Caption : My Geeky Boy Chapter 7

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Sohyun, Xi Luhan, Oh Sehun, Kim Yerim (RV), and other cast

Genre : Drama, Romance, School life, Smut

Rating : M

Playing : SHINee - Selene 6.23 (The Distance Between Us)

Foreword : Saya ga ngangka chapter kemaren respon nya begitu besar reviewan isinya ngehujat chanyeol semua HaHaHa memang itu yang saya harapkan! /smirk/? saya suka bikin chanyeol jadi romantis tapi brengsek ; /dipukul baek/ THANKS YA BUAT SEMUA REVIEW, FOLLOW, DAN FAVORITENYA!^^

Kemaren ada yang nanya chapter 6 kok pendek bgt? emang pendek cuma 3000an words :/ soalnya kadang ngehubungin 1 chapter ke chapter selanjutnya tuh susah.. dan saya ngerjain 1 chapter bisa 3 hari karena mood2an XD once again, SAYA SUKA PCY DIBASH DIREVIEWAN ITU ARTINYA FF SAYA LUMAYAN BERHASIL (?) ;')

Happy reading^^

chapter ini isinya kelanjutan hubungan chanbaek dan kejutan!


"Though I extend my hand, though I extend it with all my strength,

I can't reach you..

It seems like I got closer, so I called you with a fluttering heart..

But there's no answer.

I was with you every night (we were together),

But I can't approach you.."

.

.

.

.

.

BLAAAMMMM

"Ya.. baby kenapa kau pulang telat? Ada kerja kelompok? Ayo makan dulu!" teriak eomma Baekhyun dari dapur saat melihat anak bungsu kesayangannya itu pulang. Namun laki-laki berambut ungu itu hanya diam dan berjalan melewati sang eomma sambil menutup sebagian wajahnya. Ia bergegas naik menuju kamar tidurnya. Membanting pintu kamarnya keras-keras dan menelungkupkan tubuhnya di atas kasur strawberry kesayangannya tanpa membuka semua seragam nya.

"Hiks.. bodoh.." Baekhyun menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut bergambarkan strawberry raksasa di tengahnya. Ia menangis lagi, benar-benar terisak hingga dadanya sesak. Ia menangisi nasibnya dan kebodohan Park Chanyeol. Baekhyun benar-benar merasa jatuh sekarang.

Perempuan itu pernah menjadi segalanya untuk Chanyeol, dan kini ia bisa bertatap muka dengannya. Kalau Baehyun tidak salah nama perempuan itu adalah Sohyun. Melihat perempuan itu secara langsung membuat dirinya merasa sangat payah. Perempuan itu menggemaskan, cantik, dan sangat sopan. Apalagi jika disandingkan dengan Chanyeol. Ia pikir dirinya bukanlah apa-apa dibanding perempuan itu. Baekhyun benar-benar seorang pecundang.

"Chan.. hiks.. kau jahat.. bodoh.. laki-laki sialan! Idiot!" pekik Baekhyun sambil memukul-mukul boneka beruang putih pemberian Chanyeol dengan bertubi-tubi. Baekhyun terus menangis hingga eyeliner yang menempel di kedua matanya luntur dan meninggalkan bekas kehitaman di pipinya. Sangat jelek dan menyedihkan. Belum lagi cairan kental yang meluncur dari kedua lubang hidungnya menambah kesan menjijikkan di wajahnya.

Baekhyun merogoh-rogoh ponselnya dari kantung celananya. Tak ada pesan ataupun telepon dari Chanyeol. Satu kebodohan Chanyeol yang paling ia benci, laki-laki itu sama sekali tak ada niatan untuk mencari dan meminta maaf pada Baekhyun. Chanyeol adalah orang yang sangat tidak peka menurut Baekhyun. Baekhyun harus selalu mengatakan apa yang ia mau karena Chanyeol tak akan pernah berniat mencari tahunya.

Bruuuukk

Baekhyun membanting ponselnya ke dinding hingga beberapa bagiannya terlepas saat melihat wallpaper di ponselnya. Foto Chanyeol yang memeluknya dari belakang dan mencium bibirnya dengan keadaan bertelanjang dada. Foto itu diambil setelah mereka bercinta di rumah Chanyeol, dan penampilan Chanyeol yang berantakan merupakan titik lemahnya. Ia ingin berteriak histeris karena setiap benda di kamarnya mengingatkannya dengan pacarnya yang bodoh itu. Semuanya tentang laki-laki itu.

"Hiks.. aku merindukanmu bodoh.. kenapa perempuan sialan itu kembali lagi?! Aku benciiiiiii!" pekik Baekhyun sambil memeluk boneka beruang itu. ia menenggelamkan wajahnya di dada boneka itu, membiarkan suara teriakkannya teredam benda berbulu itu. Ia benar-benar ingin menghajar kepala Chanyeol yang pintar namun idiot itu.

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya cepat mengusir pikiran-pikiran negatif yang tiba-tiba muncul di benaknya. Baekhyun adalah tipe orang yang selalu takut akan hal-hal yang belum terjadi, terlalu panik, dan cepat curiga. Ia berpikir jika Chanyeol akan melihat perempuan itu lagi dan jatuh cinta lagi pada perempuan yang hampir sempurna itu. Logikanya untuk apa Chanyeol menyukai laki-laki binal tanpa kemampuan spesial saat ia bisa memiliki perempuan cantik dan cerdas seperti Sohyun? Terlebih Baekhyun adalah seorang laki-laki. Bukankah lebih nikmat bercinta dengan perempuan, makhluk dengan tubuh yang menawarkan segalanya?

