Caption : My Geeky Boy Chapter 9
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol,Kim Sohyun, Xi Luhan, Oh Sehun, Kim Yerim (RV), and other cast
Genre : Drama, Romance, School life, Smut
Rating : M
Playing : SHINee Jonghyun - Mianhae (I'm Sorry)
Foreword :
Saya merasa brengsek menelantarkan ff ini beberapa minggu.. saya menyesal dan malu sama readernim ;_; saya minta maaf udah php ke kalian, jadi ketunda hampir 2 bulan karena ada masalah di rl yang bener2 bikin saya jungkir balik dan ngedown:'( maaf buat kalian yang nunggu, makasih bgt buat kalian yang masih setia nunggu kayak baby baek yang setia nunggu yeol nya :'') semoga chapter ini tidak mengecewakan :")
*WARNING! almost reach 6000 words, i don't know if its too long or not, but this is my apology because my faults
Happy reading!^^
Look at us in our memories for a moment
You and me, the two of us inside good memories
We're laughing, we're crying
We've shared so many moments together
Was I really that indifferent towards you?
With my selfish ways until the end
I was awful, you're still struggling
Don't go, please don't leave me
You know I'll collapse like this
Sorry, I'm so sorry
You're struggling a lot, am I the only one okay?
I'm sorry, I'm really sorry, I am sorry, I'm sorry
.
.
.
"Mengapa kau melakukan itu pada Baekhyun?!"
Chanyeol mematikan mesin mobilnya dan menghela napasnya berat saat mendengar sebuah pekikkan dari arah belakang. Ia membuka seatbelt dan pintu mobilnya, meninggalkan Sohyun sendiri yang tengah menatapnya kesal. Perempuan itu ikut keluar dari mobil hitam Chanyeol. Dengan sedikit terseok-seok Sohyun menyusul Chanyeol yang berjalan mendahuluinya.
"Kau tidak perlu ikut campur, Sohyunnie.." ucap Chanyeol datar, ia menghentikan langkahnya sejenak saat melihat pergelangan kaki kanan Sohyun yang sedikit membengkak. Kepala Chanyeol seakan ingin meledak karena masalah yang sedari tadi menghantamnya bertubi-tubi. Namun Chanyeol tidak pernah tahu jika dirinya lah yang membuat semua masalah sekecil itu menjadi rumit dan tak berurai.
Terkadang ia berpikir apakah dirinya masih mencintai Baekhyun, apakah dirinya masih menginginkan Sohyun, atau apakah semua ini hanyalah akibat dari sifatnya yang sangat tidak peka dengan perasaan orang lain. Chanyeol selalu merindukan Baekhyun nya, tetapi saat ia mengingat nama Sohyun, perempuan itu terus menari-menari di pikirannya dan membawa semua kenangan masa lalu mereka.
Apakah Chanyeol harus menjaga jarak dengan Sohyun seperti yang selama ini Sohyun lakukan padanya untuk menjaga perasaan pacar kesayangannya? Tetapi Chanyeol tidak bisa menjauhi Sohyun, masih ada beberapa pertanyaan dan perasaan mengganjal yang selama ini dipendam Chanyeol saat Sohyun pergi dan datang kembali ke kehidupannya.
Kedua nya sama-sama terdiam saat memasukki mall yang mereka tuju. Sohyun berinisiatif untuk mengambil langkah seribu menghindar dari Chanyeol menuju toko buku yang ia maksud. Namun nyatanya laki-laki tinggi itu mengikutinya dari jarak beberapa meter di belakangnya. Ditambah llagi dengan keadaan kakinya yang begitu menyedihkan, pastinya kaki-kaki panjang Chanyeol akan dapat menyusul langkahnya yang tertatih-tatih.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan disini, Park Chanyeol? Bukankah kencanmu dengan Baekhyun batal? Segera lah meminta maaf pada Baekhyun, kau terlalu kasar padanya!" titah Sohyun merasa sedikit risih dan kesal karena Chanyeol terus mengamati gerak-geriknya dari sela-sela rak buku. Sohyun merasa gerah dengan sikap Chanyeol yang tak pernah berubah sejak dulu. Selalu seenaknya dan tidak pernah memikirkan perasaan orang lain.
"Aku hanya berjalan-jalan disini, apa salah? Ini tempat umum, Sohyunnie.."
"Berhenti memanggilku dengan sebutan seperti itu!" pinta Sohyun dengan tegas sambil mengambil beberapa buku yang ia cari dan memasukkannya ke dalam tas plastik. Chanyeol mengambil beberapa langkah untuk mendekat, ia menyanggahkan lengannya pada rak di atas kepala Sohyun.
"Dan berhenti bersikap dingin padaku, Kim Sohyun. Kau membuatku frustrasi dan merasa sangat bersalah." Kata Chanyeol enteng sambil memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya. Ia memperhatikan raut wajah Sohyun, air mukanya menunjukkan ketidak percayaan dan keterkejutan. Sohyun meremas ujung kemejanya mencoba mengontrol emosinya yang selalu muncul setiap beradu mulut dengan Chanyeol.
Sohyun menengadahkan kepalanya, menatap tajam Chanyeol yang notabenenya lebih tinggi dari ukuran tubuhnya. Ia menghela napasnya pelan dan mencoba mengeluarkan suaranya yang sedari tadi tertahan di tenggorokannya.
"Lupakan semua itu.. bukankah kau sudah merasakan bagaimana sakitnya dicampakkan? Apa kau mau Baekhyun merasakan hal yang sama sepertimu? Kau benar-benar jahat, Park Chanyeol!"
Brukk
Sohyun mendorong dada Chanyeol dengan keras hingga punggung Chanyeol bertabrakan dengan deretan buku yang tertata rapi di atas rak. Chanyeol memandangi punggung Sohyun yang semakin menjauh. Ia benar-benar bingung dengan kata-kata Sohyun tadi.
Apakah benar jika dirinya jahat? Apakah ia ingin membalaskan rasa sakitnya pada Baekhyun yang sama sekali tak terlibat dalam masalah mereka?
"Arghhhh!" Chanyeol mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang harus ia lakukan sekarang. Sohyun dan Baekhyun telah meninggalkannya karena ketololan dirinya sendiri.
Chanyeol merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Tak ada tanda-tanda bahwa Baekhyun mencoba menghubunginya. Kemudian ia membuka foto profil kakao laki-laki mungilnya yang dipenuhi latar hitam dengan tulisan putih di tengahnya.
Even it's hurts, i still loving you in the same way
Hati Chanyeol mencelos membaca deretan huruf yang terpampang di layar ponselnya. Meskipun berbahasa inggris, Chanyeol mengerti maksud dari tulisan itu. Baekhyun adalah tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Selalu ada cara bagi Baekhyun untuk melampiaskan perasaannya. Terkadang saat mereka bertengkar, Baekhyun akan mengganti foto profilnya dengan tulisan-tulisan atau gambar menyedihkan untuk memancing respon dari Chanyeol.
