Saranghae, My Brotha

Xi Luhan and Oh Sehun

Chapter Two

.

.

.

Tuhan tau, yah Tuhan akan selalu tau apa awal dan akhir yang Ia buat. Begitupula dengan segala takdir yang Ia tumpahkan kepadaku, ah— lebih tepatnya kepada kita berdua. Sekeras apapun kita mencoba untuk mengelak maka dengan sejentik jari Ia akan merubahNya. Membolak-balik segala keadaan seperti kehendakNya. Ingatlah, Kita... dan semua ciptaanNya hanyalah pion-pion yang harus bermain dibawah aturanNya. Sekalipun dimata sesama kita, itu semua adalah kesalahan.

.

.

.

Dua dini hari, dimana harusnya semua penduduk diwilayah Seoul menempatkan dirinya dikasur dengan selimut yang nyaman, membiarkan diri mereka sekedar melupakan segala penat mereka yang terbelenggu dari pagi kemarin. Tapi tidak untuk Luhan saat ini, bukan karena ia tidak mengantuk bukan juga karena ia yang mengidap insomnia berkepanjangan atau bukan juga karena pekerjaan yang menunggunya.

Sekarang ia hanya bingung, kalut atau mungkin depresi dalam bersamaan. Baiklah, mungkin bagi remaja seusianya tidak pantas berpikir sedewasa ini. Tapi mau bagaimana, sekali lagi situasilah yang memaksanya. Luhan dapat merasakan semilir angin malam yang menghembusnya, seakan meminta paksa untuk masuk kedalam sela-sela jaket tebalnya. Kedua tangannya yang terbalut sarung tangan itu masih saja terkepal, berharap kedinginan malam dapat diatasi. Kedua matanya menatap sungai Han yang tenang— tak beriak sama sekali, tapi bukan berarti ia mendapatkan ketenangan secara sempurna. Karena sejujurnya suara hiruk-pikuk kota masih dapat ia dengar, walaupun sesungguhnya bukan itu yang membuatnya tak tenang. Ia dapat melihat bayang langit yang berpendar disungai itu. Tak bisa menampik, hati Luhan sedikit merasa tenang dengan kesunyian ini.

Sebenarnya bukan tanpa tujuan juga ia kesini. Karena sejujurnya ia hanya ingin menenangkan diri. Dan mungkin, salah satunya dengan menatapi kejernihan sungai Han. Luhan mengeluarkan benda berbungkus kecil dari sakunya. Kedua mata rusanya menatap lebih lanjut, hanya sekedar memastikan bahwa yang ia bawa benar-benar benda itu. Tanpa ragu, seakan sudah biasa Luhan menghidupkan pemantik ditangannya membakar salah satu dari mereka kemudian berpindah kebibirnya. Nyaman, itulah satu kata yang dapat terbias dari pikirannya. Tapi bukan berarti ia harus terlena dengan kenyamanan sesaat ini, karena Luhan tau betul ini pukul berapa dan ada dimana. Kedua matanya sibuk menilik sekitar. Tidak ada kecurigaan, hanya ketidakada-kerjaan yang mendorongnya.

Ia mengambil napas beberapa kali. Pikirannya kembali mundur untuk beberapa hal, hal dimana membuat ia dan Sehun terperangkap kedalam situasi seperti ini. Sebenarnya Luhan tak pernah berpikir bagaimana ini semua berawal karena mau bagaimanapun tak ada penyesalan dibenaknya, sekalipun ia tahu— atau mungkin berpura-pura buta— bahwa yang ia lakukan ini adalah kesalahan. Luhan hanya menyesali, ah.. bukan menyesali tapi lebih menyayangkan dengan takdir yang Tuhan ciptakan untuknya dan Sehun selaku adiknya. Ia hanya bingung, mengapa Tuhan memberikan rasa diluar batas ini jika Tuhan tau mereka tak mungkin bersatu? Ah, omong-omong kata persatuan benar-benar membuat Luhan trauma. Trauma untuk memikirkannya. Dia hanya kesal, apakah Tuhan sengaja ingin mempermainkan mereka atau apakah Tuhan ingin menghukum mereka karena telah melakukan dosa masa lalu? Tapi, jika jawabannya tidak atas dasar apa Tuhan melakukannya? Ah, Luhan bukan bermaksud merutuki Tuhan, sejujurnya ia hanya ingin mengeluarkan segala keluh-kesahnya.

