Caption : My Geeky Boy Chapter 6

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Sohyun, Xi Luhan, Oh Sehun, Kim Yerim (RV), and other cast

Genre : Drama, Romance, School life, Smut

Rating : M

Playing : Apink - Secret

Foreword : MIANHAEEE SAYA UPDATE LAMA X( abis ospek sih huhuhu semoga masih pada nungguin ya! Oiya ada yg nanya ini 4minute Sohyun apa Sohyun aktris? Ini Sohyun yang di School 2015^^ karena tampang dia anak baik2 pendiem gitu dan dia bias seseorang jdnya saya pake hwhwhw

Chapter ini tentang pertemuan Chanyeol kembali dengan Sohyun dan reaksi Baekhyun~


"I knew I shouldn't do this as I closed my eyes,

But I keep seeing her, don't you know why I'm telling this to you?"

.

.

.

.

.

"Maaf, apa kita pernah saling mengenal?"

Chanyeol merangsek keluar sambil menutup pintu ruangan dengan cukup keras, meninggalkan guru tampan yang sekarang sedang mengomel-ngomel dari balik pintu karena ulahnya yang tak sopan.

Chanyeol menatap lekat-lekat figur perempuan mungil itu dari ujung rambut ke ujung ibu jari kakinya. Ia mencengkram bahu perempuan itu erat-erat, sehingga perempuan itu meringis kesakitan. Air mukanya mendadak berubah. Antara bingung, terkejut, marah, kecewa, semua jadi satu. Gigi-gigi Chanyeol menimbulkan suara gemertak kesal mendengar jawaban dari bibir perempuan itu.

"T.. tolong l.. lepaskan tanganmu.. " perempuan itu berujar lirih sambil berusaha menyingkirkan tangan besar Chanyeol dari bahunya. Menyadari perbuatannya terbilang kasar, Chanyeol melepaskan kedua tangannya dan mengepalkannya di samping tubuhnya. Perempuan itu menengadahkan kepalanya mencoba mencermati siapa laki-laki di depannya. Namun ia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat tanda ia benar-benar tidak tahu.

Chanyeol mengacak rambutnya frustrasi dan membimbing perempuan itu menjauhi ruangan Cho seonsaengnim. Perasaannya kali ini benar-benar campur aduk. Bagaimana mungkin perempuan yang telah menghilang dari kehidupannya selama hampir 2 tahun, muncul kembali dengan cara yang tak terduga seperti ini. Terlebih lagi Cho seonsaengnim mengatakan bahwa perempuan ini pindahan dari London, yang artinya selama ini ia meninggalkan Chanyeol hanya untuk pergi ke London. Chanyeol benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan.

Keduanya lalu terdiam. Chanyeol melirik dari ekor matanya, melihat perempuan itu kesulitan membawa beberapa map dengan berbagai warna yang berisi kertas-kertas di dalamnya. Mungkin itu adalah berkas-berkas yang dimaksud Cho seonsaengnim, yang adalah tugas Chanyeol untuk membantu perempuan itu mengurus semuanya di bagian kesiswaan. Ia menghela napasnya berat. Lagi-lagi ia harus membolos beberapa mata pelajaran ke depan hanya karena permintaan gurunya itu.

"Biar ku bantu.. Sekali lagi aku bertanya apa kau benar-benar tak mengenaliku?" tanya Chanyeol sambil membawa berkas-berkas yang dibawa oleh perempuan itu. Ia benar-benar tak habis pikir apakah 2 tahun merupakan waktu yang lama untuk melupakah wajah seseorang?

Perempuan itu menghentikan langkahnya dan menatap Chanyeol tak percaya. Ia sedikit geram dengan tingkah Chanyeol yang sedari tadi menanyakan apakah ia mengenalnya. Terus mendesaknya dengan pertanyaan tolol. Perempuan itu menarik napasnya dan menghembuskannya dengan pelan untuk mengistirahatkan otaknya sejenak. "Aku benar-benar tidak mengenalmu, aku minta maaf.." ujar perempuan itu dengan nada yang tegas.