Namun Chanyeol tak pernah berbuat apapun untuk memperbaiki semuanya. Ia tidak tahu harus dengan cara apa menghadapi sikap Baekhyun yang berubah menjadi kekanakan dan melankolis seperti itu. Sikap tidak peka seperti itulah yang selalu membuat Baekhyun merasa bahwa Chanyeolnya tidak peduli dengan nya. Bahkan Chanyeol jarang menanyakan apa yang terjadi pada Baekhyun, padahal sumber masalah adalah dirinya sendiri.
Chanyeol merasa harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan semuanya, tetapi ia benar-benar bingung dan takut untuk mengambil keputusan. Masalah ini semakin membesar hanya karena kebodohan Chanyeol yang tak berujung.
"Sohyunnie!" pekik Chanyeol sedikit meninggi saat melihat Sohyun berjalan keluardari toko buku dengan sebuah plastik ukuran besar di tangannya. Merasa tidak dihiraukan oleh perempuan berambut panjang itu, Chanyeol berlari mengejar Sohyun dan menahan pergelangan mungil perempuan itu.
"Apa yang kau mau, Park Chanyeol?! Apa kau tidak cukup puas menempeliku sejak hari pertama bersekolah? Apa kau masih tidak paham jika ada seseorang yang terluka karena sikapmu yang seperti ini? Gunakan otakmu, Chanyeol!" bentak Sohyun benar-benar geram dan mencoba menghempaskan kungkungan tangan besar Chanyeol di pergelangan tangannya. Namun tak bisa, Chanyeol benar-benar mencengkram erat dan enggan melepaskan dirinya.
"Bukankah kau tahu alasan kenapa aku terus mengikutimu? Sohyunnie, kau menghilang hampir 2 tahun lamanya dan itu membuatku seperti kehabisan oksigen. Kau tahu bagaimana hari-hariku setelah itu? Dan tiba-tiba sekarang kau datang seolah tidak terjadi apapun! Aku hanya ingin meminta penjelasan dan pertanggung jawabanmu. Apakah aku pernah membuat kesalahan yang begitu besar hingga kau meninggalkanku seperti itu? Jawab aku, Kim Sohyun." Ucap Chanyeol panjang lebar sambil menarik pergelangan tangan Sohyun menuju sudut yang lebih sepi.
Pikiran Chanyeol melayang menuju peristiwa itu, tepatnya 2 tahun lalu ketika ia datang ke sekolah dan tak mendapati keberadaan Sohyun –pacarnya saat itu. Hampir 7 hari Sohyun absen tanpa keterangan yang jelas. Setiap jam istirahat Chanyeol berkunjung ke kelas Sohyun dengan senyuman yang terpatri di wajahnya hanya untuk memastikan bahwa pacar kesayangannya datang, namun setiap kali itu juga Chanyeol menelan kekecewaan dan menemukan bangku Sohyun kosong.
Chanyeol selalu mencari informasi mengenai kepergian Sohyun lewat teman-teman sekelas Sohyun, tetapi tak ada satu pun dari mereka yang mengetahuinya. Sohyun adalah perempuan pendiam, tidak banyak siswa yang mengetahui dirinya lebih dekat. Terlebih lagi Sohyun termasuk golongan siswa 'jenius' di sekolah. Bagaikan dinding yang tak dapat dipanjat, tak ada yang bisa menyaingi dan mendekatinya. Namun dibalik sikap diam nya, Chanyeol menemukan sisi yang nyaman ketika bersama Sohyun. Chanyeol benar-benar merasa beruntung bisa menaklukan hati si pendiam Sohyun.
Chanyeol yang saat itu masih berusia 15 tahun benar-benar kehilangan arah. Semenjak kehilangan Sohyun, dirinya menjadi pribadi yang berbeda. Sering keluar malam hanya untuk pergi balapan motor, berkumpul dengan anggota band nya hingga pagi buta, atau malah hanya melamun seorang diri di tengah lapangan basket dekat rumahnya.
Chanyeol menjadi siswa urakan, tidak pernah absen pergi ke bar walaupun ujian tengah semester sedang berlangsung. Tak pernah peduli dengan hubungan percintaan lagi, berganti perempuan atau laki-laki sesuka hatinya. Kepergian Sohyun yang merupakan cinta pertamanya memberikan guncangan hebat pada diri Chanyeol.
Mati-matian Chanyeol bangkit dari keterpurukan itu, mencoba menata kembali kehidupannya yang berantakan setelah berbagai teguran dari guru-guru di sekolahnya, belum lagi keluarganya yang mengancam akan mengasingkan dirinya ke sebuah pelosok desa yang jauh dari Seoul. Seiring bertambahnya usia, Chanyeol berpikir bahwa dirinya yang dulu masih sangat kekanakan dan berpikiran pendek. Mungkin jika ia berubah menjadi lebih baik, Tuhan melihat usahanya dan mengembalikan Sohyun padanya.
Namun nyatanya Tuhan memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar Kim Sohyun..
Byun Baekhyun
Laki-laki biang onar dan binal yang justru mengembalikan lagi dunia nya..
"Apa yang harus dijelaskan? Aku pindah ke London mengikuti ayahku dan kau sudah tahu itu sejak aku menginjakkan kaki di sekolah, jadi untuk apa lagi kau bertanya? Sudahlah, Yeol, kita tak ada hubungan apa-apa lagi. Berhentilah ku mohon, semuanya akan sia-sia."" jawab Sohyun meninggi, mengaburkan semua kenangan pahit yang tiba-tiba muncul di pikiran Chanyeol.
"KIM SOHYUN!" bentak Chanyeol sambil mendorong tubuh mungil perempuan itu ke tembok. Kepalanya nyaris meledak saat melihat bayangan Baekhyun muncul di pikirannya. Semua perasaan marah, kecewa, dan bersalah membuncah di hati Chanyeol.
Chanyeol dan Sohyun tak menyadari jika semua pasang mata kini mengarah pada pertengkaran mereka. Bahkan banyak dari pengunjung mall tersebut yang berbisik-bisik, mengatakan jika Chanyeol sangat kasar pada perempuan secantik Sohyun, mengatakan jika Chanyeol bukanlah pacar yang baik, dan hal-hal buruk lainnya tentang Chanyeol.
Menyadari hal itu, Chanyeol melangkah mundur melepaskan cengkramannya pada Sohyun. Sohyun mengambil kesempatan untuk melangkah pergi meninggalkan Chanyeol yang tengah sibuk membungkuk untuk meminta maaf pada para pengunjung mall.
Melihat punggung Sohyun yang menjauh, Chanyeol hanya bisa mengusap wajahnya kasar dan menghela napasnya. Semuanya menjadi rumit bagaikan gumpalan benang dan ia tak tahu harus mengurai benang itu dari sebelah mana.
Semuanya benar-benar kacau..