Tak terasa, waktu diarlojinya sudah menunjukkan pukul empat dini hari. Ah, dua jam penuh dengan kesia-siaan. Tapi setidaknya segala keluh-kesahnya dapat sedikit berkurang walaupun Luhan tau itu tidak akan merubah keadaan.

Sepertinya langit akan mulai terang sebentar lagi, dan Luhan benar-benar tidak ingin melihat Sehun yang bangun tanpanya. Terlalu malas menerima racauan pertanyaan dari bayi besar itu. Yah, bayi besar yang dapat menaklukannya. Cih, klise sekali.

.

.

.

.

.

.

Proudly present a fanfiction by KaiSooEXO

Length: Chaptered/ Continue

Genre: Drama; Hurt; Reality

Level: Mature. I warn you, already. So for anyone are under 18+ don't read this. ( Tbh, i am not 18+ )

.

.

.

.

.

Pukul enam pagi, tapi entah kenapa wilayah seoul saat ini benar-benar cerah. Lihatlah bagaimana matahari sudah naik keatas menampilkan cahayanya. Burung-burung gereja yang saling bersahutan diatas kabel telepon, belum lagi suara mobil pengangkut sampah yang begitu berisik. Sehun meringis, saat merasakan cahaya-cahaya itu mulai memaksakan diri untuk masuk kedalam retinanya. Mengeluhpun percuma, karena ia tahu itu perbuatan Luhan, Hyungnya. Tau-tau tirai kamar mereka sudah terbentang lebar seakan menerima cahaya penganggu itu untuk menggoda Sehun lebih lanjut.

"Angg~ Hyung, tutup lagi. Mataku perih." Erangnya tak peduli dengan pukul berapa sekarang. Tangan kokohnya kembali menarik selimut untuk menutupi wajahnya, tanpa mau tau dengan suara decakan Luhan yang menggemai kamar mereka.

Luhan berkacak pinggang, entah kenapa ia harus dihadapkan dengan adik laki-lakinya ini. Adik pemalas yang selalu membuat hatinya terus-terusan membuncah, "Bangunlah Oh Sehun, ini sudah siang. Lihatlah matahari yang menyinarimu. Sungguh sehat untuk tubuhmu."

Luhan dapat melihat gelengan yang dilakukan adiknya itu. Malah-malah semakin mengeratkan diri kedalam selimut. "Tidak peduli Hyung, aku ngantuk."

Yah, wajar saja Sehun mengantuk setelah melakukan kegiatan itu. Ah, sepertinya Luhan melantur. Kedua pipinya merona. "Tidak. Ayo bangun. Pilih mana, bangun dengan kemauan sendiri atau air dingin?"

Tubuh Sehun menegang, Luhan tersenyum. "Ayo pilih mana? Oh Sehun." Tanyanya lagi sengaja dengan tekanan. Karena Luhan bukanlah orang yang penuh embel-embel mengancam tanpa membuktikan akhirnya Sehun bangun dengan malas-malasan. Tak apalah, asal adiknya bangun itu sudah cukup.

Kedua matanya belum terbuka— atau mungkin tidak bisa terbuka— dengan sempurna, Sehun mengarahkan dirinya kekamar mandi, walaupun sempoyongan. Tapi sebelum melakukannya, ia sempatkan untuk mendapatkan jatahnya. A peck in this morning, mungkin cukup. "Yah, Oh Sehun!" Teriak Luhan saat mendapat kecupan dibibirnya itu. Tak bisa menampik, perlakuan Sehun selama ini sudah membutakannya. Membutakan jalan pikirannya.

Siap termenung beberapa saat akhirnya Luhan memutuskan untuk merapikan tempat tidur mereka. Cukup-cukup saja Luhan menyuruh Sehun merapikan tempat tidur mereka, karena yang ada bukannya merapikan Sehun malah menambah kekacauan. Setelah siap ia berlaju kedapur untuk membuat sarapan. Mungkin sandwich dan susu dipagi hari dapat menyehatkan tubuh, terutama ini hari minggu— cerah pula.