"Baiklah, lupakan saja. Aku akan membantumu mengurus beberapa berkas ini.." ucap Chanyeol. Kekecewaan kembali menyergapi hati kecilnya. Ia menatap punggung perempuan yang sedang mendahuluinya itu, berharap setidaknya ia masih mengingat siapa Chanyeol. Chanyeol terus berpikir kesalahan apa yang dulu ia perbuat sampai perempuan di hadapannya tak mengenalinya lagi.

Kemudian ia teringat sesuatu yang sangat penting. Chanyeol mengejar sosok perempuan itu, menarik pergelangan tangannya, dan membanting tubuh mungil itu ke dinding. Tak peduli jika ada guru yang akan memergokki perbuatannya, yang ia inginkan hanya pengakuan perempuan itu. Chanyeol membuka kacamatanya dan mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Ia membuka satu kancing teratas kemejanya dan mengendurkan dasinya.

"Apa kau benar-benar tidak mengenaliku, Kim-So-hyun?" ucap Chanyeol dengan penekanan pada nama perempuan yang berada di dalam kungkungan lengannya. Napas Chanyeol memburu dan matanya berkilat-kilat marah. Ia mencengkram bahu Sohyun dengan sangat kencang. Satu tangannya digunakan untuk mengangkat dagu perempuan itu, agar bisa menatap dirinya lekat-lekat. Chanyeol tahu sekarang, Sohyun tak mengenalinya karena penampilannya yang berbeda 180 derajat dari terakhir kali mereka bertemu. Sohyun tak mengenali si culun Park Chanyeol.

Sementara perempuan itu, Sohyun, membelalakkan matanya. Ia sangat mengenal laki-laki di hadapannya itu. Laki-laki yang selama ini ia hindari dengan susah payah. Sohyun memukul dada Chanyeol dengan sekuat tenaga mencoba untuk melepaskan diri. Namun Chanyeol menahan pergelangan tangan perempuan itu dan mencengkramnya erat. Sohyun memalingkan wajahnya enggan menatap laki-laki tinggi di hadapannya itu. Dengan segala kekuatannya ia mencoba meninggalkan Chanyeol selama 2 tahun dan kini semua usahanya terasa sia-sia. Apakah takdir selalu mempertemukan dirinya dengan Chanyeol? Pikir Sohyun.

"Kenapa kau pergi meninggalkanku?! Kau benar-benar sudah tidak peduli denganku?! Kau pikir kau bisa lari dariku?!" bentak Chanyeol dengan mata yang berkilat-kilat marah pada Sohyun. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Sohyun menuntut jawaban dari bibir perempuan itu. Rasanya ingin meneriakkan seluruh isi hatinya sudah ia pendam selama bertahun-tahun. Namun Sohyun hanya menunduk sambil menggigiti bibir bawahnya, menahan diri agar tidak menampar Chanyeol dan menangis di hadapannya.

Melihat Sohyun yang menunduk ketakutan dengan bahu yang terguncang, Chanyeol melepaskan cengkraman tangannya dari kedua tangan Sohyun. Entah kenapa emosinya memuncak. Setelah Baekhyun, Sohyun sukses membuat hari itu menjadi hari paling sial dalam hidup Chanyeol. Hari yang sangat menguji kesabarannya.

"Aku.. merindukanmu.." lirih Chanyeol sambil melangkah mundur menjauhi Sohyun. Ia mengacak rambutnya putus asa. Walaupun ia begitu marah, ia tidak ingin menyakiti perempuan ini terus-menerus. Perempuan ini pernah menjadi titik lemahnya dan mengambil alih hampir seluruh kehidupannya. Sohyun terpaku mendengar penuturan singkat Chanyeol. Walaupun ia ingin menghindari laki-laki ini, tetapi tidak dipungkiri lagi seluruh kenangan masa lalu mereka bermunculan lagi di pikirannya, membuat dadanya terasa sesak. Terlebih Chanyeol sekarang sangat berbeda dengan Chanyeol yang dulu. Chanyeol yang sekarang adalah sosok laki-laki yang begitu Sohyun impikan menjadi 'pangeran'nya sejak dulu. Chanyeol yang sekarang begitu manis, sopan, dan sangat dewasa.