.
.
.
.
.
"Argghh.."
Brakkkk
Bunyi dentuman kencang tangan yang beradu dengan stir mobil memekakkan senja di saat itu. Laki-laki berkacamata di belakang stir itu mengacak-acak rambutnya frustrasi setelah hampir 7 jam berputar-putar tak tentu arah mengelilingi kota Seoul. Chanyeol sudah menghabiskan 2 kaleng bir –yang selalu ia simpan di mobilnya untuk mengurangi rasa pening di kepalanya. Wajahnya benar-benar merah padam seperti kepiting rebus, berulang kali ia mengacak rambutnya frustrasi. Jiwa laki-laki itu melayang jauh meninggalkan raganya yang masih terjebak dalam perasaan bersalah.
Bukankah kau sudah merasakan bagaimana sakitnya dicampakkan? Apa kau mau Baekhyun merasakan hal yang sama sepertimu?
Kata demi kata yang dilontarkan Sohyun terus terngiang di kedua telinga lebar Chanyeol sejak Sohyun meninggalkannya sendiri. Bagaikan tiupan tanda kiamat akan tiba, kata-kata Sohyun bukan hanya mengganggu telinganya, tapi juga menusuk ke ulu hati laki-laki berkacamata itu hingga membuatnya mual.
Bayangan kehancuran yang dulu pernah ia alami kini berputar-putar di kepalanya. Rasanya sungguh menyakitkan baik batin maupun fisik. Chanyeol meremas stir mobil berlapis kulit nan mahal itu dengan sangat kencang. Telapaknya berkeringat dingin dan rasanya ngilu seperti tertusuk ribuan duri. Berulang kali ia membenturkan dahinya ke atas stir yang menjadi saksi bisu keputus-asaan seorang Park Chanyeol.
Chanyeol benar-benar putus asa dengan kebodohannya..
Apakah ia akan tega mencampakkan laki-laki yang menemani hari-harinya, membantunya bangkit, bersama menjalani kehidupan yang lebih baik, demi perempuan yang mencampakkan dirinya dan bersikap acuh padanya?
Apakah Chanyeol akan memperjuangkan perempuan yang bahkan tidak memikirkan dirinya sekali pun?
Apakah Chanyeol akan terus berkutat dengan masa lalunya tanpa memedulikan apa yang kini ia miliki dan mungkin akan menjadi masa depannya?
Batin Chanyeol benar-benar berkecamuk. Sohyun adalah perempuan yang mengenalkan apa itu 'cinta' di kehidupan Chanyeol. Klasik memang, namun siapa yang bisa melupakan cinta pertama mereka? Walaupun perempuan itu pernah 'membuang' Chanyeol dan menghempaskannya ke dasar jurang, Chanyeol tak pernah bisa melupakan semburat merah di kedua pipi Sohyun saat mereka melakukan ciuman pertama. Chanyeol tak pernah bisa melupakan tangisan Sohyun saat ia mencederai kakinya sendiri di sebuah pertandingan basket. Saat itu Sohyun memarahinya habis-habisan dan terus mengatakan 'kau bodoh!' atau 'kau ceroboh, kau membuatku takut!' sambil menangis terisak-isak.
Tanpa sadar Chanyeol tersenyum seperti orang tolol saat mengingat bagaimana saat ia jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Sebuah perasaan yang menjungkir balikkan masa remajanya, membuatnya terlihat seperti orang yang sangat dungu. Perasaan yang sangat meletup-letup bagaikan api di dalam dadanya. Namun Sohyun juga lah yang meredupkan perasaan itu.
Dan kini ia bisa merasakan perasaan itu kembali.. bersama Baekhyun.
Drrtt drttt..
Hey
Apakah kau sedang bersenang-senang sekarang?
DAMN PARK CHANYEOL
HAI KELEDAI DUNGU
KAUSANGATBODOHDANTIDAKPEKA
Aku kedinginan :(
Parrrrrkkkkkkkkkkkkkkk
Kemanaaaaaaaaaaaaa?
Aishhh aku ingin marah tapi sayangnya saat melihat wallpaper ponselku...
SHIIIITTTT
ARGHHH KENAPA AKU HARUS MENGGUNAKAN FOTO KITA SETELAH BERCINTA?
Sayaaaanggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggg
Tawa Chanyeol pecah memenuhi seisi mobil dengan suara beratnya yang khas. Mungkin efek dirinya yang mabuk membuat pergantian emosi laki-laki berkacamata itu begitu cepat. Chanyeol menyandarkan kepalanya sambil tersenyum dari kuping-ke-kuping melihat betapa menggemaskannya isi pesan yang dikirimkan Baekhyun padanya. Ia pikir Baekhyun akan bersikap dingin padanya atau memaki-maki Chanyeol habis-habisan. Ternyata benar apa yang selalu Baekhyun keluhkan padanya bahwa laki-laki mungil itu selalu ingin marah, tetapi rasa sayang Baekhyun pada Chanyeol mengalahkan segalanya.
Chanyeol membuka foto profil Baekhyun –yang beberapa menit lalu ia ganti, ketika laki-laki mungil itu tengah tertidur pulas. Bibir mungilnya yang sedikit mengerucut dan jangan lupakan wajah kekanakan nya yang nampak saat ia tertidur. Ibu jari Chanyeol bergerak mengelus layar ponselnya, kedua mata bulatnya masih terus memperhatikan kreatur terindah yang Tuhan berikan untuknya.
"Baek.."
Mendadak dada Chanyeol seperti terhantam batu yang sangat besar, sesak namun di saat yang bersamaan jantungnya berdebar-debar. Seperti tersadar akan sesuatu, Chanyeol segera membanting ponselnya ke jok penumpang dan menyalakan mesin mobilnya dengan terburu-buru. Ia menginjakkan pedal gas dengan kekuatan penuh untuk memutarkan mobilnya ke arah yang seharusnya menjadi tujuan nya sedari tadi. Seperti kapal yang pasti akan berlabuh, begitu juga diri Chanyeol yang tahu harus kemana ia menghabiskan waktu di penghujung harinya.
.
.
.
.
.
"Baekhyun kau bodoh! Kenapa kau mudah sekali tergoda oleh wajah tampan pacarmu sendiri! Bukankah kau berjanji untuk menjadi kuat?!" rutuk Baekhyun sambil melemparkan beberapa bungkus ramen kesukaannya ke dalam troli.
Baekhyun benar-benar membenci ketidak stabilan emosi dan perasaannya jika meyangkut tentang Park Chanyeol. Ia membenci bagaimana jari-jari tangannya begitu cepat bergerak mengetikkan kata-kata yang seharusnya tidak ia utarakan pada Chanyeol saat ini. Pesan-pesan bodoh itu.. pasti Chanyeol akan tersenyum penuh kemenangan mengetahui betapa lemahnya Baekhyun terhadap perasaannya. Pasti Chanyeol akan terus 'menginjak-injak' harga dirinya dan bersikap semakin keterlaluan.
