Caption : My Geeky Boy Chapter 4

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Xi Luhan, Oh Sehun, Kim Yerim (RV), and other cast

Genre : Drama, Romance, School life, Smut

Rating : M

Playing : Gain - Bloom

Foreword : HAIIIIII^^ maaf udah sedikit telat ngepostnya.. ffn kalo malem ga bisa dibuka di pc entah kenapa :'( jadi mianhae ngepostnya subuh2 gini mana ada adegan dewasanya-_- anyway ga nyangka responnya luar biasa banget! THANKS A LOOOOOTTT MY BABIESSS /peluk satu2/ :) oiya sempet ada yang nanya 'Sehun sama Yeri pacaran?' jawabannya 'NO' mereka cuma curut2 temennya bbh yang aneh nya punya chemistry bertiga(?) terus ada yang ngerequest orang ketiganya jangan member sesama juga (?) we'll see later :) /smirk/

chapter ini tentang Baekhyun yang nemuin fakta siapa sebenernya si Chanyeol dan 'pengalaman pertama' mereka~

Hope you all like it! Happy reading^^ ((chapter ini sedikit panjang, sorry for failed hot scene))


'Now I am a flower that bloomed in your hand.. what do i do? I've never been like this before..

Because you can make me high, you can make me fly'

.

.

.

.

.

Kejadian di kamar mandi itu terus berputar-putar di kepala Baekhyun. Bahkan di suatu malam ia pernah bermimpi Chanyeol malah berbalik menghajar dirinya. Wajahnya begitu menyeramkan, tak ada lagi raut keceriaan dan senyuman lebarnya, yang nampak hanyalah kemarahan dan penampilannya yang sangat berantakan. Mengingat kembali mimpi itu hanya membuat Baekhyun menjadi takut bertemu dengan Chanyeol.

Jujur Baekhyun juga belum mengetahui lebih dalam tentang kehidupan pacarnya itu. Sebenarnya ia amat sangat ingin menanyakan apa maksud sikap Chanyeol waktu itu, namun ia masih sedikit segan dan takut pada Chanyeol. Bukan dalam artian negatif, tapi ia hanya takut lancang mencampuri urusan orang –walapun itu pacarnya, karena mereka masih terbilang baru menjalani sebuah hubungan. Ia akan membiarkan Chanyeolnya yang bercerita suatu saat nanti.

Ia terus menerus menghela napasnya. Beberapa hari terakhir banyak sekali hal-hal yang mengganggu pikirannya. Apalagi ujian semester mereka sudah di depan mata. Baekhyun frustrasi karena tak ada satupun materi yang ia mengerti. Ia hanya mengerti dan paham tentang materi reproduksi, yang bisa langsung ia praktekkan di rumah.

Mungkin Baekhyun adalah anak yang bodoh dan pemalas, namun bukan berarti ia tidak peduli dengan nilai-nilai akademiknya. Jika nilai-nilainya tidak lebih dari 70, Baekhyun akan dipecat sebagai anak oleh orang tua mereka. Namun ia bisa apa? Di otaknya hanya ada penis besar, desahan, teknik dan posisi seks, fantasi kotor, dan juga Park Chanyeol. Ia ingin sekali belajar setiap malam, membaca-baca juga merangkum materi-materi yang akan keluar di ujian nanti, tetapi tubuhnya selalu berakhir di kasur mungilnya dan tenggelam di alam mimpi.

Orang yang diharapkan bisa menyemangatinya pun mendadak menghilang dari peredaran. Ia sangat mengetahuinya. Park Chanyeol tetaplah Park Chanyeol yang gila belajar dan terobsesi dengan nilai-nilai bagus. Sangat sulit menemukan pacarnya saat jam istirahat, apalagi jam pulang sekolah.

Setiap hari laki-laki tinggi itu pergi keluar masuk ruang guru. Membawa tumpukan kertas dan berkas yang Baekhyun sendiri tak tahu apa itu. Bisa dibilang Chanyeol menjadi kaki tangan para guru di sekolahnya. Baekhyun juga mendengar dari Luhan jika nilai-nilai ulangan harian Chanyeol mendekati sempurna, apalagi kimia dan matematika. Park Chanyeol memang benar-benar sempurna, pikir Baekhyun.

"Luhan? Chanyeol kemana? Mengapa dia tidak menghubungiku jika ingin pulang duluan?" tanya Baekhyun ketika melihat Luhan dan dua orang teman sekelasnya sedang melaksanakan piket kelas. Kelas Chanyeol sudah kosong, namun Chanyeol tidak menghubunginya sama sekali.

"Ku rasa Chanyeol ada di perpustakaan, Baek. Kau tahu, dia sangat giat belajar! Bahkan tadi siang dia tidak makan ke cafetaria, Baek"

Baekhyun mendengus mendengar kelakuan pacarnya itu. ia mengeratkan genggamannya pada tali tas ranselnya kesal dan pamit pada Luhan. Kaki-kakinya berjalan sangat cepat menuju tempat yang paling ia tidak sukai.

