya itu.

"Dan, aku menemukan tubuhnya penuh dengan lebam yang berkombinasi dengan kissmark," ucap Chanyeol yang membuat Jongin tiba-tiba saja marah dan menarik kerah dokter muda itu.

"Kau membuka pakaiannya?!" tanya Jongin setengah berteriak. Entah mengapa bayang-bayang Chanyeol membuka pakaian Sehun tiba-tiba saja melintasi imajinasinya.

"Aku harus membersihkan semua luka di tubuhnya, Jongin!" Sergah Chanyeol yang sedikit terbawa suasana, lalu mendorong tubuh Jongin agar melepaskan kedua tangan pemuda tan itu pada kerahnya.

"Dia yang ke berapa?"

"Maksudmu?"

Chanyeol memutar bola matanya. "Kau tahu maksudku!"

"Aku juga tidak tahu," jawab Jongin malas.

"Mustahil. Kau pasti tahu, jawab aku, dia yang ke berapa?" tanya Chanyeol kembali mengulang pertanyaan yang sama. Jongin mendengus, "21."

"Sebanyak itu? Dasar maniak!" Chanyeol membola, ia tak menyangka pemuda tan yang tak lain adalah adiknya sendiri telah melakukan hal yang bejad dan itu selalu berkali-kali.

"Kau menyuruhku untuk menjawab, Sialan!" Maki Jongin yang semakin kesal dengan pertanyaan Chanyeol.

"Berhenti memanggilku seperti itu, panggil aku hyung!" protes Chanyeol yang tak terima dengan panggilan Jongin yang tak jauh berengseknya dengan orangnya.

"Dalam mimpimu!"

"Terserah. Yang terpenting kau harus membawanya ke rumah sakit besar agar kau dan dia juga bisa tahu apa yang sedang dialaminya secara rinci," Tukas Chanyeol yang sudah bosan dengan pembicaraan mereka. Jika akan tetap dilanjutkan, itu akan berakhir dengan pertengkaran mereka.

"Tidak bisakah itu hanya kau?"

"Sudah aku bilang tadi padamu, bahwa aku bukanlah dokter yang bisa mendiagnosis semua penyakit dengan sekali periksa, maka dari itu kau lebih baik membawanya ke rumah sakit untuk mengetahui yang lebih rinci," tutur Chanyeol yang jadi ikut malas dengan Jongin yang sama sekali tidak mempunyai rasa kasihan sedikit pun.

"Baiklah, sekarang kau bisa pergi," Usir Jongin dengan wajah dan nada yang dingin.

"Aku pun akan pergi, aku tak tahan di tempat yang tak jauh berbeda dari neraka," Kata Chanyeol sedikit berteriak sembari menuruni anak tangga.

Jongin hanya mendengus kesal, kemudian ia masuk ke dalam kamar Sehun untuk memeriksa keadaan pemuda itu.

Setelah masuk, Jongin menemukan Sehun yang tengah terlelap dengan selang infus yang terpasang di punggung tangannya. Wajahnya begitu damai, seperti tanpa beban yang tak berarti.

Jongin pun membiarkannya terlelap, lalu keluar dari kamar Sehun. Setelah mendengar decitan pintu yang tertutup, Sehun membuka matanya.

Sebenarnya, ia sama sekali tidak terlelap sedari tadi, ia sepenuhnya sadar ketika Chanyeol masuk ke dalam kamarnya untuk memeriksanya, hanya saja Chanyeol bukan hanya sekedar memeriksanya. Chanyeol akan…

"Biarkan aku membantumu, Sehunnie…"

TBC


Just a Slave ©Just For KaiHun


Just For KaiHun's Note :

HELLO! HELLO! Kay is Back! Dan membawa fanfic yang udah lumutan. Muehehehe…

Ada yang nungguin fic ini? adakah? Adakah? Kalo ada makasih banget yah waluapun kalian pasti udah lupa sama nih ff, buahahaha…

Makasih juga untuk temen yang juga udah gue anggap kek adek sendiri yang udah menagih nih FF setiap keberadaan gue, ESTER SIHOMBING.

Gue gak PHP nih kan? Gue dah baik kan? iya'kan? Eh betewe, ini absurd banget yah, kek eeq sumpah. Gue juga gk tau nape gue nulisnye kek gini, makluk, gue lagi kena Writer Guvluk, ya begini jadinye.

DI PERINGATKAN SEKALI LAGI, INI TUH MENGANDUNG UNSUR M-PREG DI MANA ADA SCENE SEORANG LAKI-LAKI YANG BISA MENGANDUNG SEORANG ANAK. NO LIKE MPREG? PLEASE CLOSE THIS PAGE!

Next, gue bakal usahain update Indigo yeth! Ada yang setuju?

Special Thanks to :

Kikyseyeong | kimoh1412 | qtpoop | ohsanie | kjinftosh | Ilysmkji | KS | babyhunhun94 | seli kim | lovekaihun | Keteknyakai | levy95 | Renakyu | YunYuliHun | Kaihunmine | bottomsehunnie | Guest | exolweareone9400 | titisalviyah | ohhanniehunnie | exobabyyhun | asdindas | Damchuu93 | blackforwhite | hunnbebi | DWCokroleksono | Killa8894 | JongOdult | sukha1312 | Nagisa Kitagawa | sehunskai | dialuhane | bubblebubble | ohxoho | izzsweetcity | nisa wonkyu | YuRhachan | Kim Eun Seob | ooh | sneezkyu | sumiya wu | babykaihun | kaihun520 | egatoti | XX | KaiHunnieEXO | auliavp | Yehet | vantasticfic | KimRyeona19 | Icha | nandaXLSK9094 | bellasung21 | Xing1002 | Yessi94esy | xohunte | meimei | xiaoritaoktavia | kaihun28 | Oh Yuugi | exoinmylove | Siti409 | kimels94 | vivikim406 | JongieHunna | SeiraCBHS | chikenbubbletea | adindaPCy | sayakanoicinoe | Hann Hunnie

KEEP SUPPORT AND LOVE KAIHUN!


Just a Slave ©Just For KaiHun

~*Just For KaiHun*~