Caption : My Geeky Boy Chapter 5
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Xi Luhan, Oh Sehun, Kim Yerim (RV), and other cast
Genre : Drama, Romance, School life, Smut
Rating : M
Playing : Jonghyun (SHINee) ft Younha - Love Belt
Foreword :
Ehm.. ehm.. pertama2 saya mau minta maaf sedikit telat updatenya (karena lebaran banyak acara dan mood saya yang mendadak melankolis):'')) maaf beribu maaaaf, adakah yang nungguin? :"") THANKKSSSSS AGAAAIIIIIN BUAT YANG UDAH REVIEW, FOLLOW, FAVORITEEEE AAAAAAH :333 bener2 seneng iat respon kalian :3
Saya mau jelasin sesuatu, Chanyeol itu Geek bukan Nerd
Bedanya itu, Geek : orang yang intelejennya tinggi, biasanya kecanduan sama suatu hal yang bikin dia addict banget, TAPI Geek itu tetep bisa bersosialisasi,gaul, tetep keren walopun dia punya dunia sendiri gitu.. (contoh : anak klub komputer, klub jepang, dll)
Nerd : orang yang intelejennya tinggi juga,TAPI dia itu kayak anti sosial, penampilannya ga banget, sering dikucilkan, pokoknya Nerd itu kayak culun yang suka di tv2 yang pake kawat gigi, kacamata tebel, ga punya temen.
Tapi karena Chanyeol itu pake kacamata dan berpenampilan rapi banget, beda sama Baekhyun jadi si bbh mengeneralisasikan cy sebagai culun yang Nerd ansos bullyable gitu, padahal Chanyeol itu geek yang keren tapi tetep pinteeeeerrrr banget^^
Chapter ini bercerita tentang penjelasan chanyeol tentang masa lalunya dan kebinalan bbh yang kembali (?) banyak yang bilang masa lalu cy masih samar ga jelas di chapter sebelumnya, IYA, saya sengaja bikin CY terbuka di setiap chapternya, jadi ga satu chapter di full-in buat masa lalunya dia, mengalir aja biar lebih natural^^
okaaaaaay happy reading guys!^^
"You know how i tremble with insecurity, my dear please hold my hand, hold on to me thightly"
.
.
.
.
.
"Sayang, bangun.."
Chanyeol mengguncang-guncang tubuh mungil Baekhyun yang terbuka dengan pelan. Ia menghela napas bagaimana pacar kesayangannya itu sangat sulit dibangunkan. Apa Baekhyun terlalu letih dengan 'permainan'nya tadi? Apa ia terlalu kasar pada Baekhyun?
Chanyeol mendudukkan dirinya di samping Baekhyun, menyingkap selimut yang menutupi tubuh bagian atas Baekhyun. Ia memandangi betapa indahnya tubuh laki-laki yang berada di hadapannya, dan mengecupi bahu mulus nan indah itu. Chanyeol merapikan poni basah yang menutupi hampir sebagian besar wajah Baekhyun, kemudian ia tersenyum.
Mengingat pengalaman pertama mereka membuatnya sesak. Terutama pernyataan cinta Baekhyun. Baru pertama kali ia mendengar kata-kata itu meluncur dari bibir mungil Baekhyun, membuat ia merasa seperti laki-laki paling beruntung di dunia. Ia sangat amat menunggu momen-momen seperti ini. Ternyata benar kata orang-orang jika melihat wajah tertidur pulas orang yang kita cinta membuat perasaan cinta itu semakin dalam. Chanyeol menunduk dan menciumi setiap inchi kulit wajah Baekhyun.
"Chan.. mmm.." gumam Baekhyun di sela-sela tidurnya. Chanyeol tersenyum penuh kemenangan saat mengetahui figur dirinya berada di alam mimpi Baekhyun. Ia menciumi bibir mungil Baekhyun yang terus menggumamkan suara-suara lucu dan mengelus rambut keunguan Baekhyun.
Chanyeol menghela napas dan melirik ke arah jam dinding. Pukul 6 sore, untung saja orang-orang di rumahnya akan pulang telat malam ini. Lalu ia berinisiatif turun ke dapur dan membuatkan Baekhyun segelas susu hangat serta roti selai strawberry.