Sohyun mencengkram pinggiran map yang ia bawa dan pergi berlalu meninggalkan Chanyeol yang masih terjebak dalam kefrustrasiannya. Ia tidak bisa berlama-lama berada di hadapan Chanyeol. Itu semua akan membuatnya mengingat semua kenangan mereka dan luka yang sudah bertahun-tahun ia pendam merebak kembali hingga mengiris hatinya. Mulai sekarang ia berjanji tidak akan menghiraukan Chanyeol demi keselamatan hati dan pikirannya.

.

.

.

.

.

.

Mungkin kata-kata Chanyeol benar. Sohyun takkan bisa lari dari seorang Park Chanyeol. Terbukti setelah mengurus beberapa berkas, seorang guru memerintahkannya untuk masuk ke kelas 2A. Kelas dimana semua siswa paling pintar berkumpul. Kelas dimana Chanyeol berada. Sohyun tak pernah tahu jika Chanyeol merupakan siswa berotak jenius. Apa 2 tahun cukup untuk mengubah IQ seseorang? Atau memang Sohyun benar-benar tidak tahu siapa diri Chanyeol?

Chanyeol membelalakkan mata besarnya melihat Sohyun memasukki kelasnya dan memperkenalkan diri di hadapan semua siswa. Ia tersenyum simpul. Itu berarti ia bisa menanyakan semua pertanyaan yang memenuhi otaknya tanpa repot-repot mencari keberadaan perempuan mungil itu. Mungkin dibalik kesialannya hari ini tersimpan sebuah keberuntungan, pikir Chanyeol.

Perempuan itu duduk tepat di depan Chanyeol. Membuat Chanyeol mau tak mau harus selalu memandangi punggung mungil itu. Tubuh itu masih sama seperti 2 tahun yang lalu. Chanyeol jadi teringat saat-saat dimana ia selalu merengkuh tubuh itu ke dalam pelukannya ketika perempuan itu sedang merasa sedih atau tertekan. Memeluk bahu sempit itu posesif setiap mereka berjalan agar semua orang di dunia tahu bahwa hanya Park Chanyeol lah yang memiliki Kim Sohyun. Namun kenangan hanya tinggal kenangan. Chanyeol menghela napasnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh semua kenangan mereka. Mencoba fokus pada pelajaran kali ini dan fokus pada sosok setan kecil yang ia rindukan.

"Yeol? Kenapa kau terus memandangi anak baru itu?" bisik Luhan yang kebingungan melihat Chanyeol yang terus memandangi punggung si anak baru Sohyun. Melihat Chanyeol yang terus menerus menghela napasnya membuat Luhan berpikir pasti ada yang tak beres dari laki-laki bertelinga lebar di sampingnya.

"Mantan pacarku, bukankah dia cantik?" ucap Chanyeol singkat sambil menunjuk Sohyun dengan dagunya.

Luhan mengikuti arah pandangan Chanyeol. Ia hampir menjerit kalau saja Chanyeol tidak sigap untuk membekap mulutnya. Bisa-bisa mereka berdua akan dikeluarkan dari kelas karena berbuat onar saat jam pelajaran. Luhan menangkis tangan besar Chanyeol dan memukul kepala laki-laki berkacamata itu. "Cantik?! Kau gila! Ingat Baekhyun!" ujar Luhan dengan nada meninggi tidak terima.

Chanyeol menyipitkan matanya menatap Luhan kesal. Apa salahnya memuji seseorang? Memuji bukan berarti mempunyai perasaan lebih kan? Batin Chanyeol. Sedetik kemudian, jam pelajaran mereka berubah menjadi sesi tanya jawab yang dipimpin oleh Luhan. Luhan tidak percaya jika Sohyun yang sudah menghilang selama hampir 2 tahun bertemu lagi dengan Chanyeol dengan cara yang tidak disengaja. Luhan pun juga baru mengetahui jika Chanyeol seorang biseksual. Laki-laki cantik itu terus menyerang Chanyeol dengan berbagai pertanyaan, mencoba mengulik masa lalu Chanyeol dengan detail.