"Hyung, kau dimana?" Teriak Sehun dari atas. Luhan benar-benar tak habis pikir dengan adiknya ini. Kenapa harus bertanya jika sudah tau apa kebiasaan Luhan dihari libur.

"Wah, sandwich.." ucapnya sarat dengan kegirangan. Makanan apapun akan terlihat enak jika Luhan yang membuatnya, itulah yang dipikirkan Sehun terlebih lagi perutnya benar-benar lapar untuk sekedar mengeluh.

"Pelan-pelan Sehun-ah, kau akan tersedak jika—" belum sempat Luhan melanjutkan peringatannya, Sehun benar-benar sudah melakukannya.

Percuma saja mewanti-wanti, Oh Sehun sudah tersedak-sedak disana. Akhirnya dengan langkah lebar Luhan memberikan susu ditangannya. "Uhuk-..uhuk, terimakasih Hyung." Ucapnya setelah meminum susunya dengan rakus.

Luhan menoyor kepala adiknya, kesal. "Sudah Hyung bilang apa, pelan-pelan!"

"Aww, appo..sakit Hyung. Ia maafkan aku, salahkan perut laparku ini."

"Kalau tau begitu, bangunlah lebih pagi. Agar kau bisa makan lebih cepat." Omel Luhan berkepanjangan. Sehun yang dinasihati hanya bisa diam, ia tau dirinya salah. Jadi percuma saja mengelak atau memberi sanggahan karena yang ada Luhan semakin gencar mengumbar kesalahannya.

Luhan menatap adiknya itu, ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap adiknya yang melebihi bayi. Ia, hanya bingung siapa lagi yang dapat mengerti sikap Sehun selain dirinya dan orang tuanya nanti? Apakah akan ada wanita yang dapat mengurusnya kelak? Ah, Luhan mengigit bibirnya seakan kenyataan benar-benar memukul tepat diuluh hatinya, begitu perih dan menyakitkan. Jujur, ia hanya ingin adiknya bahagia dikehidupannya kelak. Ia hanya ingin melihat adiknya tersenyum terus. Itu saja.

"Selain aku, wanita mana yang dapat mengurusmu nanti? " tanyanya yang terkesan untuk diri sendiri, sangat pelan. Kedua matanya menatap kedepan namun ntah siapa yang ia tatap karena pandangannya kosong.

Sehun mendengarnya...

"Maksud Hyung apa? Apa Hyung tidak ingin bersamaku lagi? Apa Hyung bosan denganku lagi?" Jelas, pertanyaan tiba-tiba itu mengejutkan lamunan Luhan.

"A-aku, Hy-hyung tidak bermaksud seperti itu Sehun, kau salah paham, yah salah paham." Jawab Luhan gelagapan, takut Sehun marah dan kenyataannya memang iya.

"Kita sudah membicarakan ini sebelumnya Hyung! Tapi kenapa Hyung tidak pernah mengerti? Aku mencintai Hyung lebih dari seorang Hyung! Begitupula sebaliknya. Dan Hyung tau itukan?!" Ucap Sehun tak terkendali. Jujur, ia selalu sensitif dengan hal ini.

Luhan kembali menggeleng, tak ingin pagi indah mereka rusak akibat pemikiran bodohnya. "Tidak Sehun-ah, Hyung tidak bermaksud seperti itu. Hyung hanya...—"

"— hanya apa, Hyung? Hanya apa? Hanya bosan? Hanya takut atau akhirnya Hyung menyesal dengan semua ini?" Teriak Sehun emosi, ia benar-benar tak menyangka dengan sikap Hyungnya ini. Yang ia inginkan hanyalah kepercayaan, itu saja.

"Tidak, bukan... Hyung hanya.. Hyung hanya mengkhawatirkanmu."

Sehun menggeleng, hilang sudah mood baiknya hari ini. Ia kecewa, ia merasa marah, ia tak bisa mengendalikan perasaanya. Ia hanyalah seorang remaja labil yang tidak bisa melakukan apapun.

"Maafkan aku Hyung, aku rasa Hyung perlu sendiri." Sehun bangkit dari duduknya, meninggalkan segala kekesalan dihatinya untuk Luhan. Mungkin dengan kesendirian, mereka berdua dapat mengevaluasi hal-hal buruk diantara mereka.