"Aigoo Byun, apa yang sudah kau perbuat... kau sangat memalukan!"
"Bodoh..."
"Chanyeol pasti akan besar kepala karena kau terlalu bergantung padanya, Byun!"
Berkali-kali Baekhyun bergumam dan memaki-maki dirinya sendiri hingga beberapa pasang mata perempuan paruh baya menatapnya aneh dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Baekhyun hanya bisa tersenyum kikuk lalu membungkuk, melanjutkan kegiatan belanja dadakan yang diperintahkan sang Eomma. Baekhyun merasa kesal dengan Eomma-nya karena harus memerintahkan dirinya untuk berbelanja di saat keadaan fisiknya yang sangat kacau balau.
Mata nya bengkak karena sepanjang jalan terus menangis, dan itu membuat kedua matanya sipitnya seperti 'tertelan' semakin tak terlihat. Belum lagi bibirnya yang sedikit membengkak dan berdarah sebab ia harus menggigiti bibir mungil itu untuk meredam tangisannya. Rongga dadanya pun masih terasa sedikit sesak, namun sang Eomma akan mengambil semua jatah strawberrynya dan akan menendang bokongnya jika Baekhyun tidak menuruti perintah tersebut.
Mau tidak mau laki-laki berambut keunguan itu harus menurutinya, hitung-hitung ia bisa membeli makanan ringan dari uang kembalian yang diberikan sang Eomma. Malam ini ia harus membuat 'pembalasan' untuk tubuhnya, ia harus mengobati luka fisik dan luka hatinya. Baekhyun mengambil sebungkus keripik kentang berukuran super besar, mengambil satu ember besar es krim strawberry dengan choco chips, permen kapas strawberry, coklat batangan, kopi, susu strawberry, atau apapun yang tertangkap dalam jarak pandangnya.
Namun langkah Baekhyun terhenti ketika ia melewati sebuah lemari pendingin berisi berbagai macam minuman kaleng. Matanya tertuju pada beberapa deret kaleng berwarna hijau. Jari-jari lentiknya terangkat untuk menggenggam gagang pintu lemari pendingin tersebut. Ia jadi teringat dengan sahabatnya, Sehun, yang selalu meminum minuman kaleng tersebut ketika ia sedang dilanda masalah atau untuk sekedar penghilang penat.
Baekhyun membuka pintu tersebut dan meraih satu kaleng minuman tersebut, lalu membaca konten bahan-bahan yang terkandung di dalamnya. Ia memperhatikan kaleng itu lamat-lamat, menimbang-nimbang apakah ia harus mencobanya atau tidak.
"Baek, kau tidak boleh meminum ini sampai umurmu mencapai 20! Jangan pernah berpikir untuk mengikutiku atau aku akan marah dan pertemanan kita cukup sampai disini."
Baekhyun menggeleng-geleng dan mengembalikan kaleng tersebut ke tempat semula. Meskipun ia termasuk anak yang nakal di sekolah, namun ia tak pernah menyentuh minuman keras ataupun pergi ke klub malam seperti Sehun. Memang kenakalan Sehun sudah jauh melampaui dirinya, tetapi laki-laki tinggi itu justru melindungi Baekhyun agar tak terjerumus lebih jauh. Karena Sehun sudah merasakan bagaimana pahitnya bergaul dengan hal-hal seperti itu, dan Sehun tidak ingin sahabat mungil kesayangannya keluar dari batas yang seharusnya.
Tetapi... bukankah Sehun tidak akan tahu jika ia meminumnya? Toh ini hanya sekali dan otaknya benar-benar butuh sesuatu yang 'baru' selain strawberry-strawberry kesayangannya itu. Baekhyun sering mendengar dari iklan atau dari beberapa orang dewasa yang dikenalnya bahwa meminum itu akan membuat perasaan dan tubuhmu ringan, semua masalah seperti menguap tak berbekas. Setidaknya itu yang dibutuhkan tubuh Baekhyun saat ini. Setidaknya ia ingin beristirahat dari segala perang batin yang terus mengganggunya akhir-akhir ini.
Brakk..
Maafkan aku, Sehun...
Baekhyun melempar tiga kaleng hijau tersebut ke dalam troli dengan kasar. Ia mengeratkan genggamannya pada pegangan troli, meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.
Dengan mantap ia menuju kasir untuk membayar semua barang yang menumpuk di trolinya. Bibi penjaga kasir menggeleng pelan saat melihat kaleng hijau yang Baekhyun letakkan di meja kasir. Lalu Baekhyun membayar beberapa won untuk barang-barang belanjaannya tersebut . Dengan sedikit terseok-seok ia mengangkat 2 kantung plastik ukuran besar di kedua tangannya. Namun Baekhyun adalah laki-laki yang masih mempunyai hormon testosteron yang berperan aktif untuk kekuatan ototnya, meskipun ia adalah seorang 'bottom'.
Laki-laki mungil itu mendesah pelan ketika melihat langit sudah berganti warna menjadi biru gelap dan jam di tangannya menunjukkan pukul 7 malam. Kaki-kakinya bergerak pelan saat melewati blok demi blok untuk mencapai rumahnya, dan sialnya jalan menuju rumahnya merupakan sebuah tanjakan yang cukup tinggi.
Beberapa kali Baekhyun berhenti untuk mengistirahatkan paru-paru dan jantungnya yang terus menerus bekerja sedari pagi. Ia membungkuk dan memukul-mukul dadanya pelan karena stok udara yang menipis di rongga dadanya. Baekhyun berpikir bahwa hari ini merupakan hari yang sangat panjang dan melelahkan. Nampaknya Tuhan tengah menguji dan sedikit mempermainkan waktu agar lebih lambat dari pada yang seharusnya. Yang Baekhyun ingin lakukan hanya memakan semua makanan yang ia beli dan pergi tidur agar semua beban yang ia alami hari ini bisa sedikit berkurang.
Namun sepertinya Tuhan masih ingin memberikan Baekhyun sedikit ujian..
"Y.. Yeol?"
Baekhyun tergagap saat melihat sebuah mobil hitam mewah terparkir di luar rumahnya. Baekhyun masih bisa melihat dengan jelas sesosok laki-laki jangkung sedang bersandar pada pintu mobil dan memandangi jendela lantai 2 rumahnya, yang mana merupakan jendela kamar Baekhyun.
Menyadari sebuah suara langkah mendekat, Chanyeol memutuskan untuk berbalik dan mendapati pacar mungilnya tengah menatapnya dengan tatapan heran. Tidak lupa dengan 2 kantung plastik besar yang bertengger di kedua genggaman tangannya. Bahkan Chanyeol masih bisa melihat wajah, mata, dan bibir Baekhyun yang membengkak. Hati Chanyeol mencelos melihat bagaimana 'hancur'nya keadaan Baekhyun saat ini. Ia pikir Baekhyun sedang bergerumul di bawah selimut dan memeluk bonekanya dengan manja saat mengiriminya rentetan pesan yang sangat menggemaskan. Kenyataan berkata sebaliknya.