Chanyeol dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan Luhan, selain itu ia juga menceritakan beberapa kisah masa lalunya pada Luhan. Walaupun mempunyai banyak teman di sekitarnya, tapi ia tak pernah terbuka pada mereka. Chanyeol ingin terbuka pada Luhan, menceritakan isi hatinya yang selalu ia pendam kemana pun ia pergi. Hanya Luhan dan Baekhyun yang tahu semuanya.

"Kau tahu, aku seperti ini karena dia. Berpenampilan seperti ini berharap suatu saat dia bisa melihatku menjadi lebih baik, mencoba menata hidupku yang berantakan. Mencoba menjadi pangeran yang selalu dia impikan.."

"Apa Baekhyun tahu semua ini?!" tanya Luhan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya setengah tak percaya dengan cerita Chanyeol. Ia geram bukan main karena Chanyeol menyembunyikan ini semua dari sahabatnya. Chanyeol terdiam dan menjawab dengan suara yang sangat pelan. "Dia tahu, tapi tidak semua."

Ya, sebenarnya Chanyeol takkan pernah menceritakan alasan mengapa ia menjadi seperti sekarang pada Baekhyun. Jika Baekhyun tahu Chanyeol berubah karena masih mengharapkan Sohyun akan datang padanya suatu saat, ia akan terluka. Chanyeol yang dulu hanyalah anak ingusan yang selalu penasaran dengan hal-hal baru. Chanyeol yang dulu bisa dibilang bukan anak yang baik-baik, namun ia masih bisa mengukir prestasi. Ia tergolong anak yang kurang memperhatikan nilai-nilainya di sekolah karena terpaku pada hobi basket dan band yang ia miliki.

Chanyeol jadi teringat saat Sohyun selalu mengomentari nilai-nilainya, menasihatinya, dan sesekali memberikannya pelajaran tambahan. Perempuan itu tak pernah menyukai laki-laki urakan, tapi Chanyeol adalah pengecualian. Sohyun kecilnya akan selalu mengomel padanya di telepon saat Chanyeol pulang larut karena terlalu asyik bermain dengan teman-temannya di studio band mereka. Atau saat nilai ujian Chanyeol tak pernah mencapai angka 7. Walaupun perempuan itu terkadang menjadi pendiam dan kaku, Chanyeol sangat menyayangi perempuan itu.

Namun Sohyun juga lah yang membuat hatinya terluka..

Kriiiiiiinggg

Bunyi bel pulang sekolah itu menyadarkan lamunan Chanyeol. Ia bahkan tak menyadari apa saja yang Kim seonsaengnim jelaskan sedari tadi. Raga Chanyeol memang berada di sana, namun pikirannya melayang-layang memikirkan perempuan mungil itu. Ia segera membereskan buku-bukunya bergegas menemui pacar kesayangannya.

"Kau tidak pulang?" tanya Chanyeol saat melewati bangku Sohyun. Perempuan itu melirik sekilas ke arah Chanyeol dan menggeleng pelan cepat. Chanyeol menghela napasnya melihat Sohyun hanya fokus pada ponselnya. Mungkin ia akan dijemput oleh supirnya, pikir Chanyeol. Dengan berat hati Chanyeol meninggalkan Sohyun sendirian di kelas mereka.

Chanyeol melangkahkan kaki menuju kelas laki-laki mungilnya. Melihat lorong kelas 2 sudah sepi dan tak ada orang, Chanyeol segera memutar langkahnya meninggalkan lorong itu. Ia merutukki nasib kelasnya yang selalu pulang lebih lama dibandingkan kelas lain. Pasti Baekhyun sudah pulang pikirnya. Baekhyun adalah siswa yang alergi berlama-lama di sekolah. Chanyeol mengecek ponselnya, tetapi tak ada pesan yang masuk dari pacarnya itu. Biasanya Baekhyun selalu mengabarinya jika ia akan pulang. Apakah Baekhyun marah dengan sikapnya tadi pagi?