Suara bantingan pintu dari lantai atas mengakhiri semuanya. Seketika pagi indah yang telah mereka harapkan luntur begitu saja, tanpa jejak.

Seakan ditorehkan cuka, hati Luhan yang sudah terluka itu semakin perih menjadi-jadi. Menangis sejadi-jadinya mungkin adalah sebuah jawaban yang tepat bagi Luhan sekarang. Kedua kakinya seperti dicambuk berkali-kali, bahkan untuk berdiri saja ia tak sanggup. Tangisnya semakin pecah saat mengingat bagaimana adik yang ia cintai itu menatapnya dengan kecewa. Seperti ungkapan nasi telah menjadi bubur merasa bersalahpun percuma. Pada akhirnya Luhan hanya bisa diam meratapi segalanya.

.

.

.

.

.

Sekarang hampir pukul delapan malam, dan keresahan Luhan semakin bertambah ketika mengingat sudah berapa lama Sehun mengurungkan dirinya. Hampir dua belas jam. Langkahnya mondar-mandir begitupula dengan tangannya yang terlipat didada. Raut wajahnya semakin berkerut bersamaan dengan bulir-bulir keringat yang semakin banyak dikeningnya. Bibir Luhan sudah semakin keluh untuk berbicara, lehernya pun sudah terasa sakit untuk berteriak. Hampir beberapa jam ini Luhan meminta Sehun untuk keluar tapi satupun tidak ada yang digubris. Ingin saja ia mendobrak, atau mencari kunci cadangan tapi ia tau Sehun perlu sendiri.

"Sehun-ah, keluarlah..kau belum makan," ketuk Luhan berkali-kali tak menghawatirkan bagaimana keadaan tangannya sekarang, merah sempurna.

Tapi sekali lagi nihil, tak ada jawaban.

Luhan kembali mencoba. "Sehun, keluarlah. Kau boleh marah pada Hyungmu ini, tapi.. perhatikanlah dirimu dulu." Teriaknya lagi, suaranya mulai serak. Dadanya memanas, ia ingin menangis namun ia tahan.

"Sehun-ah... Sehun-ah... Sehun-ah,"

"Hi—...ks Seh—"

Dan blam, pintu terbuka menampilkan sosok Sehun yang mungkin sama depresinya seperti Luhan. Mereka berdua terdiam, hingga Luhan dapat merasakan dirinya yang dipeluk oleh Sehun begitu erat. Kedua tangan adiknya itu terus saja mengerat seakan menyalurkan rasa rindunya yang tak bisa ditahan. Tubuh Sehun sedikit membungkuk, membiarkan kepalanya berada didada Luhan. Matanya memejam, perlahan Luhan dapat mendengar Sehun yang sesenggukan.

"Hiks.. maaf—hiks.. maafkan aku Hyung yang sudah marah-marah, aku tidak bermaksud hiks— aku.. aku tau Hyung sangat menghawatirkanku."

Luhan menggeleng, air matanya mulai turun. Ia tau bagaimana adiknya, maka dari itu ia semakin memeluk adiknya. Disinilah peran sebagai Kakak sangat penting diantara mereka, dan Luhan sangat mensyukuri dirinya yang mampu melakoni ini semua. "Yah, Sehun-ah, hiks.. Hyung tau itu. Hyung juga minta maaf, Hyu— hiks mencintaimu."

Sehun melepaskan pelukannya, tangisnya berhenti. Walau bagaimanapun ia seorang adik dan sebagai adik meminta maaf adalah sebuah keharusan. Sehun menghapus air mata Luhan dengan jarinya. "Aku juga mencintai Hyung. Sangat mencintai Hyung. Aku harap, kita bisa melewatinya bersama-sama Hyung. Janji?"

Dan Luhan hanya bisa mengangguk—mengiyakan. Melupakan bahwa janji yang mereka buat bukanlah sekedar perjanjian biasa.

.

.

.

.

.

Kisah mereka yang sebenarnya baru saja dimulai. Tak peduli sekeras apapun mereka menampik atau bahkan berusaha kabur dari kejaran takdir jawabannya adalah sia-sia. Mau tidak mau, sudi tidak sudi mereka harus menjalaninya.