Seluruh potongan-potongan memori bercinta dengan Baekhyun memenuhi otak Chanyeol. Ia bergetar mengingat saat kedua tangannya menjelajahi kulit Baekhyun yang selembut sutra. Ia tidak bisa berbohong jika semua yang ada di Baekhyun begitu menggairahkan. Chanyeol menggeram saat menyadari penisnya menegang hanya dengan memikirkan pacar mungilnya itu. Membuat susu yang ia tuang tumpah membasahi meja makan karena ia tidak fokus (mengingat pantat kenyal Baekhyun yang mengayun-ayun saat bercinta tadi).
"Yeol? Sedang apa?" tiba-tiba sebuah lengan mungil melingkar di pinggang Chanyeol dan membuat laki-laki tinggi itu terhenyak. Si mungil itu mengintip apa yang dilakukan Chanyeol dari sela-sela ketiak pacarnya itu. Baekhyun menempelkan pipinya pada punggung hangat Chanyeol, menggosok-gosokkan pipinya seperti yang dilakukan anak anjing pada tuan nya. Chanyeol berbalik dan rahangnya nyaris terlepas.
"Byun Baekhyun, kenakan celanamu!" pinta Chanyeol mendadak geram. Tentu saja ia geram melihat pacarnya keluar kamar tanpa mengenakan sehelai benang pun dan membuat penis kecil Baekhyun yang menggantung terlihat jelas. Chanyeol masih dapat melihat begitu banyak tanda kemerahan tercetak di sekujur tubuh Baekhyun. Chanyeol berpikir bahwa dirinya seperti pedofil yang telah mencabuli anak di bawah umur. Namun sekali lagi, Baekhyun dengan sangat hebat meningkatkan kadar libidonya.
"Aku tidak punya celana dalam, Yeol. Lagipula lubangku masih sakit jika memakai celana yang ketat" ucap Baekhyun sambil mengerucutkan bibirnya. Chanyeol memberikan gelas susu ke tangan Baekhyun dan menarik tangan Baekhyun yang satunya. Ia menarik Baekhyun menuju kamarnya. Mendudukkan tubuh Baekhyun di pinggir kasur dan membongkar isi lemarinya untuk mencari boxer dengan ukuran yang kecil.
Chanyeol menghampiri Baekhyun lalu berjongkok di depan kedua kaki Baekhyun. "Jika kau tidak memakai sehelai benang pun, aku yakin akan ada ronde kedua, ketiga, bahkan kesepuluh nantinya." Ucap Chanyeol penuh penjelasan sambil memasukkan kaki Baekhyun ke lubang boxer miliknya, membantu Baekhyun memakai boxer itu dengan sangat lembut dan gentleman. Baekhyun sedikit terkekeh mendengar penjelasan Chanyeol. Jadi pacarnya itu termasuk laki-laki yang mudah terangsang? Baekhyun tersenyum lalu menunduk untuk mencium kening Chanyeol. Ia tersenyum, dalam hatinya bersyukur mempunyai pacar super perhatian seperti Park Chanyeol.
Lalu Chanyeol membawa Baekhyun menuju balkon yang terdapat di kamarnya. Salah satu tempat terbaik kata Chanyeol. Malam itu sangat indah karena mereka bisa melihat bulan purnama secara langsung terutama bersama orang tersayang. Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun dari belakang, merengkuh tubuh mungil kesayangannya itu.
"Kau.. kau masih mencintaiku kan? Maksudku.. aku tahu pandanganmu padaku berubah saat kau melihat isi kamarku." Tanya Chanyeol ragu sambil mengecupi ceruk leher Baekhyun dari belakang. Baekhyun menggigit bibirnya pelan lalu menyesap susu hangat buatan Chanyeol. Ia menghela napas dan membuka suara.
"Aku mencintaimu, Yeol, tapi bisakah kau menjelaskan semuanya padaku? Apa kau benar-benar si culun Park Chanyeol?" kata Baekhyun menuntut. Ia membalikkan tubuhnya, meletakkan gelas susu itu di meja kecil di pojok balkon. Baekhyun memandangi tubuh Chanyeol dari atas sampai bawah. Bahkan ia nyaris tidak mengenali laki-laki di depannya ini. Tangan Baekhyun terangkat mengelus sebuah tato bertuliskan kalimat dalam bahasa Latin di dada Chanyeol. Ia memandangi tato itu lekat-lekat.
Chanyeol menarik tangan Baekhyun untuk dilingkarkan pada pinggangnya. Ia menangkup kedua pipi gembil Baekhyun dan menatap mata sipit itu penuh keyakinan. "Aku Park Chanyeol.. kau melihat foto-foto itu kan? Ya itu aku... yang dulu" ucap Chanyeol.