"M.. mau apa kau kesini?! Pulanglah.. penampilanmu sangat kacau." Ucap Baekhyun sambil memalingkan wajahnya enggan menatap manik Chanyeol. Chanyeol mencoba menahan pergelangan tangan Baekhyun dan menarik kantung plastik besar yang Baekhyun bawa. Chanyeol tahu Baekhyun lelah, Chanyeol tahu Baekhyun tidak sekuat yang selalu laki-laki mungil itu tunjukkan pada dunia.
"Bukankah kau bilang kau merindukanku? Sekarang aku sudah berada disini, untukmu..."
"Aku bilang, pulanglah! Aku tidak tahu kenapa mengirim pesan seperti itu padamu, jari-jariku terlampau bodoh. Sekarang pulang!" bentak Baekhyun mencoba menghempaskan genggaman tangan Chanyeol. Baekhyun menggigit bibir bawahnya saat melihat bagaimana penampilan Chanyeol saat ini. Laki-laki tinggi itu begitu berantakan dari terakhir kali mereka bertemu. Baekhyun tidak mengerti apa yang sudah Sohyun lakukan hingga membuat Chanyeol seperti ini. Wajahnya merah padam, tatapan matanya sayu, rambutnya benar-benar tidak mencerminkan Park Chanyeol si anak teladan.
Dengan tidak berbelas kasihan, Chanyeol menarik tangan Baekhyun dengan kasar menuju ke dalam rumah laki-laki mungil itu. Bahkan Eomma Baekhyun hampir memekik ketakutan saat melihat tangan sang anak ditarik-tarik oleh seorang laki-laki dengan penampilan berantakan. Namun dengan cepat Baekhyun mengisyaratkan bahwa laki-laki itu adalah teman sekelasnya, dan mereka butuh berbicara berdua di kamar.
.
.
.
.
BLAMMM...
"PARK CHANYEOL!" pekik Baekhyun saat tangan besar Chanyeol membanting tubuh mungilnya ke pintu kamar. Baekhyun sedikit meringis merasakan cengkraman jari-jari Chanyeol di kedua bahunya. Entah kenapa akhir-akhir ini Chanyeol menjadi kasar padanya, dan Baekhyun benci hal itu.
Baekhyun bergidik melihat tatapan 'berbahaya' yang terpancar dari kedua mata Chanyeol. Laki-laki tinggi itu meniliti setiap inchi wajah pacar mungil di hadapannya, membuat Baekhyun mau tak mau harus membalasnya dengan tatapan ragu. Baekhyun mencoba melepaskan kedua tangan besar Chanyeol, namun laki-laki jangkung itu terus menghimpitnya hingga kedua ujung hidung mereka bertemu. Kini Baekhyun hanya bisa berpasrah dan memejamkan matanya kuat-kuat, bersiap jika Chanyeol akan menghujaninya dengan umpatan atau bahkan akan menampar pipinya. Chanyeol benar-benar seperti monster yang akan melahapnya saat itu juga.
Baekhyun bisa mencium aroma alkohol dari mulut Chanyeol saat laki-laki jangkung itu menghela napasnya berat. "Kau membuatku frustasi, Byun Baekhyun." bisik Chanyeol pelan. Baekhyun membuka matanya ragu saat merasakan ibu jari Chanyeol mengelus pipi kanannya dengan lembut. Apa yang Baekhyun takutkan sama sekali tidak terjadi, karena demi Tuhan Chanyeol tidak akan pernah bermain tangan dan menyakiti Baekhyun.
"Kau membuatku seperti orang tolol.. kau membuatku takut.. kau benar-benar menjungkir balikkan hidupku, sayang."
Tubuh Baekhyun bergetar, antara ketakutan dan terkejut mendengar penuturan Chanyeol. Namun sedetik kemudian rasa hangat menjalar ke seluruh pembuluh darahnya, membuat suasana nyaman yang telah pergi kembali hadir di tengah-tengah mereka. Laki-laki mungil itu menengadahkan kepalanya, ia mulai berani menatap kedua mata Chanyeol yang berkaca-kaca.
Baekhyun berjinjit dan mengecup kedua mata Chanyeol dengan hati-hati. Ia menangkup kedua pipi Chanyeol dan menulusuri setiap inchi wajah Chanyeol dengan tatapannya. Rasanya sudah sangat lama mereka tidak berada dalam jarak sedekat ini, dengan keadaan intim yang selalu Baekhyun rindukan setiap malam.
"Kau yang membuat semuanya kacau, Park Chanyeol. Iya, kau memang tolol dan kau tidak pernah berpikir tentang apa yang aku rasakan selama ini. Kau egois, Park Chanyeol. Kau mempermainkan hatiku hanya demi perempuan yang sudah meninggalkanmu. Apa kau masih kata-kataku dulu? Persetan dengan perempuan itu, aku akan mengobati luka di hatimu, Yeol, aku yang akan menjadi segalanya untukmu.. tapi kau tidak memberikan kesempatan itu.."
"Kau yang membuatku mengatakan 'aku mencintaimu'.. ya aku mencintaimu! Jadi ku mohon, lupakan perempuan itu.. kau membuat dadaku sakit setiap malam.. kau membuat tidurku tak nyenyak.."
"Kau membuangku di tengah jalan demi perempuan itu. Kau tahu aku hampir sekarat dan kau mencampakanku! Kau.. hiks.. benar-benar membuatku mati perlahan, Park Chanyeol."
"Dadaku sesak setiap melihat senyuman yang selalu kau berikan padaku kini kau berikan untuk perempuan itu.. aku sakit, tapi aku tidak ingin mengakhiri semuanya, Yeol. Aku terlalu bergantung padamu.. hiks..."
Butiran air mata itu lolos dari kedua mata sipit Baekhyun. Ia benar-benar tidak bisa menahan semuanya lagi. Kini Chanyeol ada di hadapannya, dan Tuhan memberikan kesempatan bagi dirinya untuk mengungkapkan semuanya. Tangisan itu tak terbendung lagi, Baekhyun terisak dengan sangat kencang sementara Chanyeol hanya memandanginya dengan perasaan pilu.
"Hiks.. aku hanya tidak ingin menyerah begitu cepat.. karena kau berbeda, Yeol.. hiks.. kau yang selama ini aku butuhkan. Untuk itu aku akan terus memperjuangkan 'kita'."
Jadi inikah yang selama ini ia lakukan pada Baekhyun?
Chanyeol menggigit bibirnya kencang melihat betapa terpuruk kekasihnya kini. Hati Chanyeol benar-benar teriris. Ia mengingkari janjinya untuk tidak membiarkan siapapun menyakiti Baekhyun. Nyatanya dirinya sendiri lah yang menancapkan belati di jantung Baekhyun, dirinya sendiri yang menyakiti Baekhyunnya.