Adilkah?

.

.

.

.

Luhan kembali menyesap kopi di pegangannya. Entah kenapa pahit dan manis dilidahnya telak jelas menggambarkan perasaannya saat ini belum lagi dengan kepulan asapnya yang menyatu dengan angin malam benar-benar membuatnya terhipnotis sesaat. Tubuhnya coba ia nyamankan didalam ruang jendela, sembari menatap indahnya bintang-bintang yang bertabur diatas kota Seoul yang metropolitan ini. Ini entah kali keberapa Luhan memutuskan untuk bergadang, sebenarnya tidak ada alasan mutlak yang mengharuskan dirinya melakukan ini tapi entah kenapa pikiran yang mendera Luhan beberapa saat ini benar-benar membuatnya tak nyaman. Terutama yang berkaitan dengan hubungan dirinya dan Sehun. Salahkah dia merasa cemas seperti ini?

Sekali lagi Luhan menyayangkan takdir yang sukar ini. Ia hanyalah seorang remaja yang belum mampu mengurus dirinya sendiri dengan benar, ia hanyalah seorang remaja yang haus akan cinta. Tapi mengapa Tuhan membawanya kedalam cinta yang tak semestinya? Apakah Tuhan tega melihat dirinya yang terus meronta meminta keadilan atas penderitaan ini? Karena Luhan tau, bukan hanya dirinya yang merasa menderita disini melainkan adiknya juga.

Sudah cukup Tuhan membuat dirinya berbeda. Yah, ini berkaitan tentang ke-orientasiannya. Tapi mengapa seperti belum puas dengan itu Tuhan langsung menumbuhkan rasa cintanya terhadap sang adik? Bukan rasa cinta terhadap adik-kakak, melainkan rasa cinta yang ingin memiliki, kenapa?. Tapi sekali lagi, ia tidak akan menyesali itu semua. Mungkin, ini adalah jalan Tuhan dalam memberikannya kebahagiaan nanti. Tidak perlu dirutuki, cukup dijalani maka kau akan tau apa akhirnya nanti.

Matanya yang tadi hanya menatapi bintang akhirnya berpindah menuju namja yang tak jauh dari hadapannya, itu Oh Sehun yang sedang tertidur dengan damai. Tampak jelas guratan-guratan kelelahan itu diwajahnya. Namun jelas juga tertutupi dengan tameng kekuatan. Air mata Luhan kembali tumpah, ia sesenggukan. Kenapa ia begitu tertekan dengan ini semua? Ia benar-benar merasa malu terhadap Sehun dan dirinya. Lihatlah Sehun, dirinya saja mampu bertahan mengapa dirinya tidak? Ah, hati siapa yang tahu. Tapi setidaknya, adik kecilnya itu sudah berusaha keras walaupun tak tahu akan berakhir sampai mana kekuatan itu. Dengan cepat Luhan menghapus air matanya, kali ini ia pastikan dirinya adalah Luhan yang tegar. Ia akan terus maju sampai titik darah penghabisan bahkan bila ia harus mengorbankan segalanya itu tak masalah. Tapi, ia akan berhenti jika malaikatnya itu memintanya pada saat itu juga.

Luhan bangkit dari duduknya, kepalanya sekedar menoleh mencari simesin waktu. Ah, ternyata sudah pukul dua dini hari. Dengan cepat ia menutup jendelanya, memutus kontak angin malam yang mulai masuk kedalam kamarnya. Beberapa jam lagi mereka sekolah, jadi tidur adalah sebuah kewajiban bagi Luhan untuk saat ini juga. Ia tidak ingin tidur dikelas dan akhirnya malah semakin menambah kekacauan.

Luhan merangkak menuju tempat tidur mereka, menatapi senti demi senti bagian tubuh adiknya yang sempurna ini. Sungguh ia sangat bersyukur pada Tuhan. Setidaknya Tuhan memberikan cobaan yang 'manis' untuk dirinya dan Sehun.

"Maafkan aku Sehun-ah, Hyung berjanji akan berjuang selalu bersamamu,"

.

.

.

.

.