Laki-laki berkacamata itu mendadak lesu. Batal sudah rencananya untuk mengajak Baekhyun makan es krim kesukaannya bersama-sama. Ia melangkahkan kakinya malas menuju halte bus. Hatinya mendadak kosong. Baru pertama kali Baekhyun meninggalkannya. Ia merindukan tawa Baekhyun, merindukan ekspresi merajuknya, merindukan genggaman tangan mungilnya saat mereka berjalan menuju halte bus. Chanyeol hampir lupa kapan terakhir kali mereka pulang bersama dan itu membuatnya merasa sangat sedih. Ternyata banyak waktu yang ia lewatkan tanpa kehadiran Baekhyun.

"Sayang?"

Chanyeol terperanjat saat melihat Baekhyun dengan tatapan kosong berdiam diri di bangku Baekhyun tak menyadari keberadaan Chanyeol. Ia menengadahkan kepalanya mencari sumber suara tersebut dan tersenyum kecut. Kemudian Baekhyun kembali menyandarkan kepalanya pada tiang yang ada di sebelahnya. Berkali-kali menghela napasnya pelan.

"Maafkan aku, Yeol. A-aku tidak bermaksud mengganggumu.. maafkan aku.." lirih Baekhyun dengan suara tercekat. Baekhyun meremas ujung kemeja, ia benar-benar takut. Baru kali ini Chanyeol bersikap dingin padanya. Ia tahu jika perbuatannya salah, namun ia tidak menyangka reaksi pacarnya akan seperti itu. Chanyeol selalu bersikap manis padanya, bahkan Chanyeol tak pernah mengumpat saat bersama Baekhyun.

"Hey, tidak apa-apa sayang, jangan menangis. Maaf jika aku kasar, tapi aku tidak bermaksud membuatmu takut."

Chanyeol merasa seperti orang yang sangat brengsek melihat tubuh Baekhyun berguncang menahan tangis. Ia tahu Baekhyun adalah laki-laki yang sensitif, perasaannya sangat rapuh. Kemudian ia berjongkok di depan Baekhyun, menengadahkan kepalanya melihat wajah Baekhyun yang memerah karena menahan tangis –walaupun tangisannya tetap pecah saat melihat Chanyeol. Ia mengambil kedua tangan Baekhyun dan menciuminya lembut. Ia menciumi setiap jari-jari lentik Baekhyun sambil menggumamkan kata-kata maaf. Melihat tatapan terluka Baekhyun seakan membunuhnya perlahan.

"Hiks.. m-maaf.. berhenti bersikap d-dingin.. Chan.. hiks.. aku takut.." ucap Baekhyun terbata-bata karena tangisannya yang semakin deras. Wajahnya penuh dengan keringat dan airmata. Benar-benar seperti anak kecil.

Chanyeol bangkit dan menumpukan lututnya di tanah, menyejajarkan wajahnya pada wajah Baekhyun. Ia sedikit terkekeh melihat wajah Baekhyun saat menangis, seperti anak kecil yang sangat menggemaskan. Chanyeol menangkup kedua pipi Baekhyun dan menghapus air mata yang memenuhi sudut wajah Baekhyun. Melihat apa yang dilakukan Chanyeol, perlahan tangisan Baekhyun mereda dan digantikan oleh semburat merah di pipinya. Sudah berbulan-bulan mereka menjalani hubungan, namun Baekhyun tak pernah bisa menahan rasa malunya melihat Chanyeol dalam jarak sedekat ini.

"Jangan menangis, sayang. Aku sudah tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan lagi, oke?

"Mmmm"

"Sebagai permintaan maafku, maukah kau menerima ajakan pangeran Park untuk membeli es krim di kedai sebrang sekolah, putri Byun yang manis?" tanya Chanyeol sambil menawarkan telapak tangannya dan berlutut seperti seorang pangeran melamar putri raja di istana. Ia memasang ekspresi merajuk persis seperti yang selalu Baekhyun lakukan padanya. Tersenyum usil bermaksud menggoda laki-laki kesayangannya itu.