"Seseorang yang membuat hidupku seperti ini.." ujar Chanyeol menggantung. Baekhyun menyandarkan kepalanya pada dada Chanyeol sembari mendengarkan setiap kata-kata yang terucap dari bibir Chanyeol. Ia menggigit bibir berusaha menguatkan hatinya. Baekhyun tak pernah suka tentang kisah masa lalu, ia takut Chanyeol akan mengingatnya kembali dan melupakan dirinya. Namun sebelah dari dirinya sangat ingin tahu apa yang salah pada diri Chanyeol.
"Dia meninggalkanku tanpa sebab, tanpa sepatah kata pun. Aku bahkan tidak tahu apa kesalahanku. Semenjak itu aku tidak pernah pernah berhubungan serius dengan seseorang. Yeah kau bisa memanggilku 'playboy' dan aku hanya bermain-main dalam berhubungan seperti orang yang brengsek"
"Aku tidak pernah benar-benar tertarik pada siapapun, aku tidak punya gairah lagi. Aku benar-benar hancur, aku tidak tahu jika kehilangan seseorang rasanya akan sangat menyakitkan. Dia.. dia adalah cinta pertamaku, meskipun saat itu aku masih sangat kecil."
"Semua datang dan pergi dengan sangat cepat... Hidupku berantakan sampai akhirnya aku memutuskan untuk pindah, memulai kehidupan baru, berpenampilan baru, dan bertemu denganmu."
Chanyeol menangkup kedua pipi Baekhyun dan menempelkan bibirnya lama pada bibir Baekhyun. Ia memejamkan matanya untuk membuang semua pikiran di masa lalunya, meyakinkan jika sosok di depannya adalah sosok yang terbaik yang akan mengobati lukanya dan mengisi ruang di hatinya. Chanyeol beralih mengecup kedua mata Baekhyun yang terpejam. "Aku benar-benar beruntung bertemu denganmu, Byun Baekhyun. Ku mohon jangan tinggalkan aku." bisik Chanyeol melembut. Suaranya bergetar penuh harap. Chanyeol benar-benar membutuhkan Baekhyun untuk menariknya keluar dari cengkraman masa lalunya.
Baekhyun membuka matanya dan mengangguk. Ia menggiit bibir lalu memeluk tubuh laki-laki tinggi itu dengan sangat erat. Sangat erat, pelukan yang menyiratkan ketakutan. Baekhyun tidak pernah menyangka jika Chanyeol menyimpan sebuah luka seperti itu. Baekhyun tahu rasanya kehilangan cinta pertama adalah hal yang paling menyakitkan. Cinta itu yang memberikan harapan, mengajarkan segalanya, dan memberikan kenangan paling mendalam.
"Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu siapa seseorang itu, yang terpenting aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau harus percaya padaku, aku bukan seseorang itu.. walaupun aku tahu pasti jika aku tidak ada apa-apanya dibanding cinta pertamamu itu.." lirih Baekhyun dengan suara tercekat. Ia menenggelamkan wajahnya pada dada telanjang Chanyeol, mencoba menyembunyikan air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya.
Namun sekuat tenaga Baekhyun menahan, pertahanannya tetap runtuh. Ia menangis di pelukan Chanyeol. Ia menangis karena hatinya yang teriris semua kenangan Chanyeol. Baekhyun benci bagaimana Chanyeol menceritakan semua kenangan itu dengan sangat rinci dan mengingat kembali seseorang itu. Ia benci bahwa Chanyeol pernah dimiliki orang lain dan memberikan kenangan yang membekas di hati Chanyeol. Kekanakan memang, tapi itulah yang ia rasakan.
Baekhyun juga bukan laki-laki yang tidak memiliki hati nurani. Ia juga sakit mengetahui seseorang itu telah menyakiti dan menyia-nyiakan laki-laki yang menjadi pelindungnya sekarang. Ia benci seseorang itu. Akan ia pastikan jika Chanyeol hanya melihat ke arahnya dan mengubur semua kenangan tentang seseorang itu. Baekhyun berjanji akan menjadi apapun yang dibutuhkan, diimpikan,dan diinginkan Chanyeol.