"Sebentar lagi musim dingin," celetuk Baekhyun dalam obrolan mereka. Hari ini sudah dipastikan jadwal belajar mereka tidak akan penuh dikarenakan semua guru lagi sibuk mengurus ujian nasional yang akan diadakan satu bulan kedepan, belum lagi sebentar lagi sudah musim dingin jadi mau tidak mau mereka harus mengadakan rapat besar-besaran yang sudah pasti membuat murid seperti Baekhyun girang luar biasa berbanding dengan Kyungsoo, yang khawatir mati-matian.

"Kalau sudah tau begitu, kenapa kau bertanya Baekhyun." Itu Kyungsoo yang menjawab. Saat ini mereka bertiga— tambah Luhan, sedang berada dikantin. Baekhyun mendelik tajam, bagaimana bisa si namja jenius ini bertingkah sok bodoh, sudah pasti harus banyak kegiatan yang dilakukan dimusim dingin.

"Kau ini pintar atau bodoh sih? Kau sangat pintar di akademik tapi kenapa hal ini kau sangat bodoh? Sudah pasti dimusim dingin ini kita harus bersenang-senang." Jawab Baekhyun begitu antusias, benar-benar berlebihan.

Kyungsoo mengangguk-angguk, namun kembali kepalanya menggeleng. Mungkin ia menyetujui maksud Baekhyun tadi tapi entah kenapa ia langsung meragukannya. "Bagaimana bisa kita bersenang-senang kalau bulan depan kita sudah ujian, Baek?"

Ah, Baekhyun lupa akan itu. Luhan yang dari tadi sebagai penonton akhirnya menimpali. Mungkin merasa tertarik dengan pembahasan ini. "Hei, aku punya ide. Sebenarnya aku ingin mengajak kalian berdua liburan di villa keluarga kami diIlsan? Tidak lama kok hanya tiga hari, dan setelah pulang dari sana kita akan fokus belajar. Yah setidaknya kita masih bisa merasakan indahnya musim dingin."

Baekhyun manggut-manggut setuju, sedangkan Kyungsoo tampak berpikir namun ia langsung mengangguk karena sebenarnya Kyungsoo merupakan tipikal yang penurut, jadi mudah untuk dikelabui. Jangan tanya pemikiran licik itu dari siapa. "Baiklah, mungkin itu ide bagus."

"Yah, bagus sekali! Ah, akhirnya liburan juga. Tapi apa hanya kita bertiga saja? Ah tidak asyik." Baekhyun seketika layu saat mengingat kenyataan.— benar-benar berlebihan.

Luhan kembali menggeleng, tangannya meraih jus mangga yang ia pesan tadi. "Tidak, adikku juga ikut. Dia berencana mengajak si Hitam teman sebangkunya dan si Park Chanyeol itu. Jadi kita berenam."

"Hei, si hitam yang kau bilang itu Kim Jongin. Ingatlah Luhan, dia itu kekasih temanmu." Ingat atau lebih tepatnya sindir Kyungsoo.

Luhan mengangguk, ia terkekeh. Ternyata menyenangkan juga menggoda Kyungsoo, pantas saja Baekhyun sering melakukannya. "Ia, ia maafkan aku. Akukan hanya bercanda, Kyung-ie."

"Waah, Asyik jadi ini liburan date yah? Ah, aku tidak sabaran." Jerit Baekhyun tak tau malu dan tak tau tempat. Apa pedulinya? Selama hatinya senang ia tidak akan memikirkan hal lain.

Kyungsoo mewanti-wanti, mungkin tau apa yang dipikirkan Baekhyun lebih lanjut. "Jangan yang aneh-aneh Byun Baekhyun. Ingat, kita hanya berliburan. Menatapi indahnya pemandangan disana. Dan Park Chanyeol itu sama sepertimu, tingkatan tiga. Jadi kalian harus belajar," Nasihat Kyungsoo panjang lebar, sedangkan Baekhyun yang dinasihati hanya bersungut-sungut dalam hati.

Entah kenapa saat melihat dua sahabatnya ini, senyuman dibibir Luhan seakan tak mampu untuk dihentikan. Ia bersyukur pada Tuhan karena telah memberikan dua sahabat terbaik untuknya.

Tapi, akankah hubungan persahabatan ini tetap berlanjut jika mereka tahu apa yang telah Luhan lakukan selama ini?