Bayang-bayang Chanyeol tertawa lepas saat bersama Sohyun menari-nari seolah mengejeknya. Bagaimana jika selama ini Chanyeol tak pernah merasa bahagia dengannya?

Bagaimana jika selama ini Baekhyun hanya dijadikan pelarian oleh Chanyeol?

Bagaimana jika Chanyeol masih menginginkan Sohyun?

Bagaimana jika Chanyeol perlahan meninggalkannya?

Atau bahkan di belakang Baekhyun, laki-laki itu menghubungi Sohyun dan menjalani hubungan diam-diam?

"ANDWEEEEEEEEEEE!"

.

.

.

.

.

Tok tok tok..

"Ah kau mencari siapa anak muda? Apa kau ingin menagih hutang-hutang Baekbeom? Ah anak itu benar-benar pembuat onar! Padahal setiap bulan aku sudah memberinya uang saku tapi apa dia tidak pernah merasa cukup? Ayo silahkan masuk.."

Laki-laki jangkung itu menggaruk tengkuknya pelan. Belum sempat ia memberi tahukan maksud kedatangannya lantaran wanita paruh baya –namun masih terlihat modis itu terus mengoceh tentang kelakuan anak laki-laki tertuanya. Bahkan ia tak sempat menghentikan langkah wanita itu yang sedang membuatkan jus jeruk untuknya. Sembari menunggu wanita itu, ia mengecek ponselnya sebentar. Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Sebenarnya ia takut akan mengganggu sang pemilik rumah, namun ia harus datang untuk menyelamatkan hubungannya yang sedang menegang.

Kemudian wanita paruh baya itu datang dengan segelas jus jeruk di tangannya. "Berapa uang yang Baekbeom pinjam padamu, nak?" tanya wanita itu.

"S-sebenarnya saya ingin mencari Baekhyun, Eommonim. S-saya ingin mengambil catatan fisika yang kemarin dipinjam" kata laki-laki itu, Chanyeol, sambil mengeluarkan senyum kikuknya. Tentu saja ia berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan ingin bertemu pacar kesayangannya, Baekhyun, di depan eommanya. Bisa-bisa wanita paruh baya itu akan mengamuk dan menampar pipi Chanyeol yang notabenenya adalah seorang laki-laki. Sedetik kemudian wanita yang diketahui adalah eomma Baekhyun itu tertawa dan memukul-mukul bahu Chanyeol. Tipikal ibu-ibu yang ingin akrab dengan teman anaknya.

"Dia ada di atas, tapi sepertinya dia sedang ada masalah. Ia tidak mau makan dan wajahnya ditekuk saat sampai ke rumah! Benar-benar manja sekali anak itu.. kalau dia sudah tidur bangunkan saja." Ucap eomma Baekhyun panjang lebar. Chanyeol terus mengangguk dan tersenyum menanggapi ocehan eomma Baekhyun. Baekhyun dan eommanya benar-benar mirip, sama-sama banyak berbicara dan sangat ceria. Terbukti eomma Baekhyun menyambutnya dengan senyum yang terukir di wajah nya yang mulai menua namun tetap cantik.

Chanyeol melangkahkan kakinya pelan menyusuri anak tangga yang akan membawanya ke kamar tidur Baekhyun. Jantungnya berdetak puluhan kali lebih cepat, takut jika Baekhyun akan menendang pantatnya dan mengusirnya keluar karena telat meminta maaf. Ia merasa sangat bersalah saat mendengar penuturan eomma Baekhyun bahwa pacar mungil nya itu tidak mau makan dan mengurung diri di kamar sejak pulang sekolah.

Namun ia lebih takut jika penis kesayangannya mendadak bangun saat ia berada di kamar Baekhyun. Masalahnya hanya ia dan Baekhyun berdua di dalam sana dan kamar adalah tempat yang sangat 'berbahaya' bagi mereka. Ia tidak mau menerkam Baekhyun hidup-hidup hingga berakhir di ranjang di saat Baekhyun menganggap dirinya laki-laki brengsek. Chanyeol ingin melakukannya dengan cinta.

Chanyeol berjalan menuju pintu kamar Baekhyun dengan mengendap-endap. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar berwarna hitam itu. Persetan dengan mengetuk pintu, ia ingin memberikan kejutan bagi laki-laki mungilnya. Begitu memasukki kamar itu, Chanyeol terdiam memandangi tubuh Baekhyun yang sedang berbaring membelakanginya. Suara isakkan terdengar pelan dan tubuh Baekhyun berguncang karena tangisannya.

Laki-laki jangkung itu mendekati ranjang Baekhyun, mencoba berbaring di samping Baekhyun. Hatinya benar-benar teriris dan sakit melihat Baekhyun menangis. Sudah berkali-kali Baekhyun menangis hari ini dan itu semua karena kebodohan seorang Park Chanyeol. Baekhyun benar-benar rapuh, namun Chanyeol hanyalah manusia biasa yang sedang belajar memahami dan mengerti perasaan pacar mungilnya itu. Bukan manusia namanya jika tidak berbuat salah.