"Maafkan aku, sayang. Park Chanyeol memang tidak pernah berubah, tetaplah seorang laki-laki brengsek sejak dulu. Aku minta maaf, Baek.. kau boleh menghukumku sesukamu, kau boleh memaki diriku, kau boleh memukulku, Baek! Tapi ku mohon jangan membenciku.."
"Aku lelah, sungguh.. hiks.." ujar Baekhyun sambil terus mengusap wajahnya yang berlumuran air mata dengan kasar. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Chanyeol, namun ia juga ingin Chanyeol melihat bagaimana dirinya hancur hanya karena ketolol-an laki-laki bertelinga lebar itu.
"Hmmph.."
Chanyeol tidak tahu apa yang harus ia katakan lagi untuk meyakinkan Baekhyun, yang ia dapat lakukan hanyalah memberikan seluruh dunianya pada Baekhyun. Yang ia dapat lakukan hanyalah membungkam bibir mungil Baekhyun dan mulai menelusupkan tangan besarnya yang hangat ke dalam kaus kebesaran Baekhyun. Karena Chanyeol tahu kehebatan tangannya jauh melebihi kemampuan mulutnya dalam berkata-kata.
"Y.. yeol.."
"Ssst.. maafkan aku, sayang." Bisik Chanyeol sambil mengangkat kedua tangan Baekhyun ke atas dan melepas kaus yang menghalangi ruang geraknya. Sementara Baekhyun hanya memalingkan wajahnya yang berlumuran air mata, ia benar-benar seperti dihipnotis oleh setiap perlakuan yang diberikan Chanyeol.
Atau ini hanyalah efek alkohol yang masih terasa menempel di rongga mulut Chanyeol hingga membuatnya mabuk?
Baekhyun hanya memajamkan matanya pasrah dan menyandarkan kepalanya di pintu saat bibir Chanyeol mulai menciumi setiap inchi kulit wajahnya yang memerah. Chanyeol begitu lapar namun putus asa, bibirnya terus mengecup dan menghisap kulit putih Baekhyun yang berada dalam jarak pandangnya.
Tangan besar itu tak henti-hentinya meraba dan mengelus pinggang ramping Baekhyun, terus menjalar menuju dada mulus laki-laki mungil itu. Baekhyun semakin bergetar saat bibir Chanyeol kembali menyapu bibir mungilnya, memasukkan lidahnya yang basah ke dalam rongga mulut Baekhyun.
"Mmmh.. y.. yeol cukup.." pinta Baekhyun mendorong tubuh tegap Chanyeol dengan hati-hati karena takut sang Eomma akan mencurigai kegiatan mereka. Chanyeol menggelengkan kepalanya dengan cepat dan semakin memper'liar' aksinya.
Kini tangan Chanyeol beralih membuka kancing celana pendek kekasihnya dengan lihai hingga kain berwarna biru itu terulai lemas di pergelangan kaki Baekhyun. Chanyeol mendesis saat melihat tubuh telanjang Baekhyun yang sangat ia rindukan. Namun Baekhyun menggeleng dan mencoba menutupi area selangkangannya dengan kedua tangannya, membuat Chanyeol mengernyit heran.
"Apa kau datang hanya karena merindukan tubuhku, Park Chanyeol? Apa kau ingin menggunakan tubuhku seperti laki-laki di luar sana? Jangan memberikanku harapan kosong seperti yang terakhir kali kau lakukan." Tutur Baekhyun panjang lebar. Jawaban laki-laki mungil itu seakan menampar pipi Chanyeol dan menyadarkannya akan perbuatan brengseknya tadi siang.
Chanyeol menggigit bibirnya dengan geram saat menyadari bahwa semua sikapnya telah menyakiti Baekhyun. Ia mencoba mencerna perkataan laki-laki mungil di hadapannya.
"Apakah aku terlihat seperti laki-laki brengsek di luar sana? Apa aku melakukan hal yang sama seperti mereka? Apa aku pernah 'bermain' kasar saat kita di ranjang?" Tanya Chanyeol sambil menatap dalam-dalam manik Baekhyun. Laki-laki mungil itu mendadak kehilangan kata-katanya, kedua pipinya menjadi merah padam mengingat semua perlakuan gentleman Chanyeol di atas ranjang. Chanyeol selalu memenangkan adu mulut mereka dengan tatapan dalam nan mematikan -yang merupakan kelemahan Baekhyun.
"A-apa yang kau lakukan?" Tanya Baekhyun dengan terbata-bata saat Chanyeol melepaskan jaket nya, menyisakan kaus tanpa lengan yang melekat di tubuhnya. Laki-laki jangkung itu kini menanggalkan kacamatanya dan melempar benda itu ke lantai. Dengan gerakan terburu-buru Chanyeol membuka ikat pinggang dan kancing celana jeans ketatnya. Baekhyun menggigit bibirnya, mencoba tidak terbawa permainan kekasihnya itu. Namun mana mungkin Baekhyun bisa menolak pemandangan 'indah' di depannya. Wajah Chanyeol yang memerah karena mabuk dan nafsu, rambut yang berantakan, bulir-bulir keringat yang terus mengalir dari leher hingga masuk ke celah kausnya, gerakan tidak sabar membuka celana, benar-benar membuat seluruh darah Baekhyun berdesir.
"Tatap aku." Titah Chanyeol dengan nada tegas. Kedua mata besarnya terus mengawasi gerak-gerik Baekhyun. Tangan nya pun tak tinggal diam menyingkirkan tangan mungil Baekhyun yang menutupi bagian yang paling Chanyeol rindukan.
"Mmmh.. y-ya?"
Baekhyun membelalakkan matanya merasakan tangan hangat itu mengusap-usap selangkangan nya dengan gerakan pelan, jari-jari besar Chanyeol menggelitik bagian bawah dua bola kembar yang menggantung disana. Kakinya melemas dengan sentuhan-sentuhan erotis yang diberikan Chanyeol. Sialnya, penis mungil itu tidak berpihak pada sang pemilik dan terbuai oleh remasan yang diberikan Chanyeol.
"A-aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku selama ini, sayang. Aku.. akan memberikan segalanya." Ujar Chanyeol dengan suara rendahnya karena menahan nafsu yang sudah membuncah di ubun-ubun nya. Nafas hangatnya menyapu wajah Baekhyun dan iris matanya semakin meredup. Tangannya bergetar menyentuh dan meraba kulit mulus Baekhyun yang selalu membangkitkan birahinya.
Dengan segala upaya menahan ketidak sabaran nya, Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun dan membaringkan nya dengan hati-hati di atas kasur yang berhiaskan sprei biru muda. Chanyeol sedikit berdecak karena harus menyingkirkan beberapa boneka yang mengganggu aktivitas mereka. Baekhyun hanya bisa terbaring pasrah. Penisnya sudah menegang dan berkedut hebat.