"Yaaaa! Aku bukan perempuan, hentikan itu Yeol." pekik Baekhyun tak terima. Sedetik kemudian tawanya pecah melihat akting gombal Chanyeol yang menjijikkan. Ia menangis lagi karena cara Chanyeol membujuknya begitu murahan, tetapi kedua pipinya terus menerus memerah dibuatnya. Ia menyambut tangan Chanyeol dengan perlahan dan berdiri bersama Chanyeol dengan senyuman yang sangat lebar. Baekhyun nya telah kembali. Chanyeol merangkul bahu sempit Baekhyun dan berjalan menyebrangi jalan menuju kedai es krim yang ia maksud. Persetan dengan para siswa yang sedari tadi menonton adegan mereka, ia hanya ingin seluruh dunia tahu jika ia sudah menemukan seseorang yang tepat. Yang akan terus mengisi hari-harinya dengan tawa dan kebahagiaan.

.

.

.

.

.

Chanyeol benar-benar tidak mengerti dengan perubahan mood Baekhyun yang sangat cepat. Baru beberapa menit ia menangis seakan dunia hampir runtuh, sekarang laki-laki mungil itu melompat-lompat kegirangan persis siswa taman kanak-kanak saat sampai di pintu masuk kedai es krim. Ia terus menarik tangan Chanyeol dan merajuk di depan ahjussi penjaga kedai tersebut. Laki-laki paruh baya itu terus menahan tawanya melihat Chanyeol yang terus tersenyum kikuk padanya.

"Aku ingin rasa strawberry dengan choco chips, oppa.. boleh kan?"

Chanyeol hampir tersedak liurnya sendiri saat Baekhyun memanggilnya dengan sebutan 'oppa'. Terlebih lagi si mungil itu terus mengeluarkan aegyo andalannya. Chanyeol menggigit bibirnya, mengalihkan pandangannya pada wajah ahjussi itu. Ia hanya takut terangsang di tempat yang tidak tepat.

"A-aku.. pesan 1 strawberry dengan tambahan choco chips d-dan 1 cho.. choco mint" ucap Chanyeol tergagap. Ahjussi itu terkekeh melihat sepasang laki-laki di hadapannya. Ia bahkan membisikkan kata 'Fighting' pada Chanyeol sambil mengedipkan sebelah matanya.

Setelah membayar es krim-es krim itu, Chanyeol mengajak Baekhyun untuk sekedar berjalan-jalan di pinggir trotoar sembari memakan es krim mereka. Jantung Chanyeol mendadak berdebar kembali, seperti mengajak Baekhyun kencan untuk yang pertama kalinya. Bahkan ini hanya sekedar makan es krim, namun Chanyeol merasa ia jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya melihat binar di mata Baekhyun yang sedang menikmati es krimnya.

Baekhyun begitu manis dan menggemaskan. Chanyeol tak pernah melihat ekspresi Baekhyun ketika marah, laki-laki mungil itu tak pernah marah pada apapun yang dilakukan Chanyeol. Paling tidak ia akan merengut seharian ingin dimanja. Meskipun terkadang Chanyeol kewalahan membujuk Baekhyun nya yang sedang merengut seperti itu. Sangat keras kepala.

"Kau makan seperti anak kecil, sayang. Apa kau sedang memancingku untuk membersihkan es krim itu dengan bibirku yang seksi ini?" goda Chanyeol yang melihat sebagian es krim merah muda itu mengotori sudut bibir Baekhyun.

"T.. tidak! Ini jalan raya, Yeol, mana mungkin aku memancingmu berbuat seperti itu. Apa kata orang nantinya melihat siswa teladan sepertimu menciumku?" elak Baekhyun sambil membersihkan sisa-sisa es krim yang menempel di bibir dengan lidahnya. Baekhyun tidak menyadari jika sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan gerak-gerik lidahnya. Menatap bibir basah itu dengan tatapan lapar. Baekhyun tidak mengetahui jika dirinya dalam bahaya.