"Chanyeol?" ia memasuki perpustakaan dengan gerakan seperti pencuri, mengedarkan tatapannya ke penjuru ruangan. Namun ruangan itu kosong. Bahkan tak ada tanda-tanda kehidupan disana.

Namun matanya menangkap sebuah objek berupa rambut hitam di antara celah-celah rak buku. Ia tersenyum dan menghampiri laki-laki tinggi itu. "Sayang!" pekik Baekhyun mengagetkan Chanyeol yang sedang fokus membaca buku yang sangat tebal menurut Baekhyun.

Chanyeol sedikit tersentak dan mengalihkan pandangannya dari buku itu, melihat pacar mungilnya tengah berdiri di depannya tanpa ia sadari kapan. Ia tersenyum lembut dan mengelus-elus rambut ungu Baekhyun. Entah kenapa ia begitu merindukan Baekhyun dan membuat dadanya sesak. Apa karena ia terlalu sibuk belajar? Melupakan aktivitas makan bersama Baekhyun setiap jam istirahat dan pulang mengantar Baekhyun karena tak ingin fokusnya terbagi.

"Aku mencarimu tadi ke kelas, tapi Luhan bilang kau di tempat membosankan ini. Dia juga bilang kau jarang makan akhir-akhir ini! Ya ampun, Yeol, jangan terlalu diforsir, santai saja.. ini hanya ujian biasa, bukan ujian kelulusan. Kau tidak lihat rambutmu sudah mulai beruban seperti kakek-kakek? Sudahlah, apa bentuk-bentuk molekul kimia itu lebih menarik dari pada pacarmu yang seksi ini?" cerocos Baekhyun tanpa berhenti. Chanyeol hanya tersenyum melihat bibir Baekhyun yang maju mundur ketika berbicara. Apa lagi yang lebih menggemaskan dari Byun Baekhyun?

Chanyeol meletakkan buku tebalnya itu di lantai, dan membawa tubuh mungil pacarnya ke dalam pelukannya. Menunduk untuk menghirup aroma strawberry yang menguar dari rambut keunguan Baekhyun. Tubuh mungil Baekhyun seperti tenggelam ke dalam pelukan Chanyeol yang bertubuh tinggi dan besar, dan Chanyeol mensyukuri hal itu. Bagaimana tubuh mungil Baekhyun terasa pas di pelukannya. Perbedaan tubuh mereka membuat mereka terlihat manis dan serasi.

"Kenapa kau mencariku hmm?" bisik Chanyeol sambil mengecup telinga Baekhyun. Baekhyun menggeleng, memejamkan matanya, menikmati aroma tubuh Chanyeol yang hangat dan nyaman. Ia benar-benar merindukan laki-laki ini. Rasanya setiap hari ia ingin menangis karena hanya dapat bertukar pesan dengan Chanyeol tanpa bertatap muka dan mengobrol untuk waktu yang lama. Ia mengecup dada Chanyeol singkat, dan melepaskan lengan kekar Chanyeol yang melingkar di tubuhnya.

Baekhyun membuka tasnya dan merogoh-rogoh sesuatu dengan kesusahan. Chanyeol mengernyit melihat tingkah pacarnya. "Ah! Bantu aku mengerjakan tugas kimia ini, hanya 5 soal saja tapi membuatku gila, Yeol. Bantu aku ya pacarku yang pintar dan tampan, aku akan melakukan apa saja asal kau membantuku..."

Baekhyun ber'aegyo' di depan Chanyeol, merajuk dengan nada manja sambil menarik-narik tangan pacarnya itu. Chanyeol menghela napasnya berat. Bukan.. bukan berarti ia tak ingin membantu Baekhyun, namun apa yang Baekhyun lakukan saat ini membuatnya frustrasi.

Mengapa ia mudah sekali terangsang hanya dengan melihat Baekhyun melakukan 'aegyo'?

Bagaimana cara menenangkan penisnya yang mendadak terbangun dari tidurnya?!

Ia melirik Baekhyun yang masih menatap matanya memohon dan mengerucutkan bibirnya. Chanyeol lagi-lagi menghela napas mencoba mengalihkan pandangannya dari bibir merah nan mungil itu. Ia mengangguk dan mengacak pelan rambut Baekhyun dan tersenyum.

"Oke mari kita lakukan di rumahku, aku belum pernah mengajakmu kesana kan?" Baekhyun membulatkan matanya dan mengangguk cepat penuh antusias. Ini pertama kalinya Chanyeol mengajaknya! Bagaimana isi rumah Chanyeol? Apakah rumahnya seperti rumah seorang chaebeol? Atau rumah sederhana yang sangat nyaman?

Chanyeol membereskan buku-buku yang tadi ia pinjam, meletakkan semuanya kembali di rak. Sebelum keluar dari perpustakaan, ia sedikit menyempatkan diri menarik dagu Baekhyun dan mencium bibir itu lembut. Ia benar-benar tak bisa menahan lagi. Ia membalikkan tubuh Baekhyun, menghimpitnya pada rak buku yang menjulang tinggi. Ia mengunci kedua tangan Baekhyun ke atas, menggenggamnya erat dan membuat sang empunya tangan hanya menyenderkan tubuhnya pasrah, menikmati bibir tebal Chanyeol.