Tidak tahu.

.

.

.

.

.

Jongin menenggak minumannya dengan rakus, tanpa peduli bagaimana keadaan teman-temannya yang lain yang mungkin juga sama hausnya dengan dirinya. Permainan futsal yang mereka lakukan benar-benar menguras energi.

"Hosh..hosh.. lelahnya," Ia mengelap keringat yang membasahi wajahnya, kaki nya benar-benar lemas padahal ia hanya bermain beberapa jam saja.

"Tidak perlu mengeluh, hosh.. kau juga yang maukan? Hosh.." Itu Sehun, yang sama lelahnya dengan Jongin. Waktu kosong hari ini mereka habiskan dengan bermain futsal saja, dan jangan tanyakan itu saran dari siapa— Jongin.

"Yachh, hosh.. Sehun jangan habiskan airnya. Sisakan ini sedikit." Teriak Chanyeol dari kejauhan setelah itu berlari ketempat mereka. Namja tinggi itu langsung merampas botol dipegangan Sehun tanpa mau peduli bagaimana Sehun yang mengomel.

"Haish, lelah sekali. Aduh gerahnya." Ucap Chanyeol sambil mengibas-ngibaskan kan tangannya kedepan layaknya kipas. Ingin saja ia menanggalkan seragamnya tapi Chanyeol masih tau tempat terlebih lagi mengingat bagaimana bringasnya Byun Baekhyun selaku kekasihnya itu. Mending - mending saja kalau bringasnya langsung mengajak Chanyeol melakukan yang 'tidak-tidak' yang ada Chanyeol malah mendapati omelan, pukulan dan tuduhan yang tidak-tidak.

Chanyeol bergidik ngeri. Setelah itu melanjutkan minumnya. Jongin mengikat tali sepatunya yang hampir lepas. Jangan tanyakan Sehun, ia sedang mengerling yeoja-yeoja cantik yang lewat dihadapannya.

"Hyung, Jongin musim dingin ini kalian ada rencana apa?"

Jongin menatap Sehun bingung, tumben saja namja ini bertanya seperti itu. Biasanya Jonginlah yang sering bertanya hal-hal beginian. "Wah tumben sekali kau bertanya, apa kepalamu terbentur. Huh?"

"Apa maksudmu terbentur? Aku serius. Jadi tanggapilah dengan serius." Dan sedetik kemudian ia mendapati kepalanya yang dipukul Chanyeol.

"Bicaramu sok serius sekali, memang ada apa-sih? Kalau kau tanya Hyungmu ini. Jawabannya adalah tidak ada."

Jongin memotong. "Aku juga tidak ada. Jadi kau ingin mengajak kami berdua untuk liburan bersamamu kan? Nah, itu aku mau." Dan kali ini Jongin juga dapat merasakan pukulan dikepalanya, pelakunya Sehun.

"Hmm, sebenarnya benar sih, Aku ingin mengajakmu dan Chanyeol Hyung berlibur ke villa kami yang berada diIlsan. Mungkin beberapa hari saja kok, Mau tidak?"

Chanyeol tampak berpikir, sedangkan Jongin langsung mengangguk setuju. Memang kesibukan apa yang dilakukan anak tingkat pertama? "Ah, apa hanya kita bertiga saja? Mm, Hyung maksud itu tidak akan asyik kalau hanya kita." Tanya Chanyeol sedikit ragu— sirat kealibian.

Sehun sudah tau maksud Chanyeol. "Tenang Hyung, tidak hanya kita bertiga. Karena Luhan Hyung beserta dua pengikutnya akan ikut juga." terang Sehun.

Chanyeol mengangguk namun kemudian langsung memukul kepala Sehun. Bukan hanya Chanyeol yang melakukannya, tapi Jongin juga.

"Enak saja kalau bicara, Mereka itu Hyungmu tau. Ah, tidak sabaran bertemu Baekki~"

Jongin juga mengangguk antusias. "Iya Hyung aku juga tidak sabar bertemu Kyungie Hyung~"

Sehun juga ikut tersenyum, seakan tak sabar juga dengan moment yang ia rencanakan nanti untuk Luhan.

.

.

.

.

.