"Sayang, maafkan pacarmu yang bodoh ini.." bisik Chanyeol sambil memeluk tubuh mungil Baekhyun dari belakang. Menciumi rambut keunguan itu dengan lembut dan melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Baekhyun. Bahkan pacarnya itu tidak mengganti seragamnya.

Tubuh Baekhyun menegang dalam dekapan Chanyeol. Ia terkejut bukan main saat mendengar suara bass yang ia benci sekaligus ia rindukan. Baekhyun bingung sejak kapan Chanyeol ada di kamarnya? Atau ia hanya berhalusinasi karena terlalu banyak menangis? Tidak tidak tidak! Chanyeol tak akan pernah repot-repot datang ke rumahnya hanya untuk meminta maaf. Oh jangan katakan Chanyeol melihatnya menangis sedari tadi...

"Hey, ini aku sayang. Aku tahu aku begitu bodoh sampai berbuat seperti itu. Percayalah, aku hanya terkejut saat melihat Sohyun. Aku tidak bermaksud menyakitimu, sayang. Maafkan aku..."

Mendengar penjelasan Chanyeol, Baekhyun membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Chanyeol. Chanyeol terkejut saat melihat wajah Baekhyun yang memerah dan bengkak, serta matanya yang sembab. Belum lagi eyelinernya yang mengotori setengah wajahnya. Membuat Chanyeol tak tahan untuk menghapus air mata Baekhyun dengan ibu jarinya.

"Jangan sentuh aku!" pekik Baekhyun kesal dan menangkis tangan Chanyeol yang hampir mendarat di wajahnya dengan kasar. Ia menatap laki-laki berkacamata itu sinis. Tak ada raut wajah merengut, tak ada nada manja, tak ada bibir mungil yang mengerucut. Baekhyun benar-benar marah dan kecewa. Chanyeol hanya terdiam bersalah menunggu Baekhyun melanjutkan kata-katanya.

"Kau itu pintar akademik tapi tidak mengerti cara memperlakukan pacar dengan benar! Berapa IQ mu hah?! Lalu apa itu.. kau tidak ingin Sohyun melihat KITA? Apa kau masih mengharapkan Sohyun kembali padamu?! Dasar laki-laki serakah! Aku benciiiiii!"

"Maafkan aku.."

"Aku benci perempuan jalang itu! Kau mencampakanku saat melihatnya, pacarmu itu aku atau dia, hah?!"

"Sohyun bukan jalang, Byun Baekhyun!" ucap Chanyeol geram saat Baekhyun memanggil Sohyun dengan sebutan 'jalang'. Sohyun anak baik-baik, ia tak pernah sedikit pun memberi pengaruh negatif pada Chanyeol. Kecuali rasa sakit yang perempuan itu tinggalkan di lubuk hati Chanyeol.

"Kau membelanya, kau tidak mencintaiku lagi! Apa dia menidurimu hingga kau seperti ini?" Baekhyun memukul-mukul dada Chanyeol dengan kencang untuk meluapkan emosinya sampai Chanyeol terbatuk-batuk dibuatnya. Laki-laki mungil itu juga menendang-nendang kaki Chanyeol hingga nyaris terjatuh. Baekhyun juga laki-laki, kekuatannya tidak perlu diragukan. Dengan sekuat tenaga Chanyeol menahan kedua tangan Baekhyun. Ia menatap tajam mata Baekhyun yang disambut dengan tatapan yang lebih galak dari Baekhyun.

"Maafkan aku, aku tidak memihak siapapun. Ku mohon jangan keras kepala seperti ini!" ucap Chanyeol dengan nada yang ikut meninggi. Entah kenapa ia tidak bisa menjawab semua perkataan Baekhyun. Pikirannya bercabang dan tidak fokus. Chanyeol menghela napasnya kasar sambil mengusap wajahnya dengan tangannya.

"Kau jahat! Apa kau masih mencintaiku setelah perempuan itu kembali lagi ke kehidupanmu?! Jawab aku, Park Chanyeol!"

"Baek! Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Aku bilang aku minta maaf!"

Baekhyun menggeleng pelan dan memejamkan matanya. Ia tidak mau melontarkan kata maaf untuk Chanyeol sampai Chanyeol berbuat sesuatu, tidak hanya sekedar ucapan 'maaf'. Baekhyun terus diam hingga Chanyeol menghela napasnya berat. Sedetik kemudian Chanyeol mengambil posisi menindih Baekhyun dan sukses membuat si mungil terperanjat.

"A.. apa yang kau lakukan?!" pekik Baekhyun saat Chanyeol mulai membuka kancing-kancing seragamnya. Bahkan Chanyeol merobek kemeja itu karena tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

"Membuatmu memaafkanku." Ucap Chanyeol datar. Ia mulai mengunci bibir Baekhyun yang siap melontarkan kata-kata pedas dengan bibirnya. Melumat dengan tidak sabar dan menghisap kedua bibir itu bergantian. Sementara Baekhyun meronta-ronta di bawahnya persis seperti korban pemerkosaan. Baekhyun mencoba menendang-nendang penis Chanyeol dengan kedua lututnya, namun laki-laki yang besar dalam semua aspek itu dengan sigap menindih kedua kaki Baekhyun dengan bokongnya.