Katakan saja semua bagian tubuh Baekhyun sangat pas dengan milik Chanyeol, juga dengan bibir mereka. Bibir mungil Baekhyun yang mengisi rongga mulut Chanyeol sangatlah pas dari segi ukuran, membuat Chanyeol tak tahan untuk menghisap dan mengemut bibir itu lebih dalam.

"Mmhh"

Desahan itu kembali menggema. Baekhyun benar-benar terbuai dengan permainan bibir Chanyeol. Chanyeol sendiri hanya bermaksud untuk memberikan kecupan singkat, namun ia berakhir dengan melahap bibir mungil pacarnya. Merasa jika ia melakukan lebih lama lagi, ia dan Baekhyun akan berakhir di kamar mandi, Chanyeol melepaskan ciuman mereka. Ia mengelap bibir Baekhyun yang basah dengan ibu jarinya dan menggenggam tangan mungil Baekhyun.

"Ayo sayang"

.

.

.

.

.

Rumah Chanyeol bergaya minimalis dengan dua lantai. Rumah itu terlihat sepi, karena semua orang rumah Chanyeol belum pulang ke rumah. Baekhyun mendudukkan pantatnya di atas sofa merah ruang tamu Chanyeol sambil membuka blazer dan dasinya. Ia mulai membuka buku tugas kimianya sembari menunggu Chanyeol membuatkan dua gelas es jeruk di dapur. Sesekali ia mengedarkan pandangannya melihat-lihat isi rumah Chanyeol. Tidak banyak hiasan yang berlebihan, hanya terdapat beberapa foto masa kecil Chanyeol dengan orang tuanya dan juga seorang perempuan. Mungkinkah itu noona nya? Baekhyun menganga terkagum melihat kecantikan noona Chanyeol. Wajahnya persis seperti pacarnya, hanya saja ini versi perempuannya. Tubuhnya juga tinggi seperti Chanyeol. Namun ia tak melihat foto saat remaja Chanyeol, hanya foto-foto masa kecil nya yang masih berbadan gemuk dan berkacamata.

"Ayo kita mulai, sayang. Biar aku lihat soalnya" kata Chanyeol ambil mendudukkan pantatnya di lantai dan duduk bersila, menyadarkan lamunan Baekhyun. Dengan fokus ia mencermati soal-soal itu dengan alis yang bertemu, sesekali menyesap es jeruknya. Baekhyun tertegun melihat wajah serius Chanyeol. Entah kenapa hatinya meleleh melihat Chanyeol yang menurutnya berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya.

"Ah ini mudah! Kau hanya perlu mencari menyamakan koefisien dari senyawa di sebelah kiri agar jumlahnya sama dengan yang di kanan blablabla.." ucap Chanyeol panjang lebar sambil menuliskan langkah-langkah pengerjaannya di buku Baekhyun. Baekhyun menggigit bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca. Mendengar penjelasan Chanyeol membuat dirinya terlihat seperti keledai yang super dungu. Bahkan untuk mencerna kata-kata Chanyeol saja ia tak mampu. Pandangannya berputar melihat deretan huruf besar dan kecil yang tersebar di soal-soal itu.

Chanyeol terus memborbardir gendang telinga Baekhyun dengan penjelasannya yang super jenius hingga memasukki soal ke-4. Ia tak menyadari kini Baekhyun telah terduduk lemas hingga menyandarkan kepalanya pada meja.

"Hiks..."

Bibir Chanyeol berhenti bergerak ketika mendengar suara isakkan dari laki-laki mungil di sebelahnya. Baekhyunnya menangis. Refleks Chanyeol menggenggam tangan mungil Baekhyun dan mengangkat dagu itu –sedikit memaksa. "Baek.. k-kau kenapa? Apa aku terlalu cepat?" ucap Chanyeol panik.

"A-aku mual, Yeol.. aku tak mengerti apa yang kau katakan.. aku bodoh.. hiks"

Chanyeol menggaruk kepalanya kasar dan menggeser posisi duduknya untuk merengkuh tubuh mungil itu. Ia merasa sangat bersalah. Baekhyun pasti sudah lelah belajar di sekolah, dan bodohnya Chanyeol tidak mengistirahatkan otak pacar mungilnya itu. Ia mengelus rambut Baekhyun lembut sesekali menciuminya. "Tidak apa-apa, sayang. Pelan-pelan saja. Maafkan aku, kita istirahat dulu, oke?" kata Chanyeol lembut sambil mengusap-usap punggung sempit Baekhyun penuh rasa sayang. Seakan-akan Baekhyun adalah bayi mungil yang masih rapuh dan butuh kehangatan.

Baekhyun mengangguk dan menghapus air matanya. Pelukan Chanyeol benar-benar yang terbaik. Benar-benar obat dari segala jenis penyakit. Tubuh Chanyeol benar-benar hangat layaknya tubuh eommanya.

"Kau tunggu disini ya sayang, aku ingin ke kamar mandi sebentar. Kalau kau mau tidur juga tidak apa-apa" kata Chanyeol sambil tersenyum dan meninggalkan Baekhyun sendiri di ruang tamu.