"Hyung~ aku merindukanmu." Manja Sehun dalam dekapannya. Luhan yang didekap hanya bisa tersenyum. Kedua tangannya masih asyik mengoseng wajan.

"Yah, kita hanya berpisah beberapa jam dari sekolah kau langsung merindukanku, huh? Dasar manja."

Sehun semakin mendorong kepalanya kedalam ceruk leher Luhan, menghirup aroma menenangkan dari Hyungnya itu. "Apa salahnya aku bermanja-manja dengan Hyungku." Kedua tangannya semakin erat, membekap Luhan tanpa ampun. Sehun tak tahan, bibirnya semakin ia arahkan kedalam leher Luhan, menjilatinya.

"Ngh, Sehun-ah. Hyung lagi memasak."

"Maka dari itu matikan saja kompornya, masaknya nanti saja."

"Apa kau tidak lapar? Lihatlah pukul berapa sekarang?"

"Aku tidak peduli Hyung. Ya benar aku lapar, tapi lapar akan dirimu." Dengan cepat Sehun mematikan kompor dihadapannya tanpa mau tau bagaimana ekspresi yang dikeluarkan Luhan. Dengan sigap Sehun langsung menggendong Luhan yang langsung meronta minta dilepaskan.

Sehun tak menurut, dengan ala bridle style ia langsung membawa Luhan kesofa. Menciuminya penuh nafsu, Luhan yang diperlakukan seperti itu bisa apa selain mengikuti permainan sang adik. Benar-benar pemuda yang agresif.

"Hyung taukan, kalau Hyung itu benar-benar menggoda." Sehun memiringkan kepalanya, kembali menghisap batang leher Luhan. Menciuminya begitu brutal hingga tanda tanda ungu kemerahanlah yang tercipta disana.

"Nghh~ Sehun-ah." Desah Luhan tak tertahan, mau bagaimanapun daerah leher merupakan daerah vitalnya, tempat yang paling sensitif bagi Luhan.

"Teruslah mendesah Hyung, aku suka itu." Kedua tangan Sehun menangkup wajah Luhan, kedua iris mereka seakan menyatu. Tak lama kemudian, pagutan itu terjadi. Bukan hanya sekedar menempel melainkan gigitan ataupun hisapan sudah biasa mereka lakukan. Tanpa ampun Sehun langsung memasukkan lidah nya menuju gua hangat Luhan, menyisirinya seakan mencari kenikmatan dari sana. Kedua lidah mereka terus bertarung, bergelut membentuk benang-benang saliva.

Sekali lagi, Luhan sadar bahwa 'hubungan' yang tercipta antara dirinya dan Sehun bukanlah sebuah hubungan yang benar. Tapi apa mau dikata, mereka sudah terjatuh jadi untuk apalagi disesali. Cukup dijalani hingga waktu dan kondisi yang memutuskan itu semua.

...

Finally Chapter two is done! Yeay, senangnya. Hmm, apa jalan ceritanya semakin komplikasi atau malah semakin membosankan? Dan maaf untuk jalan ceritanya yang terkesan lamban. (Tapi aku suka yang lamban: '3 karena serius deh, otakku ini selalu gak terima kalau jalan ceritanya itu cepet banget#heleh)

Disini, entah kenapa aku merasa Luhan benar-benar labil yah, hahaha xD tapi aku pastikan komplikasi disini bakal banyak #plaak. Seperti dua FF aku yang lainnya 'i'm sorry, i love u' (kaisoo) dan 'it's wrong' (chanbaek/kaisoo/hunhan) yang bakal mempunyai komplikasi yang banyak. #promosi Hahaha tapi maaf sekali lagi kalau kurang gereget, atau kurang puas.

Kalian juga bisa kasih saran, kritik atau bahkan bash dikotak review. Tenang, aku akan terima kok hehehe, soalnyakan niatnya mau menghibur.

RnR yah all?! Setidaknya kita saling menghargai hehehe. Kalau merasa tertarik kalian bisa Follow dan Favorite.^^

Oh yah selamat Ujian Nasional bagi kakak-kakak kelas dua belas.^^

Dan berhubung libur, aku akan berusaha update cepat fanfiction aku yang lain. Hehehe...

Salam Fanboy,

KaiSooEXO