Bibir Chanyeol terus 'memakan' bibir mungil Baekhyun dengan rakus. Ia mencoba mendesak belahan bibir Baekhyun dengan lidahnya, memasukki mulut hangat kekasihnya itu. Lidah Chanyeol menelusuri rongga mulut itu hingga menjilati langit-langit nya. Chanyeol menahan tangan Baekhyun ke atas dengan cengkraman yang sangat kencang.

Baekhyun terus meronta dalam ciuman mereka. Ini bukan seperti yang ia harapkan dari Park Chanyeolnya. Baekhyun ingin bercinta, ingin dibuai dengan permainan Chanyeol, bukan sekedar paksaan tanpa perasaan seperti ini. Baekhyun ingin Chanyeol memanjakannya dan membuat dirinya memaafkan Chanyeol dengan tulus.

"L.. lepaskan aku! Aku tidak mau!" pinta Baekhyun hampir menjerit saat Chanyeol menjilati leher Baekhyun dengan tergesa-gesa. Tangan besar Chanyeol sibuk menggerayangi seluruh tubuh Baekhyun seperti pria-pria di klub malam. Walaupun tubuh Baekhyun meremang, otak dan hatinya mengatakan untuk menolak semua perlakuan Chanyeol.

Namun laki-laki jangkung itu hanya diam, tak mengindahkan permintaan Baekhyun. Ia sibuk membuka celana biru tua pacar mungilnya itu. Mendapati penis Baekhyun belum menegang sempurna, Chanyeol menggenggam batang penis itu dengan kuat dan mengocok dengan tempo yang sangat cepat.

"S.. sakithh, Yeolhh... ku mohonhh" lirih Baekhyun saat Chanyeol terus menarik-narik penisnya hingga memerah karena kesakitan. Mendengar suara Baekhyun yang kesakitan, membuat libido Chanyeol meningkat drastis. Suhu tubuhnya meningkat dan gerakan laki-laki itu seperti orang yang kesetanan. Ia tak tahu apa yang mengganggu pikirannya.

Chanyeol membalikkan tubuh Baekhyun dan mengangkat pantat Baekhyun tinggi-tinggi. Ia melepaskan kemeja yang masih menempel di tubuh Baekhyun dan menciumi punggung mulus Baekhyun. Tak jarang ia menjilat hingga menggigiti punggung putih itu. Baekhyun hanya bisa memejamkan matanya sambil mencengkram bantal yang ia tiduri. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat menahan emosinya yang akan membuncah menjadi tangisan. Ini bukan Chanyeolnya, Chanyeol nya selalu bermain lembut dan memprioritaskan perasaan Baekhyun di atas segalanya.

Kini Chanyeol telah menurunkan celana jeans nya dan mengocok penis yang sangat besar itu dengan tangannya. Ia menarik pinggul Baekhyun, mempertemukan ujung penisnya dengan lubang Baekhyun yang rapat. Tanpa aba-aba, Chanyeol menghentakkan penisnya hingga tenggelam ke dalam lubang merah itu. Dengan brutal Chanyeol menusuk-nusukkan penisnya pada kelenjar kelaki-lakian Baekhyun.

Baekhyun tak sanggup lagi. Perutnya yang belum diisi terasa campur aduk dan ia ingin muntah. "Hikss.. sakithh yeolhh.. ampunhh.. aku tak sangguphh" isak Baekhyun menahan perih lubangnya yang terus diserang oleh hujaman penis Chanyeol. Namun tak ada pelukan yang membuat ia nyaman, tak ada kecupan-kecupan menenangkan, tak ada kata maaf. Yang ada hanyalah monster yang ingin menikmati tubuhnya.

Mendengar isakkan Baekhyun, Chanyeol melayangkan tamparan pada pipi pantat Baekhyun dengan keras hingga meninggalkan ruam kemerahan. Semakin Baekhyun merintih, semakin Chanyeol mempercepat gerakkannya dan menanamkan kuku-kukunya pada kulit pinggul Baekhyun. Ia terus mempercepat hentakkannya, membuat lubang itu memerah lecet karena perbuatannya yang kasar.

Entah apa yang merasukki laki-laki itu. Chanyeol hanya merasa kalut, bingung, marah, dan kesal pada Baekhyun. Upaya nya jauh-jauh datang ke rumah Baekhyun untuk meminta maaf, namun disambut dengan kemarahan yang tak masuk akal menurut Chanyeol. Padahal Chanyeol sudah menurunkan ego nya, mencoba sabar, dan meminta maaf atas kejadian 'refleks' nya tadi sore. Malah Baekhyun memanggil Sohyun dengan sebutan yang tak pantas. Padahal perempuan itu tidak pernah menyakiti Baekhyun atau apapun.

"Sshh ahhh bertahanlahh.. bukankah kau menikmatinya, sayang?"

Chanyeol menggeram saat penisnya mulai berkedut hebat. Ia terus menampar pipi pantat Baekhyun agar si mungil itu mempercepat gerakan pinggulnya. Chanyeol terus menunggangi tubuh Baekhyun dengan liar hingga ia mencapai klimaks.