.

.

.

.

.

Sudah hampir 15 menit Chanyeol meninggalkannya sendirian, dan Baekhyun sangat membenci suasana sepi. Selain itu perutnya perih karena belum makan siang. Ia terus menghela napasnya. Kemana perginya Chanyeol? Apa dia sedang bermain solo di kamar mandi sehingga memakan waktu selama ini? Apa Chanyeol ingin membiarkan dirinya mati kelaparan?

Baekhyun memutuskan mencari keberadaan Chanyeol. Ia berjalan menemukan kamar mandi di samping dapur. Namun ketika ia membuka pintu, tak ada tanda-tanda Park Chanyeolnya disana. Rasanya ingin meninju pacarnya itu karena meninggalkan Baekhyun sendiri di rumah yang lumayan besar seperti ini. Terlebih lagi Baekhyun takut hantu.

"Park Chanyeol bodoh" gumamnya kesal. Dengan menghentak-hentakkan kaki, ia menjelajahi semua ruangan yang lihat. Namun Chanyeolnya tak ada. Lalu ia berjalan menaiki anak tangga yang terbuat dari kaca itu. Barangkali Chanyeol menggunakan kamar mandi di lantai dua atau bahkan di dalam kamarnya.

Tunggu.. kamar Chanyeol?

Mengapa tak pernah terlintas di otak Baekhyun unntuk melihat-lihat kamar pacarnya itu? Ah pasti isinya hanya ada kasur, lemari, meja belajar, dan setumpuk buku sehingga kamarnya lebih mirip perpustakaan. Membosankan, pikir Baekhyun.

"Aww" pekik Baekhyun saat kakinya menyandung sebuah benda bulat besar. Bola basket? Siapa orang bodoh yang meletakkan bola basket di sembarang tempat seperti ini? pikir Baekhyun. Baekhyun terdiam sejenak dan berpikir. Bukankah di rumah ini hanya ada Chanyeol, noonanya, dan kedua orang tuanya? Apakah noona nya Chanyeol seorang pemain basket putri? Karena tak mungkin Chanyeol bermain olahraga se-keren basket, mengingat betapa canggung pacarnya itu bermain sepak bola. Juga pasti Chanyeol tak tertarik dengan kegiatan lain selain belajar dan menulis karya ilmiah.

Ketika Baekhyun sibuk melihat ke sekeliling, matanya menangkap sebuah pintu berwarna coklat dengan hiasan garis polisi yang membentang menutupi seluruh pintu dan poster seorang drummer terkenal. Benar-benar kamar yang 'menyeramkan' menurut Baekhyun.

Ia mengikuti nalurinya untuk membuka pintu misterius itu, dan beruntungnya Baekhyun pintu itu tidak dikunci. Rasa penasaran begitu memenuhi kepalanya. Jantungnya mendadak berdebar kencang dan tangannya berkeringat dingin.

Cklek

Oh my god..

Baekhyun menganga sangat lebar melihat isi kamar itu. Terdapat poster band yang sangat besar menempel di dinding atas kasur itu. Belum lagi poster-poster pemain basket yang ikut memenuhi dinding itu. Ada gitar dan seperangkat alat musik lainnya yang tersambung pada sebuah komputer. Belum lagi televisi dan home theater yang super besar dan mahal bertengger manis di pojok ruangan.

Napas Baekhyun terhenti melihat jejeran piala super tinggi yang berada di sebuah rak. Ia mendekati piala-piala itu dengan mata yang memincing. Mencoba melihat apa tulisan yang terdapat di tubuh bawah piala-piala tersebut.

Juara 1

N-dribble

Summer Basketball Tournament 2014 in Ontario, Canada

Baekhyun menutup mulutnya kaget...

Favorite Drummer by Netizen

Park Chanyeol

Band Festival in Busan

Tangannya mendadak bergetar hebat. Kemudian dengan gerakan sangat cepat ia mengobrak-abrik meja belajar yang berada di samping rak tersebut. Ia semakin terkejut melihat sebuah buku tulis berlabelkan nama 'Park Chanyeol' di bawah tumpukkan kertas di meja itu. Matanya kembali tertuju pada rentetan foto polaroid yang menggantung di atas meja itu, begitu banyak mungkin lebih dari 20 buah.

Itu Park Chanyeolnya. Tanpa kacamata tebal dan rambut yang berantakan, sedang mencium pipi seorang perempuan mungil berwajah manis. Bibir Baekhyun bergetar melihat tanggal yang terdapat di bawah foto itu.

Selasa, 4 Juni 2013

My birthday girl :)

Baekhyun menarik foto itu dengan kasar, mencoba mencermati sosok laki-laki di foto itu. Barangkali matanya mendadak rabun atau mungkin itu adalah hyungnya Chanyeol yang selama ini berada di luar negeri. Tapi tidak, Baekhyun sangat mengenali wajah tampan pacarnya itu.

"B-baek?!"