"Jangan menangis, sayang. Semua yang aku inginkan ada padamu.. kau membuatku nyaman, kau membuatku merasakan jatuh cinta lagi." Chanyeol menarik dagu Baekhyun dan melumat bibir itu lembut. Membuat Baekhyun melupakan pikiran-pikiran buruknya dan terfokus pada bibir tebal itu. Ibu jari Chanyeol digunakan untuk menghapus air mata yang membasahi pipi Baekhyun.
Tangan Chanyeol meraba turun ke setiap inchi permukaan kulit Baekhyun yang terbuka. Meraba, mengelus, mengusap sampai ke bagian sensitif Baekhyun sehingga si mungil itu bergetar. Tangan besar itu selalu haus akan kelembutan kulit Baekhyun. Chanyeol benar-benar menghipnotis Baekhyun dengan sentuhannya.
"Mmmhh.."
Seiring dengan desahan Baekhyun, tangan Chanyeol menurunkan kain pertahanan terakhir di tubuh Baekhyun. Lalu ia memojokkan tubuh mungil Baekhyun pada pagar balkon. Keduanya kembali tenggelam pada hasrat dan gairah masing-masing. Menumpahkan semua emosi mereka. Di bawah temaram cahaya bulan, mereka kembali menumbuhkan perasaan itu. Perasaan saling membutuhkan dan menginginkan satu sama lain.
.
.
.
.
.
Tiga hari sebelum ujian semester semua siswa menjadi super sibuk. Tidak terkecuali dengan Park Chanyeol. Walaupun hari-hari sebelumnya ia masih bisa menghubungi Baekhyun melalui pesan singkat, bahkan bercinta dengan pacar mungilnya itu, tetapi kali ini Chanyeol benar-benar menghilang.
Baekhyun sering menghubungi atau sekedar mengirim chat kakao pada Chanyeol, namun laki-laki itu akan membalasnya saat berada di rumah untuk pamit tidur lebih awal. Maka dari itu hari ini Baekhyun meminta eomma nya membuatkan sandwich dan nasi goreng khusus untuk pacarnya yang tampan dan (ternyata) sangat seksi. Ia berniat menemui laki-laki culun itu untuk menumpahkan segala kerinduan yang selama ini mengganggu pikirannya. Klasik memang, namun ia akan mengajak Chanyeolnya memakan bekal bersama.
Kini Baekhyun tengah berdiri di pinggir pintu kelas 2 A, menunggu Bae seonsaengnim mengakhiri pelajaran matematikanya. Kelas Chanyeol merupakan kelas yang paling akhir keluar saat jam istirahat, karena kau tahu mereka benar-benar keturunan Einstein yang selalu banyak bertanya di setiap mata pelajaran.
Cklek..
"Sedang apa kau disini, bocah binal?" tiba-tiba suara wanita yang tak lain merupakan Bae seonsaengnim menusuk ke telinga Baekhyun. Baekhyun memang selalu bersitegang dengan guru cantik itu. Terlebih Bae seonsaengnim merupakan rival terberatnya. Namun sekarang Baekhyun sudah melupakan penis si guru olahraga itu, baginya penis terlezat hanya lah milik pacarnya seorang yaitu Park Chanyeol.
"Bukan urusanmu tante girang! Cepat pergi dari kelas pacarku, kau hanya membuang-buang waktu istirahat kami!" ujar Baekhyun ketus mencoba merangsek masuk ke dalam kelas Chanyeol. Bae seonsaengnim mengerutkan keningnya mendengar kata-kata 'pacar' dari bibir Baekhyun.
Melihat guru cantik –tapi galak itu terpaku kebingungan, Baekhyun menyeringai dan menubruk bahu guru cantik itu. "Aku sudah punya pacar, kau ambil saja Siwon seonsaengnim itu aku sudah tak tertarik dengan penisnya!" ucap Baekhyun sambil berlalu meninggalkan guru cantik itu yang sedang ternganga lebar.
Baekhyun berjalan dengan riang mendekati meja Chanyeol dan Luhan (karena mereka satu bangku). Ia mengernyit melihat Chanyeol yang masih terfokus pada buku pelajarannya tanpa mengindahkan kehadiran dirinya. Baekhyun meletakkan kotak bekalnya di meja dan mengambil potongan sandwich untuk Chanyeol.
"Aaaaa.. buka mulutmu, Yeol. Kau harus makan!" perintah Baekhyun sambil menyodorkan sandwich ke depan wajah Chanyeol. Chanyeol sedikit terkejut lalu menggeleng cepat. Ia kembali menulis sesuatu yang banyak dari buku pelajarannya, membuat Baekhyun geram.