"Arghhh" desah Chanyeol sambil memejamkan matanya menikmati saat penisnya menyemprotkan cairan sperma di dalam Baekhyun. Baekhyun mengatur napasnya yang menderu karena dirinya juga mencapai klimaks, namun ia tidak menginginkan itu semua. Ia hanya ingin berada dalam dekapan hangat Chanyeolnya. Ia hanya ingin disayang dengan sepenuh hati.

"Hiks.. pergi..." tangis Baekhyun pecah saat ia mendorong Chanyeol keluar dari tubuhnya. Ia menarik selimut kesayangannya yang telah lusuh untuk menutupi tubuhnya. Baekhyun menatap Chanyeol dengan nanar. Ia tak dapat membendung tangisannya kali ini, Chanyeol benar-benar keterlaluan.

Sementara Chanyeol hanya duduk terpaku memandangi Baekhyun yang terus menangis dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Chayeol tak percaya dengan apa yang sudah ia lakukan. Ia mengacak rambutnya putus asa dan merapikan celana yang ia kenakan. Seperti tersadar dengan semuanya, Chanyeol mencoba mendekati Baekhyun. Hatinya perlahan mendadak ngilu mendengar tangisan itu, ia sama sekali tidak menyangka nafsu dan emosi menguasai tubuhnya dengan sangat cepat.

"B-baek.. m-maafkan aku.."

"Kau hebat hiks.. t-tidak perlu meminta maaf.. aku sudah memaafkanmu sebelum kau meminta maaf.." ujar Baekhyun dalam isakkannya. Chanyeol menunduk dan berjalan menuju pintu. Ia sadar bahwa perbuatannya lebih dari sekedar brengsek. Membiarkan seseorang menyakiti Baekhyun membuatnya seperti orang yang brengsek. Namun jika ia sendiri yang menyakiti laki-laki mungilnya, sebutan apa lagi yang pantas dilontarkan untuknya?

"Maafkan aku, Baek"

.

.

.

.

.

Sejak kejadian itu, Chanyeol tak pernah menghubungi Baekhyun hingga hari ujian tiba. Hampir 3 hari penuh Chanyeol dan Baekhyun tak pernah berbicara ataupun berkirim pesan. Selama itu juga Baekhyun mengurung diri di kamar, tidak akan keluar kecuali makan dan buang air. Setiap hari hanya menangis menangis, dan menangis. Menangisi nasib hubungannya, menangisi kebodohan Chanyeol, menangisi kebodohan dirinya sendiri yang tak akan pernah bisa marah pada Chanyeol. Walaupun Chanyeol seperti memperkosanya beberapa hari kemarin, tapi Baekhyun merindukan laki-laki tinggi itu.

"Baek, kau sehat? Wajahmu pucat dan matamu bengkak." kata Sehun yang sedang mendudukkan bokongnya di kursi. Ia heran melihat Baekhyun sudah datang sepagi ini dan hanya meletakkan kepalanya di atas meja. Benar-benar mengkhawatirkan.

"Aku hanya sedikit pusing, Hun. Tidak apa-apa. Oh iya, apa kau sudah belajar? Aigoo rambutmu..." tanya Baekhyun sambil memalingkan wajahnya menghadap Sehun. Matanya mengerjap-ngerjap menyadari potongan rambut Sehun yang berubah dengan poni menutupi dahinya dan berwarna hitam pekat. Baekhyun ingin tertawa melihat penampilan Sehun sekarang layaknya anak 'baik-baik', tapi ia baru sadar jika sahabatnya itu lumayan tampan.

"Aku sedang mengincar anak kelas 2A, Baek. Doakan saja berhasil!"

Sehun melemparkan senyum (sok) tampannya pada Baekhyun, membuat bulu kuduk Baekhyun bergidik ngeri. Ia mengibas-ngibas poninya bangga layaknya member sebuah boygroup. Sehun yang tidak kalah binal dari Baekhyun, mengincar anak kelas 2A? Oh rasanya ini sebuah keajaiban besar!

Beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi dengan nyaring, pertanda kematian akan segera menjemput Baekhyun. Jadwal ujian hari ini adalah Matematika dan Bahasa Korea. Baekhyun tak menyentuh buku-bukunya semalam karena sibuk menangisi Chanyeol dan satu-satunya harapannya adalah Oh Sehun. Meskipun Baekhyun tak tahu jika semalam Sehun hanya memandangi buku catatannya selama 2 jam sambil berfantasi tentang anak kelas 2A yang ditaksirnya. Mereka benar-benar dalam masalah besar.

"Hunnie-ya, bantu aku." Bisik Baekhyun pada Sehun saat guru pengawas membagikan lembaran soal pada masing-masing siswa. Baekhyun ingin menangis melihat deretan angka memenuhi lembar soalnya. Untuk mengerti maksud soal itu saja ia tak bisa, apalagi mengerjakan jawabannya. Rasanya Baekhyun ingin mengutuk orang-orang yang mengatakan Matematika itu mudah. Cih, hanya orang yang bisa menyelesaikan soal-soal itulah yang mengatakan mudah.

"Kau salah orang, Baek. Aku mau muntah!" jawab Sehun sambil memandangi angka-angka itu dengan nanar. Lalu ia mencoba mengambil ponsel dari sakunya, setidaknya ia bisa memakai kalkulator di ponselnya.