"Siapa kau sebenarnya, Park Chanyeol? Siapa perempuan ini?" tanya Baekhyun saat Chanyeol menemukan keberadaannya. Baekhyun bisa melihat ekspresi kaget di mata Chanyeol yang langsung berganti dengan tatapan penuh rasa bersalah.

Chanyeol melangkah masuk dan mengunci pintu itu dari dalam. Mendekati Baekhyun dan mengambil foto polaroid dari tangan pacarnya itu. Ia meremas foto itu dan membuangnya ke tempat sampah. Chanyeol membuka kacamatanya dan mengacak rambut hitamnya.

"Ini aku dan dia hanya masa laluku, sayang. Maafkan aku.. sekarang hanya kau yang aku punya, aku benar-benar mencintaimu"

"K-kau tak pernah memberi tahuku!" pekik Baekhyun kesal dan menatap Chanyeol tajam. Namun kekesalannya menguap begitu saja ketika Chanyeol menatapya sangat intens dan melangkah maju ke arahnya.

Baekhyun terdiam dan terpaku saat melihat wajah Chanyeol tanpa kacamata dari dekat, ia diliputi perasaan gugup yang luar biasa. Ia semakin gugup dan takut saat Chanyeol semakin merapatkan tubuh mereka. Tangan besar Chanyeol dengan cekatan membuka kancing kemeja Baekhyun satu per satu. Lalu ia menarik kemeja Baekhyun, membiarkan kemeja itu tergeletak di lantai. Chanyeol menahan napasnya saat melihat bagaimana tubuh atas Baekhyun yang tak terbalut kain apapun. Putih, mulus, dan sedikit berisi. Suhu tubuh mereka berdua mendadak meningkat hingga terasa sangat panas.

Mengetahui Chanyeol hanya diam saja, Baekhyun menunduk malu dan menggigiti bibirnya. Ia takut Chanyeol tak menyukai tubuhnya, terlebih ternyata Chanyeol pernah berhubungan dengan seorang perempuan. Bukankah perempuan adalah makhluk Tuhan yang paling indah?

Kemudian Chanyeol melepaskan dasi yang melingkar di lehernya, mengambil kedua tangan Baekhyun dan mengikat kedua tangan itu dengan dasi miliknya. Chanyeol mendorong pelan tubuh Baekhyun hingga berbaring di atas kasurnya. Ia menaikkan tangan Baekhyun yang terikat itu ke atas kepala Baekhyun.

"Biar aku tunjukkan bahwa kau benar-benar satu-satunya milikku dan yang paling aku cintai" bisik Chanyeol dengan suara rendah dan dalam. Bulu kuduk Baekhyun meremang ketika Chanyeol menjilat telinga kanannya dengan gerakan sangat lambat. Baekhyun menahan napasnya dan menggigit bibir, menahannya agar tak mengeluarkan desahan yang membuat dirinya terlihat seperti jalang.

Chanyeol kemudian merangkak menuju selangkangan Baekhyun. Meraba pelan paha berisi Baekhyun yang masih terbungkus celana dengan gerakan naik turun dan memutar, terus merangsang tubuh Baekhyun. Kehangatan tangan Chanyeol bahkan menembus ke dalam tulang-tulang Baekhyun. Baekhyun begitu frustrasi dengan permainan lambat seperti ini, tapi ia menyukai bagaimana Chanyeol menikmati setiap lekuk tubuhnya.

"Mmmh yeolhhh"

Kemudian Chanyeol melepaskan celana Baekhyun dengan gerakan cepat dan sedikit tersentak melihat Baekhyun tak mengenakan celana dalamnya. Chanyeol menyeringai, lalu mengecup penis Baekhyun yang setengah tegang. Tangan besarnya tak henti-hentinya meraba selangkangan Baekhyun.

"A-ahhh.."

Mendengar desahan Baekhyun membuat Chanyeol semakin bersemangat. Ia bangkit dan membuka kancing kemejanya dengan cepat, menampilkan otot-otot perutnya yang tak tercetak sempurna namun terlihat kekar. Tangannya turun membuka ikat pinggang dan celana panjangnya. Menyisakan boxer hitam pendek miliknya. Baekhyun terbelalak ketika melihat tubuh Chanyeol. Tak menyangka jika pacarnya itu mempunyai banyak tattoo di sekitar lengan dan dadanya. Wajahnya memerah seperti amatiran melihat betapa besarnya penis Chanyeol yang sangat tegang dan hampir merobek kain boxernya.

"Kau tahu, batas kesabaranku sudah habis, Byun Baekhyun"

"Y-yeol.. mmhh"

Chanyeol menindih tubuh mungil itu, menahan tangan kanannya untuk menopang tubuhnya, dan mencengkram tangan terikat Baekhyun dengan tangan kirinya. Bibir tebal itu kembali melumat bibir Baekhyun dengan lembut. Chanyeol mengulum bibir bawah Baekhyun dan sedikit menarik nya hingga bibir Baekhyun terbuka.