"Percuma kau pintar kalau tubuhmu sakit! Makan sekarang atau aku tidak akan menciummu selama sebulan!"
Chanyeol mengangkat wajahnya menatap Baekhyun yang memandanginya dengan tatapan ganas. Chanyeol menghela napasnya, ia mengambil satu potong sandwich dan memakannya tanpa menghiraukan Baekhyun. Rasanya Baekhyun ingin sekali membakar buku sialan itu karena membuat Chanyeol lupa dengan kesehatan perutnya.
Mereka memakan bekal Baekhyun dalam keheningan. Berkali-kali Baekhyun mencoba mengajak Chanyeol berbicara atau sekedar basa-basi, namun hanya dijawab satu patah kata bahkan hanya sebuah anggukkan. Baekhyun mengerucutkan bibirnya, menopang dagunya dengan tangan , dan memalingkan wajahnya keluar jendela. Baekhyun benar-benar benci suasana seperti ini.
"Yeooooool apa kau tidak mau berbicara denganku?" kata Baekhyun merajuk sambil mengguncang-guncangkan tangan Chanyeol. Ia bahkan sengaja memasang 'aegyo' nya karena itulah kelemahan Park Chanyeolnya. Chanyeol menggeram pelan sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ia tak bisa seperti ini terus, ia harus fokus mempelajari semua materi untuk ujian. Baekhyun adalah kelemahan nya sekaligus pengganggu terbesarnya.
Melihat Chanyeol yang hanya diam, Baekhyun mulai memutar otaknya agar bisa mendapatkan perhatian dari pacarnya itu. Baekhyun mulai mencondongkan badannya ke arah Chanyeol dan menjalarkan jemari lentiknya mengelus-elus paha atas Chanyeol. Ia terus menggumamkan sesuatu dari bibirnya sementara tangannya terus meraba-raba dengan gerakan memutar.
Chanyeol merasakan pergerakan aneh di pahanya. Ia menunduk dan mendapati tangan mungil Baekhyun sedang bermain-main menuju selangkangannya. Chanyeol menahan napasnya, tak mau mengikuti alur permainan pacar mungilnya itu. Ia tidak akan mengalah.
"Mmm a.. apa.. kau tidak merindukanku, sayang?" bisik Baekhyun dengan suara serak dan lirih. Jari-jari lentiknya mengelus selangkangan Chanyeol, meraba-raba mencoba mencari gundukan benda yang ia rindukan. Saat menemukan benda itu tanpa ragu ia meremasnya pelan sesekali mencubitnya hingga benda itu perlahan-lahan menegang. Baekhyun menyandarkan kepalanya pada bahu Chanyeol. Ia bisa melihat bulir-bulir keringat mengalir di leher laki-laki tinggi itu, tanda Chanyeol sedang menahan libidonya agar tidak menerkam Baekhyun detik itu juga.
"Penismu besar, aku suka.. oh apakah tanganku cukup untuk membungkus penismu yang tegang itu?"
Baekhyun menurunkan resleting celana Chanyeol tanpa membuka kancingnya. Ia menyelipkan jari-jarinya masuk untuk mengelus penis ereksi Chanyeol dari balik celana dalam hitamnya. Meremas, mencubit, mengocok pelan penis yang memberontak keluar itu dengan tangan lentiknya yang lihai.
"B-baekhh.." sebuah desahan meluncur dari bibir tebal Chanyeol. Ia mencengkram erat pulpen yang sedari tadi ia gunakan. Ingin rasanya menangkis tangan lentik pacarnya itu, tapi ya Tuhan, jari-jari itu benar-benar memanjakan penisnya. Permainan Baekhyun begitu lembut membuat penis nya berereksi sempurna.
Tanpa Chanyeol sadari, Baekhyun telat mengeluarkan penis besarnya dari celana seragamnya. Chanyeol tersentak, apakah Baekhyun tidak pernah takut melakukan 'outdoor sex' seperti ini? apakah Baekhyun tidak pernah takut jika orang-orang melihat apa yang dia lakukan?
Baekhyun menyeringai dan menggenggam penis ereksi Chanyeol dengan tangannya. Baru kali ini Baekhyun memberikan 'hand job' pada pacarnya itu. God, bahkan penis Chanyeol adalah penis paling besar di antara penis semua laki-laki yang pernah ia layani. Baekhyun menggigit bibirnya saat menyadari jiwa binalnya mulai bangkit.