Menit demi menit berlalu, waktu ujian hanya tinggal 20 menit lagi. Namun hanya 6 dari 15 soal yang bisa Baekhyun jawab, itu juga atas kerja samanya dengan Sehun. Sehun akan memikirkan cara penyelesaiannya dan Baekhyun akan menghitungnya dengan teliti. Setidaknya persahabatan mereka dapat berguna di saat yang tepat.

Baekhyun begitu menyayangkan pertengkaran dan perang dinginnya dengan Chanyeol. Jika tidak, pasti Chanyeol akan mengajarinya dan memberikan pelajaran tentang materi-materi di ujian. Meskipun Baekhyun tidak bisa menangkap semuanya, namun beberapa persen bisa ia tangkap hanya dengan memandangi wajah tampan Chanyeol.

"Hahhh.." Baekhyun membenturkan kepalanya pelan di atas meja. Ia mengacak-acak rambutnya kasar.

Bayangan Chanyeol memang takkan pernah bisa keluar dari pikirannya, sekalipun Chanyeol menyakiti perasaannya. Apapun yang Chanyeol lakukan Baekhyun akan selalu menerimanya. Rasa sayang yang dimiliki laki-laki mungil itu dapat memaafkan semuanya. Jika ia terlalu berlarut-larut dengan rasa marahnya, ia takut Chanyeol akan berbalik marah dan menjauhi dirinya. Ia tak mau menyia-nyiakan waktu mereka dan hanya ingin menikmati momen-momen bahagia bersama Chanyeolnya.

Walaupun banyak yang mengatakan CINTA dan BODOH hanya dibatasi garis yang sangat tipis...

KRIIIIIIIIIIIIIIIINGGGG

Akhirnya penderitaan Baekhyun yang pertama telah berakhir. Walaupun hanya mengerjakan setengahnya, otaknya sangat terkuras dan perut nya memberontak lapar. Ia menarik tangan Sehun dan mengajak si putih itu makan di cafetaria.

"Oppadeul! Bagaimana ujian kalian?" tiba-tiba sesosok perempuan mungil berambut panjang menghampiri Baekhyun dan Sehun yang sedang berdiri di dalam antrian. Baekhyun mendengus dan mengibaskan tangannya di depan wajah Yeri. "Tolong jangan bahas apapun tentang ujian. Datang, kerjakan, dan lupakan, oke?"

Yeri merengut dan bergelayut manja pada lengan kekar Sehun. Yeri menyadari ada sesuatu yang aneh dari wajah Baekhyun. Seperti Sehun, Yeri bisa melihat wajah pucat dan mata Baekhyun yang membengkak. Yeri dan Sehun berpandangan bingung. Sehun hanya mengendikkan bahu karena ia tak tahu apa yang terjadi dengan teman binalnya itu.

Kemudian ketiganya mengambil tempat duduk di sudut cafetaria. Namun selama mereka memakan makanan mereka, Baekhyun mengedarkan pandangannya ke penjuru cafetaria. Mencari seseorang yang ia rindukan. Laki-laki tinggi berkacamata yang selalu ia temukan keberadaannya.

Baekhyun menyelesaikan makannya lebih cepat. Di tangannya kini ada sepotong sandwich ukuran jumbo kesukaan Chanyeol. Pacarnya itu pasti sedang sibuk belajar di kelas dan mengabaikan rasa laparnya. Mendadak jantungnya berdegup kencang setiap kali akan bertemu dengan Chanyeol.

"Kau mau kemana? Makanmu sedikit sekali, wajahmu pucat seperti itu, Baek"

"Oppa, kalau ada masalah cerita pada kami! Kau anggap kami batu? Kami ini sahabatmu!" cecar Yeri dengan nada kesal, yang sebenarnya ia sangat khawatir dengan keadaan Baekhyun.

Namun Baekhyun hanya menggeleng dan tersenyum simpul. Mengisyaratkan dengan gerakan bibirnya kalau ia baik-baik saja. Ia beranjak dari kursinya meninggalkan dua bocah yang menatapnya kesal, berjalan cepat menuju kelas 2A. Ia menatap sandwich di tangannya dengan penuh harap. Berharap sandwich itu bisa mencairkan suasana di antara mereka berdua.

Baekhyun tersenyum membayangkan Chanyeol akan meminta maaf padanya lagi, lalu ia akan menikmati sandiwich yang Baekhyun bawa, dan memberikan sedikit kecupan terima kasih. Memikirkan Chanyeol benar-benar membuatnya sesak.

Semoga saja semua kembali seperti biasa...

.

.

.

.

.

"Hey, bagaimana ujiannya? Aku tahu kau pasti mengerjakannya dengan baik!"

Laki-laki berkacamata itu mencolek punggung perempuan mungil di depannya dengan pulpen. Perempuan itu, Sohyun, membalikkan badannya menghadap si pemilik suara. Chanyeol menyambutnya dengan senyuman lebar terpatri di wajahnya. Sohyun menggeleng pelan. "Ah tidak begitu.. tapi yang jelas aku berusaha untuk ujian ini." ucapnya singkat lalu kembali memutar badannya dan membaca-baca buku Bahasa Korea di mejanya.