Lidah Chanyeol kembali memasukki rongga mulut Baekhyun yang hangat itu. Menelusuri langit-langit mulutnya hingga menggelitik lidah Baekhyun dengan lidahnya untuk saling beradu. Keduanya terjebak dalam permainan lidah yang cukup sengit, namun Chanyeol tetaplah yang mendominasi. Baekhyun memejamkan matanya menikmati sambil mengemut bibir atas Chanyeol, tak jarang memberikan gigitan-gigitan nakal pada bibir pacarnya itu.

Bibir mereka basah akan saliva masing-masing. Chanyeol menangkup pipi Baekhyun dan memiringkan kepalanya, semakin dalam menikmati bibir Baekhyun. Chanyeol menyedot saliva Baekhyun, yang menurut Baekhyun itu menjijikkan. Bibir Chanyeol terus menghisap, mengulum, mengigit, dan mengemut bibir mungil Baekhyun seakan tak ada lagi kesempatan baginya untuk menikmati bibir Baekhyun. Tangan besar Chanyeol turun meraba leher Baekhyun, membuat Baekhyun menjenjangkan lehernya, memberi tahu Chanyeol bahwa lehernya adalah yang terbaik.

"Nghhh s-sayanghhh"

Kulit Baekhyun memerah menahan kenikmatan yang Chanyeol berikan. Tangan itu bergerak mengelus-elus bahu putihnya, meremas sedikit lengan Baekhyun untuk memberikan rangsangan. Kontak bibir mereka terputus, memperlihatkan bibir keduanya yang telah memerah dan bengkak. Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan sayu, napasnya memburu, bibirnya sedikit terbuka. Benar-benar pemandangan yang sangat seksi bagi Chanyeol.

Chanyeol memalingkan wajah Baekhyun dan menahan dagunya untuk memberinya akses menikmati leher putih itu. Bibir Chanyeol mulai menciumi setiap inchi kulit leher Baekhyun, memberikan hisapan juga tanda kemerahan di tempat itu. Tidak menghiraukan jika tanda-tanda kemerahan itu akan terlihat besok saat Baekhyun pergi ke sekolah. Ia hanya ingin Baekhyun mengetahui perasaannya.

"Y-yeol geli... awhhh" desah Baekhyun semakin menjadi saat tangan besar Chanyeol mulai meraba-raba dadanya dan mencubit nipple pink kecoklatan miliknya dengan gemas. Bibir Chanyeol menjalar menuju bahu Baekhyun, menjilati dan melumuri seluruh kulit Baekhyun dengan salivanya. Tubuh Baekhyun benar-benar seperti candu.

Kedua nipple Baekhyun mencuat dan mengeras sehingga Chanyeol tak tahan untuk sekedar memilin dan memelintir benda itu dengan jari-jarinya yang besar. Baekhyun terus mendesah kenikmatan sambil membusungkan dadanya, menantang Chanyeol untuk berbuat lebih.

Kini jari-jari Chanyeol berganti dengan mulut basahnya. Mengemut ujung nipple itu, memainkan dengan lidahnya yang basah. Tangannya turun untuk mengelus-elus tulang pinggul Baekhyun yang menonjol.

"Mmmmsscchh" Chanyeol terus mengemut dan menghisap kedua nipple Baekhyun bergantian hingga menimbulkan suara decakan yang penuh nafsu. Bibir tebalnya turun mengecupi perut Baekhyun. Menjalarkan kecupannya ke pinggang ramping pacarnya itu. ia juga menciumi rangkaian tulang rusuk Baekhyun yang menonjol. Mengabsen tulang-tulang itu dengan bibirnya yang lembut. Tak ada seinchi pun kulit Baekhyun yang tidak tersapu ciuman Chanyeol. Bahkan hingga kaki dan tangan Baekhyun.

Lalu Chanyeol membuka paha Baekhyun selebar mungkin, memamerkan lubang Baekhyun yang memerah dan basah. Telunjuk Chanyeol turun untuk mengelus bibir lubang itu, dengan gerakan memutar membuat lubang itu berkedut-kedut hebat siap untuk menghisap telunjuk besar Chanyeol.

"Chanhh.. ahhh... masukannhh" lirih Baekhyun pasrah. Ingin sekali ia melesakkan tangannya meremas rambut hitam itu, namun apa daya kedua tangannya diikat posesif oleh Chanyeol. Ia hanya bisa meremas buku-buku jarinya sendiri karena permainan lambat Chanyeol.

Melihat Baekhyun yang memohon seperti seorang budak, Chanyeol memasukkan tiga jarinya langsung ke dalam lubang menggoda itu. Tanpa aba-aba dan pelumas. Jari-jari itu dengan semangat mengoyak-ngoyak dinding lubang Baekhyun hingga tubuh Baekhyun menggeliat keenakan. Baekhyun terus menendang-nendang sprei Chanyeol hingga berantakan, mulutnya pun tak hentinya mendesah dan meneriakkan nama Chanyeol.

"Ahhhh ouchhh d.. disituhh"

Seperti perintah, jari-jari besar Chanyeol semakin menusuk-nusuk kelenjar prostat Baekhyun. Chanyeol menggeram nikmat saat merasakan betapa ketatnya dinding lubang Baekhyun mencengkram ketiga jarinya. Lubang itu semakin berkedut dan basah, tanda sudah siap menerima penis besar milik Chanyeol.