"Aku tidak main-main dengan ucapanku, sayang"

Sedetik kemudian Chanyeol meraup bibir mungil Baekhyun tanpa ampun. Menarik kerah blazer Baekhyun dan menjilati bibir basah nan menggoda itu. Rasanya berkali-kali lipat lebih manis, strawberry dan Baekhyun merupakan perpaduan yang sangat luar biasa. Lidah Chanyeol begitu lihai menari-nari di atas bibir Baekhyun membuat bibir mungil itu semakin basah. Sesekali Chanyeol menghisap pelan kedua belah bibir itu untuk mengecap rasa manis yang masih menempel disana.

Tidak peduli jika banyak siswa sekolah mereka yang sedang berlalu lalang berhenti untuk mengambil gambar mesra mereka. Bahkan sesekali pengemudi mobil dan pejalan kaki merutukki aksi mereka. Mengatakan jika anak muda zaman sekarang tidak tahu tempat jika bermesraan.

"Mmph.."

Baekhyun tidak dapat menahan desahannya saat Chanyeol menarik pinggangnya mendekat dan mengelus-elus tulang pinggulnya dari luar celana. Chanyeol benar-benar terangsang, tetapi Baekhyun tak tahu harus berbuat apa. Ia ingin mendorong Chanyeol agar menyudahi perbuatannya, namun bibir Chanyeol mengunci bibirnya dengan lumatan yang sangat tidak sabar. Baekhyun merasa ngilu di bibirnya karena Chanyeol terus mengemut bibirnya tanpa ampun. Ia takut jika ada guru yang memergokki perbuatan mereka. Ia tidak mau memberikan pengaruh buruk bagi Chanyeol.

Berkali-kali Baekhyun mencoba mendorong tubuh Chanyeol, namun laki-laki itu malah mencengkram pergelangan tangannya dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Chanyeol. Baekhyun berjinjit dan meremas rambut bagian Chanyeol. Mau tak mau ia menikmati ciuman panas pacarnya itu.

"Yeol!" pekik Baekhyun saat Chanyeol melepaskan ciuman mereka. Ia memukul dada Chanyeol cukup keras. Chanyeol benar-benar tidak tahu tempat, ia sama sekali tidak memikirkan imejnya sebagai siswa teladan. Chanyeol terkekeh pelan sambil menciumi punggung tangan Baekhyun. Ia benar-benar suka mendaratkan bibir nya pada kulit Baekhyun.

Baekhyun menyadari ada seorang perempuan berseragam yang sama seperti mereka berhenti tepat di belakang Chanyeol, terpaku memandangi mereka. Baekhyun memincingkan matanya mencoba mengenali siapa perempuan itu. Pasalnya, Baekhyun tak pernah melihat perempuan mungil dengan poni menutupi seluruh dahinya itu di sekolahnya, namun wajahnya cukup familiar. Penasaran dengan apa yang diperhatikan Baekhyun, Chanyeol menoleh ke belakang dan mendapati dirinya hampir terkena serangan jantung.

"S-sohyun?!" pekik Chanyeol sambil mendorong tubuh Baekhyun menjauh dengan cukup keras, hingga laki-laki mungil itu nyaris kehilangan keseimbangannya. Wajah Chanyeol menunjukkan ekspresi ketakutan dan rasa bersalah. Ia benar-benar tidak menyangka jika Sohyun memperhatikan mereka sedari tadi. Tapi untuk apa Chanyeol merasa bersalah? Sohyun sudah tidak mempunyai hubungan dengannya, namun Chanyeol benar-benar merasa gugup dan takut Sohyun akan berpikir yang tidak tidak.

"I-ini tidak seperti yang kau pikirkan." Ucap Chanyeol meyakinkan.

"Maaf ku pikir aku mengambil jalan yang salah. Maaf sudah mengganggu kalian berdua." Ucap Sohyun sambil membungkuk, lalu meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun menuju mobil jemputannya yang terparkir di depan kedai es krim. Chanyeol bisa melihat ekspresi terkejut yang terpancar di wajah Sohyun dan ada semacam perasaan terluka disana. Entahlah, rasanya Chanyeol ingin mencegat perempuan itu, menjelaskan padanya apa yang terjadi. Chanyeol sudah berusaha memperbaiki imejnya menjadi lebih baik sekarang dan pasti Sohyun akan berpikir Chanyeol sama saja dengan yang dulu.