Chanyeol menghela napasnya mendapati respon Sohyun yang sangat singkat. Apa Sohyun masih menghindarinya? Atau Sohyun ingin membuat pagar pembatas di antara mereka berdua?

"Kau tidak makan? Apa kau membawa bekal?" tanya Chanyeol sekali lagi, mencoba membuat Sohyun menanggapinya dan memulai obrolan. Sohyun mengambil tasnya dan merogoh sesuatu dari dalamnya. Kemudian ia membalikkan kursinya ke belakang menghadap Chanyeol.

Sohyun meletakkan sebuah kotak makan hijau di atas meja Chanyeol. "Untukmu, aku sedang tidak mood makan" kata Sohyun sambil membuka kotak tersebut. Di dalamnya berisi beberapa potong roti tawar dengan selai kacang dan coklat. Ia mendorong kotak makan tersebut mendekat ke arah Chanyeol.

Tentu dengan senang hati Chanyeol menerima tawaran Sohyun. Bukankah itu awal yang baik untuk mereka? Ya untuk pertemanan mereka...

Chanyeol mengambil beberapa potong roti sekaligus ke dalam mulutnya. Ia tertawa pelan di sela kegiatan mengunyahnya, tetapi Sohyun hanya terfokus pada buku paket di tangannya. Chanyeol memandangi raut wajah serius perempuan di hadapannya. Tak ada yang berubah dari Sohyun, ia tetap lah seorang perempuan pendiam yang gila belajar dan fokus pada tujuan utamanya.

Chanyeol berdehem pelan sambil berpura-pura membolak-balikkan halaman buku di tangannya. Sebenarnya ia sudah mantap mempelajari semuanya semalam, namun belajar bersama Sohyun sekarang tak ada masalah kan?

"Kau terlihat bingung, bagian mana yang tidak kau mengerti?" tanya Chanyeol sambil menarik buku Sohyun dengan jari-jari nya yang besar. Ia membaca sebuah puisi dan menganalisanya sebentar. Sohyun hanya terdiam memalingkan wajahnya keluar jendela. Ia benar-benar ingin menghindari Chanyeol, tetapi laki-laki itu kini selalu menempel dan terus mencoba berbicara dengannya.

"Apa dua tahun menghilang ke London membuatmu melupakan bahasa Korea?" ujar Chanyeol dengan nada bercanda. Sohyun terkejut dan menggeleng cepat, ia memukul lengan Chanyeol kesal dengan ejekan yang laki-laki itu lontarkan. Laki-laki itu tertawa lebar melihat wajah Sohyun, sementara Sohyun ingin melarikan diri dari hadapan Chanyeol. Ia tidak ingin melihat tawa itu, ia tidak ingin terbawa perasaannya.

"Lihat wajahmu! Aigoo jangan terlalu serius Sohyunnie.."

Chanyeol memegangi perutnya geli melihat Sohyun merengut namun tetap ingin terlihat dingin. Apa Sohyun begitu mempertahankan gengsinya untuk tidak tertawa bersama Chanyeol? Chanyeol terus menggoda Sohyun hingga kedua pipi Sohyun memerah karena malu. Mau tidak mau Sohyun harus tertawa karena Chanyeol terus menggodanya dengan lelucon-lelucon tidak penting.

"Park Chanyeol!"

Tiba-tiba sebuah suara menginterupsi kegiatan tertawa mereka. Sesosok laki-laki berambut keunguan datang melangkah menuju kursi yang diduduki Chanyeol. Chanyeol terkejut saat mendapati pacar mungilnya datang dengan tangan yang disembunyikan di belakang punggungnya.

"Aku punya sesuatu untukmu! Oh, hai Sohyun! Kau sekelas dengan Chanyeol?" kata Baekhyun sambil tersenyum dengan mata berbinar. Sohyun mengangguk dan tersenyum kikuk. Sebisa mungkin Baekhyun memasang senyum di wajahnya, ia juga memasang aegyo nya saat berpandangan dengan Chanyeol. Baekhyun menyerahkan sandwich di tangannya ke hadapan Chanyeol, namun kedua matanya menangkap sebuah kotak berwarna hijau di meja pacarnya itu.

"A-aku sudah makan, sayang." Jawab Chanyeol sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Chanyeol merasa bersalah saat Baekhyun memberinya sebuah sandwich kesukaannya. Tetapi apa daya, perutnya sudah kenyang memakan bekal pemberian Sohyun.

Baekhyun mengangguk dan menarik kembali tangannya setelah meletakkan sandwich itu di meja. Ia tersenyum tipis. "Ah.. kalau begitu kau harus menyimpannya untuk pulang sekolah. Bisakah kita pulang bersama, Yeol?" tanya Baekhyun dengan nada memelas sambil menggigit pipi bagian dalam mulutnya, mencegah air mata yang memberontak keluar dari kedua matanya.

"A-aku harus meminjam beberapa buku di perpustakaan nanti, sayang"

Baekhyun mencelos. Bukan jawaban itu yang ia harapkan, ia sangat ingin pulang bersama Chanyeol dan memperbaikki hubungannya kembali. Jawaban Chanyeol menunjukkan bahwa laki-laki itu ingin menolak ajakan Baekhyun dengan halus. Mungkin Chanyeol sibuk dan ingin pulang lebih awal untuk belajar? Pikir Baekhyun. Baekhyun menghela napasnya mencoba tersenyum seperti biasa.