"Aku merindukanmu, sayang." Bisik Chanyeol sambil menjilati telinga kiri Baekhyun. Mungkin kalimat itu adalah kalimat yang paling klasik di bumi, namun kalimat itu berhasil membuat pertahanan Baekhyun runtuh. Ia ingin disentuh dan dimanja, ia menginginkan seluruh kulit Chanyeol bergesekkan di atas kulitnya, ia ingin Chanyeol menggagahinya dengan liar hingga ia tak bisa bangkit dari tempat tidur.
"K.. kumohon.." ucap Baekhyun lirih. Ia menarik tangan Chanyeol dan membantu tangan tersebut untuk menelusuri tubuh nya, memberi tahu Chanyeol bahwa seluruh sel-sel di dalam tubuhnya berteriak merindukan sentuhan laki-laki itu.
Seakan diberi lampu hijau, tangan Chanyeol membuka kedua paha Baekhyun dengan lebar hingga memperlihatkan penis dan lubang kemerahan yang menggoda Chanyeol. Chanyeol menjilat bibirnya sambil meremas paha dalam Baekhyun dengan gemetar.
Baekhyun menengadahkan kepalanya merasakan tangan besar Chanyeol kini membungkus batang penisnya dan mulai menaik turunkan benda keras tersebut. Sungguh, Chanyeol jarang memberikan 'service' pada penis mungilnya dan Baekhyun benar-benar seperti kehilangan akal. Melihat bagaimana Baekhyun mengangkat pinggulnya, menyodorkan penisnya di hadapan wajah Chanyeol, membuat Chanyeol semakin mempercepat tempo kocokannya. Ia merasa senang karena Baekhyun menikmati 'service' yang ia berikan sebagai permintaan maaf,
"Aashh.. l-lebih cepat.." rintih Baekhyun saat Chanyeol menggenggam erat-erat batang penisnya. Bibir tebal Chanyeol pun tak tinggal diam mengecupi kepala penis Baekhyun yang basah. Chanyeol menggunakan ibu jarinya untuk mengurut batang keras itu dari pangkal menuju ujung kepalanya.
Baekhyun mengerang kenikmatan, diremasnya rambut hitam Chanyeol untuk melampiaskan kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Chanyeol yang tidak sabaran langsung mengulum penis Baekhyun dengan penuh nafsu. Lidah basahnya bekerja menjilati setiap inchi kulit penis Baekhyun.
"Mmmschh.."
Bunyi kecipak bibir Chanyeol yang sedang mengulum penis Baekhyun bergema memenuhi seluruh ruangan. Baekhyun hanya bisa meremas rambut Chanyeol dan menekan kepala laki-laki itu untuk mengulum penisnya lebih dalam hingga menusuk kerongkongannya. Baekhyun memaju mundurkan pinggulnya, mempercepat gesekan kulit batang penis nya dengan bibir tebal Chanyeol. Tubuh Baekhyun benar-benar meminta lebih dari sekedar kuluman Chanyeol, untuk itu ia menarik tangan besar Chanyeol dan meletakannya di atas nipple mungilnya.
Chanyeol menyeringai di sela kulumannya, menyadari bahwa Baekhyun sudah terbawa dalam permainannya. Ujung nipple Baekhyun mencuat saat ibu jari dan telunjuk Chanyeol mencubitinya dengan gemas. Kedua mata Baekhyun terpejam dan kedua bibirnya terbuka menikmati sentuhan-sentuhan kekasihnya di dua titik terlemahnya. Bulir-bulir keringat membasahi tubuh telanjang Baekhyun, membuat tubuh itu mengkilat di bawah temaram lampu kamar Baekhyun dan menambah kesan sensual di mata Chanyeol.
Laki-laki berambut hitam itu semakin memperlancar aksinya dengan menaik-turunkan kepalanya dan mengocok pangkal penis Baekhyun. Baekhyun terus mendesah kenikmatan seperti lupa bahwa mereka berdua ada di kamar Baekhyun dan bisa sewaktu-waktu tertangkap basah oleh sang Eomma. Tetapi persetan dengan Eomma Baekhyun, siapa yang dapat menahan saat jari-jari nakal kekasihmu 'bermain' dengan ujung nipplemu, menekan benda mungil itu, memilinnya dengan gerakan cepat, sekaligus memberikan kepuasan bagi tubuhmu di bawah sana?
"Yeolhh.. s-sakithh." Rintih Baekhyun saat Chanyeol menghisap kuat-kuat penisnya. Ia benar-benar tidak dapat menahan lagi, penisnya berkedut-kedut ingin memuntahkan sperma. Baekhyun yang sudah hampir klimaks menjepit kepala Chanyeol dengan kedua pahanya dan menyodokkan kepala penisnya ke pangkal tenggorokan Chanyeol.
"A.. arghhh. Yeolhhh!"
Teriakkan parau Baekhyun menggema bersamaan dengan sperma hangat yang memenuhi rongga mulut Chanyeol. Chanyeol menelan seluruh sperma Baekhyun –yang tidak lebih banyak dari sperma miliknya dan menjilati setiap inchi batang penis Baekhyun yang mulai melemas untuk membersihkan sisa cairan putih berbau menyengat itu dari sana. Laki-laki berambut hitam itu bangkit dan mengerjapkan matanya saat melihat Baekhyun yang sedang terengah-engah, tubuh Baekhyun yang berkeringat, dan penis mungil yang melemas milik kekasihnya. Ini adalah kali pertama bagi dirinya mengulum penis Baekhyun dan memanjakan penis mungil itu, dan Chanyeol merasakan sebuah perasaan aneh antara bahagia, bangga, dan semakin terangsang.
Dengan gerakan secepat kilat, Baekhyun mendorong Chanyeol hingga terduduk dan mengatur posisi mereka sedemikian rupa agar Baekhyun bisa duduk di atas pangkuan Chanyeol. "Yeolhh.. cepatlahh.." desak Baekhyun sambil mengangkangi kedua paha Chanyeol. Ia menatap mata Chanyeol dengan tatapan memohon (namun seksi menurut Chanyeol) dan menggesekkan belahan bokong kenyalnya di atas penis Chanyeol yang masih tertutup celana dalam.
Chanyeol merasakan sengatan listrik yang luar biasa saat lubang Baekhyun yang berkedut bergesekkan dengan celana dalamnya yang sudah basah sedari tadi. Ia pun segera membebaskan penisnya yang sudah mengeras dan memerah, lalu memegang tulang pinggul Baekhyun untuk membimbing dirinya memasukki tubuh kekasihnya itu.
Baekhyun mengalungkan tangannya di leher Chanyeol, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher yang berkeringat itu. Baru pertama kali mereka melakukan posisi seperti ini saat bercinta dan Baekhyun bergetar menerima perlakuan Chanyeol yang sangat gentleman.