Baekhyun tak bisa mencerna apa yang terjadi, hanya bisa diam. Ia memperhatikan raut wajah Chanyeol yang berubah saat melihat perempuan itu. Hatinya mencelos mengingat saat Chanyeol mendorong tubuhnya, seakan-akan Chanyeol tak ingin perempuan itu melihat kemesraan mereka. Apa salahnya memang? Bukankah ia dan Chanyeol adalah sepasang kekasih? Sudah sepantasnya mereka melakukan hal itu. Hatinya lebih teriris saat melihat Chanyeol memandangi langkah perempuan itu hingga menjauh.

Baekhyun menggigit bibirnya dan merapikan seragamnya. Ia melangkah meninggalkan Chanyeol dengan langkah yang cepat. Baekhyun mengerti siapa perempuan itu sekarang. Pantas saja Baekhyun merasa familiar dengan wajah itu.

Wajah yang sama dengan wajah dalam foto polaroid Chanyeol..

Cinta pertama Chanyeol..

Baekhyun terkejut, tak pernah tahu jika perempuan itu bersekolah di tempat yang sama dengan mereka. Apa ia memang takdir Chanyeol yang tidak bisa dipisahkan? Baekhyun benci melihat tatapan mata bersalah Chanyeol. Ingin rasanya ia menarik tangan Chanyeol pergi dari sana. Perempuan itu benar-benar merusak suasana mereka.

"Baek?! Kau mau kemana?"

Menyadari Baekhyun sudah meninggalkannya, Chanyeol berlari mengejar laki-laki mungil nya yang tengah menunggu lampu merah untuk menyebrang. Chanyeol benar-benar seperti orang yang tolol. Bisa-bisanya ia meninggalkan Baekhyun yang sedang membutuhkannya. Lagi pula kenapa Sohyun harus melewati jalan itu? Kenapa Sohyun harus mengacaukan harinya? Kenapa Sohyun harus datang hingga membuat pikiran dan hatinya menjadi bercabang? Chanyeol benar-benar tidak mengerti ada apa dengan dirinya.

Baekhyun setengah berlari saat melihat bus dengan tujuan menuju rumahnya berhenti. Persetan dengan kebodohan Chanyeol, ia benar-benar ingin menangis sekarang. Ia merasa Chanyeol masih memiliki secuil perasaan pada perempuan sialan itu.

"BAEK, TUNGGU AKU!" Chanyeol berteriak saat melihat Baekhyun menaiki bus itu hingga bus itu melaju di hadapannya. Ia bisa melihat Baekhyun menatapnya dengan tatapan terluka dari balik jendela. Ia tahu jika Baekhyun menahan tangisnya.

Chanyeol merasa sangat tolol, dungu, bodoh, apapun itu. Ia yang sedari tadi berusaha mengembalikan mood Baekhyun, mencoba memanjakan laki-laki mungilnya itu, tetapi ia sendiri yang menghempaskan Baekhyun begitu saja. Ia merasa jika hari-harinya ke depan akan berkali-kali lipat lebih berat. Ia begitu mencintai Baekhyun dan ingin selalu membahagiakan Baekhyun.

Tapi kenapa Sohyun datang dan hampir meruntuhkan pertahanannya?

.

.

.

.

.

to be continued


Apa reaksi Baekhyun selanjutnya? Gimana perasaan Chanyeol ke Sohyun?

MIANHAE LATE UPDATEL saranghaeeeee semuaaa :3 ayo dong review lagi biar makin seru wkwkwk mau liat reaksi kalian reader-nim J tapi thanks buat semuanya ya.. chapter depan lebih banyak konflik huhu ^^ /smirk/

PSSST : saya lagi bikin ff chanbaek GS pedo lil bit kinky, doain ya^^

DON'T FORGET T REVIEW, FAVORITE, AND FOLLOW YEAAAAAH :*