Chanyeol tak menyinggung tentang kejadian di rumah Baekhyun, laki-laki berkacamata itu sibuk memperhatikan kalimat-kalimat di bukunya tanpa menghiraukan kehadiran Baekhyun. Baekhyun menggigit bibir nya dan mencoba mengerti. Chanyeol tak pernah suka diganggu saat belajar.

Namun yang menyedihkan saat Baekhyun datang, laki-laki nya itu sedang tertawa bersama Sohyun. Bahkan Baekhyun melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Chanyeol menggoda Sohyun dengan beberapa leluconnya. Apa Chanyeol lebih merasa bahagia jika bersama Sohyun? Apakah Chanyeol tidak merasa terganggu dengan kehadiran Sohyun saat belajar?

Baekhyun melangkah maju dan mengambil sedikit insiatif. Ia menundukkan kepalanya, mengecup kening Chanyeol cukup lama. Chanyeol terperanjat dan terpaku di tempatnya. Laki-laki itu melirik ke arah Sohyun yang sedang menunduk, enggan untuk melihat perbuatan Baekhyun pada Chanyeol. Chanyeol sedikit mendorong tubuh Baekhyun untuk menyudahi perbuatannya. Ia takut Sohyun merasa tidak nyaman berada di antara mereka.

"Terima kasih, sayang. Kau harus kembali ke kelasmu, sebentar lagi jam 10 dan bel akan berbunyi." Kata Chanyeol ragu sembari tersenyum lembut pada Baekhyun. Chanyeol tak bergesser satu inchi pun dari kursinya.

"Eum.. kalau begitu aku pamit dulu, sebentar lagi bel berbunyi. Semangat untuk ujiannya, sayang!"

Baekhyun berlari menuju pintu kelas Chanyeol. Sebelum keluar, ia berbalik dan melambaikan tangannya semangat pada Chanyeol. Ia mengeluarkan senyum terbaiknya hingga mata nya menghilang berbentuk bulan sabit. Namun laki-laki berkacamata itu hanya tersenyum tipis dan melanjutkan pembicaraannya dengan Sohyun.

Laki-laki berambut keunguan itu kembali menuju kelasnya. Ia mendudukkan dirinya dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya. Ia terus menggigiti bibir nya sedari tadi hingga bibir mungil itu memerah dan mengeluarkan bercak darah.

Baekhyun merasa ada sesuatu yang berbeda dari Chanyeol. Chanyeol yang biasanya selalu memberikan senyuman dan tatapan yang lembut, Chanyeol yang biasanya selalu memberikan kontak fisik padanya. Sekecil apapun itu, walau hanya sebuah genggaman di tangan Baekhyun. Namun Chanyeol tak memberikan semua itu pada Baekhyun. Ia merasa Chanyeolnya menjadi canggung dengan kehadirannya.

Apakah itu semua karena keberadaan Sohyun? Apa benar Chanyeol tak ingin Sohyun melihat kemesraan mereka?

Mungkin Baekhyun terlalu berlebihan, tetapi sebagai pacar ia tahu ada yang tidak beres dengan sikap Chanyeol belakangan ini. Chanyeol mulai menunjukkan keengganan berbicara dengannya, mulai bersikap dingin, dan berbicara sekenanya saja. Baekhyun takut apa yang ia pikirkan sejak kemarin akan menjadi kenyataan. Baekhyun merasa seperti ada jarak antara mereka yang semakin lama akan semakin melebar.

"Hiks.. andwe.."

Tangisan Baekhyun pecah. Ia mencoba menggigit lengan bajunya untuk meredam suara tangisannya. Untungnya Sehun belum kembali dari cafetaria, dan ia tak tahu apa yang terjadi dengan Baekhyun. Baekhyun ingin sekali mengeluarkan sumpah serapah pada perempuan itu untuk menjauhi Chanyeolnya, tetapi Baekhyun takut Chanyeol akan marah seperti saat Baekhyun memanggil Sohyun dengan sebutan 'jalang'.

Namun ia tidak benar-benar membenci Sohyun. Setidaknya ia masih berpendidikan dan tidak membenci orang yang tidak melakukan sesuatu yang buruk padanya. Sohyun tidak mendekati atau bersikap genit di depan Chanyeol.

Ia hanya takut karena ia terlalu bergantung pada Chanyeol..

Ia terlalu menyayangi Chanyeol dan rasa sayang itu semakin besar setiap harinya..

Ia tidak ingin kehilangan Chanyeolnya..

"A-aku merindukanmu, Yeol.."

.

.

.

.

to be continued


Gimana upaya Baekhyun balikin hubungannya lagi? Gimana respon Sohyun yang terus ditempelin sama Chanyeol?

i feel you, baek, i feel you :') saya juga suka ngerasa ada yg beda dari ehm ehm kalo dia ngomongnya cuma dikit2 kayak pcy gitu :') /apaan btw hampir sesek nyelesein chapter ini entah kenapa :( poor baby byun.. /pukpuk punggungnya/

DON'T FORGET TO REVIEW, FAVORITE, AND FOLLOW YEAAAAAH :* GIMANA PENDAPAT KALIAN TENTANG CHANYEOL HUEHEHEHE