Laki-laki berambut hitam itu memeluk erat-erat pinggul Baekhyun dengan lengan kekarnya, sementara telapak tangannya digunakan untuk meremas bokong Baekhyun dengan lembut agar Baekhyun lebih rileks dan tidak merasakan sakit saat penis Chanyeol berhasil menghujam lubangnya. Chanyeol terus membisikkan kata-kata maaf di telinga Baekhyun karena merasa telah menyakiti Baekhyun nya, juga meminta maaf atas ketololan nya selama ini.
"Aaaaakkhhhh!" jeritan Baekhyun lolos dari bibir mungilnya saat kepala penis Chanyeol benar-benar menghujam lubangnya dan tepat menusuk titik prostatnya. Chanyeol segera membungkam bibir Baekhyun dan memberikan ciuman penuh gairah. Tangan kekarnya membantu bokong montok Baekhyun untuk bergerak naik dan turun.
"Maafkan aku.. aku tidak akan menyakitimu lagi, sayang. Aku bersumpah." Bisik Chanyeol sambil mengulum telinga kiri Baekhyun. Laki-laki mungil itu menggeleng lemah dan memeluk tubuh kekar Chanyeol lebih erat. Tubuh Baekhyun terlonjak-lonjak karena ia terus menubrukkan bokongnya di atas paha Chanyeol. Baekhyun semakin mempercepat gerakkan pinggulnya, memutar, maju mundur, atau naik turun saat penis Chanyeol berhasil menusuk titik prostatnya. Lubang Baekhyun tak henti-hentinya meremas dan memelintir penis Chanyeol hingga penis itu terasa sangat memenuhi lubangnya.
"L-lebih cepat sayang.." pinta Chanyeol semakin menggila. Baekhyun melepaskan pelukannya dan menopang tubuhnya dengan satu tangan, ia menengadahkan kepalanya menikmati impuls-impuls yang diberikan penis Chanyeol di dalam tubuhnya.
Suhu di ruangan itu semakin memanas, tubuh mereka yang bergesekkan dipenuhi peluh. Ranjang Baekhyun terus berdecit mengikuti gerakan liar yang diciptakan Baekhyun. Baekhyun menekan kepala Chanyeol untuk menikmati kedua nipplenya, tentunya kesempatan itu tidak disia-siakan Chanyeol. Lidah nya menari-nari di atas nipple mungil itu dan bibirnya terus memberi hisapan hingga kulit dada Baekhyun memerah.
"Y-yeolhh!"
Baekhyun memekik saat memuncratkan sperma secara mendadak dan membasahi perut Chanyeol. Gerakan bokongnya semakin melemah, namun Chanyeol dengan sigap menggerakan pinggul Baekhyun agar ia bisa secepatnya mencapai klimaks.
"Baekhh!"
Tidak lama setelah Baekhyun, Chanyeol mencapai klimaksnya. Sperma hangat Chanyeol memenuhi lubang Baekhyun hingga membasahi paha mereka. Baekhyun merasakan letih yang luar biasa di sekujur tubuhnya, bukan hanya karena kegiatan bercinta mereka yang setelah beberapa saat hilang dari kehidupan mereka, namun tubuhnya yang bekerja terlalu ekstra hari ini. Tidak lupa dengan emosinya yang tidak stabil membuat suasana hatinya memburuk.
Melihat Baekhyun yang terdiam di pelukannya dengan nafas terengah, Chanyeol hanya tersenyum sambil mengelus punggung terbuka Baekhyun. Ia sangat merindukan tubuh mungil Baekhyun berada dalam dekapannya lagi. Chanyeol menyadari bahwa belakangan ini ia kehilangan sosok Baekhyun karena ia terlalu sibuk membenahi perasaannya dan memikirkan orang lain. Dadanya terasa sesak, Chanyeol terus memeluk Baekhyun dengan erat seakan tak ingin kehilangan lagi.
Mungkin benar kata-kata Baekhyun tadi bahwa dirinya tidak pernah memikirkan perasaan Baekhyun dan membuat masalah ini semakin rumit. Chanyeol masih bisa merasakan jantung Baekhyun berdetak untuknya di dalam pelukan mereka, ia masih bisa merasakan kehangat pelukan Baekhyun, sama seperti pertama kali mereka bertemu. Namun mengapa Chanyeol bisa setega itu mengabaikan Baekhyun yang selalu ada untuknya?
"Apa permintaan maafku diterima, Nona Park?" ujar Chanyeol sambil menangkup kedua pipi Baekhyun, membuat Baekhyun menatap ke arahnya. Ia bisa melihat semburat merah di kedua pipi itu, ia bisa melihat kilat mata Baekhyun yang masih berharap padanya. Baekhyun menggigit bibirnya dan menggangguk.
"Aku selalu memaafkanmu, Park Chanyeol. Jangan pernah melepaskanku lagi dan jangan mengharapkan apapun dari perempuan itu. Hanya ada aku dan hanya aku, Byun Baekhyun."
Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan nanar dan memohon. Ia tidak tahu kata-kata manis apa yang harus diucapkan untuk membuat Chanyeol tetap berada di sisinya. Yang bisa ia lakukan hanya memohon dengan segenap perasaannya. Sedetik kemudian Chanyeol tersenyum dan mengecup kening Baekhyun lembut.
"Maafkan kebodohan Park Chanyeolmu ini. Aku tidak tahu jika hal-hal yang menurutku kecil akan menyakitimu, aku tidak pernah tahu kau berjuang di belakangku. Aku benar-benar orang yang brengsek, tapi ku mohon bantu aku menjadi lebih baik, bantuk aku bangkit, dan jangan pernah berhenti mencintaiku, Byun Baekhyun."
.
.
.
.
.
to be continued
Apakah Chanyeol akan memegang kata-katanya? Bagaimana sebenarnya perasaan Sohyun pada Chanyeol dan Baekhyun? Siapakah yang diincar Sehun?
YA ALLAH MAAF KALO TERLALU CHEESY/BORING/BIASA AJA/ASDFGHJKL T_T
maaf kalo menurut kalian kepanjangan ((soalya dr kemaren banyak yang komplain kependekan))
Oiya saya bingung ada orang yang bilang saya gila review.. katanya saya maksa kalian buat ngereview.. apakah kalian merasa seperti dipaksa? saya minta review karena saya pengen liat penilaian reader terhadap tulisan saya, saya pengen terus introspeksi biar bisa update chapter yg lebih bagus dr chapter2 sebelumnya, saya pengen belajar dr tanggapan readernim semua.. :')
btw i miss someone :(( saya rindu chanyeol onta :((( hikzzz
BUAT hunhanismfkskanxl MAKASIH LOH UCAPAN SELAMATNYA :'3 BTW MAKSUDNYA APA DOAIN TAMBAH TINGGI?! /fire-eyes-emoji/ WKWKWK TERBANGLAH BERSAMA ACE *UPS
anyway, DON'T FORGET TO REVIEW, FAVORITE, AND FOLLOW YA DEAR /? :33