Chanyeol mengeluarkan ketiga jarinya dan membuka boxer nya dengan gerakan cepat, sehingga tubuhnya telanjang sepenuhnya seperti Baekhyun. Baekhyun ternganga melihat ukuran penis Chanyeol yang besar dan panjang itu. Ia jadi ragu apakah penis itu akan muat masuk ke dalam lubangnya yang sempit. Ia menggigiti bibirnya, rasanya ingin mengulum benda panjang itu sekarang juga.

"Akkhhh! Yeolhhh sakithhhh!" pekik Baekhyun saat penis Chanyeol memasukki dan menusuk lubangnya secara tiba-tiba. Bahkan itu baru kepala penisnya saja. Rasanya ingin menangis, padahal ini bukan kali pertamanya ia berhubungan badan, tapi entah kenapa penis pacarnya begitu menyakitkan.

"Lepaskan tanganku, kumohon.." ujar Baekhyun lirih –bahkan hampir menangis. Chanyeol mencengkram paha Baekhyun dan mencoba mendorong penisnya lebih dalam. Ia menggigit bibir dan menggeram nikmat saat dinding lubang itu seperti memelintir kepala penisnya.

Chanyeol merasa tak sanggup saat setengah penisnya memasukki lubang Baekhyun. Ia terus bertanya-tanya dalam hati bagaimana bisa lubang Baekhyun sesempit ini padahal Baekhyun pernah melakukan seks dengan beberapa laki-laki sebelumnya. Dengan sekuat tenaga ia menghentakkan pinggulnya hingga penis itu masuk sempurna dan menusuk kelenjar prostat Baekhyun.

"Godhhh, Park Chanyeolllllhh"

Baekhyun menangis antara kesakitan dan merasa kenikmatan yang luar biasa. Chanyeol segera membuka ikatan di tangan Baekhyun dan membawa Baekhyun ke pelukannya. Ia terus menciumi seluruh wajah Baekhyun yang basah untuk menenangkannya. Membisikkan kata-kata 'aku minta maaf' beribu kali dengan suara rendahnya. Baekhyun mengangguk pelan dan memeluk leher pacarnya itu. Jari-jari lentiknya mengelus rambut hitam Chanyeol yang berantakan dan menatap mata Chanyeol sayu.

"Bergeraklah sayang. Aku sudah tidak apa-apa" bisik Baekhyun lembut sambil mengulum telinga Chanyeol sekilas.

Chanyeol mengangguk dan menggerakkan pinggulnya maju mundur, menggesekkan kulit penisnya dengan dinding lubang Baekhyun dengan tempo pelan. Ia menyelipkan kedua lengannya di punggung Baekhyun dan memeluk tubuh mungil itu sembari pinggulnya bekerja.

"Arghh.. B-baekhh" desah Chanyeol saat hentakkan pinggulnya semakin cepat dan lubang itu semakin meremas miliknya. Tubuh Baekhyun terlonjak-lonjak karena hentakkan pinggul Chanyeol yang liar dan penuh nafsu. Namun tubuh bagian atas Chanyeol berbanding terbalik. Tangannya mengusap-usap punggung Baekhyun dan bibir Chanyeol melumat bibir Baekhyun dengan lembut dan tenang.

Baekhyun mengeratkan kedua kakinya dan ikut menggerakkan pinggulnya. Ia bahkan menggoyangkan dan memutar-mutar pantatnya memberikan sensasi nikmat pada penis Chanyeol. Tangannya terus meremas rambut Chanyeol dengan putus asa. Keduanya bergerak hebat sampai ranjang Chanyeol berdecit keras. Kulit mereka yang dipenuhi peluh bergesekkan membuat suasana semakin panas dan intim.

"A.. Ahhhh nhhh a-aku tak tahanhh" lirih Baekhyun melepas ciuman mereka. Ia terus meremas sprei milik Chanyeol dan rambut Chanyeol secara bergantian untuk melampiaskan kenikmatannya. Chanyeol merasakan penis Baekhyun yang sedari tadi menggesek perutnya semakin menengang dan berkedut. Baekhyun hampir sampai. Chanyeol semakin menubrukkan penisnya dengan liar hingga penisnya membengkak dan berkedut.

Cengkraman, hentakkan, gigitan di tubuh mereka semakin kencang. Mereka saling menciumi anggota badan satu sama lain yang mampu dijangkau.

"Katakan kau mencintaiku" kata Chanyeol dengan nada menuntut dan mengintimidasi. Tatapan matanya tajam dan dibalas Baekhyun dengan hanya menatap mata itu dengan sayu. Baekhyun menggigit bibir dan meremas bahu Chanyeol. Tubuhnya terus berguncang hebat, namun pipinya merona karena ucapan Chanyeol. Mungkin ia terlihat seperti masokis yang akan senang jika Chanyeol semakin mengintimidasinya. Perutnya mendadak mengencang dan tubuhnya menegang.