Ia mengocok penis Chanyeol dengan gerakan pelan, menaik-turunkan batang ereksi itu. Sesekali tangan nakal Baekhyun meremas-remas dan menggelitik bulu-bulu halus di selangkangan Chanyeol. Baekhyun bisa melihat urat-urat di penis Chanyeol bermunculan juga setitik cairan putih pada lubang penisnya. Dengan gemas ia mencubit kepala penis Chanyeol yang mulai berwarna kemerahan. Melihat penis pacarnya membuat Baekhyun mendadak gusar karena lubangnya terasa gatal minta diisi.
"Mmmh.."
Chanyeol kembali mendesah saat Baekhyun mempercepat tempo kocokannya. Kini penis Chanyeol berukuran dua kali lipat sehingga Baekhyun harus menggenggam penis itu dengan kedua tangannya. Untung saja kelas sedang sepi. Namun Baekhyun harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk membuat Chanyeol mencapai klimaks dalam waktu kurang dari 10 menit.
Baekhyun terus mengurut dan memijit batang kemaluan Chanyeol, ia menunduk untuk menjilat cairan yang mulai mengalir keluar dari lubang itu. Baekhyun tahu Chanyeol hampir mencapai klimaksnya karena penisnya mulai membengkak dan berkedut-kedut.
"A.. Akhhh"
Chanyeol membanting pulpennya dan menyandarkan punggungnya pada kursi dengan kasar. Penisnya memuncratkan sperma dalam jumlah banyak. Perutnya panas, napasnya memburu, dan peluh membasahi sekujur tubuhnya. Ia tidak menyadari bahwa kedua kakinya telah terbuka lebar dan ia telah jatuh pada 'perangkap' setan kecil bernama Byun Baekhyun.
Melihat lelehan sperma Chanyeol di tangannya, Baekhyun menjilati jari jemarinya sesekali mengemutnya dengan ekspresi seduktif di depan Chanyeol. Ia memejamkan matanya dan mengemut jari-jari panjangnya seolah-olah itu adalah penis milk Chanyeol.
"Byun Baekhyun.. kau benar-benar.."
Tiba-tiba Chanyeol membanting pulpen dengan keras ke mejanya, memasukkan penisnya, merapikan seragamnya dengan gerakan cepat dan meninggalkan Baekhyun yang masih terpaku di tempatnya. Nada bicara Chanyeol menjadi datar dan dingin. Baekhyun tahu jika Chanyeol memanggilnya dengan nama panjang, artinya ada sesuatu yang benar-benar serius.
Baekhyun mencelos. Apa Chanyeol marah karena perbuatan lancangnya? Tapi Chanyeol terlihat sangat menikmatinya. Jadi untuk apa Chanyeol meninggalkannya?
Sementara Chanyeol berlari menuju koridor lantai dua, berusaha menyadarkan kembali pikirannya dan juga menenangkan hatinya. Ia tak pernah tahu jika mempunyai pacar seperti Baekhyun akan memberikan sedikit 'cobaan' padanya. Chanyeol benar-benar butuh waktu untuk belajar. Ia harus mencapai target nilai di atas 9 untuk semua mata pelajaran. Namun Baekhyun tak pernah memberikannya celah untuk itu. Ia juga merutukki tubuhnya yang selalu terbuai dengan sentuhan laki-laki mungil itu. Libidonya tak pernah bis dikontrol jika menyangkut dengan Byun Baekhyun.
Ia mengacak rambutnya frustrasi dan menyandarkan tubunya ke dinding. Ia terus mengatur deru napasnya. Chanyeol teringat wajah Baekhyun yang terkejut saat ia meninggalkan Baekhyun. Apakah ia terlihat seperti orang jahat? Ia sangat menyesal telah berbuat seperti itu, tapi ia juga tidak terima dengan perbuatan lancang pacarnya. Memikirkan kejadian tadi benar-benar membuat kepalanya nyaris meledak.
"Sial!"
"Park Chanyeol?"
Sebuah suara perempuan memenuhi pendengarannya. Chanyeol menegakkan tubuhnya dan membenarkan letak kacamatanya. Ia mengernyit melihat Sunyoung berdiri di hadapannya. Sebisa mungkin ia memasang wajah baik-baik saja. Ia tersenyum pada perempuan itu.