Baekhyun terdiam karena bingung untuk mencerna ini semua. Semua otot tubuhnya bekerja untuk mencapai puncak sehingga otaknya tak berjalan sempurna. Ia mencakar punggung Chanyeol ketika Chanyeol menghujamkan penisnya semakin dalam seolah menuntut Baekhyun untuk menjawab perkataannya. "Katakan, Baek" titah Chanyeol diiringi hentakkan yang semakin keras. Ia terus menghentakkan penisnya tiap detik sampai laki-laki mungil di bawahnya itu menjawabnya.

"Ahhh.. a-aku.. m-mencintaimu ssshhh" ucap Baekhyun diiringi muncratan sperma dari penis miliknya. Chanyeol menyeringai dan terus menggerakkan pinggulnya.

"B-baekhh!" pekik Chanyeol mencapai klimaksnya. Spermanya mengalir deras memenuhi lubang Baekhyun dan merembes ke pipi pantat Baekhyun yang mulus. Mereka berpelukkan erat dan mengatur napas. Jantung mereka berdebar dengan sangat kencang.

Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan yang lembut, merapikan poni basah Baekhyun. ia mengecup kening Baekhyun, turun ke kedua mata sipitnya, hidung, pipi, dan bibirnya.

"Hiks.." Baekhyun mulai terisak saat memandangi wajah Chanyeol. Ia menangis dan badannya bergetar hebat. Chanyeol yang melihatnya mendadak panik dan menngelus pipi gembil Baekhyun dengan ibu jarinya. "Ada apa sayang? Kenapa menangis hmm?" kata Chanyeol lembut sambil menghapus jejak air mata Baekhyun .

Tangisan Baekhyun semakin menjadi seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh orang tuanya. Ia menggenggam tangan Chanyeol dan menciuminya. Chanyeol yang tidak mengerti apa yang terjadi dengan pacarnya hanya bisa diam. Ia mengeluarkan penis nya dari lubang Baekhyun dan merangkak merebahkan tubuhnya di samping Baekhyun.

"Ini pertama kali untukku.. hiks.. kau memperlakukanku dengan sangat baik.. hiks.. kau sangat romantis.."

Chanyeol terbelalak mendengar kata-kata Baekhyun. Hatinya seperti diiris melihat tangisan Baekhyun. Apakah selama ini orang-orang benar-benar hanya menggunakan tubuhnya? Hanya memanfaatkan pacarnya sebagai pemuas nafsu?

Chanyeol mendadak geram, napasnya mulai menderu. Ia memeluk Baekhyun erat. Ia bersumpah akan selalu memperlakukan Baekhyun dengan baik dan meletakkan Baekhyun pada prioritasnya. Ia takkan membiarkan hati Baekhyun yang rapuh terluka dengan perlakuan laki-laki lain.

Sementara Baekhyun hanya bisa menguburkan wajahnya di dada bidang Chanyeol. Menghirup aroma tubuh laki-laki pelindungnya itu. Baru kali ini Baekhyun merasakan sebuah hal yang luar biasa. Sekarang ia tahu apa bedanya 'bercinta' dan 'bersetubuh'.

Bercinta adalah dimana sepasang anak manusia yang mengungkapkan perasaan cintanya melalui kontak tubuh. Melampiaskannya melalui kulit ke kulit. Tiap hentakkannya begitu memabukkan, tiap detiknya menimbulkan perasaan yang semakin besar terhadap pasangan. Ya, mereka benar-benar melakukan hal itu. Chanyeol benar-benar memperlakukannya dengan baik, tidak hanya melampiaskan nafsunya. Mereka saling melayani dan memuaskan, bukan hanya Chanyeol yang mendominasi. Walaupun ini kali pertama untuk mereka dan Baekhyun masih sedikit canggung juga malu.

Baekhyun bisa merasakan bagaimana perasaannya pada Chanyeol semakin besar. Ia begitu yakin kini akan keputusannya menerima Chanyeol. Perasaan itu, cinta, telah memenuhi rongga dadanya, ia sadar jika ia telah mencintai Chanyeol lebih besar dari hari-hari kemarin. Bunga di hati Baekhyun kini telah mekar dan memancarkan keindahannya. Ya, Baekhyun yakin sekarang bahwa ia akan terus-menerus jatuh cinta pada sosok laki-laki di sampingnya.

"Aku mencintaimu, Yeol"

.

.

.

.

.

to be continued


Gimana kehidupan mereka setelah Baekhyun tau Chanyeol yang sebenarnya? Siapa 'My birthday girl' nya Chanyeol?

hehehehe maaf ngepost pas lagi puasa gini, soalya banyak hambatan :'( saya juga dari kemarin sibuk baru sempet sekarang.. /sobs/ chapter ini spesial buat my precious lover^^ btw saya suka banget menganalogikan cinta dengan bungaaaaa T^T JANGAN BOSEN2 YA BACA FF INI, MAKASIH YANG UDAH NGEREVIEW MAAF GA BISA DITULIS SATU2 HUHUHU SARANGHAE T,T {{{{}}}}

DON'T FORGET TO REVIEW^^ ayo berbagi kritikan, ide, respon dan masukan di kotak reviewwww :3