"Cho seonsaengnim menyuruhmu untuk menemuinya di ruang guru. Beliau ingin meminta tolong padamu.." ucap Sunyoung. Chanyeol hendak menanyakan permintaan apa yang dimaksud oleh Sunyoung, namun perempuan itu hanya mengendikkan bahunya tak tahu dan pamit pergi meniggalkan Chanyeol.
.
.
.
.
.
Tok.. tok.. tok
"Maaf seonsaengnim, apa betul seonsaengnim mencari saya?"
Guru muda itu, Cho Kyuhyun, mengangguk dan mempersilahkan Chanyeol masuk ke dalam ruangannya. Chanyeol membungkuk dan duduk di sofa merah kesayangan guru tampan itu. Ya memang Chanyeol merupakan kaki tangan guru muda ini. Mulai dari membantu mengoreksi tugas para siswa, membantu memberikan pelajaran tambahan, bahkan membelikan ramyun di kedai depan sekolah.
"Begini, sekolah kita kedatangan siswi pindahan dari London. Ku rasa ia masih kesulitan mengurus beberapa berkas disini. Apa kau mau membantunya? Dia terlihat seperti siswi yang cerdas, jadi aku menugaskanmu untuk membantunya hari ini. Tidak mungkin kan aku menyuruh Byun Baekhyun dari kelas 2 D yang menemaninya? Bisa-bisa derajat sekolah kita akan jatuh!" ujar pria itu panjang lebar.
Mendengar nama pacarnya disebut, Chanyeol mendadak geram. Mengapa semua orang di sekolah ini selalu memperlakukan pacarnya dengan sangat buruk? Apa pacarnya pernah merugikan sekolah ini sampai-sampai semua orang enggan memujinya satu kata pun?
"Ku pikir itu juga bukan ide yang buruk, ku dengar Byun Baekhyun adalah sosok yang menyenangkan. Ah baiklah aku akan membantumu, seonsaengnim. Sekarang dimana perempuan itu?" tanya Chanyeol sambil melihat ke sekeliling ruang. Namun tak ada tanda-tanda perempuan asing berada di ruangan itu.
Guru muda itu terkekeh pelan dan bangkit bersama Chanyeol menuju pintu. "Ia masih dalam perjalanan kesini. Aku menyerahkan semuanya padamu, nama baik sekolah ini ada di tanganmu. Kau takkan pernah menyesal bertemu dengannya.. dia sangat cantik dan manis" bisik Cho seonsaengnim yang disambut senyum kikuk Chanyeol. Dalam hati ia menolak mentah-mentah kata-kata gurunya itu. Baekhyun nya tetap yang terbaik.
Tanpa sadar ia kembali mengingat Baekhyun. Rasa bersalah kembali memenuhi rongga dadanya. Ia berjanji setelah bertemu dengan siswi baru itu, ia akan mengajak Baekhyun membeli es krim dan meminta maaf padanya. Walaupun sedikit kesal, tapi ia tetap merindukan pacar mungilnya itu. Chanyeol ingin memeluk tubuh itu dan membisikkan beribu kata maaf di telinga Baekhyun. Ia tak mau menyakiti hati Baekhyun sedikitpun.
Karena siswi baru itu tak kunjung datang, Chanyeol memutuskan untuk mencarinya sendiri. Mungkin ia akan mencari siswi itu di parkiran. "Kalau begitu aku akan mencarinya seonsaengnim, tak perlu khawatir aku takkan mengecewakanmu per-"
Cklek
Tubuh Chanyeol limbung, ia belum tuntas menyelesaikan kalimatnya. Suaranya tertahan di tenggorokannya. Seluruh syaraf di tubuhnya menjadi mati rasa. Ia tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Perempuan itu... Rasanya ada batu yang menghantam tepat di dadanya.
"S.. So.. hyun?!"
.
.
.
.
to be continued
Siapakah Sohyun? Masa lalu Chanyeol apa lagi yang bakal terkuak?
MIANHAEEEE chapter ini dibikin lebih dari 3 hari karena saya uring2an :'''(( /guling2 peluk guling/ (?) arrgghhhhhhh T,T maaf kalo mengecewakan... tapi KONFLIK AKAN DIMULAI DARI CHAPTER DEPAN :)) TETEP IKUTIN TERUS YA!
DON'T FORGET TO REVIEW^^ ayo berbagi kritikan, ide, respon dan masukan di kotak reviewwww :3
